DISCLAIMER:Sodaranya om ama tante saya!! (ditendang ke matahari)
Light yang kini uring-uringan ingin minta bantuan pun kembali mondar-mandir. Kali ini acara 'mondar-mandirnya' sukses mengundang perhatian banyak orang karena ia melakukannya di depan WC umum. Untung lagi ga ada razia bencong atopun petugas RSJ.
'Hmm... enaknya gw minta tolong ama siapa, ya? Kalo Ryuuzaki, diliat dari reaksinya tadi kayaknya di males ngebantuin gw.... apa Misa? Ah, iya juga! Misa! Dia kan cinta matek ama gw, pasti ga rela kalo gw dipasangin ama orang lain, apalagi cowok! Wkwkwkwk' setelah berpikir nista Light pun melangkah dengan riang gembira ke tempat Misa berada (silakan bayangkan Dora pas jalan ama Boots sambil nyanyi-nyanyi ga jelas).
Tapi Light melupakan satu hal yang amat penting.... bukan, dia bukannya lupa pake celana.... dia lupa.... ah... author lupa mau ngetik apaan... (dilempar sendal). Ah, iya... Light lupa... kalo saat ini Misa pasti nggak ada di rumahnya, soalnya musim kawin monyet sudah hampir tiba, dan tiap musim kawin, Misa pasti pulang ke kampung halamannya tercinta, Zimbabwe.
Tapi demi membela nusa dan bangsa (?), saat itu juga Light langsung beli tiket pesawat ke Zimbabwe!! Malangnya, duit Light dah abis buat beli kumpulan foto spesial limited edition of Ryuk. Terpaksalah Light berangkat ke Zimbabwe naik getek.
Setelah makan waktu 2 kali musim kawin semut, 1,7 kali bulan mengelilingi porosnya, dan 2 minggu berdasarkan kalender saturnus, akhirnya Light sampai dengan selamat sentosa di Zimbabwe. Namun, apa yang dikatakan sang tante Ibunda Misa sebagai sambutan saat Light mengetok pintu rumah?
"Misa pergi main ke rumah kamu, katanya".
DHUUAAARRR. Capek-capek ke Zimbabwe ternyata Misa lagi duduk manis dirumahnya sambil maen gaplek. Light pun pulang kembali ke Jepang. Untungnya Ibunya Misa berbaik hati membiayai transpot Light, jadi dia bisa pulang naik becak.
-Rumah Light-
"Ah! Light! Darimana aja?! Misa capek nungguinya nih!!" keluh Misa begitu Light meletakkan pantat di sofa rumahnya.
Light tetep pasang tampang cool meski dalem hati udah mencak-mencak, 'capek? Bolak-balik dari sini ke Zimbabwe naek getek ma becak tuh baru CAPEK!!' Tapi daripada ntar ribet kalo berantem, Light langsung ngomong tu de poin.
"Misa, gw butuh bantuan lo. Lo tau kan pelm detnot mau dibikin side story yaoi? Kamu pasti ga setuju kalo gw mesti beradegan yaoi, ya kan? Ya kan? Makanya bantuin gw buat protes ke Mamat si tukang tomat itu!!"
Misa cengo sejenak. "Yaoi..?" katanya dengan nada lirih seakan ga terima. Light merasa rencananya berhasil mengangguk dengan mantap.
"Waaiiiii~!!! Misa suka banget yaoi!! Apalagi kalo Light yang meranin, pasti keren banget! Wah, Misa mesti kasih sesuatu ke Matt sebagai tanda terima kasih atas ide briliannya itu tuh!!"
Dan Misa pun langsung ngacir, meninggalkan Light terbengong-bengong sentosa.
Gagal minta dukungan Misa, Light pun beralih pada Near.
Light pun segera pergi ke rumah Near dengan kendaraan termutakhir, hasil teknologi metropolitan, yang paling ditunggu-tunggu, dan bisa diandalkan kapan saja dimana saja dengan bentuk minimalis dan getaran yang yahud; bajaj.
Akhirnya Light sampai di rumah Near yang berbentuk seperti bukit hijau yang ditumbuhi bunga-bunga serta kelinci berlompatan. Rumah ala teletubies.
"Near~" panggil Light dengan nada anak kecil ngajak maen kecebong piaraannya.
"Ada apa Light-san?" kata Near sambil maen puzzle di lantai.
"Bantuin gw protes ama Mamat soal detnot jadi yaoi, nyok. Kau juga pasti nggak setuju kalo kita musti beradegan yaoi, 'kan?"
"Soal itu, saya sudah mendiskusikannya dengan Matt. Dia bilang akan menaikkan gaji saya kalau saya bersedia beradegan yaoi. Kebetulan harga mainan akhir-akhir ini pada naik, jadi saya setuju-setuju aja asal gaji saya naik," jawab Near kalem. Doooeeeeng... sound effect itu menggema keras dalam otak Light.
Masih belum patah arang, kali ini Light pergi ke rumah Mello yang didesain ala Charlie's chocolate factory. Tapi ternyata depannya doang yang didesain kayak gitu dari karton, dalemnya cuma rumah petak biasa.
"Oi, Mello~ bantuin gw protes ke Mamat~ dia mo bikin side story detnot jadi yaoi~" pinta Light dengan nada melas bak tukang minta-minta, berharap akan mengundang simpati Mello.
"Ah, biarin aja lah. Gw sih setuju-setuju aja, soalnya gaji gw dinaekkin sih, kan lumayan buat beli choki-choki," kata Mello nyantai.
'Anak didik L, yang tikus albino ampe yang blonde gila sama aja pola pikirnya!' gerutu Light dalem usus, eh, hati.
Tapi Light nggak habis akal. "Oh... dan lo tau siapa pairing lo? Near. Iya, NEAR, si albino itu. Masa lo rela sih, dipasangin ama tikus putih itu?!" kata Light dengan devil mode on.
Dan hasutan Light kali ini berhasil menembus dasar sanubari Mello (halah), Mello pun ikut dengan Light pergi ke rumah Mamat untuk protes.
-rumah Matt-
"Matt!! Gw udah bawa atu lagi orang yang mendukung pendapat gw!!" Kata Light dengan pede, mengingat Matt lemah pada Mello.
"Mamat, tega-teganya lo masangin gw ama si albino freak ituh!! Mau engkau kemanakan harga diriku inih?!!(?) Pokoknya gw ga terima!" protes Mello.
Matt tetep cool. Dengan tenang dia berkata," Mel, Mels. Siapa bilang kau akan dipasangkan cuma dengan Near? Denganku, bodoh. Lagipula jika kau setuju, akan kuberikan coklat Van Houten 1 dus sebagai bonus tambahan gajimu tiap bulan".
"Eh? Beneran? Gw ga jadi protes dah!" Mello langsung luluh, Light langsung luluh lantak. Rencananya nggak berhasil.
"Light, sadar aja kalo protes lo nggak ngaruh buat rencana film ini. Terima aja nasib lo, wkwkwkwkwkw," Matt pun kembali tertawa dengan laknat, membuat Light kembali desperet plus mencret.
Tu be Kontinut
Waa... makin lama alurnya makin ngaco.... review please!
