Thanks to Sanich, teacupz, dan Green Opalus. Maaf baru update. Sebetulnya udah lama di harddisk tapi bagian akhirnya entah kenapa saya bingung harus diapain. Oke, kali ini urutan evolusi Fairymon pun saya karang (lagi) karena kalau di anime kan Fairymon berubah dari manusia. Tapi kalau tahu yang benarnya bagaimana, tolong beri tahu saya, ya! Urutannya: Leafmon – Minomon – Wormmon – Fairymon. Digimon-digimon sebelum Fairymon itu digimon yang nantinya berubah jadi Stingmon. Tapi cukup realistis kan? Dari ulat jadi kupu-kupu... xD biarpun agak aneh juga karena kepompongnya lebih dulu dibanding ulat. Yeah, I need more informations! So share here! :D


Disclaimer: Akiyoshi Hongo

Rating: K

Genre: Adventure/Action


Legenda Sepuluh Ksatria


Dahulu, digimon tipe Human dan Beast selalu bertarung satu sama lain. Hingga suatu hari, Lucemon datang untuk memulihkan kedamaian di dunia digital. Sosoknya yang tenang dan bijak serta perawakannya yang mirip dengan anak-anak membuat para digimon luluh. Akan tetapi, Lucemon tergoda oleh kekuasaan yang ditawarkan dunia digital sehingga ia berubah menjadi penguasa yang lalim dan membunuh para digimon yang tidak patuh kepadanya. Tetapi suatu hari seorang peramal sakti mengatakan bahwa akan ada sepuluh ksatria dari berbagai elemen yang akan mengalahkannya. Merekalah sepuluh ksatria legendaris...


Chapter 2

Putri Buruk Rupa dan Ksatria Angin


Terletak di kaki bukit, Desa Soyokaze terkenal dengan keindahan alam yang luar biasa. Hamparan bunga warna-warni menghiasi setiap jengkal hijau padang rumput. Pun pohon-pohon rindang dengan buah pir khas Soyokaze yang berbuah sepanjang tahun selalu memberikan tempat tidur nyaman di bawah bayang-bayangnya, apalagi ketika siang menjelang. Tapi yang paling istimewa dari Desa Soyokaze adalah angin sejuknya yang selalu berhembus lembut. Hujan tidak pernah terlampau lebat dan angin ribut tidak pernah sekali pun terjadi. Konon, cuaca yang bersahabat ini dibuat oleh digimon berelemen angin yang pernah menentramkan perseteruan Human-Beast di desa ini dan menjaganya selama bertahun-tahun.


"Selamat datang di desa Soyokaze!" Trainmon menderu pelan, menghentikan lajunya seraya melirik satu-satunya penumpang di atasnya. "Hei, Tuan Daun! Kau sudah sampai!"

"Ya..." Digimon yang seluruh tubuhnya dipenuhi daun itu melompat turun dari Trainmon. "Terima kasih, Trainmon!"

"Ya ya ya, sudah tugasku kan..." Trainmon menderu pelan. "Sampai jumpa, Tuan! Berikutnya, Terminal Hutan! Terminal Hutan!" Sambil terus berjalan meniti rel, Trainmon berseru-seru riang mencari penumpang.

Sementara itu, digimon yang sebelumnya dipanggil "Tuan Daun" itu kini berdiri mematung. Ia memandang plang bertuliskan "Desa Soyokaze" di hadapannya dan menelan ludah gugup. "Berikutnya desa Soyokaze..." suara dingin itu menggema dalam kepalanya lagi. Lagi dan lagi. Semalaman ia mimpi buruk lagi dengan suara dingin itu bertalu-talu dalam kepalanya.

Digimon itu, Agnimon, kini merapatkan mantel daunnya karena tubuhnya menggigil pelan. Rupanya angin lembut yang menerpanya membuat ia agak kedinginan. Maklum, kota tempatnya tinggal memang terkenal panas. Wajar saja, mereka kan memang digimon berelemen api. Agnimon menengadah menatap langit biru, surai emasnya melambai pelan dimainkan angin. Ia memejamkan matanya, mendengarkan suara-suara di sekitarnya. Ya... ia mendengar suara-suara riang di kejauhan. Itu artinya Devimon belum datang... pikirnya tegang. Setelah mengumpulkan lagi keberaniannya, Agnimon melangkah pelan, meniti jalan setapak yang ditunjuk oleh papan "Desa Soyokaze" tadi.

Srak srak

Baru beberapa meter berjalan, Agnimon berhenti. Ia mengangkat alisnya. Semak di depannya bergerak-gerak mencurigakan. Jangan-jangan Devimon, pikirnya tegang. Ia pun mengendap-endap mendekati semak itu dan perlahan disibaknya semak tersebut...

"Aaah! Dasar tukang ngintip! Pergi! Pergi!"

Agnimon, belum sempat melihat apapun, kini merasa sekelilingnya gelap ketika sebuah batu menghantam telak di wajahnya. Ia tidak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri. Tapi ketika ia membuka matanya, ia bersumpah tidak pernah melihat wajah secantik digimon yang kini berada di depannya, duduk menyamping merapikan jalinan rambutnya. "Eh..." gumamnya linglung, tertatih-tatih mencoba untuk duduk.

"Wah! Kau sudah bangun!" Digimon itu tampak kaget dan terburu-buru mengambil dedaunan yang kini ia gunakan sebagai cadar untuk menutupi wajahnya. Ia menatap Agnimon dari balik cadarnya. Agnimon dapat melihat mata biru yang membelalak kaget di balik kacamata yang digunakan digimon itu. "Ma, maafkan aku tadi. Aku sedang... berganti kulit..."

Agnimon, pulih dari keterpesonaannya, kini mendengus kesal. "Aku bahkan tidak melihat apapun, tapi kau malah membuatku pingsan," Agnimon berusaha berdiri, meski kepalanya pusing setengah mati. Matanya membelalak kaget ketika melihat daun-daun yang sudah ia rangkai menjadi mantel perjalanannya kini berserakan. "Eh..."

"Ah! Maafkan aku! Kupikir daun-daun ini bukan bagian tubuhmu!" Wajah digimon cantik itu memerah. Meski tertutup cadar, Agnimon bisa melihat, atau lebih tepatnya merasakan, nada gugup dalam suara merdu itu.

"Memang bukan..." Agnimon kini tidak bisa menahan senyumnya ketika matanya bertabrakan dengan mata sang digimon pemalu itu. "Kupikir cadarmu juga bukan..."

"Ini? Ah..." Digimon itu mengibaskan tangannya dengan tidak peduli. "Kau tidak akan ingin melihat wajahku"

"Eh, kenapa?" Agnimon mengangkat alis kebingungan. Wajah cantik itu... Agnimon teringat wajah cantik yang sedih itu ketika tiba-tiba ia merasakan perutnya bergolak tak nyaman. Ada apa sih denganku?!

"Kau tidak akan ingin mendengarnya..." nada suara digimon itu berubah sendu, tapi kembali riang ketika mengatakan, "aku akan membuatkan lagi mantel untukmu, mau?"

Agnimon mengangguk senang. Mantel daunnya yang sebelumnya dibuat dengan asal-asalan, sehingga mudah lepas dan mengganggu pergerakan. Kalau ia bisa mendapat mantel yang baru dengan gratis, mengapa ia harus menolak? "Ya, terima kasih."

"Baiklah, tunggu sebentar, ya..." Digimon itu menggerakkan tangannya. Ajaib, angin lembut yang nyaman berhembus pelan, menumpuk daun-daun itu di depannya. Angin itu kemudian menghembus lagi, membuat daun-daun itu tersusun membentuk sebuah mantel, yang lalu dirangkai dengan benang yang muncul dari jemari sang digimon. Agnimon hanya bisa termangu menyaksikan keajaiban di hadapannya dan tak mampu menahan keinginannya untuk bertepuk tangan ketika mantel itu selesai dibuat.

"Hebat! Hebat sekali!" Masih bertepuk tangan, Agnimon menerima mantel buatan sang digimon yang kini menunduk malu. "Terima kasih, ya. Siapa namamu?"

Digimon itu menatap Agnimon yang kini sudah mengenakan mantel buatannya dengan sedih. "Kau tidak ingin tahu..."

"Hah?"

"Sudahlah, aku harus kembali. Penduduk desa akan ketakutan kalau melihatku berkeliaran seperti ini..." digimon itu hendak berbalik pergi, ketika akhirnya ragu-ragu ia kembali melirik Agnimon. "Kau sendiri... siapa?"

"Agni..." Agnimon berhenti sesaat. Bagaimana jika ia kawan Lucemon? Bagaimana jika Devimon ada di dekat sini? Bagaimana kalau...

"Agni?" suara lembut itu memotong lamunan Agnimon.

Gugup, Agnimon menjawab tangkas. "Agnigarugumon!" Digimon di hadapannya kini tersenyum. Ya... Agnimon yakin digimon itu tersenyum dari balik cadarnya.

"Baiklah, hati-hati di jalan, Agnigarugumon..." melangkah lebih cepat, digimon cantik itu kini hilang dari pandangan Agnimon yang masih bertanya-tanya.

Ada apa dengan digimon itu?


"Kau! Dari mana saja kau!"

Digimon bercadar daun itu berjengit kaget ketika sosok-sosok gelap menyergapnya. Duh, padahal aku sudah terbang sepelan mungkin... keluh digimon itu dalam hati ketika dijejakkannya kaki rampingnya di atas lantai dingin tempat yang selama ini tidak pernah ia anggap sebagai "rumah".

"Sudah kubilang kan, suamiku," suara lain yang lebih tinggi kini menggema memenuhi ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kayu. "Anak ini harus dijaga! Apa kata penduduk kota nanti kalau melihat wajah jeleknya berkeliaran?!"

Digimon bercadar daun itu menunduk lebih dalam. Sabar... sabar... ia menyibakkan rambut ungunya yang menghalangi sebagian pandangannya untuk melihat dua sosok identik yang kini berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Dua digimon berbentuk bunga di hadapannya memang cantik, tidak ada yang menyangkalnya. Tidak seperti aku... ia menggigit bibirnya kalut. Melihat cermin pun aku dilarang, karena... terlalu jelek...

"Ada apa, Bu Floramon?" suara cempreng kekanakan itu milik digimon ulat yang kini menghampiri mereka. Salah satu dari dua digimon bunga itu menoleh.

"Ah, Wormmon, ini... si... Fair... Faironmon berkeliaran lagi," kata Bu Floramon sambil mengibaskan tangannya. Entah kenapa sikapnya saat itu agak gugup. Digimon bercadar daun yang semula hanya menunduk kini memandang Bu Floramon dengan tatapan ingin tahu.

Kenapa dengan nama Faironmon?, pikirnya bingung.

"Wormmon, bukankah sudah ayah bilang jangan masuk ke ruangan ini tanpa izin," suara tegas itu menggelegar, membuat Wormmon berjengit kaget dan bersembunyi di balik tubuh Bu Floramon yang juga ikut-ikutan kaget. "Pak Floramon, maaf merepotkanmu," Pak Stingmon, sang digimon belalang yang barusan bersuara kini memasuki ruangan kayu yang lebih mirip perpustakaan itu.

Ya, ruangan itu lebih mirip perpustakaan daripada kamar. Rak-rak buku berjejer memenuhi ruangan dan beberapa lukisan berbingkai daun menghiasi dindingnya. Salah satu lukisannya adalah lukisan digimon yang sangat cantik, bersayap dan berambut ungu dengan senyum lembut, Fairymon. Digimon itu bisa dibilang sudah punah karena tidak ada lagi keturunannya. Fairymon yang sejak dahulu turun temurun menjadi penjaga desa ini satu per satu menghilang sejak Lucemon berambisi menguasai dunia digital. Diculik, dibunuh, dan seluruh rumahnya dibakar, tak peduli ada bayi atau anak-anak, begitulah modus operandinya selama ini. Pak Stingmon kini menatap digimon bercadar daun yang dipanggilnya "Faironmon" itu dengan getir. "Kau... keluar ruangan lagi?" Suaranya bergetar takut saat bertanya.

Faironmon, begitu digimon bercadar itu dipanggil, mengangguk gugup. Meskipun ia tahu Pak Stingmon lah yang menyuruh ia agar dikurung di ruangan ini sejak ia berevolusi menjadi dirinya yang sekarang, ia tidak pernah bisa membenci digimon itu. Dialah yang merawatnya sejak kecil, sejak bayi mungkin. Ia tidak ingat wajah orang tuanya yang asli. Tapi ia ingat kilatan-kilatan dan jeritan-jeritan di sekelilingnya saat ia masih dalam buaian. Dan meskipun masa kecilnya tak bisa dikata menyenangkan – karena Pak Stingmon selalu mengawasinya, tidak mengizinkan ia belajar, dan terutama mencegahnya untuk berevolusi – ia tetap tidak bisa membenci digimon itu. "Aku... berganti kulit..." jawabnya lirih.

"Itu hanya alasanmu kan!" suara Pak Floramon menimpali. Ia tampak... marah? Entahlah, Faironmon melihat ia berkeringat dingin.

"Apapun alasanmu, kau tidak boleh keluar ruangan! Ingat itu!" Pak Stingmon menatap Faironmon tajam, kemudian menggendong Wormmon. "Ayo, nak. Kita keluar. Bu Floramon, tolong pastikan Faironmon tidak keluar lagi! Pak Floramon, ada yang perlu kita bicarakan di luar!"

Pak Floramon menelan ludah gugup, melempar pandang cemas ke arah Faironmon sekali lagi sebelum beranjak pergi mengikuti langkah tegap Pak Stingmon. "B... baik..."

Bu Floramon memandang suaminya yang menghilang di balik pintu dengan tatapan sedih. Dadanya merasa sesak. Sejak kemarin ia bermimpi buruk tentang kedatangan Devimon, digimon pengikut setia Lucemon, yang membunuhi satu per satu digimon yang disebut dalam ramalan. Rupanya kabar bahwa masih ada satu Fairymon yang tersisa sudah sampai ke Lucemon. Bu Floramon melirik digimon yang ia panggil "Faironmon" dengan galau. Kumohon... kau harus selamat...


Agnimon melangkah mengikuti jalan yang sebelumnya dilalui digimon bercadar daun, masih bertanya-tanya perihal tindak tanduk misterius digimon yang ia temui tadi. Setelah sekian menit ia berjalan tak tentu arah, akhirnya ia mencapai satu konklusi yang pasti: ia tersesat. Ia tidak bisa menemukan jalan setapak yang semula dilaluinya. Ah, coba tadi aku tidak begitu ingin tahu melihat digimon yang tadi... Agnimon mulai menyesali diri sendiri ketika didengarnya suara-suara rendah berbisik beberapa meter dari tempatnya berdiri.

"Bawa dia keluar, usir dia dari desa kalau perlu sehingga ia enggan kembali! Suruh ia jangan menampakkan wajahnya lagi dan menyembunyikan dirinya!"

"Tapi Pak... aku... tidak tega lagi. Bertahun-tahun kita menyakitinya..."

"Ini demi dirinya sendiri! Aku... aku gagal mematuhi janjiku pada ayahnya. Padahal dia tidak perlu diincar seandainya ia tidak berevolusi menjadi digimon itu,"

Agnimon merasakan dadanya berdegup keras ketika ia mendengar kata "diincar". Jangan-jangan... ia sama seperti diriku! Ia merunduk perlahan dan menyipitkan matanya. Sosok-sosok digimon yang berbisik di depannya nampak lebih jelas. Digimon belalang itu pastilah pemimpinnya, pikir Agnimon. Gaya bicaranya, intonasinya, semua mengingatkan Agnimon pada Pak Meramon. Agnimon merasakan air matanya mendesak-desak ingin keluar lagi. Sudahlah... tidak ada gunanya menangis...

"Mustahil! Dengan ayah dan ibu Fairymon, ia pasti akan menjadi Fairymon, Pak Stingmon... Anda tidak melakukan kesalahan apapun. Salahku lah tidak menjaganya dengan baik... pasti... pasti ada mata-mata di desa ini," digimon berbentuk bunga yang menemani kepala desa itu bersikeras. Matanya memandang sekeliling dengan waspada.

"Jangan mencurigai sembarangan Pak Floramon..." Pak Stingmon, tampak lelah dan kebingungan, ikut melirik sekelilingnya dengan tak yakin.

Agnimon menahan nafas. Rasanya tadi Pak Floramon menatap ke tempatnya merebah kini. Tapi mustahil... tubuhku juga kan ditutupi daun... Pak Floramon kini memalingkan wajahnya dan Agnimon pun menghela nafas penuh syukur.

"Siapa kau?"

Agnimon berjengit kaget. Ia mengerjapkan matanya. Pak Stingmon maupun Pak Floramon sudah hilang! Agnimon melirik kanan-kirinya dengan gugup. Benar saja, kedua digimon itu kini mengapitnya, memandangnya dengan tajam. Tangan Pak Stingmon yang berupa pedang tajam mengarah ke lehernya. "Siapa kau?" tanya Pak Stingmon lagi, dengan lebih tegas dan mengancam.

"Kau pasti mata-mata Devimon kan!" Pak Floramon mengikat tangan dan kaki Agnimon dengan sulurnya. "Apa saja yang sudah kau beberkan, hah? Dasar pengkhianat!"

Agnimon menelan ludah gugup. "Aku... aku hanya pengunjung..."

"Kau pikir kami percaya, hah!" gertak Pak Floramon. "Daun ini hanya mantel kan? Kau sebetulnya bukan orang Soyokaze kan?"

"Betul..." Agnimon merasa tidak ada gunanya lagi berbohong. Barangkali jika ia mengungkapkan identitasnya yang sesungguhnya ia akan selamat. Ia menatap mata merah Pak Stingmon yang terjurus ke arahnya dengan gugup. "Aku Agnimon..."

"Jangan bohong! Kami tahu Agnimon sudah tewas seluruhnya! Begitu kabar yang tersiar!" bantah Pak Stingmon tegas, tapi Agnimon dapat mendengar harap dari suaranya.

Agnimon menggeleng tegas, kepercayaan dirinya menguat perlahan. "Lepaskan aku... dan aku akan menceritakan seluruhnya."

"Jangan percaya, Pak!" Pak Floramon menguatkan ikatan sulurnya. Tapi Agnimon pun dapat mendengar keraguan dalam suaranya sehingga ia pun berani memandang Pak Floramon.

Pak Stingmon menatap Agnimon lama, menghela nafas sebelum kemudian ia mengangkat tangannya yang tajam tinggi-tinggi. "Aku yang akan membuktikannya..."

Agnimon menjerit kaget saat Pak Stingmon mengarahkan tangannya yang tajam ke arah dirinya. Ia memejamkan matanya takut. Sedetik, dua detik. Agnimon membuka kelopak matanya lagi. Ajaib, ia tidak merasa sakit. Ia menengadah, melihat helai daun-daun berguguran di depannya. "Agnimon..." bisik Pak Floramon tak percaya, sulurnya mengendur lepas. "Kau Agnimon sungguhan?"

Agnimon mencoba berdiri meskipun sulur yang tadi menjerat kakinya membuat kakinya sakit dan sulit digerakkan. Ia menatap Pak Stingmon dan Pak Floramon yang masih menatapnya dengan kekagetan yang tidak dapat disembunyikan. "Ya... aku hidup, aku berhasil lolos, ya..." Agnimon kini menunduk dalam-dalam, hatinya lagi-lagi terasa perih. "Tapi... penduduk desaku semuanya meninggal..."

Pak Floramon tiba-tiba berseru riang. "Tapi kau berhasil lolos! Kau berhasil! Siapa tahu kita juga bisa, Pak Stingmon," ia menatap Pak Stingmon yang nampaknya masih belum pulih dari kekagetannya karena wajahnya tetap terlihat tegang. "Kita bisa mengungsikan Fairymon sebelum Devimon kemari! Mati pun tak mengapa asal Fairymon selamat!"

"Jangan bodoh!" teriak Agnimon bersamaan dengan Pak Stingmon. Keduanya bertukar pandangan sekilas sebelum Agnimon melanjutkan sambil tersenyum. "Jangan ada lagi yang mati, Pak Floramon..."

Pak Floramon mengulum senyum malu, matanya berkaca-kaca penuh haru. "Ya... benar... jangan ada lagi yang mati..."

"Baiklah. Segera umumkan kepada penduduk desa. Kita harus bersiap-siap," Pak Stingmon berdiri tegap, ditepuknya bahu Agnimon pelan. "Kau, tolong jaga Fairymon..."

Agnimon mengangguk. Ketiganya kini melangkah melintas semak-semak yang tinggi sebelum kemudian menghilang. Dan tanpa mereka sadari, sosok gelap yang lain sejak tadi sudah mengintai di sana.

"Kalian bodoh sekali... kalian tidak akan lolos dari sini, Fairymon... Agnimon..."


"Bu Floramon?" bisik Faironmon lirih. Alih-alih tidur, ia menatap digimon bunga di hadapannya yang sejak tadi merajut dalam diam.

"Hm?"

"Pak Stingmon dan Pak Floramon... apa yang mereka lakukan?"

Bu Floramon melempar tatapan galak, yang sudah biasa Faironmon terima. "Bukan urusanmu, kan? Cepat sana kau tidur!"

"Aku..." Faironmon ragu-ragu sebelum akhirnya melanjutkan dengan gugup. "Bermimpi... aneh. Jeritan dan... segalanya..."

Bu Floramon mengangkat wajahnya dan Faironmon dapat melihat wajah itu begitu pucat dirudung cemas. "Jangan bicara yang aneh aneh..."

"Tapi sejak kemarin... tadi juga..." Faironmon menelan ludah. Ini yang terburuk, ia akan memarahiku lagi karena keluar rumah. Memang kenapa sih dengan diriku? "Aku... merasa diikuti..."

"Kau!" Bu Floramon bangkit dari kursinya dengan wajah merah padam. "Makanya sudah kami bilang jangan keluar rumah! Sekarang tidak ada lagi yang bisa dipercaya! Siapa saja yang tadi melihatmu?"

"Agni..." Faironmon tercekat ketika didengarnya suara pintu dibanting. "A... ada apa ini?"

"Entahlah, kalau terjadi sesuatu, ini semua salahmu!" jawab Bu Floramon ketus, meski wajahnya tetap pucat ketakutan. Ia berdiri untuk menyambut suaminya yang kini masuk sambil terengah-engah.

"Kau... Fairymon," gumam Pak Floramon, yang langsung disusul pekikan kaget Bu Floramon.

"A... ada apa ini suamiku? Kenapa tiba-tiba?"

Pak Floramon menatap istrinya dengan penuh sayang dan menenangkannya. "Tidak ada waktu lagi untuk berbohong, sayang. Ada pengkhianat di desa ini dan Devimon menuju ke sini."

"Tapi... tapi... anak-anak yang lain..." Bu Floramon tampak panik, ia melirik Faironmon yang menatapnya kebingungan. "Lalu... bagaimana dengan dia?"

"Kenapa denganku?" Faironmon merapikan cadar daunnya dengan bingung. Mungkin wajahnya yang buruk tadi terlihat, mungkin sudah saatnya ia diusir dari desa ini... Tapi tak mengapa, pikirnya. Aku membenci desa ini...

"Kau, Fairon, tidak. Fairymon..." Pak Floramon menghampiri digimon yang selama ini ia panggil "Faironmon" dan meraih tangan digimon itu dalam genggamannya. "Ayo pergi, selamatkan dirimu."

"Suamiku..." Bu Floramon mulai mengisak di belakang Pak Floramon, membuat Faironmon semakin bingung.

"Maafkan kami selama ini membuatmu tersiksa. Kami hanya ingin kau tetap hidup, Fairymon..." Pak Floramon mengeratkan genggaman tangannya.

Fairon, bukan, Fairymon mengangkat alisnya. "Fairymon kan... digimon cantik yang menjaga desa ini sejak dulu? Mereka kan sudah punah..."

"Ayah dan ibumu Fairymon terakhir sebelum dirimu. Mereka dibunuh..." suara berwibawa Pak Stingmon yang menjawab. Wajahnya tampak begitu tegang, tapi ia tetap tenang. Perlahan ditepuknya bahu Bu Floramon. "Anak-anak sudah kami ungsikan ke gua, mereka tinggal menunggu Trainmon tiba untuk mengangkut mereka pergi. Kau, Fairymon, tolong jaga mereka semua. Biar kami yang berjaga di desa ini."

"Apa? Aku... aku tidak mengerti..." Fairymon tampak gugup. "Aku? Fairymon? Tidak mungkin. Apa yang terjadi di sini?"

Pak Stingmon tersenyum, diraihnya bahu digimon yang selama ini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. "Cepat pergi..."

Kenapa? Kenapa mereka menyuruhku pergi di saat aku merasa mereka sudah berubah, tidak jahat lagi padaku?, batin Fairymon sesak. "Ke... kenapa?"

"Pak Stingmon, waktu kita sebentar lagi," Pak Floramon mengingatkan.

"Ayo cepat, Fairymon. Kumohon, jagalah anak-anak yang lain. Jagalah Wormmon..." Pak Stingmon memeluk Fairymon sebentar sebelum melepasnya lagi. "Ayo, Agnimon, jaga Fairymon,"

"Agnimon?" Bu Floramon yang sudah berhenti menangis kini menatap kanan kirinya dengan kaget. "Agnimon masih hidup?"

Sosok yang sejak tadi hanya menonton dalam diam kini mengangkat suara. "Ya, aku masih hidup..."

"Kau! Agnigarugumon!" Fairymon menunjuk digimon yang kini sudah melepas mantel daunnya. "Pantas aku pernah melihatmu di buku. Kau Agnimon, ksatria api!"

"Tidak ada waktu lagi untuk kaget," nada suara Pak Stingmon berubah tegas. "Semuanya, cepat pergi. Kami yang akan mengatasi keadaan di sini,"

"Baiklah," Agnimon kini bersuara, diliriknya Fairymon yang menatapnya dengan cemas. "Lepas cadarmu, itu akan menahan kekuatanmu. Ayo pergi,"

"Tapi..."

"Fairymon," kali ini Bu Floramon yang bersuara. Ditatapnya digimon itu penuh sayang sebelum ia meraih cadar daun sang digimon dan melepasnya. "Kau... adalah digimon tercantik di Soyokaze, bahkan di dunia digital,"

"Tapi, Bu..." Fairymon merasakan rongga dadanya disesaki perasaan yang membuncah, membuat air matanya mendesak-desak keluar. "Apa... yang terjadi?"

"Pergilah..." Bu Floramon membelai wajah Fairymon. "Pergilah..."

"Tapi..."

"Tidak ada waktu lagi!" Pak Floramon menarik paksa Fairymon dan menyorongkannya ke arah Agnimon. "Kau! Jaga dia! Aku bisa mendengar suara Devimon di luar sana... untung para digimon yang lain sudah berjaga."

"Baiklah!" Agnimon meraih tangan Fairymon. Deg! Sesaat ia merasakan perasaan tidak nyaman lagi di perutnya. Pun jantungnya yang berdetak lebih cepat. A... apa apaan sih ini. "Yuk, kita cepat pergi..." Agnimon melangkah lebih cepat.

"Aku... tidak mengerti..." bisik Fairymon. Air matanya mulai mengalir di pipinya yang pucat. "Apa yang sebenarnya terjadi... aku... aku..."

"Sudahlah, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain pergi menyelamatkan diri kita," Agnimon merasakan hatinya lagi-lagi sakit. Apakah ini sama dengan saat itu? Apakah aku memang harus kabur lagi?

"Tapi, Pak Stingmon dan yang lain..."

"Percayalah pada mereka, mereka juga telah mempercayakan anak-anak yang lain pada kita," Agnimon tersenyum sekilas. "Yuk..."

Fairymon mengangguk. Ya, meski ia belum mengerti sepenuhnya, ia tahu satu hal yang pasti. Ia bisa mempercayai sang ksatria api...


Agnimon menatap sekelilingnya yang sejak tadi riuh rendah dengan suara digimon anak-anak. Mereka asyik berebut naik ke atas Trainmon yang kini menggerutu karena bebannya terlampau berat. Agnimon tersenyum menatap anak-anak digimon itu, merasakan perasaan hangat yang menelusup ke dalam hatinya. Aku ingin menyelamatkan mereka... aku ingin menyelamatkan dunia digital...

"Hei..."

Agnimon menoleh, menatap digimon cantik yang sejak tadi hanya membisu. "Ada apa?"

"Kau..." ragu-ragu, Fairymon mengangkat wajahnya, menatap Agnimon dengan gugup. "Bagaimana perasaanmu... waktu itu? Desamu?"

Agnimon tersenyum pahit. "Menyebalkan..."

"Eh?"

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, dan malah..." Agnimon berhenti sejenak, teringat adiknya yang mengorbankan nyawa untuknya. "Kabur... tanpa melakukan apapun..."

"Aku tidak mengerti... apa kita sebegitu istimewanya, ya?" Fairymon memandang langit biru di atasnya. "Apa kita benar-benar legenda yang mereka harapkan?"

"Terserah... aku tidak peduli" gumam Agnimon pelan, membuat digimon di sampingnya menatap ia dengan tidak percaya. "Asalkan mereka semua selamat..." Agnimon tersenyum melanjutkan seiring memandang anak-anak digimon yang kini melambai ke arahnya, seiring dengan laju Trainmon yang menjauhi kota. "Yuk... kita pergi juga..."

"Hahaha, tidak semudah itu, Agnimon!"

Fairymon menjerit kaget ketika sebuah pusaran hitam mendesing melewati kepalanya. Beruntung tadi ia merunduk karena pusaran itu menghantam telak dinding gua di hadapannya. Fairymon menoleh dan menatap sosok hitam yang mata merahnya menyala-nyala.

"Devimon!" Agnimon menarik Fairymon ke belakangnya, menatap berang digimon di hadapannya. "Aku tidak akan kabur darimu kali ini!"

"Hah! Silakan saja, kalau kau sudah tidak sayang nyawa!" Devimon kini menyunggingkan senyum licik, kemudian menatap Agnimon dan Fairymon bergantian. "Dua ksatria dalam satu operasi... Lucemon-sama pasti akan sangat senang..."

"Oh ya? Kau kan belum tahu kekuatan kami yang sebenarnya!" Agnimon membesarkan suaranya, berusaha meredam kekagetan Fairymon, yang tentunya terkejut mendengar kata "kami".

"Aku tidak berminat mengujinya, sayang sekali," Devimon menyeringai, mengangkat tangannya ke atas langit. "Habisi mereka, pasukanku!"

"Tembaak!" Sekelompok Mushmon mendadak muncul dari balik semak-semak, menembakkan gas berwarna oranye yang berbau menyengat.

"Awas!" Agnimon menarik tangan Fairymon dan dengan sigap melompat ke arah Trainmon sambil membawa digimon itu dalam gendongannya.

"Hahahaha... kalian tidak akan bisa kabur!" suara Devimon yang membahana menyiagakan Agnimon.

"Kau, tunggu di sini..." Agnimon melepaskan Fairymon yang masih panik dan kebingungan. "Aku punya ide."

"Jangan! Aku akan menemanimu!" Fairymon menyambar tangan Agnimon yang akan beranjak pergi. "Kita... bertarung bersama, ya?"

Agnimon tersenyum. "Aku tidak punya niat untuk bertarung hari ini."

"Heh?"

"Sebelumnya," Agnimon menarik nafas dalam-dalam. "Aku tidak pernah ingin kabur. Tapi sekarang, menurutku kabur adalah jalan satu-satunya agar semua selamat."

Fairymon terdiam sejenak sebelum mengangguk mantap. "Aku setuju. Apa rencanamu?"


"Devimon!"

Digimon hitam besar itu mendongak dan menyeringai puas ketika dilihatnya sosok digimon cantik terbang di atasnya. "Jadi, kau sudah menyerah?"

"Mungkin, ya..." Fairymon tersenyum misterius.

"Jangan salahkan aku," Devimon mengangkat tangannya, bersiap mengeluarkan jurus membunuhnya. "Salahkan orang tuamu yang Fairymon itu."

"Tapi," Fairymon mendadak terbang ke arah pepohonan dan dengan sekali sabetan anginnya ia menghamburkan batang-batang pohon hingga membentuk dinding tinggi yang mengepung Devimon. "Agnimon!"

"Burning Salamander!" Jurus api Agnimon menyambar cepat pepohonan yang kini terbakar. "Ayo cepat, kita kabur Fairymon," bisik Agnimon sambil menarik tangan digimon itu.

"Hei! Apa yang kalian lakukan!" Devimon, yang terbiasa hidup dalam bayangan, menyipitkan matanya karena kini sekelilingnya diluputi api. "Mushmon! Tangkap mereka!"

"String Shoot!"

Baik Agnimon maupun Fairymon menoleh kaget ketika Mushmoon yang mengejar mereka mendadak terlempar oleh tembakan jaring digimon lain. Digimon yang tak lain tak bukan adalah Pak Stingmon tersenyum seraya memimpin pasukan Floramon di belakangnya. "Cepat lari, Fairymon..."

"Ya..." Fairymon menahan harunya. Ia menatap Agnimon dengan bara menyala di matanya. "Ayo Agnimon. Kita pergi."

Agnimon tersenyum. Ia tahu pahitnya kabur. Ia sangat memahami perasaan itu. Tapi memang, jika kabur adalah yang terbaik, maka mau tak mau kau harus menerimanya. Mengabaikan pertarungan yang kini berlangsung di belakang mereka, Agnimon dan Fairymon bergegas mengejar Trainmon yang sudah lebih dulu berangkat ke dalam terowongan. Sambil berlari cepat, Agnimon mengumpulkan buah pinus yang menjadi penanda jalan Trainmon di terowongan labirin ini, sementara Fairymon yang terbang rendah di atasnya terus menggumamkan doa.

Tak terasa, labirin-labirin sulit telah mereka lalui. Secercah cahaya dari ujung terowongan pun menyeruak masuk, membawa serta angin yang menghembuskan harum pinus.

"Terminal hutan! Terminal hutan!" deru Trainmon yang sudah tak jauh dari mereka memenuhi terowongan. "Sebentar lagi terminal hutan dan selanjutnya terserah kalian..." kentara sekali ia begitu lega ketika mengatakannya. "Aku tidak mau lagi deh ikut-ikutan kalian," gerutunya pelan.

Agnimon yang kini berhasil menyusul Trainmon dan duduk di atasnya hanya tersenyum simpul. "Yah, terserahmu saja. Tapi, kami pasti akan selalu butuh tumpanganmu dan teman-temanmu kan?"

"Huuuh..." Trainmon yang cemberut menyemburkan asapnya sementara anak-anak digimon di dalamnya tertawa riang.

"Terminal hutan..." Fairymon yang kini bergabung bersama mereka kini tampak berpikir sejenak. "Kupikir... aku ingat pernah membacanya di suatu tempat."

"Kau terlalu banyak membaca, itu masalahmu," gerutu Agnimon, ia merebahkan tubuhnya yang pegal.

"Aku ingat!" Fairymon menepuk bahu Agnimon keras, membuat digimon itu mengerang pelan. "Di sana ada ksatria lainnya! Ksatria hutan, Arbomon!"

"Ksatria hutan, hmm..." Agnimon menatap langit biru luas yang membentang di atasnya, mengabaikan celoteh penuh semangat Fairymon dan anak-anak digimon. Perlahan, dipejamkannya kedua matanya. Ia yakin, di belakang sana, Pak Stingmon sedang bertarung habis-habisan dengan Devimon. Ia pun tahu, semua digimon saat ini sedang bertarung mati-matian demi menyelamatkan sepuluh ksatria legenda. Tetapi... "Kumohon, saat ini saja, biarkan aku beristirahat."

Fairymon tersenyum lembut. Ia mengayunkan tangannya, membiarkan semilir angin membelai surai Agnimon. "Baiklah. Selamat tidur, ksatria api..."

Maka siang itu, di atas Trainmon yang berguncang pelan dan di tengah riuh rendah anak-anak digimon yang berceloteh ramai, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Agnimon kembali bermimpi indah.


Saya update kan? Sangat lewat dari seminggu sih. Hehe. Semoga ide-ide buat fanfic-fanfic lain yang mandek bisa mengalir lagi. Daaan, maaf juga untuk action yang aneh ini. , Btw, ternyata selama ini saya salah. Jadi harusnya si ksatria legenda ini dalam bentuk AncientGreymon, AncientGarurumon, etc. Aaargghh... (jeritan orang yang selalu ingin canon). Baiklah, ya. Sudah terlanjur, nanti saja saya akali. Hehehe. Review, maybe?

Next Chapter: Raksasa yang Jatuh Cinta pada Peri Hutan