ah, di chapter kemaren ada buat kesalahan! Matahari Hitam malah kuketik Matahari Merah! Maaf, saia kurang teliti!! DDDDX

oueke, baca ya~a!


****Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny****

.

.

BLEACH © TITE KUBO

.

Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny © kazuka-ichirunatsu23

.

.

Chapter 2


Di suatu kertas yang dipegang-Nya.

Ada sebuah bait.

Mengatakan bahwa bumi itu berputar teratur sampai waktunya. Menampakkan pergantian dua benda langit untuk setiap pengamat penghuni Bumi.

Bahwa matahari selalu menggantikan bulan, dan bulan selalu menyongsong matahari untuk menggantikan keberadaannya.

Matahari terpuruk, bulan mengangkatnya kembali saat fajar.

Tapi itu adalah ketetapan untuk alam. Takdir langit.

Bagaimana dengan kisah dua anak manusia ini? Bisakah keteraturan matahari dan bulan yang saling menggantikan dan menjaga itu sama dengan kisah mereka?

x.x.x

Suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring terdengar jelas dari ruangan itu. Di dalamnya ada beberapa orang yang duduk mengelilingi meja.

Ichigo, Rukia, Karin dan Yuzu. Sementara Isshin tidak berada di tempat itu, tetapi berada di ruang tamu. Asap mengepul dari mulutnya. Siapapun tahu apa yang sedang dilakukannya saat itu.

Ichigo telah menghabiskan sepiring nasi gorengnya, dan hanya menerawang. Ketiga wanita di sekitarnya belum selesai makan.

Yuzu dan Karin asyik mengobrol akan urusannya sendiri. Entah apa topiknya. Dan Rukia makan dengan pelan, memasukkan sesendok demi sesendok sarapan paginya. Ia makan pelan, karena tengah memperhatikan Ichigo yang tak peduli padanya. Tak ada juga yang mengerti apa di balik tatapan itu.

"Onii-chan, sudah selesai makannya?" tanya Yuzu.

Ichigo tersadar, "Eh, iya."

"Biar aku yang mencuci piringnya," Rukia bangkit dari kursi, mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja.

"Tapi Rukia-chan...."

"Sudah, tak apa. Kalian bersiap-siap saja duluan," senyum Rukia.

"Terima kasih, Rukia-chan!" Yuzu lalu berlari keluar, mengikuti Karin yang berjalan dengan cuek.

Rukia lalu membawa tumpukan piring itu ke dapur. Ichigo hanya meliriknya hingga tak terlihat oleh matanya yang telah mencapai sudut penglihatan terjauh.

Ichigo tersenyum sendiri.

"Mungkin sudah saatnya... Sebelum terlambat...."

xxx

"Onii-chan?"

Ichigo tak bergeming.

"Ichi-nii?"

Perlahan Ichigo menoleh, tersenyum kepada kedua adiknya, "Kalian pulang duluan saja. Aku masih ingin tetap berada disini...."

"Baiklah. Kami akan menyusul otou-san," jawab Yuzu, "Onii-chan jangan pulang terlambat ya! Ini sudah mendung, nanti hujan," Yuzu berlari menjauh.

"Ya. Hati-hati," Ichigo kembali menekuri batu nisan yang berdiri membisu di hadapannya.

Masaki Kurosaki.

Nama yang terpatri disana begitu ia rindukan sosoknya. Teringat lagi olehnya kenangan masa lalu yang masih lekat diingatannya, meski kenangan itu telah berusia beberapa tahun.

"Ichigo?"

Ichigo dengan lekas menoleh kepada sang pemanggil. Terasa olehnya rintik-rintik kecil yang menyapa kulitnya.

"Sudah hujan. Mau tetap disini? Aku mau pulang duluan," sambung Rukia. Ia sudah bersiap melangkah pergi dari Ichigo.

Sementara hujan semakin deras.

"Tidak, kau disini saja," Ichigo menahan pergelangan tangan Rukia dengan erat, Rukia tak bisa menangkisnya karena terlalu kuat.

"Sakit, tahu."

"Maaf. Tapi bisakah temani aku disini?" Ichigo melonggarkan genggamannya.

"Tapi...." Rukia menengadahkan tangannya, "Hujan semakin deras, Ichigo."

"Pakailah ini," Ichigo melepaskan jaket biru tuanya dan memakaikannya pada Rukia. Rukia hanya diam saat tangan Ichigo memasangkan jaket itu kepadanya.

"Ichigo... Hari ini...."

"Ya. Aku tidak mau pulang hingga hujan berhenti. Karena hujanlah pembawa kenanganku dengan ibu. Tepat hari ini, beberapa tahun yang lalu...."

Rukia tak mau menjawab. Sebenarnya bukan tak mau, ia hanya mempersilahkan Ichigo untuk berpuas hati menumpahkan kesedihannya hari ini. 17 Juni. Memutar memori demi memori yang berhasil dilewatinya selama beberapa tahun ini. Rukia memandang Ichigo lekat-lekat, mengamati setiap detil dari wajahnya yang dibasahi oleh hujan.

Tampan.

Begitu kesimpulan Rukia, yang dirasakannya bersamaan dengan semburat merah yang mewarnai pipinya. Ia menunduk, tidak ingin wajahnya terlihat memalukan di depan Ichigo.

"Rukia...." panggil Ichigo.

"Ya?" Rukia mengangkat kepalanya. Untuk sesaat kristal cokelat bening itu bertemu pandang dengan violet jernih milik Rukia, secara tak sengaja.

Ichigo, dalam waktu hitungan detik, segera membawa Rukia ke dalam pelukannya. Rukia terkejut, terbelalak tak mengerti.

"Ichigo?" Rukia ingin melepaskan diri, namun tak cukup kuat.

Ichigo tak bergeming, malah tangannya semakin erat memeluk Rukia.

"Terima kasih, Rukia...." kata Ichigo, setelah beberapa saat Rukia menahan kebingungannya atas perilaku ganjil Ichigo.

"Ya, aku tahu. Tapi kenapa kau memelukku?"

"Kau telah mengubah arti hujan dalam hidupku, Rukia. Kau telah mengubah duniaku. Menghentikan arti hujan yang membuatku terpuruk...."

Rukia diam. Memilih untuk tak bereaksi apa-apa.

"Kau telah menolongku beberapa kali. Kau membantuku tanpa henti, menjadi partner yang hebat, yang selalu ada ketika kubutuhkan...."

"Kau juga sering membantuku, Ichigo," Rukia mengangkat kepalanya yang sebelumnya bersandar ke dada Ichigo.

"Tapi aku membantumu karena kau telah banyak menolongku.. Dan Rukia, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Ichigo mengangkat dagu Rukia.

Perasaan Rukia semakin tak karuan. Jantungnya berdegup tak berirama, ketika wajah Ichigo semakin dekat dengannya.

"Aku mencintaimu, Rukia... Dan aku ingin tahu jawabanmu, sekarang."

Deg. Jantung Rukia semakin tak berirama. Wajahnya memerah, meski agak tertutup oleh hujan.

"Jawab sekarang, Rukia...."

"Aku... Aku... juga, Ichigo...." Rukia berusaha membuang mukanya, tak ingin terlihat memalukan di hadapan Ichigo.

Ichigo tersenyum. Rukia semakin luluh saat melihat senyum itu. Senyum yang hanya untuknya.

Ichigo semakin memperpendek jarak wajah mereka. Hanya dengan satu tangan ia bisa mengunci gerakan wajah Rukia. Rukia tak bisa menolak.

Sekarang jarak diantara mereka hanya terhitung sepuluh sentimeter, tapi Ichigo dengan tiba-tiba menarik wajahnya, dan merenggangkan pelukan tangannya.

"Kenapa, Ichigo?"

"Ah, tidak, aku hanya... Takut kau keberatan...."

"Keberatan?"

Ichigo mengangguk, "Lagipula kalau ketahuan Byakuya, aku bisa mati di tangannya."

Rukia tertawa kecil, "Selama kau bisa tutup mulut, nii-sama tidak akan tahu."

"Boleh?"

Rukia tidak mengiyakan secara langsung, ia hanya kembali tersipu dan memandang ke arah lain.

"Terserah kau."

Ichigo lagi-lagi mengunci wajah Rukia dengan tangan besarnya, mengelus pelan dulu pipi Rukia yang basah oleh air hujan.

Dan hanya dalam hitungan detik, jarak diantara mereka sudah habis terhitung. Bibir mereka bersentuhan dengan lembut, saling menghangatkan satu sama lain di tengah hujan ini.

Bukan dalam waktu yang sebentar posisi seperti itu bertahan. Meski dalam hujan.

xxx

Setelah Ichigo merasa nafasnya mulai tak leluasa, ia menarik diri. Memandang Rukia dengan segala kelembutan yang ia pancarkan dari mata cokelat beningnya. Rukia ikut tersenyum.

Mereka saling melepaskan diri satu sama lain. Rukia menunduk, sembari mengelus kedua lengannya. Basah dan dingin.

"Dingin ya?"

Rukia tersenyum kecut.

"Sudahlah. Kita pulang saja," ajak Ichigo, membawa Rukia dengan genggaman tangannya.

"Rukia...." sambung Ichigo lagi, "Sekali lagi, terima kasih."

Rukia menyimpulkan senyum dari bibir mungilnya, "Ya. Sama-sama untuk kesekian kalinya."

Ichigo tertawa kecil sembari berjalan menapaki jalur menuruni bukit.

"Tapi Ichigo...." Rukia menghentikan langkahnya.

"Kenapa, Rukia?"

"Kau pernah bilang, Sang Bulan Putih membangkitkan kembali Sang Matahari Hitam?" dahi Rukia berkerut, menyisakan tanda tanya pada akhir perkataannya.

Ichigo mengangguk, "Ya. Kau adalah Bulan Putih, dan aku adalah Matahari Hitam. Pas bukan, dengan kekhasan zanpakutou kita?"

Rukia nampak berpikir untuk sekian waktu, dan selanjutnya senyum merekah di bibirnya.

"Tapi, kau tahu Ichigo, jika matahari bangkit di siang hari, maka bulan yang indah dan cantik akan turun pada saat itu," jawabnya sembari melangkahkan kakinya.

Ichigo mengikuti, "Maksudmu?"

"Yah... Memang lazim kan, setiap hari, bulan yang besar dan indah itu akan hilang seiring pagi menjelang? Memang sih, di sore hari terkadang terlihat bulan, tapi tak seindah di malam yang gelap bukan?"

Ichigo semakin mengerutkan dahinya. Tapi ia memilih untuk tidak menjawab karena ia melihat Rukia menggerakan bibirnya, tanda akan mulai bicara.

"Kuharap kau akan selalu ada saat bulan itu kehilangan cahaya dan semangatnya, ataupun saat bulan itu menangis."

"Rukia?" Ichigo yang tak mengerti semakin heran.

Rukia tersenyum lebar, "Jangan dipikirkan, anggap saja yang tadi tidak pernah ada."

Ichigo ingin bertanya lagi, namun ia lebih memilih diam. Mungkin Rukia hanya bercanda, pikirnya.

"Karena aku merasakan firasat buruk, Ichigo." batin Rukia.

xxx

"Ah, benar-benar basah!" desah Rukia, saat sampai di depan rumah.

"Sudahlah, jangan mengeluh. Nanti akan kuminta Yuzu membuatkan coklat panas untukmu."

Rukia sedang mengelap wajahnya yang benar-benar basah, dan Ichigo bersiap untuk mengetuk pintu.

"Ichigoooo!! Dari mana saja kaauuu!!" teriak Isshin yang dengan tiba-tiba membuka pintu.

Ichigo memutar bola matanya dengan bosan. Kelakuan ayahnya ini entah kapan akan berubah.

"Apa Ichigo?! Kenapa kau dan Rukia-chan pulang bergandengan tangan?!!" Isshin berteriak lagi, tak kalah kerasnya dengan yang sebelumnya.

Ichigo sadar, melirik ke tangannya yang berpegang erat pada tangan Rukia. Rukia ikut melakukan hal yang sama, dan sejenak mereka langsung melepaskannya dengan malu.

"Aah! Kalian mengaku sajalah!! Apa yang barusan kalian lakukan saat kami sudah pulang?!"

Ichigo tak menjawab, selaras dengan Rukia yang lebih memilih menutup mulut.

"Ah Masaki!! Sebentar lagi kita akan memiliki menantu!!" Isshin berlarian tak jelas keliling rumah, dan langsung menempel pada poster besar istrinya di tembok.

Ichigo dan Rukia berheran ria berdua. Ayah semacam ini, apanya yang bagus jadi panutan?

Dengan cuek mereka berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Isshin sendirian.

xxx

"Rukia?"

Rukia menoleh perlahan, menyisakan sedikit semburat merah ketika ia mengarahkan pandangannya ke Ichigo.

"Kenapa wajahmu seperti itu?" Ichigo menatap heran. Menggeser matanya dari buku pelajaran yang dipangkunya menuju Rukia yang berada di pintu lemari.

"Ah, bukan hal besar...." Rukia menggeleng secepat yang ia bisa, berusaha menepis kesan yang dirasa Ichigo saat melihat dirinya yang tersipu seperti itu. Sebenarnya ia malu mengakui, kalau ia masih mengingat kejadian di bawah hujan saat itu. Apalagi, mereka tidur sekamar, membuat Rukia semakin salah tingkah.

Ichigo akhirnya paham, "Maaf, aku tak bermaksud membuatmu tidak enak seperti ini...."

"Tak apa. Asalkan kau senang, bukan?"

Ichigo tersenyum gembira, "Kau memang selalu membuatku tersenyum, Rukia."

"Kau juga, Ichigo. Kaulah yang bisa membuatku tak karuan saat dekat denganmu...." Rukia dengan malu mengakuinya.

Ichigo berpikir. Rukia diam.

"Rukia... Bisakah mulai malam ini, kau tidur bersama Karin dan Yuzu saja?"

Rukia menautkan alis dalam satu gerakan, "Kau mengusirku?"

Ichigo berdiri, mendekat pada Rukia.

"Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan atas kita berdua. Yah, ikatan kita yang tak lagi terbilang teman ini bisa menimbulkan hal-hal yang diluar batas...." Ichigo meletakkan tangannya ke pundak Rukia.

Rukia menganggu, "Baiklah. Aku keluar dulu," Rukia melompat dari lemari itu, berjalan keluar.

"Tunggu!" seru Ichigo, menahan pundak Rukia lagi.

"Kenapa lagi?"

Dengan satu kilas gerak yang cepat Ichigo mengecup dahi Rukia, "Selamat tidur, Bulan Putih yang cantik."

Rukia menampakkan kemerahan wajahnya lagi, "Selamat tidur juga, Matahari Hitam-ku...."

Dan Rukia pun menutup pintu kamar Ichigo. Ichigo melemparkan dirinya ke tempat tidur. Tertidur pulas hanya dalam waktu singkat.

x.x.x

Hujan telah berubah makna karena Sang Bulan Putih.

Sang Bulan telah berhasil bangkitkan Sang Matahari yang murung karena hujan.

Tapi, akankah Sang Matahari juga melakukan hal yang sama jika terjadi hal serupa?

- To Be Continued -



kazuka : bah! rasanya gaje deh...

yukina : *sweatdrop*

kazuka : nyuuu~! akhirnya aku bisa nyelesaikan satu lagi chapter fic... nyahaaa... dulu kecanduan bikin one-shot (jadi inget waktu masih jadi author pendatang baru yang ga tahu apa2) sekarang malah numpuk-numpukin multichap... ckckckck... parah emang....

yukina : salah sendiri!

kazuka : lho? suka2 gue lah... wong ide gue segitu ya dialirin aja. Ini juga bisa sebagai pelatihan, dodol! Pelatihan menuju langkah selanjutnya menjadi seorang sastrawan... hahahaha....

yukina : pantes lo mau jadi sastrawan. Nilai eksakmu pas-pasan sih... makanya lo pilih bahasa kan?

kazuka : yeeee~! enak aja! Aku memang suka bahasa kok... dan kebetulan, nilai eksakku memang agak menurun belakangan ini (baca: merosot)....

yukina : ah, bosen denger celotehan lo! Mending bales ripyu!!

kazuka : gini-gini gue majikan lo!! ya udah, ripyu pertama dari ichakuchikichi! Ah, baguslah, ini mungkin bisa jadi sedikit obat untukmu, nak... *bergaya ala apoteker*

yukina : yosh! lalu dari Jess Kuchiki.

kazuka : aha~ jez! yo, silahkan mampir, isi buku tamunya... *emang kawinan?* eh, lumayan? perasaan pendek banget deh...

yukina : setidaknya itu pendapatnya, majikan dodol! berikut! dari Ruki_ya.

kazuka : ah, senangnya~! syukurlah kamu suka, Ruki-chan....

yukina : ufu... dari kika-chan! yooo~! ini apdetnyaa~!

kazuka : yosh! dari Himeka-Hikari Kamisa... yay! *nari-nari* ini deh, lanjutannya~!

yukina : jijay liat lo nari-nari gitu! lalu ripyu keenam dari himekahime-sansan...

kazuka : wah? keenam? (contoh orang freak angka 6 karena -piip-) wah, ada nee-chan mampir~ makasih nee... ehm baik, akan saia jelaskan. Saia menggambarkannya tanpa memberitahu arti perumpamaannya. Yup! matahari ichigo, bulannya rukia, kan ada di bagian atas ficnya. Soal Ichigo dapat hujan lagi, itu nanti~ makasih udah mau nunggu~~!

yukina : nah, nee-chan-mu juga ini, CursedCrystal... nih, apdetannya, dini-nee~!

kazuka : *ngangguk2* yosh! ada Chizu Michiyo yang datang sebelum hiatus katanya. aduh, chizu bikin saia malu... bisa aja deh... *ngebungkuk2*??*

yukina : ekspresi gaje dari kazu... yap! dari ayumi ito.... makasih udah sempetin ripyu....

kazuka : *manggut2* yop! dari Ni-chan d'Sora. Yuki! gak bisa bikin? pasti bisa! yakin deh!! liat aja kan, fic pertama saia segimana abalnya? karena belajar dari senpai-senpai saia bisa melangkah sedikit demi sedikit... syukurlah nichan suka ya....

yukina : nah, ada red-deimon-beta!

kazuka : ahaaa~ debriii~ ga papa kok ripyu telat, nyantai aja... ehm... soal endingnya... liat aja ntar deh.... hanyaaaa~ syukurlah debri suka~!

yukina : Sora Chand... wah, penasaran, nih, apdetannya. Tetap setia, ya?!

kazuka : *angguk2* dan terakhir untuk chapter ini, Kaka-Kiri-Nya... yuppie! ini apdetannya!!

yukina : yup! nah, oke, selesai sesi bales ripyu untuk chapter pertama. Makasih yang udah baca dan ripyu ya~!

kazuka : jangan bosan lhoo~! saia tunggu! dan, saia akan berusaha apdet cepeet jika memungkinkan. SANKYU~U!

.

.

.

.

A moment for review?