yosh! di chapter awal-awal begini, saia lebih banyak masukin sweetie-sweetie moment-nya IchiRuki aja. Baru mungkin di chapter empat keatas ntar akan saia mulai hurt/comfort-nya. nyaahaw... enjoy it!


****Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny****

.

.

BLEACH © TITE KUBO

.

Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny © kazuka-ichirunatsu23

.

.

Chapter 3


Ichigo meletakkan kedua lengannya sebagai bantal, meski ia sadar, ia telah memiliki dua bantal sebagai pengganjal kepalanya. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman saat berbaring dalam posisi seperti ini.

Matanya berarah lurus, menuju rangkaian papan penyusun langit-langit kamarnya.

Tentu tak mungkin ia hanya menerawang tak jelas terhadap benda mati itu. Ia sedang membayangkan wajah seseorang yang seolah tergambar rapi disana.

Rukia. Tak lain.

Terkadang, ia tersenyum sendiri ketika membayangkannya. Entah tingkah Rukia yang manakah yang membuatnya seperti orang tak waras itu. Yang jelas baginya, setiap tingkah Rukia memiliki kekhasan tersendiri, dan selalu menarik baginya. Sehingga ia tak bisa menghentikan ekspresi senangnya tersebut.

Ya, Ichigo merasa ialah laki-laki paling beruntung di dunia -setidaknya hingga detik ini, bisa memiliki orang yang ia sayangi tanpa kesulitan. Memang berbagai masalah pasti menghadang di depan sana, namun ia tak takut. Cukup jalani saja. Prinsip sederhana yang terus ia genggam.

Sekali waktu, disela flashback bayangannya akan Rukia tersebut, ia ingat saat Rukia yang sampai melonjak tak karuan di depan toko boneka karena Ichigo membelikannya sebuah boneka Chappy besar.

Dan saat mereka berdua kehujanan, Rukia yang sampai tertidur di bahu Ichigo karena terlalu lama menunggu redanya hujan.

Juga saat Rukia sakit. Wajahnya yang memerah karena demam itu begitu lucu di mata Ichigo.

Yah... Setidaknya hingga saat ini, ia bisa merasakan bahagia awal jatuh cinta dan memiliki.

Tak ada yang tahu rencana-Nya selanjutnya, bukan?

xxx

"Ichigo!!" Rukia mendorong paksa kamar Ichigo, hingga menimbulkan bunyi keras saat terbuka.

Ichigo yang sedang melamun ria tersentak kaget dan langsung bangkit terbangun.

"Ada apa?!" tanyanya panik.

Rukia tak mengindahkan pertanyaan itu, ia memainkan tombol di ponsel lipatnya dengan jemari yang bergerak lincah.

"Tiga ekor hollow di sisi tenggara kota! Cepat!"

"Iya, iya...." ucap Ichigo malas.

"Kenapa selalu ada hal yang mengganggu seperti ini?" batinnya kemudian.

Ichigo lalu meraih badge shinigami daiko-nya. Dan menaruh benda itu ke dadanya, hingga dengan sukses rohnya keluar dalam bentuk shinigami. Sekarang tubuhnya telah tergolek tanpa nyawa di tempat tidur. Tinggal memasukkan pil gikongan Kon ke dalam situ.

Sementara Rukia dengan cepat menelan pil gikongan Chappy-nya.

"Ayo, Ichigo!!" Rukia bersiap melompat dari jendela, tapi menoleh sebentar pada Ichigo.

"Ya...." Ichigo segera melompat keluar, diikuti Rukia kemudian.

xxx

"Ada berapa hollow tadi?" tanya Ichigo. Ia kurang berkonsentrasi tadi hingga lupa penjelasan Rukia.

"Tiga," jawab Rukia singkat.

"Oh...."

Mereka terus berlari di udara, menuju arah tenggara kota.

Rukia membuka mulutnya lebar-lebar. Menguap.

"Kau mengantuk, Rukia?"

"Hnn... Mungkin bisa dibilang seperti itu...."

"Kalau kau mengantuk, jangan paksakan diri."

"Tidak apa-apa. Cuma mengantuk begini tidak usah dianggap besar."

"Hati-hati dengan kantukmu. Kau bisa terjebak dalam pertarungan yang sulit jika kau lalai karena mengantuk," saran Ichigo, memandang khawatir pada Rukia.

Rukia tersenyum, "Ya. Kau juga hati-hati. Jangan sampai terlalu semangat hingga kekuatanmu menurun hanya karena reiatsu yang terlalu tinggi."

"Tentu," Ichigo tersenyum lembut.

"Ichigo!" Rukia memberi aba-aba. Tiga ekor hollow besar telah menunggu mereka.

"Kau hadapi yang paling kiri, aku akan melawan dua sisanya!" perintah Ichigo.

Mereka berpisah arah, Rukia menarik zanpakutou-nya.

"Mai, Sode no Shirayuki!" perintahnya. Dan zanpakutou itu pun menunjukkan kecantikannya, bersinar putih dengan pita yang menjelujur anggun pada bagian ujungnya.

"Tsugi no mai, hakuren!" perintah berikutnya dari mulut Rukia. Ia berharap bisa menyelesaikan hollow ini hanya dengan satu kali serangan, agar ia dapat membantu Ichigo di sana.

"Graawww!!!" hollow itu menggeraung marah, karena sebuah kakinya telah hancur oleh luncuran es dari Sode no Shirayuki.

"Ah, meleset!" desah Rukia. Entah kontrolnya yang kurang stabil malam ini atau hollow itu yang terlalu hebat, ia juga belum mengerti.

"Grawh!!" hollow itu berbalik mengancam keberadaan Rukia, sembari mengibas-ngibaskan tangannya yang bercakar panjang. Rukia berusaha menghindar, namun cakar itu tetap mengenai tangannya, hingga tergores cukup dalam.

"MRAAWW!!!" hollow itu semakin mengganas, mengayunkan cakarnya sekali lagi, mendekat pada Rukia.

"Akh!" seru Rukia, ketika cakar itu lagi-lagi mengenai dirinya, tepat di leher, dan sekarang hollow itu sudah berada di depan matanya.

"Some no mai, tsuki shiro!!" perintahnya pada Sode no Shirayuki. Dan hollow itu pun tak sempat menyambar Rukia, membeku dalam bongkahan es yang menjulang tinggi ke langit.

Crash!

Bongkahan salju itu remuk. Begitu pula hollow yang terperangkap di dalamnya.

"Fiuh...." Rukia lega. Ia mengelap keningnya yang dibasahi keringat.

"Selesai?" Ichigo menghampirinya.

"Yah. Begitulah. Yang kali ini lumayan," ucap Rukia.

"Lumayan bagaimana? Dua hollow itu bahkan tumbang sekaligus saat kuarahkan Getsuga Tenshou."

Rukia melongo. Ichigo sudah berkembang secepat ini?

"Sudah. Ayo pulang," ajak Rukia.

"Tunggu!" cegah Ichigo, "Kau terluka?"

Rukia memperhatikan tangannya yang meneteskan darah sedikit demi sedikit, "Ah, cuma luka kecil. Tak apa."

"Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, bahaya. Sini," Ichigo menarik tangan Rukia. "Darahnya harus dibersihkan."

Ichigo mengarahkan tangan Rukia yang berdarah ke mulutnya.

"Ichigo!" tegur Rukia.

"Kenapa? Biasanya dalam luka, darah yang memenuhi luka itu harus dibuang segera," katanya cuek. Dan segera menyesap darah di tangan Rukia dengan mulutnya.

Rukia tak bisa bereaksi apa-apa, selain memperhatikannya. Ichigo pun meludahkan darah yang telah selesai diisapnya dari luka Rukia.

"Nah, lehermu juga terluka," sambung Ichigo.

"Jangan bilang kau...."

Ichigo tak berkata-kata, selain langsung menyesap lagi darah yang merembes di leher Rukia. Rukia terkejut, namun tak mennghindarkan diri. Hingga dirasanya cukup, ia menarik diri dan meludahkan lagi cairan merah di dalam mulutnya.

"Sudah. Dengan begini tak perlu terlalu khawatir. Nanti sampai di rumah kita obati lagi," Ichigo membenarkan rambut Rukia yang agak berantakan, menyisir helaian hitam legam itu dengan jarinya.

"Ah, kau...." Rukia memukul bahu Ichigo dengan pelan. Ichigo hanya tertawa jahil. Mereka lalu berlari pulang.

xxx

"Aku tidur dulu, Ichigo," Rukia beranjak ke pintu kamar Ichigo, sehabis berburu hollow tadi. Setelah memakai kembali gigai-nya, ia memutuskan kembali ke tempatnya tidur semenjak beberapa minggu yang lalu.

"Tunggu sebentar!" Ichigo yang juga barusan masuk ke tubuh aslinya, "Disini sebentar. Langit malam masih bagus untuk dinikmati."

Rukia mengangkat alisnya, "Langit malam?"

"Ya. Langit malam itu kan bagus... Apalagi jika dilihat bersamamu."

Rukia membalikkan tubuhnya, mengikuti irama tubuh Ichigo yang juga berbalik, menggeser kaca jendela kamarnya.

Mereka berdiri berdampingan di jendela kamar itu. Rukia menopangkan dagunya ke bingkai jendela, dan Ichigo mengelilingi hamparan langit dengan matanya.

Bintang yang kecil menempati lokasinya masing-masing, saling terhubungkan dengan garis imajiner untuk membentuk rasi yang mengandung sejuta makna. Bulan menemani, memantulkan sinar matahari yang diterimanya ke bumi. Membuat malam menjadi sebuah lukisan gemerlap yang menyampaikan seribu satu inspirasi.

"Ichigo," panggil Rukia.

"Hn... Ya?"

"Aneh, ya... Kenapa bulan dan matahari tidak pernah didampingkan berdua, dengan posisi yang sama, tinggi di langit yang sama? Padahal kan mereka sama indah...."

"Tidak," jawab Ichigo santai, "Saat ini, bulan dan matahari sedang didampingkan... Kita...." katanya. Meneruskan sinar pandangnya kepada Rukia.

Rukia tertawa kecil, "Bukan kita, bodoh. Maksudku bulan dan matahari yang di langit itu!" tunjuk Rukia.

"Ya tentu saja. Kalau mereka didampingkan, pasti akan ada yang kalah cahayanya. Salah satu harus mengalah turun saat yang satunya bangkit, tahu...."

"Salah satu harus mengalah turun saat yang satunya bangkit?" Rukia mengulang lagi kalimat itu. Menggaungkannya beberapa kali dalam pikirannya, memahaminya.

"Iya. Terus kenapa?" Ichigo agak bingung dengan perubahan ekspresi Rukia.

"Emm... Kau menyadarinya juga, ya...."

Ichigo menggerakkan otot wajahnya, membuat alisnya hampir bertaut dalam satu gerakan. Arah pembicaraan Rukia semakin sulit ia tebak.

"Nah, Ichigo, kau tahu nama bintang yang itu apa?" Rukia menunjuk ke sebuah bintang yang bersinar putih.

Ichigo memperhatikan bintang-bintang di sekitarnya terlebih dahulu, baru ia tersenyum.

"Itu namanya Spica. Bintang utama dari rasi Virgo."

"Oh ya? Wah, kau lumayan tahu juga...."

"Aku belajar dari Ishida, tahu. Dia ahlinya dalam pengetahuan semacam ini."

Rukia tertawa renyah. Ichigo memutar kepalanya. Otaknya langsung merekam apa yang ia lihat saat itu. Pukul 10 malam.

"Hn... Liburan musim panas sebentar lagi ya...."

Rukia mengangguk, "Ya. Kenapa? Ada acara?"

"Hm... Bagaimana kalau kita... Mengadakan semacam pesta kebun? Kita ajak yang lain!"

"Boleh! Aku setuju!" jawab Rukia antusias.

"Baik. Nanti aku yang mengatur."

Keheningan sejenak menghadang. Mereka berdua tak bergeming, hanya menatap pada langit yang tenang. Mengamati kedipan kecil bintang-bintang, menerawang kepada sang bulan yang tersenyum dalam guratan cahayanya.

Perlahan tangan kanan Ichigo menghampiri punggung tangan kiri Rukia yang berada di bingkai jendela. Rukia hanya diam, tapi tersenyum.

"Dulu ibu juga pernah membawaku melihat langit malam seperti ini...." ungkapnya. Kelima jemari Ichigo pun menggenggam erat jemari Rukia.

Rukia agak kaget, baru kali ini ia mendengar Ichigo yang bercerita langsung tentang ibunya.

"Kata ibu, bulan itu adalah objek malam yang paling indah...."

"Rasanya jarang sekali kau menceritakan kenanganmu tentang ibumu...."

"Eh... Begitu ya?" Ichigo menerawang. "Mungkin sebelumnya aku terlalu terluka karena aku terus menyalahkan diriku atas ibu...."

"Jadi sekarang kau sudah bisa menerima kenyataan, kan?"

Ichigo tersenyum, menyentuhkan pandangan kristal ochre-nya pada amethyst yang tergantung manis di mata Rukia.

"Ya. Karena kau yang menghentikan hujan untuk mengatakan kenyataan itu...."

Rukia tersenyum manis. Tak tahu apa yang harus direaksikannya saat ini.

"Sudah ya, Ichigo, aku mau tidur," Rukia berbalik ke arah pintu kamar.

"Baiklah. Selamat malam," Ichigo lagi-lagi mendaratkan good night kiss di kening Rukia.

"Selamat tidur, Ichigo...." Rukia sempat menolehkan kepalanya saat bersiap menutup pintu kamar tersebut, membalas senyum Ichigo dalam sekilas pandang.

"Ya... Bulan akan tetap indah jika matahari memberikan sinarnya, Ichigo...." batin Rukia, dalam langkahnya menuju kamar Yuzu dan Karin. Entah kenapa, ia menjadi lebih sering mendapatkan firasat buruk sekarang.

- To Be Continued -

kazuka : enyahahaha.... sankyuu udah baca ampe tulisan tu bi kontinyu itu.... yaha...

yukina : reader? bagaimana tanggapannya? masih adakah typo dari makhluk tengik ini?

kazuka : *syok (lagi) dibilang tengik*

yukina : yah... harap maklum kalau author ini jadi banyak membuat kesalahan dalam mengetik fic akhir-akhir ini... mungkin ada sedikit gangguan di otak, tingkat ketelitian, mata atau jari dia...

kazuka : ah, entah kenapaa?!! oh, tidak!! apalagi dengan ide gilaku yang terwujud dalam fic ini~! ahahaha...

yukina : maaf, teman-teman, dia lagi gila.

kazuka : maaf juga lagi, ya... aku ga bisa bales ripyu. Tugas lagi banyak, ini pun aku ngaplotnya pas di skul, dengan keterbatasan bandwith yang bikin ribut... *bungkuk-bungkuk*

SANKYU~U!!!

.

.

.

.

Wanna review?