Oke, ini adalah masa hiatus saia, tapi saia punya sedikit waktu luang untuk meneruskan fic yang telah 700-an kata saia ketik. Ini karena saia mencuri waktu setelah selesai pengambilan nilai untuk seni budaya (meski pada akhirnya satu kelas disuruh ambil nilai lagi a.k.a tampi sekali lagi TT~TT), sebenarnya waktu luang ini harus dipergunakan untuk menyusun rangkuman presentasi sosiologi, tapi saia tak bisa melepaskan diri dari hutang saia....
Maaf aja kalo disini ketauan banget saia lagi stres...
Oya, tambahan!! Ada yang nanya, ini jenis apa, AU atu Alternative Time...
Sebenernya ini fic yang saia bikin dengan setting setelah Winter War, yah, pas perang udah kelar. Semua udah damai, tapi Rukia ditugaskan lagi di dunia nyata buat ngejaga Karakura bareng Ichigo.
Nah? Gimana?
Plus, bener yah Ukitake mati? TT-TT
kalo beneran iya, saia bakalan tetep masukin dia di fic ini di saat yang diperlukan. Saia kan suka chara yang satu itu! x3 modified-canon lah jadinya
di kelas aja teriak kek orang stres gara-gara baca manga dimana Wonderweiss melukai Ukitake sampe Starrk menembakkan pistolnya ke arah Ukitake berada....
Ahaha, A/N gaje nambah ribet aja. Langsung!
****Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny****
.
.
BLEACH © TITE KUBO
.
Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny © kazuka-ichirunatsu23
.
.
Chapter 4
Asap mengepul. Tenang saja, bukan di hal yang negatif, tapi malah menyenangkan.
Lihat saja beberapa orang yang berkumpul disana, yang sedang tersenyum ceria menikmati apapun yang ada dihadapan mereka. Baik itu berupa jus buah beraneka warna hingga makanan yang menimbulkan asap barusan. Ya, tak lain, pesta kebun dengan barbeque sebagai hidangan pelengkap yang 'wajib'.
Disana, ada yang tampak begitu asyik dengan makanan yang ada dihadapannya. Orihime, hm... tak lain. Sementara Ishida tak mau mengalihkan perhatiannya dari buku tebal bersampul biru yang digenggamnya, meski berbagai aroma merasuk ke hidungnya, namun sepertinya itu tidak berpengaruh sama sekali.
Chad, seperti biasalah. Tenang. Walau mulutnya mengunyah makanan yang terlihat lezat, ekspresinya tak berubah.
Aha, kembali ke fokus utama dari apa yang harus disampaikan.
Ichigo duduk di kursi plastik itu, di tangannya ada piring dengan beberapa potong daging panggang sebagai pengisi piring tersebut. Rukia tepat disebelahnya, bedanya ia hanya duduk santai, tak memegang apapun di tangannya.
Terkadang tangan Ichigo menyuapkan daging panggang itu ke mulut Rukia, dan bisa juga memainkannya, yah, biasalah, bermaksud menggoda.
Mereka tertawa kecil. Sepertinya kebahagiaan yang direncanakan hari ini begitu sempurna.
Kelihatannya begitu, bukan?
Yah, setidaknya hingga detik ini, semuanya berjalan sesuai keinginan, tentu denga senyum yang berhasil tercipta karena kesesuaian tersebut.
"Hm, Rukia?" mulai Ichigo, setelah ia mengunyah habis daging terakhir dari piring putih porselennya.
"Ya? Kenapa?"
Ichigo menatap wajah Rukia untuk beberapa saat, menyesapi kecantikan gadis mungil itu sepuas hatinya. Manis sekali, wajah putihnya dibingkai oleh sisa anak rambut yang terjuntai karena rambutnya dijepit ke belakang. Poni panjangnya tetap dipertahankan, karena itu adalah sisi yang membuat wajahnya tampak lebih menarik. Matanya yang berhias amethyst elok berkejapan pelan ketika Ichigo memandangnya kagum.
Baju ungu muda dengan rok bermotif kotak-kotak berwarna kelabu begitu cocok.
Ah, andai waktu bisa dihentikan bagi Ichigo....
"Hoi, Ichigo? Kau masih berada disini, kan?"
Ichigo menggelengkan kepalanya cepat, mengembalikan kesadarannya untuk kembali berfokus ke apa yang ingin ia bicarakan.
"E-eh, iya. Hm, ada yang ingin kubicarakan."
"Apa itu?" Rukia memiringkan sedikit kepalanya, dan menggigit sedikit bagian dari apel merah yang telah diambilnya barusan.
"E-erm... Bagaimana ya? Aku harus mulai dari mana ya?"
Rukia mengerutkan dahi, bingung. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Langsung saja, tenang, aku mau jadi pendengar setia untukmu," senyumnya kemudian.
"Hm..." Ichigo seperti mengulur waktu.
"Ayo, Ichigo. Tapi kalau kau tak mau mengatakannya, tidak apa. Bisa lain kali, kan?" jawab Rukia melembut.
"Ah, tidak! Sekarang saja! Ini!!" Ichigo segera mengambil apa yang ada di saku celana jeans-nya.
Sebuah gelang cantik dengan untaian simbol matahari dan bulan sebagai penyusunnya. Terbuat dari semacam emas berwarna putih, yang berkilat ketika sinar matahari menyentuhnya.
Rukia tertegun, bibir mungilnya bergerak pelan, "Indah sekali, Ichigo!"
Ichigo tersenyum lebar. "Anggaplah ini menjadi sebuah simbol hubungan kita."
"Simbol? Kenapa bukan cincin saja?"
"Hei, cincin kan simbol untuk pertunangan. Sedangkan kita kasih SMA, err, maksudku, kau, secara fisik masih terlihat seperti anak SMA kan?" jawab Ichigo, tanpa bermaksud menyinggung apapun dari kalimat tersebut.
Rukia tertawa kecil, "Jadi?"
"Ya, sementara ini, sebagai simbol pertama, kita pakai gelang yang sama. Nanti, jika aku, em, maksudku kita sudah lulus SMA, aku akan memohon pada Byakuya atas dirimu," Ichigo tertawa jahil. Kemudian mengeluarkan benda yang sama dari sakunya. Tapi gelang yang ini agak berbeda, beraksen rantai, tapi dengan hiasan yang sama dengan Rukia pada bagian tengahnya. Yah, setidaknya untuk laki-laki kan berbeda dengan yang dipakai perempuan?
Rukia melingkarkan gelang itu di pergelangan tangan kirinya. "Waw, manis sekali, Ichigo! Terima kasih!!"
"Ya, sama-sama," Ichigo pun juga memakai gelang itu. Sejenak terdiam, lalu mereka tertawa bersama.
"Nah, mulai sekarang, bulan dan matahari tak bisa terpisah, bukan? Sudah ada simbol yang menyatukan mereka berdua?" tanya Ichigo.
Rukia tersenyum. Simpul, namun susah diartikan apa maksudnya.
"Yah, secara simbolis sih iya. Lantas bagaimana kenyataannya?"
"Selama ada kepercayaan, kesetiaan dan kejujuran, kita bisa memeliharanya, Rukia."
"Yakin? Sampai kapanpun?"
"Tentu saja."
"Bagaimana kalau kata 'kapanpun' itu bermakna untuk waktu yang singkat?"
"Hei, kau berkata seolah besok semuanya telah berakhir, Rukia. Ayolah, masih ada besok dan besok hingga seterusnya untuk sebuah cinta yang bertekad sejati."
Rukia tersenyum, lagi. "Tenang saja ah, kau percaya sekali," lalu ia tertawa.
"Habis nada bicaramu terlalu serius, Rukia!" Ichigo menggamit tangan Rukia untuk ia lingkarkan di bahunya.
Rukia membaringkan kepalanya disitu, di bahu Ichigo yang sangat cukup untuknya bersandar, memberikannya kenyamanan yang membuatnya betah.
Harmoni alam benar-benar mendukung suasana ini. Tempat yang membuat hati menjadi tenang, ayunan daun-daun itu selaras dengan gerakan udara yang berpindah bebas.
xxx
Orihime bersama Ishida sepertinya asyik dengan urusan mereka sendiri. Chad tak merubah banyak posisinya dari awal.
Ichigo yang sedang meminum sekaleng soda mendadak menghentikan aktifitasnya. Alisnya berkedut, bibir bawahnya tergigit.
"Ada apa, Ichigo?" Rukia datang menghampiri, dengan sebuah barang yang sama di tangan kanannya.
"Kau merasakan sesuatu yang aneh, Rukia?"
Dahi Rukia menampakkan reaksi yang sama. "Hn... Tidak ada, kenapa? Ada reaitsu yang besar datang mendekat?" tanyanya beruntun.
Ichigo mengangkat bahu, "Sudahlah. Aku juga kurang tahu pasti. Biarkan sajalah, paling cuma perasaanku saja," ujarnya cuek.
"Jangan-jangan...." Rukia membuang kaleng itu ke tempat sampah, karena isinya telah ia habiskan beberapa menit yang lalu.
"Kenapa?"
"Eh, Kurosaki-kun, Kuchiki-san, kami berdua boleh pulang sekarang?" Orihime datang, sembari menyampirkan tas selempangnya ke bahu. "Ishida-kun mau mengajariku cara menjahit...." ujarnya, sedikit malu-malu.
"Ya, silahkan. Terima kasih sudah datang, teman-teman!" Rukia mengiyakan.
"Aku juga mau pulang. Ada yang harus kulakukan," Chad ikut pamit, menghampiri mereka berempat.
"Baiklah, terima kasih ya!" giliran Ichigo yang menjawab.
Ketiga orang itu meninggalkan halaman yang mereka pergunakan itu, tanah milik keluarga Kurosaki yang ada di tepi kota, tempat yang strategis untuk acara semacam ini.
"Tinggal kita berdua...." Ichigo berujar, lagi-lagi mencomot sebuah apel dari keranjang merah muda itu. Entah sudah yang keberapa.
Rukia menjawab dengan sebuah senyum.
"Eh, kau tadi belum menjawab pertanyaanku,"
Senyum Rukia berubah masam, menyisakan tanda tanya untuk Ichigo.
"Bisa katakan padaku?"
"Yah, begini... Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar dari Renji, kalau ada sejenis hollow baru yang terdeteksi di Hueco Mundo...."
"Hollow seperti apalagi? Apa semacam manusia seperti para Espada dulu?"
Rukia menggeleng, "Bukan. Bahkan bentuknya pun belum diketahui secara pasti."
"Hah? Maksudnya apa itu? Belum diketahui? Lantas kenapa para shinigami tahu kalau ada hollow jenis baru?"
"Dia bisa menghilangkan wujudnya, dengan kata lain tak terlihat. Ia juga bisa menyembunyikan reiatsu besarnya dengan rapi, sehingga susah sekali kita bisa mendeteksinya. Hanya shinigami dengan reaitsu tinggi yang bisa merasakan keberadaannya, itu pun dengan susah payah. Ia adalah jenis hollow baru yang seperti regenerasi dari jenis Gillian, yang mempunyai kekuatan baru yang mungkin mereka dapatkan setelah memakan sisa reaitsu dari banyak hollow bahkan Espada terdahulu, hingga ia bisa memproduksi reaitsunya dengan jumlah besar hingga bisa ia gunakan untuk menyelimuti dirinya sehingga tak terlihat," jelas Rukia panjang lebar. Kutipan dari Renji, tentu saja.
"Oh, ada juga teori seperti itu ya...."
Rukia mengulum bibirnya, berpikir keras. "Hebat juga hollow itu ya... Aku jadi ingin tahu kekuatannya...."
"Hei, kenapa kau malah berbicara seperti itu? Pertama kalinya kau melawan Gillian waktu itu saja kau hampir mati, apalagi dengan Gillian baru yang meregenerasi!" tegur Ichigo.
Rukia menatap dingin, Ichigo hanya menyeringai tidak jelas.
BRAKK!
Mereka berdua menoleh cepat. Tampak ranting pohon besar itu patah dengan sendirinya, menyisakan retakan di sekujur permukaan pohon itu.
Rukia nampak gugup, sementara Ichigo berdiri, dan berjalan mundur. Dengan spontanitas ia lindungi Rukia.
BRAKKK!!!
Bunyi yang sama terdengar untuk kedua kalinya, mematahkan lagi ranting bahkan menumbangkan salah satu pohon. Kedua orang itu berjalan mundur, semakin menjauhi sumber suara.
Tapi hal yang sama terjadi lagi, ketiga kalinya. Mereka makin menjauh, tapi kehancuran dari pohon-pohon itu semakin mendekati mereka.
"Rukia, badge shinigami-ku!" Ichigo memerintah. Ia berfirasat kalau ini adalah sebuah ancaman.
Denga lekas Rukia membuka-buka tas selempang cokelat milik Ichigo yang tergeletak di atas kursi. Dengan gugup ia buka tas itu, mengacak-acak bagian dalamnya, untung saja isinya tak seberapa, jika tidak, mungkin halaman yang sedari tadi bersih telah dihamburi oleh isi tasnya. Saking kacaunya Rukia membukanya.
Ichigo berjalan mundur. Sedikit demi sedikit ia telah bisa mendeteksi reiatsu makhluk yang menyerangnya secara mendadak itu.
"Ini!" Rukia melemparkan barang itu, dan dengan sigap Ichigo menangkapnya, menempelkan benda itu tepat ke dadanya, hingga muncullah dirinya dengan pakaian shinigami.
"Heh, keluarlah, hollow busuk!!" Ichigo menebaskan dengan asal Zangetsu-nya. Bukankah ia sendiri tidak tahu dimana musuhnya?
SRET!
Shihakusho Ichigo tertebas oleh sesuatu yang tak terlihat. Menyisakan goresan luka yang panjang dari pergelangan tangannya hingga ke bahu.
"Ichigo!" Rukia memekik, wajahnya terbilang sangat panik.
Ichigo masih sempat memperhatikan wajah Rukia saat itu.
"Kau kenapa Rukia? Kenapa tidak kau pakai saja Gikongan Chappy-mu itu?!"
Rukia menggeleng takut, "Aku tidak membawanya, Ichigo...."
"Apa? Ah, kalau begitu, cepat lari dari sini!! Nanti dia juga akan menyerangmu!!"
"Tidak akan! Aku tidak mau meninggalkanmu disini!"
"Sudahlah!" jawab Ichigo, "Tenang saja, tak apa! Aku akan menyelesaikannya bahkan sebelum kau sampai ke rumah!"
Rukia menggeleng cepat, "Tidak! Biar saja aku disini! Mungkin aku masih bisa membantumu."
"Tch, hollow sialan!!" pakaian Ichigo kembali disobek kasar oleh hollow tak terlihat itu.
CRASH!
Ichigo dengan asal menebaskan lagi zanpakutou-nya itu, tak sabaran. Dan terciprat cairan merah di udara, juga meninggalkan tetesan yang meleleh di zanpakutou besar itu.
"Haha, kena kau, hollow tak berguna!!" Ichigo tertawa.
Sesaat setelah cipratan itu, bentuk hollow itu semakin terlihat. Bentuknya sama seperti Gillian biasa, tak ada yang berbeda secara signifikan dalam bentuk fisiknya. Mungkin regenerasinya bukan pada fisik, hanya peningkatan di kemampuan saja.
Setidaknya itu analisis Ichigo dalam hatinya.
"Heh, lihat Rukia, aku sudah bisa menebasnya!" Ichigo menyeringai jahil, menoleh ke arah keberadaan Rukia sebelumnya.
"Rukia?" tanya Ichigo, memanggil nama Rukia setelah ia sadar Rukia tidak ada lagi di tempat semula.
GRAWH!
Hollow itu nampaknya mengamuk, setelah jantungnya terkena sabetan Zangetsu. Jantung hollow kali ini merupakan tempat asal dari reaitsu besarnya, hingga saat Ichigo menebaskan pedangnya ke sana, maka produksi reiatsunya akan menurun drastis.
"Rukia?!" Ichigo meneriakkan nama itu lagi. Ia tidak yakin kalau Rukia telah pergi seperti yang ia sarankan sebelumnya. Setahunya, Rukia bukanlah wanita yang mau menarik kata-katanya sendiri untuk egonya sendiri, bukan? Setidaknya itu yang ia ketahui setelah mengenal Rukia selama ini.
JLEB!
Cakar hollow itu menancap pada bahu Ichigo. Ichigo mengerang, namun berusaha keras melepaskan diri dengan mengeluarkan Getsuga Tenshou-nya ke arah jantung hollow itu sekali lagi.
"Argh..." keluhnya. Hollow itu telah lenyap dari pandangannya karena telah berubah menjadi serpihan debu berkilat yang melayang bebas. "Cih, pakai Getsuga Tenshou saja dia sudah kalah... Hebat apanya?" Ichigo merengut kesal.
Ia memutari keadaaan sekeliling dengan matanya. Tak lain untuk mencari tuan putrinya, Rukia.
"Rukia?" panggil Ichigo. Ia kurang bisa mendeteksi reiatsu Rukia karena Rukia sedang tak berwujud shinigami.
Ichigo melongok ke balik pohon yang menjadi tepi dari sebidang tanah itu. Tak ada juga.
Tapi ia menemukan sebuah....
Gelang.
"Ini...." Ichigo membelalakkan kedua matanya, memungut benda itu. Itu adalah gelang yang barusan ia berikan pada Rukia!
Ia jadi merasa tidak enak.
"Hrrh... To-tolong a-aku...." sebuah rintihan terdengar dari dalam rimbunan pohon itu. Ichigo menelan ludah. Firasat buruknya kian menjadi.
"Ja-jangan itu...."
Tak mengambil waktu panjang untuk berpikir, ia segera lari ke sumber suara itu.
xxx
"RUKIA!!!" teriaknya, setelah mendapati keadaan Rukia di antara patahan-patahan ranting pohon di sekitarnya, daun hijau yang memerah, serta rimbunan yang bergoyang garang.
Ichigo masih bisa merasakan reaitsu yang besar mengelilingi mereka berdua.
"I-Ichigo...." suara Rukia terdengar lirih.
Ichigo menggelengkan kepala perlahan, keadaan Rukia begitu membuat matanya perih.
Sosok mungil itu seakan tak punya daya lagi untuk bangun, sekujur tubuhnya penuh luka yang lebar dan menganga. Bagian perutnya mengeluarkan darah yang banyak. Kepalanya juga mengalami hal yang sama, rambut hitamnya telah ternoda oleh darahnya sendiri. Mata violetnya yang redup itu menatap lemah akan kedatangan Ichigo.
"Bertahanlah, Rukia!" Ichigo membopong gadis itu. Tak lagi mempedulikan reaitsu yang masih betah berada disekitarnya.
"Se-sepertinya...." ucap Rukia memaksakan diri.
"Jangan bicara dulu! Aku akan membawamu ke tempat aman!" Ichigo terus berlari.
CRASH!
Ichigo menghentikan langkahnya, setelah merasakan punggungnya yang tersobek keras.
BRUAG!!
Ichigo merasakan hentakan keras pada tubuhnya hingga ia terlempar. Ia pegang erat tubuh Rukia di pelukannya, agar tubuh lemah gadis itu tak menjadi lebih parah keadaannya.
"Satu, dua...." Ichigo memejamkan mata, mengonsentrasikan kemampuannya untuk mendeteksi reaitsu besar yang tersembunyi itu. Menurut perhitungannya, di tempat ini ada dua ekor hollow yang sedang menjadikannya segabai bulan-bulanan.
"Ah, tiga, empat!!" hitungnya.
"Yang ketiga dan keempat itu kami, bodoh!" sebuah suara membuat Ichigo membuka matanya.
Renji, dan taichou-nya, Byakuya tengah berdiri memunggunginya, siap dengan shikai zanpakutou.
"Renji, Byakuya!!"
"Sudahlah, simpan basa-basimu untuk nanti. Sekarang bawa Rukia ke tempat aman, baka!!" Renji menahan omongan panjang lebar yang akan dilontarkan Ichigo.
"B-baik!" Ichigo bangkit, dengan susah payah karena luka di punggungnya membawa Rukia pergi. Sekilas ia berbalik, melihat ekspresi Byakuya. Tampak laki-laki dingin itu menoleh kepada dirinya. Wajahnya tetap dingin, jadi Ichigo tak bisa menafsirkan apa sebenarnya yang ingin Byakuya katakan.
xxx
Ichigo merebahkan tubuh Rukia ke bangku di tempat yang mereka gunakan tadi. Tempat yang barusan berhiaskan kesenangan, sekarang malah berubah luar biasa.
Sekarang ia harus membawa Rukia kemana? Ke tempat Urahara, mereka tidak mempunyai kemampuan medis yang tinggi.
Ah, Orihime!
Tapi apa dirinya harus meninggalkan Rukia seorang diri sendiri di sini untuk memanggil gadis itu? Bisa-bisa tulangnya diremukkan Byakuya.
Masalah di dalam kepala Ichigo semakin rumit, ia tak tahu apa lagi yang mesti ia lakukan. Belum lagi apa yang akan Byakuya katakan jika telah selesai menghabisi hollow itu.
"Rukia...." katanya pelan, mengusap pipi Rukia.
Tak ada respon. Ichigo semakin takut.
Ia raba urat nadi di leher jenjang itu. Syukurlah, ia masih bisa merasakan sedikit denyut yang lemah dari sana. Mungkin ia bisa sedikit bernafas lega.
"Tch... Bagaimana ini?!"
Satu masalah lagi, Ichigo lupa membawa ponsel. Habislah ia... Ditambah lagi ia tidak bisa satupun kidou penyembuhan.
"Hoi, Ichigo!!" panggil Renji, muncul tiba-tiba dari rimbunan pohon itu.
Ichigo menoleh, "Cepat sekali...."
"Jelas saja. Serangan kombinasi bankai-ku dan taichou!" Renji tampak membanggakan diri.
"Ah, sudahlah, tak ada waktu untuk kesombonganmu itu, nanas merah! Sekarang pentingkan Rukia!!" Ichigo terlihat sekali panik, jantungnya tak berdegup dengan aturan yang pas, nafasnya pun tidak beraturan.
Byakuya tak berkata apa-apa, hanya menusukkan Senbonzakura ke udara, dengan mantra sederhana pembuka gerbang Senkai.
"Bawa saja dia ke divisi empat," Renji menjawab sebelum Ichigo sempat bertanya.
Ichigo mengangkat lagi tubuh Rukia, mengikuti Renji dan Byakuya yang telah melangkah masuk terlebih dahulu.
"Kurosaki Ichigo... kuharap kau mau menceritakan semuanya," kata Byakuya dingin.
"Tentu saja, Byakuya," jawabnya, seiring dengan menutupnya gerbang penghubung dua dunia itu.
xxx
Ichigo telah lelah mondar-mandir di lorong itu. Kakinya sudah sakit, ditambah lagi dengan lukanya yang masih belum sembuh benar, meski Hanatarou telah mengobatinya dengan kemampuan penyembuhan yang bagus.
Warna merah dari lampu yang ada di bagian atas ventilasi pintu masih menyala, pertanda bahwa pekerjaan medis sedang dijalankan di dalam sana.
Ichigo duduk menutup wajahnya.
Ini semua salahnya, bukan? Salahnya karena telah lalai menjaga Rukia. Harusnya waktu itu ia bawa saja Rukia lari. Pasti tak akan terjadi hal seperti ini jika ia tak seceroboh tadi.
Nyawa Rukia sedang dipertaruhkan di dalam sana. Apa yang dilakukan oleh paramedis di dalam sana ia juga tak tahu, yang jelas, ia hanya bisa berdoa.
Ia tak siap jika harus kehilangan seorang wanita berharga dalam hidupnya untuk kedua kalinya.
Perlahan Ichigo merasakan matanya menghangat, pandangannya sedikit kabur.
Ah, ia tak boleh menangis! Jika menangis, Rukia pasti akan menertawakannya habis-habisan.
Tunggu, tawa Rukia? Semoga saja...
... Ia masih bisa melihatnya.
'Pip'.
Suara lampu berwarna merah itu dimatikan. Terdengar suara kunci yang terbuka. Ichigo segera bangkit dan dengan tak sabar menghampiri pintu itu.
"Unohana-taichou, bagaimana Rukia?!"
Unohana menyeka keringatnya. "Nyawanya bisa diselamatkan. Tapi ada beberapa luka parah di tubuhnya. Mungkin butuh waktu yang lumayan panjang untuk menyembuhkannya. Dan lagi, satu yang fatal...."
- To Be Continued -
MAAF UNTUK KESEKIAN KALINYA!!
Kalian sudah banyak saia beritahu, saia sedang dalam masa sibuk, jadi untuk mengetik ini pun mencuri waktu, jadi tak ada balesan ripyu lagi. mempublishnya pun saia niatan buat ngambil modem diam-diam di deket tousan yang sedang tidur... *bongkar aib*
Oke, untuk selanjutnya ini harap dibaca:
Apa saia masih harus bertahan di Fanfiction (dot) net ini?
Mengingat, setelah saia menyadari sesuatu, saia terlalu bodoh, sok dan lain-lain hingga lupa diri. Saia bukanlah author yang baik --setidaknya itu menurut saia pribadi.
Makanya sekarang saia sering minta kritik, bukan? Karena saia pengen mengubah cara penulisan saia. Harusnya saia tak lagi mendahulukan pilihan kata yang selalu menjadi patokan saia dalam membuat sebuah karya, melainkan mendahulukan aliran suasana dari karya, dengan menyelami lagi lebih dalam, dan 'memasukkan' diri kita ke dalam cerita tersebut, hingga itu bisa membuat karya kita bisa dinikmati tanpa kebosanan.
Ada yang bosan karena saia yang terlalu datar? Boleh saja. Silahkan.
Ada yang berubah dari 'cara' saia di fic ini?
Kalau ga ada, mungkin saia tak layak jadi author, bukan?
Haha, mungkin ada yang bilang 'ah, terlalu cepat putus asa'.
Bisa juga sih. Tapi, setidaknya, mood-ku sedang sangat susah diperbaiki minggu ini. Tugas sekolah yang memenuhi jadwal mingguan, serta kebutuhan tubuh saia yang gampang capek.
Saat ini sedang butuh semangat, kritik, saran dan dorongan dari orang-orang yang peduli pada saia.....
Pyuuuh....
Setidaknya udah numpahin sedikit isi kepala yang ngeganjel disini.
Maaf deh, kalo A/N gaje ini nyesek aja. Sesakan juga otak saia. (?)
Sankyu ne~
maafkan author yang error ini....
.
.
.
Tombol ijo?
