Hai minna!! XDDD

akhirnya aku balik lagi!! *emangnya ada yang nungguin?!*

Ah, akhirnya ulangan semesterku kelar, dan satu mapel udah tau hasilnya.. alhamdulillah ga terlalu mengecewakan, walau waktu matematika aku kek orang bloon abis...

Haha, malah cerita gaje. Kebetulan, aku bisa ngebut ngerjain ini cuma dalam satu hari, jadi jangan gebukin saia kalau ternyata ga sebagus yang dikira... lol

Ya udahlah, sekarang, status hiatusku udah dicabut hingga waktu yang ga bisa ditentukan, dan aku akan berusaha memperbaiki mood menulisku yang sempat hancur dan down banget.... Yeah! Ganbatte! Hwaiting! Zèle! Eifer! Vuur! Ardore! (empat bahasa terakhir = bahasa Perancis, Jerman, Belanda sama Italia-nya semangat)

Yo, this is the fifth chapter, sauf être joyeux!! (trans: selamat menikmati --nyoba bahasa Perancis, entah bener apa enggak)


****Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny****

.

.

BLEACH © TITE KUBO

.

Black Sun And White Moon: A Sky's Destiny © kazuka-ichirunatsu23

.

.

Chapter 5


Ichigo menahan nafasnya di persimpangan antara tenggorokan dan kerongkongannya. Darahnya berdesir.

"Kaki kanannya patah, tulang punggungnya mengalami sedikit keretakan di ruas tengahnya, luka robek di sepanjang lengan kanannya."

"Hanya itu saja?"

Unohana menggeleng pelan.

"Ada organ dalamnya yang rusak karena terkena cakaran hollow itu yang menembus lapisan kulitnya."

"Apa itu, Unohana-taichou?"

"Organ reproduksinya terluka parah, akan menyebabkan kecacatan yang kemungkinan besar bersifat permanen. Jadi, dia... Dipastikan tidak bisa memiliki keturunan kelak," kapten itu berkata pelan, sebenarnya ia enggan untuk menyatakan hal ini.

Ichigo mundur. Ia melayangkan pandangannya kesana kemari. Ini... Kenyataan atau mimpi buruk?

"Kurosaki-san?" Unohana menanggapi reaksi Ichigo.

"Ah, i-iya, Unohana-taichou. Ba-baik, terima kasih informasinya... Boleh saya masuk?"

Unohana mengiyakan, "Ya, silahkan. Aku keluar dulu, Kurosaki-san."

Ichigo mengangguk, dan membiarkan Unohana berlalu dengan diikuti beberapa shinigami bagian medis di belakangnya.

Pemuda berambut oranye itu menengok sebentar ke dalam, ke ruangan serba putih yang bisu dan beraroma khas itu.

"Rukia...."

Ia lantas mengambil posisi duduk di samping tubuh Rukia yang kaku. Pucat, seolah tak ada lagi nyawa yang mengisi raga mungilnya itu. Tapi indikator berupa bunyi dari alat disampingnya itu masih menunjukkan kalau masih ada harapan.

Ichigo menyentuh kulit putih bersih yang melekat di pipi Rukia itu, bagian yang masih mulus, tak terluka oleh kekejaman hollow itu.

Dingin.

Ichigo tak mau berpikir jika alat-alat yang melekat di tubuh Rukia dilepas, entah apa yang akan terjadi pada Rukia. Mengingat dari keadaannya sekarang, sepertinya salah satu sumber kehidupan Rukia hanyalah support dari beberapa benda tak bernyawa itu.

Nah, semua ini kembali pada satu hal.

Salah siapa? Batin Ichigo mengerang.

Ya kan? Semua ini pasti ada penyebabnya. Dan satu jawaban untuk pertanyaan itu hanyalah sebuah nama.

"Kau, Ichigo!!"

Sekarang Rukia sakit, fatal, dan harapan hidupnya semakin menipis karena dirinya juga.

Dia yang meninggalkan Rukia sendirian, melupakannya karena terlalu serius melawan makhluk tak berguna itu. Apalagi di saat-saat terakhir, yang menyelamatkan Rukia bukan dirinya.

Bagaimana tidak dipersalahkan, jika pada kenyataannya memang seperti itu?

"Salahku... Maafkan aku, Rukia...." Ichigo mendesah, berbisik kecil walau gadis itu tak bisa mendengar dan meresponnya.

Ichigo menggenggam tangan Rukia, mengeratkan jemari lentik itu ke jalinan jemarinya sendiri. Mungkin kehangatan tubuhnya itu bisa berpindah ke Rukia, dan mempercepat waktu kesadaran Rukia.

Begitu ia harap. Lantas ia meletakkan tangannya ke tempat tidur itu, menyangga kepalanya. Dan tertidur disana.

Satu harapannya ketika memejamkan mata;

Semoga ketika ia membuka mata, Rukia melakukan hal yang sama dan tersenyum padanya, walau hanya seberkas senyum tipis yang lemah.

xxx

Jam berdetak tak berhenti; membawa gelap menggantikan posisi siang untuk menciptakan keseimbangan alam. Keadaan di kamar bernomor 667 itu tetap sama, dengan dua orang yang sama-sama tertidur.

Tapi Ichigo terbangun karena kamar itu mulai menggelap.

"Aih..." Ichigo menggumam. Lantas ia berdiri, mengubah posisi saklar lampu untuk menerangi ruangan itu.

Rukia masih menutup mata. Tak ada tanda-tanda kalau ia barusan terbangun, Ichigo rasa. Posisi berbaringnya masih seperti semula, telentang dengan puluhan lilitan perbah yang menutupi tubuhnya. Sebenarnya Ichigo tak tega melihatnya, tubuh mungil dengan luka sebanyak itu. Pasti sakit.

Saking sakitnya, sampai tak bisa membuka mata. Ya kan?

"Hey, Rukia, bangun!" Ichigo berusaha memanggilnya.

Tetap, sama. Rukia tak menjawab, ia masih terlalu lemah.

Ichigo kembali duduk di tempatnya tadi. Rasa lapar yang melanda perutnya tak ia hiraukan. Siapa yang menjaga Rukia sementara ia pergi? Biarlah ia disini, setidaknya ia adalah wujud tanggung jawabnya pada orang yang secara tak langsung telah ia sakiti.

"Kau saja yang masuk duluan!"

"Tidak! Kau saja, Abarai-kun! Kau kan yang dekat dengannya!"

"Hei, kenapa aku? Kita sekalian saja masuk bersama!!"

"Ssh!! Kalian malah bertengkar disini. Sudah, biar aku saja yang masuk duluan!"

Ichigo sedikit tersenyum mendengar suara itu. Pasti Renji dan yang lain, pikirnya.

"Konbanwa...." seorang wanita berkacamata dengan buku tebal dii tangannya membuka pintu. Nanao, fukutaichou divisi 8.

"Yaa... Silahkan...." Ichigo menyunggingkan senyum, tipis.

Disusul yang lain, Renji, Hinamori, serta Kira.

Hinamori meletakkan seikat bunga putih di vas kosong di atas meja. Renji menyerahkan sebungkus makanan --entah apa itu-- ke tangan Ichigo, terlihat dari wajahnya kalau ia sebenarnya malas untuk menyerahkan hal itu. Ah, seperti tidak tahu sikap Renji pada Ichigo yang biasa.

"Bagaimana keadaan Rukia-san?" Hinamori mendekat pada Rukia.

Nanao mengangkat kacamatanya, "Sepertinya dia terluka parah...."

Ichigo mengangguk, walau Nanao tak memperhatikannya. Wanita itu sibuk mengatur kantung infus yang mengalir untuk Rukia. Jalan cairannya nampak sedikit macet.

Keadaan hening sejenak. Tapi Renji datang mendekat pada Ichigo, menepuk bahunya.

"Taichou menunggu kedatanganmu di divisi 6 jika kau merasa bertanggung jawab."

Ichigo mengangkat kepalanya, mendongak pada Renji. "Kapan?"

"Secepat yang kau bisa," ucapnya, lalu dengan cepat meraih lagi bungkus makanan yang barusan diletakkan Ichigo ke atas meja kecil, "Makan sekarang, kuharap kau tak akan lari. Semua ini secara tak langsung karena kau."

"Baiklah...." ucap Ichigo setelah helaan nafas panjangnya. Ia tahu, cepat atau lambat, pasti hal ini akan terjadi.

Ichigo hanya menggigit kue itu separuhnya. Mungkin ia sedang tak berselera. Lantas ia menaruh lagi benda itu ke atas meja sebelumnya.

"Renji, jaga Rukia sementara aku pergi. Aku tak mau tahu apapun alasanmu meninggalkannya sebelum aku kembali."

"Ah, tanpa kau bilang, aku sudah tahu, jeruk!" Renji memukul punggung Ichigo, sedikit mendorongnya untuk segera keluar.

xxx

Ichigo terus melangkahkan kakinya, di jalan yang sepi itu. Sudah malam, dan mungkin beberapa shinigami telah banyak yang tertidur. Ia sendiri tidak tahu sekarang jam berapa. Jam bukan masalah penting sekarang. Jadi biar saja waktu berlalu tanpa memberitahunya, bukan?

Kayu besar bertuliskan lambang yang terbaca sebagai angka enam telah ada di depan mata Ichigo. Baik, sekarang waktunya mempersiapkan diri akan apapun yang akan diberikan Byakuya, Ichigo!

Tanpa sadar keringat dingin meluluhi kening Ichigo. Ah, kenapa ia jadi setakut ini? Apa ia tak siap untuk diminta pertanggungjawaban dalam bentuk apapun itu? Atau ia hanya tidak mau dipersalahkan lebih jauh?

Tidak, ia tak mau pikiran lain mengganggu tekadnya untuk tidak meninggalkan Rukia. Bukankah ini waktu untuk yang namanya balas budi? Tak terhitung oleh Ichigo berapa kali Rukia membantunya. Waktunya untuk berganti posisi.

Waktunya matahari untuk bangkit, membantu menerangi bumi yang bersedih karena bulan telah turun bergantikan siang, bukan?

Ia berpapasan dengan salah satu shinigami divisi itu yang tak ia kenal, namun orang itu menyapa ramah. Ichigo hanya bisa tersenyum.

"Ehm, maaf, bisa tunjukkan dimana ruangan Byakuya?" cegah Ichigo saat orang itu akan berlalu.

"Oh, baik, mari ikut saya."

Ichigo mengikuti langkah shinigami berwajah paruh baya itu. Hingga sampai pada sebuah ruangan tertutup rapat, dengan lukisan indah pohon sakura di pintu gesernya yang bersih.

"Nah, disini. Silahkan."

"Terima kasih," Ichigo membungkukkan badan. Shinigami itu pun mundur, setelah berpamitan.

Ichigo menelan ludah. Oke, sekarang bukan saatnya takut, sekarang waktunya berterus terang.

"Masuklah, kau, Kurosaki Ichigo."

Ichigo menggeser pintu itu perlahan. Terlihat olehnya Byakuya yang duduk di kursi, tak mau menatap padanya. Masih terpaku pada kertas dan tinta yang memang menjadi kewajibannya.

Byakuya memutar matanya, membagikan sedikit tatapan dingin dari mata abu-abunya yang misterius.

"Apa yang Unohana katakan padamu?"

"Kaki kanannya patah, tulang punggungnya mengalami sedikit keretakan di ruas tengahnya, luka robek di sepanjang lengan kanannya. Dan... Rahimnya kemungkinan akan cacat permanen...."

Byakuya tak bereaksi, dan memindahkan lagi pandangannya dari Ichigo kepada kertas-kertas di depannya.

"Kuharap kau mau menebus kesalahanmu."

"Ke-kesalahan?"

"Jangan bilang kau tidak paham. Dia terluka karena tidak kau jaga. Seharusnya kau lebih bisa menjaganya sementara aku mempercayakannya padamu."

Ya, Ichigo paham. Pertanyaan dan jawaban barusan cuma sebagai penegas, selebihnya ia sudah paham bagaimana posisinya sekarang.

"Dengan apa aku bisa menebusnya, Byakuya?"

Byakuya meletakkan lagi kuasnya.

"Jangan kau tinggalkan dia dalam keadaan seperti itu. Dan satu lagi..." Byakuya menggantung kata-katanya.

Ichigo tak bergerak. Menunggu eksekusi langsung dari Byakuya.

"Karena ia dipastikan oleh dokter tak bisa memiliki keturunan, maka aku harapkan kau mau pertanggung jawabkan itu. Aku tak ingin ia disakiti oleh orang lain karena kecacatannya kelak."

Ichigo memutar bola matanya sedikit, melirik pojok ruangan. Memahami sedikit perkataan Byakuya yang terdengar ambigu itu. Ia lalu mengangguk, perlahan, meski ia belum paham sepenuhnya.

"Kau boleh kembali. Temani dia lagi. Aku belum bisa kesana sekarang. Masih banyak pekerjaan menungguku."

"Ba-baik. Terima kasih, Byakuya. Konbanwa...." Ichigo melangkah keluar, menggeser pintu itu kembali ke posisi rapat menutupi keberadaan Byakuya. Mungkin ini pertama kalinya seorang Kurasaki Ichigo mengucapkan terima kasih yang sebenarnya kepada Byakuya. Mungkin ia juga tgak sadar akan apa yang telah dikatakannya barusan.

xxx

"Karena ia dipastikan oleh dokter tak bisa memiliki keturunan, maka aku harapkan kau mau pertanggung jawabkan itu. Aku tak ingin ia disakiti oleh orang lain karena kecacatannya kelak."

Perkataan itu masih terngiang sempurna di telinga Ichigo. Entah memang ia terlampau lelah hingga tak bisa mengerti kata-kata itu, atau memang Byakuya yang sengaja memberinya tebakan di saat seperti ini?

Rambut oranyenya telah berubah acak; tak beraturan. Sudah berapa kali ia menggaruk kepalanya itu bahkan hanya untuk mencari jawaban, seolah dengan itu jawaban bisa keluar dari otaknya yang mulai melamban --ia rasa.

"Tidak ingin disakiti orang lain karena kecacatannya kelak?" Ichigo mengulangnya.

Tetap tak bisa. Ah, sudahlah, itu bisa dipikirkan lain kali. Yang penting adalah saat ini, kesadaran Rukia yang masih belum kembali.

Ichigo meraih gagang pintu di depannya. Masih terdengar ribut-ribut dari dalam. mungkin orangnya bertambah.

Renji menyambutnya tepat setelah pintu itu terbuka.

"Bagaimana?"

Ichigo mengangkat bahu.

"Taichou bilang apa padamu? Dia marah padamu?"

"Aku tidak bisa membedakan cara marahnya Byakuya. Aku bahkan tidak mengerti apa yang ia minta padaku tadi."

"Memangnya apa kata taichou? Kau akan digantung, atau besok seluruh tulangmu akan patah karena diserang jutaan sakura?"

"Bukan," Ichigo menggeleng, "Dia bilang, 'Karena ia dipastikan oleh dokter tak bisa memiliki keturunan, maka aku harapkan kau mau pertanggung jawabkan itu. Aku tak ingin ia disakiti oleh orang lain karena kecacatannya kelak.' Begitu katanya."

"Hah?"

"Iya, begitu. Kau mengerti? Aku tida paham gelagat Byakuya itu."

Renji kemudian tertawa kecil, "Masa yang begitu saja tidak paham? Dia mau kau yang akan menikahi Rukia nanti, baka!"

"Ha?"

"Ya. taichou minta kau pertanggungjawaban darimu agar dia tak disakiti orang lain karena cacat pada tubuhnya nanti. Berarti dia mau kau yang ikut menanggung kesedihan Rukia dengan menghiburnya atau apalah itu atas konsekuensi kelalaianmu."

Ichigo mengangguk cepat. Dengan ini, tandanya Byakuya benar-benar merestui mereka berdua bukan?

"Berbahagialah. Dia tak memberimu hukuman yang kejam," Renji menepuk bahu Ichigo, terdengar sedikit getir. "Hei teman-teman, saatnya kita pulang! Biarkan Rukia istirahat dulu...."

"Baik, baik..." Hinamori beranjak dar tepi jendela.

"Kami pulang dulu, Kurosaki-kun, Rukia-san," senyum Hinamori.

"Cepat sembuh, Kuchiki-san," Nanao melirik, sementara ia mengikuti langkah Hinamori, Renji, Kira dan Rangiku yang baru datang itu.

"Terima kasih, semua...." Ichigo tersenyum.

Blam!

Pintu telah tertutup, langkah kaki sudah terdengar menjauh di telinga Ichigo. Tinggal mereka berdua, sama seperti semula.

"Kau dengar, Rukia? Byakuya mengizinkanku menikahimu kelak!"

Tangan Ichigo lagi-lagi menggenggam tangan Rukia, erat. "Tenang saja, aku akan membantumu keluar dari rasa sakit ini..." ia tersenyum.

Suasana semakin sepi. Shinigami yang biasanya terdengar lalu-lalang sekarang sudah tak terdengar lagi keberadaannya. Ichigo belum mau tidur. Ia bertekad, akan benar-benar tidur jika memang sudah tak bisa bertahan lagi.

Ia memindahkan jangkauan pandangannya agak ke depan, ke lapisan kaca yang membiaskan sedikit cahaya samar dari luar. Cahaya dari bulan yang meredup.

Bulan sebenarnya sedang dalam keadaan purnama, tapi awan-awan nakal tak mau beranjak dari wajah manis bulan itu. Pekat dan kelam. Meski angin berusaha meniupnya, tapi sang awan tak jua mau pergi.

"Aha, Rukia, Bulan disana juga sedang berduka, tertutup awan, hingga cahaya Matahari tak bisa membantunya bersinar ya...."

.

.

.

- To Be Continued -

.

.



Mohon maaf yang sebesar-besarnya, kalau GAJE nan ABAL plus ANCUR kuadrat JELEK....

Habisnya, udah semingguan saia ga nulis, jadi agak sedikit perlu adaptasi lagi. Maaf lagi ya...

Hn, oke, ini tanggapan buat review chapter kemarin (yang saia ingat, chapter itu adalah chapter ter-GILA karena dibikin dengan mood berantakan dan semangat ancur)....

Saia akhirnya paham dalam artian sebenarnya, masing-masing author punya karakteristik tersendiri. Entah di bagian tertentu, dia pasti punya kelebihan disana, dan itulah yang membuatnya istimewa. Nobody perfect, eh?

Oke, saia sadar juga, punya saia jauh, jauh, jauh banget sejauh-jauhnya dari kata sempurna. Masih banyak kekurangan, dan saia sedang berusaha keras untuk menutupi kekurangan itu untuk me'nyaman'kan readers. Memang inilah hasil usaha saia. Penilaiannya saia kembalikan kepada kalian, dengan hasil yang tentunya relatif.

Terima kasih saia ucapkan untuk yang chapter kemarin pada:

- BeenBin-Mayen Kuchiki - mss Dhyta - Freesia Chizu - Kuchikichii Icha - Namie Amalia - Ruki_ya - Sora Chand - Kuchiki Rukia-taichou - hikaru kurochiki - CursedCrystal - Hiru Shi-chaan - Sorayuki Nichan - Aruto - May - Kei - Himeka Walker - Jess Kuchiki - HanABi . Loves . NaGAyAn - kaorinin - ichirukiluna gituloh - Yumemiru Reirin - Violet Murasaki -

Kalianlah yang membangkitkan semangatku lagi, membuatku terbangun dan sadar akan kebodohan yang sempat melanda...

Makasih ya~

Saia sangat mengapresiasi review kalian. Mungkin ini adalah review paling berharga dalam hidup saia. Apalagi ada yang mencegah berhentinya saia dari FFn, membuat saia terharu -halah-, kalau ternyata saia juga penggemar yang mengharapkan saia dan karya saia... *halahahay*

terima kasih banyak ya...

Saia sadar lagi, inilah saia, dengan ciri khas saia sendiri. Biar apa kata orang, karena penilaian terhadap diri kita itu relatif, seperti yang sudah saia bilang. Yang tak suka, saia tak maksa. Yang suka, saia bersyukur karena tak sia-sia saia berjuang untuk membuatnya.

Terima kasih lagi ya? Aku udah bingung mau bilang seperti apa lagi ke kalian.

Terima kasih juga buat yang telah menolong saia dari belakang, kalian tebak saja sendiri, dan bagi yang merasa... :D

Seandainya tempat kita berdekatan dan Indonesia tak seluas ini, mungkin kalian sudah saia ajak ngumpul dan saia beliin makanan... *haha* Salahkan Indonesia yang terlalu luas... *disiram*

.

.

.

Baca + tanggapan = Review?

*apaan lagi ini?!*