JUST A FAIRY TALE
BY NATE RIVER IS STILL ALIVE & M.O.P.
DISCLAIMER: NARUTO IS MASASHI KISHIMOTO'S
RATING: T
WARNING: AU, OOC (MAYBE)
ENJOY!^.~
CHAPTER 1
On The National Library, Normal POV
Di lantai paling atas Perpustakaan Nasional, di lemari kaca khusus berisi Buku Dongeng karya terakhir Sang Pendongeng Legendaris terjadi suatu keanehan. Buku di dalam lemari kaca itu terbuka secara tiba-tiba dan memancarkan cahaya yang menyilaukan dari tengahnya. Sesaat kemudian, dua sosok transparan meluncur terbang dari dalamnya disusul dengan lenyapnya cahaya menyilaukan itu. Keadaan tetap sama seperti sebelumnya, yang berbeda hanya Buku Dongeng di dalam lemari kaca yang dibiarkan terbuka.
"Duk!" Naruto jatuh terduduk di depan anak tangga terakhir. Napasnya tersengal-sengal dan kakinya gemetaran.
"Haduuh! Capek banget naik tangga setinggi empat lantai! Kirain lantai paling atas tuh lantai dua. Huuh! Mana ga ada lift lagi!" Naruto mencak-mencak sendiri.
"Ting!" tiba-tiba terdengar suara lift.
"Eh?" Naruto menolehkan kepalanya dengan tampang horror. "I-itu…itu lift 'kan? Itu lift! Itu lift! Kenapa aku gak liat?! Argh!!" Naruto teriak-teriak frustasi.
Semua mata tertuju pada Naruto yang berteriak frustasi. Lagi-lagi wajah Naruto memerah karena malu.
"Duh, sial banget aku hari ini. Udah berapa kali aku kena malu? Huh, baka! Baka! Baka!" keluh Naruto sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Naruto POV
"Duh, sial banget aku hari ini. Udah berapa kali aku kena malu? Huh, baka! Baka! Baka!" keluhku sambil memukul-mukul kepalaku sendiri. Ternyata sakit juga.
Oke, berhenti bermain-main. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ruangan ini sangat luas. Rak dan bukunya pun tetap berjejer rapi. Hanya saja, buku dan rak disini lebih banyak dari yang di lantai satu tadi. Aku terkagum-kagum. Ternyata dongeng yang diciptakan oleh Sang Pendongeng Legendaris itu sampai sebanyak ini?
Mataku berhenti di satu titik. Lemari kaca di tengah ruangan itu menarik perhatianku. Kuingat kembali kata-kata Sang Customer Service berambut pink yang ramah. Tiba-tiba kakiku bergerak sendiri menuju lemari kaca itu. Kuulurkan tanganku untuk meraih kenop pintu. Belum sampai tanganku disana, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri seakan menyambut kedatanganku. Akhirnya tanganku menggapai Buku Dongeng yang tergeletak di dalamnya. Hm, rasanya ada yang ganjil. Mengapa buku ini ditaruh di lemari dalam keadaan terbuka? Tepat di tengah pula.
"Hm, aku sudah menyentuh buku ini. Dan ternyata tidak ada yang istimewa. Yah, jelas saja. Aku 'kan bukan Sang Penerus. Bodohnya kalau aku berharap," gumamku sedikit kecewa.
Kututup buku yang kusangga di tangan. Kemudian kubaca judul yang terpampang jelas di sampulnya, "Hm, The Prince and The Raven."
Kubuka lagi bagian tengah buku itu dan kubaca isinya sekilas. Karena sepertinya menarik, kuputuskan untuk meminjam duplikatnya.
Setelah mengambil duplikat 'The Prince and The Raven' dan beberapa buku biografi Sang Pendongeng Legendaris, kubawa buku-buku tersebut ke meja peminjaman. Untungnya, saat keluar dari perpustakaan aku tidak bertemu dengan Customer Service Ramah Berambut Pink itu. Aku tidak ingin ditanya-tanya atau diceramahi seperti tadi.
Normal POV
Tanpa Naruto sadari, ada sosok berbentuk manusia transparan yang mengikutinya sepanjang perjalanan pulang.
"Kaulah Sang Penerus itu. Buku Dongeng tidak mengeluarkan suaranya yang memekakkan saat kau mendekat. Kau bahkan bisa menyentuhnya. Akhirnya kau kutemukan setelah bertahun-tahun menunggu. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku," sosok tersebut seakan berbicara pada seorang gadis yang sedang berjalan, tetapi pada kenyataannya gadis itu tidak mendengar apa yang dikatakan sosok transparan tersebut.
Sesampainya di rumah, Naruto langsung membanting tubuhnya di ranjang karena kelelahan. Ketika menutup mata, Naruto teringat Buku Dongeng yang ia pinjam dari perpustakaan. Naruto langsung bangkit dan menyambar tasnya, mengambil bukunya, membuka halaman pertama dan membacanya.
Tiga jam sudah Naruto menatap tulisan-tulisan yang tercetak di buku yang ia pegang. Selama tiga jam itu pula matanya tidak beralih dari buku itu.
"Hm, ternyata benar apa yang dikatakan Customer Service berambut pink itu. Dongeng ini belum selesai. Adegan terakhirnya yaitu pertarungan antara Sang Pangeran dengan Sang Gagak. Aku benar-benar ingin tahu lanjutannya," Naruto bergumam sambil kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak butuh waktu lama baginya untuk masuk ke alam mimpi.
Sosok manusia transparan yang mengikuti Naruto ketika pulang dari perpustakaan tadi siang memasuki kamar Naruto. Mendarat tanpa suara di lantai ubin kamarnya.
"Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun. Sekarang kau punya sebuah tugas. Tapi bagaimana cara untuk menyampaikannya? Dengan wujudku yang seperti ini, aku tidak dapat terlihat olehnya," sosok itu, atau dapat kita sebut Sang Pangeran terlihat sedang berpikir.
Sang Pangeran terpaku pada sosok Naruto yang sedang tertidur. Perlahan ia melangkah mendekati Naruto kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh kulit Naruto sambil berkata, "Tubuh ini…akan kupelajari dan kutirukan." Tetapi hal yang sebenarnya terjadi adalah tangan Sang Pangeran menembus kulit Naruto, oleh karena itu Naruto tidak dapat merasakan sentuhan Sang Pangeran pada kulitnya.
Selanjutnya, Sang Pangeran melangkah mundur kemudian memejamkan matanya dan membayangkan tubuh yang akan ia tirukan. Tak lama kemudian, sosok transparan Sang Pangeran pecah berkeping-keping dan pecahannya berterbangan di udara. Tetapi hal itu tidak lama terjadi, dengan segera pecahan-pecahan tersebut bergerak ke satu titik dan berkumpul menghasilkan satu sosok manusia yang sesungguhnya dan tidak transparan.
Sang Pangeran membuka matanya dan menatap tubuhnya. "Aku berhasil berubah menjadi manusia yang sesungguhnya." Kini penampilan Sang Pangeran berbeda dari sebelumnya. Ia memakai baju rakyat biasa yang sederhana. Pakaian pangerannya sudah hancur saat berubah tadi.
Sang Pangeran kembali menatap Naruto. "Aku akan berbicara padanya saat ia sudah terbangun nanti." Sang Pangeran menempatkan dirinya di samping ranjang Naruto. Ia duduk di lantai sementara kepalanya direbahkan diatas ranjang. Sang Pangeran memejamkan matanya dan menyusul Naruto ke alam mimpi.
-
-
-
Normal POV
Terlihat sesosok makhluk yang memiliki paruh dan sayap berdiri menghadap layar yang memancar di tengah kegelapan.
"Jadi Sang Penerus sudah ditemukan. Ternyata aku terlalu lama bersabar berada dalam Buku Dongeng itu. Seharusnya aku melarikan diri sejak dulu," sosok pemilik paruh dan sayap hitam, atau dapat kita sebut Sang Gagak berkomentar sambil menatap layar yang menampilkan keadaan Sang Pangeran dan Naruto di depannya.
"Hm? Apa-apaan itu? Sosok Pangeran sudah seperti manusia biasa? Huh! Ternyata dia sudah lebih hebat daripada aku! Terpaksa aku harus menyempurnakan ramuan ini, karena di dunia asing ini tidak ada makhluk yang memiliki sosok yang sama sepertiku!" dengan langkah yang dihentakkan, Sang Gagak pergi menuju ruang bawah tanah.
-
-
-
Naruto POV
Sinar matahari yang menyilaukan membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku memicingkan mataku untuk menahan intensitas cahaya dari matahari yang terlalu banyak.
"He? Ternyata aku tidur dengan masih memakai baju pergi, hoaaahm…" kurenggangkan sendi-sendi tubuhku agar tidak kaku. Tetapi tiba-tiba, "Dak!"
"Aduh!"
"Eh?" tangan kananku seperti terbentur sesuatu yang keras. Karena penasaran, kutolehkan kepalaku ke arah sumber suara 'aduh' tadi. Dan yang tertangkap oleh mataku adalah sesosok laki-laki yang sedang mengusap kepalanya yang terbentur terbentur tanganku tadi. Apa? Laki-laki?
"Hah? Si-siapa kau?!" aku terloncat dari tempat tidurku saking kagetnya. Kenapa ada laki-laki disini? Aku 'kan tinggal sendirian di kamar apartemen ini.
"Hn, kepalaku sakit gara-gara kamu. Bukannya minta maaf malah tunjuk-tunjuk. Ga sopan tau!" kata Laki-laki-Lancang-Yang-Masuk-Kamar-Orang-Sembarangan.
"Heh, ngapain aku minta maaf?! Harusnya kamu yang minta maaf! Ngapain kamu masuk kamar orang sembarangan? Jangan-jangan kamu mau ngapa-ngapain aku ya? Ngaku aja!" aku yakin sekali kalau dia itu laki-laki mesum. Aku harus jaga jarak.
"Hn? Haha! Mana mungkin aku melakukan hal semacam itu. Kamu itu ga ada menarik-menariknya sama sekali! Dobe!" dia sebut aku apa? Tidak menarik? Sekarang aku benar-benar marah!
"Apa kau bilang? Keluar kamu dari apertemenku!" sudah sepantasnya aku mengusirnya.
"Oke, aku keluar. Toh, aku tidak ada urusan dengan Dobe-Yang-Tidak-Menarik," sepertinya setan kebencian sudah merasuki pikiranku.
"Ap-apa?! KELUAAAAR!!!" hanya dengan satu kata itu, dia langsung beranjak dari wilayahku dengan kedua tangan menutup masing-masing telinganya. Aku puas.
The Prince POV
"Ap-apa?! KELUAAAAR!!!" ugh, suaranya itu benar-benar toa. Rasanya gendang telingaku akan pecah kalau aku tidak menutup kedua telingaku.
Tak ada untungnya bagiku berada di dekatnya. Hanya akan membuat kepalaku pusing. Kali ini aku menyerah padanya. Aku beranjak dari kamarnya menuju pintu apartemennya. Dia tetap mengawasi dan mengikutiku di belakang. Saat aku sudah menginjakkan kakiku di luar apartemennya, ia membanting pintunya hingga membuatku kaget. Menyebalkan.
Eh? Tunggu. Apa tadi aku bilang aku tidak ada urusan dengannya? Duh, kenapa aku jadi amnesia sesaat?
"Naruto! Buka pintunya! Ada hal penting yang harus kuberitahukan padamu!" setelah ingatanku kembali, dengan segera aku menghadap pintu apartemennya dan meggedornya kuat-kuat.
"Pergi kau Cowok Mesum!!" terdengar teriakan dari dalam kamar. Urat kemarahan muncul di kepalaku mendengar sebutannya padaku.
"Kumohon buka pintunya. Ini tentang Buku Dongeng yang kau pinjam!" aku mual mendengar kata 'kumohon' yang keluar dari bibirku sendiri. Masa' seorang Pangeran harus memohon?
Tidak terdengar sahutan dari dalam. Beberapa detik kemudian, pintu tebuka perlahan dan menampilkan seorang gadis di dalamnya.
"Ada apa dengan Buku Dongeng yang aku pinjam?" Naruto bertanya dengan nada serius. Aku senang dia terpancing.
"Tidak enak bicara disini. Lebih baik kita masuk ke dalam dulu."
"Baiklah."
Kami duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Kulihat dia sangat menanti kata pertama yang akan keluar dari bibirku.
"Baiklah. Ada tiga hal yang akan kusampaikan. Pertama, kau adalah penerus Sang Pendongeng Legendaris," aku berhenti sejenak, menanti jawabannya.
"Ba-bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?" wajahnya terlihat sangat bingung.
"Karena Buku Dongeng tidak mengeluarkan suaranya yang melengking saat disentuh olehmu."
"Bagaimana kau tahu? Saat itu aku hanya sendiri di lantai 4!" dia semakin bingung.
"Itu poin kedua yang akan kuberitahukan padamu. Aku adalah Pangeran dari Dongeng itu. Aku keluar dari Buku sesaat sebelum kau menyentuh Buku itu. Dan aku terus mengikutimu dari perpustakaan sampai sini."
"......" ternyata dia tak bisa berkata-kata.
"Dan yang ketiga. Karena kau adalah Sang Penerus, sekarang kau punya tugas, yaitu melanjutkan Dongeng ini."
"......" masih tidak terdengar sahutan dari orang yang bersangkutan.
"Hei, kamu dengar tidak?" mungkin dia kaget, tapi 'kan tidak usah berlebihan seperti itu. Eh? Dia benar kaget atau...
"HAHAHAHAHAHAHA! Lucu sekali ya..." dia tertawa terbahak-bahak. "Bisa-bisanya kau bermimpi di siang bolong!"
Urat kemarahan sudah berkedut di kepalaku. Apa maksudnya sikapnya itu??
"Hei! Aku serius! Aku bisa membuktikannya! Lihat ini!"
Tawanya berhenti seketika saat melihatku berubah menjadi sosok pangeran dalam Dongeng. Dia bisa melihatnya karena aku mengaturnya agar kenampakanku tidak transparan.
"Ka-kamu..." Naruto tergagap.
"Ya, sudah kubilang kalau aku itu Pangeran! Nah, apa sekarang kau masih tidak percaya?" wajahnya yang terlihat tidak percaya membuatku harus menahan seringaiku. Naruto hanya mengangguk pelan.
"Bagus!" aku mengubah kembali wujudku menjadi manusia biasa. "Nah, sekarang kau harus menjalankan tugasmu yaitu..."
Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku saat kulihat dia tertunduk dengan tubuh yang gemetaran.
"Aa, hei! Kamu kenapa?" kuulurkan tanganku untuk menyentuh pundaknya.
"Be-benarkah?"
"Eh?"
"Benarkah aku Sang Penerus? Benarkah?!" kini kepalanya terangkat dan matanya lurus menatapku dengan perasaan penuh harap.
Wajahnya sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Aku terpaku. Terpaku pada mata biru langitnya. Sungguh baru pertama kali kulihat mata seindah itu. Sekejap aku merasa terbang di langit matanya.
"I-iya! Bukankah kau sudah dengar sendiri perkataanku," aku melepas peganganku di pundaknya seraya membuang muka untuk menyembunyikan rona merah di wajahku.
"Aku senang sekali! Aku benar-benar berharap menjadi Sang Penerus sejak nenekku menceritakan dongeng-dongeng ciptaan Sang Pendongeng Legendaris," kini sikapnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen di hari Halloween. "Nah, sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus melanjutkan Dongeng ini. Tapi sebelumnya, kau harus mengambil Buku Dongengnya. Buku yang kau pinjam hanya duplikatnya saja 'kan?"
"Iya sih. Jadi sekarang kita harus pergi ke perpustakaan?"
"Ya. Lebih cepat lebih baik."
-
-
-
Normal POV
Dua orang remaja memasuki ruang utama Perpustakaan Nasional. Tanpa melihat kanan-kiri, mereka terus berjalan ke depan menuju lantai empat. Kali ini mereka memakai lift karena kali sebelumnya, salah satu diantara mereka kedapatan sedang kelelahan setelah mendaki empat lantai. Tak berapa lama kemudian mereka sampai di hadapan lemari kaca yang berisi Buku Dongeng.
"Ini bukunya," Naruto menatap lemari kaca di hadapannya.
"Ya. Kita dapat meminjamnya dan kau dapat langsung menulis," kata Sang Pangeran sambil menatap objek yang sama dengan yang dilihat Naruto.
"Meminjamnya?! Orang yang mengunjungi perpustakaan ini banyak. Kalau mereka tahu aku bisa menyentuh buku ini, aku bisa masuk berita!!" teriak Naruto ke-ge-er-an.
"Dasar Dobe tidak punya kreatifitas sama sekali," Sang Pangeran menyindir dengan dinginnya.
"Apa kau bil-" niat Naruto untuk memprotes terpotong oleh perkataan Sang Pangeran.
"Lihat, di ruangan ini ada rak yang menyimpan berpuluh-puluh duplikat Buku Dongeng itu. Tidak akan ada yang tahu kalau duplikatnya menghilang satu, bukan?" Sang Pangeran menunjukkan seringai tipis seraya mengambil satu duplikat Buku Dongeng dan menukarnya dengan Buku Dongeng asli di dalam lemari kaca.
-
-
-
Di ruang bawah tanah yang gelap, terlihat sesosok makhluk yang memiliki sayap dan paruh yang hitam pula. Sosok tersebut mengelap peluh di dahinya. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan suatu kegiatan. Di hadapannya terdapat sebuah belanga yang besar berisi cairan.
"Akhirnya aku berhasil menyempurnakan ramuan ini. Semoga hasilnya sesuai dengan yang aku harapkan," sendok sup berisi cairan dari dalam belanga itu ia arahkan ke mulutnya hingga cairan itu berpindah dari sendok sup ke mulutnya. Sesaat kemudian terjadi perubahan pada tubuhnya. Bulu-bulu di sayap serta tubuhnya rontok begitu saja, paruhnya menghilang digantikan dengan bentuk wajah yang familiar. Kini terlihatlah sosok seorang manusia yang tidak tertutup sehelai kain pun.
Belum sempat makhluk tersebut mengagumi karyanya. Dirinya terkejut karena tubuhnya kembali menjadi sosok semula, makhluk bersayap dan berparuh hitam.
"Kenapa aku kembali berubah menjadi gagak?! Apa ada yang salah dengan ramuanku?!" Sang Gagak bertanya kepada dirinya sendiri seraya memandangi sayap hitamnya. Dengan tergesa-gesa, dia menyambar buku ramuan dan membaca isinya. "Untuk membuat efek ramuan lebih bertahan lama, dapat menggunakan jiwa gadis muda. Semakin banyak jiwa yang digunakan, semakin lama pula efek ramuannya," begitulah tulisan yang tertera di buku.
"Sial! Aku tidak membaca bagian ini tadi! Harus segera kutemukan jiwa gadis muda itu!" setelah melempar buku ramuan ke dalam belanga, Sang Gagak pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
-
-
-
Naruto dan Sang Pangeran kembali ke apartemen Naruto. Mereka menutup seluruh pintu dan jendela dengan rapat agar tidak ada yang mengetahui apa yang mereka lakukan disana.
"Hei, Teme! Sekarang harus kuapakan buku ini?" Naruto memanggil Sang Pangeran sambil menaruh Buku Dongeng diatas meja.
"Heh, Dobe! Itu panggilan yang SANGAT TIDAK PANTAS untuk seorang pangeran seperti aku! Aku punya nama!" Sang Pangeran menyangkal dengan cepat sambil memberi penekanan pada kata 'sangat tidak pantas.'
"Huh, bukannya kau duluan yang memanggilku Dobe? Aku juga punya nama tau! Memangnya siapa namamu? Pasti namamu kampungan seperti Agus atau Deden!" Naruto tak mau kalah.
"Sasuke. Uchiha Sasuke! Kau pikir nama ini kampungan?! Hn?!" Sang Pangeran yang menyebut dirinya Sasuke membalas dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Tentu saja kampungan. Yang tidak kampungan itu misalnya George atau Carl," Naruto membalas sambil pura-pura berpikir.
"Ap-?! Sudahlah!" Sasuke yang tidak bisa membalas hanya membuang muka. Naruto menyeringai puas.
"Ah? Hei! Kau mau kemana?" Naruto yang melihat Sasuke berjalan menuju pintu apartemennya segera memanggilnya.
"Aku mau cari udara segar!" ada nada marah dalam suaranya.
"Tapi...bagaimana dengan buku ini?"
"Pakailah otakmu sedikit!" Sasuke keluar dengan membanting pintu sementara Naruto terdiam cengok sendiri.
Naruto POV
"Pakailah otakmu sedikit!"
"Brak!"
Ukh, dasar Teme perusak pintu apartemen orang! Dia itu sangat tidak bertanggung jawab! Masa' aku harus mengurus buku ini sendiri? Apa katanya tadi? Aku harus pakai otak? Memangnya ini soal matematika?
Masih dengan perasaan kesal aku menatap Buku Dongeng yang diambil diam-diam dari Perpustakaan Nasional. Aku bingung, harus kuapakan buku ini? Aku coba membuka bukunya dan membaca sedikit tulisan di dalamnya. Ternyata lebih bagus dari duplikatnya.
Saat sedang asik berpikir, buku ini membalik halamannya sendiri. Langsung terbuka di halaman paling belakang. "Eh?" belum sempat kagetku muncul, tiba-tiba muncul beberapa lembar kosong dari pangkal buku. Aku terkejut dan membanting bukunya ke lantai. Tapi muncul lagi yang lebih mengejutkan. Keluar sinar dari tengah buku. Menampilkan hologram kepala seorang pria tua.
"Kau pasti Naruto, Penerusku. Aku adalah Uchiha Madara, Sang Pendongeng Legendaris. Maafkan aku akan merepotkanmu tapi ini adalah takdirmu. Kini tugasku berpindah padamu. Selesaikanlah Dongeng ini. Tapi kau tak butuh pena dan tinta. Kau hanya butuh menyerahkan jiwamu."
Hologram pria tua itu sekarang pecah berkeping-keping dan terhisap masuk ke dalam Buku Dongeng. Aku kembali terkejut. Tetapi aku lebih terkejut ketika melihat tubuhku mengalami hal yang sama dengan yang dialami pria tua itu. Diriku hanya bisa pasrah saat di hisap oleh Buku Dongeng. Setelah itu semuanya hanya gelap.
TBC
Gomen, apdetnya lama...-sujud2-
Ada banyak alasan sebenarnya. Salah satunya karna ni bulan puasa...-dipukul beduk-
Dan, maaf saia blum sempat membalas review reader sekalian...
Yah...apakah reader sekalian sudi untuk mereview fic ini (lagi)??
