JUST A FAIRY TALE
A NARUTO FICTION
BY NATE RIVER IS STILL ALIVE & M.O.P.
DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
RATE: T
PAIRING: SASU X FEMNARU
WARNING: AU, OOC(SANGAT)
-
-
-
CHAPTER 2
Normal POV
Sang Pangeran yang baru saja mengakhiri kegiatan adu mulutnya dengan Naruto berjalan-jalan di luar untuk menenangkan diri. Sang Pangeran yang tidak lain adalah Sasuke berjalan tanpa melihat ke depan melainkan ke atas. Melihat awan-awan yang berarak. Suara gaduh membuyarkan konsentrasinya mengagumi keindahan awan. Sasuke melangkahkan kakinya menuju kerumunan orang tempat berasalnya suara gaduh tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Sasuke pada orang yang berdiri di lingkaran paling luar.
"Ada mayat seorang gadis. Sepertinya dia baru saja dibunuh. Keadaannya sangat mengenaskan. Matanya terbelalak dan kulitnya memutih seperti patung lilin," orang tersebut menjelaskan sambil bergidik.
Penasaran dengan yang dikatakan orang tersebut, Sasuke menerobos kerumunan hingga terlihat objek yang dimaksud. Seorang gadis berambut pink terbujur kaku tak bernyawa. Matanya memang terbelalak, tetapi tidak ada ketakutan atau ekspresi lain di matanya. Hanya kosong. Sepertinya yang hilang bukan hanya nyawanya, tetapi juga jiwanya.
Tiba-tiba Sasuke merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia merasakan firasat buruk. Entah mengapa dia berpikir kalau Naruto akan jadi korban selanjutnya. Dengan langkah tergesa, Sasuke pergi meninggalkan kerumunan menuju apartemen Naruto.
-
-
-
"Tadaima," Sasuke memasuki apartemen Naruto dengan perlahan sambil mengucapkan salam. Beberapa detik menunggu, ternyata tidak ada jawaban.
"Naruto?" Sasuke memanggil empunya kamar. Tetapi tetap tak ada balasan.
"Kau ada di rumah?" sunyi, tak ada jawaban. Firasat buruk kembali mendatanginya. Sasuke berkeliling mencari Naruto dengan hati was-was.
Ekor matanya menangkap sebuah buku yang terbuka di atas meja. Sasuke menghentikan langkahnya. Perlahan mendekati buku tersebut.
"Kenapa Buku Dongeng ini terbuka?" Sasuke menatap Buku Dongeng keheranan. Tetapi kemudian air wajahnya berubah serius.
"Tunggu. Buku Dongeng yang terbuka dan Naruto yang tidak ada di sini. Jangan-jangan?" sepertinya Sasuke sudah tahu hal yang terjadi. Maka, tanpa gerakan yang sia-sia, Sasuke mengubah dirinya menjadi pangeran dan masuk ke dalam Buku Dongeng dengan kekuatannya.
-
-
-
Di sebuah gang yang sempit dan gelap, terlihat sesosok manusia yang bersandar kelelahan di dinding gang.
"Arrgh!" tiba-tiba sosok tersebut mengerang kesakitan. Kemudian muncul bulu-bulu hitam di seluruh tubuhnya. Sosok manusia tersebut berubah menjadi gagak.
"Hosh..hosh...satu jiwa gadis muda hanya bisa bertahan satu jam. Bahkan yang auranya kuat pun hanya dua jam paling lama. Kalau begini terus aku tidak bisa berubah menjadi manusia sepenuhnya," sosok gagak itu bergumam menyiratkan keputusasaan.
"Jiwa Sang Penerus"
"Apa?" Sang Gagak terkejut mendengar bisikan yang datang ke telinganya.
"Gunakanlah jiwa Sang Penerus. Kau akan menjadi manusia selamanya," suara tersebut berbicara di telinga Sang Gagak.
"Selamanya? Itulah yang kuinginkan! Sang Penerus itu harus segera kudapatkan!" kalimat terakhir yang diucapkan Sang Gagak mengantar kepergiannya kembali menuju sarangnya.
-
-
-
"Bruk!" Sasuke alias Sang Pangeran jatuh dengan posisi yang tidak elit. Jatuhnya itu disebabkan perjalanan ruang dan waktunya dari dunia nyata menuju Buku Dongeng.
"Aduh..." Sasuke memegangi pantatnya yang sakit, "Hm, aku sudah ada di Buku Dongeng. Naruto dimana ya? Aku harus segera menemukannya."
Ketika Sasuke bangun dari duduknya, dihadapannya terbentang istana yang megah. Sang Pangeran melongo karena dia tidak pernah melihat istana sebesar itu, bahkan punya istana pun tidak. Dia memang sudah ditakdirkan menjadi Tuna Wisma oleh Sang Pendongeng Legendaris. Diri Sasuke pun bertanya-tanya mengapa dia yang notabene merupakan pangeran tetapi tidak punya istana. Silakan tanya saja pada pembuat dongeng ini.
"Istana yang luar biasa..." topeng stoic-nya sampai lepas karena mengagumi istana itu. "Eh? Itu Naruto kan?" topeng stoic-nya yang lepas barusan terpasang lagi karena melihat Naruto dari jendela istana di lantai paling atas.
Mengikuti instingnya, Sasuke bergegas memasuki istana langsung menuju lantai paling atas. Dengan mudanya Sang Pangeran memasuki istana tersebut karena gerbangnya tidak dikunci. Mengapa? Katakan saja kesalahan penjaga istana, jangan diambil pusing.
"Naruto!" Sasuke yang sudah berada di lantai paling atas langsung mendobrak pintu ruangan tempat Naruto berada yang tidak lain adalah kamarnya. Waktu berhenti sementara bagi Sasuke, pemandangan yang dia lihat di balik pintu itu adalah Naruto yang memakai gaun bak seorang putri dengan rok yang mengembang, Naruto terlihat begitu sempurna di mata Sasuke. Di sampingnya ada seorang pelayan yang memegangi tangan Naruto, mereka terlihat begitu mesra di mata Sasuke dan dia tidak suka itu. Waktu kembali berjalan.
"Bruk, bruk, bruk," buku-buku yang berada di atas kepala Naruto terjatuh karena kejutan dari Sasuke. "Sasuke?! Ga usah ngagetin napa?" Naruto kesal karena dia pun kaget dengan kedatangan Sasuke.
"Ah, ingat pelajaran berbicara yang tadi, Tuan Putri," seorang pelayan istana yang berada di dekat Naruto berbicara.
"Eh? I-iya. Maafkan saya," Naruto yang baru saja diperingati langsung mengubah gaya bicaranya. Sasuke berlari mendekati Naruto dan langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Kamu ngapain disini?!" tanya Sasuke kepada Naruto tanpa melepas tangan Naruto di genggamannya.
"Aduh! Sakit Teme! Lepas!" Naruto mengaduh sambil membanting tangannya agar genggaman Sasuke terlepas.
"Huh, aku tanya, ngapain kamu disini?!" Sasuke kembali bertanya dengan nada menuntut jawaban.
"Aku sedang latihan berjalan ala putri," Naruto menjawab sambil mengusap pergelangan tangannya yang sakit.
"Latihan? Memangnya kau belum bisa berjalan, Dobe?" Sasuke menunjukkan seringai mengejek yang menyebalkan.
"Apa kau bilang, Teme?!" Naruto yang kesal telah diejek menendang tulang kering Sasuke yang langsung disambut dengan erangan dari si empunya tulang. "Dengarkan aku dulu! Tadi waktu kamu keluar apartemenku, aku membuka Buku Dongeng lalu muncul hologram kepala Sang Pendongeng Legendaris. Beliau menyampaikan beberapa pesan. Akhirnya aku dihisap oleh buku itu dan sampai ke sini. Waktu aku membuka mata pertama kali di dunia dongeng, aku sudah berpakaian seperti ini. Lalu beliau berkata kalau di sini aku diberi peran sebagai Tuan Putri dan beliau juga mengirimkan orang ini untuk menjaga dan melatihku menjadi putri. Kemudian beliau pergi lagi untuk mengumpulkan pemain yang lain," Naruto menjelaskan panjang lebar tentang perjalanannya sampai terengah-engah.
"Tunggu sebentar. Tuan Putri? Bukankah kamu ini Sang Penerus? Tugasmu hanya melanjutkan cerita ini. Kenapa harus masuk ke dalam cerita bahkan sampai mendapat peran?" Sasuke bertanya setelah berhasil mencerna sederet kalimat panjang yang diucapkan Naruto.
"Kata Beliau aku memang Sang Penerus tetapi aku tak butuh pena dan tinta untuk melanjutkan cerita ini, yang dibutuhkan adalah jiwaku. Aku pun tidak mengerti maksudnya," kata Naruto sambil mengangkat bahu.
"Ehem, Tuan Putri. Mari lanjukan kembali latihannya," pelayan istana berambut hitam dan berkulit putih seperti porselen berdeham lalu membungkuk mengambil buku-buku yang berjatuhan. Sambil membawa buku di tangannya, Sang Pelayan menghampiri Naruto lalu menarik tangannya, mengajaknya kembali berlatih.
Dengan segera, Sasuke meraih tangan Naruto yang bebas dan menarik Naruto ke arahnya. "Aku masih ada urusan dengannya."
"Maaf, Anda ini siapa? Apakah hanya orang yang dengan lancang memasuki ruangan Tuan Putri dan mengganggu latihan Tuan Putri?" Sang Pelayan bertanya sambil menatap Sasuke, menginterogasi dari ujung sepatu sampai ujung rambut.
"Aku adalah Pangeran Uchiha Sasuke. Dan kau? Hanya pelayan?" Sang Pangeran memperkenalkan diri dengan tatapan sinis pada Sang Pelayan.
"Tolong ralat kata-kata anda barusan. Saya adalah pelayan pribadi Tuan Putri yang bertugas melatih Tuan Putri, Sai. Itulah yang benar," Sang Pelayan yang mengaku bernama Sai membungkuk pada Sasuke ketika menyebutkan namanya.
"Huh!" Sasuke mendengus.
"Anda sendiri hanya pangeran yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Tuan Putri bukan? Kalau begitu Anda dipersilahkan meninggalkan istana ini," Sai mempersilahkan Sasuke untuk keluar dari istana atau lebih tepatnya mengusir dengan sopan.
"Aku tidak akan pergi tanpa Naruto," kata Sasuke tajam.
"Tuan Putri tidak akan pergi kemana-mana," Sai menepukkan tangannya dua kali lalu muncullah dua penjaga di depan pintu ruangan. "Habisi pangeran lancang ini!" perintahnya.
"Tunggu, Sai! Apa yang akan mereka lakukan pada Sasuke?" Naruto bertanya dengan panik pada Sai.
"Ya, aku adalah Sai, Sang Gagak. Huahahahahaha!!" Sai yang merupakan pelayan pribadi Naruto berubah seketika menjadi sosok burung gagak yang hitam dan menakutkan. Naruto membelalakkan matanya terkejut, wajahnya memancarkan ketakutan.
"SELAMAT TINGGAL SASUKE! AKHIRNYA SANG PENERUS MENJADI MILIKKU!! HAHAHAHAHA!!" Sang Gagak mendekap tubuh Naruto dan terbang meninggalkan istana bersama Naruto sementara Sasuke ditinggal bersama dua penjaga yang ternyata berwujud gagak pula.
"NARUTOOO!!"
"SASUKEEE!!"
Tawa mencekam dan teriakan memilukan mengakhiri perpisahan mereka.
Kini Sasuke harus berjuang sendirian menghadapi dua makhluk yang identik dengan musuhnya itu.
-
-
-
Di suatu tempat yang gelap, Sang Gagak menurunkan mangsanya.
"Nah, Naruto. Selamat datang di istanaku," Sang Gagak berkata dengan senyum tanpa ekspresi yang biasa dia pasang di wajahnya saat jadi Sai.
"Istana apanya?! Hanya sarang burung!" Naruto membalas emosi.
"Haha, memang istananya burung ya sarang burung," Sang Gagak tertawa hambar.
"Kau bukan pelayan pribadiku! Mana Sai yang asli?!" dengan badan yang gemetar Naruto bertanya lebih tepatnya membentak pada Sang Gagak.
"Hm, sejak awal tidak ada orang bernama Sai yang menjadi pelayan pribadimu. Yang ada hanya burung Gagak yang bernama Sai," Sang Gagak yang awalnya bersosok burung berubah menjadi manusia bernama Sai. Dia berubah menggunakan jiwa gadis muda yang terakhir dia renggut sebelum masuk ke Buku Dongeng. Sai mengecup punggung tangan Naruto untuk merasakan sedikit kenikmatan jiwanya yang tak lama lagi akan direnggutnya.
Wajah Naruto memerah tetapi dia tak mau terhanyut dan langsung menarik kembali tangan yang baru saja dikecup oleh Sai. "Jadi kau menipuku?" tanya Naruto dengan wajah yang masih memerah.
"Kau sangat manis, Naruto," alih-alih menjawab pertanyaan Naruto, Sai menjilat bibirnya merasakan kenikmatan kulit Naruto yang tertinggal di bibirnya, "Aku ingin lebih merasakanmu."
Sai maju beberapa langkah mendekati Naruto. Naruto pun perlahan mundur sambil menahan ketakutan. Sai yang sudah tidak sabar langsung lompat ke hadapan Naruto, tangan kirinya menahan pinggang Naruto dan tangan kanannya meraih dagunya. Dalam sekejap mata, bibir mereka sudah bertemu. Sai menikmati ciuman yang diambilnya dengan paksa. Naruto membelalakkan matanya, bukan karena terkejut dengan perlakuan Sai tapi Naruto merasa ada yang menarik jiwanya saat bibir mereka bersentuhan. Ya, itu bukanlah ciuman biasa melainkan ritual yang dilakukan Sang Gagak pada setiap gadis muda untuk mengambil jiwanya.
Naruto memberontak, tapi itu tidak cukup untuk melepaskan ciuman Sai yang sangat kuat. Naruto merasakan tubuhnya semakin lama semakin lemah. Akhirnya Naruto hanya bisa pasrah berharap Sasuke ada di sini menolongnya.
"NARUTOOO!!" terdengar suara Sasuke berteriak memanggil nama Naruto.
Naruto yang tubuhnya sudah melemah serasa dirasuki kekuatan saat mendengar suara Sasuke memanggil namanya. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Sai dan melepas ciumannya. Berhasil. Naruto bernapas terengah-engah karena tidak mendapat suplai oksigen selama beberapa menit. Sementara Sai hanya mengelap bibirnya dengan punggung tangannya dan menatap orang yang mengganggu ritualnya dengan sinis.
"Hm, selamat datang Pangeran. Selamat datang di istana mungilku," Sang Gagak menyambut kedatangan Sang Pangeran dengan senyum palsunya yang biasa.
"Hn, kau terlalu merendah. Tempat ini lebih pantas disebut gua pengap yang gelap dan bau!" Sasuke menghina Sai dengan telak. Senyum Sai yang palsu pun menghilang.
"Beraninya kau menghina istanaku! Aku tidak akan mengampunimu, Pangeran Lancang!!" Sai mengerluarkan pedang dari sarungnya, mata pedangnya langsung menuju jantung Sang Pangeran. Sasuke menyambut tantangan Sang Gagak dengan mengeluarkan pedangnya. Peperangan pun tak dapat dihindari. Kejadian yang sama dengan adegan terakhir di Buku Dongeng yang belum selesai pun terulang kembali.
"Trang! Trang!"
"Untuk apa kau menginginkan Naruto?! Apa tujuanmu?!" Sasuke bertanya ditengah pertarungan mereka.
"Huh! Aku akan mengambil jiwanya yang akan membuatku jadi manusia selamanya!" Sai menjawab dengan enggan.
"Trang!" kini mereka berdua berhenti sejenak untuk mengambil napas sambil melanjutkan percakapan mereka.
"Jadi kau tidak akan melanjutkan peranmu di cerita ini? Tidak ada dalam cerita bahwa kau akan berubah menjadi manusia."
"Aku memang tidak akan melanjutkan peranku! Aku sudah tidak sudi! Aku akan hidup di dunia manusia sebagai manusia bukan burung gagak!"
"Kau tidak boleh melawan takdirmu! Kau yang terlahir sebagai burung gagak itu sudah diatur sejak awal! Jangan bertindak bodoh!"
"Kau yang bodoh! Bukan aku yang meminta untuk dilahirkan sebagai gagak! Lagipula ada seseorang yang membisikkan padaku cara menjadi manusia. Itu merupakan kesempatan bagiku! Dan aku harus menyingkirkan pengganggu sepertimu!" Sai berlari maju sambil mengarahkan pedangnya ke jantung Sang Pangeran.
Gerakan Sai barusan merupakan tindakan yang cepat sehingga Sasuke tidak sempat berbuat apa-apa.
"Jleb!" Sasuke yang lengah menjadi sasaran empuk bagi Sai. Alhasil, pedang Sang Gagak dengan sukses menancap di jantung Sang Pangeran. Sasuke terbatuk dan mulutnya mengeluarkan darah.
"SASUKEE!!" Naruto yang sedari tadi terdiam ketakutan akhirnya membuka mulutnya memanggil nama Sasuke.
Di ambang kematiannya, Sasuke tersenyum dan mengucapkan sesuatu, "Ti-dak ku-sangka...aku harus meng-gunakan cara i-ni..."
Sai yang masih di posisi semula, memegang gagang pedang yang matanya bersarang di jantung Sasuke melempar pandangan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sang Pangeran.
Tanpa membuang waktu, Sasuke kembali menggumamkan sesuatu,
"Bring me two shades of story
Remove me from any worry
Into another dimension, I go, and you go
Into another realm we move, to and fro
But this time I'm bringing the key
But this time, I can't and won't bring us back to our reality"
Sai tersentak, kata-kata yang diucapkan Sasuke adalah mantra untuk mengirim dua jiwa ke dimensi lain. Sasuke akan mengorbankan jiwa dan hatinya untuk membawa jiwa dan hati Sai menuju dimensi lain dan menguncinya disana. Tetapi efek sampingnya adalah jiwa dan hati pengunci tidak dapat kembali lagi ke pemiliknya.
Seusai diucapkannya mantra oleh Sasuke, tubuh mereka berpendar, perlahan jiwa mereka terlepas dari tubuh masing-masing. Sai semakin panik, 'Ini gawat! Aku harus melakukan sesuatu,' pikir Sai.
Akhirnya, sebelum jiwa mereka terlepas sepenuhnya dari tubuh mereka, Sai berhasil membagi kekuatannya dan menyalurkannya ke enam belas patung gagak yang menjadi pilar istananya tanpa diketahui oleh Sasuke.
Ritual telah selesai. Kini tubuh Sang Pangeran dan Sang Gagak tergolek lemah tanpa nyawa, tanpa jiwa, dan tanpa hati. Naruto menangis tanpa suara di sudut ruangan.
"SASUKEE!!" tak bisa menahan diri lagi, Naruto berlari menghampiri tubuh Sasuke yang tak bernyawa. Naruto menyentuh wajah Sang Pangeran yang dingin dengan tetap menangis. Dengan segera dia mencabut pedang yang menancap di jantungnya. Wajah Sasuke begitu tenang, bahkan bibirnya membentuk senyum ketika di ambang kematian.
"Sasuke...kamu masih hidup kan?? Kamu cuma bercanda kan? Bangun Sasuke!! Bangun!!" Naruto mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke berharap Sang Pangeran dapat terbangun. Tetapi usahanya sia-sia, harapannya pupus sudah. Kenyataannya, Sasuke sudah tidak dapat membuka mata untuk kedua kalinya.
Naruto melepas pegangannya di tubuh Sasuke. Dia menunduk dan kembali menangis.
"Hiks...hiks...Sasu...ke..." tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia ingat perlakuan Sai terhadapnya.
'Ciuman itu...ya, mungkin aku masih punya harapan...' batin Naruto.
Naruto menundukkan kepalanya diatas kepala Sasuke mencium bibir Sasuke lembut. Berharap keajaiban datang menghampirinya. Naruto mengorbankan jiwa dan hatinya untuk dimiliki Sasuke. Naruto ingin Sasuke membuka matanya sekali lagi walaupun setelahnya dia yang akan menutup mata.
Naruto mulai merasakan efeknya. Tubuhnya serasa lemas. Semakin lama semakin lemas. Tetapi kemudian Sasuke membuka matanya. Kekuatan merasuki tubuh Sang Pangeran. Ritual telah selesai, Naruto melepas ciumannya. Kini Sang Pangeran membuka mata sepenuhnya. Dia hidup kembali. Sedangkan Naruto tersenyum melihat usahanya yang tidak sia-sia.
"Aku...mencintaimu...Sasuke..." Naruto jatuh dipelukan Sasuke setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Naruto menutup mata selama-lamanya.
"Naruto..." Sasuke memeluk Naruto yang sudah tak bernyawa. Menangis dalam diam namun singkat.
"Terima kasih, Naruto. Kau mengorbankan jiwamu untukku. Tak akan kusia-siakan pengorbananmu. Aku mencintaimu, Naruto," Sasuke membawa Naruto ke tempat yang aman dan menidurkannya dengan lembut. Sasuke masih ingin memandang wajah Naruto yang imut. Menatap matanya yang indah. Ah, matanya sudah tertutup untuk selamanya.
Seberkas cahaya datang ke hadapan Sang Pangeran. Sasuke mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Sasuke membelalakkan matanya. Tak disangka dia dapat bertemu lagi dengannya.
~TBC~
Ah, saia tau fic ini lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa skali apdetnya (lebay)...
Sebernarnya fic ini saia telantarkan karna selama liburan ini saia lagi asik mainin Harvest Moon...
(Readers: gak nanya!)
Tapi mungkin karna saia ga direstui mainin game ini jadi data saia kehapus padahal udah jauh, huhuhu...
Waktu dlu mainin Harvest Moon di PS juga gitu! Datanya ilang gra2 MemCardny butut! Padahal dah jauh!!
Akhirnya saia kapok mainin game ni lagi dah! Langsung saja saia lampiaskan dendam saia pada game HM di fic ini...
Oh ya, ada yg tau Sang Pangeran ketemu siapa?
Akhir kata, sudikah readers sekalian untuk mereview?
Salam manis, Nate.
