J U S T A F A I R Y T A L E
A NARUTO FICTION
BY NATE RIVER IS STILL ALIVE & AKECHI KIWARI IS M.O.P.
DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
RATE: T
PAIRING: SASU X FEMNARU
WARNING: AU, OOC(SANGAT)
Seberkas cahaya datang ke hadapan Sang Pangeran. Sasuke mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Sasuke membelalakkan matanya. Tak disangka dia dapat bertemu lagi dengannya.
Chapter 3
-
-
-
"Ka-kakek, kenapa ada disini?" Sasuke terkejut melihat sosok kakeknya.
"Hai, Cucu! Memangnya tidak boleh? Cerita ini kan aku yang buat. Tentu saja aku bebas berada disini," kata orang yang dipanggil kakek oleh Sasuke dengan cuek.
"Ha? Kakek yang membuat cerita ini? Jadi kakek—"
"Ya! Aku adalah Sang Pendongeng Legendaris, Uchiha Madara, kakekmu," potong kakek Sasuke yang mengaku bernama Madara.
"Haha, jadi begitu ya?? Sekarang sudah jelas semuanya," Sasuke tertawa hambar mengetahui bahwa kakeknya adalah Sang Pendongeng Legendaris.
"Hm, apakah kau sudah berubah sejak kakakmu—"
"JANGAN CERITAKAN ITU LAGI!!" Sasuke memotong perkataan kakeknya emosi.
"Yaa, baiklah..." sahut Madara sambil angkat bahu.
"Sebenarnya mau apa kakek datang ke sini?!" Sasuke bertanya tanpa basa-basi.
"Ah ya, hampir lupa. Maaf kakek memang sudah tua. Pasti kau sedang menyesali sesuatu bukan?" tanya Madara memancing.
"Cepat katakan saja apa mau kakek!" Sasuke menjawab dengan ketus.
"Dasar cucu tidak sopan! Baiklah, kau pasti tahu Sang Gagak tidak berhasil kau segel dengan sempurna."
"Ya, dia membagi kekuatannya sesaat sebelum ritualnya selesai. Sementara ritual tidak dapat dihentikan," Sasuke menjelaskan ritual penyegelan Sang Gagak pada kakeknya. Sang Gagak mengira rencananya tidak diketahui oleh Sasuke. Tapi sayangnya Sasuke terlalu jeli sehingga sempat mencium rencana Sai.
"Dan sekarang Naruto mengorbankan jiwa dan hatinya untuk menghidupkanmu kembali."
"Ya, aku sudah tahu itu."
"Bersiaplah untuk pertarungan yang sebenarnya, cucuku. Aku akan berada di sampingmu untuk membantumu. Sekarang bangkitlah dan hunuskan pedangmu."
"Baiklah."
"Hm, karena semua patung gagak itu sudah tersebar ke seluruh penjuru Buku Dongeng ini, kau pasti butuh sesuatu," Madara berkata sambil menjentikkan jarinya.
Muncul sesuatu (atau seekor?) yang tidak Sasuke kira sebelumnya. Seketika wajahnya menunjukkan raut terkejut.
"Manda? Tapi dia kan…sudah mati? Kenapa dia bisa ada disini?!" Sasuke bertanya dengan nada tidak percaya.
"Ho, sebenarnya waktu itu dia belum mati dan kakek merawatnya hingga pulih seperti sekarang," Madara berkata sambil membanggakan diri.
Sasuke segera menghampiri sahabat baiknya yang sudah bertahun-tahun berpetualang bersamanya. Senang rasanya mengetahui bahwa kuda kesayangannya masih hidup. Kalau dia bukanlah Uchiha Sasuke, dia pasti akan memeluk dan mencium sahabatnya itu.
"Nah, sekarang naiklah, carilah dan musnahkan patung-patung itu," ujar Madara memotong acara reuni Sang Pangeran dengan sahabatnya.
"Ya, tapi kakek bagaimana? Kudanya hanya ada satu,"
"Siapa bilang kakek akan ikut denganmu?"
"Eh? Tapi tadi kakek bilang akan ada disampingku kan?"
"Itu benar, tapi itu kan cuma peribahasa. Kakek memberimu kuda ini, sedangkan kau yang bertarung," Madara berkata dengan innocent.
'Dasar pembual,' kata Sasuke dalam hati.
Tanpa membuang waktu dan dengan memasang tampang sebal (imagine that!), Sasuke segera naik ke punggung sahabatnya kemudian memacu kudanya keluar dari sarang gagak itu.
Sasuke berhenti sejenak di luar untuk membiasakan matanya dengan cahaya dan merasakan angin yang berdesir lembut. Ditatapnya sarang gagak di belakangnya.
"Ternyata jika dilihat dari luar, sarang gagak ini berwujud kuil," gumam Sasuke pelan. Tiba-tiba pikirannya teringat orang yang harus diselamatkannya. Maka Sasuke kembali memacu kudanya cepat dan dimulailah pertarungan panjangnya.
'Tunggu saja Naruto, aku pasti akan mengalahkan Sang Gagak!'
-
-
-
Seiring berjalannya waktu, Sang Pangeran berhasil mengalahkan patung-patung Sang Gagak tanpa mengetahui bahwa cara inilah yang akan membuat musuhnya bangkit kembali.
Seulas senyum merekah di bibir tua Sang Pendongeng Legendaris. Satu misinya telah berhasil dilaksanakan, tinggal satu lagi tugasnya sebagai penggerak alur cerita. Kali ini dia harus keluar dari buku dongeng untuk menjalankan misi terakhirnya.
The Prince POV
Aku terbangun kembali di depan sang putri. Lagi-lagi seperti ini, setiap aku mengalahkan satu dari mereka, aku selalu pingsan dan terbangun disini. Kutatap wajah sang putri, namun tidak lama, sebab tugasku belum selesai. Aku berjalan keluar kuil. Kuangkat pedangku. Sinar mentari yang cerah membuat pedangku bersinar. Pantulan sinarnya kali ini menuju ke sebuah pegunungan tinggi jauh di utara. Ya, disanalah dia, patung terakhir. Yang paling hebat diantara mereka semua.
Kupanggil kudaku, sahabat terbaikku yang telah menemaniku selama ini.
"Tinggal sedikit lagi teman, tinggal sedikit lagi," kataku.
Kudaku meringkik, seolah mengerti apa yang kuucapkan. Aku naik ke punggungnya, mengela nafas, dan memacu kudaku menuju arah utara. Menuju barisan hijau pegunungan yang sedikit berkabut.
The King POV
"Semua sudah siap?" kataku pada kelima pasukan terbaikku.
"Siap Yang Mulia!" Pasukanku menjawab dengan mantap.
"Baik, tugas kita kali ini akan sulit. Aku harap kalian berhati hati." kataku.
Aku naik ke pungggung kudaku, pengawalku mengikuti. Aku menoleh ke belakang, kelima pengawalku terlihat tidak takut. 'Bagus!' pikirku. Aku mulai memacu kudaku dengan cepat, pengawalku mengikuti dari belakang.
"Tunggu!" sebuah suara terdengar dari belakang. Kuhentikan laju kudaku. Aku menoleh ke belakang. Ternyata yang berteriak tadi adalah seorang kakek tua yang kukenal, dia Sang Pendongeng Legendaris.
Flashback
'Tok tok tok,' terdengar suara pintu diketuk.
"Sayang, tolong buka pintunya. Aku lagi masak nih!" teriak istriku dari dapur.
Kutaruh cangkir kopiku dengan rapi diatas meja lalu bergerak cepat menuju pintu.
'Cekrek,' tampaklah seorang kakek tua berdiri dibalik pintu kayu jati rumahku.
"Anda Namikaze Minato?" tanya kakek itu.
"Ya benar, anda siapa?" tanyaku.
Tiba-tiba kakek itu tersenyum tipis lalu berkata,"Boleh saya masuk? Tidak enak bicara disini."
Aku mempersilakannya masuk. Lalu dia bercerita semuanya. Dia bercerita bahwa dia adalah Sang Pendongeng Legendaris yang mempercayakan cerita terakhirnya yang belum rampung pada anakku, Naruto. Tentu aku tidak mempercayainya pada awalnya. Tapi dia berkata bahwa anakku dalam bahaya. Seharusnya saat ini dia sedang mengerjakan skripsinya. Bagaimana mungkin dia terlibat hal seperti ini?
Tanpa pikir panjang, aku pamit pada istriku dengan alasan urusan kantor. Aku dibawanya menuju dunia yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Aku menjadi seorang raja, peran yang sudah disiapkan untukku sebelumnya.
Flashback end
"Kakek!" kataku. Aku turun dari kudaku, lalu menghapirinya.
"Bawalah ini," kata Sang Pendongeng Legendaris. Dia memberikan sebuah gulungan padaku.
"Apa ini?" tanyaku sembari hendak membukanya.
"Jangan dibuka sekarang! Gunakanlah gulungan itu saat kau terdesak," katanya. Aku berpikir sebentar, lalu kembali menggulung gulungan itu.
"Baik, akan kugunakan sebaik-baiknya. Terima kasih ,kek!" Kataku.
"Satu lagi. Jangan pergi ke tempat Naruto. Pergilah ke utara, tempat dimana patung terakhir berada. Setelah urusan disana selesai, kau baru boleh pergi ke Selatan," tambahnya.
"Baik!" kataku meskipun hatiku bertanya-tanya.
Dia mengangguk. "Nah, pergilah," kata Sang Pendongeng Legendaris. Aku berbalik menuju kudaku, menaikinya, dan ketika menoleh kebelakang untuk menatap sang pendogeng legendaris, dia sudah tidak ada.
'Kemana dia pergi?' pikirku. Aku tidak terlalu memikirkan hal ini. "Ayo Kita Pergi," kataku kepada kelima pasukanku. Kuteruskan perjalananku. Menuju utara.
The Prince POV
Pikiranku berkelana sepanjang perjalanan. Musuh terakhir ini, seperti apa dia? Cara apa lagi yang harus kugunakan? Sepanjang perjalanan ini musuh yang kulawan tidak ada yang sama, mereka semua punya cara sendiri untuk dikalahkan. Dan sekarang yang terakhir, pasti dia yang paling kuat diantara mereka semua. Namun, aku tidak punya perkiraan sama sekali. Akhirnya aku hanya menghela nafas dan terdiam.
Sore hari mulai menjemput, kembali aku melewati hutan terlarang ini. Aku menajamkan telingaku. Seperti biasa, anak buah si gagak jelek itu pasti akan menyergapku di suatu tempat. Aku harus waspada. Kuperlambat laju kudaku, dia bisa saja memasang perangkap dan membuat aku dan kudaku terjatuh. Kucabut pedangku, aku dalam keadaan siaga penuh.
Aku berjalan. 'Ayo keluar,' pikirku.
Berjalan. 'Sial, aku bisa merasakannya, tapi dia tidak keluar!' pikirku cemas.
Dan terus berjalan. 'Mengapa dia tidak muncul? Ayo muncul!' pikiranku mulai bingung.
Akhirnya hutan terlarang pun habis, aku telah keluar dari hutan. Ternyata dia tidak muncul sama sekali. Hatiku senang sekaligus cemas. Senang karena aku tidak harus melawannya, namun cemas karena pasti ada sesuatu dibalik hal ini. Namun aku tidak terlalu memperhatikan hal ini. Kupacu lagi kudaku, melanjutkan perjalanan ke arah utara.
Aku sampai di sebuah padang rumput yang sangat luas, diselingi satu-dua pohon di sana-sini. Dengan latar belakang deretan pegunungan hijau yang memanjang sejauh mata memandang. Indah sekali.
'Eh, bukan saatnya mengagumi keindahan,' pikirku. Aku tidak boleh membuat dia menunggu lama. Kuangkat pedangku, memantulkan sang mentari senja. Sinarnya mengarah ke depanku. Menuju semacam celah diantara pegunungan. Sedikit rasa takut muncul saat menyadari aku semakin dekat dengan pertarungan terakhir. Namun kucoba mengusir ketakutan itu. Aku memejamkan mata, menarik nafas, lalu mengeluarkannya. Kubuka mataku, kuteruskan perjalananku ditemani kudaku yang setia, dan mentari senja yang cerah.
Normal POV
Hari semakin sore, lembayung senja mulai terlihat. Sang pangeran akhirnya sampai di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat. Dia terpesona melihat tempat itu. Sebuah celah besar diantara pegunungan yang berbaris diam. Namun ada hal lain yang membuat sang pangeran lebih tercengang. Celah itu tertutup, oleh sebuah gerbang yang sangat besar. Ditengah gerbang itu terdapat sebuah lubang bulat sempurna.
'Aku Harus melewati gerbang ini, sinarnya menuju ke balik gerbang, tapi bagaimana caranya?' Sang Pangeran berpikir.
Sang pangeran berjalan kearah gerbang, lubang itu sangat tinggi, dia tidak bisa mencapainya. Dia berkeliling, mencari sesuatu yang panjang bisa digunakan, namun tidak ada apa apa disana. Lalu dia menuju pinggir gerbang, berharap menemukan celah yang bisa dilewati. Namun tidak ada celah sedikitpun. Gunungnya pun terlalu curam, dia tidak bisa mendaki gunungnya.
Dia terduduk di depan gerbang. Memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
The Prince POV
"Aaah, cape muter-muter, mana ga dapet apa apa lagi!" Aku Duduk di depan gerbang sambil berpikir. Lama aku berpikir, namun aku tidak mendapatkan apapun. Aku pun menjatuhkan diri.
Namun…
'DUK!'
"Au, apa ini? Keras banget," kataku. Kepalaku membentur sesuatu yang keras. Kupegang benda itu, ternyata sebuah batu. Sial, kucoba menggeser batu itu, namun batu tidak bergerak. Kubalikan badanku, ternyata itu bukan batu biasa.
"Eh? ini..." perkataanku terputus ketika melihat benda itu. Itu sebuah lantai batu, aku tidak melihatnya tadi. Aku mencabut beberapa rumput di sekitar lantai itu, ternyata lantai batu itu cukup besar. Kulanjutkan membersihkan sekitar lantai itu.
Ternyata Lantai batu itu sangat besar, berbentuk bulat sempurna, cocok dengan lubang di tengah gerbang. Bagian pinggirnya diukir dengan simbol-simbol yang belum pernah kulihat sebelumnya. 'Pasti lantai batu ini bukan hiasan biasa,' pikirku.
Mentari senja menyinari dari balik lubang di gerbang, tepat kearah lantai batu tempat aku berdiri. Aku teringat Pedangku. "Itu Dia!" Teriakku. Aku berlari ke arah pusat lantai batu, berdiri menghadap lubang di gerbang. Matahari tepat berada di tengah tengah lubang. Kuangkat pedangku. pedangku tepat membalikan sinar matahari ke lubang di dinding.
Kemudian...
'GRUK...GRUK...GRUK...'
Tanah tempatku berdiri bergetar, aku bergerak mundur dari lantai batu. Kutatap gerbang didepanku itu dan gerbang itu. Bergerak! Sedikit demi sedikit terbentuk celah di tengah gerbang! Aku berhasil membuka gerbangnya! Kupanggil kudaku, naik ke punggungnya dan berjalan ke celah yang membuka semakin besar.
Ternyata dibalik gerbang bukanlah sebuah celah gunung, melainkan hanya bagian gunung yang cekung, namun sangat landai. Sebuah Tangga lebar tampak dihadapanku. Sangat panjang keatas. Aku memutuskan untuk menaiki tangga ini dengan menunggang kudaku. Semakin lama, hatiku merasa semakin tegang. Namun ada perasaan aneh yang muncul dalam hati. Perasaan senang, entah darimana datangnya. Semakin terasa seiring langkahku menuju tempat itu. Aku Tidak terlalu memperhatikan hal ini, dan terus menaiki tangga bersama kudaku yang setia.
The King POV
Sudah seharian kami memacu kuda kami, namun kami belum sampai. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak mengistirahatkan diri. Aku menghentikan kudaku.
"Kita istirahat dulu disini! kita lanjutkan perjalanan nanti," kataku. Pengawalku berhenti. Kami pun turun dari kuda. Aku berjalan melihat sekeliling. 'Tempat yang indah,' pikirku. Sebuah padang rumput luas dan hijau. Di kejauhan aku melihat sebuah bangunan tua yang sangat tinggi menjulang, itulah tujuanku. Kesanalah aku akan pergi.
Tiba tiba salah satu pengawalku, yang baru beberapa jam menjadi pengawalku, berkata "Yang Mulia, sebaiknya anda melihat ini," dia menunjuk ke balik bukit. Aku mengangguk dan berjalan ke balik bukit. Ternyata ada semacam reruntuhan disana. Kudekati reruntuhan itu, namun saat aku semakin dekat, aku tersadar. Itu bukan reruntuhan, itu sebuah Patung!
"Patung ini... salah satu dari 16 patung Sang Gagak!" teriakku. Aku berlari kearah patung itu dan melihat bagian kepalanya. Ada sebuah bekas tusukan tepat dijantungnya. Bekas tusukannya sangat khas, hanya satu orang yang memiliki pedang seperti ini.
"Sang Pangeran yang membunuhnya! SIAL!!!" teriakku.
"Ada apa yang mulia? bukankah lebih bagus kalau dia sudah membunuh emmm... makhluk ini?" kata pengawalku.
"Justru sebaliknya," kataku. "Ini salah satu kemampuan sang gagak yang paling hebat, dia bisa membagi kekuatannya dan memasukannya ke benda apapun. Walaupun sang gagak sudah tersegel," aku melanjutkan. "Ketika media yang dia pakai rusak, kekuatannya akan keluar dan akan merasuk ke benda lain. Namun tidak ada benda hidup lagi disini. Berarti kesimpulannya cuma satu..."
"Kekutannya merasuk ke tubuh sang pangeran?" tanya pengawalku. "Benar! sang pangeran akan semakin kuat, tapi tubuh sang gagak akan kembali. Sial! Kalau saja aku menemukan ini lebih cepat," sesalku. "Ayo! Kita tidak punya waktu Lagi! Kita jarus mencegahnya mengalahkan semua patung! Ayo cepat!" aku berlari menuju kudaku, menaikinya. dan memacunya secepat yang kubisa. Berharap aku tidak terlambat.
The Prince POV
Tangga itu akhirnya selesai. Aku berdiri di pinggir sebuah jurang yang cukup dalam. Ada sebuah jembatan batu disana, namun jembatan itu sedikit terputus di tengah tengah. Aku tidak bisa melompatinya. Hanya ada satu cara…
TBC
Terima kasih kepada partner saya yang membuat terciptanya fic ini…
Terima kasih kepada temannya partner saya, sahabat saya, dan adik saya yang mendukung terciptanya fic ini…
Terima kasih kepada komputer saya beserta internetnya yang mendukung rampungnya fic ini…
Dan terima kasih yg paling besar untuk para pembaca dan pe-review yg menyemangati saya untuk melanjutkan fic ini…
Kritik, saran, flame, dan pujian sangat diterima dengan lapang dada…
Masih banyak kekurangan dalam fic ini, jadi jangan ragu untuk mengoreksi!
