Just A Fairy Tale

A NARUTO FICTION

BY NATE RIVER IS STILL ALIVE & AKECHI KIWARI IS M.O.P.

DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

RATE: T

PAIRING: SASU X FEMNARU

WARNING: AU, OOC(SANGAT)


Chapter 4


The Prince POV

Tangga itu akhirnya selesai. Aku berdiri di pinggir sebuah jurang yang cukup dalam. Ada sebuah jembatan batu disana, namun jembatan itu sedikit terputus di tengah-tengah. Aku tidak bisa melompatinya. Hanya ada satu cara.

"Kudaku, kau bisa melompatinya?" tanyaku. Kudaku meringkik, seolah mengiyakan.

"Baiklah, ayo kita coba," kataku.

Aku berjalan mendekati ujung jembatan batu yang putus. Sangat jauh, aku tidak terlalu yakin bisa melewatinya. Kulihat ujung jembatan satunya, agak retak.

'Ah, jaraknya lebih jauh dari yang kuduga,' pikirku. Setalah jembatan itu, kulihat tangga yang lebih curam lagi menuju puncak gunung.

Aku menaiki kudaku, bergerak mundur sejauh yang kubisa, berbalik, dan bersiap. Aku menarik nafas, menutup mata, dan membulatkan tekadku. 'Untuk orang yang kucintai,' pikirku. Kubuka mataku.

Kulihat sekilas jalan yang akan kulewati, 'Bersih,' pikirku.

Akhirnya...

"HIA!"

DRAP! DRAP! DRAP!

Kupacu kudaku secepat mungkin.

DRAP! DRAP! DRAP!

'AYO! LEBIH CEPAT!' pikirku.

DRAP! DRAP! DRAP!

Semakin Dekat.

DRAP! DRAP! DRAP!

LOMPAT!

-

-

-

TRAP!

Aku mendarat dengan sukses. "Hebat kudaku!" Teriakku.

Namun…

"Eh?"

Drug Drug...

Lantai dibawah kakiku bergerak turun, jembatannya patah! Aku akan jatuh!

"!!!!!!!!!"

-

-

-

The King POV

DRAP! DRAP! DRAP!

'Ayo cepat!' pikirku. Jantungku berdegup sangat kencang. Perjalananku masih jauh. Namun aku tidak punya banyak waktu lagi. Sang Pangeran harus cepat kuhentikan sebelum terlambat. Aku terus memacu kudaku. Kelima Pengawalku mengikuti dengan cepat.

DRAP! DRAP! DRAP!

-

-

-

"Yang Mulia! Tunggu!" sebuah suara parau datang dari belakangku.

Aku menoleh ke belakang. Ternyata itu salah satu prajurit dari pasukan infantriku. Aku berhenti dan berbalik.

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau..." ucapanku terputus ditengah-tengah. Dia terluka parah.

Dia berkata dengan tersendat-sendat, "Kerajaan... diserang... butuh... bantuan... cepat..."

Dia terjatuh dari kudanya. Aku turun dari kuda dan berlari melihat keadaanya. Dia pingsan. Dia terlihat sangat kelelahan.

"Diserang? Dalam keadaan seperti ini?" kataku. Kelima pengawalku terdiam.

"AKH! " teriakku. Kutendang batu yang ada didekatku dengan keras.

"Yang Mulia, kita harus kembali," kata salah satu pengawalku.

"KITA TIDAK BISA KEMBALI!!! ADA HAL YANG HARUS KITA LAKUKAN DISINI!!!" teriakku.

"Tapi pikirkan kerajaan kita, pikirkan rakyat kita," kata pengawalku yang lain.

Aku mondar-mandir dengan gusar. 'Apa yang harus kulakukan?' pikirku.

"Yang mulia, Tidak mungkin kau meninggalkan rakyatmu," kata pengawalku.

"TAPI KALAU SANG PANGERAN TIDAK DIHENTIKAN, AKAN LEBIH PARAH!!!" teriakku.

Tiba-tiba angin berhembus. Cukup kencang. Jubahku berkibar. Kurasakan angin ini berputar di sekitarku. Tiba-tiba kudengar sebuah kalimat diantara desah angin.

Itu suaranya... Suara sang pendongeng legendaris...

'Aku mengerti,' pikirku.

Ternyata ini memang jalanku sendiri... Satu satunya jalanku...

"Sendiri…" kataku pelan.

"Apa? Apa yang anda katakan yang mulia?" kata pengawalku

"Aku akan pergi sendiri," jawabku.

"Apa? Tidak mungkin anda mengalahkan semua pasukan itu sendirian," kata pengawalku.

"Tidak, kalian berlima pergilah, bantu pasukan kita. Aku akan urus Sang Pangeran ini sendiri," kataku.

"Tapi yang mulia..."

"INI PERINTAH! KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU!" teriakku. Waktu semakin sempit.

Mereka tercengang. "Baik, kami mengerti yang mulia."

Kelima pengawalku membawa prajurit yang pingsan itu. Lalu segera naik ke kuda mereka dan bersiap pergi.

"Semoga berhasil, yang mulia. Jaga diri anda," kata pengawalku.

Aku mengangguk. "Pergilah, mereka menunggu kalian," kataku.

Mereka pun pergi. Tinggal aku sendiri disini. Aku menghela nafas, kupanggil kudaku.

"Sepertinya hanya tinggal kita berdua disini," kataku.

"Baiklah, ayo kita teruskan."

"HIA!"

DRAP! DRAP! DRAP!

Kuteruskan perjalananku. 'Masih sangat jauh, kuharap aku tidak terlambat'

DRAP! DRAP! DRAP!

-

-

-

The Prince POV

Lantai dibawah kakiku bergerak turun, jembatannya patah! Aku akan jatuh!

"!!!!!!!!!"

-

-

-

"Eh?"

-

-

-

Badanku terlempar ke depan! Kudaku melemparkanku kedepan!

BRUK! Aku terjatuh dengan cukup keras. Bahuku sakit, tetapi setidaknya kita selamat.

Aku berbalik. "Hebat kudaku! Kau..." kata-kataku terputus.

Kita selamat, atau jangan-jangan…

Aku yang selamat?

Aku melihat sekeliling. Dia tidak ada! Kudaku tidak ada! Aku berlari ke ujung jembatan. Dibawah sana gelap dan berkabut, aku tidak melihat apa-apa.

Kudaku... Kudaku yang setia... Dia mengorbankan nyawanya... Untukku...

"MANDAAAA!!!!!" teriakku.

Aku berlutut. Sahabatku satu-satunya... Dia harus pergi dengan cara seperti ini...

...

Kutatap bagian bawah jurang yang berkabut. "Terima kasih kawan, aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini," kataku.

Aku melihat kearah puncak gunung.

'Ini semua gara-gara dia,' pikirku. 'Gagak jelek itu, dia penyebab semua ini.'

Kubulatkan tekadku. Aku berdiri. Kakiku agak gemetar. Kuambil pedang dan panahku yang terjatuh. Kutatap lagi puncak gunung itu. Dan berjalan dengan mantap menaiki tangga.

Menuju pertarungan terakhir... satu lawan satu...

-

-

-

'Akhirnya sampai juga,' pikirku. Kulihat ujung dari tangga itu mulai terlihat. Namun...

JGER! CRSSSS!!!

"Bagus, hujan," kataku. Aku tidak memikirkannya dan terus berjalan.

Sepuluh tangga lagi...Tap...tap...tap...

Lima tangga lagi...Tap...tap...tap...

Tiga…dua…satu…

'Sampai,' pikirku.

Jadi inilah arenanya. Sebuah tempat yang cukup datar di puncak gunung, ada sedikit bebatuan besar disana-sini. Yang menarik perhatianku adalah sebuah lantai batu yang bentuknya sama persis dengan yang kutemukan di depan gerbang. Lokasinya tepat berada di tengah-tengah arena.

Namun ada satu hal yang belum kulihat, dimanakah Sang Patung itu berada? Aku berputar, melihat sekeliling. Tapi dia tidak ada.

"Aku bisa merasakannya, tapi dimana?" kataku. Kembali aku berputar. Dia dekat, siap menyerang.

"Oh iya, pedangku!" segera kucabut pedangku dan kuangkat, sinarnya mengarah ke arah belakangku.

ZRRRT!!!

"Suara itu..." aku menoleh. Sebuah cahaya mendekat ke arahku dengan sangat cepat...

-

-

-

Normal POV

ZRRRT!!!

"Suara itu..." Sang Pangeran menoleh. Sebuah cahaya mendekat ke arahnya dengan sangat cepat. Itu tembakan petir sang patung! Sang pangeran tidak siap. Tembakan itu tepat mengenai Sang Pangeran!

BOOOM!!!

"AAARGH!" Sang Pangeran mengerang, dia terguling jauh karena efek dari tembakan itu. Dia menabrak batu dan terbaring lemas, tidak sadarkan diri.

-

-

-

Perpustakaan Nasional Konoha tutup hari ini untuk menghadiri acara pemakaman salah satu pegawainya yang sudah mengabdikan diri selama belasan tahun. Kawan-kawannya sesama pegawai disana tidak dapat menerima penyebab kematiannya yang sangat tidak wajar. Hasil otopsi menunjukkan tak ada racun maupun luka ditubuhnya.

Tidak hanya kematian salah satu pegawai teladan Perpustakaan Nasional. Berita buruk lain telah melanda seluruh staf Perpustakaan. Buku Dongeng yang menjadi harta karun Konoha diketahui telah ditukar dengan duplikatnya. Polisi dan agen-agen intelijen pontang-panting mencarinya tanpa mengetahui kejadian yang tengah berlangsung di dalamnya.

The Prince POV

"Nngh," aku mengerang kesakitan. Aku baru saja siuman setelah pingsan oleh kekuatan petir milik patung itu. Eh? Patung?

ZRRRT!!!

"Ukh," aku baru ingat masih bertarung dengannya. Sekuat tenaga kuarahkan badanku bergerak menuju batu besar disana. Hal yang bisa kulakukan saat ini hanya berlindung lalu susun rencana selanjutnya.

'Kekuatan petir miliknya itulah yang paling berbahaya. Harus kumusnahkan.'

Kugenggam busur di tangan kiriku lalu kuraih satu anak panah oleh tangan kananku. Kuarahkan mata panah itu pada Sang Patung, tepatnya tangan kiri Sang Patung.

ZRRT!

JLEB!

Anak panah yang kulepas berhasil menembus sasarannya. Sekarang dia sudah tidak bisa menggunakan tangan kirinya.

"One Down!" seringaiku puas.

Sekarang satu lagi. Tangan kanannya yang memegang Club itu juga harus kumusnahkan. Bagaimana caranya?

Lantai disana, lantai yang terbuat dari marmer khusus yang sangat keras. Baiklah, mungkin itu bisa berhasil. Dengan rasa percaya diri yang maksimal, aku keluar dari tempat persembunyianku menuju lantai marmer yang ada di tengah arena. Aku mencoba memancingnya. Dia menghampiriku dengan geram kemudian mengacungkan Club-nya. Inilah saatnya!

Perlahan Club-nya mendekat ke arahku. Sesaat sebelum benda itu sempat menyentuh tubuhku, aku menghindar. Dan dengan mulusnya senjata mengerikan itu menghantam lantai, pecah berkeping-keping. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sang Patung sedang lengah. Aku melompat naik ke badannya dan menikamkan pedangku tepat di jantungnya bahkan sebelum ia sempat berkedip. Dia tejatuh. Aku menghela napas lega. Akhirnya perjuanganku berakhir sampai disini.

Cahaya hitam yang keluar dari tubuh Sang Patung akan masuk ke dalam tubuhku dan menjadi kekuatan bagiku. Kali ini pun begitu, tapi…tunggu! Ada yang tidak beres!

"AAAARRRGGGGHHH!!"

Normal POV

"AAAARRRGGGGHHH!!"

Teriakan itu mengantarkan Sang Pangeran pergi ke alam bawah sadarnya. Dan apakah yang menjadi penyebabnya? Tidak ada yang tahu.

-

-

-

DRAP DRAP DRAP!

Derap kaki kuda semakin jelas terdengar. Ada yang mendekat. Seekor kuda bersama penunggangnya. Hanya seorang. Lari kudanya kian melambat hingga berhenti. Dia menuruni kudanya. Melihat sebuah arena yang rusak hebat akibat pertarungan.

"Pangeran! Pangeran!" Sang Raja mengguncang tubuh Sang Pangeran yang tak sadarkan diri setelah bertarung. Dilirikan matanya pada sosok di sebelah Pangeran yang juga tak sadarkan diri.

"Patung terakhir Sang Gagak…" Sang Raja berbisik.

Diambilnya langkah mundur dengan perlahan dari Sang Pangeran. Dia sudah terlambat. Sang Patung sudah mati, dibunuh oleh Sang Pangeran. Maka Sang Raja sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sasuke membuka matanya, berdiri tegak bagai dilahirkan kembali. Padahal dia baru saja bangun dari pingsannya. Memandangi diri sendiri, seringai terbentuk di bibirnya.

"Kau…Sang Pangeran?"

~TBC~

Akechi Kiwari: "Ciao All.. Sorry, Ada yang Bilang Bahasanya Terlalu Berat ya? Saya Nulis Pake Gaya Novel Klasik... Mohon Dimaklumi. Hehe... Kembali ke balik layar!"

Nate: "Mudah2an Readers masi inget Fic ini =.=

Gomen ne kalo apdetnya kelamaan… Kita sama2 orang sibuk sih, hohoho~-diamuk massa-

Chap selanjutnya bakal diapdet cepet kok –moga aja- -disidang-"

Naruto: -Bangkit dari tidurnya- "Yak! Kritik dan saran diterima dengan susah payah –dipukul author- ehm, maksudnya dengan lapang dada. Saksikan lanjutan kisahku di episode selanjutnya! –nyinetron-"

"Meoooowwwww"

Kucing Itachi mengeong -nyambung?-