Just A Fairy Tale

A NARUTO FICTION

BY NATE RIVER IS STILL ALIVE & AKECHI KIWARI IS M.O.P.

DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

RATE: T

PAIRING: SASU X FEMNARU

WARNING: AU, OOC(SANGAT)

The King POV

Yang baru saja terbangun dan berdiri di hadapanku ini adalah Sang Pangeran. Tapi…apa benar dia Sang Pangeran?

"Kau…Sang Pangeran?"

Sang Pangeran, atau begitulah yang aku kira, menoleh padaku. Kulihat tatapan matanya, dingin. Aku memang belum tahu orang seperti apa Sang Pangeran itu, tapi tatapan ini bukanlah tatapan yang bersahabat. Ini tatapan seorang pembunuh.

"Maaf, aku tidak tahu ada orang disana. Dari luar aku memang Sang Pangeran, tapi dalamnya bukan dia. Aku adalah Sang Gagak. Sang Pangeran sudah tidak ada lagi. Dan sekarang akulah yang terkuat di dunia dongeng ini. Apakah Anda ingin menghalangi saya? Saya siap melayani anda."

Ternyata dia memang bukan Sang Pangeran. Aku sudah terlambat, tidak ada cara lain, aku harus bertarung dengannya. Meskipun begitu, kemenangan sudah dipastikan karena aku punya kartu As yang tidak terkalahkan.

Pertarungan dimulai. Di tempat yang hening hanya terdengar suara angin serta benturan 2 logam. Keringat dan darah yang menjadi hasil dari kegiatan kami. Dia sangat kuat dan aku sudah kelelahan. Untuk dapat menggunakan kartu As ini harus menunggu sampai energinya melemah agar presentasi keberhasilan mencapai 100 persen. Masalahnya, staminaku sudah habis.

"Hei Gagak! Tidakkah kau lelah membuat kekacauan di Dunia Dongeng dan Dunia Nyata?" aku akan coba berbasa-basi agar dapat mengulur waktu untuk memulihkan staminaku.

"Apa yang kau bicarakan? Bukanlah kekacauan yang kubuat. Aku hanya berusaha untuk bertahan hidup sambil menciptakan kehidupan yang nyaman," ternyata benar dugaanku, dia menghentikan gerakannya ketika bicara. Dan aku tahu apa yang dapat membuat energinya cepat melemah.

"Oh, jadi untuk bertahan hidup, kau harus mengambil hidup orang lain? Benar-benar seperti parasit ya? Kau tahu? Tidak ada parasit yang dibiarkan hidup karena parasit selalu merugikan," kumulai siasatku untuk membangkitkan amarahnya.

"Apa kau bilang?! Jadi kau menyebutku parasit?! Kalau aku parasit lalu kau apa? Manusia-manusia sepertimu bukan hanya merugikan tapi juga merusak! Kalian senang merusak alam, mengeksploitasi seenaknya! Kalian bahkan saling menghancurkan sesama kalian! Kalian bunuhi saudara-saudara kalian! Bahkan hewan lebih baik dari kalian!"

Aku tersentak. Semua yang dikatakannya benar. Berburu dan berperang, kehidupan kami tak pernah aman. Tak kusangka makhluk seperti dialah yang mampu mengatakan hal ini secara terang-terangan.

Dia sudah melemah. Seharusnya kukeluarkan kartu As-ku sekarang. Tapi aku tak ingin membunuhnya. Dia berhak hidup.

'Tenang saja. Dia tidak akan mati.'

Sang Pendongeng Legendaris. Tidak akan mati? Jika itu benar maka aku tak akan ragu lagi.

I am noble, known to rest in the quiet

Keeping of many men, humble and high born.

The plunderers' joy, hauled far from friends,

Rides richly on me, shines signifying power,

Whether I proclaim the grandeur of halls,

The wealth of cities, or the glory of God.

Now wise men love most my strange way

Of offering wisdom to many without voice.

Though the children of earth eagerly seek

To trace my trail, sometimes my tracks are dim.

Kubuka gulungan yang diberikan oleh Sang Pendongen Legendaris. Kubacakan sederet kalimat mantra didalamnya pada pedangku. Kutusukkan pedangku tepat di jantung Sang Gagak ketika dia lengah. Berhasil. Sosoknya menghilang tanpa bekas. Kuharap dia mendapat kehidupan yang lebih baik.

Tugasku sudah selesai. Kini aku harus pergi ke tempat putriku berada. Naruto.

Normal POV

Suara tangisan bayi bergema di dalam sebuah gua yang gelap. Membangunkan seorang gadis yang tertidur disana. Si Gadis tidak tahu darimana bayi itu datang dan sama sekali tak ingat mengapa dia bisa ada di gua yang gelap itu. Tangisan bayi yang semakin keras membuat Si Gadis mau tak mau mencoba menenangkannya. Tapi saat bayi itu berada dalam gendongannya, entah mengapa Si Gadis merasa sangat menyayangi bayi itu. Dia merasa bayi yang berada dalam gendongannya ini adalah orang yang sangat ia cintai.

Suara derap kuda yang memasuki gua membuat pikiran Si Gadis teralihkan. Ayahnya datang menjemputnya. Mereka saling melepas rindu layaknya ayah dan anak yang terpisahkan oleh perang.

Tiba-tiba sesosok bayangan transparan muncul dengan senyum terkembang di bibirnya, menggumamkan, "Terima kasih kalian sudah menyelesaikan dongeng ini. Hadiahnya sudah kalian terima rupanya."

Dan dalam sekejap, sosok mereka berempat menghilang dari tempat itu. Menyisakan keheningan dalam kegelapan.

-

-

-

Naruto POV

21 tahun kemudian.

"Sasuke! Cepat bangun! Kamu mau terlambat di acara wisudamu?"

"Mmngh, iya aku bangun."

Dasar pemalas. Untuk bangun pagi saja selalu dibangunkan. Diberi jam weker, selalu hancur berkeping-keping satu detik setelah berbunyi.

'Ceklek'

"Hai, Ayah! Rapi banget! Mau berangkat kerja atau apa? " kusapa ayahku yang baru keluar dari kamarnya. Rapi benar penampilannya.

"Ya berangkat kerja lah. Ini hari terakhir ayah kerja sebelum pensiun jadi ya harus rapi donk."

"Oh iya ya. Ayah sudah tua jadi harus pensiun," kukatakan dengan nada bercanda.

"Eh, tapi begini-begini aku masih kuat dan sehat lho," balas ayahku sambil berpose ala binaragawan. Kami berdua terbahak. "Oh ya, nanti sore setelah ayah pulang kerja kita pergi sama-sama ke pemakaman Ibu ya. Kalian berdua dandan yang rapi."

"Siap!" jawabku. Lalu kami terbahak lagi. "Ayah tidak sarapan dulu?" tanyaku melihat ayah yang buru-buru ingin pergi.

"Ya, ayah takut terlambat."

"Sudah kuduga. Ini, aku sudah menyiapkan bekal untuk ayah," kataku sambil menyerahkan kotak bekal pada ayah.

"Hehe, terima kasih ya anak ayah yang cantik. Ayah pergi dulu."

"Hati-hati di jalan!"

Ibuku meninggal 5 tahun yang lalu karena umurnya yang sudah lanjut. Kini aku tinggal bersama ayahku dan Sasuke. Hari ini hari peringatan kematian ibu yang kelima. Sudah menjadi tradisi keluarga untuk mengunjungi makamnya setahun sekali.

"Ibu, hari ini sarapan apa?"

"Waa!" "Prang!"

"Sasuke! Kalau mau menyapa tidak usah mengagetkan seperti itu dong! Ibu jadi kaget! Lihat, piring kesayangan ibu juga jadi pecah."

"Maaf, maaf. Tidak bermaksud mengagetkan kok. Lagian piring kesayangan ibu masih banyak tuh."

"Dasar! Jangan cari alasan deh. Sudah sana cepat sarapan."

"Iya~iya~hahaha."

Kami berdua terbahak. Pagi ini benar-benar pagi yang menyenangkan. Seandainya ibu ada disini mungkin kami akan lebih bahagia.

Sasuke sebenarnya bukan anak kandungku. Aku menganggapnya sebagai anakku karena aku sudah mengasuhnya dan membesarkannya hingga sekarang. Hari itu, 21 tahun yang lalu aku menemukannya di samping ranjangku. Aku tidak tahu mengapa tapi aku merasa sangat menyayanginya. Aku memberinya nama Sasuke karena saat itu entah mengapa nama itu terlintas di otakku.

"Ibu, ayo berangkat, kita hampir terlambat."

"…."

"Ibu kenapa?"

"Ah, ibu tidak apa-apa. Hanya merasa Déjà vu waktu melihat wajahmu. Rasanya ibu pernah lihat, tapi dimana ya?"

"Hn, ibu ini bicara apa? Ibu kan melihat wajahku tiap hari."

"Haha, iya ya. Ya sudahlah. Ayo berangkat!"

"Hn."

Wajah Sasuke, rasanya aku pernah melihatnya. Bukan Sasuke anak angkatku sekarang. Tapi Sasuke yang berbeda. Melihat wajah itu rasanya jadi rindu. Tapi merindukan siapa ya? Ah, kepalaku jadi pusing.

Normal POV

'Aku turut senang ternyata kalian bahagia. Tapi jika kalian mengetahui hal yang sebenarnya, kalian pasti akan lebih bahagia," sebuah suara yang nyaris tidak terdengar mengikuti kepergian seorang wanita paruh baya bersama anak angkatnya.

-

-

-

Riuh rendah suara tepuk tangan menghiasi acara wisuda. Anak-anak muda yang memakai baju toga dengan membawa masa depan cerah menjadi pemandangan yang indah bagi orang tua mereka. Air mata haru menjadi simbol kebahagiaan mereka.

Tak terkecuali bagi Naruto dan Sasuke. Sasuke yang menjadi mahasiswa teladan tak mungkin membuat Naruto tak menangis. Rasa puas dan bangga karena mengetahui hasil didikannya membuahkan hasil menjadi faktor utama kebahagiaan seorang ibu. Tapi kebahagiaan mereka belum berakhir sampai disitu.

-

-

-

Langit yang berwarna jingga menaungi tiga orang yang berlutut di depan sebuah makam yang telah ada disana selama 5 tahun.

"Ibu, hari ini Sasuke diwisuda dengan predikat cumlaude. Aku sangat bangga menyaksikan detik-detik kelulusannya. Ayah juga telah menyelesaikan masa aktifnya di dunia kerja. Kami semua bahagia dan berkecukupan. Ibu juga pasti bahagia di sana."

Hening menyelimuti acara reuni keluarga di sebuah pemakaman umum. Tiga orang yang berlutut disana kini sedang memanjatkan do'a sambil mengenang kebersamaan bersama almarhum. Sore yang indah menjadi latar sebuah momen yang indah pula.

-

-

-

Ketika langit menjadi gelap barulah mereka bertiga tiba di rumah. Ketiganya merebahkan diri untuk melepas lelah. Saat itu seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

"Tok tok tok"

"Biar aku yang buka!" sahut Naruto.

"Kreek!"

"Anda siapa?" tanya Naruto melihat tamunya yang sepertinya tidak dikenalinya. Tapi lagi-lagi Naruto merasa Déjà vu.

"Kau tidak mengenaliku? Aku adalah…."

~TBC~

Lagi2 lama apdet...gomen ne...

Ah, baca aja deh...bentar lagi udah mau tamat...