Lost! Chapter 2
Fandom : Naruto
Story by : Yuuri Uchiha-Namikaze
Rate : M untuk sementara (mungkin)
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Summary:
Naruto yang kita kenal berkepribadian ceria dan selalu tersenyum walaupun semua orang menghinanya. Tetapi bagaimana kalau kepribadiannya berubah? Setting terlepas dari zaman ninja.
Warning:
SUPER DUPER EXTRA OOCness, GAJEness, GARINGness, SHOUNEN-AI, sedikit GORE!! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!!
have a nice read!^.^
o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
Normal POV
Keesokan harinya.
Semua sudah disiapkan oleh Pain. Ijazah palsu Naruto disiapkan atas nama sekolah yang dikelola Akatsuki, mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi. Karena umur Naruto yang masih 16 tahun, pendidikannya dipercepat agar tidak dicurigai. Sekolah Dasar selama 4 tahun, Sekolah Menengah selama 3 tahun dan Perguruan tinggi selama 2 tahun. Walaupun palsu, Pain yakin jika saja Naruto pernah sekolah, prestasinya pasti tidak akan berbeda jauh, atau bahkan bisa melebihinya. Tapi, untuk berjaga-jaga, Pain juga mengajarkan Naruto cara-cara membuat proposal dengan baik dan rapi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaannya nanti. Sekali lagi, Pain bersyukur atas kecerdasan otak Naruto dalam menyerap semua yang diajarkannya.
Kegiatan tersebut hanya berlangsung sekitar 3 hari. Akatsuki juga sudah mengirimkan surat lamaran kerja ke Uchiha Corp. yang memang membutuhkan pegawai baru dan mendapatkan balasan diterima dengan syarat harus melewati berbagai seleksi. Naruto disuruh mengikuti seleksi itu. Naruto lulus dengan mudah berkat otaknya yang cemerlang dan didikan dari Pain. Hal itu membuat kegiatan penyusupan menjadi lebih mudah.
Kemudian tempat tinggal Naruto dipindahkan ke Oto, kota di mana dia akan berkerja sebagai pegawai biasa di Uchiha Corp. Pain menyiapkan apartemen yang juga dikelola oleh Akatsuki. Kamar Naruto adalah kamar untuk satu orang. Fasilitasnya lumayan bagus. Ranjang Queen size, lemari pakaian, ac, kamar mandi, dapur sekaligus ruang makan dan rak-rak buku berisi buku-buku tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya (Pain yang menyiapkannya) serta tempat rahasia untuk menyimpan senjata-senjata milik Naruto. Letak apartemen itu tidak jauh dari bangunan Uchiha Corp. Jaraknya hanya sekitar empat rumah, jadi tidak membutuhkan kendaraan.
Pain menyadari akan keinginan membunuh Naruto yang tiada habisnya itu. Maka, Pain mengizinkan Naruto membunuh orang-orang di kota itu, tetapi hanya boleh satu orang sehari. Naruto menyanggupinya dengan setengah hati.
Maka dimulailah hari pertama rencana penyusupan seorang pembunuh sadis ke Uchiha Corp.
xXxXxXx
Pagi ini adalah pagi yang membosankan menurut Naruto. Bagaimana tidak? Mulai sekarang dia akan terus dikekang dengan aturan-aturan yang dibuat Pain untuknya. Dan juga dia harus membiasakan diri dengan kegiatan yang bernama bekerja. Oh, kalau bekerja artinya sama dengan membunuh, Naruto pasti akan sangat senang.
Dari apartemen, Naruto memakai kemeja berwarna biru yang sangat cocok dengan warna matanya dan celana berwarna hitam serta sepatu berwarna cokelat. Dilihat dari sudut manapun, hanya satu kata–sempurna. Tidak ada softlens, tidak ada wig, tidak ada penyamaran. Yang ada hanyalah Naruto Namikaze yang mulai hari ini berganti nama menjadi Naruto Uzumaki, marga dari ibunya. Walaupun ibunya juga seorang pembunuh, tetapi namanya tidak begitu dikenal. Hanya kelompok tertentu saja yang mengetahuinya. Ibunya hanyalah seorang pembunuh bayaran professional yang bersembunyi di balik baying-bayang. Dan kenapa tidak menggunakan penyamaran? Terlalu merepotkan jika setiap hari dia harus menggunakan wig atau soflens maupun bedak untuk menutupi tanda lahir di pipinya. Lagipula kota Oto letaknya sangat jauh dan tidak terlalu terbuka dengan kota atau desa lain seperti Konoha. Bagaimanapun juga kota Oto sudah sangat kaya. Bidang apapun selalu dikuasai kota ini. Itulah sebabnya kota ini menutup diri karena merasa tidak membutuhkan apa-apa dari kota lain. Dan karena itu pula, kota Oto tidak mengetahui informasi tentang anak seorang pembunuh yang sangat terkenal di dunia. Ini merupakan poin yang sangat menguntungkan Naruto maupun Akatsuki dalam kegiatan penyusupan yang sedang dilakukan saat ini.
Setelah menyiapkan beberapa peralatan yakni, pulpen, beberapa lembar kertas dan baju ganti (untuk persiapan kalau-kalau ada kejadian yang tak terduga) ke dalam tas jinjingnya serta HP dan dompet di kantong celananya, Naruto langsung pergi ke kantor Uchiha Corp. Mengapa tidak membawa senjata? Lebih baik tidak membawa untuk sekarang karena dia tidak boleh gegabah. Pain pernah mengatakan bahwa keamanan di sana sangatlah ketat. Jadi, paling tidak Naruto harus melihatnya dulu kemudian menyusun rencana sematang-matangnya.
Tidak sampai sepuluh menit, Naruto sudah tiba di pintu depan perusahaan terkemuka tersebut. Dari sinipun, keamanannya sudah lumayan ketat. Naruto harus menghadapi beberapa satpam bertubuh besar untuk diperiksa. Setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan, Naruto dipersilahkan masuk. Selesai mengabsen, ia menghela nafas panjang. Mulai detik ini dia harus merubah sedikit sifatnya yang tertutup itu menjadi lebih periang agar tidak dicurigai nantinya. Untunglah dia lumayan mahir berakting sehingga hal itu bukan masalah besar baginya. Naruto berjalan pelan. Ia harus tenang menghadapi 'tugas' ini. Ia berjalan mendekati lift karena tempatnya bekerja berada di lantai 3. Ketika melewati meja receiptionist, ada seseorang yang memanggilnya.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang reseiptionist yang memanggilnya. Rambutnya pirang diikat empat. Dia menggunakan baju seragam khusus receiptionist berwarna biru tua dengan rok sedikit di bawah lutut. Perangainya tegas dan penuh percaya diri. Wajahnya juga termasuk dalam kategori cantik. "Apakah anda tamu atau pegawai baru?" tanyanya lagi. Tentu saja wajah Naruto belum dia lihat sebelumnya.
"Saya pegawai baru! Nama saya Naruto Uzumaki! Salam kenal!" jawab Naruto dengan nada semangat sambil tersenyum ceria. Sang receiptionist tersenyum karena tingkah laku seseorang di depannya.
"Saya Sabaku no Temari. Panggil saja Temari. Sepertinya kau masih muda ya?" Tanya Temari. Dia memang bisa langsung cepat akrab dengan para pegawai biasa. Naruto mengangguk semangat.
"Iya! Saya baru berumur 16 tahun! Mohon bantuannya, Temari-san!!" seru Naruto sambil membungkuk sopan, masih dengan nada semangat dan senyum riangnya.
"Tentu saja, Uzumaki-san. Lebih baik sekarang kamu lekas bekerja. Nanti bisa-bisa kamu dimarahi di hari pertama lagi!" kata Temari dengan sedikit nada canda.
"Baiklah, Temari-san! Saya permisi dulu!" kata Naruto disambut senyuman lembut dari Temari. Naruto segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol nomor 3.
Setibanya di sana, Naruto sempat bertanya dengan seseorang dimana tempatnya bekerja. Orang itu langsung menunjukkan tempatnya. Naruto berterima kasih dan langsung berjalan ke kursinya. Dilihat ternyata sudah banyak pekerjaan menunggunya. Dengan sangat cekatan, Naruto mulai mengerjakannya. Dia sudah lumayan paham seluk-beluk pekerjaannya. Baru setengah jalan, Naruto merasa haus. Dia melihat di sekitarnya tidak disediakan minuman. Kemudian dia bertanya kepada seseorang disebelahnya.
"Permisi. Maaf mengganggu anda. Boleh saya bertanya, dimana saya bisa mendapatkan minuman?" Tanya Naruto berusaha sesopan mungkin. Orang yang ditanya menoleh. Seorang perempuan dengan rambut cepol dua dan berwajah segar serta terkesan tomboy.
"Kamu belum disediakan minum ya?" Tanya si perempuan. Naruto menggeleng. "Hhh… kamu ke ruang pantry saja. Kamu nanti lurus saja kemudian belok kanan. Nanti ada tulisannya kok." Jawabnya sambil tersenyum. Naruto segera mengucapkan terima kasih dan mengikuti petunjuk perempuan tersebut.
Sesampainya di sana, Naruto segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air kemudian meneguknya. Baru saja dia ingin mengambil air lagi, datanglah seorang laki-laki berambut pendek jabrik berwarna cokelat dengan tato segitiga merah di setiap pipinya sambil membawa sebuah gallon berisi penuh dengan air. Wajahnya penuh dengan keringat. Dengan tergesa-gesa dia langsung mengambil sebuah cangkir, setoples kopi, gula dan sebuah sendok. Kemudian dengan sangat cekatan dia meracik semua bahan-bahan itu, mencampurnya dengan air hangat lalu mengaduknya. Naruto tidak memperhatikan kegiatan orang itu. Dia sedang asik meneguk air yang entah sudah berapa kali. Lalu orang tersebut datang menghampirinya sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hangat yang barusan dibuatnya.
"Hai. Apakah… kau pegawai baru? Bisa…hh… minta tolong gak…?" tanyanya sambil ngos-ngosan. Kelihatan sekali dia sangat kelelahan. Naruto mengangguk. Melihat reaksi Naruto yang diharapkannya, laki-laki itu tersenyum senang. "Tolong… bawakan kopi ini… ke ruang Tuan Uchiha ya? Saya masih… banyak tugas lain. Anda tau dimana ruangannya?" tanyanya lagi. Kali ini Naruto menggeleng. Sepertinya dia belum terbiasa untuk banyak berbicara hari ini. "Anda… naik ke lantai 16… kemudian ikuti jalan… lalu belok kiri…hh… nanti akan ada pintu… yang dijaga oleh seseorang yang… memiliki pupil berwarna putih… disitulah ruangannya…hh… tolong ya…!!" jelas laki-laki itu sambil menyerahkan nampan itu ke tangan Naruto kemudian berlari (dengan sempoyongan) meninggalkan Naruto. Naruto segera menuju lift terdekat. Di dalam, Naruto menekan tombol 16 sambil berpikir bagaimana sikapnya nanti jika bertemu dengan 'calon korbannya' itu. Setelah berpikir beberapa lama, pintu lift terbuka. Terlihatlah lantai yang dilapisi karpet halus berwarna merah. Naruto langsung keluar dari lift itu dan memutuskan bahwa sikapnya nanti sama seperti ketika dia berbicara dengan receiptionist sebelumnya–pura-pura ceria. Baru beberapa langkah, terdengar suara derap langkah yang cukup cepat dan keras. Dengan tenang Naruto tetap melangkah perlahan. Tetapi, kemalangan di hari pertama justru menimpanya. Seorang wanita berambut pink cerah dengan iris mata berwarna hijau memukau yang tengah berlari tanpa sengaja menabrak Naruto tepat di depannya. Akibatnya, kopi yang sedang di bawa Naruto terjatuh pada kemeja biru Naruto. Menyadari hal itu, wanita tersebut langsung membalikkan badan menghadap Naruto yang sedang mengambil cangkir yang sempat terjatuh tadi.
"Maaf… saya tidak sengaja… maafkan saya.." kata wanita itu sambil membungkuk sopan. Naruto membalasnya dengan mengangguk. Kemudian wanita itu dengan cepat berlari menuju pintu lift. Walaupun sekilas, Naruto bisa melihat mata wanita itu mengeluarkan cairannya.
'Gawat. Kopinya…' Naruto langsung menuju lift yang lain karena lift yang dia pakai sebelumnya sudah turun ke lantai paling dasar. Cepat-cepat ia masuk ke lift yang kosong. Beruntung tidak banyak orang yang menggunakan lift hari ini. Segera ia menekan tombol nomor 3.
Begitu lift terbuka, Naruto langsung berlari ke meja kerjanya untuk mengambil tas. Kemudian dia berlari lagi menuju pantry. Di sana ia mengganti baju dengan kemeja yang dibawanya. Kemeja berwarna orange cerah sekarang menggantikan tugas kemeja birunya. Setelah itu ia langsung membuka lemari dan mencari setoples kopi dan gula. Sekarang semuanya berada di atas meja. Dia bingung apa yang harus ia lakukan terhadap bahan-bahan yang sekarang berada di depannya. Dia tidak memperhatikan sewaktu Office Boy itu membuat kopi. Dengan kata lain, dia tidak mengetahui dosis-dosis untuk membuat kopi yang disukai Uchiha itu.
'Sial! Bagaimana caranya nih?' Naruto merutuki dirinya sendiri. 'Kenapa tadi aku gak melihat si OB itu siih!?' Dengan teramat sangat kesal, dia mengambil 3 sendok kopi dan 1 sendok gula, kemudian mencampurnya dengan air hangat lalu mengaduknya. Dia bertekad mengambil risiko dimarahi oleh sang Uchiha daripada OB itu yang dimarahi. Tanpa dia sadari, tindakannya itu sangat bertolak belakang dengan hobinya yang tidak bisa diterima akal sehat tersebut.
Selesai membuat kopi, cangkir tersebut diletakkan di atas nampan dan ia langsung berjalan dengan cepat menuju lift. Dia menekan tombol panah yang mengarah ke atas. Setelah menunggu beberapa lama, pintu lift terbuka, memperlihatkan 2 orang pria yang sedang berbicara. Begitu mereka menyadari pintu lift sudah terbuka, alangkah terkejutnya mereka dengan pemandangan yang mereka lihat di depan pintu lift. Seorang pria muda yang sangat manis dengan balutan kemeja orange cerah yang tak lain adalah Naruto. Kemudian dengan imej tenang, kedua pria itu melewati Naruto. Samar-samar Naruto mendengar sedikit pembicaraan mereka.
"Anak itu manis juga. Mungkin saja dia bisa mengubah sedikit perilaku Tuan besar."
"Ya. Lagipula ciri-cirinya sangat persis dengan yang nenek tua itu katakan."
Naruto tidak ambil pusing dengan yang apa mereka katakan. Dia langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol 16, menunggu dan menunggu. Dan sekali lagi pintu lift terbuka. Naruto langsung berjalan cepat sambil mencari sebuah pintu yang dijaga seorang memiliki pupil berwarna putih seperti yang dikatakan si OB. Naruto membayangkan bahwa orang itu akan terlihat seperti orang buta.
Tepat seperti apa yang dibayangkan Naruto, pria berambut panjang dan memiliki pupil putih yang membuatnya terlihat seperti orang buta berdiri di depan pintu. Naruto segera menghampirinya.
"Permisi. Saya mengantarkan kopi ini untuk Tuan Uchiha." Kata Naruto sambil tersenyum ceria.
"Tunggu sebentar." Kata pria itu. Kemudian dia mengambil alat untuk memeriksa Naruto. Setelah dirasa aman. Pria itu mempersilahkan Naruto untuk masuk ke dalam.
Setelah Naruto masuk ke ruangan itu, pria tersebut langsung menutup pintu. Naruto tidak mempedulikan hal itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah, dimana Tuan Uchiha itu?
Yang dilihat Naruto sekarang adalah ruangan kosong berwarna putih dan beberapa kertas serta map berceceran. 'Mungkin ini bukan ruangannya.' Pikir Naruto. Kemudian ia melihat pintu berwarna hitam kelam. 'Mungkin ruangannya di sana.' Naruto berjalan menuju pintu berwarna hitam itu. Kemudian dia mengetok pintu itu dengan lembut agar tidak terlalu mengganggu jika ada orang di dalam.
Tok Tok Tok
"Masuk."
Dengan perlahan Naruto membuka pintu tersebut. Didalamnya terdapat seorang pria yang berumur sekitar 20-an sedang menulis sesuatu menggunakan tangan kiri. 'Dia kidal…' otak Naruto langsung mencatat segala informasi mengenai sang Uchiha muda. Kemudian pria itu menoleh ke arah Naruto. Uchiha itu lumayan terkejut dengan anugerah terindah Tuhan yang sedang berada di depan pintu ruangannya. Masih dengan senyum manisnya, Naruto berjalan mendekati meja Sasuke, membuat jantung Uchiha itu berdetak tidak karuan, tetapi dia tetap bisa mengendalikan raut wajahnya seperti tidak merasa apa-apa. Naruto meletakkan kopinya di sudut meja.
"Maaf, tuan. Tadi kopinya jatuh. Karena para OB sedang sibuk, maka kopi ini saya buat sendiri. Maaf kalau kurang enak. Saya tidak mengetahui selera Anda seperti apa." Kata Naruto dengan nada riang dan tak lupa senyumnya yang paling manis. Sasuke langsung menyadari perasaannya. Bahwa hatinya telah direbut oleh sang malaikat pirang yang memiliki senyum paling manis itu. Andai saja dia mengetahui siapa sebenarnya Naruto, panggilan malaikat tidak akan cocok untuknya. Mungkin lebih pantas dengan sebutan utusan dewa kematian. "Permisi." Pamit Naruto. Belum sempat ia membalikkan badan, tangan Sasuke mencegahnya.
"Siapa namamu?" Tanya Uchiha tersebut.
"Nama saya Uzumaki Naruto! Salam kenal, Tuan Uchiha! Saya pegawai baru mulai hari ini. Mohon bantuannya!" jawab Naruto dengan semangat. Walaupun semua yang dia lakukan hari ini hanyalah sekedar akting belaka, semuanya sangat meyakinkan.
"Hmm… Uzumaki Naruto ya… Baiklah, kau boleh keluar." Perintah Sasuke sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih Tuan. Permisi." Naruto membungkuk sopan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu, sekaligus seseorang yang masih memperhatikannya dengan senyum yang jarang ia perlihatkan. Sasuke menghirup kopinya perlahan.
"Manis…" Sepertinya mulai saat ini dia akan sedikit menyukai rasa manis. Kemudian dia menekan sebuah tombol. "Sabaku-san, tolong beritahu saya di lantai mana Uzumaki Naruto bekerja."
"Baik, Tuan Uchiha." Terdengar suara dari seberang sana. "Uzumaki Naruto bekerja di lantai 3. Meja kerjanya tepat di samping Tenten."
"Terima kasih, Sabaku-san." Sasuke menutup pembicaraan sambil tersenyum lagi. Kemudian ia melirik jam tangannya. "Baru jam 11 ya…" ia menghela nafas sebentar. "Nanti sajalah. Toh sebentar lagi aku selesai." Lalu ia meneruskan pekerjaannya.
XxXxXx
Naruto duduk dengan tenang di kursinya, tetapi juga sedikit gelisah. Pekerjaannya ada yang tidak ia mengerti. Seingatnya Pain belum pernah mengajarkannya pada bagian ini. Dia ingin bertanya kepada orang lain yang berada di dekatnya. Tapi niat itu diurungkannya karena semuanya sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Sekarang Naruto jadi bingung sendiri. Bagaimana bisa ia menyelesaikan tugasnya dengan cepat kalau dia sendiri tidak mengerti? 'Oh great! Sepertinya mulai nanti sore aku harus banyak belajar. Cih, aku kehilangan waktuku untuk mencari korban lain! Sial!!' batin Naruto frustasi sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan itu.
"Ada apa, Uzumaki?" Tanya seseorang dengan lembut.
"Ano, bagian ini bagaimana mengerjakannya?" Tanya Naruto sambil menunjuk ke arah monitor tanpa menoleh kepada si penyapa. Alangkah kagetnya dia begitu merasa sesuatu yang hangat menyentuh tangannya yang satu lagi yang sedang memegang mouse. Ternyata itu adalah tangan seseorang yang tadi sempat menawarkan bantuan, Uchiha Sasuke, sang direktur utama Uchiha Corp. sekaligus korban tetapnya.
"Hmm… bagian yang ini caranya…" Sasuke menjelaskan sekaligus mencontohkan cara-cara mengerjakannya. Mouse Naruto digunakan Sasuke tanpa melepas tangan si pirang, malah digenggam erat agar tidak lepas dari 'pegangannya'. Sekarang posisi Sasuke berada tepat di belakang Naruto dan secara tidak langsung badan bagian depan Sasuke menyentuh punggung Naruto. Naruto sedikit mengernyit ketika nafas Sasuke menyapu lehernya. Dan jujur, Naruto tidak menyukainya. Semua tindakan Sasuke membuatnya tidak nyaman. Walaupun begitu, dia mencoba tetap fokus dengan apa yang Sasuke jelaskan.
"Kau sudah mengerti?" Tanya Sasuke sambil tersenyum. Oh, sungguh pemandangan yang jarang didapat di manapun.
"Saya sudah mengerti, Tuan. Terima kasih!." Tak lupa senyum Naruto yang paling manis.
"Baguslah kalau begitu." Kata Sasuke sambil mengelus lembut rambut pirang Naruto. Naruto masih tersenyum lugu. "Kalau ada kesulitan lagi, kamu bisa memanggil saya."
"Baiklah, Tuan. Terima kasih!" kemudian Sasuke pergi meninggalkan meja Naruto. Senyum yang tadi sempat menghampiri wajahnya yang tampan itu telah sirna seiring langkahnya yang semakin menjauh. Naruto bernafas lega. Andai saja dia tidak bisa menahan diri, mungkin saja dia sudah membunuh Sasuke di tempat. Kemudian dia merutuki pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin bisa membunuh di tempat tanpa membawa senjata?
"Aneh…" kata seseorang di sebelah Naruto, Tenten. Naruto menoleh. Ternyata daritadi Tenten melihat kejadian barusan. "Sejak kapan Tuan Uchiha tersenyum untuk orang lain bahkan orang itu adalah seorang pegawai baru? Pegawai lama seperti kita saja tidak pernah tuh!? Ya kan, Ino?" lanjutnya lagi. Ternyata dia sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita berambut pirang pucat diikat kuda dengan poni menutupi salah satu matanya yang duduk di sebelah Tenten.
"Iya. Hei kau!" panggil Ino ke Naruto.
"Ya?" balas Naruto.
"Hebat banget kamu bisa membuat Tuan Uchiha tersenyum! Ini baru pertama kali kami melihatnya. Kamu tau apa yang membuatnya tersenyum?" Tanya Ino.
"A-aku tidak tau… benarkah Tuan Uchiha jarang tersenyum? Padahal sewaktu aku datang ke ruangannya, dia selalu tersenyum kok." Jawab Naruto. Hal itu membuat Tenten dan Ino terkejut.
"Bagaimana bisa dia tersenyum? Satu-satunya yang bisa membuatnya tersenyum hanyalah keluarganya. Orang tuanya meninggal ketika dia masih 6 tahun. Dan kakaknya beberapa bulan ini dikabarkan hilang. Atau jangan-jangan..." Ino mulai tersenyum aneh, kemudian membisikkan sesuatu ke Tenten. Lalu, Tenten juga tersenyum seperti Ino, sama-sama aneh. Naruto sedikit bergidik melihatnya.
"Selamat berjuang ya, err… siapa namamu?" Tanya Tenten.
"Uzumaki Naruto. Salam kenal." Jawab Naruto dengan sedikit nada bosan. Hari ini banyak sekali kata-kata itu yang keluar.
"Hmmm… boleh kami memanggilmu Naruto? Supaya lebih cepet akrab gitu. Panggil saja aku Ino dan ini Tenten." Kata Ino memperkenalkan dirinya dan temannya. "Selamat berjuang ya, Naruto! Ganbatte kudasai!!" lanjutnya.
"Eh? Kenapa?" Tanya Naruto sedikit bingung.
"Aih~ masa' kamu gak tau maksud kita-kita sih?!" jawab Tenten sambil terkekeh dengan Ino. Naruto tidak ambil pusing dengan perkataan mereka. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Tenten dan Ino masih asyik berbicara sambil sesekali tertawa kecil.
XxXxXx
Siang berganti malam. Naruto kembali menjadi seorang pembunuh sadis, bukan lagi sebagai pegawai kantoran yang ceria. Sesuai perjanjiannya dengan Pain, dia diperbolehkan membunuh HANYA satu korban setiap harinya. Sekarang dia sama sekali tidak keberatan dengan perjanjian itu. Waktunya untuk membunuh juga sangat sedikit, kemungkinan hanya bisa membunuh maksimal dua korban. Lebih baik ada daripada tidak sama sekali.
Walaupun jarak dari apartemen ke kantornya tidak jauh, tidak ada alasan untuk tidak membawa mobil sport merahnya. Sekarang mobil itu akan berguna. Malam ini, Naruto akan memburu korban lagi. Penyamaran sama seperti biasa. Dia tidak ingin ada seorangpun melihat wajahnya yang sebenarnya ketika membunuh. Wakizashi(1) kesayangannya pun tak lupa dibawanya, tepatnya di samping kiri tubuhnya agar mudah diambil dari tempatnya. Benda itu sudah diasah sampai benar-benar tajam agar bisa memotong dengan mudah. Setelah selesai semua persiapan, dia segera mengendarai mobilnya. Menuju ke sudut kota yang gelap.
***
Suasana gelap mencekam di sudut kota. Angin berhembus menimbulkan suara gemerisik dari hutan-hutan di sekitarnya. Hanya ada satu rumah kayu yang sangat sederhana berdiri kokoh di sana. Tentu saja. Siapa yang mau tinggal di tempat seperti itu?
Namun, hal itu justru hal yang disukai pria muda berambut pirang yang baru saja turun dari mobilnya. Dia membawa sebuah karung yang lumayan besar. Untuk apa? Untuk 'pekerjaannya' kali ini. Hampir sewaktu melaksanakan 'pekerjaannya' dia membawa benda itu.
Perlahan dia menghampiri satu-satunya rumah yang ada. Hanya ada seorang penghuni di sana yang mau tak mau akan menjadi 'mangsa' sang pemuda pirang malam ini. Sesampainya di depan pintu, si pemuda menyempatkan diri untuk mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
"Siapa?" terdengar suara berat dari dalam rumah.
"Permisi, boleh saya pinjam toiletnya sebentar?" Tanya Naruto dengan suara yang sedikit diubah. Kemudian pintu rumah itu terbuka. Tampaklah seorang pria berumur hampir 30an dengan rambut acak-acakan.
"Masuklah. Toiletnya dekat dapur, paling belakang."
"Terima kasih." Naruto langsung masuk ke dalam, kemudian ia berjalan pelan. Tujuan sebenarnya bukanlah toilet. Setelah sang pemilik rumah menutup pintu, Naruto berhenti berjalan. Dia langsung menoleh ke arah pria tersebut.
"Ng.. kalau kamu mau ke toilet silahkan saja. Gak usah sungkan." Kata pria tersebut sambil berjalan menuju sofa. Tetapi langkahnya terhalangi oleh tubuh Naruto. Dengan cepat Naruto langsung memojokkan pria tersebut ke dinding. Tangan kirinya menyentuh dinding, tepat di samping kepala si pria. Tangan kanannya menggenggam wakizashi kesayangannya. Siap melakukan penyerangan.
"Hei!! Apa yang kau…"
CRASH!!
Darah mengucur deras dari tubuh pria itu. Luka yang panjang dan dalam itu membuat pria itu terjatuh lemah. Sedangkan Naruto sedikit memperpanjang jarak di antara mereka agar dia bisa lebih leluasa bergerak. Wakizashinyapun sudah berlumuran darah segar. Masih belum puas, Naruto segera 'menggoreskan' wakizashinya ke tubuh si pria, lagi.
CRASH!! CRASH!!
Darah kembali mengalir deras dari tubuhnya. Luka yang dibuat Naruto semakin panjang dan dalam. Samar-samar terlihat organ tubuh bagian dalamnya. Pria itu berusaha berontak. Namun tubuhnya yang sudah terlalu banyak mengeluarkan darah membuatnya lemas. Tangannya menggenggam erat lengan Naruto hingga kukunya melukai kulit tan Naruto. Kakinya juga berusaha mendorong Naruto menjauh.
KRAK!!
"AAAAKKH!!!"
Karena merasa terganggu, Naruto menginjak kaki pria tersebut hingga menimbulkan suara yang memilukan. Tetapi pria tersebut masih berusaha memberontak. Dengan kasar, Naruto merobek perut pria tersebut…
SRAAT!!
"GAAAAHH!!!"
…dan menarik paksa ususnya keluar.
"To… tolong hentikan… saya mo–AAAAAKH!!!"
'Ternyata orang ini kuat juga. Dia masih hidup. That's good then.' Naruto tersenyum mengerikan. Kemudian wakizashinya dihadapkan ke wajah pria itu. Menggoreskannya sedikit, dan berusaha mengeluarkan salah satu bola mata pria itu.
"AAAKH!! To…long… ja…ngan…"
Berhasil. Bola mata itu sudah keluar dari kantungnya. Bosan dengan kegiatan tersebut, Naruto mencari-cari sesuatu. Matanya terhenti pada sebuah meja kecil. Dengan cepat Naruto mengambil meja tersebut.
BRAAKK!!!
Naruto memukul kepala pria itu dengan meja tersebut. Darah mengucur dari sana. Dan pria itu mati seketika.
"Ah.. kukira masih bisa hidup." Komentar Naruto sambil meletakkan kembali meja tersebut, yang sudah hancur dibuatnya. Naruto langsung menancapkan senjatanya itu ke lokasi jantung untuk lebih mempertegas dugaannya bahwa si pria itu hanya tinggal seonggok daging dan tulang. Dengan sigap Naruto langsung melaksanakan langkah terakhirnya: memotong-motong tubuh itu menjadi beberapa bagian kecil dan memasukkannya ke dalam karung yang sudah ia persiapkan.
BRAK!! BRAK!!
Sekilas, Naruto seperti penjual daging yang sedang memotong daging pesanan pelanggan. Bedanya, daging yang dipotong ini adalah daging manusia, dan tidak ada seorang pun yang memesannya.
Setelah selesai semuanya, Naruto memasukkan daging-daging tersebut ke dalam karung. Kemudian ia keluar dari tempat itu. Sedikit memasuki hutan, Naruto melempar karung tersebut sampai masuk ke jurang yang gelap. Samar-samar terdengar suara geraman dari beberapa binatang di sana. Naruto sama sekali tidak peduli akan itu.
Kemudian dia kembali ke dalam rumah itu. Menghapus bukti-bukti seperti darah dan sidik jari. Setelah selesai semua, Naruto pergi meninggalkan rumah kosong itu dan masuk ke mobilnya. Dengan kecepatan tinggi, Naruto benar-benar meninggalkan tempat itu dan tidak akan kembali lagi, pasti.
XxXxXxXx
Paginya, Naruto sudah siap melakukan aktivitasnya, bekerja. Atau lebih tepatnya menyusup. Dia berangkat lumayan pagi, sekitar jam 7. Padahal biasanya kegiatan tersebut dimulai pada jam 8. Entahlah. Mungkin dia hanya ingin menghirup udara pagi lebih cepat.
Bangunan tersebut masih sepi. Tentu saja. Masih terlalu pagi untuk bekerja. Naruto menghela nafas. Mempersiapkan mental dan segala sesuatu yang mungkin saja terjadi. Merubah sifatnya lagi. Menurutnya itu adalah hal yang tidak terlalu rumit.
Dengan perlahan dia memasuki bangunan itu. Ternyata bukan hanya dia yang datang pagi. Sang receiptionist juga sudah stand by di tempatnya. Tersenyum ramah pada Naruto. Naruto membalasnya dengan senyum manisnya. Baru saja dia ingin menghampiri Temari untuk sekedar mengabsen dan menyapa, tiba-tiba pundak kirinya ditepuk pelan. Naruto menoleh, dan sangat kaget melihat orang tersebut adalah Uchiha Sasuke. Uchiha itu tersenyum tipis kepada Naruto. Sebagai pegawai yang baik, haruslah beramah-tamah dengan sang direktur utama perusahaan.
"Selamat pagi, Uzumaki. Mengapa kau datang sepagi ini?" Tanya Sasuke. Tangan kanannya masih dibiarkan berada di pundak mungil Naruto.
"Selamat pagi, Tuan Uchiha. Saya datang pagi hanya karena ingin saja. Hehe.." jawab Naruto sambil tertawa manis. Sasuke terdiam sejenak. Menikmati pemandangan pagi hari di hadapannya.
"Oh ya, Uzumaki. Nanti tolong kamu saja yang membuat kopinya ya. Sekalian mengantarkannya juga. Dan panggil saja saya Sasuke." Jelas Sasuke sambil tersenyum lembut. "Dan boleh saya memanggilmu Naruto?"
"Tentu saja, Tuan Sasuke! Eh? Anda menyukai kopinya?" Tanya Naruto heran. Sasuke hanya tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepalanya, sangat sedikit. "Baiklah, nanti saya buatkan dan antarkan kopinya. Permisi Tuan Sasuke." Pamit Naruto sambil melepaskan diri dari sentuhan lembut Uchiha itu. Kemudian dia berjalan mendekati meja receiptionist dan Sasuke langsung pergi menuju lift dengan raut wajah yang seperti biasa, dingin. Bibir Temari megap-megap seperti ikan mas kekurangan oksigen melihat peristiwa pagi tersebut. Dia amat sangat kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa ia melihat senyum sang Uchiha tersebut dengan mudahnya? Terlebih lagi senyuman itu ditujukan kepada seorang pegawai yang baru masuk kemarin!!
"Temari-san, ada apa?" Temari langsung tersadar dari pikirannya ketika Naruto menyadarkannya dengan menggerakkan pergelangan tangannya di depan wajah Temari. Temari langsung menatap Naruto dari atas sampai bawah. Naruto terlihat sangsi juga.
'Hmm… kalau dilihat lagi anak ini memang pembawaannya manis. Jangan-jangan Tuan Uchiha menyukai anak ini? Mungkin juga sih. Oh, aku turut gembira kalau begitu!' batin Temari. Seringaian a la fujoshi bermain di wajahnya. Naruto hanya menatap Temari heran. "Naruto, semoga kau tidak mengecawakanku dan beliau." Gumam Temari pelan. "Ehem! Naruto, ada apa?" tanyanya kepada Naruto, yang masih menatapnya dengan heran.
"Eemm… gak papa kok, Temari-san. Saya hanya mau absen." Jawab Naruto lembut. Temari langsung mengisi daftar hadir sambil tersenyum senang. Dia yakin Naruto bisa merubah sedikit perasaan tuannya tersebut. Kemudian Naruto segera menuju lift karena sedikit illfil dengan raut wajah Temari.
Hari sudah semakin siang. Naruto tau bahwa pada saat seperti ini dia harus segera menyiapkan kopi untuk sang Uchiha. Dengan cepat dia pergi ke ruang pantry, membuat kopi, dan menuju lift. Lift itu kosong. Selalu saja begitu. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke dalam dan menekan tombol 16.
Seperti kemarin, dia diperiksa oleh Hyuuga agar diperbolehkan masuk ke ruangan sang direktur utama. Setelah selesai, dia langsung menuju ke ruangan Sasuke. Dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya juga sama seperti kemarin, Sasuke sedang mengetik komputer dengan menggunakan tangan kiri. Sasuke tersenyum lembut kepada Naruto, dan dibalas dengan senyuman yang manis.
"Permisi Tuan Sasuke. Saya mengantarkan kopinya." Naruto berjalan perlahan mendekati meja Sasuke, kemudian meletakkan kopinya di sana. Dengan cepat tangan Sasuke menarik tangan Naruto. Tidak sengaja, Sasuke menariknya terlalu keras sehingga Naruto jatuh ke tubuhnya.
"Tu… Tuan??" Naruto mengangkat wajahnya, ternyata sedari tadi mata onyx itu menatapnya lekat-lekat. Mata itu menatapnya lembut, menawarkan banyak kasih sayang. Naruto menyadari hal itu. Naruto berusaha mempertambah jarak di antara mereka, tapi sayangnya tidak bisa. Sasuke memeluk Naruto erat. Kemudian tangannya membelai lembut pipi tan Naruto. Naruto benar-benar tidak mengerti apa maksud perlakuan Uchiha ini terhadapnya.
"Hei Naruto. Kau mau menjadi asistenku?" tanya Sasuke dengan nada lembut dan tanpa basa-basi. Naruto terperangah atas tawaran tersebut.
'Oh, holyshit…'
-
TBC
Footnote:
(1) Wakizashi adalah pedang Jepang tradisional dengan panjang mata bilah antara 30 dan 60cm (antara 12 hingga 24 inci), serupa tetapi lebih pendek bila dibandungkan dengan katana yang sering dikenakan bersama-sama.
BEHIND THE SCENE
"Tu… Tuan??" Naruto mengangkat wajahnya, ternyata sedari tadi mata onyx itu menatapnya lekat-lekat. Mata itu menatapnya dengan lembut, lalu bibir mereka semakin mendekat dan…
"Nhh… Sasu…ja…ngan… nhh…"
Sutradara : Cut! Cut!! CUUUTT!!!! Woi!! Gak ada di naskah geblek!! Siapa yang mulai duluan?!!
Naru : *lepas dari Sasu* Sasu pak… tadi dia yang menekan kepala saya supaya mendekat…*provokator nih!*
Ri : SASUKEMPREEEEEEETTTT!!!! NGAPAIN LO NGELAKUIN KAYAK GITU HAAAAHH???!!!
Sasu : Emangnya napa? Kan bisa diulangin lagi. Istirahat aja dulu.*nyante*
Ri : Elo… emang… PERVERT!!! SINI LO!! GUE CINCANG-CINCANG BIAR TAU RASAAAAAAA!!!!*ngejar Sasu sambil bawa golok*
Sasu : WWOOOOOIII!!! Kalau gue elo cincang, trus yang jadi gue di chap selanjutnya sapaaaaaaaaaaa????!!!*lari-lari kayak dikejar penagih utang-??-*
Yuu : *muncul tiba-tiba* Hmm… yang jadi Sasunya… aku aja ya?
Sasu : *berhenti* Emang bisa? Gue kan cakep, keren, kul, elo mah kagak bisa!!
Yuu : Waduh~ narsis banget lo! Atau di chap berikutnya kamu kumatiin aja ya???*ngancem*
Sasu : Eh? Jangan dong!! Nanti kan aku gak bisa lemonan sama Naru…
Naru : *blushing* A…aku gak mau… nanti aku sakit lagi… Yuu… jangan ya?
Yuu : Tenang aja Naru. Gak bakal kok! Sasu, kalau kamu gak mau kumatiin, jangan kayak tadi lagi!! Ngerti lo!!??
Sasu : Hn…
Ri : *muncul lagi* Hmm… kalaupun elo udah jadi anak baik, belum tentu elo bakal tetep idup nantinya! Khukhukhukhu…
Sasu : EEEEEEHHHH!!!?? Kok gitu sih??!
Ri : Loh kok marah? Authornya kan gue!! Terserah gue dong!! Gue kan benci banget ama elo!! Jadinya pingin matiin elo deh!!!
Sasu : Jangan dooooong…*memelas*
Yuu + Ri : Uuuummm… TAU DEH!!!
Balasan Review :
AkanekoTeme-Dobe UchiMaki : Makasih reviewnya senpai!!!^^ Kalau yaoi saya belum berani buat… mungkin Shounen-ai aja kali ya…
Raiko Azawa : Makasih reviewnya senpai!!!^^ Iya hehehe… salah ngetik atau memang gak tw ya…??*dijitak*
The owl : Makasih reviewnya!!!^^ Hee?? Masa' sih?? Apa namanya?? Eerr… senjatanya saya gak tau bentuknya kayak gimana… Gomen… tapi sudah saya ganti wakizashi tuh… sekali lagi Gomen..!
Tamaru ariki : Makasih reviewnya!!^^ Iya, di sini Narutonya dibuat sadis. Romancenya ada kok! Tenang aja!! Cara buat fic? Udah bisa kan??*dijitak* kalau mau, tanyakan pada senpai-senpai yang sudah ahli! Pasti hasilnya keren deh!!
heri the weird : Makasih reviewnya!!!^^ Menurut saya Naruto gimanapun tetep keren!! Tapi Naruto gak dapat partner. Misi sukses? Sasuke mati? Hohoho… liat aja ntar..*digampar*
Naara Akira : Makasih reviewnya!!!^^ Iya nih. Gaara gak jadi dibunuh. Aksi Naruto nanti? Hehehe… liat aja nanti…*ditendang*
Light-Sapphire-Chan : Makasih reviewnya senpai!!^^ Segini udah kejam belum?? Atau mau yang lebih kejam lagi? Tapi kayaknya di chap depan Naruto makin jarang ngebunuh… Naruto mau gimanapun juga emang kereeeeeennzz banget!!
Verga : Makasih reviewnya!!!^^ Nih udah lanjut!
chaz no danna : Makasih reviewnya!!!^^ Nih udah apdet meeennn!!
Terima kasih untuk para reader dan reviewer yang sudah meluangkan waktunya untuk melihat fic gaje ini!!! Hiks… saya terharu…T,T. Maafkan saya jika ada kata yang kurang berkenan serta kesalahan-kesalahan lainnya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya!!! Oh ya, maksud dari behind the scene itu hanya pelampiasan saya karena udah buat fic aneh ini sekalian membashing Sasuke. Dan sekali lagi, Terima Kasih!!!^^
