Lost! Chapter 3

Fandom : Naruto

Story by : Yuuri Uchiha-Namikaze

Rate : T

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning:

SUPER DUPER EXTRA OOCness, GAJEness, GARINGness, SHOUNEN-AI!! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!! Anda sudah diperingatkan!!

have a nice read! ^u^

o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

'Sial!! Bagaimana ini? Aku harus cepat-cepat memberitahukan hal ini pada Pain!!' batin Naruto sangat gelisah sambil mengambil HPnya dengan tergesa-gesa.

Flashback

"Hei Naruto. Kau mau menjadi asistenku?" tanya Sasuke dengan nada lembut dan tanpa basa-basi. Naruto terperangah atas tawaran tersebut.

'Oh, holyshit…' batin Naruto 'Aku harus menolaknya!! Harus!! Bisa gawat kalau aku terlalu dekat dengannya! Makin mempersulitku untuk segera kabur setelah membunuhnya!'

"Maaf, Tuan. Saya menolak tawaran Anda." Jawab Naruto tenang. Sasuke menghela nafas. Dia sudah menduga jawaban itulah yang akan keluar dari bibir Naruto.

"Kenapa?" Sasuke sama sekali tidak melonggarkan pelukannya. Malah makin mempereratnya. Tanpa Naruto sadari, dia sebenarnya menikmati pelukan sang Uchiha.

"Eeeerr… karena… saya masih baru dan… belum mempunyai banyak pengalaman kerja. Lagipula… dengan kemampuan saya yang sekarang, mana mungkin saya akan mengerjakan tugas asisten dengan baik?" jawab Naruto. Berharap jawabannya itu dapat membuat Sasuke menarik kembali tawarannya.

"Tidak. Saya rasa kemampuanmu sudah sangat baik. Bahkan belum tentu karyawan lama kemampuannya sama atau mendekati kemampuanmu. Saya jamin itu." Jawab Sasuke tegas.

"Ta—tapi…"

"Apa?" Tanya Sasuke sambil mengecup pelan kepala Naruto. Sungguh perilaku yang berani mengingat mereka tidak—atau belum mempunyai ikatan khusus. Naruto yang sibuk berpikir alasan tidak menggubris perilaku sang atasan.

"Eeerr… tapi saya…"

"Sepertinya kamu kehabisan alasan, Naruto." Tangan kanan Sasuke membingkai wajah manis Naruto sambil tersenyum lembut. "Mulai besok kamu menjadi asisten pribadi saya dan meja kerjamu ada di ruang sebelah."

End of flashback

Tut tut. Cklek. "Halo?"

"Pain! Ini aku!"

"Naruto-sama? Ada apa? Apa misinya sudah selesai?"

"Bukan itu! Aku dapat masalah! Kamu sekarang ada di mana?"

"Di restoran yang dulu. Masalah apa, Naruto-sama?"

"Aakh!! Nanti kujelaskan di sana! Pokoknya kau harus bantu aku! Aku akan ke sana sekarang!!"

"Baiklah baiklah." Cklek. Sambungan terputus.

***

Di Restoran milik Akatsuki.

"Apa masalahnya, Naruto-sama?"

"Begini Pain, mulai besok aku resmi menjadi asisten baru Uchiha!!" seru Naruto sambil memukul meja tanda gusar. Pain sangat terkejut mendengarnya.

"Bagaimana bisa?!"

"Ghaaakh!! Pokoknya intinya begitu! Aku juga nggak tahu bagaimana bisa!!" Naruto mengacak rambutnya frustasi.

"Sifat egois Uchiha." Seorang wanita anggun berambut biru yang baru saja datang ikut serta dalam pembicaraan kedua pria itu.

"Apa maksudmu, Blue Rose?" Tanya Pain kepada wanita itu.

"Sepertinya Uchiha tertarik denganmu, Naruto-sama." Jawabnya tenang.

"Tertarik? Kenapa?" Tanya Naruto penasaran.

"Entahlah. Saya kurang tahu. Akan tetapi jelas dia tertarik denganmu." Blue Rose mengambil tempat duduk di sebelah Pain. "Dan Uchiha itu pasti akan berusaha untuk mendapatkan apa yang dia mau."

"Haha…. Bagus. Sekarang akan sangat-sangat sulit untuk membunuhnya. Selain aku akan susah untuk kabur, bisa-bisa aku menjadi tersangka utama pembunuhan. Oh great!!" seru Naruto geram.

"Bagaimana kalau dialihkan saja?" Tanya Pain.

"Dialihkan? Maksudmu mengalihkan tuduhan, begitu?" balas Naruto.

"Yaa seperti itu. Kita alihkan tuduhan tersangkanya ke orang yang dekat dengannya—selain kamu tentunya." Jelas Pain.

"Itu sulit, Pain." Kata Blue Rose. "Orang terdekat selain Naruto-sama adalah sang bodyguard, Neji Hyuuga. Dan keluarga Hyuuga adalah keluarga yang melayani keluarga Uchiha sejak beberapa generasi yang lalu dan tentu sudah sangat dipercaya oleh keluarga Uchiha. Bisa dipastikan dia akan terlepas dari tuduhan tersangka pembunuhan." Jelasnya.

"Hmm… atau kita buat suatu 'tokoh' lalu kita alihkan tuduhannya ke 'tokoh' ini?" Tanya Pain lagi.

"Apa maksudmu dengan 'tokoh'?" Tanya Naruto.

"Maksudku seperti… tokoh pembunuh sadis?"

"Bukankah itu mirip denganku?"

"Ya, tapi 'tokoh' ini sedikit berbeda." Naruto dan Blue Rose mendengarkannya dengan seksama. "Si 'tokoh' lebih berani menunjukkan jati dirinya. Dia seperti menantang polisi untuk menangkapnya." Jelas Pain.

"Jadi maksudmu dia itu pembunuh yang bosan hidup?" Tanya Blue Rose.

"Bukan begitu. Dia seperti suka mempermainkan polisi dengan membunuh orang-orang tanpa pandang bulu dan meninggalkan bukti-bukti yang membingungkan."

"Hei, sepertinya idemu menarik juga. Kapan kita akan membuat 'tokoh' itu?" Tanya Naruto.

"Malam ini. Sekaligus untuk menghilangkan nama seorang Naruto Namikaze. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga denganmu, Naruto-sama."

"Tapi ingat Naruto-sama, ketika kamu menjadi asisten Uchiha, turuti apa kata-katanya. Ketika dia marah karena kesalahan pegawainya, maka dia tidak akan segan-segan untuk memecatnya. Jadi jangan pernah membuatnya marah, atau kau akan dipecat. Dengan kata lain penyusupan gagal. Dan kamu tahu artinya bukan…?" Jelas Blue Rose.

"Penyusupan otomatis gagal. Aku tidak bisa membunuhnya, dan itu sama saja dengan nyawaku terancam. Benar bukan?" balas Naruto.

"Ya, tentu. Dan kami juga memutuskan waktu paling lama kau berhasil membunuhnya adalah selama 2 tahun. Kalau kau gagal… ya~ seperti yang tadi kau bilang." Kata Pain.

"Tidak masalah. Toh aku tidak memerlukan waktu sebanyak itu. Sudahlah. Bukankah kita harus segera bersiap-siap? Aku ingin semuanya cepat selesai."

"Baik, Naruto-sama."

***

Malam hari di Konoha.

Terlihat seorang pemuda berambut panjang tipis dan berwarna merah darah, beriris merah dan memiliki 'sesuatu' yang berada di samping celana panjang cokelatnya, sedikit tertutupi dengan kaos merahnya. Dia melihat sekelilingnya. Lumayan ramai. Banyak orang yang berlalu-lalang dikarenakan malam ini adalah malam minggu. Hari di mana waktunya berkumpul bersama, keluarga, kerabat ataupun kekasih. Berbeda dengan pemuda ini. Dia hanya sendirian.

Tetapi ternyata bukan dia saja yang sendirian. Seorang pemuda berambut coklat berantakan dan beriris hitam juga sendirian. Dia berjalan tanpa tujuan, sepertinya. Pemuda pertama tersenyum senang. Kemudian dia menghampiri pemuda itu. Dan tanpa aba-aba lagi…

CRASH!!

Sang pemuda merah menancapkan wakizashinya ke leher pemuda cokelat itu.

"KYAAAAAA!!"

"WAAAAA!!"

"PEMBUNUUH!!"

Suasana kota ramai itu menjadi sangat ramai, diselimuti kepanikan dan ketakutan yang amat sangat.

"BERHENTI!! JANGAN ADA YANG BERGERAK KALAU MASIH SAYANG NYAWA!!" seru si pemuda merah. Semuanya terdiam, tentu saja. Pemuda itu menodongkan pistolnya ke segala arah. Kemudian dia berbicara lagi dengan datar namun keras, "Bagus. Dengarkan, semuanya!" hening sejenak. "Ini bukan kali pertamanya aku membunuh manusia. Hanya saja kalian terlalu bodoh untuk mengetahuinya." Semuanya terkejut. "Heh! Aku akan mengakui suatu hal pada kalian semua. Yang melakukan pembunuhan di Konoha-Suna adalah aku. Yaaah~ sekarang kalian—para polisi gak perlu lagi mencari-cari tersangka." Pemuda itu menarik wakizashinya dan membersihkannya dengan kedua jarinya. "Dan perlu diperingatkan lagi, ini bukan wajah asliku. Tapi tenang saja. Aku akan meninggalkan bukti-bukti yang bisa menjadi petunjuk kalian nanti. Walaupun aku nggak yakin kalian bisa menangkapku sih…" kemudian dia memasukkan lagi wakizashinya ke tempat semula. "Ehem! Senang bertemu dengan kalian semua. Semoga kita bertemu lagi, ignorant masses." Tiba-tiba ada sebuah helikopter yang menurunkan tali berbentuk tangga di dekat pemuda itu. Lalu si pemuda menaikinya sedikit kemudian menoleh ke seluruh manusia yang ada di sana. "Ah… satu hal lagi. Aku akan memindahkan targetku ke Oto. Kutunggu di sana, para polisi beserta detektifnya." Helikopter itu kemudian pergi meninggalkan kerumunan massa yang masih ketakutan itu. Setelah menjauh, para warga langsung ribut dengan kepanikan yang masih terasa.

"Bagaimana ini? Keluargaku ada yang di Oto.."

"Siapa sih sebenarnya dia? Untuk apa membunuh tanpa motif seperti itu…?"

"Jangan-jangan… dia itu…"

"Benar juga!! Dia tidak pernah keluar lagi...!"

"Tapi itu bukan berarti dia kan…?"

"Pasti dia!! Tidak salah lagi! Bukankah orangtuanya itu psikopat?! Anaknya pasti tidak jauh beda!"

"Ya!! Kita grebek rumahnya!! Cari segala bukti atau semacamnya!!"

"AYO!!"

Mereka semua pergi ke sebuah rumah sambil membawa obor, pedang, pistol, dan beberapa benda berbahaya lainnya. Rumah yang mereka hampiri adalah kediaman Naruto Namikaze. Mereka menduga bahwa Naruto-lah yang melakukan pembunuhan selama ini.

"Pintunya dikunci!!"

"Hancurkan saja pintunya!!"

"Ayo kita dobrak!!"

Para lelaki bersiap-siap di depan pintu, mengambil ancang-ancang dan…

BRAK!! BRAK!!

Akhirnya pintu tersebut terbuka. Tetapi mereka malah melihat sesuatu yang tidak diduga.

Naruto Namikaze, tewas dengan darah yang berlumuran di sekitarnya. Wajahnya sedikit rusak, tetapi masih bisa dikenali. Tidak hanya itu, anggota badannya yang lain juga tidak kalah rusaknya. Sungguh keadaan yang mengenaskan.

Banyak para warga yang histeris. Mereka sama sekali tidak menyangka itu akan terjadi. Kemudian salah satu dari mereka menemukan sebuah kertas yang bertuliskan:

"Hehe… aku yakin kalau kalian akan mengira bahwa aku adalah si bocah ini. Memang dia adalah anak si psikopat itu, tapi sayangnya kalian salah sangka. Jujur, aku merasa kasihan kepada bocah ini. Aku yang membunuh, malah dia yang dituduh. Yaah~ walaupun dia masih diselamatkan dengan tidak ada bukti yang menuju ke arahnya. Hm… karena aku gak mau kalian salah sangka nantinya, bocah ini aku bunuh saja. Hehehey!!"

Dengan gambar rubah ekor sembilan di bawahnya.

***

"Ukh!" Pemuda merah itu menghempaskan badannya begitu dia sudah masuk ke helikopter. Kemudian dia membuka wignya dengan kasar dan melepas softlens merahnya. Sekarang terlihatlah rambut pirangnya dan mata birunya yang indah.

"Sukses ya, Naruto-sama." Kata Pain sambil tersenyum licik.

"Ya ya. Whatever. Tentang 'kematianku' juga udah sukses kan?"

"Tentu saja, Naruto-sama. Kecuali kalau diadakan autopsi."

"Hah?! Kalau ketahuan perjuanganku tadi sia-sia dong!" seru Naruto gusar.

"Tenang saja, Naruto-sama. Kemungkinan akan diadakan autopsi sangatlah kecil. Mayat tadi sudah dibuat oleh Akasuna semirip mungkin denganmu. Jarang sekali ada orang yang mau repot-repot meng-autopsi padahal mayat itu bisa dengan mudah dikenali." Jelas Pain, membuat Naruto menghela nafas lega.

"Sudahlah. Sekarang aku ingin pulang secepatnya. Melelahkan sekali hari ini." Pain mengangguk mengerti. Kemudian dia segera menyuruh pilotnya untuk menuju ke tempat tinggal Naruto.

***

Sasuke POV

Aku jatuh cinta padanya?

Tidak. Tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan 'cinta pada pandangan pertama' atau apalah namanya itu. Mungkin aku hanya tertarik? Ya, mungkin. Dia memang menarik. Mata birunya yang indah namun memancarkan kesepian yang dalam, rambut pirangnya yang halus bagaikan sutra, senyumannya yang manis namun di mataku terlihat… palsu. Aneh. Untuk apa dia tersenyum kalau itu hanyalah palsu? Cih. Aku jadi ingat Sai-si-senyum-palsu-itu. Ternyata tidak hanya dia yang bisa tersenyum palsu.

Tunggu. Senyum palsu, sinar mata kesepian, lalu kenapa dia masih bisa bertingkah ceria? Aku yakin semuanya itu hanyalah palsu belaka—kecuali sinar matanya. Pasti ada tujuan di balik itu semua, apa yang dia incar? Saham perusahaan? Kalau dia mau, ambil saja. Aku tidak butuh semua itu. Untuk apa juga aku mendapatkan banyak uang tapi aku merasa tidak bahagia. Tapi aku rasa tidak mungkin. Kalau yang dia incar hanyalah uang, untuk apa dia sampai berikeras menolak tawaranku untuk menaikkan jabatannya menjadi asistenku—walaupun akhirnya kupaksa juga sih.

Akh! Tidak penting. Pokoknya harus ada orang yang mengisi kekosongan jabatan itu secepatnya. Kalau tidak wanita itu bisa saja masuk lagi. Cih. Wanita murahan itu. Kalau saja bukan Sai yang memohon agar wanita itu bisa bekerja di tempatku—dan sebagai asisten! Sial!!—sudah pasti akan kutolak. Menjijikkan sekali. Sai… sepupuku yang baik nan bodoh. Kalau saja kau tahu kalau wanita itu sama sekali tidak menginginkanmu. Heh, walaupun kau mengetahuinya, pasti kau tetap akan bersikeras kan? Apa sih yang istimewa dari wanita menjijikkan itu sampai membuat kau tergila-gila padanya? Masih lebih baik Naruto. Dia lebih manis, lebih cerdas, lebih sopan, lebih…

Tunggu dulu. Kenapa aku jadi membandingkan wanita murahan itu dengan Naruto? Hei diriku! Apa aku benar-benar tertarik dengan si pirang manis itu? Tunggu, apa aku bilang? Manis? Naruto manis? Baiklah baiklah, aku tidak akan menyangkal kalau dia itu memang manis. Tapi kalau aku sampai memikirkannya terus begini…

Gaah!! Kenapa aku jadi selalu memikirkannya sih?! Aku mengacak rambutku frustasi. Kemudian aku merebahkan tubuhku di ranjang king size-ku. Oke, diriku, jangan memikirkannya terus. Ingat, kau hanya tertarik dengannya. Tidak lebih dari itu.

Tok Tok. "Tuan Uchiha, boleh saya masuk?" suara Neji ya.

"Masuk saja!" kemudian Neji muncul dari balik pintu. Dia terlihat… bahagia? Hei, sepertinya ada hal baru yang menyenangkan untuknya. Sahabatku Neji, mungkin dia akan menceritakannya padaku. Yaah, daripada aku harus memikirkan pemuda manis itu… Hei! Kenapa aku memikirkannya lagi? Sial! Ternyata sulit juga melupakannya barang sebentar.

"Ada apa, Neji?" tanyaku. Kemudian dia duduk di kursi yang dekat dengan ranjangku. Masih dengan wajah bahagianya, dia mulai berbicara.

"Sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini, kan Tuan Uchiha?" tanyanya, membuatku bingung. Bukannya dia yang bahagia? Kenapa dia bertanya lagi?

"Sudahlah. Panggil saja aku Sasuke seperti dulu. Lagipula ini di bukan di kantor kan? Dan memangnya siapa yang bahagia? Bukannya kamu?"

"Ha? Tentu saja kamu, Tu—ehm Sasuke! Bukankah ada seseorang yang menarik perhatianmu hari ini?" tanyanya lagi dengan wajah—honestly, menyebalkan. Jarang-jarang dia berwajah seperti itu. Lalu apa lagi yang dia bilang? Oh, aku tahu. Pasti obrolan ini mengarah ke pemuda manis itu, dan…

Sial!! Padahal aku sudah ingin segera melupakannya. Neji bodoh!! Kenapa kau malah mulai membicarakannya? Memangnya kalau aku tertarik dengan seseorang berarti aku bahagia, begitu?

"Ya ya. Memang ada. Tapi itu bukan berarti aku yang bahagia bukan?" balasku. Neji malah memasang senyum yang sangat menyebalkan. Aku benci itu.

"Hei! Bukankah sudah jelas? Buktinya kau tersenyum padanya, padahal aku, sahabatmu sejak kecil, belum pernah melihatmu tersenyum seperti itu." Senyumannya sekarang menjadi seringaian yang semakin menyebalkan. Benar juga sih. Setiap kali aku melihatnya pasti bibirku tersenyum. Bahagia sekali rasanya melihat malaikat manis itu—walau dia terlihat kesepian, sengsara. Intinya tidak bahagia. Malaikat kesepian.

"Hn." Jawabku sekenanya. Neji tertawa penuh kemenangan.

"Hahaha!! Selamat ya!! Sebenarnya aku dapat informasi ini dari Yamanaka dan teman pandanya. Belum lagi laporan dari Sabaku-san. Ternyata benar ya?! Dan lagi setahuku tidak ada yang boleh memanggilmu dengan nama kecil kecuali keluargamu dan aku—itupun setelah kita menjadi sahabat. Lalu? Si rambut pirang itu kamu anggap apa? Teman? Wah, keterlaluan banget kamu!" jelasnya panjang lebar. Shit! Aku bisa merasakan darah mengalir deras ke wajahku.

"Se-selamat?? Maksudmu apa, huh??" tanyaku kesal. Kenapa aku harus kesal ya? Akh, masa bodo.

"Ya selamat. Karena kau sudah menemukan orang yang 'menarik' bagimu. Bisa saja dia akan merubah sifat Tuan Uchiha bungsu yang pendiam dan pemurung ini." Dan dia pun tertawa lagi. Cih! Memangnya apa sih urusanmu, Neji!!

Seakan menjawab pikiranku, diapun berkata, "Aku turut bahagia, Sasuke. Lagipula aku kan sahabatmu, tentu aku juga bahagia akhirnya kamu bisa berubah walaupun masih sedikit. Kau tahu? Para pelayan lain juga turut berbahagia lho!"

"Turut berbahagia? Memangnya aku mau nikah apa?" seruku. Sepertinya sekarang wajahku benar-benar memerah. Neji tertawa lagi, kali ini lebih kencang.

"Yaah… semoga saja begitu. Bukankah di negara ini menikah sesama jenis itu sudah lumrah?" balasnya santai. Hmm… memang benar sih. Tapi kan aku hanya tertarik dengannya! "Sudahlah~ bukankah kamu sudah dua puluh tahun, Sasuke. Umur nikah tuh! Calon juga udah ada. Tinggal pedekate aja!" Neji tertawa lagi.

"Aku memang sudah dua puluh tahun. Tapi 'calon' yang kamu maksud itu masih muda. Kupikir dia belum dua puluhan."

Neji mendelik sedikit sambil menaikkan alisnya. "Dia belum dua puluhan? Memangnya kenapa? Kalau nggak mau nikah sekarang ya tunangan aja dulu—biar nggak diambil orang. Begitu kalian udah siap, baru deh nikah." Sarannya. Apa?! Saran?? Gaaah!! Lama-lama aku pusing juga memikirkannya!

"Sudahlah, Neji. Aku lelah membahas ini." Neji tersenyum girang. "Dan jangan berpikir aku akan melaksanakan kata-katamu itu." Jelasku, membuat senyumnya memudar seketika.

"Kalau kau tidak mau dengannya, paling tidak carilah. Padahal dulu—para pelayan yang cerita padaku—kamu itu selalu tersenyum kepada semua penghuni rumah, selalu manja terutama pada anikimu, pokoknya kamu seperti anak yang berbahagia. Sekarang? Cobalah cari kebahagiaan yang sempat hilang itu, Sasuke. Atau cari sesuatu yang membuatmu bahagia." Jelasnya. Kemudian dia keluar dari ruanganku.

Mencari kebahagiaan? Bagaimana?

***

Naruto POV

Sedikit lagi. Ya, sebentar lagi aku tidak akan menjadi anak buah Pain lagi. Aku muak dengan semua perintahnya. Begitu misi ini selesai, aku akan pergi ke Uzu, tanah kelahiranku. Aku ingin menenangkan diri di sana.

Oh, sudah jam berapa ini? Kulihat jam dinding di sampingku. Pukul 07.53. Shit! Aku bisa terlambat! Segera kuraih tasku dan langsung pergi ke kantor.

Sampai di sana, kulihat mejaku. Kosong. Oh, aku lupa kalau mejaku sudah dipindah ke lantai paling atas. Cepat-cepat aku masuk ke lift—beruntung masih terbuka. Begitu pintu lift terbuka, aku langsung berjalan cepat. Oh, aku jadi ingat dengan wanita berambut pink cerah itu. Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia menangis? Aku sedikit iri padanya. Dia bisa menangis, sedangkan aku…

Akh, sudahlah. Aku tidak peduli.

Kemudian aku bertemu dengan bodyguard pribadi Uchiha. Kalau tidak salah namanya Hyuuga. Tidak kusangka, dia tersenyum padaku. Padahal kemarin sikapnya sangat dingin. Apa dia sudah tahu kalau aku sekarang asisten Uchiha?

Masuk, kemudian kerjakan. Hei, ternyata menjadi asisten tidak terlalu sulit. Tapi tetap saja ada yang tidak kumengerti. Duh, padahal kemarin aku ingat kok. Shit, akh! Lewatin sajalah.

Tiba-tiba pintu ruang direktur terbuka, terlihat Uchiha keluar dengan wajah datar. Kemudian dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum—dan tentu saja palsu. Tetapi dia tidak tersenyum. Aneh. Bukannya kemarin-kemarin dia selalu tersenyum? Sekarang bukannya tersenyum, dia malah menatapku dengan tajam, dingin.

Cukup! Aku tidak mau melihatnya lagi. Apalagi harus menerima tatapan dinginnya itu. Sudah cukup dengan tatapan warga Konoha. Aku tidak mau di sini juga mendapatkannya. Tubuhku… Shit! Kenapa tubuhku gemetar?! Aku memeluk pinggangku, berharap tubuhku berhenti gemetar. Tidak berhasil.

Tiba-tiba Uchiha berada tepat di depanku. Wajah kami bahkan sangat dekat. Tubuhku masih gemetaran. Kemudian dia mengangkat daguku agar aku bisa menatapnya. Kini wajahnya terlihat sendu.

"Berhenti…" Eh? Apa maksudnya? "Berhenti tersenyum palsu seperti itu."

Apa?! Dia tahu kalau itu palsu! Apa dia juga tahu kalau aku akan membunuhnya?!

"Ma… maksud Tuan apa?" tanyaku kemudian. Tubuhku masih gemetar.

"Tolong jangan berpura-pura di hadapanku. Aku tahu kalau senyum itu palsu. Dan kurasa tingkahmu yang ceria itu juga palsu belaka." Jelasnya, membuatku muak. "Sebenarnya apa yang kau mau? Untuk apa kau berpura-pura seperti itu?"

"Apa maksud Tuan?" tanyaku tenang. Aku tidak boleh mengakuinya yang sebenarnya, paling tidak untuk kali ini.

"Kau pintar dalam berakting. Hampir saja aku tertipu karenanya. Tetapi sinar matamu tidak bisa berbohong." Lanjutnya. "Kau terlihat… kesepian. Sedih. Menderita."

Cih! Tahu apa kau tentangku?! Ingin sekali aku membalas seperti itu. Tapi bahaya kalau dia sampai marah dan memecatku. Aku akan mati dalam waktu singkat.

Seakan menjawab pikiranku, dia berkata, "Aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi lain kali, jangan tersenyum lagi sampai kau bisa tersenyum dengan tulus. Paling tidak di hadapanku." Aku tertegun mendengarnya. Kemudian kutundukan wajahku. Aku tidak mau menatapnya terus-menerus.

***

Sasuke POV

Dia tertegun, tentu saja. Aku telah membongkar semuanya, kecuali satu. Untuk apa dia melakukannya? Bisa kulihat tubuhnya bergetar. Sepertinya aku sedikit keterlaluan memojokkannya seperti tadi. Tapi aku memang tidak ingin melihat sinar matanya yang hampir sama sepertiku. Makhluk indah seperti dirinya lebih pantas bahagia. Kalau saja aku bisa membuatnya lebih bahagia…

Hei, bagaimana kalau aku jalankan saja rencana dari Neji?

Flashback

"Hei, Sasuke!!" Neji datang lagi ke kamarku. "Bagaimana kalau kau buat dia tinggal di sini?" pertanyaannya langsung membuatku tersedak teh yang baru saja kuminum.

"Uhuk! Apa maksudmu, Neji?!" aku memberikan tatapan tajam padanya. Namun sepertinya dia tidak terlalu menggubrisnya.

"Ya, buat dia tinggal di sini. Dengan begitu kami bisa dengan mudah membantumu!"

"Membantu apa lagi?"

"Membantu agar Tuan Uchiha bisa menemukan kebahagiannya! Dengan membawanya ke sini, tentu saja kami bisa dengan mudah membantumu untuk pedekate dengannya!!" dan dengan cepat aku menendangnya keluar dari kamarku. Dasar sinting!

End of flashback.

"Naruto, di mana kamu tinggal?" tanganku menyentuh pipinya lembut. Wajahnya masih tertunduk, membuat poninya menutupi wajah manisnya. Kemudian aku mengangkat dagu mungilnya agar aku bisa menatap mata birunya yang indah. Mata indah itu menyimpan ketakutan dan kesedihan di dalamnya. "Di mana kau tinggal?" aku mengulang pertanyaanku. Bibir mungilnya sedikit bergetar.

"Di… Apartemen Juubi…" jawabnya pelan. Aku sedikit tersenyum, ternyata tempat tinggalnya dekat juga.

"Di ruang nomor berapa?" aku berusaha membuat kata-kataku selembut mungkin agar dia tidak takut, lebih tepatnya tidak takut padaku.

"No-nomor 406…" dia masih bergetar ternyata. Kurengkuh wajahnya dengan kedua tanganku. Tidak kusangka dia menutup matanya. Dia terlihat menikmati sentuhanku. Tubuhnya perlahan-lahan berhenti bergetar.

"Kau mau tinggal di rumahku?" tawaranku membuatnya terperangah (lagi). Matanya yang tadi tertutup langsung terbuka lebar tanda tak percaya. Bibirnya terbuka-tutup, sepertinya dia tidak tahu harus menjawab apa.

"A-apa saya dapat me-menolak tawaran Anda?" tanyanya sedikit tergagap. Aku mendengus pelan. Heh, tentu saja dia tidak bisa menolaknya, lebih tepatnya tidak boleh. Kemudian aku tersenyum dan menjawab.

"Tentu tidak, Naruto. Hari ini juga kau harus sudah pindah ke rumahku. Mau kusuruh orang lain mengambil barang-barangmu atau kau ambil sendiri?"

"Bi-biar saya yang mengambilnya, Tuan."

"Baiklah. Sekarang ambil barang-barangmu. Aku akan menjemputmu di sana." Lalu Naruto pergi keluar ruangan dengan sedikit tergesa-gesa. Aku tersenyum tipis sambil melihat kepergiannya.

Dan ternyata Neji memperhatikanku dari tadi dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Tuan Uchiha, ternyata Anda mau melakukannya juga ya? Saya kira Anda tidak akan melakukannya." Senyumnya semakin mengembang membentuk seringaian. Aku membalasnya dengan smirk andalanku.

"Kita lihat saja dulu. Apakah dugaanmu benar? Apakah aku akan bahagia nantinya?"

-

TBC

BEHIND THE SCENE

Pemuda itu menarik wakizashinya dan membersihkannya dengan kedua jarinya. "Dan perlu diperingatkan lagi, ini bukan wajah asliku. Tapi tenang saja. Aku akan meninggalkan bukti-bukti yang bisa… eerr…"

Ri : Cut!! CUT!!

Naru : Maaf, Ri!! Aku belum hapal semuanya! Tolong beri aku sedikit waktu untuk menghapalkannya! Pliiiss… *puppy eyes*

Ri : Tentu saja. Cepat sedikit ya!

Sasu : He? Tumben dia baek. Biasanya kejem banget tuh.

Yuu : Dia cuma kejam dengan kalian, para seme, coz dia benci banget sama kalian…

Para Seme : *ngangguk-ngangguk paham*

Ri : *death glare* Apa yang kalian omongin?! Cepet kerja!!

*semuanya pada ngacir*

Sasu : Naru-chan~ kita ngapalin dialognya di kamar aja ya? Supaya kita bisa sekalian main!

Naru : He~? Main apaan?

Sasu : Kita main 'maju-mundur'. Kamu mau ka—

BUKK!! *Sasu tepar di lantai*

Ri : *niup kepalan tangan* Mati kau, Seme Bedjat!!

Para Seme : *bergidik ngeri, langsung menjauh dari uke masing-masing, takut ditabok*

Balasan Review :

To Light-Sapphire-Chan :

Yuu : Makasih reviewnya!! APUAA??! Kurang sadis?? Yaa… saya kan bukan pembunuh…*plak* hmm… emang bener sih, terkesan instant. Tapi Naru kan emang manis~! Naruto nggak ngerasa jijik kok, cuma risih. Sasuke dibunuh nggak ya…??

Sasu : Jangan bunuh gue seenaknya!!

Ri : Ya asal elonya nggak 'nakal' aja seeh… *evil grin*

Sasu : *Glekh!*

To Raiko Azawa :

Yuu : Makasih reviewnya!! Pendek sekali reviewnya ya…

To Kuro Kitsune Seme :

Sasu : Keren?! Fic ancur macam ini dibilang KEREN??!! Bagaimana bisa??!

Yuu : Makasih reviewnya!! Nanti ke depan mungkin akan sangat banyak romancenya. So, stay tune! *plak!*

To Uchiha Nata-chan :

Ri : Makasih reviewnya!! Emang di sini Sasukempret kayak om-om pervert!! Eh, bukannya dia emang udah pervert dari sononya ya?!

Sasu : Huh!! Udah gue chidori tuh dianya sampai gosong!! Ngatain gue yang nggak-nggak sih!!

Cewek2 di kantor : Kami emang fujoshi!!! Ada beberapa sih yang enggak, tapi mereka nggak terlalu ambil pusing!!

Yuu : Happy ending shounen-ai? Hmm…

To chaz no danna :

Ri : Makasih reviewnya!! *bawa golok juga* hehehe… tangkis bo'! tangkis!! Nggak mesti happy ending kan!?

Yuu : Plot cerita masih bisa berubah selama belum dipublish, jadi ada kemungkinan sad or happy.

To CCloveRuki :

Yuu : Makasih reviewnya!! *masang wajah mikir* Hmm… ada yang pol in lop kayaknya ya? Sapa tuh Ruki? Hehehey~ curiga!

Ri : Kok gue yang kena sih? Pembunuh kan emang harus sadis! Kalau bunuhnya lemah lembut mah nggak asik!! Sasukempret emang pervert tuh! Dasar!! Semua seme sama aja!!

To Chinara Hatake :

Yuu : Makasih reviewnya!! Naru emang dibuat sadis sama Ri. Katanya supaya mirip pembunuh. Tapi dianya kan tetep manis!

Ri : Pertanyaan tidak bisa dijawab karena akan membocorkan plot cerita. Lagian plotnya bisa berubah-ubah kok.

To Uzumaki octa :

Ri : Makasih reviewnya!! Bukan gue yang menulis keseluruhan fic ini. Gue menulis yang rada-rada sadis aja. Soal romance sama Yuu. Dan seterusnya kemungkinan bakal banyak romance. Jadi kalau telat apdet, salahkan Yuu.

Yuu : Kamu nggak marah dikasih embel-embel Neechan?

Ri : Males marah-marah. Bikin capek.

Para seme : *dalem hati* padahal sama kita marah-marah mulu…


Terima kasih untuk Minna yg membaca apalagi mereview fic ini, juga yg tidak suka shounen-ai lalu tidak membacanya. Arigatou!! Chap kali ini pendek banget. Maafkan kesalahan-kesalahan yg saya perbuat. Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih!!