Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Sangat OOC, Sangat Gaje, Sangat Garing, Sangat Membingungkan, Shounen ai.. don't like, don't read.

Have a nice read!

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Naruto POV

Lagi-lagi aku terjebak. Entah kenapa aku harus tinggal di rumah Uchiha Sasuke. Tidak apalah, toh aku masih bisa menghindar dari tuduhan. Terima kasih untuk Pain yang telah membuat tokoh untuk di-'kambing hitam'-kan.

Mulai hari ini aku resmi tinggal di rumahnya. Ada beberapa keanehan memang. Pertama, Hyuuga Neji selalu tersenyum padaku, bahkan sesekali mengobrol denganku. Hanya satu hari sudah membuatnya seramah ini.

Kedua, pertanyaan yang dilontarkannya. Kenapa semuanya harus tentangku? Umur, tanggal lahir, makanan kesukaan, warna kesukaan, bahkan sampai hewan kesukaan.

Ketiga, para pelayan di mansion. Oke, aku tentu tidak akan merasa aneh jika mereka bersikap ramah, tetapi ekspresi mereka ketika melihatku terlihat sangat kaget. Seperti baru bertemu dengan seorang ratu sejagat.

Keempat, seorang pelayan wanita yang sangat mirip dengan Hyuuga Neji—beriris putih dan berambut panjang indigo. Dia seperti pelayan lainnya, tetapi senyumannya—atau seringaiannya mirip dengan yang Temari-san tunjukkan padaku, di pagi hari ketika aku diangkat menjadi asisten pribadi Uchiha.

Kelima, kamarku. Memang terlihat normal dengan ukuran 5x6 meter persegi, wallpaper berwarna hijau, tempat tidur queen size, lemari pakaian, meja, kursi dan pengatur suhu ruangan. Tapi di mana komputernya? Hei, bukankah aku ditawari (kalau tidak mau dibilang 'diperintah') tinggal di sini karena aku adalah asisten pribadinya? Lalu di mana aku kerja? Di kantor? Che, tidak ada gunanya aku tinggal di sini.

Aku memasukkan dan merapikan pakaianku di lemari, kemudian berbaring sebentar. Haah… aku lumayan lelah sekarang. Kupejamkan mataku perlahan-lahan dan tanpa sadar aku sudah tertidur.

XxXxX

Normal POV

Di suatu tempat yang sangat jauh dari pemukiman penduduk, terdapat sebuah bangunan besar yang sederhana namun tampak elegan berwarna putih gading. Jika dilihat lebih dekat, bangunan itu tidak seperti industri ataupun perusahaan. Kamera pengintai terdapat di berbagai sudut, disekelilingnya dijaga oleh banyak penjaga bertubuh besar dan sangar. Tidak hanya itu, bangunan itu memiliki pagar yang dialiri listrik bertekanan tinggi.

Didalam bangunan itu semuanya didominasi oleh warna merah dan jingga. Banyak orang-orang berlalu-lalang memasuki ruangan satu dan yang lainnya. Bahkan tidak jarang terlihat orang-orang yang memegang senjata. Hanya ada satu orang yang sibuk membagi-bagikan kertas kepada hampir semua orang, kertas yang seringkali bertuliskan kata 'WANTED'.

Di lantai paling atas, terdapat seorang pria dewasa sedang duduk dengan santai di sofa jingganya. Tiba-tiba seorang wanita yang sedang membawa beberapa lembar kertas menghampirinya.

"Apa kau sudah tahu tentang hal ini?" wanita itu mengambil remote televisi dan menyalakannya tepat pada siaran berita pembunuhan.

/"Ditemukan beberapa bagian tubuh manusia berserakan di pinggir Sungai Konoto. Setelah diadakan autopsi, diduga korban bernama Teru Mikami, seorang direktur perusahaan di Kota Oto yang tengah naik daun. Polisi menegaskan bahwa korban disiksa terlebih dahulu, kemudian tersangka membunuh korban dengan menusukkan benda tajam tepat di jantung korban, lalu memutilasi dan memeras habis darah korban. Seorang petugas menemukan kertas berwarna merah darah bergambar rubah ekor sembilan dan bertuliskan : 'Kyuubi no Kitsune. Kalian sudah kuperingatkan bahwa…"/

Sang pria mematikan siaran itu dan menghela napas panjang. Sedangkan si wanita menatap si pria sambil tersenyum mengejek.

"Hebat juga pembunuh itu. Dia bisa menghilangkan jejak tanpa bekas dan meninggalkan bukti-bukti yang membingungkan. Dan lagi namanya sama dengan julukanmu di organisasi ini. Benar kan, Kyuubi no Kitsune?" Pria yang dipanggil 'Kyuubi no Kitsune' hanya mendengus pelan.

"Kau tahu, semakin sering aku melihat hasil perbuatannya, semakin meningkat keinginanku untuk membunuhnya." Wanita itu langsung menunjukkan sebuah kertas bertuliskan 'Organisasi Akatsuki' di depan wajah si pria.

"Kau harus membereskan mereka dulu, leader. Walaupun kau seorang ketua yang sangat dihormati, tetap saja kau harus bekerja mencari sumber mereka. Kalau kau pulang tanpa informasi sedikitpun, jangan harap kau lolos dari hukumanku." Tentu sang pria tahu, bahkan sangat tahu bahwa hukuman dari si wanita sangat tidak menyenangkan. Berdiri dengan kedua tangan selama lima jam nonstop disertai omelan si wanita merupakan sesuatu yang termasuk dalam daftar 'I Live in Hell' di otaknya.

"Baiklah. Tolong panggilkan Shukaku. Aku akan pergi dengannya." Tiba-tiba datang seorang pemuda berambut merah darah, beriris hijau emerald dan memiliki tato 'ai' di jidat kirinya. Wanita itu mempersilahkan pemuda itu masuk. "Ayo kita pergi, Shukaku. Tinggalkan ice princess ini." Pria itu menunjuk ke arah si wanita yang mendengus sebal. Si pria mengambil tas ranselnya dan berjalan keluar. "Oh ya, tolong jangan serahkan tugas membunuh si 'Kyuubi no Kitsune' itu pada orang lain. Biar aku saja yang membunuhnya!"

"Hhh… baiklah. Kau masih dendam dengannya karena telah membunuh orang itu kan?"

"Kau tahu itu. Thanks ya." Pria dan pemuda itu pergi meninggalkan si wanita. Kemudian wanita itu bergumam.

"Orang yang dicintai ya…"

XxXxX

Mansion Uchiha.

"Nejiii!" Sasuke mendatangi sahabatnya dengan geram. Yang didatangi malah adem-anyem dengan teman-teman lainnya.

"Hn? Ada apa, Tuan Uchiha?" tanya Neji sekenanya. Sasuke masih menatap sahabatnya tajam.

"Kemana komputer yang sudah kusiapkan di kamar Naruto dan laptopnya?"

"He? Saya tidak tahu, Tuan." Jawab Neji dengan tampang (sok) polos.

"Bagaimana bisa? Semuanya hilang kecuali komputer di kamarku! Apa maksud semua ini, Neji!"

"Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Mungkin saja semua yang hilang itu terserang virus lalu diperbaiki ke rentalnya." Sasuke benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya satu ini. Kalau benar begitu, pasti dia akan menyiapkan yang baru. Dan lagi sangat mustahil jika alat-alat elektronik itu terserang virus secara bersamaan.

"Kakashi, tolong pesankan beberapa—" ucapan Sasuke langsung dipotong oleh Neji.

"Tidak bisa, Tuan. Sayang sekali bukan kalau harus membeli yang baru sedangkan yang lama masih bisa dipakai beberapa waktu lagi." Sasuke mendengus kesal. Kemudian dia kembali ke kamarnya. Neji dan teman-temannya yang lain berusaha untuk menahan tawa mereka.

"Neji… kau jahat juga ya…" tegur Kakashi sambil menepuk pundak Neji yang masih menahan tawa.

"Hehehe… itu semua kan juga buat Sasuke… hahahah!" Kakashi hanya menggelengkan kepalanya melihat sang bodyguard pribadi Uchiha Sasuke sekaligus leader keamanan itu tertawa.

XxXxX

Naruto POV

Seorang anak kecil berambut pirang keemasan sedang berlari kecil menuju dua orang dewasa, pria yang berambut sama dengan anak kecil itu dan wanita yang berambut merah panjang. Mereka terlihat sangat bahagia.

Anak kecil itu adalah aku, yang dulu.

Mereka bercanda tawa. Terkadang si pria mengangkat tinggi-tinggi anak itu. Dan si wanita tersenyum lembut. Tak henti-hentinya tawa lepas dari bibir mereka masing-masing.

Itu masa-masaku yang dulu. Masa yang sangat bahagia.

Tiba-tiba ada bayangan anak kecil yang lebih besar dari anak pirang tadi. Hitam. Semuanya hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya maupun ciri-cirinya yang lain. Bayangan itu menghampiri ketiga orang yang sedang tertawa itu. Samar-samar aku bisa mendengar apa yang mereka katakan.

"Naru-chan, kita main di taman yuk!" ajak si bayangan itu kepada si anak pirang. Kupikir si anak akan menolaknya. Ternyata anak itu dengan senang hati turun dari tangan si pria dan menggandeng tangan si bayangan sambil tetap tersenyum ceria.

"Hati-hati ya, nak! Jangan main terlalu jauh!" seru si wanita mengingatkan. Bayangan dan anak pirang itu mengangguk sambil terus tertawa riang.

Kuikuti mereka berdua diam-diam.

Ya, mereka bermain dengan sangat gembira. Ayunan, kejar-kejaran, sampai petak umpet mereka mainkan. Si bayangan sangat baik terhadap si pirang. Sangat jelas terlihat bahwa si bayangan sangat menyayangi si pirang. Ketika si pirang kelelahan, bayangan itu dengan lembut menggendongnya di punggung kecilnya. Mereka menghampiri kedua orang dewasa itu lagi.

Aku sangat bingung. Siapa bayangan tadi? Jika itu semua adalah bagian dari ingatanku di masa lalu, bukankah seharusnya aku mengetahuinya? Aku yakin, amat sangat yakin bahwa itu semua adalah kenangan lamaku. Tapi siapa bayangan itu? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa? Siapa dia?

"Aakh!"

Aku terbangun dari mimpiku. Bukan mimpi buruk memang. Tapi mimpi yang sangat aneh bagiku. Aku masih penasaran dengan bayangan itu. Aku berusaha mengingatnya, namun tidak berhasil. Siapa bayangan itu? Mengapa dia begitu baik denganku? Dan mengapa aku tidak bisa mengingatnya?

Tok tok tok. "Uzumaki-sama, ada apa?" suara pelayan di luar sana.

"Tidak. Hanya mimpi buruk."

"Boleh saya masuk?"

"Boleh, tidak dikunci kok."

Pintu kamarku terbuka. Ternyata pelayan wanita yang sangat mirip dengan Hyuuga Neji yang datang seraya tersenyum ramah padaku. Dia membawa beberapa lembar kertas, mungkin itu pekerjaanku selanjutnya.

"Uzumaki-sama, ini tugas-tugas Anda dari Uchiha-sama." Dia menyerahkan kertas-kertas itu padaku dengan sopan. Aku hanya mengangguk. Kemudian pelayan itu berkata, "Anda bisa mengerjakannya di ruang Uchiha-sama."

He? Aku harus ke ruang Uchiha itu? Benar-benar aneh. Kenapa tidak ada komputer lain selain di ruangannya?

Seakan membaca pikiranku, dia berkata, "Maaf, Tuan. Sebenarnya… entah kenapa, semua peralatan kerja yang seharusnya ada di kamar Anda, raib begitu saja. Kata Neji-nii juga tidak ada apa-apa."

Aneh. Sangat aneh. Sebenarnya apa yang direncanakan Uchiha itu?

XxXxX

Normal POV

Sasuke membaca beberapa dokumen di atas ranjangnya. Masih banyak dokumen yang harus dibacanya. Dia menghela napas berat. Terkadang dia berpikir, untuk apa dia bekerja keras. Hanya untuk dirinyakah? Dan pikiran-pikiran itu menuju ke Naruto.

Ya, Naruto, Naruto dan Naruto. Semua pikirannya pasti berujung ke sana. Dan itu sukses membuatnya kurang konsentrasi. Sesekali dia mengacak rambutnya frustasi. Lalu dia mengambil beberapa dokumen lagi. Sebenarnya tidak perlu bekerja keras, Uchiha Corp. sudah sangat sukses, hanya saja saat ini dia ingin menghilangkan sebentar bayang-bayang Naruto di pikirannya.

Sayangnya, hal itu sia-sia.

"Gaaakh! Kenapa harus dia terus yang muncul!" Kali ini Sasuke melempar dokumen-dokumen itu ke sembarang tempat. Kemudian menjatuhkan dirinya ke ranjang dengan kesal.

Tok tok. "Tuan Sasuke, boleh saya masuk?" terdengar suara Naruto dari balik pintu.

"Masuk saja!" seru Sasuke sambil memejamkan mata. Kemudian Naruto memasuki ruangan itu sambil mengedarkan pandangannya. Matanya tertumpu pada beberapa dokumen yang berserakan di lantai.

"Wah, berantakan sekali." Komentar Naruto sambil mengambil dan menyusun kembali dokumen itu. Tanpa disadari, Sasuke terus memperhatikan asisten barunya itu. Dalam hatinya terus memuji-muji makhluk di depannya.

Satelah selesai membereskan, Naruto meletakkan dokumen itu di meja yang dekat dengan ranjang Sasuke. Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Cepat-cepat Sasuke mengalihkan perhatiannya.

"Nng… Tuan, bolehkah saya menggunakan komputer Anda? Saya ingin…"

"Pakai saja. Aku mau tidur. Dan tolong panggil aku Sasuke saja." Sasuke menyelimuti diri sambil membalikkan badan agar tidak melihat Naruto. Tidak ingin mengganggu, Naruto segera mematikan lampu dan menyalakan komputer. Kemudian mengerjakan tugasnya dengan cepat.

XxXxX

Malam hari. Di sebuah tempat asing.

"Shukaku, datanya sudah dikopi?" tanya seorang pria terhadap temannya yang sedang mengotak-atik komputer di depannya.

"Sebentar lagi, Kitsune. Sebentar lagi." Shukaku masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Pria yang dipanggil Kitsune kembali berjaga-jaga. Sesekali menggenggam katana yang dibawanya ketika terdengar suara langkah kaki, kemudian bernapas lega ketika langkah itu tidak menuju ke tempat mereka.

"Hei Shukaku, kenapa lambat sekali?" seru Kitsune tidak sabar.

"Susah menembus sistem keamanannya. Sabarlah sedikit." Kitsune berdecak kesal. Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar lagi. Kitsune kembali siaga. Suara langkah kaki itu semakin keras dan semakin mendekat.

"Shu, ada yang menuju ke sini. Bersiaplah." Seru Kitsune dengan pelan.

"Tolong kau urus sendiri. Aku sedang sibuk." Kitsune menggeram kesal mendengar jawaban temannya. Kemudian langkah kaki itu berhenti ketika dia—yang membuat suara langkah melihat Kitsune dan Shukaku.

"A-apa yang kalian—"

CRAASH!

Kitsune segera menebas leher orang itu dengan katana-nya yang tajam. Kepala itu mengglundung jatuh dengan darah segar keluar dari lehernya. Tubuhnya pun ambruk dengan mengucurkan darah segar.

"Disturber." Kitsune tidak menghiraukan darah yang menggenang di lantai. Tetapi hal itu membuat alarm berbunyi. "Shit! Cepat!" Dia menghampiri Shukaku yang sedang mengkopi data.

"3… 2… 1… Got it. Ayo Kitsune. Misi hari ini selesai." Shukaku segera mengambil hard disk miliknya dan pergi meninggalkan tempat itu, diikuti Kitsune.

Sasuke POV

Aku terbangun dari mimpiku. Ya, mimpi tentang Naruto. Aku sendiri bingung dengan otakku ini yang selalu memikirkannya. Sebegitu tertariknyakah aku padanya? Hhh… niatnya istirahat, malah berpikir lagi. Mungkin aku harus menenangkan pikiranku.

Kemudian aku pergi mengambil minum. Kulihat Naruto tertidur di meja dengan monitor yang masih menyala. Aku tersenyum melihat wajahnya yang polos, seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan baginya. Tetapi, kasihan juga kalau dia tidur di situ. Ke kamarnya lumayan jauh. Tentu tidak nyaman tertidur dengan posisi membungkuk seperti itu. Mungkin sebaiknya… tidur bersamaku?

Entah bagaimana tubuhku bergerak sendiri, aku mengangkat tubuh Naruto, kemudian membaringkannya di ranjangku. Kusingkap poninya untuk melihat wajah polosnya. Jujur, aku mengaguminya. Wajahnya yang manis nan polos itu benar-benar menentramkan hati. Belum lagi rambut pirangnya yang lembut bagaikan sutra. Benar-benar sosok yang patut dikagumi. Bahkan para penghuni mansion juga mengakuinya.

Kumatikan komputer itu lalu ikut tidur bersama Naruto. Rasa kantukku hilang ketika melihat wajahnya lagi. Aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan satu detikpun untuk memandanginya. Tiba-tiba dia mengubah posisi tubuhnya, menjadi berhadapan denganku. Dengan begini aku bisa melihat lebih jelas.

Muncul di pikiranku untuk memeluknya. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukanku. Tanpa sadar tubuhku sudah mulai memeluknya. Tangan kananku melingkar di pinggangnya dan tangan kiriku menelusup ke kepalanya, menjadikannya bantal.

Melihat tiada reaksi, aku semakin berani memeluknya lebih erat. Kudekatkan tubuhku dengannya sampai tiada jarak. Kubenamkan kepalanya di dadaku, lalu kukecup pelan. Tubuhnya hangat, benar-benar nyaman. Napasnya juga teratur, membuatku terbuai untuk melanjutkan mimpiku tadi, dengan sang tokoh berada di pelukanku.

Naruto POV

Hangat. Nyaman sekali. Di mana aku?

Sudah lama sekali rasanya sejak aku mendapatkan kehangatan dari orang tuaku.

Tapi, kehangatan ini berbeda. Tidak seperti pelukan okaa-san dan otou-san yang hangat dan memberikan rasa aman. Kehangatan ini juga memberikan perasaan yang belum pernah kukenal sebelumnya, namun menyenangkan.

Ini mimpi? Kalau ini mimpi, aku tidak ingin bangun lebih cepat.

Tapi, kenapa terasa begitu nyata? Jika kubuka mataku sedikit, apakah kehangatan itu masih ada?

Aku mulai membuka mataku perlahan. Yang pertama kali kulihat adalah warna putih. Tetapi kehangatan itu masih ada. Bahkan semakin hangat.

Memangnya kemarin malam aku tidur di mana? Seingatku aku masih berada di depan monitor. Apa ada yang memindahkanku? Siapa? Biarkan aku berpikir. Aku berada di kamar Uchiha itu, tidak ada seorangpun di sana selain aku dan dia. Kemungkinan besar dialah yang memindahkanku.

Mengapa? Mungkin karena mengganggu kalau aku terlalu lama di depan monitor. Tapi, mengganggu siapa? Dia? Ah, masa bodo lah.

Sekarang di mana? Ke mana orang itu membawaku? Kenapa di hadapanku hanya ada putih?

Naruto, apakah kau tidak merasa sedang dipeluk?

Bodohnya aku. Tidak sadar ada tangan melingkar di pinggangku dan menjadi bantalku. Tunggu, tangan siapa ini?

Normal POV

Naruto mulai mengerjapkan matanya. Benar saja, memang ada yang memeluknya erat, membuatnya sulit bergerak. Ia mulai melakukan gerakan kecil untuk membebaskannya bergerak. Sasuke mulai terbangun karenanya. Tapi dia malah semakin mempererat pelukannya.

"Nng… lepas…!" erang Naruto, masih berusaha lepas dari pelukan Sasuke.

"Sebentar lagi."

Deg! Naruto mulai mengenal siapa yang memeluknya.

"Sa… Sasuke…?" gumamnya. Dia bisa merasakan anggukan di atas kepalanya.

"Kumohon, sebentar lagi. Biarkan seperti ini." Anehkah kalau seorang Direktur utama—terlebih seorang Uchiha—memohon kepada bawahannya? Sasuke tidak sempat memikirkan itu.

Naruto menjadi gusar. Dia mulai menggerakkan badannya lebih cepat, ingin lepas dari pelukan Sasuke. Dengan tidak rela, Sasuke melepaskan pelukannya.

"Ke-kenapa…?" tubuh Naruto bergetar kecil. Sasuke menatapnya sendu.

"Entahlah. Aku sendiri tidak mengerti."

Naruto mulai melihat sekelilingnya, mencari tahu dimana dia berada. Kemudian mulai membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Wajahnya memerah seketika, entah karena marah, malu, atau sebab lainnya.

Tak disangka Naruto, Sasuke memeluknya kembali. Kali ini benar-benar erat, tubuhnya terkunci. Naruto mengerang kesal, dalam hati mengutuk tubuhnya yang lebih kecil dan tenaga Sasuke yang terlalu besar baginya. Ingin berontak, tetapi badannya benar-benar tidak bisa bergerak.

"Kumohon. Sekali ini saja. Biarkan seperti ini sebentar." Pinta Sasuke lembut. Naruto berhenti berontak. Mata birunya menatap Sasuke heran. Dibalas dengan tatapan lembut dari lawannya.

"Hn…" Naruto bergumam mengiyakan. Toh menurutnya, tidak ada ruginya jika dia dipeluk Sasuke, dan tidak ada untungnya jika dia berusaha melepaskannya.

Lagipula, jauh di lubuk hatinya, dia menyukai pelukan Sasuke. Lebih dari yang seharusnya. Hanya saja dia balum sadar akan hal itu.

Naruto dan Sasuke mulai memejamkan mata. Menikmati kehangatan yang ada. Kembali ke alam mimpi mereka yang sempat terputus.

XxXxX

Di Markas Akatsuki.

"Hidan, Kakuzu, kerja kalian sangat bagus. Besok kalian boleh beristirahat." Jelas Pain pada dua pria di depannya. Tetapi yang berambut putih menatap tajam Pain tanda protes.

"Hanya segitu saja? Kami belum puas! Biarkan besok kami membunuh lagi!" serunya, disertai anggukan temannya, Kakuzu.

"Lagi? Belum puas juga kalian membunuh orang. Nanti sajalah, kita juga perlu menyusun rencana agar kalian tidak ketahuan. Lagipula belum ada korban yang harus kalian bunuh. Misi kalian hanya menggantikan Naruto dalam penyamarannya menjadi 'Kyuubi no Kitsune'. Jadi, tidak perlu membunuh terlalu banyak."

"Tapi—"

"Keluar dari ruangan ini. Kalau ada korban lagi, akan segera kuberitahukan kepada kalian." Perintah sang leader dengan datar dan dingin. Hidan dan Kakuzu hanya bisa bergidik dan mematuhinya. Begitu pintu ruangan tertutup, Pain menghela napas berat. Dia kelelahan mengurusi pembunuh-pembunuh kejam yang ada di organisasinya. Atau lebih tepatnya organisasi seseorang yang bersembunyi di balik bayang-bayang dirinya. Sang leader sesungguhnya.

Tak berapa lama, seseorang membuka pintu dan menghampiri Pain, Blue Rose.

"Pain, ada penyusup yang meng-copy data-data kita dari komputer utama. Mereka membunuh beberapa penjaga dan berhasil lolos." Lapornya. Untuk kesekian kalinya, Pain menghela napas.

"Apa saja yang di-copy?"

"Beberapa biodata tentang pembunuh-pembunuh dari tingkat E sampai SS, data-data korban, data-data mengenai transaksi kerja sama, dan beberapa data yang kurang penting."

"Apa ada petunjuk mengenai penyusup itu?"

"Penyusup kemungkinan lebih dari satu. Membawa senjata tajam dan kemungkinan besar keduanya pria karena dilihat dari kekuatannya yang dapat menebas leher para penjaga. Hanya itu petunjuk yang didapat." Jelas Blue Rose. Pain mengangguk paham, lalu dia mulai beranjak dari tempat duduknya.

"Urus saja kerusakannya, Blue Rose. Aku lelah sekali. Biarkan aku istirahat sebentar."

"Baik." Blue Rose segera keluar dari ruangan.

"Jangan-jangan mereka mulai bergerak…"

XxXxX

Pagi hari, di Mansion Uchiha.

Hari libur. Biasanya seorang Uchiha Sasuke tetap bangun lebih awal seperti biasa. Tapi kali ini berbeda. Dia justru tidak ingin bangun dari tidurnya yang damai. Mungkin karena ada yang berbeda dari biasanya.

Sama halnya dengan Sasuke, Naruto pun masih belum terbangun dari tidurnya. Pertama kalinya semenjak orangtuanya meninggal dia tertidur lebih dari 3 jam.

Matahari mulai meninggi. Cahayanya menembus tirai jendela dan jatuh tepat di wajah manis Naruto, membuatnya terbangun. Matanya mengerjap sedikit, lalu berusaha menghindari cahaya itu dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Gerakan tiba-tiba itu membuat Sasuke terbangun.

"Naruto…? Kau sudah bangun ya?" Sasuke membelai rambut lembut Naruto. Naruto mengangguk pelan.

Tidakkah mereka sadar, tidur satu ranjang dengan posisi berpelukan merupakan tindakan yang tidak wajar untuk hubungan atasan dan bawahan?

"Aaakh!" seru keduanya ketika mereka mulai sadar dengan posisi mereka. Naruto menjauh dari Sasuke. Keduanya sama-sama terkejut, padahal mereka sendiri yang melakukannya.

"A-apa yang…"

"A-aku juga ti-tidak mengerti. A-anggap saja itu suatu… kebetulan…?" berita besar! Sang Uchiha gugup berbicara dengan asistennya sendiri. Mungkin dia sudah kehilangan kharismanya.

"Ah… ba-baiklah…" Naruto mengangguk pelan. Lalu dia turun dari ranjang.

"Oh ya, Naruto."

"Ya?"

"Karena hari ini libur, kau ingin jalan-jalan? Lagipula cuacanya hangat." Tawar Sasuke.

"Oh, aku mau. Denganmu?"

"Ya. Aku juga bosan di rumah terus."

XxXxX

Di tempat 'Kyuubi no Kitsune'.

Dua orang pria memasuki gedung putih gading itu. pria berambut merah darah membawa sebuah hard disk, sedangkan pria yang satunya lagi membawa sebuah katana. Mereka segera menaiki lift menuju lantai paling atas.

Sesampainya di sana, seorang wanita langsung menghampiri mereka.

"Bagaimana keadaan kalian? Ada yang terluka?" tanya wanita itu basa-basi.

"Nggak perlu basa-basi, deh! Shukaku, berikan dia hasilnya!" Shukaku menyerahkan hard disk itu ke tangan si wanita.

"Akan aku periksa dulu. kalau informasi yang kalian dapat sama sekali tidak berguna, jangan harap kalian lolos dari hukumanku!"

"Heh! Dijamin deh! Paling enggak ada manfaatnya!" wanita itu segera memasukkan hard disk di laptop-nya. Kemudian mulai berkonsentrasi melihat data-data Akatsuki. Kedua pria itu juga ikut melihat.

"Lumayan. Dengan begini kita bisa mengetahui siapa-siapa yang bekerja di bawah perintah Akatsuki. Akan kuperintahkan beberapa orang untuk membunh mereka." Dia membuka folder lagi. "Dan untuk tingkat SS, harus ada yang bisa menandinginya, kira-kira siapa ya?" alangkah terkejutnya mereka ketika melihat biodata pembunuh tingkat SS milik Akatsuki.

"Tidak… mungkin...! Bukankah dia sudah…"

"Tapi aku rasa data-data ini sangat akurat. Bukan begitu, Shukaku?" wanita itu melitik ke pemuda berambut merah.

"Aku rasa begitu. Tidak mungkin Akatsuki masih menyimpan data pembunuh yang sudah mati." Jawabnya. Tiba-tiba 'Kyuubi no Kitsune' melangkah pergi meninggalkan mereka dengan gusar. "Apa perlu kuhentikan dia?"

"Tidak usah. Mungkin dia perlu waktu untuk menenangkan diri." Gumam wanita itu. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Walaupun masih menyimpan banyak tanda tanya di otaknya.

XxXxX

Naruto sudah siap dengan kaos lengan pendek berwarna jingga dan celana ¾ berwarna hitam, sedangkan Sasuke juga memakai kaos tanpa lengan berwarna biru gelap serta celana panjang berwarna hitam. Mereka memang berniat untuk keluar menikmati udara hangat di musim semi ini. Terlebih hari ini adalah hari dimana bunga sakura sedang bermekaran. Tentu akan sangat indah di luar sana.

"Ayo, Naruto." Sasuke segera menarik tangan Naruto.

"Oh, Tuan Uchiha dan Tuan Uzumaki, pagi yang cerah untuk berjalan bersama, bukan?" sapa Neji ketika mereka sedang di depan mansion.

"Che, bukan urusanmu, Neji." Jawab Sasuke ketus. Neji tertawa kecil.

"Apa perlu saya antarkan ke suatu tempat?" tawarnya. Sasuke menggeleng pelan. Kemudian dia dan Naruto kembali berjalan keluar sambil menikmati udara khas musim semi.

"Hehehe… dua sejoli yang bahagia. Tapi kenapa Uzumaki jadi pendiam seperti itu? Dia juga tidak membalas sapaanku tadi. Hmm… pasti ada yang nggak beres." Gumam Neji. Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda SMS masuk. Dia langsung membukanya.

From : Tayuya

Ji, jmpt gw d bndra! Gw dah smpe! ASAP!

'Heh, ternyata mata-mata terhebat itu sudah selesai dari pelatihannya.' Pikir Neji. Lalu dia menyuruh pelayan untuk mengambilkan kunci mobilnya.

XxXxX

Bandara Oto

"Neji! Lambat banget sih lo! Kayak siput aja! Bawain barang-barang gue!" perintah seorang wanita berambut merah dan beriris cokelat. Dia memakai kemeja berwarna merah kotak-kotak dan celana jins selutut serta memakai topi sport berwarna putih.

"Yes, Ma'am…" Neji memasang tampang lesu. Jelas saja. Baru datang, langsung disuruh-suruh. Kalau bukan mata-mata peringkat atas sekaligus teman dekat, Neji mana mungkin mau menurutinya.

"Gimana kabar elo dan para penghuni mansion?" tanya wanita itu—sebut saja Tayuya. Neji mendelik kesal.

"Heh, tumben lo nanyain? Biasanya cuek bebek aja!"

"Jawab aja napa sih? Wajar dong, kan udah 3 tahun nggak ketemu ama mereka!" tukas Tayuya.

"Udah deh. Nggak usah nanyain hal yang enggak elo pedulikan." Neji mengangkat koper Tayuya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Tayuya langsung duduk di kursi pengemudi. "Hey! Jangan bilang elo mau…"

"Cepet masuk! Atau elo bakal gue tinggal!"

Neji tau. Sesampainya di rumah, dia harus meminta pelayan memberinya obat untuk menghilangkan sakit di kepalanya—karena ulah Tayuya.

XxXxX

Seperti yang diperkirakan Neji, kepalanya amat sangat pusing dan langsung menyuruh pelayan mengambilkan obatnya. Tayuya hanya tersenyum mengejek, sama sekali tidak ada rasa bersalah.

"Payah lo, Ji! Segitu aja udah mabok!" ejek Tayuya sambil duduk di ruang tamu.

"Elonya aja yang nyetir kayak orang gila!" balas Neji geram.

"Ada orang lain. Siapa dia, Neji?" tanya Tayuya tiba-tiba, membuat Neji bingung.

"Maksudmu?"

"Ya ada seseorang, dia tidak bekerja di sini. Siapa dia?"

"Kau tau dari mana?"

"Ya ampun, Neji! Aku hanya melihat di rak sepatu, dan ada ukuran kecil di sana. Tidak mungkin pelayan atau bodyguard sepertimu yang lancang meletakkan sepatu di sana kecuali dia orang yang dekat dengan Tuan Uchiha. Siapa dia?"

"Ooh… dia asisten baru. Namanya Naruto Uzumaki."

"Asisten baru? Jadi si pinky itu keluar?"

"Ya, dia dipecat. Jangan tanya kenapa, karena aku nggak tau." Neji mengambil tempat duduk dan meminum obatnya.

Padahal di luar, mereka berbicara menggunakan gue-elo, tapi di dalam rumah, mereka menggunakan aku-kamu. Tujuannya adalah mematuhi tata karma dan sopan santun.

"Uzumaki ya…" gumam Tayuya. Keningnya berkerut tanda dia sedang berpikir keras.

XxXxX

"Sasuke, kita ke mana?" tanya Naruto yang masih mengikuti Sasuke.

"Sudah sampai."

Naruto mulai melihat ke sekelilingnya. Mereka sekarang berada di sebuah taman yang penuh akan pohon sakura. Bunga-bunga banyak yang berguguran ditiup angin, menambah keindahan alam. Naruto menadahkan tangan, menahan sebagian bunga-bunga agar tidak jatuh ke tanah. Lalu dia memandanginya sambil mengingat masa lalu.

Flashback.

Seorang anak kecil berambut pirang keemasan menadahkan tangannya untuk menangkap beberapa bunga sakura yang berjatuhan. Dia berlari kesana kemari dengan riang. Terdapat dua orang dewasa yang sedari tadi mengawasinya.

Anak kecil itu adalah Naruto Namikaze, lima tahun.

Setelah merasa cukup, Naruto berlari kecil mendatangi ibunya. Berhati-hati agar bunga-bunga di tangannya tidak terjatuh.

"Ibu! Ibu! Lihat apa yang Naru dapat!" seru Naruto sambil memperlihatkan bunga-bunga itu. Sang ibu tersenyum kemudian mensejajarkan tingginya dengan Naruto.

"Waah… bunganya cantik sekali, sayang!" Kushina mencium kening Naruto dengan lembut. Sedangkan Minato tersenyum riang melihat keluarganya.

"Ehehe… buat ibu!" Naruto menjatuhkan bunga sakura itu tepat di kepala Kushina. Dia hanya tertawa, sedangkan Minato sedikit kaget.

"Hei, Naru! Kenapa kau taruh di kepala ibu?" Naruto dan Kushina tersenyum riang.

"Soalnya ibu sangat cantik! Apalagi kalau ditemani bunga sakura!" jawab si bocah sambil mengeluarkan seringaiannya yang khas. Minato dan Kushina tertawa mendengar alasan itu.

End of flashback.

Jujur saja, Naruto bingung sendiri. Mengapa dia terus teringat masa lalunya? Semenjak dia bertemu Sasuke, ingatan-ingatan masa lalunya yang bahagia kembali terlihat di pikirannya. Padahal dia sudah berusaha untuk menguburnya dalam-dalam. Ada apa sebenarnya?

"Naruto…" Naruto menoleh ke arah suara, Sasuke. "Ada es krim di sana, mau kubelikan?" tawarnya lembut.

"Ya, rasa jeruk." Jawab Naruto datar. Dia masih ingat janjinya kepada Sasuke, tidak boleh menunjukkan senyum palsu ataupun berpura-pura ceria. Sasuke segera pergi dan membelikan es krim pesanan Naruto. Sedangkan asisten Uchiha itu duduk santai di bangku taman sambil memandangi bunga sakura yang berguguran. Berusaha melupakan kenangan-kenangan indah bersama keluarganya.

"Ini." Sasuke menyerahkan es krim pesanan Naruto.

"Oh, thanks."

Hening. Mereka berdua sama-sama tenggelam di pikiran masing-masing. Sasuke memikirkan Naruto dan perasaannya yang aneh, sedangkan Naruto masih berusaha melupakan kenangan masa lalunya.

Sampai akhirnya Sasuke memecah keheningan. "Hei, ada es krim menempel di bibirmu." Naruto menoleh dan Sasuke segera membersihkan sudut bibir Naruto dengan ibu jarinya dan menjilatnya. Entah kenapa wajah Naruto tiba-tiba menghangat.

'Kenapa wajahku jadi hangat?' batin Naruto.

"Naruto…"

"Eh…? Ada apa, Sasuke?"

"Bisakah kau tersenyum…?"

"Kau melupakan perintahmu sendiri? Bukankah aku tidak boleh tersenyum di depanmu?" tanya Naruto heran. Sasuke menggeleng pelan.

"Bukan yang itu. Aku tau itu hanya senyum palsu. Tak bisakah kau tersenyum dengan tulus?"

"Itu…"

XxXxX

"Jadi, apa saja yang kau pelajari di sana?" tanya Neji sambil menghirup teh yang sudah disiapkan pelayan. Sekarang dia dan Tayuya masih berada di ruang tamu.

"Ya, begitulah. Kau tidak akan lulus kalau kau selalu mabuk setiap ada goncangan sedikit seperti tadi." Sindir Tayuya. Kening Neji berkedut kesal karenanya.

"Baiklah. Terserah kamu mau bilang apa. Aku tidak peduli."

"Kalau kau tidak peduli, kenapa kau menanyakannya?" lagi-lagi Tayuya berhasil membuat sahabatnya kesal.

Tiba-tiba pintu utama terbuka. Tampaklah Sasuke dan Naruto berdiri di depan pintu. Neji dan Tayuya segera berdiri, hendak memberi hormat maupun salam. Jika dilihat lagi, maya Naruto terlihat sembab, seperti habis menangis.

"Selamat datang, Tuan Uchiha dan Tuan Uzumaki." Sapa Neji formal. Sasuke dan Naruto mengangguk pelan.

"Tuan Uchiha, senang bertemu dengan Anda setelah sekian lama." Tayuya membungkuk sopan. "Dan salam kenal, Tuan Uzumaki. Nama saya Tayuya." Dia mengulurkan tangannya di depan Naruto. Naruto tersenyum riang dan membalas jabatan tangan Tayuya.

"Salam kenal juga, Tayuya-san! Mohon bantuannya!"

Untuk beberapa waktu, Tayuya terdiam sambil memandangi wajah Naruto. Sepertinya dia sangat terkejut. Entah apa yang dipikirkannya. Lalu dia tersadar dan melepaskan tangannya dan tersenyum formal.

Sasuke dan Naruto kembali berjalan menuju kamar mereka masing-masing. Ketika mereka menghilang dari pandangan, wajah Tayuya yang ceria berubah menjadi serius.

"Ada apa, Tayuya. Tidak biasanya wajahmu seperti itu. Apa ada hal yang mengganjal pikiranmu?" tanya Neji. Tayuya mengangguk.

"Ya, kau benar. Bahkan kali ini sangat mengganjal. Kau lihat warna iris Tuan Uzumaki dan warna rambutnya? Apa itu tidak mengingatkanmu pada seseorang?"

"Tidak. Aku rasa tidak. Bukankah banyak orang yang cirri-cirinya seperti itu?"

"Che, aku yakin pasti karena kau terlalu lama di Oto. Kau menjadi kurang melihat duunia luar, Neji."

"Sudahlah, kau katakana saja apa yang kau pikirkan!"

"Dia… mirip… Minato Namikaze… mereka sangat mirip."

"Minato Namikaze? Si pembunuh sadis dan gila itu?" ucap Neji enteng.

PLAK!

"A-apa-apaan kau, Tayuya!" seru Neji kesal, karena Tayuya menampar pipi kirinya dengan keras, bahkan sangat keras untuk ukuran wanita.

"Kau… KAU TIDAK TAU APA-APA TENTANG MINATO-SAMA! Berani-beraninya kau berkata seperti itu!" air mata mulai menggenangi mata Tayuya. Lalu wanita itu pergi meninggalkan Neji, yang masih tidak mengerti jalan pikir sahabat wanitanya.

TBC

A/n :

Yuu: *tepaaarr!*

Ri: udah ada romance-nya tuh! Puas kalian? *BUAK!*

Yuu: RI! Jangan kasar ama orang laen! Ohya, maaf untuk minna-san yang menunggu fic ini (kalau ada, selain 'dia' tentunya). Sebagai gantinya saya panjang-panjangin chap ini. Bagaimana? Kayaknya tambah gaje deh… trus, banyak adegan yang dipaksakan! Dan lagi gaya penulisannya yang mengganggu serta typo yang tidak bisa dihindari oleh saya. Maaf minna! Saya benar-benar pembuat kecewa ya? Dan saya kembali meminta maaf karena tidak bisa membalas review karena saya terlalu lelah…

Special thank's for : Mii~chan, zerO. cent, Uzukaze touru, CCloveRuki, Light SC, Assassin Cross, Kou Todoryu 'Kyuuketsuki', Uchiha Nata-chan, Yukino Hitohira F. Jones, Kurai hoshi, chaz no danna, Kuronekoru, Aglaea Dhichan, blood kiss chan, dan semua reader yang menyempatkan diri untuk membaca fic ini. Terima Kasih!

Ri: dan jangan pernah menyebut nama gue lagi, coz gue malu ngeliat fic ini!

Yuu: dan jangan memanggil kami 'senpai'. Karena saya yakin minna pasti lebih 'senpai' dibandingkan kami. Haaah… dengan begini akan lebih santai untuk hiatus… Btw, tolong vote donk! Sasuke mati atau Sasuke hidup?

Overall, Thank you and sorry, minna!