A World With No Light

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Sudah dua hari Sakura dan Temari berada di dunia tanpa cahaya. Hari ini rencananya Hanabi akan mengajak Sakura dan Temari jalan-jalan. Tempat yang mereka tuju adalah Perkebunan Apel kuning. Di desa ini, Apel kuning adalah buah yang sangat terkenal. Hampir semua penduduk memiliki lahan untuk perkebunan Apel.

Kebetulan, Temari, Hanabi, dan Sakura di perbolehkan untuk mencicipi buah Apel itu. Ternyata, rasa buah Apel itu sangat Manis sekali. Perkebunan Apel sangat ramai dan banyak sekali orang yang berjualan makanan tentunya makanan itu berbahan dasar dari Apel kuning contohnya ada puding apel, es krim apel, jus apel dan banyak lagi.

Mereka jalan-jalan diperkebunan Apel sampai lupa waktu! Karena hari ini, Hanabi bisa melupakan semua kesedihannya. Sampai tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 5 tapi tidak ada yang tahu ini pukul 5 pagi atau sore karena disini selalu gelap dan belum ada pemberitahuan resmi.

Setelah puas berjalan-jalan Temari, Hanabi, dan Sakura bergegas untuk pulang. Di tengah-tengah jalan, Sakura merasakan perasaan yang tidak nyaman. Ternyata, perut Sakura lapar lalu Sakura memutuskan untuk membeli macaróni panggang dan dia menyuruh Temari dan Hanabi pulang lebih dulu.

Setelah mendapat makanan, Sakura langsung pulang ke rumah Hanabi. Tapi di tengah-tengah jalan Sakura melihat seorang anak laki-laki berambut kuning yang keluar dari perkebunan Apel. Anak itu memakai baju berwarna Oranye sambil membawa 1 keranjang Apel kuning. Karena anak itu terlihat mencurigakan Sakura mengikuti anak itu sampai ke rumah nya.

Ternyata, rumah anak itu tidak jauh dari rumah Hanabi. Di samping rumah anak itu ada rumah seorang penyihir. Lucunya, rumah itu dibangun diatas sehelai daun yang sangat besar dan tinggi jadi, si penyihir itu harus terbang dulu kalau mau masuk ke rumah nya. Lalu Sakura melihat anak itu masuk ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian, anak itu keluar lagi tapi, dia tidak membawa Apel. Saat Sakura sedang asyik mengamati anak itu, ada tangan yang menyentuh pundak Sakura. Karena kaget, Sakura berbalik dan dia jatuh dalam posisi duduk. Saat anak itu menghampiri Sakura, Sakura langsung bangun dan berlari menjauhi anak itu.

Tapi sayang, usaha Sakura untuk menjauhi anak itu tidak berjalan mulus. Kaki Sakura tersandung batu dan dia terjatuh. Sakura berusaha bangun tapi tidak bisa kakinya sakit. Tiba-tiba didepan Sakura ada seorang anak yang mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri.

'Bukankah dia anak yang tadi menyentuh pundakku?' pikir Sakura

Setelah berdiri, anak tersebut membantu Sakura berjalan. Mereka menuju rumah seorang anak yang tadi Sakura mata-matai. Mereka masuk kedalam dan anak itu mempersilahkan Sakura duduk di sofanya yang besar, nyaman, dan hangat. Sementara Sakura duduk di Sofa empuknya, anak itu pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu.

Tidak lama kemudian, anak itu keluar sambil membawa kotak obat. Dibukanya kotak obat tersebut dan Ia mengoleskan antiseptic pada luka di kaki Sakura. Sakura yang merasakan perih di kakinya hanya meringis

"Aw… sakit!"

"Kakimu terluka sepertinya agak parah. Apa kamu merasakan sakit disebelah sini?" tanya anak itu

"Ya, tapi sedikit..." jawab Sakura

"Kakimu agak bengkak. Pasti gara-gara tadi fuuh…" anak itu menghela nafas

"E..Eh t..tidak apa-apa kok ini tidak sakit. Lihat aku bisa berdiri.. aw!" seru Sakura sambil mempaktekan kalau dia bisa berdiri tapi, ternyata masih terlalu sakit untuk berdiri

"Jangan sok kuat, kakimu bengkak mana bisa berdiri secepat itu!" kata anak itu dingin.

"BRAAK..." Tiba-tiba pintu masuk terbuka dan masuklah seorang anak yang tadi Sakura mata-matai. Anak itu melihat kearah Sakura lalu berpaling kearah anak yang tadi menolong Sakura lalu, berbalik lagi ke Sakura dan terus seperti itu layaknya seperti orang bingung.

"Hei Teme, anak itu siapa? Kenapa dia ada dirumah ini?" rupanya, si rambut kuning itu heran kenapa ada seorang anak perempuan dirumahnya

"Aku menolongnya tadi dia jatuh..." jawab yang ditanya enteng

"Eh maaf, sebaiknya aku pulang" kata Sakura

"Bukankah tadi sudah kubilang, kakimu masih bengkak. Kalau kamu pulang sekarang, bengkak di kakimu bisa-bisa makin parah!" cegah anak yang tadi menolong Sakura

"Jangan terlalu keras Sasuke! Bersopanlah sedikit..." Kata si rambut Kuning

Sakura's POV

Oh, jadi yang menolongku tadi namanya Sasuke. Anaknya lumayan tapi dia cool banget. Aku jadi ngeri

Normal POV

"Oh iya, namaku Uzumaki Naruto, kamu bisa panggil aku Naruto. Kalau yang ini Uchiha Sasuke dia temanku dia juga tinggal disini," kata Naruto memperkenalkan diri

"Aku Haruno Sakura kalian bisa panggil aku Sakura!" kata Sakura memperkenalkan diri

"Ternyata, kamu punya penggemar juga ya Naruto!" ejek Sasuke. Sakura yang mendengarnya merasakan pipinya memerah

"Tu..tunggu, kamu salah paham. Aku mengikutinya karena kupikir dia mencuri Apel dari kebun paman Minato!" jelas Sakura

"Eh? Memangnya aku terlihat seperti pencuri ya?" kata Naruto "Begini Sakura, Paman Minato yang kamu kenal adalah ayahku. Tadi aku membantu ayahku memindahkan Apel-apel yang baru saja di panen..." lanjut Naruto

"Aduh maaf ya, aku salah sangka sama kamu Naruto!" ujar Sakura meminta maaf

"Tidak apa-apa kok!"

"Naruto, kamu urus anak itu aku mau pergi sebentar!" pinta Sasuke

"Huuh, seenaknya saja menyuruh orang dasar!" keluh Naruto

Sasuke pergi keluar dan menyisakan dua orang di ruangan Naruto dan Sakura.

"Hei, Sakura apa kakimu sudah membaik?" tanya siapa lagi kalau bukan Naruto

"Sepertinya sudah!" jawab Sakura jujur

"Kalu begitu kamu mau ikut aku atau tidak?" tanya Naruto

"Kemana?"

"Aku punya 2 tiket masuk ke Shiny land. Gimana mau ikut atau tidak?"

"Bagaimana ya? Boleh deh..."

Di perjalanan...

"Hei Naruto, Shiny land itu apa sih?"

"Shiny land itu satu-satunya tempat hiburan disini yang memakai sistem penerangan lebih. Untuk selengkapnya nanti kamu liat saja sendiri aku kurang bisa menjelaskannya..." jawab Naruto dengan senyuman khasnya

"Nah, kita sudah sampai!" seru Naruto

"Ini...Ini benar-benar keren!" Sakura takjub dengan keindahan Shiny land. Di Shiny land sangatlah terang mungkin karena Shiny land terdapat di sebuah ruangan yang sangaat besar dan atapnya menggunakan layar 3D yang bergambar seperti Matahari dan awan-awan putih yang melayang di langit biru (bisakan ngebayanginnya?)

Jadi, setiap orang yang masuk ke Shiny land mereka akan merasa seperti berada di dunia normal yang ada penerangan dari sinar matahari.

Naruto dan Sakura berjalan mengelilingi Shiny land sambil mengobrol obrolan kecil.

Selama kurang lebih ½ jam mereka berkeliling, mata Sakura tertuju pada sebuah bangunan bersar seperti Kastil (bayangkan kastilnya itu kayak sekolahnya Harry Potter) yang di cat dengan warna abu-abu dan putih.

"Waaw...apa itu benar-benar nyata?" Bingung Sakura

"Ya tentu saja! Semua yang ada di sini 100% nyata. Kamu mau masuk kedalam?" ajak Naruto

"Apa boleh? Aku takut kalau kita masuk pemilik kastil ini marah"

"Kastil ini namanya Rumah kujungan. Siapa pun boleh masuk ke dalamnya karena kastil ini milik kami semua. Milik orang-orang yang ada di Desa Iwagakure. Lebih tepatnya lagi, milik warga Dunia tanpa Cahaya" jelas Naruto

"Kemajuan teknologi disini sangat luar biasa!" seru Sakura. Mereka pun masuk ke dalam Rumah kunjungan.

Di dalam Rumah kunjungan sangat unik setiap 4 jam sekali dinding dalamnya berubah warna. Hal seperti itu memang sengaja di munculkan oleh para penyihir yang tinggal di desa Iwa agar pengunjung tidak bosan.

"Di sini pemandangannya bagus"

"Kalau ini sih belum apa-apa di sana, ada pemandangan yang lebih bagus lagi mau lihat?" tanya Naruto

"Kalau memang lebih bagus ayo kita kesana!"

Ternyata benar, Pemandangan di sebelah sana lebih bagus lagi! Di bawahnya terdapat rumah-rumah kurcaci yang sangat kecil dan terlihat berkilauan (?)

"Lihat! yang itu bentuk rumahnya lucu. Aku jadi penasaran bagaimana cara semua kurcaci itu membangun rumah"

"Kamu ini ada-ada saja. Eh Sakura aku ambil foto mu ya?"

"Boleh..Boleh" Sakura pun bergaya tangannya membentuk huruf V

Naruto menyebutkan aba-aba "Satu..dua..tiga"

"Nah, selesai" lanjut Naruto

"Rasanya menyenangkan sekali kalau kita bisa berkunjung ke Rumah kunjungan bersama orang yang kita sayangi" kata Sakura lirih

"Kamu...pasti sedang merindukan seseorang. Oh iya, sepertinya aku jarang melihatmu"

"Ya, kamu benar aku rindu rumah, ibu, dan semuanya. Aku memang tidak berasal dari sini aku hanya tersesat" jelas Sakura

"Memangnya kamu asal kamu dari mana?" tanya Naruto

"Di dunia yang sangat bertolak belakang dari Desa Iwa" jawab Sakura

"Maksudmu di Dunia yang memiliki sinar matahari asli?" bingung Naruto

"Benar. Sebaiknya aku pulang mungkin Hanabi dan Temari mengkhawatirkan ku"

"Hanabi? Aku kenal dia. Apa perlu aku antar?" ajak Naruto

"Tidak usah aku pulang sendiri saja. Terimakasih ya Naruto!"

"Sama-sama"

Lalu Sakura berbalik arah arah dan berlari meninggalkan Naruto

"Oh iya ada yang lupa" lalu Sakura berbalik kearah Naruto dan memanggilnya "Hei...! Naruto.."

"Ada apa?"

"Ini aku Cuma mau kasih batu ini. Disimpan ya, jangan sampai hilang" kata Sakura lalu pergi lagi.

Rumah Hanabi tampak gelap. Sakura mengetuk pintu namun tak ada yang membuka akhirnya Sakura meberanikan diri untuk mendekat dan perlahan menekan gagang yang tertempel pada pintu. "Tidak di kunci" gumam Sakura "Nyiiit..." suara pintu yang bergesekan dengan licinnya lantai. Perlahan pintu terbuka semakin lebar dan...

"KYAA" Sakura menjerit

"Ha─Hanabi, kamu bikin kaget aja!" Kata Sakura sambil melangkah masuk

"Maaf aku baru mau membuka pintu saat kak Sakura masuk" kata Hanabi. Sakura hanya tersenyum simpul

"Akhirnya kamu pulang! Aku kira kamu tersesat dan hilang dimakan binatang buas" Seru Temari

"Ahaha maaf ya, tadi aku jalan-jalan sebentar"

"Huuh, untunglah kamu tidak benar-benar dimakan binatang buas" Kata Temari lalu pergi entah kemana.

Sekarang di dalam ruangan hanya ada Sakura dan Hanabi

"Apa kamu pernah memasuki Rumah kunjungan?" Tanya Sakura

"Tidak" Jawab Hanabi singkat. 'Ternyata dia memang benar-benar menjadi pemurung setelah kejadian 3 bulan lalu' batin Sakura

Esoknya...

"Hanabi, aku sedikit suntuk apa kamu mau pergi bersamaku kesuatu tempat yang menurutmu bisa menghilangkan rasa jenuh ku?" Tanya + ajak Sakura

"Tempat yang bisa menghilangkan rasa Junuh itu adanya di Pantai biru, Tapi bukannya aku tidak mau mengantar kakak, hanya saja aku sudah ada janji dengan kakTemari. Jadi, mau tidak mau kakak harus pergi sendiri" jawab Hanabi

"Ta─tapi Hanabi, aku sama sekali tidak tahu jalan bagaimana aku bisa pergi coba?"

"Kalau masalah itu gampang. Kakak datang saja ke rumah temanku. Namanya Moegi dia itu penyihir dan dia punya alat yang bisa membantu kakak nama alatnya: Peta sanasini" kata Hanabi

"Baiklah mungkin itu bisa membantu. Sekarang berikan alamat temanmu yang bernama Moegi itu" Lalu, Hanabi memberikaan Sakura alamat rumah Moegi

Setengah jam kemudian, Sakura sampai di rumah penyihir yang bernama Moegi.

'Jadi ini rumahnya. Rumah ini seperti gudang' pikir Sakura

Sakura mendekati rumah tersebut dan perlahan mengetuk kayu lapuk yang disebut Pintu oleh pemiliknya. Pintu itu terbuka dan Sakura menemukan suasana yang sangat nyaman di dalam rumah tersebut. Seluruh lantai tertutup karpet sehingga membuat nyaman si pemilik. Sofa-sofa yang besar dan empuk membuat siapa pun yang datang ingin segera duduk dan merasakan lembutnya Sofa itu. Sakura terpaku melihat itu semua. Bagaimana tidak, sebuah rumah yang seperti gudang dari luar memiliki kenyamanan ekstra seperti Hotel di dalamnya. Sakura mulai sadar ketika ada seseorang yang mengagetkannya

"Ehem..."

"E─eh tadi ada yang suara yang mengagetkanku tapi kok tidak ada wujudnya.." bingung Sakura sambil melihat kearah kenan dan kiri

"Di bawah sini!" Lalu Sakura menunduk dan dia melihat seorang anak perempuan yang sangat kecil. Kira-kira tingginya hanya sekitar 20 inci

"Oh...kamu ada di bawah! Bisakah kamu mendekat kearahku? Aku tidak bisa mendengarmu" Pinta Sakura. Tiba-tiba "POF!" anak perempuan itu berubah tingginya yang tadinya hanya sekitar 20 inci menjadi lebih besar mungkin tingginya sama seperti Hanabi

"Eh? ─Ah perkenalkan namaku Sakura kamu pasti Moegi. Aku datang kesini untuk mencarimu" Jelas Sakura

"Ada perlu apa kak Sakura?" tanya Moegi

"Aku adalah temanya Hanabi, aku ke sini mau minta tolong. Bolehkah aku meminjam Peta sanasini untuk keperluanku?" tanya Sakura

"Oh, kakak menginginkan benda ini?" Kata Hanabi sambil menunjukan sebuah perkamen yang berwarna cokelat keemasan

"Iya. Apa boleh?"

"Tentu saja boleh! Ini silahkan" Kata Moegi sambil memberikan perkamen tersebut

"Maaf Moegi, tapi aku tidak tahu cara menggunakan Peta ini bisa tolong ajari aku?" Pinta Sakura

"Begini Pertama, buka Peta tersebut. Lalu, kakak ambil pulpen ini dan tulis nama kakak di kolom ini tepatnya di tengah sini. Jika sudah, tulis nama tempat yang ingin kakak kunjungi dan tunggu satu menit. Lalu, denah lokasi tersebut akan muncul dan jika kakak salah/nyasar peta ini akan berbunyi dan menunjukan arah yang harusnya kakak lewati" Jelas Moegi panjang lebar

"Terimakasih Moegi! Maaf jika aku mengganggu. Kalau bigitu, aku pergi dulu ya!" Seru Sakura

Setelah mendapatkan Peta Sanasini Sakura langsung mempraktekan bagaimana cara penggunaan peta itu. Setelah selesai, Sakura langsung menuju Pantai biru.

15 menit kemudian, Sakura telah sapai di Pantai biru. Di lihatnya suasana pantai biru dari kejauhan terlihat sangat indah dan membuat hati Sakura terasa damai.

"Mungkin pantai ini akan lebih indah jika ada cahaya matahari. Tapi sepertinya, itu sangat tidak mungkin" gumam Sakura

"Itu memang tidak mungkin..." kata Sasuke yang tiba-tiba datang dan berdiri di samping Sakura

"E..eh k─kamu se─sejak kapan ada di sini?" Tanya Sakura

"Sejak tadi" Jawab Sasuke singkat

Sakura mengambil nafas panjang-panjang lalu membuangnya

"Pemandangan disini memang bagus untuk menghilangkan Stres" kata Sasuke

"Dari mana kamu tahu?" Tanya Sakura

"Awalnya aku juga mengalami hal yang sama seperti mu," jawab Sasuke "Memang sulit beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Tapi sebentar lagi juga kamu pasti terbiasa" lanjutnya

"Pasti Naruto sudah menceritakannya. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu yang tadi" Kata Sakura jujur

"Aku sama sepertimu. Sebenarnya aku berasal dari dunia yang sama denganmu. Tapi karena suatu kejadian aku jadi masuk ke dunia ini" jelas Sasuke

"Jadi begitu..." Sakura menunduk "Apa pernah terpikirkan olehmu untuk pulang?" tanya Sakura

"Hal seperti itu sudah aku lakukan berkali-kali tapi hasilnya? Aku tetap tidak bisa keluar" jawab Sasuke

Sakura menundukan kepalanya lebih dalam dan tanpa dia sadari dirinya telah menangis. Rupanya, Sakura sangat khawatir dia takut kalau dia tidak bisa pulang untuk selamanya dan dia takut tidak bisa bertemu ibunya dan teman-temannya

"Menangis seperti itu tidak akan membawamu pulang" kata Sasuke tanpa melihat kearah Sakura

"Ya, kamu benar"

Sakura memandang kearah gunung Moonlight yang terletak di tengah-tenah Pantai. Gunung Moonlight tampak bercahaya seperti sebuah lampu yang menerangi ruangan sekelilingnya.

'Di sini memang gelap, dingin, dan asing bagiku. Tapi setidaknya, aku tidak sendiri di sini. Masih ada teman-temanku yang akan terus menemaniku walaupun tidak ada ibu, masih ada mereka yang akan menjagaku. Ayolah Sakura, pikirkan hal yang positif! Di sini lebih baik. Di sini tidak ada sekolah dan tidak ada Anko-sensei yang selalu menceramahimu' pikir Sakura. Tiba-tiba senyuman mengembang di wajahnya. Rasa takut yang tadi menghampirinya berubah menjadi rasa senang. Wajah Sakura yang tadinya cemas mendadak menjadi riang gembira karena hal-hal positif yang tadi Ia pikirkan.

"Hei, kamu ini kenapa sih? Senyum-senyum sendiri aneh!" sindir Sasuke

"Biarin hwee..." Balas Sakura

"Dasar aneh. Sudah jam 8 malam sebaiknya kamu pulang!" kata Sasuke

"Malam? Jangan ngaco deh Sasuke, di sinikan gelap terus..." ujar Sakura

"Percaya atau tidak tadi sudah ada pemberitahuan resmi. Ayo cepat pulang akan aku antar!"

"Iya...iya" akhirnya mereka pulang bersama

"Sudah sampai sekarang kamu masuk, hari sudah malam angin malam tidak baik untuk kesehatan" ceramah Sasuke

"Iya..Iya cerewet!"

Saat Sakura baru mau buka pintu, pintu tersebut sudah di buka oleh Temari

"Kamu sudah pulang Sakura!" Seru Temari

"Iya. Pantai biru itu bagus banget tau" kata Sakura

"Eer..Sakura, aku pulang dulu ya!" Pamit Sasuke

"Eh..Kamu Sasuke?" Kata Temari. Merasa namanya di sebut Sasuke berbalik kearah Temari

"Temari..."

To be continue...

A/N:

Akhirnya chapter 2 selesai juga! Maaf ya kelamaan soalnya aku sempet sakit dan terpaksa menunda membuat chapter 2-nya. Makasih banyak bagi yang sudah membaca ceritaku... ^^

Segini dulu deh basa-basinya. Masih ada yang mau review?

Aku mau balas Review dulu:

Chido Rokuro: Makasih ya! Sekarang dialognya sudah aku banyakin + sudah aku perbaiki. NaruHina? Nanti insya allah (maaf kalo non-muslim) di chapter terakhir aku keluarin deh ^^

TaNia Hitsugaya Soifon: Makasih banyak…! Chapter 2-nya ada di atas silahkan di baca…

Azuka Kanahara: Suka cerita yang genrenya Adventure/Fantasy? Waah… sama kayak aku dong. Yang kamu bilang itu bener genre ini cukup sulit buat di kerjain dan butuh banyak banget imajinasi jadi kalau lagi drop ya…hasilnya kurang bagus. Makasih banyak ya, di chapter ini Dialognya sudah aku tambah. Karena tadinya ini novel panjang yang di potong jadi ya begitulah hasilnya terlalu banyak deskripsi maaf ya!

'Aka' no 'Shika': Salam kenal juga! Makasih ya, petuah dari kamu sangat berguna buat aku. Maaf ya, kalo kemarin kamu bacanya kurang enak. Sekarang sudah aku perbaiki ^^