Edit : Karena banyak yang salah sangka, ak bakal memperjelas...

Chapter 1 udah tamat dan ceritanya Hibari beneran mati...

Chpater 2 ini alternate ending dari chapter 1, dengan kata lain gak ada hubungannya sedikitpun sama chapter 1...

Cuma cerita awalnya aja yang sama...

Jadi kira" ini kayak versi kedua lah... (Versi humor-ny...)


Warning! Gaje!

Disclaimer : KHR milik Amano Akira

Cerita ini dibuat berdasarkan Author's Story...

Alternate Ending dari chapter 1, langsung dari bagian ketika udah balik, karena itu harus baca yang chapter 1 dulu baru bakal ngerti...

Cerita awalnya sama...


Author's Story Part 2

Minggu, 8 Agustus 2010

Aku disuruh periksa sama ibu author ke dokter.

Saat itu, aku sama ibuku sudah berpikiran buruk.

To Be Continued To Part 3


-Hibari's POV-

Aku melihat ke arah matahari. Sebentar lagi, matahari akan terbenam.

Berarti waktuku tinggal sedikit lagi.

Apakah hidupku akan berakhir begitu saja?

Hari ini kulewati berbeda dengan biasanya. Mungkin jika hari ini hari biasa, hari ini akan menjadi kenangan manis dalam hidupku.

Tetapi, itu semua sudah terlambat. Aku sudah tidak punya harapan lagi.

Aku tidak suka bersama-sama dengan orang lain. Menurutku sendirian merupakan jalan yang terbaik.

tetapi, kenapa tiba saatnya untuk berpisah, akun merasa begitu kesepian?

Kenapa?

Padahal aku...

Kenapa... kenapa justru disaat-saat seperti ini... aku merasa ingin mempunyai teman...

atau setidaknya...

orang yang berharga bagiku...

Aku mohon...

Kepada siapapun, kepada apapun...

Berilah aku kesempatan lebih...

Setidaknya, aku masih ingin hidup sekarang...

Aku tidak ingin hidupku berakhir begitu saja...

Saat itu juga, tidak terasa, air mata mengalir dari mataku...

-End Of Hibari's POV-


-Dino's POV-

Saat itu, aku berpikir...

Kalau tidak ada masalah lebih baik aku pulang sekarang sebelum malam tiba...

"Kalau begitu, Kyou..."

Aku kaget. Melihat ia menengok ke arahku dengan air mata membasahi wajahnya.

"K... Kyouya? Ada apa?"

Sesaat aku panik. Aku tidak pernah menyangka akan melihat Kyouya seperti itu. Apalagi dengan raut wajahnya yang tetap tidak berubah seperti biasa.

Saat itu juga, aku melihat dari tempatku berdiri.

Keseimbangannya perlahan-lahan hilang. Tidak lama ia terjatuh.

"Kyouya! Kau tidak apa-apa, Kyouya!"

Aku segera menghampirinya, sepertinya ia kehilangan kesadaran. Aku pun segera membawanya turun dan mengantarnya ke rumah sakit bersama Romario.


Rumah Sakit Namimori...

Sesampainya di sana, Kyouya segera dibawa ke suatu kamar perawatan untuk beristirahat.

Dia tidak sadarkan diri, aku menunggu dan duduk di sebelahnya.

Beberapa saat kemudian, Kyouya terbangun.

"Kyouya! Kau tidak apa-apa? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ia terdiam, wajahnya seperti sangatlah sedih. Perlahan-lahan ia duduk dan menyenderkan tubuhnya ke arah tembok.

"Sebenarnya, waktuku tinggal hari ini saja."

!

Aku terkejut, tetapi aku belum begitu mengerti apa maksud perkataannya.

"Minggu lalu, dokter mengatakan bahwa aku terkena virus tidak dikenal dan waktuku untuk dapat bertahan hidup hanya tinggal hari ini saja. Mungkin... sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini."

Baru pertama kali aku melihatnya dengan wajah yang begitu sedih dan kesepian. Biasanya walaupun ia sendiri, ia tidak pernah memasang wajah seperti ini.

Kejadian tadi juga, aku tidak pernah menyangka bahwa ia juga bisa menangis.

"Jadi..."

Tok... tok... tok...

Perkataanku disela oleh ketukan pintu, setelah itu dokter masuk membawa beberapa dokumen-dokumen.

"Permisi, Tuan Hibari."

"..."

Dokter itu melangkah ke tengah-tengah ruangan perlahan-lahan, tiba-tiba saja ia langsung membungkukkan badannya.

"Maafkan kelancangan saya, Tuan Hibari."

!

Aku kaget dan Kyouya juga sepertinya kaget. Tiba-tiba saja dokter berkata seperti itu.

"Sebenarnya, hasil pemeriksaan anda tertukar dengan milik orang lain."

"Maksudnya?" tanya Kyouya.

Sedangkan aku harus sedang berusaha untuk mencerna kata-katanya.

"Jadi, sebenarnya Tuan tidak terkena penyakit apapun dan tidak ada ancaman apapun yang membahayakan nyawa anda saat ini." lanjut sang dokter.

Hening

Aku merasakan firasat buruk...

Kyouya berdiri dari tempatnya dan mengeluarkan tonfanya. Aku juga sebenarnya agak bingung, di mana sebenarya ia menyembunyikan tonfanya itu.

Ia mendorong dokter keluar ruangan dan menutup pintu.

Dari dalam ruangan ini, aku dapat mendengar suara-suara aneh. Yang sepertinya tidak lain adalah suara jeritan dokter dan pukulan-pukulan yang menimpanya.

Tidak lama, suara-suara tersebut menghilang. Kyouya kembali masuk ke dalam ruangan.

Ia berhenti di depan pintu.

"K... Kyouya?"

Ia segera memandangku dengan tatapan tajam, pastilah ia sangat marah. Sepertinya aku harus segera pergi dari sini.

Aku berdiri, mempersiapkan diri untuk keluar dan kabur.

"Kalau begitu, aku pulang dulu ya... Kyou..."

Tidak terasa tonfanya sudah tiba di depan mukaku.

Aku menelan ludah... Sepertinya... Aku bernasib sangat buruk hari ini...

Setelah itu, aku pulang ke kantorku di Jepang dengan keadaan babak belur.

Pada akhirnya, menemuinya di Jepang tanpa persiapan lebih lanjut bukanlah pilihan yang bijak... T.T

-End Of Dino's POV-


Author's Story Part 3

Malamnya, aku ke dokter.

Tiba di sana, langsung aku masuk dan dokter segera menyimpulkan.

'Oh, itu mah skoliosis'

...

Ok, intinya cuma itu... *swt*

The End


Fin

Gaje sih... tapi apa boleh buat... =.=a

R&R, apapun diterima, flame juga gpp kok...^_^