Aku mulai kecapean sampai sakit...dan 'cuma' gara-gara itu, Misaki pun sampai terluka! Hmm...gimana ceritanya yah?

Me and the Golden 23

By : Yuri Misaki


Four...

Akhir-akhir ini Ide sering memintaku untuk mencari data-data lawan yang akan dihadapi Golden 23. Disaat yang sama, aku juga harus belajar untuk menghadapi ujian akhir. Akibatnya, setiap Golden 23 tanding, aku tak pernah ikut lagi karena belajar. Dan setelah itu, kondisiku makin memburuk.

Hingga pada suatu hari...

" Uhuk uhuk! "

" Eh si Yuri kenapa? " tanya Matsuyama sambil asyik membolak-balik halaman majalah bola favoritnya. Maklum, di dalamnya banyak sekali foto yang memuat dirinya ( narsis banget ya? ).

" Gak tahu, akhir-akhir ini dia sering banget batuk-batuk gak jelas gitu...dia juga jadi sibuk banget " jawab Misaki yang ikut melihat majalah bola tersebut.

" Apa dia sakit ya? " tanya Misugi.

" Wah...nalurimu sebagai anak dokter kayaknya mulai muncul nih..." sindir Misaki.

" Eh, tapi bisa jadi lo..." sahut Matsuyama.

Misugi mengangguk puas, Matsuyama membelanya.

" Iya juga sih..." ujar Misaki pelan.

" Kenapa gak kita tanya langsung ke dia? Kita kan' bisa bantu..." lanjutnya.

Misugi dan Matsuyama mengangguk.

3M pun mengetuk pintu kamarku.

Tok Tok Tok!

" Masuk aja! " kataku.

Matsuyama yang berada di depan langsung memutar kenop pintu.

" Lagi ngapain? Gak ganggu kan? " tanyanya langsung.

" Ini...lagi bantuin Ide nyari data..." jawabku.

3M langsung duduk di kasurku.

" Kamu sakit apa? " tanya Misugi.

" Eh? "

" Iya...tadi kami denger kamu batuk-batuk terus...apa kamu sakit? "

" Nggak kok..batuk biasa aja...mungkin gara-gara aku kecapean belajar..."

" Jangan bohong...soalnya batuk-mu itu udah lama banget...aku takut ada apa-apa nih..." naluri 'kedokteran' Misugi menajam tiba-tiba.

" Lagian..bukannya kamu punya asma ya? " sela Misaki tiba-tiba.

Mendengar itu, Matsuyama memukul kepalanya sendiri.

" Oh, iya ya..Yuri kan' punya asma...kok aku bisa amnesia gini sih? Aduh...bisa gawat nih! " serunya.

" Hmm... tenang dulu Matsuyama..coba kuperiksa dulu..." ujar Misugi.

Misugi mendekatkan telinganya pada punggungku. Wajahnya langsung berubah kaget.

" Yuri..." katanya menggantung

" Ya? "

" Ini udah bukan batuk biasa lagi..ini udah asma berat..."

Aku terkaget-kaget.

" Kupikir..."

" Kayaknya ini gara-gara kamu kecapean belajar sama bantuin Ide deh..." selidik Misaki.

" Kenapa sih Ide itu minta bantuan kamu segala? Dulu pas World Youth aja bisa sendiri..! " Matsuyama berapi-api.

" Aku yang minta, Matsuyama..." jawabku pelan.

Matsuyama menatapku heran.

" Lo..kok? Kenapa..? "

" Habis, aku gak enak sama kalian...aku juga pengen bantu-bantu ..."

" Tapi harusnya Ide kan' ngerti kalo kamu juga harus belajar buat ujian akhir ini, ya kan? " sahut Misugi.

" Iya juga sih...tapi aku gak enak ngomong sama Ide-nya.."

" Nanti aku aja yang ngomong " sahut Misaki tersenyum.

" Aku juga.. " ujar Matsuyama.

" Yuri..kalau mau, sore ini kamu harus ke dokter...aku yang anter deh.." rayu Misugi.

" Tapi..."

" Aku, Matsuyama, sama Misugi gak bakalan tega ngelihat kamu sakit berat gitu..." jawab Misaki.

Akhirnya, aku pun luluh.

" Baiklah..."

Sore itu, Misaki dan Matsuyama mendatangi kamar Ide.

Tok Tok Tok!

" Masuk... " jawab Ide.

Matsuyama pun masuk, diikuti Misaki.

" Maaf tiba-tiba..nggak ganggu kan?" Misaki membuka pembicaraan.

" Ah..nggak kok... ada apa emangnya? "

" Ehem! " Matsuyama berdehem, seraya melirik Misaki dengan mata elangnya.

' Biarkan aku yang bicara ' isyaratnya.

Misaki paham.

" Begini...ada yang mau kami bicarakan " jelas Matsuyama dengan bijak.

Ide langsung menatap Matsuyama bingung.

' Sebenernya ada apa ya? ' batinnya dalam hati.

" Ini masalah...Yuri..."

Ide bengong sesaat.

" Yuri? Emang kenapa? "

" Ya...akhir-akhir ini dia kelihatan kecapean buat bantu-bantu tugas kamu dan..."

" Apa? "

"...sekarang dia sakit"

Ide terkejut.

" Hah? Masa' iya? Padahal kan' tugas yang aku kasih ke dia kan' gak berat-berat amat...Cuma nyari data-data pemain lawan aja..."

" Kaupikir Yuri 'Cuma' mengerjakan tugasmu saja? " bentak Matsuyama dengan menekankan kata 'Cuma'.

Tangan kekarnya mulai mencengkram kerah Ide.

" Matsuyama sudah...! "

Misaki langsung melepaskan cengkeraman Matsuyama. Ide terengah-engah, dan Matsuyama masih menggeram marah.

" Apa kamu gak pernah tahu, kalau Yuri sekarang juga sibuk mempersiapkan ujian akhirnya..? Itulah alasan kenapa dia gak pernah datang saat kita tanding akhir-akhir ini... apa kamu gak tahu? Apa kamu pura-pura gak tahu? " Matsuyama masih membentak dengan nada tinggi.

" A...aku...tidak tahu..." jawab Ide lemah.

Matsuyama mulai panas, tangannya hendak meninju Ide...sedikit lagi tangan itu hendak meninju muka Ide namun...

HAP!

Matsuyama terkejut, rupanya Misaki menangkis tinjunya tersebut dengan tangannya.

" Matsuyama..tolong hentikan..kita disini bukan buat bikin ribut kan? " bujuk Misaki.

Matsuyama yang sudah terlanjur panas, serta merta balik meninju Misaki.

BUAK!

Tinjunya mengenai pipi Misaki hingga bibirnya mengeluarkan darah, dan pipinya langsung lebam.

" Aku tahu itu Misaki! Tapi Ide yang mulai ribut dengan kita! Dan kau..kenapa kesannya kau malah membela DIA..? "

" Matsuyama..kau salah paham...aku..."

" CUKUP! " tiba-tiba Ide berseru.

Misaki dan Matsuyama langsung menoleh padanya.

" Baik..aku yang salah...aku baru menyadarinya sekarang...aku..tak pernah memikirkan keadaan Yuri saat ini...maafkan aku..." Ide membungkuk pada Matsuyama.

Misaki hanya tersenyum, sedangkan Matsuyama yang sedikit 'mendingin' tersenyum dingin.

" Aku janji pada kalian...aku gak akan pernah ngasih Yuri tugas lagi... dan bolehkan aku minta satu hal? "

" Boleh..memangnya apa? " balas Misaki langsung, sebelum Matsuyama mengambil kesempatan itu untuk meluapkan amarahnya.

" Tolong sampaikan permintaan maafku pada Yuri, Misaki...aku mohon..."

Misaki mengangguk.

" Baiklah akan aku sampaikan...terimakasih atas waktumu ya..aku dan Matsuyama bener-bener minta maaf atas kejadian ini..." sahut Misaki sambil menarik lengan Matsuyama keluar kamar.

" Hei..pelan-pelan dong! " teriak Matsuyama.

Misaki terkekeh geli.

" Habis..aku takut kamu mengamuk lagi disana.." candanya.

Mendengar itu, Matsuyama bukannya tertawa, tapi justru memperhatikan pipi Misaki yang lebam dan bibirnya yang terus mengeluarkan darah yang terus ditutupi Misaki dengan lengan satunya.

" Ehm...Misaki? "

" Hm? "

" Maafkan aku...yang tadi... sedikit mengamuk.." kata Matsuyama sembari meminjam istilah Misaki barusan.

" Nggak apa-apa.. aku tahu kamu kesel banget sama dia.. kalo saja dia bukan Tamotsu Ide, bakalan aku bantu kamu buat ninju dia..."

Matsuyama tertegun, soalnya Misaki kan' perangainya tenang dan berbeda 180 derajat dengannya yang acap kali sering mengamuk.

" Se..serius? "

" Dua rius malah..! " canda Misaki.

Matsuyama terbahak.

" Oh, ya..lukamu itu..."

" Biarkan saja.. nggak parah kok.." potong Misaki langsung.

" Tapi kayaknya itu parah banget Misaki! "

"Kok kamu kayak yang ketularan 'naluri kedokterannya' Misugi sih? "

" Bukannya gitu Misaki..aku gak mau gara-gara luka ini kamu gak bisa main...kamu sendiri tahu kan' aku dan Misugi bakalan kerepotan kalau main gak bareng kamu...lagian kan' entar jadi aneh kalau 2M..enakan 3M kan? " cerocos Matsuyama.

Misaki terbahak.

" Matsuyama..Matsuyama...gak usah lebay gitu juga dong..! "

" Bukan lebay! Aku khawatir...! " sahutnya sambil meraba pipi Misaki yang lebam.

" Eh..kamu mau ngapain? "

" Mau memeriksa lukamu" jawabnya santai.

Matsuyama meraba pipi Misaki dan meraba sudut bibir Misaki yang terus mengeluarkan darah.

" Aw! " Misaki menjerit kesakitan.

" Ma..maaf..maaf..Tapi Misaki..ini emang parah..bibirmu robek..makanya berdarah terus..lebih baik kita ke dokter..aku anterin deh..."

Misaki tidak menolak ketika Matsuyama menarik tangannya untuk bergegas, ya..meskipun Matsuyama terbilang paling pemarah diantara dia dan Misugi..tapi Matsuyama adalah orang paling bertanggung jawab diantara mereka bertiga...sejak dia diangkat menjadi kapten Golden 23, tentu saja hanya menjadi kapten sementara karena tidak adanya Tsubasa yang biasanya mengisi posisi tersebut.

Sementara itu, di rumah sakit...

Krek!

" Jun! " seru sang dokter yang memang telah mengenali Misugi sejak Misugi melakukan pengobatan pada sakit jantungnya yang kini telah sembuh berkat jasanya.

" Dokter..lama tidak bertemu ya..." Misugi langsung menjabat tangan sang dokter.

" Ada apa Misugi? Apa ada masalah? "

" Sebenarnya..bukan aku dokter..tapi sahabatku ini butuh bantuan dokter saat ini.." Misugi menunjukku.

" Ooh..sahabatmu yang dari Indonesia itu ya? "

Misugi mengangguk, disertai tatapan heranku.

" Jun memberitahuku tentangmu..." jelas sang dokter yang seakan bisa membaca pikiranku.

" Ooh begitu.." sahutku pelan.

" Baiklah..ada apa? " tanya sang dokter lembut.

Sebelum aku menjawab, Misugi keburu menyela.

" Asma dok..tadi sudah aku periksa, asmanya sudah berat.."

" Begitu ya? " ujar dokter seraya mengambil stetoskopnya dan mulai memeriksa punggungku. Mukanya berubah kaget.

" Kau benar Jun.." jawab sang dokter sambil melepas stetoskopnya.

" Kupikir ini tak bisa ditangani dengan mebulizer saja, dia harus diberi oksigen..." lanjutnya.

" Oksigen? Apakah separah itu? " tanyaku. Soalnya sekalinya aku dioksigen saat dimana aku tahu asmaku itu memang sangat parah karena disertai demam tinggi ( kalaka curhat, hehehe ). Tapi ini...?

" Ya..sepertinya kamu terlalu kecapean untuk mengerjakan sesuatu...jadi..silakan tidur di ranjang ini.."

Dengan terpaksa aku pun tidur di ranjang dengan mengisap oksigen itu, sementara Misugi menungguiku di samping ranjang.

" Sebentar ya.. aku harus menangani pasien lain..." sahut dokter seraya melayani pasien lainnya.

" Misugi..kau pulang saja..ini kan' pasti lama" kataku.

Misugi menggeleng.

" Aku gak bakalan ngebiarin kamu, sahabatku yang malang ini mati kesepian disini..." candanya.

Aku tertawa tertahan.

" Gak bakalan! " kataku seraya pura-pura akan memukul Misugi.

Misugi mengelak.

" Gak kena..gak kena..." sahutnya masih dengan bercanda.

Kali ini aku terkekeh ringan.

Tiba-tiba, pintu terbuka karena pasien barusan sudah selesai, diikuti dengan dua orang lelaki masuk...

...dan sepertinya dua orang itu adalah...

" Hei! Kalian kembaranku itu kan? " sahut Misugi kencang.

Dua orang yang ternyata Misaki dan Matsuyama menoleh.

" Sejak kapan kami berdua jadi kembaranmu Misugi? " tanya Misaki.

" Sejak..kita jadi 3M barangkali..."

" Misugi..kita berdua saja yang kembar..Misaki nggak.." sahut Matsuyama.

Misugi bengong, apalagi Misaki.

" Misaki kan' kembarnya sama 'Tsubasa Ozora...' " ledek Matsuyama seraya menekankan nama Tsubasa-nya.

" Uuh..! " Misaki kesal bukan main, dirinya selalu saja disetarakan dengan Tsubasa sejak dia menjadi Golden 23 gara-gara niatnya untuk menyaingi Tsubasa.

Misugi dan aku tertawa saja melihat tingkah mereka berdua.

" Ngomong-ngomong...kenapa kalian kesini? Mau nyusul kami berdua ya? " tanyaku.

" Hu...Ge-eR..! " cibir Matsuyama.

" Hei..yang bener dong! Aku juga bingung kenapa kalian ini kesini? " tanya Misugi sedikit kesal.

Mendengar itu, Misaki membuka tangannya yang dari tadi menutupi luka di pipinya.

" Waduh...itu kenapa? " tanya Misugi, panik.

Matsuyama pun menceritakan semuanya.

" Ya ampun...kalian ini ada-ada saja..." komentarku.

" Habis..aku udah keburu kesal sama dia..jadi aja dia yang awalnya Taro Misaki menjelma jadi..."

"..jadi Hikaru Matsuyama, gitu? " potong Misugi.

Aku dan Misaki tertawa terbahak-bahak. Matsuyama yang tadinya mau bercanda, tapi dipotong Misugi merengut kesal.

" Sudah..sudah... ayo Misaki ..nanti lukamu itu gak sembuh-sembuh lo.." jawab Matsuyama sambil menarik paksa lengan sahabatnya itu menuju dokter keluarga Misugi.

" Waah..kalian ini sahabatnya Jun bukan? Hikaru Matsuyama dan Taro Misaki, benar? " tanya sang dokter.

" Benar " jawab Misaki.

" Jadi..coba perlihatkan lukamu.."

Misaki membuka lengannya, tampak pipinya yang tadi berwarna biru sekarang menjadi ungu lebam, ditambah warna darah yang terus keluar dari bibirnya...( jadi apa coba warnanya? ( apa sih..? # geje mode on ) )

" Hm...bibirmu robek Misaki..tampaknya pukulan sahabatmu ini benar-benar kuat ya? " canda dokter tersebut.

Tapi candaan itu justru membuat Matsuyama kian bersalah pada Misaki.

"...dan ini nampaknya harus dijahit.."

'Ya ampun...aku pikir tinjuku itu gak bakalan berakibat separah ini...' batin Matsuyama.

" Baiklah kalau begitu" jawab Misaki tenang.

" Nah, sekarang..kau tunggu sebentar di ranjang sebelah situ ya.." dokter itu menunjuk ranjang sebelahku seraya mempersiapkan alat 'menjahit'.

Misaki langsung tiduran di ranjang tersebut dan menghadapkan wajahnya padaku.

" Hei Yuri..udah baikan belum? " tanyanya lembut seperti biasanya.

" Lumayan..uhuk! " jawabku sambil terbatuk.

" Oh, ya tadi Ide titip pesan..katanya maaf kalau selama ini bikin kamu kecapean..dia janji mulai sekarang gak akan ngasih tugas ke kamu lagi...jadi kamu bisa fokus belajar sekarang..."

Aku mengangguk kecil.

" Nah..Misaki, kita mulai sekarang..." tahu-tahu dokter sudah berada di dekat kami semua.

Misaki mengangguk.

" Baik dok.." sahutnya.

Setelah urusanku dan Misaki selesai, kami berempat pulang ke asrama Golden 23 menatap masa depan yang gemilang...

...3M dengan babak penyisihan Asia-nya yang mendekati 'final'

...dan aku dengan ujian akhirku.

Note : Matsuyama..sadis amat kamu sama Misaki! ( langsung ditinju Matsuyama ) untung aja Misaki-nya baik ( so what? )...udah ah lanjut-lanjut!