Pertandingan terakhir pun dimulai...! Apakah aku dapat datang?

Me and the Golden 23

By : Yuri Misaki


Seven...

Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju sekolah, di lain sisi Golden 23 berangkat menuju stadion.

Di ruang ganti baju Jepang...

KYUT!

Tak seperti biasanya, kali ini Matsuyama memakai ikat kepala andalannya. Ia mengikatnya kencang.

" Tumben pake ikat kepala, Matsuyama? " tanya Misaki.

" Ini maksudnya apa kamu emang ngotot banget buat menangin pertandingan kayak waktu kita World Youth lawan Swedia apa..."

" Hush..! Jangan dibilangin ah! " tiba-tiba saja Matsuyama memotong kalimat Misugi.

" Apaan sih? " Misaki bingung bukan kepalang melihat tingkah dua sahabatnya itu.

" Ah, kamu gak tahu Misaki...waktu kejadian itu kamu masih di Perancis.." jawab Matsuyama.

" Kejadian itu? Apaan sih...? "

" Kejadian itu mulai pas kita masih kelas 3 SMP, udah lama banget kan? " Misugi mulai bercerita.

Misaki mendengarkan dengan penuh minat. Sedangkan wajah Matsuyama mulai memerah ketika mendengarkan cerita Misugi.

" Begini ceritanya..."

Waktu itu, pertandingan final antar SMP Nasional, SMP Nankatsu yang dipimpin Tsubasa dan SMP Toho yang dipimpin Hyuga.

" Yaah...udah penuh...harusnya aku dateng lebih pagi..." gumam Matsuyama remaja ketika memasuki stadion yang penuh itu.

" Hei Matsuyama! Disini masih ada satu kursi kosong! "

Matsuyama menoleh, mencari sumber suara.

" Misugi...Yayoi..." katanya setelah menyadari siapa yang memanggilnya.

" Ayo kemari! " sahut Yayoi.

Matsuyama pun duduk di sebelah Misugi.

" Matsuyama...sayang sekali ya kau kalah kemarin..." Misugi remaja mengawali pembicaraan.

" Iya, tapi Nankatsu memang hebat.."

" Terus temen-temenmu udah pada pulang ke Hokkaido? "

" Iya...tinggal aku saja disini, lagian aku emang mau menyendiri..aku juga diberi tugas oleh pelatih untuk melihat pertandingan ini untuk evaluasi..."

" Hmm..begitu ya.."

Sejenak Matsuyama memperhatikan Misugi dan Yayoi, segera saja terbayang peristiwa kemarin...

Furano telah selesai bertanding dengan Nankatsu. Pada hari itu, manager Furano alias Yoshiko memberikan ikat kepala pada semua pemain, termasuk Matsuyama sebagai bentuk terimakasih karena Yoshiko akan ikut keluarganya pindah ke luar negeri.

Ketika usai bertanding dan melepas ikat kepalanya, Matsuyama kaget melihat tulisan Yoshiko di ikat kepala itu...

I 3 You

Melihat itu, Matsuyama langsung lari ke bandara masih dengan seragam tandingnya, berharap Yoshiko belum berangkat.

" Yoshiko...! " begitu sampai di bandara dan melihat sosok Yoshiko di ruang tunggu, Matsuyama memanggilnya.

Yoshiko menoleh, dia melihat ikat kepala yang diberikannya kini diacung-acungkan Matsuyama. Yoshiko mulai terisak sedih.

Karena mereka terpisah oleh kaca, Matsuyama yang awalnya hendak mengutarakan sesuatu menggerakkan telunjuknya ke arah dada dan dilanjut ke arah ikat kepalanya yang artinya..

' Aku mencintaimu juga...'

Lalu terlihat ibu Yoshiko yang memanggilnya untuk bersiap. Yoshiko melambaikan tangan dan menggerakkan bibirnya yang artinya...

' Selamat tinggal Kapten...'

Yoshiko pun hilang dari pandangan. Matsuyama mulai terisak sedih.

" Kalian berdua enak ya..bisa terus bersama " gumam Matsuyama sembari memperhatikan Misugi dan Yayoi.

" Eh? " Pasangan itu gelagapan, bingung dengan maksud Matsuyama.

"...begitu.." Misugi mengakhiri ceritanya.

" Ooh...jadi begitu..tapi yang jelas kamu seneng kan' udah tunangan sama Yoshiko.." respon Misaki.

Matsuyama mengangguk malu-malu ( sebenernya malu-maluin sih hehe ).

" Udah yuk ah..kita siap-siap..! "

Di sekolah...

" Duuh...kok gak mulai-mulai sih? " tanyaku sedikit kesal ketika tahu bahwa acara tidak segera mulai padahal sudah menunjukkan pukul 8, yang harusnya pada pukul tersebut sudah dimulai acaranya.

" Biasa lah...acara kayak gini sih suka ngaret..." komentar salah satu temanku, Keiko.

" Iya juga sih...tapi kan gak biasanya kayak gini"

" Mungkin jalanan lagi macet Yuri...bukannya sekarang pertandingan terakhir Jepang melawan Australia ya? "

" Ah..iya juga..."

" Anak-anak..dimohon untu menunggu sebentar karena kepala sekolah kita masih berada di perjalanan..." tiba-tiba saja salah satu guru yang menjadi MC memberikan pengumuman.

" Tuh..aku bener kan, Yuri? " sahut Keiko.

Aku mengangguk seraya berpikir bahwa Golden 23 pastilah sudah memasuki lapangan saat ini.

' Berjuanglah kawan-kawan...! 'do'aku dalam hati.

PRIIIIT...!

Kick off sudah dimulai oleh Jepang. 3M yang membina serangan langsung melaju menuju gawang Australia dikomandoi Matsuyama.

" Ayo kita mulai formasi baru kita...! " serunya.

Misaki dan Misugi langsung ambil posisi, sedangkan Matsuyama terus mendribble sampai ia dihadang dua orang defender Australia.

' Misugi...sekarang! ' Matsuyama mulai eye contact dengan Misugi.

Misugi berlari menuju Matsuyama. Matsuyama langsung memberinya umpan.

DHASH!

Misugi langsung mendribble bola tersebut ke arah tengah, sementara Matsuyama cepat-cepat berlari maju, dan...

DHUASH..!

Rupanya Misugi mengecoh lawan yang mengejarnya dengan melakukan heel pass pada Matsuyama. Matsuyama langsung mendribble dan langsung memberi centering tinggi pada Misaki yang sudah menunggu di depang gawang.

WHUUSHHH...!

' Misaki...! '

' Aku tahu...! '

Misaki langsung melompat, mengambil ancang-ancang untuk melakukan overhead.

" Kiper hati-hati! "

" Halangi dia! "

Para defender Australia berusaha menghalangi tembakan Misaki, namun...

DHUASH...!

" Kuserahkan padamu, Matsuyama...! " seru Misaki.

Rupanya Misaki melakukan overhead untuk mengecoh lawan yang mengiranya akan menembak, padahal dia hanya mengoper pada Matsuyama yang sudah ancang-ancang menembak.

" Gawat..tidak ada yang menjaganya..! " para defender Australia berusaha berlari secepat mungkin menuju Matsuyama, namun terlambat, Matsuyama sudah menembak.

" TEMBAKAN RAJAWALI...! "

ZRUAAAK...!

Bola yang ditembak Matsuyama melesat cepat di tanah dan..

" Gool...! Jepang berhasil memimpin dengan tembakan rajawali Matsuyama...! " seru komentator.

' Pertama, 1 gol...kami butuh 3 gol lagi...' gumam Matsuyama. Ikat kepalanya berkibar-kibar diterpa angin. Segera saja ia mengingat-ngingat petuah Manager Kira sebelum pertandingan dimulai...

" Anak-anak...Australia sudah mempunyai poin yang besar daripada kita..jadi agar kita berhasil masuk ke olimpiade Madrid, minimal kita harus menang 3-0! Jika mereka menggolkan 1 saja..berarti kalian harus menang 4-1..begitu seterusnya..jadi gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya..! "

" Selamat pagi semuanya...! " sapa kepala sekolah yang baru saja datang dan langsung memberikan pidato pembukaan tersebut.

" Pagi! "

" Hari ini..dimana Bapak akan melepas kalian semua menuju jenjang yang lebih tinggi lagi...meskipun Bapak sedih sekali karena ini adalah hari terakhir kalian disini, tapi Bapak akan lebih sedih lagi jika kalian harus tinggal disini lebih lama lagi..oleh karena itu Bapak lepas kalian dengan rasa bangga yang sangat...Bapak do'akan kalian bisa menjadi bibit –bibit yang indah di tempat yang baru nanti, dengan membawa nama almamater kita tercinta...sekali lagi Bapak ucapkan, selamat atas kelulusan kalian semua...! "

Prok Prok Prok!

Tepuk tangah bergemuruh dari para siswa dan guru yang hadir pada saat itu.

" Terimakasih kepada Bapak Kepala Sekolah yang telah memberikan sambutan pada acara ini, selanjutnya kita langsung pada acara yang telah ditunggu-tunggu, pembagian ijazah dan penghargaan bagi siswa-siswi terbaik...! "

Aku menghela nafas lega.

' Tunggu aku kawan-kawan...sebentar lagi...sebentar lagi...!'

Misaki terus mendribble dan memberi centering tinggi yang mengarah pada Wakashimazu yang menunggunya di depan gawang.

DHUASHH...!

" Umpan bagus Misaki...! " Wakashimazu yang jangkung langsung menyambut umpan tersebut dengan heading dan mengarahkannya pada Nitta yang tengah berlari.

" Nitta...! " serunya.

" Aku mengerti Wakashimazu! "

Nitta langsung melancarkan tendangan andalannya, tendangan hayabusa.

ZRUAK...!

" Gol...! Jepang nampaknya benar-benar haus akan kemenangan untuk melaju ke olimpiade Madrid ini dengan menambah skor menjadi 2-0...! " seru komentator diikuti sorakan penonton.

WAAA...!

' 2 gol...tinggal 1 gol lagi...! ' gumam Misaki.

" Keiko! "

" Waah...aku udah dipanggil, Yuri..." Keiko langsung beranjak maju menuju panggung untuk menerima ijazahnya.

" Yuri! "

Aku langsung maju menuju panggung. Ketika sampai, salah satu guru membawakan topi wisudaku dan memakaikannya padaku. Lalu aku berjalan menuju kepala sekolah yang menyerahkan ijazahku dan memindahkan tali topi wisudaku.

" Selamat ya, nak..! " katanya tersenyum.

" Terimakasih, Pak..." sahutku seraya turun panggsung dan kembali duduk di kursiku.

" Yuri..lihat dong! " pinta Keiko.

Aku memberikan ijazahku padanya, dan membiarkan dia melihat-lihat nilaiku.

" Waah..bagus banget Yuri...kalo aku sih jelek.." komentarnya.

" Tapi sejarahku jelek, Keiko..."

" Alah...79 ini..hampir 80 kan? "

" Emangnya yang kamu gimana? Bagus lah pastinya..." ujarku seraya melihat ijazah Keiko.

" Bagus gini..kenapa dibilang jelek..."

" Ya jelek lah kalau dibandingin sama kamu.."

Aku diam saja.

Striker Australia nampaknya gusar ketika sudah ketinggalan 2 angka. Mereka pun langsung melesat maju menuju gawang Jepang.

" Halangi dia...! " komando Misugi yang berperan sebagai libero.

Defender Jepang, Jito, Soda, dan Ishizaki mulai menghalangi striker tersebut, namun mereka dilewati striker tersebut dengan mudahnya.

" Gawat..tidak ada yang menjaganya! " sahut Soda.

Striker Australia tersebut langsung menembak.

" Rasakan ini Jepang...! "

DHUASH...!

" Takkan kubiarkan! " Misugi langsung menghalau tembakan tersebut dengan dadanya, namun sayangnya bola yang telah dihalau Misugi tadi memantul ke arah gawang Jepang dan...

ZRUAK...!

Morisaki yang awalnya mengira bola itu tidak akan masuk kaget ketika ternyata bolanya mengarah pada gawangnya sehingga tak sempat untuk menghentikan bola itu.

" Gol...akhirnya Australia berhasil mengejar menjadi 2-1! " seru komentator.

Misugi menggeram kesal.

' Cih! Gara-gara aku..kita masih harus mengejar 2 gol lagi...akan kumasukkan gol ketiga untuk membalas semuanya...' sungut Misugi kesal.

PRIIT PRIIT PRIIT...!

Peluit tanda babak pertama usai pun berbunyi.

Golden 23 langsung kembali ke bench.

" Maafkan aku teman-teman...sebagai balasannya akan kucetak gol ketiga.." sahut Misugi.

" Ehm! " Golden 23 serentak mengangguk.

" Oh, ya...Misaki, Matsuyama..! " panggil Misugi.

Yang dipanggil menoleh.

" Jangan lupa bantu aku, ok? "

" Oke Misugi! "

" Ya ampun...kok lama banget sih bagi ijazahnya " sungutku kesal.

" Yaah..kamu ini..kan' kita tuh ada 10 kelas, jadi pasti lama dong..." jelas Keiko.

Tiba-tiba..

" Kazuto! "

" Ehem ehem... " aku mulai menggoda Keiko ketika terdengar nama Kazuto—pacar Keiko – dipanggil.

Keiko memerah mukanya.

" Eh, Kazuto kelas mana sih? Lupa aku.."

" Kelas E.." jawab Keiko, lebih lembut daripada biasanya.

" Berarti masih lama dong? Hadooh..hadooh...nasib-nasib..alamat gak bisa nonton Jepang lawan Australia nih..." sungutku kesal.

" Ya kita berdo'a aja biar cepet selesai " ujar Keiko menenangkanku.

Aku mengangguk kecil.

PRIIIT...!

Peluit tanda babak kedua dimulai pun berbunyi. Misaki langsung mendribble bola dikawal Matsuyama. Sedangkan Misugi telah overlap menuju area kotak penalti.

Sekejap, Misaki telah dikawal striker Australia, Misaki pun melancarkan roulette andalannya.

" Huh..roulette ya? Aku telah menelitinya, jadi aku takkan terkecoh dengan roulette-mu itu! " seru sang striker Australia.

Namun rupanya roulette Misaki hanyalah tipuan belaka, karena begitu dia bebas, dia langsung memberi operan pada Matsuyama di area kanan.

" Apa? "

DHUASH...!

" Permainan yang indah dari 'Artis Lapangan', Misaki..kini bola telah diambil alih Matsuyama. Akankah dia mencetak gol lagi? " seru komentator.

Matsuyama masih terus mendribble, dan seketika dia berancang-ancang menembak. Misugi yang memperhatikan itu langsung kaget.

' Matsuyama...' Misugi tepekik.

' Kau tunggu saja disitu, aku tahu maumu kok...' isyarat Matsuyama.

" Takkan kubiarkan kau..!" defender Australia melancarkan sliding tackle.

Matsuyama langsung melompat dan memberi umpan pada Misugi.

" Maju Misugi! " serunya.

Misugi langsung ancang-ancang menembak, namun didepannya ada defender yang bertubuh jangkung siap menghalau tembakannya.

" Rasakan ini! " seru Misugi dan melancarkan drive shootnya.

WHUUUSH...!

Bola yang ditembakkan Misugi melayang melewati bahu defender tersebut.

' Ah..bolanya pasti takkan masuk gawang ' gumam defender tersebut.

Namun bola tersebut melengkung dan menghujam gawang Australia untuk yang ketiga kalinya.

" GOOOLLL...! "

" Berhasil! Tinggal 1 gol lagi... " seru Misugi senang. Ya, setidaknya dia sudah mengganti 'gol bunuh dirinya' itu.

"...siswa terbaik jatuh kepada..."

Aku diam saja, aku tak terlalu berharap untuk mendapat gelar siswa terbaik. Sedangkan murid lain deg-degan, menunggu siapa siswa terbaik kali ini.

"...Yuri dari kelas A! "

" Selamat Yuri...! " Keiko serta merta memelukku. Teman-teman sekelasku juga langsung menghambur padaku.

Aku masih terkaget-kaget, tak percaya dengan pendengaranku.

" Silakan kepada Yuri maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan..."

Aku pun maju dan disambut Bapak Kepala Sekolah yang memberiku hadiah yang telah dibungkus dengan rapi.

" Selamat ya nak...semoga bisa menjadi lebih baik di sekolahmu yang baru nanti.." ujarnya.

" Terimakasih Pak..." ujarku.

' Kawan-kawan Golden 23..terimakasih atas dukungan kalian selama ini, hadiah ini sepertinya lebih pantas untuk kalian...' gumamku dalam hati.

" Waktu telah menunjukkan 3 menit lagi...apakah Jepang akan melancarkan gol kembali sehingga masuk ke babak selanjutnya ataukah Australia yang berhak maju ? " seru komentator.

Sementara itu, Misaki asyik mengocek bola melewati satu persatu lawan yang menghadangnya. Hingga dia berhadapan hanya dengan kiper Australia saja.

" Masukkan Misaki...! Ini kesempatan terakhir! " seru Matsuyama dan Misugi.

'Kamu itu selalu percaya pada teman jadi kamu selalu membiarkan teman-temanmu yang mencetak gol daripada kamu'

Terngiang-ngiang kalimat –kalimat pendapatku pada benak Misaki. Sejenak dia melihat Nitta disampingnya.

' Benar..percaya pada teman..' gumamnya dan langsung mengoper pada Nitta.

" Kupercayakan padamu Nitta! "

Nitta langsung menyongsong bola tersebut dan melancarkan tembakan, tapi sayangnya tembakan tersebut langsung di blok defender Australia.

" Haduh..Misaki tuh gimana sih? Kenapa dia gak langsung nendang aja tadi? Pasti masuk..." sesal Matsuyama.

" Liat dulu dong..masih ada kesempatan kok.." hibur Misugi.

Bola tersebut lepas dan melayang di udara.

' Tsubasa itu... mainnya dengan kekuatan... dan dengan itu dia selalu yang mencetak gol-gol penting bagi kemenangan suatu tim'

Lagi-lagi kalimat pendapatku terngiang-ngiang di benak Misaki.

' Mungkin saat ini, aku juga harus meniru semangat Tsubasa yang bermain dengan kekuatan penuh...semangat tanpa henti...karena kekuatan, berarti kemenangan..'

Misaki langsung melompat, hendak melancarkan overhead disusul jumping volley yang merupakan dua tahap dari overheadnya tersebut.

DHUASH...ZRUAKKKK...!

Bola yang ditembak Misaki langsung menghujam gawang Australia.

PRIIT..PRIIT..PRIIIT...!

" Ya..nampaknya pertandingan telah berakhir dengan skor 4-1 untuk Jepang yang diakhiri dengan jumping volley Misaki..! " seru komentator.

" BERHASIL MISAKI...! " Matsuyama dan Misugi langsung memeluk sahabat mereka tersebut, disusul Golden 23 dan para staff serta Manager Kira.

" Dengan ini, kita maju ke olimpiade Madrid..YEAH..! " Golden 23 kegirangan. Mereka pun mengangkat tubuh Manager Kira yang sangat berjasa atas kemenangan mereka tersebut.

" Eh..ngomong-ngomong Yuri mana? " tanya Misaki yang celingak-celinguk ke arah bench.

Matsuyama menggeleng seraya melepas ikat kepalanya.

" Belum dateng kayaknya..."

" Sayang banget dia gak bisa lihat pertandingan ini.." komentar Misugi.

Hosh Hosh Hosh...!

Usai acara selesai, aku berlari tergesa menuju stadion, ketika sampai...

...stadion telah sepi, bahkan para pemain pun nampaknya sudah pulang.

' Aku terlambat...'

Pluk!

" Nyariin kami ya? " tahu-tahu Matsuyama menepuk bahuku, dan di belakangnya ada Misugi dan Misaki.

Aku langsung memeluk Matsuyama.

" Maafkan aku..." tiba-tiba saja aku menangis di pelukan Matsuyama.

" Sudahlah..tidak apa-apa...kita menang kok.." hibur Matsuyama mengelus kepalaku.

" Benarkah? "

Matsuyama mengangguk.

Aku pun mengusut airmataku dan melepaskan pelukannya.

" Hei Yuri..itu hadiah apaan? "tanya Misugi melihat hadiah yang masih kupegang.

" Ini..hadiah..penghargaanku...siswa terbaik..." aku masih terisak.

Mendengar itu Misaki langsung memelukku, disambut Misugi.

" Selamat ya...! " katanya.

" Wah..wah..kayaknya Misaki cemburu deh ngeliat kamu tadi meluk aku Yuri..makanya dia langsung meluk kamu gitu..." canda Matsuyama.

Misugi langsung melepas pelukannya.

" Oh, iya ya..mereka kan' pas festival musim panas kemarin kan' jalan..'berduaan'..." Misugi balas mencandai Misaki.

Misaki merengut kesal, akhirnya melepas pelukannya.

" Apaan sih kalian? " katanya kesal. Mukanya berubah merah.

" Hahahaha...kena deh! " sahut Misugi dan Matsuyama terbahak.

" Sudah..sudah..yuk kita pulang...udah sore nih! " Misaki langsung menggandeng tanganku berjalan pulang.

" Aduuuuu...jalan berduaan ni ye..! " goda Matsuyama.

" Gandengan lagi..udahlah jadian aja kalian! " goda Misugi.

Misaki menoleh, rupanya Misugi dan Matsuyama tidak mengikuti kami berdua berjalan sengaja untuk menggoda kami.

" Huuh...awas ya kalian..! " Misaki langsung mengejar Misugi dan Matsuyama yang lari kocar-kacir.

Aku tertawa perlahan.