Wanita itu menjatuhkan dirinya di sofa suatu ruangan. Rambutnya yang sejak awal sudah acak-acakan, semakin acak-acakan. Wajahnya yang semula kusut juga bertambah kusut. Baru saja ia merasa bisa menghela napas lega karena berhasil membuat tiga makhluk lincah luar biasa itu tertidur, sebuah suara mendadak mengagetkannya.
"Berdiri. Kita ke rumahmu untuk mengambil barang-barangmu sekarang."
Wanita berambut pirang itu akhirnya menoleh ke belakang, untuk melihat sumber suara. Tapi tindakannya sia-sia karena si asal suara sudah mendekat ke arahnya untuk mengangkat dua anak kembar yang tidak ada perlawanan sama sekali. Pria berambut merah yang merupakan pemilik suara tadi mengangkat kedua anak tersebut dengan tangan kiri dan kanannya, tepat di bagian perut anak-anak itu hingga kaki dan tangan keduanya menggantung sedemikian rupa.
"H-hei?" ujar wanita itu sambil mengangkat si anak perempuan yang juga tertidur pulas.
"Ah? Tolong bawakan tasku," tambah pria itu cuek.
Sang wanita melirik sekilas ke arah tas, mengambilnya, sebelum ia menambahkan, "Bukan itu! Kau serius… mau meyuruhku menginap di rumahmu? Tou-san-ku belum tentu mengizinkan, tahu!"
"Heh? Kalau kau takut bicara dengan Tou-san-mu, biar aku yang bicara. Dan aku yakin, Tou-san-mu juga akan mengizinkan, sebagaimana atasanmu memberikan izin!"
Wanita itu hanya bisa terbelalak dan kemudian mengejar langkah pria yang seenaknya meninggalkannya itu.
KISS ME WHILE YOU DRUNK
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Fic for GIST – Gaara Ino Spring's Tale
"WHOA!" seru wanita berambut pirang itu – Ino – masih sambil menggendong seorang anak kecil yang menyenderkan kepala di bahunya. Sementara, dua bocah kembar yang semula tertidur, kini sudah terbangun. Entah bagaimana caranya, keduanya terbangun tepat sesaat setelah mobil memasuki pelataran rumah sang Sabaku Gaara. Tepatnya, apartemen.
Kedua bocah kembar itu kini sedang memegangi sebelah tangan Ino dan tampak memandang ke dalam rumah pamannya dengan tatapan menerawang. Terlihat jelas kalau mereka masih sangat mengantuk.
"Apartemenmu luar biasa, Sabaku-san," ujar Ino yang kini sudah melangkahkan kakinya di dalam apartemen itu.
Gaara yang masih berdiri di belakang Ino hanya terdiam sembari mengunci pintu dan kembali mengangkat sebuah tas besar – yang semula ia letakkan di lantai karena tangan lainnya juga penuh dengan barang hingga ia tidak bisa mengunci pintu kalau tidak meletakkan salah satunya – yang merupakan milik Ino. Bungkusan wine dari Ino, yang awalnya ia letakkan di antara tangan dan tubuhnya, ia pindahkan ke atas meja. Demikian pula dengan tas kantornya yang tidak seberapa besar.
Setelah itu, Gaara beranjak ke salah satu kamar, meletakkan tas besar milik Ino begitu saja di lantai. Ino sendiri seakan tidak terlalu menaruh perhatian pada apa yang dilakukan Gaara dan memilih untuk berjalan perlahan ke bagian tengah dari apartemen tersebut.
"Ne, Sabaku-san?" panggil Ino.
Gaara yang sedang melonggarkan dasinya sambil mengambil sebuah gelas kemudian berkata, "Panggil Gaara saja."
"Hemh?"
"Gaara," ulang Gaara.
"Boleh?" tanya Ino sambil melepaskan si kembar yang sudah sedikit sadar dan memilih untuk beranjak ke arah tumpukan mainan yang ada di sudut di dekat meja televisi. Sebagai informasi, televisinya pun berlayar datar dengan inch yang pasti tidak kecil.
"Asal kau tidak menambahkan embel-embel 'chan'," jawab Gaara sesudah menenggak air mineralnya.
Seketika itu juga, wajah Ino memerah. Teringat kelakukan kurang sopannya pada Gaara pada saat ia mabuk kemarin.
"I-itu kan karena aku mabuk!"
Gaara hanya mengangkat bahu sambil meletakkan gelasnya kembali di dekat wastafel.
Ya, bagian dapurnya memang terbuka dan berada di dekat ruang televisi. Ruang makan berada tepat di sebelah dapur. Di dekat ruang televisi sendiri, ada akses untuk menuju ke beranda berupa pintu kaca yang ditutupi oleh tirai berwarna putih menerawang. Beranda itu berbentuk 'L' yang diputar 180 derajat dengan bagian yang panjang di sisi horizontalnya, jika dilihat dari arah pintu masuk. Namun akses untuk ke sana hanya melalui pintu kaca yang berdampingan dengan meja televisi.
Apartemen ini sendiri terdiri dari 3 kamar dengan kamar mandi berada di masing-masing kamar serta tambahan sebuah toilet di dekat pintu masuk. Dua kamar bersebelahan dan satu kamar lagi terpisah, berada di dekat sisi beranda yang vertikal.
Lantai apartemen itu terbuat dari marmer berwarna kecoklatan dengan bintik-bintik hitam namun di bagian ruang tamu dan kamarnya dilapisi oleh karpet halus bahan terbaik. Dindingnya sendiri dilapisi wallpaper berwarna coklat terang bermotif garis horizontal.
Satu catatan lagi, apartemen ini terlihat rapi. Ditambah beberapa tanaman imitasi yang diletakkan di pojok-pojok ruangan dan beberapa yang asli diletakkan di beranda, serta beberapa lukisan yang menempel di dinding, apartemen ini semakin terlihat luar biasa di mata Ino.
"Pasti mahal kan? Harga apartemen ini?"
"Lebih mahal dari wine pemberianmu? Ya," jawab Gaara sambil mengambil bungkusan wine dari Ino dan menyimpannya di salah satu rak tempel di dapur.
"Ukh! Begini ya, Saba – Gaara-san! Aku memang tidak kaya sepertimu. Jadi kau tidak usah menyindirku, oke?"
Gaara memandang Ino sambil mengerjabkan matanya sekilas. "Aku tidak bermaksud menyindirmu."
Ino berdecak kesal.
"Sudahlah. Sekarang di mana aku harus meletakkan bocah ini? Terus terang, tanganku sudah cukup pegal menggendongnya," ujar Ino sambil menengok ke kanan kiri.
Gaara sendiri hanya menunjuk ke satu kamar dimana ia meletakkan tas Ino tadi. Di dalam kamar yang juga terbilang luas itu, sebuah ranjang berukuran besar terletak di tengahnya. Ino pun menidurkan Rika –si bocah kecil perempuan – di sana. Setelah itu, ia melirik tasnya sendiri dan mengerutkan alis.
Ino keluar kamar dan langsung menghampiri Gaara yang sudah duduk di sofa sambil memegang remote televisi.
"Hei," ujar Ino perlahan, "apa aku akan tidur bersama Rika?"
Gaara memandang ke arah Ino. "Shima dan Teru juga akan tidur bersamamu."
"Hah? Dengan bocah kembar itu juga? Kenapa?" tanya Ino, atau tepatnya, protes Ino. Padahal masih ada satu kamar kosong, kenapa ia harus sekamar dengan bocah-bocah yang merupakan anak dari –ehem– mantan pria yang disukainya?
"Karena bahaya?" jawab Gaara yang mengundang tanda tanya di wajah Ino. "Ranjang di sini tidak ada penahannya. Jadi sangat mungkin mereka berguling dan kemudian terjatuh. Karena itu, aku mau kau mengawasi mereka juga saat mereka tertidur."
Ino memegangi dahinya sembari menggeleng pelan sementara sebelah tangannya yang lain ia letakkan di pinggangnya. Tapi Ino tidak diberi banyak waktu untuk menyesali nasibnya karena si kembar – Shima dan Teru – mendadak menarik tangannya dan menyuruhnya untuk menemani mereka bermain.
Pasrah.
Selama seminggu Ino akan terus bersama anak-anak ini.
Ada yang lebih buruk?
Yah. Sikap Gaara yang tidak begitu ramah dan seenaknya mungkin akan semakin memperburuk suasana.
Setidaknya demikianlah yang dipikirkan Ino saat itu.
o-o-o-o-o
Hari berganti dengan cepat. Dengan kata lain, ini adalah hari kedua dimana Ino harus bertugas sebagai pengasuh. Bagaimanapun, hari pertamanya benar-benar hari yang buruk. Seharian Ino dipaksa menemani bocah-bocah itu bermain.
Sampai malam pun, waktu tidurnya masih harus diganggu oleh anak-anak itu. Rika menangis lapar dan Ino terpaksa membuatkannya susu hangat. Shima dan Teru tidak bisa tidur, terus merengek meminta Ino membacakan cerita, dan itulah yang Ino lakukan. Di saat Ino berpikir bahwa ia sudah bisa memejamkan mata, Rika sekali lagi membangunkannya sembari menangis, mimpi buruk tampaknya mengejutkan anak itu. Dan Ino, dengan setengah hati, akhirnya berusaha menenangkan anak itu, menggendongnya, mengangin-anginkannya di beranda sebelum anak itu tertidur lagi. Saat Ino sadar, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Ino menghela napas. Lalu ia mencoba membaringkan dirinya di kasur. Tidak peduli seberapa sedikitpun waktu yang ia miliki, ia hanya ingin bisa terlelap di alam mimpi. Tapi…
Suara mencurigakan itu terus mengganggu tidurnya. Membuat tubuhnya menegang karena waspada. Matanya yang sudah agak memerah pun dipaksanya terbuka. Dengan mengendap-endap, gadis itu pun keluar kamar untuk melihat… sang tuan rumah yang tengah memasak entah apa di dapur. Catat, pada pukul empat pagi.
"Aku lapar, jadi aku masak. Ada yang salah?" Itulah jawaban sang tuan rumah saat itu. Dan Ino memutuskan untuk tidak lagi memikirkannya, karena ia sudah terlalu lelah. Fisik dan mental.
Dan beginilah ia sekarang. Bagaikan orang kehilangan nyawa. Terduduk di sofa dengan tatapan menerawang sementara anak-anak Nara itu tengah bermain di depannya.
Gaara sendiri sudah pergi ke kantornya sejak pukul delapan tadi. Dan pria berambut merah itu berkata akan pulang di atas jam dua. Sebenarnya, untuk posisi Direktur seperti Gaara, harusnya pria itu memiliki waktu yang lebih bebas untuk pulang dan pergi ke kantornya. Tapi pria itu memilih untuk berangkat kerja dari pagi. Workaholic-kah? Atau… cuma menghindar karena saat ini di rumahnya ada 'monster-monster' cilik yang membuatnya tidak nyaman? Ino tidak tahu dan tidak mau tahu.
Ino melihat ke arah jam yang tergantung tepat di atas televisi. Masih pukul sepuluh. Masih ada waktu untuk bersantai sebelum menyiapkan makan siang, tepatnya, untuk memesan makan siang. Ino pun memutuskan untuk menggunakan tangannya sebagai penyangga bagi kepalanya. Perlahan-lahan, matanya mulai menutup. Tapi Kami-sama masih punya rencana lain bagi Ino. Baru saja Ino hendak terlelap, mendadak sesuatu melayang dan menghantam kepalanya, membuatnya langsung terlonjak karena kaget.
"HAHAHAHAHAHAHA!" Dilihatnya anak-anak Nara itu tertawa-tawa sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Ino kemudian mengambil sebuah bola yang digunakan anak-anak itu untuk menimpukinya. Sambil menggeram, Ino mencengkram bola itu semakin erat sebelum…
"ANAK-ANAK NAKAL! SINI KALIAANN!"
"MONSTER PENGASUUUHH!" seru anak-anak keluarga Nara, yang bukannya takut malah senang dikejar-kejar oleh Ino. Tentu saja, mereka menganggap itu sebagai ajakan dari Ino untuk bermain. Anak-anak yang tidak mau berpikir panjang.
Selama setengah jam dihabiskan Ino untuk mengejar bocah-bocah itu. Dan begitu ketiganya tertangkap, Ino langsung mengusulkan sebuah permainan. Permainan yang tentu saja merupakan akal-akalannya.
"Kita main polisi dan penjahat, oke?"
Dengan mata berbinar-binar, Shima, Teru, dan Rika mengangguk. Wajah polos mereka sempat membuat Ino tidak tega. Tapi demi kelangsungan hidupnya, alias kelangsungan waktu tidurnya, Ino harus melakukannya!
Diambilnya sebuah selimut dan diikatnya ketiga bocah itu dalam posisi berpunggung-punggungan.
"Nah, ceritanya, polisinya berhasil ditangkap dulu untuk sementara. Nanti begitu bala bantuan datang, baru kalian bebas."
"Bala bantuannya ciapa?" tanya Rika meskipun ia tidak protes saat dirinya sudah terikat dan menempel dengan kakak-kakaknya.
"Ji-chan kalian? Siapa lagi?" jawab Ino santai sambil beranjak ke arah sofa setelah ia berhasil menghentikan pergerakan anak-anak yang sekarang sedang terduduk di lantai dalam posisi terikat. "Sekarang, penjahat ini mau bersenang-senang dulu karena ia telah berhasil mengalahkan polisi-polisi cilik yang menjadi lawannya." Ino memandang ketiga anak itu sekali lagi sebelum ia menyunggingkan senyum. "Selamat tidur!"
Ino pun memutar tubuhnya di atas sofa hingga posisinya langsung membelakangi bocah-bocah tersebut. Ketiga bocah tersebut awalnya terdiam. Tapi tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk meyadari tipu muslihat wanita berambut pirang tersebut.
Sebentar, mungkin Ino memang lupa kalau ayah anak-anak itu adalah seorang jenius dengan IQ 200. Dan kejeniusan itu tampaknya menurun dalam bocah-bocah tersebut. Ya, jenius untuk ukuran bocah tentunya. Jangan berharap kalau ketiganya dapat menyelesaikan persamaan matematika yang rumit atau menurunkan rumus fisika yang baru. Bukan itu. Setidaknya, mereka cukup peka kalau wanita di hadapan mereka ini hanya membohongi mereka untuk bisa mendapatkan waktu tidurnya kembali.
Karena itu, setelah mereka saling berkomunikasi melalui cengiran, mereka pun langsung… berteriak-teriak, menyanyi, bahkan berpura-pura menangis. Pokoknya, menghasilkan suara-suara berisik yang membuat Ino sekali lagi terlonjak, bahkan terjatuh dari sofanya.
"Aduuuhh…" erang Ino sambil mengelus bagian pinggangnya. "Kaliaannn…"
"Lika lapal," ujar Rika sambil tersenyum innocent.
"Kami bosan!" jawab si kembar kompak. "Polisinya nggak selamat-selamat sih…"
Ino merutuk dalam hati. Anak-anak ini memang berbakat jadi pengganggu nomor satu dalam hari-harinya yang damai. Sepertinya, dugaannya tentang Gaara yang memilih berangkat pagi ke kantornya lebih condong pada opsi kedua. Pria itu tahu bahwa 'monster-monster' cilik ini bisa menyerap habis energinya sehingga ia memilih melarikan diri bahkan sebelum 'monster-monster' tersebut terbangun.
Ingin rasanya Ino berteriak. Tapi itu urung dia lakukan. Sebagai gantinya, ia malah melepaskan ketiga bocah tersebut dan kemudian berjalan dengan lunglai ke arah telepon yang ada di dekat dapur. Sebelum pergi, Gaara sudah memberi tahu Ino nomor telepon yang bisa dihubungi untuk memesan makanan. Tapi – entah sudah ke berapa kata 'tapi' yang merasuk dalam benak Ino hari itu – sepertinya Gaara lupa meninggalkan uang makan. Dan Ino sendiri? Bukankah wanita itu baru saja menghabiskan uang gajinya untuk membelikan Gaara wine sebanyak tiga botol? Cursed it! Kalau Ino tahu akan jadi seperti ini, lebih baik ia tidak menghabiskan uang gajinya dengan sia-sia bukan?
Dengan malas, Ino meletakkan kembali gagang telepon tempel itu dan beranjak ke arah kulkas. Ada telur. Lalu ia mengerling singkat ke arah rice-cooker dan membuka isinya. Sepertinya nasi ini yang tadi –dini hari – ditanak oleh Gaara.
"Hei," panggil Ino pada anak-anak yang kini tengah anteng duduk di sofa sambil menonton acara kartun anak-anak. Bagus, di saat Ino sudah terbangun, baru anak-anak itu bisa diam. "Kalau makan telur dadar kalian mau tidak?"
"Terserah," jawab Shima dan Teru berbarengan, tanpa melihat ke arah Ino. Hanya si kecil Rika yang kemudian mengintip melalui sandaran sofa. Gadis cilik itu pun kemudian tersenyum lebar.
"Lika paling cuka telul dadaaal!" ujar Rika dengan polosnya.
Kyuung~...
Seketika itu juga hati Ino meleleh. Ia berdeham-deham kecil sebelum ia membatin.
"Oke, khusus hari ini kumaafkan kenakalan mereka."
Setelah itu Rika kembali asyik menonton dengan kakak-kakaknya. Meninggalkan Ino untuk menyiapkan makan siang bagi ketiga anak itu dan dirinya sendiri.
o-o-o-o-o
Menjelang pukul satu, tenaga Ino benar-benar sudah mencapai batasnya. Setelah memasak, Ino pikir ia bisa makan dengan tenang. Nyatanya, anak-anak itu memintanya untuk menyuapi mereka. Dan ditilik dari kelincahan mereka, tidak mungkin mereka bisa duduk tenang sambil menunggu disuapi bukan? Yah, itulah yang terjadi.
Dan sekarang, setelah apa yang mereka perbuat pada Ino, mereka seenaknya tertidur dengan nyenyak di atas karpet di ruang televisi. Ino tersenyum kecut sebelum ia membentangkan selimut – yang tadi digunakan untuk mengikat mereka – untuk menyelimuti mereka.
Sesaat, Ino menghela napas lega. Lalu ia beranjak ke kamar sebentar sebelum kembali lagi ke ruangan tengah tersebut dengan membawa sebuah handphone kecil di tangannya. Sejumlah mail dan missed-call sudah tercatat di handphone-nya tersebut. Selama beberapa saat, Ino membaca mail yang datang itu satu per satu. Semua mail itu terutama berasal dari Sakura, Hinata, dan Tenten. Missed-call yang ada pun kebanyakan berasal dari teman-teman sekantornya tersebut. Memang, ia belum memberi tahu Sakura dan yang lain soal alasannya cuti dari kantor selama seminggu. Kalau mereka tahu, tentu Hinata dan Tenten akan terkejut sementara Sakura akan tertawa.
"Damnit!" umpat Ino perlahan. "Nanti saja aku cerita pada mereka!"
Baru ia hendak berbaring di atas sofa, mendadak handphone-nya bergetar dan menunjukkan sebuah nomor tidak dikenal di layarnya. Ino mengernyitkan alisnya sebelum ia dengan ragu-ragu menjawab panggilan tersebut.
"Moshi-moshi?"
"Ini aku."
Ah!
"Ada apa?" tanya Ino malas. Tubuhnya sudah ia baringkan di atas sofa dengan kepala yang berbantalkan bagian tangan sofa.
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Sangat baik," jawab Ino sinis, "Pak Direktur yang terhormat tidak usah khawatir. Jalankan saja pekerjaan Anda di kantor dengan baik."
"Baiklah kalau begitu," ujar orang di seberang telepon, yang merupakan Gaara, acuh tak acuh.
"Hei? Kau tidak serius menanggapi kata 'baik-baik' yang baru saja kuucapkan kan?"
"… Dari suaramu saja aku sudah tahu kalau di sana tidak baik-baik," jawab Gaara perlahan. "Sudahlah. Aku pulang sekarang."
Ino hanya bisa mengerjabkan matanya saat sambungan itu diputuskan secara sepihak. Ia kemudian memandangi layar handphone itu beberapa saat sebelum jarinya menekan tombol yang membuat layar itu berganti dan menunjukkan contact list di handphone-nya. Jarinya terus bergerak, hingga ia berhenti setelah menemukan nomor kontak yang ia cari.
Shika nanas.
Ia tidak menghapus nomor tersebut dari handphone-nya. Tepatnya, ia belum sempat. Ia terus terpaku pada layar handphone-nya tersebut sebelum sudut matanya menangkap suatu pergerakan dari tempat dimana ketiga bocah tersebut tertidur. Belum ada yang terbangun, hanya tukar posisi berbaring.
Ino memandangi wajah polos ketiga bocah yang sedang lelap tersebut. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan tiap memandang wajah-wajah itu. Walaupun mereka adalah anak-anak dari pria yang sudah membuatnya sakit hati, tapi tetap saja, ketiga anak itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
Mereka mungkin memang menyebalkan. Mereka membuat Ino kewalahan dengan kejahilan mereka dan menguras tenaga Ino dengan kelincahan mereka. Tapi sekali lagi, Ino tidak bisa membenci mereka. Mereka yang tidak tahu apa-apa soal perasaannya pada ayah mereka. Mereka hanya anak-anak. Mereka tetap saja anak-anak. Walau mereka adalah anak-anak dari pria yang sempat merebut hatinya dan kemudian membiarkannya hancur berkeping-keping sekalipun.
"Lagipula…" gumam Ino lirih sambil kembali memandang langit-langit, sebelum sebelah tangannya ia letakkan dengan posisi melintang, menutupi matanya, "aku saja yang salah paham. Shika sama sekali tidak pernah memperlihatkan kalau ia menyukaiku lebih dari sekedar partner kerja."
Senyum tipis disunggingkan Ino. Bersamaan dengan itu, cairan bening mendadak membasahi pipinya.
"Mendokuse na, Shika-kun?"
o-o-o-o-o
Gaara melangkah masuk ke dalam apartemennya tepat saat jam dinding di tempat tinggalnya tersebut menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit. Setidaknya, pria itu menepati kata-katanya bahwa ia akan pulang di atas jam dua, walaupun kata 'di atas' itu hanya menunjukkan waktu sepuluh menit setelah lewat jam dua.
Begitu ia melangkah masuk, yang pertama dilakukannya adalah meletakkan tasnya di atas meja makan. Ia kemudian menggerakkan kakinya ke arah ruang keluarga, tempat para bocah Nara itu tertidur pulas. Ia berhenti di belakang salah satu sofa sebelum menggeleng perlahan, menyaksikan para bocah itu seolah bertransformasi menjadi malaikat saat mereka tertidur. Tapi perhatiannya kemudian teralihkan pada sosok wanita berambut pirang yang tengah tertidur di atas sofa.
Gaara memandangi bagian bawah wajah wanita tersebut karena bagian atasnya tertutupi oleh tangan. Dan saat itulah, entah kenapa Gaara jadi sedikit terpaku pada bibir sang wanita. Bibir yang telah merenggut ciuman pertamanya. Melihat itu, Gaara tanpa sadar mulai menggerakkan tangannya untuk menyentuh bibir ranum tersebut. Tapi, gerakannya terhenti seketika itu juga saat ia mendengar suara-suara yang tidak asing di telinganya.
"Ji-chan?"
Gaara langsung mengangkat kepalanya sedikit dan menarik kembali tangannya.
"Baru pulang?" tanya salah satu dari si kembar.
Gaara sendiri hanya mengangguk mendengar pertanyaan tersebut. Setelah mendapat jawaban Gaara, si kembar itu kemudian berlari kecil ke arahnya.
"Ji-chan, dengar! Tadi pengasuh mengajarkan kami bermain polisi dan penjahat lho! Tapi permainan itu membosankan! Jadi akhirnya kami memilih nonton kartun deh!" ujar bocah kecil yang dikenali Gaara sebagai Shima entah untuk alasan apa.
Menyambung saudaranya, Teru yang tadi pertama menyadari keberadaan Gaara kemudian menambahkan, "Setelah itu pengasuh membuatkan kami telur dadar! Enak lho, Ji-chan!"
Gaara sedikit menyipitkan matanya. "Telur dadar? Dia masak sendiri?"
Kompak, Shima dan Teru menganggukkan kepalanya bersamaan. Gaara hanya bisa bertanya-tanya dalam benaknya, kenapa wanita itu malah repot-repot memasak telur dadar sementara tadi ia sudah memberitahukan nomor telepon restoran yang dapat dihubunginya untuk makan siang. Gaara pun akhirnya memutuskan untuk menunda pertanyaan tersebut sampai sang wanita terbangun nanti.
"Setelah itu," ujar Shima lagi yang langsung membuat Gaara kembali memusatkan perhatiannya pada bocah yang sudah meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, "kami mengantuk dan akhirnya tertidur deh!"
Teru sendiri mengangguk membenarkan sebelum bocah tersebut meletakkan sebelah tangannya di depan mulut dan menguap lebar-lebar.
"Kalau kalian masih mengantuk, tidur saja lagi?" tawar Gaara sambil memegang kepala kedua bocah tersebut.
"Tidak, ah!" seru Shima cepat. "Kami mau bermain lagi bersama pengasuh!"
"Ayo bangunkan Rika dan pengasuh! Lalu kita bermain lagi bersama-sama!" sambung Teru sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan dada.
"Jangan," larang Gaara cepat dalam intonasi datar. "Sekarang lebih baik kalian main sendiri dulu."
Gaara berjalan, sedikit memutari sofa dan kemudian mengangkat tubuh wanita yang disebut pengasuh oleh kedua kembar tersebut dengan mudah. Pria berambut merah itu pun kemudian melangkah ke arah kamar yang ditempati sang wanita, dengan Shima dan Teru yang mengekor di belakangnya. Tanpa diduga, Shima kemudian berinisiatif membukakan pintu bagi Gaara sehingga pria itu dapat dengan mudah melangkah masuk ke dalam kamar.
Perlahan, Gaara meletakkan wanita tersebut di atas ranjang dan beranjak keluar tidak lama kemudian. Sebelum ia benar-benar menutup pintu kamar tersebut, Gaara melirik sekilas ke arah sang wanita yang tertidur dengan begitu pulasnya hingga ia sama sekali tidak terbangun meski Gaara telah memindahkan posisi tidurnya.
Seulas senyum kemudian hinggap di wajah Gaara. Ia pun akhirnya menutup pintu kamar tersebut sambil bergumam, "Selamat beristirahat, Nona Pengasuh."
o-o-o-o-o
Ino terbangun setelah beberapa jam ia tertidur. Setelah terbangun, yang pertama ia lakukan adalah merentangkan tangannya tinggi-tinggi ke atas. Setelah itu, ia mengucek matanya sekilas sebelum ia melihat ke sekelilingnya untuk memastikan dimana ia berada sekarang.
Tentu saja setelah ia sadar ada di mana, Ino langsung mengernyitkan alisnya dengan heran.
"Seingatku aku tidur di sofa tadi," gumamnya pada dirinya sendiri, "bagaimana bisa aku berada di kamar sekarang?"
Ino perlahan turun dari kasurnya dengan membawa pertanyaan yang belum terjawab itu dalam hatinya. Ia pun kemudian membuka pintu hanya untuk mendapati Gaara yang tengah menggendong Rika di atas pundaknya. Ino sedikit terkesiap melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Lebih terkejut lagi saat ia bisa melihat dua bocah kembar itu sedang mengarahkan pistol-pistolan ke arah Gaara.
Jadi… bukankah pria itu sedang bermain bersama keponakannya? Walaupun wajahnya datar, tapi tetap saja ia sedang menemani ketiga anak lincah itu bermain. Bukankah demikian?
"Ehem," ujar Ino sambil berkacak pinggang, "maaf mengganggu keasyikan kalian."
Seketika itu juga, Gaara berhenti bergerak dan menengok ke arah Ino. Demikian pula dengan si kembar dan Rika yang sudah mengarahkan pandangan mereka pada Ino.
"Apa yang sedang kalian lakukan ngomong-ngomong?"
Dengan riang, Rika yang ada di pundak Gaara kemudian menjelaskan.
"Lika lagi main pelang-pelangan cama Shima-chan, Telu-chan, dan Gaala-chan! Shima-chan dan Telu-chan jadi olang jaatnya, Lika jadi olang bae!"
"Hee…" komentar Ino.
"Kebalik tuh!" protes Shima sambil memanggul pistolnya di atas pundak, "Rika yang jadi orang jahatnya, tau!"
"Ndaaa!" teriak Rika sambil menepuk-nepuk kepala Gaara. "Lika olang bae! Shima-chan dan Telu-chan yang jadi olang jaat!"
Sekejab kemudian, terjadi adu pendapat antara Rika melawan Shima dan Teru. Gaara yang mulai merasa bahwa ia tidak dibutuhkan dalam permainan ini pun akhirnya memilih untuk menurunkan Rika dan membiarkan anak itu berdebat dengan kakak-kakaknya.
Gaara kemudian menggerak-gerakkan lehernya dan memijit –mijit sedikit pundaknya yang terasa sedikit kaku. Tanpa Gaara sadari, Ino sudah ada di sampingnya dengan sebuah seringai di wajahnya.
"Jadi… Tuan Direktur baru saja menemani keponakannya bermain ya?" ejek Ino.
"Yah…" jawab Gaara datar.
"Dan kalau boleh tahu, apa peranmu dalam permainan tadi?"
"Entah?" jawab Gaara acuh tak acuh. "Kuda. Mungkin?"
Ino tergelak. Selama beberapa saat ia merasa senang sementara Gaara hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerja yang bahkan belum sempat ia ganti. Melihat reaksi minim dari Gaara, Ino pun langsung menghentikan tawanya. Setelahnya, wanita itu pun akhirnya kembali teringat pada pertanyaan yang mengganjalnya, mengenai lokasi tidurnya yang tahu-tahu sudah berubah.
"Benar. Aku ingin bertanya padamu, Gaara-san," ujar Ino yang langsung saja menarik perhatian Gaara. Setelah merasa mendapat izin dari Gaara untuk melanjutkan, Ino pun berkata, "Apa kau yang memindahkanku ke kamar?"
Gaara mengangkat bahunya sedikit sambil berkata, "Apa kau pikir Shima atau Teru mampu mengangkatmu sampai ke kamar?"
"Oh, ayolah! Aku serius nih!"
"Aku juga serius, Yamanaka," jawab Gaara dengan ekspresi datarnya seperti biasa.
Ino kemudian mengamati Gaara, menatap lekat ke dalam bola mata turquoise milik pria tersebut. Selanjutnya, Ino hanya bisa menghela napas.
"Baiklah. Terima kasih atas kebaikan hatimu kalau begitu."
"Bukan apa-apa," jawab Gaara sambil beranjak ke arah kamarnya. Tapi belum sampai di kamarnya, Gaara kemudian berkata, "Aku jadi ingat. Aku juga punya satu pertanyaan untukmu, Yamanaka."
"Apa?"
"Kenapa kau malah repot-repot memasak telur dadar? Bukankah kau sudah kuberikan nomor restoran yang dapat kau hubungi untuk membeli makan siang?"
"Oh, itu," jawab Ino sambil melipat tangannya di depan dada, "semua salahmu, Gaara-san!"
Gaara menunjukkan ekspresi yang seolah berkata 'apa-salahku-?' hingga Ino kemudian melanjutkan.
"Kau tidak meninggalkan uang sepeser pun untuk membayar makanan yang akan dipesan. Dan aku, terus terang, isi dompetku sedang tidak mencukupi untuk membayar makanan bagi tiga orang."
Ino terdiam sesaat sebelum kembali menambahkan, "Dan lagi-lagi, itu salahmu, yang membuatku harus mengeluarkan uang untuk membeli wine sebagai permintaan maaf."
"Boleh kukatakan sesuatu?" tanya Gaara tenang namun terkesan sedikit berbahaya. "Kurasa lebih baik kau menyalahkan dirimu sendiri yang saat itu mabuk dan kemudian mencari gara-gara denganku…"
"I-itu…" Tidak dapat disembunyikan, wajah Ino merona seketika.
"Selain itu," tambah Gaara seolah ia belum puas memprotes tuduhan yang diajukan Ino kepadanya, "aku tidak pernah memintamu untuk membelikanku wine. Bukankah itu inisiatifmu sendiri, hem?"
Ino terdiam, merengut. Jelas sekali kalau ia tidak bisa membantah Gaara. Apa yang dikatakan pria itu memang tepat adanya dan Ino mau tidak mau harus menerima kenyataan pahit bahwa Gaara memang tidak bersalah. Kecuali bahwa ia lupa meninggalkan uang makan tentunya.
"Yah. Soal aku lupa meninggalkan uang makan, aku minta maaf," sambung Gaara akhirnya.
"Sudahlah…" jawab Ino yang sudah tidak berniat mengkonfrontasi Gaara lebih lanjut. Gaara pun mengangguk sebelum pria itu kembali berkata.
"Kalau begitu, tolong awasi mereka dulu sementara aku mandi."
Ino tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu hanya mengangguk kecil dan segera saja ia berjalan mendekat ke arah Shima-Teru-Rika yang sudah melupakan perdebatan mereka dan memilih untuk bermain balok, menyusunnya hingga membentuk suatu benda abstrak dengan ketinggian tertentu. Dengan jahil, Ino kemudian menjatuhkan balok-balok tersebut sehingga ketiga anak tersebut melongok dengan tatapan tidak percaya. Selanjutnya, aksi kejar-kejaran di antara mereka pun tidak dapat dihindarkan.
Sebelum masuk ke kamarnya, dalam hati Gaara merasa bersyukur karena ia tidak salah mempekerjakan seorang pengasuh bagi tiga bocah yang luar biasa lincah tersebut.
o-o-o-o-o
Sehari terasa berlalu dengan cepat bagi Ino. Begitu ia sadar, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan yang membuat Ino merasa bahwa hari ini tidak seburuk hari sebelumnya adalah karena tiga bocah itu akhirnya tertidur dengan pulas tanpa meminta macam-macam.
Ino mengecek dan memastikan bahwa ketiganya sudah benar-benar tertidur pulas dengan cara menepuk-nepuk kepala mereka satu per satu. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan, maka yakinlah Ino kalau ketiganya memang sudah tertidur pulas.
Ya, bagaimanapun hari ini mereka telah bermain puas seharian. Wajar kalau mereka merasa lelah dan akhirnya tertidur dengan cepat. Kalau ditanya kenapa hari pertama mereka tidak bisa tidur cepat walaupun sudah bermain seharian, mungkin itu dikarenakan mereka butuh adaptasi untuk bisa tidur di lingkungan baru dengan orang yang baru. Walaupun mereka terkesan mudah akrab dengan orang, tetap saja tidak dapat dipungkiri kalau mereka pun masih punya kewaspadaan terhadap tempat dan orang baru.
Setelah merasa bahwa Ino sudah melaksanakan tugasnya, ia juga berniat untuk segera tidur. Tapi mendengar suara-suara dari luar – yang sudah pasti disebabkan oleh sang tuan rumah – Ino pun memutuskan untuk keluar. Ternyata saat itu Gaara tengah mengeluarkan wine pemberiannya serta sebuah gelas wine bening dengan kaki gelas yang tidak terlalu tinggi.
"Ah? Ternyata hadiahku berguna juga?"
Gaara hanya melirik Ino sebentar sebelum ia duduk di meja makan itu dan berhadapan dengan laptopnya. Dengan tak acuh, Gaara pun menuangkan wine dalam gelasnya dan mulai berkutat dengan laptopnya.
Ino pun mendekati pria tersebut dan duduk selang satu kursi dari tempat Gaara. Wanita itu kemudian mengamati Gaara sesaat sebelum ia bertanya lagi.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bekerja? Apa lagi?" jawab Gaara sambil mengangkat gelas wine-nya dan kemudian menyesap isinya sedikit.
Ino mengangguk. Hening hanya bertahan sejenak karena Ino kemudian bertanya untuk ketiga kalinya.
"Enak? Wine-nya?"
"Tidak buruk."
"Tidak buruk itu artinya enak?"
Gaara mengalihkan tatapannya dari depan laptop ke wajah Ino. "Apa kau baru akan puas setelah aku menjawab enak?"
Ino menyeringai. Wanita itu pun memutuskan untuk mengganti topik percakapan mereka tanpa peduli apa Gaara tidak keberatan dengan keberadaannya di situ atau tidak.
"Masih banyak ya pekerjaan yang harus kau lakukan?"
Gaara menyesap kembali wine-nya sebelum ia menjawab, "Cukup banyak."
"Padahal kau Direktur, kenapa tidak menyerahkan tugas-tugas itu pada bawahanmu saja?"
"Yah… mumpung aku senggang?" jawab Gaara sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Senggang? Halo! Padahal kau bisa menggunakan waktu-waktu senggangmu ini untuk tidur lho?"
"Aku belum mengantuk."
Ino memutar bola matanya dan kemudian menyangga wajahnya dengan sebelah tangan. "Pantas saja lingkaran hitam di matamu bertambah besar."
Sekali itu, Gaara tidak menggubris perkataan Ino. Ia mulai asyik sendiri dengan pekerjaannya. Ino yang merasa kesal diacuhkan akhirnya memutuskan untuk mengambil handphone yang ada di saku celana pendeknya dan mulai membalas email dari teman-temannya. Dalam sekejab, di ruangan itu hanya terdengar suara orang yang mengetik, entah mengetik menggunakan laptop ataupun handphone.
Di sela-sela kegiatannya mengetik pesan balasan, Ino pun memberanikan diri untuk curi-curi pandang ke arah Gaara. Walaupun awalnya Ino sempat ketakutan setengah mati melihat wajah tanpa ekspresi milik Gaara, tapi dalam sekejab saja ia sudah dapat menyesuaikan diri dengan hal tersebut. Ino memang orang yang supel dan ini cukup membantunya di saat-saat seperti ini.
"Apa?" tanya Gaara yang merasa bahwa Ino sedang memperhatikan wajahnya.
Sedikitnya, Ino tersentak. Tapi kemudian ia memilih untuk mengungkapkan dengan jujur, apa yang ada dalam pikirannya.
"Ternyata kau tidak semengerikan yang kupikirkan pada awalnya…"
Gaara tidak menanggapi dan malah mengisi kembali gelasnya dengan wine.
"Bahkan kau cenderung…"
Mendadak, Ino menghentikan kata-katanya. Ia bahkan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, seolah kata-kata yang hendak diucapkannya barusan benar-benar tabu untuk diungkapkan. Sebenarnya, nyaris saja Ino mengatakan bahwa Gaara cenderung imut, sebagaimana kata-kata yang ia ucapkan saat ia mabuk. Tapi tidak, Ino sedang tidak mabuk kan? Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu?
"Aku cenderung apa?" tanya Gaara setelah sebelumnya ia menenggak habis wine yang baru saja dituangkan ke dalam gelasnya.
"Err.. Yah.. kau cenderung… ehm… orang baik?"
Gaara mendengus sambil mengisi kembali gelasnya dengan wine pemberian Ino. Ino yang melihat Gaara melakukan itu kemudian memutuskan untuk segera mengganti topik pembicaraan kembali.
"Kau sangat suka wine-nya yah?"
Gaara mengangkat bahunya sambil menenggak kembali isi gelasnya. Setelah itu, Gaara meletakkan gelasnya dan kembali berkonsentrasi dengan pekerjaan di hadapannya. Saat itulah, mendadak Ino mendapatkan ide. Kalau Gaara sudah melihat bagaimana wanita itu saat mabuk, maka sekarang giliran Ino untuk melihat Gaara saat pria itu mabuk. Barangkali saat mabuk, pria itu bisa melakukan hal-hal yang di luar perkiraan sehingga Ino bisa balik mengancam pria itu. Yang dibutuhkan Ino hanyalah handphone-nya yang mampu merekam gambar. Ino pun semakin menggenggam handphone-nya dengan seringai licik di wajahnya.
"Ah, Gaara-san! Ayo minum lagi!" ujar Ino sambil berdiri dari kursinya, mengambil botol wine yang terletak di depan Gaara dan kemudian menuangkannya dalam gelas pria tersebut. Gaara menatap Ino dengan aneh pada awalnya. Ino sendiri hanya menanggapi tatapan curiga pria tersebut dengan menunjukkan senyumnya.
Akhirnya, Gaara tidak lagi mempedulikan tingkah aneh Ino dan kemudian menenggak kembali wine-nya sedikit demi sedikit. Begitu habis, Ino kembali memenuhi gelas tersebut dengan wine yang sama. Dalam hatinya, Ino sudah berdoa agar pria itu segera mabuk dan melakukan tindakan-tindakan konyol yang dapat mempermalukan dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan kurang lebih setengah dari isi botol wine, Ino tidak melihat tanda-tanda mabuk dalam diri Gaara. Pria itu tampak tenang dan masih lancar mengetik menggunakan laptopnya. Ino pun mengernyitkan alis dan mulai berpikir bahwa Gaara adalah orang yang cukup resist terhadap alkohol. Tidak puas, Ino berdecak dan terus saja menuangkan wine tersebut dalam gelas Gaara. Tindakannya itu baru berhenti saat Gaara tiba-tiba bersuara.
"Oi, kau terus menuangkan wine ke gelasku," ujar pria itu perlahan, "apa tujuanmu?"
"Eh?" Ino pun terkejut dengan pertanyaan Gaara itu. Tapi ia berusaha bersikap tenang dengan menyunggingkan senyum dan kemudian menjawab, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya berusaha bersikap baik."
Tiba-tiba saja, Gaara berdiri dari kursinya dan menyebabkannya langsung berhadap-hadapan dengan Ino. Ino mulai memasang kewaspadaannya. Wanita itu semakin mengeratkan pegangannya terhadap botol wine yang sedari tadi ia pegang, seolah botol wine tersebut adalah perisainya agar Gaara tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikannya.
Tanpa diduga, Gaara kemudian menyeringai sinis.
"Jujur saja," ujar pria tersebut, "kau mau membuatku mabuk kan?"
"H-hah? Ah! Mana mungkin aku mempunyai niat sebusuk itu. Hahaha." Jawaban yang jelas-jelas bohong pun meluncur dengan lancar dari mulut Ino.
"Hemm…" jawab Gaara sambil mengulurkan tangannya dan kemudian menyentuh bibir Ino. "Mulut ini… suka berbohong ya?"
DEG!
Jantung Ino berdebar! Entah mengapa. Apa karena ia ketahuan telah berbohong? Atau karena… sentuhan Gaara yang terasa lembut di bibirnya?
"Tapi sayang sekali, Yamanaka. Kuberitahu saja padamu, aku bukan tipe orang yang gampang mabuk…"
"Hahahaha." Ino tertawa getir. "Kalau begitu baguslah?"
"Tidak bagus," sela Gaara. Ia kemudian semakin memojokkan Ino hingga wanita itu semakin bersender pada meja. Gaara bahkan menarik botol wine tersebut dari tangan Ino dan kemudian meletakkannya begitu saja di atas meja.
"He-hei, Gaara-san?" ujar Ino sambil meletakkan tangannya di dada Gaara, berusaha agar jarak tetap terbentang di antara mereka.
"Anak yang suka berbohong…" ujar Gaara sambil mengelus pipi Ino. "Harus dihukum!"
Saat itulah, Gaara menekankan bibirnya ke bibir Ino. Awalnya hanya bibir dengan bibir. Tapi tidak lama kemudian, pria itu meminta lebih dari sekedar menempelkan bibir. Ia memaksa Ino membuka mulutnya hingga keduanya dapat saling menjelajahi bagian dalam mulut satu sama lain.
Ino yang awalnya masih mencoba berontak akhirnya kalah oleh kenikmatan yang ditimbulkan oleh ciuman panas tersebut. Otaknya memutuskan untuk berhenti berpikir sesaat dan membiarkan sensasi itu bertahan lebih lama. Tubuh Ino pun semakin rebah di atas meja dan tangan wanita itu secara refleks mulai mencengkram baju Gaara, seolah bermaksud untuk mempertahankan keseimbangannya sendiri sekaligus membuat ciuman itu tidak mudah terlepas.
Ciuman itu pun berakhir tidak lama kemudian, saat Ino memutuskan untuk mendorong Gaara sedikit lebih keras untuk memberitahukan pada pria tersebut bahwa ia sudah sangat, sangat membutuhkan udara. Setelah ciuman mereka terhenti, Ino pun segera mengisi paru-parunya kembali dengan oksigen. Gaara sendiri tampak tenang di hadapan Ino.
"Kau…" seru Ino sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan. "Apa yang kau pik-…"
Belum sempat Ino mengutarakan protes setelah kesadarannya kembali utuh, mendadak, Gaara kembali melakukan hal yang membuat wanita tersebut harus menahan napas.
Ya.
Gaara memeluknya!
Memeluknya…
… hingga keduanya terjatuh dengan Ino berada di bawah Gaara.
Ino yang awalnya berdebar karena merasakan kehangatan tubuh pria itu tentu saja menjadi terkejut setengah mati. Wanita itu pun mulai merasa curiga di samping merasakan sakit pada punggungnya akibat hantaman dengan lantai yang sayangnya tidak dilapisi oleh karpet.
"Gaara! Heeiii!" teriak Ino yang berusaha menyingkirkan pria itu dari atas tubuhnya. Ia bahkan sudah tidak peduli mengenai panggilan sopan yang biasa ia gunakan saat memanggil pria tersebut. Saat ini prioritasnya adalah membuat pria itu menyingkir darinya. Tapi pria itu tampak tidak bergerak sedikit pun. Ino sampai harus mati-matian mendorong tubuh Gaara untuk membuat pria itu terguling ke samping. Saat itulah, akhirnya Ino bisa melihat… mata Gaara yang sudah terpejam dan dadanya yang mulai naik turun dengan teratur.
Tertidur.
Gaara tertidur!
Ino berdiri dengan bantuan kursi di sampingnya. Ia pun memandang Gaara dengan heran sebelum matanya terpaku pada layar laptop Gaara yang masih menyala. Begitu ia melihat tulisan yang tertera di laptop tersebut, sadarlah Ino apa yang sudah terjadi pada pria berambut merah tersebut.
Ya, dalam laptop Gaara, terlihat tulisan seperti ini :
Kain merah 30000 helai.
Kaing hijau 3101498 hellais.
kaim biri-biro 3189030 hellay.
kaimdn hirhatma 3022809 jeli.
kurakura aohdannkgnf 219810981070.
nanfqihwol nwqfgaaluvsuuowqmf lshukakumlsnfakl 39028018.
Apa artinya? Ino tentu saja tidak tahu! Dan Ino yakin, Gaara pun tidak tahu!
Kenapa?
Karena pria itu sebenarnya sudah mabuk!
Ino berdecih pelan sambil berkacak pinggang.
"Kau itu bukan tidak gampang mabuk, Gaara! Tapi kau memiliki wajah yang tidak gampang terlihat seperti orang mabuk! Huh!"
Ino pun kemudian memutuskan untuk mengangkat Gaara dan setengah menyeret pria itu ke kamar. Sebenarnya, Ino bisa saja meninggalkan pria itu tertidur di lantai ruang makan. Tapi ada sedikit perasaan bersalah yang hinggap dalam diri Ino karena bagaimanapun, ia lah yang telah membuat pria itu mabuk.
Setelah dengan susah payah membaringkan Gaara di kasur di kamarnya, Ino pun menghela napas panjang. Saat memandang wajah tenang dari pria yang sedang tertidur tersebut, mendadak jantung Ino terasa bergemuruh. Ino bahkan sampai harus menyipitkan matanya dan memegangi dadanya untuk dapat memahami arti gemuruh tersebut. Tapi biarpun sudah beberapa saat berlalu, Ino masih saja tidak mengerti kenapa ia mendadak merasakan keanehan seperti itu. Ino sudah hendak mengabaikan perasaan aneh itu saat mendadak fokus perhatiannya jatuh pada bibir Gaara yang baru saja menyerangnya tadi.
Bibir yang sama dengan bibir yang sebelumnya diserang oleh Ino.
Mengacak rambutnya sedikit, Ino kemudian berkata dengan lirih.
"Dan ciuman keduamu tetap harus jatuh padaku, Gaara. Jangan salahkan aku kali ini. Kau yang mabuk. Bukan aku."
Setelah mengatakan itu, Ino masih berdiam sesaat di sebelah tempat tidur Gaara. Ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya memandangi wajah Gaara yang sudah tampak pulas. Detik demi detik berlalu dan akhirnya Ino menyadari bahwa ia hanya membuang-buang waktu di tempat itu. Ino pun memutuskan untuk keluar dari kamar Gaara dan kembali ke kamarnya sendiri.
Tentu saja...
Dengan membawa suatu perasaan baru yang belum disadari sepenuhnya oleh wanita tersebut.
***つづく***
A/N:
Uhyeey! Chapter 2 is done! Masih bersambung lho? Mungkin 1 atau 2 chapter lagi sih. Mudah-mudahan tepat waktu deh sebelum bulan Mei berakhir.
Special thanks to : licob green, el Cierto, latatcha, Lollytha-chan, mio, Yuki Tsukushi, Rishawolminyu, Chiby Maruko-chan a.k.a Fidy-chan, vaneela, Yamanaka Chika, NaraUchiha'malfoy, lavender magic, Kara Couleurs, yang udah mereview chapter kemarin. Juga untuk semua yang telah nge-fave, nge-alert, dan semua yang udah baca fic ini sebagai silent reader. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya #bow.
Okey, sekarang…
Would you mind to gimme reviews? Tell me your opinion bout this chapter.
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
