Lewat sehari setelah insiden ciuman-tidak-sengaja-karena-mabuk-bagian-dua, Ino sempat terlihat canggung saat akan berhadapan dengan Gaara. Gaara sendiri memang acuh tak acuh tapi ia dapat merasakan kejanggalan yang disebabkan oleh tingkah laku Ino. Sebelum sempat Gaara menanyakan, kejanggalan itu langsung menghilang, Ino mulai kembali ke tingkah lakunya yang biasa. Dan itu disebabkan oleh – apa lagi kalau bukan – anak-anak keluarga Nara.
Ya, seperti sebelum-sebelumnya, ketiga anak Nara itu memberikan kesibukan yang luar biasa bagi Ino. Tiada hari dilalui Ino tanpa berlari, berteriak, dan berkeringat. Selain mengurus 3 bocah yang luar biasa lincah, ia bahkan juga harus menghadapi sikap seenaknya dari Gaara – sang tuan rumah. Ditambah dengan ejekan dari teman-temannya setelah ia memberitahukan alasan yang menyebabkannya harus cuti dari kantor, Ino pun mulai berpikir bahwa ia sedang diikuti oleh Dewa Kesialan.
Tapi…
Terlepas dari semua kesialan yang menimpanya, samar-samar, Ino sadar. Jauh di dasar hatinya, ia merasa bersyukur karena diberikan tugas untuk merawat ketiga bocah yang luar biasa lincah itu. Walaupun ketiga bocah itu adalah anak dari pria yang pernah membuatnya sakit hati, tapi berkat ketiga bocah itu pula lah ia tidak bisa lama-lama bersedih atas rasa sakit hatinya. Ia terlalu sibuk untuk sekedar membuang waktu memikirkan kesedihan akibat patah hati. Dan sebelum semua itu, Ino juga merasa bersyukur pernah berjumpa dengan seorang Gaara dan menghabiskan waktunya di dekat pria itu. Walaupun pria itu terlihat menakutkan awalnya, tapi sosok pria pendiam itu sedikit banyak kini telah membantu Ino untuk menghapus bagian yang tidak menyenangkan dari masa lalunya.
Dan pemikirannya yang lain mulai bertanya-tanya.
Benarkah ia sedang diikuti oleh Dewa Kesialan?
KISS ME WHILE YOU DRUNK
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Fic for GIST – Gaara Ino Spring's Tale
"Shima! Taruh lagi buku yang sudah kau baca pada tempatnya! Teru! Letakkan itu! Dan… KYAAA! Rika-chan! Itu bahayaaa!"
Demikianlah teriakan-teriakan yang kerap kali terdengar di apartemen Sabaku. Sang pemilik rumah sendiri, yang tampaknya sudah biasa dengan keributan setiap pagi menjelang ia berangkat ke kantornya – akhir-akhir ini ia memang berangkat lebih siang – hanya terdiam sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong roti yang memang disiapkan untuknya.
"Haaaaahh! Kaliaaan…" Tangan wanita berambut blonde yang sedari tadi berteriak itu kini sudah menggendong seorang anak perempuan kecil. "Ayolah! Kenapa kalian susah sekali disuruh sarapan sih?"
Dengan timing yang nyaris sama, kembar Shima dan Teru itu pun menjawab, "Kami belum lapar, Ino-chan!"
Kesal, Ino hanya bisa memutar bola matanya. "Baiklah terserah kalian!" Dan ia pun ke ruang makan bersama dengan si anak perempuan kecil yang lebih mudah diatur.
"Lika mau maam kok, Ino-chan!" ujar Rika sambil tersenyum manis.
"Aih! Rika-chan memang anak baik! Oke! Biarkan duo kembar itu. Rika-chan saja yang habiskan pancake jatah mereka ya?"
"YAAA!"
"NGGAK BOLEH!" teriak si kembar yang akhirnya langsung berlari ke meja makan dan duduk di tempat mereka masing-masing. Lalu mereka memegang garpu di tangan kanan dan menunggu Ino mengambil pancake untuk jatah mereka.
"Huh! Coba dari tadi kalian menurut! Sekarang pancake-nya sudah jadi agak dingin kan?"
"Masak.." ujar Shima.
"Lagi saja?" sambung Teru.
Rika sendiri sedang mengunyah pancake yang tadi Ino suapkan ke mulutnya. Sementara sang tuan rumah – Gaara, tampak cuek dan menghabiskan kopi dalam cangkirnya.
"Tidak, tidak! Pokoknya kalian habiskan saja pancake yang sudah ada! Aku terlalu sibuk kalau harus memasak ulang pancake untuk kalian!" jawab Ino sambil memotong pancake dalam ukuran kecil yang bisa dimakan Rika.
Setengah cemberut, Shima dan Teru pun akhirnya terpaksa memakan pancake mereka. Ino terlihat puas sebelum ia teralihkan pada Gaara yang sudah berdiri dengan membawa tasnya.
"Oh? Sudah mau berangkat?"
"Begitulah," jawab Gaara singkat sambil membetulkan dasinya.
"Nanti pulang jam berapa?"
"Entahlah. Lihat saja nanti."
Ino hanya mengangkat bahu. Ia malas menanggapi lebih jauh walaupun sejujurnya, ia mulai penasaran dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Gaara.
Waktu memang bisa mengubah segalanya bukan? Sesingkat apapun waktu tersebut.
"Gaala-chan, nanci malem jadi kan?" celoteh Rika setelah ia selesai menelan pancake-nya.
"Aa… Tentu."
Ino memandang Rika. "Ada apa nanti malam?"
"Kemayen Gaala-chan janji mau ngajak Lika maam malem di lestolan enyak!"
"Bukan cuma Rika!" sela Shima.
"Aku dan Shima juga!" tambah Teru.
"Ooh!" seru Ino sambil berbinar. "Jadi nanti malam aku dapet waktu kosong sendirian ya?" ujar Ino setengah berharap.
Bagaimanapun, Ino sempat berpikir kalau Gaara tidak mungkin mengajaknya ke restoran, apalagi restoran mahal, dan kemudian harus membiayai makan malamnya di restoran tersebut. Gaara memang tidak pelit. Meskipun demikian, membiayai makan malam Ino di restoran mahal akan menjadi sedikit berlebihan kan? Sementara, Ino juga tidak mau kalau harus disuruh membayar jatah makannya sendiri. Jadi bukankah lebih baik dia tidak ikut?
Lagipula, bagaimana pandangan orang kalau melihat mereka berlima? Keluarga bahagia? Oh! Yang benar saja! Gaara tidak mungkin ambil resiko kan?
Tapi, pemikiran Ino itu membuktikan kalau ia memang belum terlalu mengenal Gaara. Buktinya, Gaara malah berkata, "Kau bicara apa? Kau juga ikut. Aku tidak mungkin menjaga mereka sendirian."
"H-hah?"
"Sudah. Pokoknya persiapkan saja dirimu untuk nanti malam."
"Dadah, Gaala-chan!"
Gaara hanya mengangguk kecil sebelum ia berlalu begitu saja dan meninggalkan Ino yang masih berusaha mencerna apa yang baru dikatakan oleh Gaara. Setelah bunyi pintu tertutup, ia kembali mengalihkan pandangan pada anak-anak yang sedang mencoba menghabiskan pancake buatannya.
"Hei, kenapa kalian tiba-tiba bisa mengajak Gaara ke restoran sih?"
"Habis…" ujar Shima.
"Kami bosan," jawab Teru.
"Ino-chan," panggil Rika dengan intonasinya yang menggemaskan, "hali ini kita akan ke lestolan enyak yang ada di langit…"
"Di langit?" tanya Ino kebingungan.
Dengan inisiatif penuh, Shima turun dari kursinya, belari ke arah ruang televisi. Kepalanya kemudian menengok ke kanan dan kiri. Begitu ia melihat apa yang ia cari, ia langsung melangkahkan kaki mungilnya ke satu arah. Ia pun membawa suatu benda di tangan kanannya sambil kembali ke ruang makan.
"Ini!" ujar Shima sambil menyeringai.
Ino menerima benda yang ternyata sebuah majalah itu dan membiarkan Shima memanjat naik ke pangkuannya. Bocah laki-laki itu kemudian memperhatikan Ino membalik halaman demi halaman sampai ia kemudian berteriak.
"Stop! Di sini!"
Mata Ino terbelalak seketika. Bagaimana tidak? Yang ditunjuk oleh Shima adalah restoran yang ada di puncak salah satu hotel ternama. Bintangnya pun bintang lima! Dan dari keterangan yang ada di halaman majalah tersebut, hanya tamu yang berpakaian formal yang boleh masuk.
"Yang benar saja?" jerit Ino setengah frustrasi. "Hei! Aku tidak membawa pakaian formal sama sekali!"
"Pakaian folmal? Apa icu?" tanya Rika sambil menengok ke arah Ino setelah sebelumnya ia menusuk-nusuk pancake-nya sendiri dengan garpu.
"Eh, semacam gaun begitu."
"Kau tidak punya gaun, Ino-chan?" tanya Teru yang sudah hampir menghabiskan pancake-nya. Melihat Teru yang hampir mendahuluinya, Shima pun meloncat turun dari pangkuan Ino dan segera beranjak ke kursinya sendiri.
"Bukan tidak punya. Tapi aku tidak membawanya ke sini!" Ino menutup majalah itu. "Kenapa harus di restoran itu sih?"
"Karena terlihat menarik kan?" jawab Shima dan Teru kompak sambil memamerkan cengiran sama persis yang membuat mereka makin sulit dibedakan.
"Haa~h!" Ino menghela napas sambil meletakkan tangannya di dahi.
"Ng… Ino-chan nda cuka ya?" tanya Rika sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Padahal kita maam di langit lho?"
"Ah. Bukan tidak suka. Tapi kan…" Ino menghentikan kata-katanya. Tidak ada gunanya juga ia memberitahu apa yang ia pikirkan pada anak-anak ini. "Hemm… Tidak jadi deh."
Ino pun tersenyum. Rika kemudian membalas senyuman Ino dengan tampang riang, membuat Ino tidak tega mengatakan kalau ia sebenarnya tidak berniat untuk ikut pergi bersama mereka ke restoran itu nanti malam.
Tapi sebaiknya Ino melupakan soal restoran itu sejenak karena Shima dan Teru sudah berhasil menghabiskan pancake mereka dan kembali berlarian ke sana kemari, membuat Rika ingin mengikuti mereka walaupun makanannya sendiri belum habis. Dan tugas Ino sekarang adalah membuat Rika menghabiskan makanannya terlebih dahulu.
o-o-o-o-o
Pukul tiga sore Gaara sudah menjejakkan kakinya kembali ke rumahnya. Saat itu, dilihatnya Ino yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Kedua kembar Nara tampak tertidur pulas di karpet dekat situ sementara si kecil belum terlihat oleh Gaara. Begitu ia mendekat, Ino pun akhirnya sadar akan keberadaannya.
"Oh? Sudah pulang?"
Gaara tidak menjawab dan matanya hanya memperhatikan sosok si kecil yang sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Ino. Setelah ia puas memastikan bahwa ketiga bocah Nara itu sedang tertidur pulas, ia pun melihat ke arah Ino kembali.
Mengetahui tatapan Gaara sudah terfokus kembali padanya, Ino akhirnya kembali berkata.
"Eh, Gaara," ujarnya yang entah sejak kapan sudah tidak lagi mengenakan embel-embel untuk sekedar bersikap sopan pada Direktur muda di hadapannya, "nanti malam kau benar-benar serius ya? Akan makan malam di restoran yang ada di puncak hotel bintang lima itu?"
"Kenapa?"
"Di restoran itu, pengunjung yang masuk harus pakai pakaian formal kan? Aku tidak bawa gaun satu pun," jawab Ino sambil menyingkirkan kepala Rika dari pangkuannya secara hati-hati sebelum ia berdiri berhadap-hadapan dengan Gaara.
"Nanti sebelum pergi ke restoran, akan kuantar dulu ke rumahmu."
Ino sempat terdiam sesaat sebelum lagi-lagi ia bertanya, "Eh, memang aku harus benar-benar ikut ya?"
Gaara melipat tangannya di depan dada, "Ada alasan apa sampai kau tidak harus ikut?"
"Sebenarnya… Aku cuma agak malas saja dengan pandangan orang nanti," jawab Ino sambil mengernyitkan alisnya. Gaara sendiri sedikit terlihat bingung dengan jawaban barusan sehingga Ino terpaksa menambahkan, "Gini ya. Sebenarnya aku tidak masalah sih pergi ke restoran mewah seperti itu. Bukannya aku tidak terbiasa. Tapi aku malas saja kalau harus pergi denganmu dan ketiga bocah itu! Kau paham kan? Orang pasti akan bergosip macam-macam!"
"Aku tidak menangkap maksudmu," jawab Gaara santai.
"Ih!" tanggap Ino dengan gemas, "Kalau aku pergi denganmu dan ketiga bocah itu, aku pasti akan dilihat sebagai Nyonya-nyonya muda dan kesempatanku untuk mendapatkan pacar akan semakin berkurang!"
Seolah ia menangkap maksud Ino, Gaara hanya bisa mengerjabkan mata sekilas. Setelah itu, melihat ekspresi Ino yang sepertinya sungguh-sungguh saat mengatakan itu, Gaara pun jadi tersenyum sekilas sambil mengedikkan bahunya, "Pikiranmu terlalu berlebihan."
"Apa kau bilang?" protes Ino tidak setuju dengan pernyataan Gaara barusan. Gaara sendiri tampak sudah tidak akan menggubris perkataan Ino dan membalikkan badannya, siap melangkah ke kamarnya sendiri. "Uh! Ya sudah deh! Terserah kau saja!" gerutu Ino akhirnya. "Tapi jangan salahkan aku kalau nanti cewek-cewek tidak ada yang mau mendekat padamu karena keburu menciut setelah melihatku!"
"Begitu lebih baik," jawab Gaara acuh tak acuh.
"Hah?"
Belum sempat Ino menyatakan kebingungannya lebih lanjut terhadap kata-kata Gaara barusan, pria bertato kanji 'ai' di dahinya itu sudah terlanjur masuk ke kamarnya.
o-o-o-o-o
Gaara berbaring di kasurnya yang empuk tanpa menukar pakaiannya terlebih dahulu. Hanya dasi yang sudah ia lepaskan dan satu-dua buah kancing yang ia buka. Mata turquoise-nya yang dikelilingi lingkaran hitam akibat kurang tidur kini mengarah ke langit-langit. Pikirannya pun mulai berkelana.
Dengan hari ini, artinya sudah lima hari Ino tinggal di atap yang sama dengannya. Sejak kedatangan wanita blonde yang terbilang bawel itu, suasana rumahnya pun menjadi jauh lebih hidup. Gaara juga tidak lagi merasa terlalu canggung dengan anak-anak kakaknya tersebut. Memang, Gaara tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama mereka, tapi begitu kesempatan itu datang, ia tidak lagi merasa tidak nyaman. Dengan begitu, Gaara juga merasa tidak perlu lagi keluar rumah terlalu lama. Singkatnya, ia mulai merasa kerasan berlama-lama di rumah meskipun ketiga anak kakaknya itu masih ada.
Selain itu, Gaara sendiri melihat Ino, yang awalnya sering kali mengomel-ngomel, kini sudah dapat lebih santai dalam menghadapi ketiga bocah Nara yang lincah itu. Gaara bahkan sering melihat wanita itu tertawa lepas bersama tiga bocah tersebut.
Wajah tertawa Ino untuk beberapa saat terus terngiang dalam benak Gaara. Tapi tidak lama kemudian, pikiran itu beralih menjadi saat-saat pertemuan pertama mereka. Ya, saat Ino menciumnya dalam keadaan tidak sadar. Gaara secara refleks menyentuh bibirnya sendiri. Dan saat itulah, dadanya terasa berdesir.
Sesuatu yang belum pernah Gaara rasakan sebelumnya.
Sesuatu yang merepotkan, tapi di sisi lain… terasa menenangkan.
Gaara tersenyum sendiri atas pemikirannya. Setelah itu, ia menutup wajahnya dengan bantal, berusaha terlelap.
Tapi belum ada lima menit berlalu, mendadak handphone-nya berdering. Gaara pun meraih handphone yang tersembunyi di saku celananya dan melihat siapa yang meneleponnya. Mata Gaara menyipit saat melihat nama yang tertulis di display handphone-nya.
Temari.
Tidak menunggu waktu lama, Gaara pun segera menjawab panggilan melalui handphone-nya tersebut. Ia membiarkan suara di seberang sana yang terlebih dahulu membuka percakapan sebelum ia menanggapi. Tentu saja isi percakapan terjadi seputar anak-anak. Setiap Temari meneleponnya, dalam jangka waktu lima hari ini, hanya topik itulah yang paling mendominasi.
Bagaimana anak-anak? Apa mereka makan teratur? Mereka lincah bukan? Kau mengajak mereka ke mana saja? Pengasuhnya memperlakukan mereka dengan baik kan?
Ya, Gaara sudah memberitahu Temari kalau ia mempekerjakan seorang pengasuh sementara. Tapi Gaara sama sekali tidak menyebut nama pengasuh itu sama sekali. Dan menanggapi pertanyaan terakhir Temari tadi, Gaara hanya berkata.
"Ya. Sangat baik. Anak-anak juga tampak lengket dengannya." Bersamaan dengan itu, seulas senyum tipis kembali terlihat di wajah Gaara.
Pihak Temari pun kemudian menanggapi. Selama beberapa saat, topik anak-anak menjadi topik utama pembicaraan itu. Tapi setelahnya, pembicaraan beralih mengenai pekerjaan kantor. Gaara yang semula dalam posisi berbaring pun memilih untuk bangkit dan terduduk di kasurnya. Tubuhnya ia sandarkan di sandaran ranjang.
Setelah pembicaraan mengenai pekerjaan berjalan cukup lama, mendadak, pemberitahuan Temari selanjutnya membuat Gaara membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Karena masalah pekerjaan sudah beres, besok kami bisa pulang kok. Mungkin sampai di tempatmu siang. Kau tidak usah ke kantor ya besok?"
Besok?
Besok Temari dan Shikamaru akan pulang ke kota ini. Lebih cepat satu hari dari jadwal.
Dan itu artinya…
Ino akan meninggalkan rumahnya lebih cepat satu hari dari rencana yang sudah ditetapkan.
"Gaara? Kau masih di sana?" panggil Temari saat suara adiknya mendadak tidak terdengar.
"Ah. Ehm," jawab Gaara. "Kenapa buru-buru pulang?"
"Tidak buru-buru kok. Cuma beda satu hari dari rencana semula kan? Lagipula, aku sudah kangen dengan anak-anak. Dan… Hei! Apa anak-anak tidak kangen denganku?"
"Yah… Kadang-kadang mereka memang membicarakanmu. Tapi mereka tidak sampai menangis dan meraung. Apalagi mengatakan kalau mereka kangen padamu."
"Cih! Sepertinya sifat cuek si nanas itu terlalu mendarah daging dalam diri mereka. Huh! Akan kutuntut dia!"
Gaara kembali terdiam. Baginya, pembicaraan ini sudah tidak terlalu penting. Pikirannya sedikit berkecamuk saat mengetahui bahwa Temari sudah akan pulang besok. Dan tentu saja… bersama Shikamaru juga.
Siang.
Sebelum itu, Gaara harus memulangkan Ino ke rumahnya bukan? Agar wanita itu tidak harus bertemu dengan Shikamaru. Gaara bukan tidak tahu kalau iparnya itulah yang sempat mengikat hati Ino. Dan ia tidak ingin membiarkan perasaan sakit hati kembali mendera Ino saat wanita itu melihat Shikamaru bersama kakaknya nanti.
Ya. Gaara harus segera memulangkan Ino. Kalau bisa malam ini juga. Tidak masalah kalau dia harus menjaga tiga bocah Nara itu sendirian selama satu hari.
Tapi…
Perasaan tidak rela ini…
Kenapa jadi begitu mengganggu?
o-o-o-o-o
Sementara Gaara masih di kamarnya, Ino tengah terduduk di sofa, membuka-buka salah satu majalah. Matanya boleh saja menelusuri tiap huruf, kata demi kata, tapi benaknya saat itu sedang tidak dapat mencerna apa yang baru saja ia baca. Ia masih memikirkan ucapan terakhir Gaara sebelum pria itu menghilang ke dalam kamarnya.
Dengan suara gumaman yang terbilang sangat pelan, Ino kemudian berkata, "Apa dia tidak mau cari pacar? Padahal usianya bahkan sudah cukup untuk menikah."
Sesaat, Ino terdiam. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari arah majalah ke langit-langit ruangan tersebut.
Tidak lama, Ino sudah masuk ke dunianya sendiri.
'Padahal Gaara lumayan baik. Wajahnya juga, kalau udah dilihat lama-lama tidak jadi menakutkan kok…' batin Ino. 'Kalau dibilang imut… yah… Ng! Hei! Kenapa aku jadi mikirin Gaara sih?'
Ino langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha menepis semua pemikiran tentang Gaara. Tapi sia-sia. Pikirannya malah beralih ke saat dimana Gaara yang mabuk malah… menciumnya!
Seketika itu juga, wajah Ino memerah dengan hebat. Ia menepuk-nepuk pipinya.
"Apa yang kupikirkan sih? Itu tidak sengaja tahu! Dia melakukan itu tanpa sadar!" gumam Ino memberitahu dirinya sendiri. Tapi setelah gumaman itu selesai, tanpa sadar Ino malah menggerakkan tangannya ke arah mulutnya. Mendadak, jantungnya kembali berdebar dan bagaikan sebuah proyektor, ingatannya kembali memperlihatkan saat-saat dimana Gaara melahap bibirnya. Lagi.
Wajah Ino kembali terasa panas. Ia bahkan sampai tidak sadar kalau Gaara sudah ada di belakangnya, siap menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.
Dan benar saja, begitu Gaara menepuk pundaknya, Ino langsung terlonjak. Jantungnya semakin berdebar kencang saat ia melihat Gaara-lah yang baru saja memecah lamunannya. Bagaimana tidak? Orang yang baru saja mendominasi pikirannya kini berdiri tepat di belakangnya, bagaikan tokoh film yang keluar dari layar begitu saja untuk menemuinya.
"A-ada apa sih? Kau mengagetkanku!" ujar Ino sambil memegangi dadanya.
"Sorry," ujar Gaara datar. "Aku cuma mau memberitahumu. Aku akan mengantarmu pulang… sekarang."
"Oh? Untuk mengambil gaunku? Nanti saja. Tunggu anak-anak bangun?" jawab Ino yang sudah berhasil mengembalikan detak jantungnya menjadi normal kembali. Ia kemudian meletakkan majalahnya dan berdiri di depan Gaara.
"... Kau tidak usah ikut… acara makan malam hari ini."
Ino mengerjabkan matanya. "Hah?"
Gaara menghela napas. "Ya. Aku akan membebastugaskanmu sekarang."
"Tapi… kenapa?"
Awalnya, Gaara terlihat agak enggan menjelaskan. Tapi Ino berhak untuk tahu kan?
"Besok Nee-san dan suaminya sudah pulang. Jadi kau bisa pulang sekarang…"
Ino mengernyitkan alisnya dan menyipitkan matanya. Seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang salah. Ia ingin memastikan ulang apa yang baru saja dikatakan Gaara, tapi wajah serius pria itu sudah cukup untuk menjelaskan semua. Masa kerjanya sudah akan berakhir.
Ino melihat ke arah anak-anak keluarga Nara yang masih tertidur. Dengan anak-anak itu, ia tidak akan bertemu lagi. Ia tidak perlu lagi marah-marah dan berlarian ke sana kemari, mengomeli mereka, kehilangan waktu tidur. Sudah tidak perlu lagi.
Lalu…
Ino menatap Gaara.
Ya.
Dengan Gaara juga.
Ino tidak perlu lagi menghadapi sikap seenaknya dari pria itu. Ia tidak akan lagi melihat wajah datar pria itu. Mendengar suara tanpa intonasi yang biasa dilontarkan pria itu. Ia juga akan kehilangan… kesempatan untuk merasakan kehangatan bibir itu lagi.
Ah. Waktu sungguh berlalu dengan cepat.
Tapi…
Bukankah ini yang diinginkan oleh Ino?
"Begitu?" tanya Ino sambil menggerakkan tangannya untuk menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga. "Jadi aku tidak perlu ikut ke restoran hari ini ya?"
Gaara mengangguk.
Dengan tangan terlipat di depan dadanya, mendadak Ino tertawa. Tawa itu tentu saja membuat Gaara melihatnya dengan pandangan heran.
"Sayang sekali," ujar Ino sambil memiringkan kepalanya, "makin disuruh, aku malah semakin ingin melakukan hal yang sebaliknya!"
Gaara tidak bisa berkata apa-apa dan membiarkan Ino melanjutkan kejutannya.
"Aku akan tetap ikut denganmu dan anak-anak ke restoran! Anggap saja, kau menraktirku sebagai bayaran atas kerjaku sebagai pengasuh! Setelah itu, baru kau mengantarku pulang! Gimana?" ujar Ino sambil memamerkan gigi-giginya.
"Kukira kau tadi mengatakan kalau kau tidak tertarik untuk ikut ke restoran?"
"Aku berubah pikiran," jawab Ino santai sambil menggerakkan sebelah tangannya. Ia kemudian tersenyum pada Gaara. "Lagipula, ini akan jadi saat-saat terakhir kita lho? Boleh dong kalau dirayakan di restoran mahal?"
Gaara membalas senyuman Ino dengan sebuah senyum simpul.
"Kau memang wanita aneh."
"Terima kasih," jawab Ino tanpa beban.
Untuk sesaat, keduanya saling berpandangan dalam diam, seolah keduanya tengah mencoba untuk saling membaca pikiran lawan bicaranya. Entah kenapa, saat itu, baik Ino maupun Gaara, keduanya, merasakan sebuah dorongan untuk semakin mendekat satu sama lain. Tapi belum sempat dorongan itu berubah menjadi suatu gerakan, sebuah suara langsung menarik mereka kembali ke kenyataan.
"Ino-chan…"
Ino pun langsung berbalik dan menemukan Rika yang sedang menghadap ke arahnya. Sebagian wajahnya tertutup oleh sandaran sofa dan kedua tangan mungilnya terletak di puncak sandaran. Tapi bukan cuma Rika yang terbangun. Duo kembar yang cerdik itu pun kini sudah terbangun dalam posisi duduk di atas karpet, memandang ke arah Gaara dan Ino dengan tatapan... err… entah tatapan mengantuk atau menyelidik.
Dengan cepat, Ino segera meninggalkan Gaara dan melangkah ke arah Rika, menggendong anak perempuan itu. Setelahnya, Ino langsung mengalihkan perhatian si kembar dengan mengajak mereka bermain.
Gaara hanya bisa terpaku di tempatnya sebelum kembar yang akhirnya benar-benar sadar itu menarik Gaara untuk ikut bermain bersama mereka.
o-o-o-o-o
Malam harinya, sesuai rencana, Gaara mengajak ketiga anak kakaknya beserta Ino ke salah satu restoran mewah. Tentu saja mereka mengunjungi rumah Ino terlebih dahulu untuk mengambil gaun milik wanita itu sekaligus… menaruh barang-barang Ino yang telah lima hari berdiam dalam apartemen Gaara.
Acara makan-makan kali ini memang akan jadi kegiatan terakhir yang dapat mereka lakukan bersama walaupun Shima, Teru, dan Rika belum tahu soal ini. Baik Gaara maupun Ino juga tidak berniat memberi tahu mereka. Biarlah mereka tahu sendiri keesokan harinya. Demikianlah yang mereka pikirkan.
Kemudian, seolah membenarkan dugaan Ino sebelumnya, setelah sampai di restoran di puncak hotel yang menjadi tujuan mereka, orang-orang langsung berkasak-kusuk saat melihat pasangan Gaara-Ino membawa tiga anak bersama mereka. Semua orang memandang mereka sebagai pasangan suami istri yang unik dengan ketiga anak yang tidak terlihat mirip dengan orangtuanya. Tentu saja tidak mirip. Bukan Gaara dan Ino-lah orangtua biologis dari Shima, Teru, dan Rika.
Sesuai perintah Gaara, Ino pun mengabaikan kasak-kusuk yang dilontarkan tamu-tamu restoran mengenai status mereka. Ino tetap saja bercakap-cakap dengan ketiga bocah itu dan sesekali dengan Gaara. Dengan santai, Ino kemudian mengikuti Gaara hingga mereka sampai di suatu meja yang memang telah direservasi khusus untuk mereka.
Gaara memilih tempat di sebelah jendela yang dapat memperlihatkan pemandangan luar di malam hari, yang semakin terlihat indah berkat terang lampu-lampu gedung di sekitar hotel tersebut. Dari tempat mereka, mobil-mobil atau apapun yang berada di bawah jadi terlihat begitu kecil. Bagaimanapun, mereka berada di lantai puncak – lantai dua puluh – dari suatu hotel ternama. Pemandangan yang tersaji dari balik jendela itu tentu saja sangat spektakuler. Tidak rugi Ino memutuskan untuk ikut ke sini.
Mereka pun kemudian memesan makanan. Di restoran mahal seperti ini, pilihan menunya tentu saja sangat lengkap dan beragam. Ino sendiri memilih makanan yang ia perkirakan memiliki kadar lemak paling rendah. Gaara memilih makanan yang tampak aneh dan tiga anak Nara itu, dengan cerdiknya, memilih makanan yang justru lebih mahal dibanding makanan Ino maupun Gaara. Sebetulnya, ketiganya sudah ditawari paket menu untuk anak-anak tapi mereka menolak dan lebih memilih menu yang mereka pesan sekarang. Gaara sendiri memutuskan untuk tidak ambil pusing selama mereka berjanji untuk menghabiskan makanan mereka.
Acara makan malam kali itu berjalan dengan cukup lambat. Sebenarnya, berbeda dari biasanya, baik Shima, Teru, maupun Rika tidak sampai berlarian ke sana kemari sebelum menghabiskan makanan mereka. Namun, yang membuat mereka lama dalam menghabiskan makanan mereka adalah pembicaraan yang tidak kunjung habis mereka diskusikan. Mereka terus saja berceloteh sepanjang acara makan malam. Ada saja topik yang mereka bahas, mulai dari ayah dan ibu mereka, acara jalan-jalan mereka dengan kedua orangtua mereka tersebut, sampai pada mainan dan tontonan televisi yang mereka sukai.
Seperti biasa, Gaara tetap tenang menanggapinya. Ino sendiri terlihat cukup antusias meskipun sesekali ia harus melotot untuk mengingatkan anak-anak itu agar kembali menggerakkan tangan untuk melanjutkan kegiatan makan mereka.
Melihat kedekatan di antara kelimanya, ada beberapa tamu yang dengan sengaja menghampiri mereka hanya untuk sekedar menyapa dan menanyai bocah-bocah tersebut. Memang Gaara dan Ino tampak menawan, tapi ketiga bocah itu terlihat begitu menggemaskan hingga menarik perhatian, bahkan menjadi primadona, bagi beberapa tamu yang hadir di situ.
Gaara dan Ino hanya bisa saling berpandangan saat melihat ketiga bocah itu sudah menjadi pusat perhatian. Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala sambil meringis, apalagi saat ketiga bocah itu menjawab pertanyaan yang diajukan pada mereka dengan cukup lancar dan gaya yang sok dewasa.
Tapi bukan itu yang membuat Ino, bahkan Gaara, kelabakan dan salah tingkah. Keduanya mendadak mati gaya saat ada orang yang menyatakan betapa serasinya mereka. Bahkan ada yang mengatakan kalau ia iri dengan rumah tangga Gaara-Ino yang diberkahi anak-anak yang lucu dan pintar. Ino hanya bisa tertawa getir sementara Gaara mengalihkan pandangannya ke arah luar dengan sedikit kaku. Tidak seperti Gaara yang biasanya.
Yang membuat Ino semakin berpikir dengan keras adalah bahwa Gaara tidak terang-terangan menyangkal semua perkataan tamu-tamu itu dan hanya memilih untuk diam. Tapi tidak butuh waktu lama bagi Ino untuk dapat menebak alasan di balik sikap Gaara barusan. Seandainya mereka menyangkal dan mengatakan bahwa Ino hanyalah pengasuh bagi ketiga anak tersebut, tentu orang malah akan semakin menggunjingkan mereka bukan? Hei, dalam situasi normal, mana ada seorang majikan yang mengajak anak-anaknya makan hanya bersama dengan pengasuhnya? Di restoran mahal pula.
Ino pun menyingkirkan segala kebingungan dan kecurigaannya lalu memutuskan untuk menganggap bahwa tindakan Gaara itu adalah sesuatu yang wajar. Ino juga kemudian memutuskan untuk kembali menikmati makan malamnya yang sedikit terganggu oleh kedatangan orang-orang tidak diundang ke sekitar meja mereka.
Akhirnya, makan malam yang sangat aneh itu pun berakhir. Gaara sudah siap mengantar Ino pulang ke rumahnya saat Ino mendadak mengatakan bahwa sebaiknya mereka pulang dulu ke apartemen Gaara karena Ino masih ingin menghabiskan sedikit waktu yang tersisa bersama ketiga bocah Nara yang tetap saja terlihat bersemangat.
Gaara sempat mempertanyakan kesungguhan Ino. Dan wanita itu pun membalas pertanyaan Gaara hanya dengan sebuah anggukan kepala.
Dengan itu, mobil pun langsung meluncur ke pelataran apartemen milik Sabaku Gaara.
o-o-o-o-o
Waktu bergulir. Malam semakin larut. Ketiga anak keluarga Nara sudah tertidur di kamar Gaara kali itu. Tentu saja, Ino tidak bisa lagi menjaga mereka mengingat bahwa ia akan segera pulang.
Setelah menidurkan ketiganya, Ino pun beranjak keluar dari kamar Gaara dan menemukan pria pemilik kamar tersebut tengah duduk di meja makan sambil memegang sebuah gelas dengan cairan berwarna bening mengkilat mengisi wadah transparan tersebut. Di depannya, terdapat sebuah botol tinggi berwarna kehijauan yang Ino kenali sebagai botol wine pemberiannya.
Ino tersenyum kecil dan mulai melangkah mendekati Gaara. Gaara sendiri, meskipun ia menyadari kehadiran Ino, tetap saja menggoyang-goyangkan gelasnya hingga es besar yang ada di dalam gelas tersebut beradu dengan sisi gelas. Matanya pun tidak menatap Ino melainkan cairan bening yang terdapat dalam gelas kecil tersebut.
"Apa aku boleh menemanimu minum?"
Gaara tidak bersuara dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ino pun melangkah ke arah rak tempel dan mengambil sebuah gelas. Ia kemudian duduk tepat di sebelah Gaara dan mengisi gelasnya dengan wine yang sama. Gaara siap menenggak isi gelasnya saat tiba-tiba Ino menghentikannya.
"Cheers?" tanya Ino sambil mengangkat gelasnya sedikit ke arah Gaara.
Gaara menatap wanita itu sebelum menyorongkan gelasnya ke arah gelas Ino hingga bunyi dentingan gelas beradu terdengar. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, keduanya kemudian menenggak isi gelas mereka masing-masing.
Ino kembali berkata-kata saat cairan hangat itu sudah berpindah dari dalam gelas ke dalam tubuhnya.
"Tidak terasa ya, sudah lima hari aku di sini. Besok, semua akan kembali berjalan seperti semula…"
Gaara memilih diam dan mengisi gelasnya sendiri. Melihat Gaara yang sudah mengisi ulang gelasnya, Ino pun menyodorkan gelasnya sendiri untuk diisikan oleh Gaara. Tanpa banyak bicara, Gaara pun mengisikan gelas milik wanita berambut pirang yang diikat ponytail tersebut.
Ino pun menenggak isi gelasnya sedikit demi sedikit. Keheningan yang membuat Ino jengah pun kembali dipecahkan oleh wanita tersebut.
"Ngomong-ngomong, tadi di restoran lucu juga yah? Kita benar-benar dianggap suami istri! Dengan tiga anak yang sama sekali tidak mirip," kelakar Ino dengan sebuah senyum di wajahnya. "Sesuai dugaanku kan?"
"Hm," jawab Gaara sambil kembali mengisi gelasnya.
"Tapi hari ini memang menyenangkan sekali! Apalagi Shima, Teru, dan Rika tidak terlalu banyak membuat ulah! Mereka cenderung jadi anak manis hari ini…" tambah Ino sambil menggoyangkan gelasnya.
"Yah…" jawab Gaara lagi yang sama singkatnya dengan jawaban sebelumnya. Pria itu sudah kembali mengisi gelasnya dengan wine yang sama.
Mendengar jawaban Gaara, Ino pun jadi memajukan bibirnya sedikit.
"Kau itu… tidak bisa menjawab berupa satu kalimat lengkap apa?"
"Seperti?"
Ino mengernyitkan alisnya. "Sudahlah. Lupakan."
Hening kembali terjadi di antara mereka. Tapi sekali lagi, hening tidak akan bertahan lama di antara keduanya karena Ino memang tidak menyukainya.
"Ne, Gaara," panggil Ino lembut, "menurutmu, apa aku sudah bekerja dengan baik dalam menjaga anak-anak kakakmu?"
"Sangat baik," puji Gaara datar.
Ino terkekeh kecil. "Aku saja tidak menyangka kalau aku bisa sedekat itu dengan Shima, Teru, dan Rika. Padahal mereka…" Ino pun menghentikan kata-katanya dalam sekejab. Tapi, tanpa kata-kata itu, Gaara sudah mengerti apa yang hendak dikatakan oleh Ino.
"Kau tahu, berkat mereka, aku sampai tidak bisa menghayati rasa patah hatiku lama-lama," jelas Ino. Sekali ini, Ino mengisi gelasnya sendiri. Sebelum ia kembali menenggak isinya, Ino kembali berkata, "Aku juga tidak pernah menyangka kalau aku bahkan akan merasa… ehm… berat meninggalkan mereka."
Ino tidak tahu berapa gelas yang sudah ditenggak oleh Gaara saat tiba-tiba pria itu menyeletuk, "Apa… hanya mereka yang membuatmu berat untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pengasuh?"
Ino terdiam dari kegiatannya menuangkan wine ke dalam gelasnya sendiri. Ia kemudian menoleh ke arah Gaara. Wajah pria itu masih terlihat datar, tapi tatapan pria itu sudah sepenuhnya mengarah pada Ino.
"Bagaimana… denganku?" tanya Gaara lagi dengan suara yang lembut.
Untuk sesaat, Ino hanya bisa menganga. Tapi selanjutnya, ia menggeleng dan kemudian melanjutkan menuangkan wine dalam gelasnya.
"Kau sudah mabuk, Gaara…"
Gaara masih menatap Ino sebelum ia mengambil botol yang dipegang Ino dan memindahkan kembali isi botol tersebut ke gelasnya sendiri.
"Begitu menurutmu?"
Ino hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum kecil.
"Kalau aku memang mabuk…" ujar Gaara sambil meletakkan gelasnya setelah ia sekali lagi menenggak habis isinya, "kau akan melupakan apapun yang kuucapkan sekarang kan?"
Ino melirik ke arah Gaara.
"Dan itu artinya…" ujar Gaara sambil tersenyum kecil, "aku bebas mengatakan apapun yang aku mau?"
Saat itu, dada Ino kembali bergemuruh. Gaara belum mengatakan apapun, tapi gelagat pria itu membuat Ino ingin terus menatapnya, tanpa berkedip sedikit pun. Wajahnya yang mulai merona, semakin merona saat Gaara kembali berbalik menghadapnya.
"Yamanaka," panggil Gaara, "ah, tidak! Ino…"
DEG!
Ino semakin berdebar saat bibir itu menyebut namanya. Perhatian Ino akhirnya jatuh pada bibir yang kini membentuk lengkungan senyum yang menawan. Dan sekejab, ingatannya akan saat-saat dimana bibir itu bertautan dengan bibirnya sendiri membuat Ino harus menahan napasnya.
"Ino," ulang Gaara lagi. Kali ini, tangan pria itu terjulur ke dahi Ino untuk menyingkirkan poni yang menutupi salah satu mata sang wanita. Kedua mata aquamarine milik wanita itu pun kini terlihat dengan jelas. Tangan yang sama kemudian bergerak perlahan, merangkum sebelah pipi Ino yang sudah memerah dengan hebat. "Kurasa aku…"
Ino menelan ludah. Tangannya kemudian ia gerakkan untuk menyentuh punggung tangan Gaara.
"Ya… kurasa aku… memang benar-benar tertarik padamu…"
"G-Gaara…?" Ino mulai gelagapan. "Kau benar-benar sudah mabuk kan?"
Gaara kemudian menatap Ino yang masih memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya, di sela-sela binar harapan yang terpancar di kedua aquamarine tersebut. Gaara kemudian menarik tangannya dan salah satu sudut bibirnya sedikit terangkat saat itu juga. Gaara pun berdiri dari kursinya dan langsung membelakangi Ino.
"Haah… Yah," ujar pria berambut merah itu sambil meletakkan sebelah tangannya di tengkuk. "Kurasa aku benar-benar sudah mabuk."
Ino mengikuti pria itu berdiri.
Gaara menoleh ke arahnya.
"Kau percaya dengan pendapat yang mengatakan kalau orang mabuk akan lebih mudah mengatakan isi hati yang sebenarnya?" tanya Gaara perlahan.
"Aku ingin percaya," jawab Ino sambil perlahan mendekati Gaara. "Tapi… bagaimana bisa… kau…"
"Aku tidak tahu," jawab Gaara sambil mengangkat bahunya sedikit. "Semua terjadi begitu saja…"
Ino akhirnya mengangguk. "Aku mengerti…"
Gaara menatap Ino dalam diam. Wanita itu kemudian mengangkat sebelah tangan Gaara dengan kedua tangannya dan kemudian menyentuhkan kembali tangan Gaara ke pipinya.
"Kurasa… kau sama denganku…"
Gaara menggerakkan tangannya yang lain untuk menyentuh pipi Ino yang lain. Ino kemudian tertawa kecil.
"Mungkin kita benar-benar sudah mabuk. Ya kan, Gaara?"
Sekali lagi, Gaara tidak menjawab. Pria itu hanya membelai pipi Ino lembut sebelum ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ino. Ino yang menangkap isyarat itu pun langsung memejamkan matanya. Diabaikannya perasaan berdebar yang semakin menjadi-jadi di dadanya, tidak diacuhkannya panas di wajahnya yang seolah tengah membakar habis seluruh wajahnya tersebut.
Ino tidak peduli apapun lagi. Gaara pun demikian.
Saat ini, yang ada di pikiran keduanya adalah… bagaimana cara menyampaikan perasaan mereka masing-masing. Perasaan yang timbul tiba-tiba, tanpa ada yang bisa menghentikan. Perasaan yang muncul tanpa diundang dan membuat mereka hilang akal. Perasaan yang dimulai… dari suatu permainan takdir yang tidak terduga.
Begitu kedua bibir itu kembali bertautan, perasaan keduanya seolah ikut mengalir. Ciuman ini, berbeda dengan ciuman pertama, dimana Ino tidak sadar melakukannya dan Gaara hanya bisa pasrah menerimanya. Ciuman ini juga, berbeda dengan ciuman kedua, dimana Gaara tidak sadar dan Ino dipaksa pasrah untuk menerimanya.
Ciuman ini… keduanya yakin kalau mereka memang menginginkannya. Kesadaran atau ketidaksadaran tidak jadi hal yang penting. Sekali ini, keduanya saling membalas ciuman tersebut dengan hasrat. Berusaha menyampaikan seberapa besar perasaan yang tengah memenuhi rongga dada mereka.
Tangan Gaara perlahan bergerak dan memeluk pinggang Ino, mendekapnya hingga tiada jarak lagi di antara mereka. Ino sendiri menggerakkan tangannya, menggelayut manja di leher Gaara sementara jari-jarinya sedikit menyusup ke rambut merah pria tersebut.
Mereka terus begitu selama beberapa saat seolah ini akan menjadi kali terakhirnya mereka berdekatan. Mungkin memang begitu kenyataannya. Mungkin ini hanyalah ilusi semalam yang ditimbulkan oleh perasaan melankolis semata.
Mulai besok, Ino akan kembali ke kehidupannya semula. Menjadi pegawai di salah satu kantor, bersenang-senang dengan teman-temannya, dan mencari pria yang dapat menjadi kekasihnya.
Mulai besok, Gaara akan kembali ke kehidupannya semula. Menjadi Direktur sebuah perusahaan, mengerjakan setiap tugasnya yang bertumpuk, dan mengabaikan semua wanita yang mencoba mendekat padanya.
Ilusi.
Sebuah mimpi yang manis.
Tapi baik Gaara maupun Ino tidak ada yang memikirkan hal itu sekarang.
Yang mereka tahu saat ini hanyalah… kehangatan tubuh keduanya yang terasa begitu nyata dalam dekapan satu sama lain.
***つづく***
A/N:
Yaay! Yaaaay! Chapter 3 is done! Di tengah-tengah pembicaraan gaje dengan Yuki Tsukushi-chan dan ratoe sang gigi-chan! Moga-moga di chap ini nggak ada scene ngelindur yang tercipta akibat pikiran saya yang terdistraksi oleh pembicaraan gaje dengan dua makhluk (?) tersebut…XD
Ngomong-ngomong, chapter depan adalah chapter terakhir. Sepertinya sih nggak bakal sepanjang tiga chapter sebelum ini. Makanya, mungkin update buat berikutnya nggak terlalu lama. Doain aja moga-moga tugas nggak mendadak datang bejibun. DX
Sebelum lupa, Shima, Teru, dan Rika emang OC yang jadi anak-anaknya Shikamaru dan Temari. Buat nama mereka sendiri, ini nih asal muasalnya.
SHIkamaru + teMAri = SHIMA
TEmari + shikamaRU = TERU
temaRI + shiKAmaru = RIKA.
Maaf kalau kurang kreatif dalam bikin nama-namanya yak. Fufufufu~…
And like before, special thanks to : el Cierto, licob green, vaneela, gleeazure, Chiby Maruko-chan a.k.a Fidy-chan (wkwkwk, oke2, thanks buat sarannya yah, huney ^^), NaraUchiha'malfoy, Lollytha-chan, Kikyo Fujikazu, Cendy Hoseki, Putri Luna, lavender magic (FL menyusul yak ^^), Yuki Tsukushi, Ann Kei (haha. Don't ever give up. Just try your best. I know you can do it. Ganbatte!) yang udah mereview chapter kemarin. Juga untuk semua yang telah nge-fave, nge-alert, dan semua yang udah baca fic ini sebagai silent reader. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya #bow.
Okey, sekarang…
Would you mind to gimme review? Tell me your opinion bout this chapter.
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
