"Tidak mau kuantar?"
"Tidak, tidak usah. Kalau sampai anak-anak terbangun dan tidak menemukanmu di sini, mereka akan kebingungan."
Pria berambut merah itu tidak bisa lagi menjawab apapun. Melihat wajah lawan bicaranya yang seperti menunjukkan suatu keberatan, wanita berambut pirang itu malah tertawa kecil.
"Tenang saja," ujar wanita itu lagi dengan lembut, "aku tinggal naik taksi dari sini."
Pria berambut merah itu menghela napas panjang. "Bukan itu yang kupikirkan…"
"Jadi…?"
Mata turquoise itu kini menatap lekat-lekat aquamarine di hadapannya. Turquoise pun menangkap kebingungan dalam aquamarine dan aquamarine menangkap kebimbangan dalam turquoise. Tapi toh pada akhirnya, sang empunya mata turquoise itu memilih untuk menggeleng, menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung kerongkongannya.
"Bukan apa-apa. Sudahlah."
Wanita itu tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Apa sih? Dasar kau aneh!"
Sang pria hanya menanggapinya dengan sebuah kedikan di bahunya. Terlalu malas untuk berkata-kata? Bukan. Ia memang tidak tahu harus membalas apa terhadap ucapan yang dilontarkan sang wanita.
"Yah. Sudahlah. Kalau begitu… aku pulang dulu!"
Pria itu mengangguk. Melepas kepergian sang wanita yang tidak membawa apapun karena barang-barangnya sudah terlebih dahulu dikembalikan ke rumahnya.
Terakhir kalinya, wanita itu menengok ke arah sang pria, tepat sebelum ia masuk ke dalam taksi yang berhasil dipanggilnya. Terlihat ada sesuatu yang ingin disampaikan wanita itu. Tapi ia urung melakukannya. Sebagai gantinya, hanya sebuah senyuman dan lambaian tangan yang berhasil diberikan wanita itu.
Pria itu pun sama. Kembali terlihat bahwa ia hendak mengucapkan sesuatu. Tapi sesuatu itu kembali disimpannya rapat-rapat.
Sampai akhirnya, sosok wanita itu tidak terlihat lagi dari hadapannya.
Tidak ada sepatah kata lagi pun yang terucap.
KISS ME WHILE YOU DRUNK
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Fic for GIST – Gaara Ino Spring's Tale
"Welcome back, Pig!"
Ino menjulurkan lidahnya pada wanita berambut pink yang sudah memamerkan seringainya. Setelah absen dari kantornya selama enam hari – lima hari dihabiskan di rumah Gaara dan satu hari dihabiskannya dengan beristirahat di rumah – kini Ino akan menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Dan di hari pertama ia masuk kembali, sambutan teman-temannya sudah cukup menjelaskan bahwa mereka ingin penjelasan sejelas-jelasnya dari Ino.
"I-Ino-chan, apa kabar?"
"Baik, Hina-chan," jawab Ino sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Akhirnya kau bisa masuk lagi, ya?" ujar Tenten sambil berkacak pinggang. "Gimana pengalamanmu jadi baby-sitter di rumah Direktur itu, eh?"
"Menyenangkan," jawab Ino sambil mengangkat bahunya sedikit. "Kurasa aku sudah siap jadi ibu setelah mendapatkan pengalaman kemarin."
"Ara? Jadi kau sudah…" Sakura dengan sengaja menghentikan kata-katanya dan kemudian menyeringai penuh makna ke arah Ino. Alhasil, wanita berambut unik itu pun menerima hadiah berupa tatapan maut dari Ino yang – sayang sekali – tidak terlalu mempan padanya.
"Kurasa jidatmu terlalu lebar hingga imajinasimu melayang ke mana-mana, Forehead!" dengus Ino sambil menyandarkan bagian belakang tubuh bagian bawahnya ke meja kerja. Kedua tangannya pun memegang sisi meja untuk menahan berat tubuhnya.
"Jangan salahkan imajinasiku!" protes Sakura sambil memegangi dahinya, "Salahkan bahasamu yang ambigu itu!"
Tenten terkekeh kecil sementara Hinata hanya bisa tertawa tertahan dengan alis yang turun dan pipi yang sedikit merona. Ino pun mau tidak mau jadi tersenyum karena itu.
"Tapi serius, Ino-Pig," ujar Sakura yang belum mau menyerah. "Apa saja yang terjadi selama kau tinggal di rumahnya? Dan… yang kau bilang waktu itu... tiga anak yang kau rawat itu benar-benar anak Shikamaru?"
"Seperti yang kukatakan," jawab Ino tenang.
"Lalu? Bagaimana perasaanmu?" Sekali ini Tenten yang angkat bicara.
"Gimana? Heeemh… biasa saja," jawab Ino sambil melirik ke atas. "Mungkin?"
"Kukira kau akan balas dendam melalui anak-anaknya?" goda Sakura sambil menyibakkan rambut pendeknya sedikit.
"Rencana awalnya sih gitu," jawab Ino setengah bercanda. "Tapi kasihan, ah. Anak-anaknya sendiri kan tidak punya kesalahan apa-apa selain membuatku sibuk setengah mati, waktu tidurku berkurang, dan emosiku selalu meningkat."
Sakura, Tenten, dan Hinata sweatdrop di tempat mendengar kontradiksi dalam kata-kata yang diucapkan sahabat blonde mereka.
"Tapi," ujar Ino sambil menghela napas, "begitu aku kembali ke rumahku yang biasa, yang sepi, aku malah kangen sama kelincahan mereka…"
Sakura mendadak mendekat ke arah Ino, menepuk pundaknya, dan kemudian berkata, "Kalau begitu sudah jelas kan?"
Ino memberinya pandangan bertanya.
"Sebaiknya kau cepat-cepat cari calon suami, menikah, dan kemudian punya anak."
"Tidak usah kau beritahukan," jawab Ino sambil mencubit pipi Sakura yang langsung mengaduh kesakitan. "Aku juga mau melakukan itu kok! Makanya, kalau ada yang punya kenalan cowok ganteng, jangan lupa kasih tau aku ya?"
"T-tapi," ujar Hinata yang tiba-tiba membuka mulut, "bagaimana dengan Direktur muda itu?"
"Gaara? Kenapa dia?" tanya Ino sambil melepaskan cubitannya dari pipi Sakura dan kemudian menatap ke arah Hinata.
"Ma-maksudku, itu, memangnya… I-Ino-chan dan dia tidak ada…eh… tidak ada hubungan apa-apa?"
Ino terdiam. Tatapannya tampak kosong meskipun matanya jelas-jelas terarah pada Hinata. Sesuai sifatnya, Hinata pun jadi merasa tidak enak dan sudah hendak meralat ucapannya saat tiba-tiba Ino tersenyum.
"Yah, kami memang ada hubungan sih!" ujar Ino sambil menggerakkan sebelah tangannya. Ketiga temannya sudah terbelalak. Tapi dengan cepat, Ino menambahkan, "Ng.. Sebagai majikan dan bawahan dan juga sebagai teman minum biasa."
Sakura berdecak. Tenten mengernyitkan alis. Hinata meletakkan sebelah tangannya yang terkepal di depan mulut. Ino menyeringai.
"Tidak sesuai bayangan kalian, hem?" tanya Ino jahil. "Tapi memang sebaiknya kalian tidak berpikiran macam-macam."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ino terkekeh sendiri. Ia pun kemudian menarik kursi di dekatnya dan duduk di sana. Ia mulai menyalakan komputernya seakan ia hendak menyudahi pembicaraan ini secara tidak langsung. Sakura pun saling melempar pandang dengan Tenten dan Hinata sebelum ia membalikkan kepala Ino. Wanita berambut pink itu kemudian merangkum pipi Ino dengan kedua tangannya.
"Bisa jujur tidak sih?"
Ino menjauhkan tangan Sakura dari pipinya.
"Jujur apa lagi, Forehead?"
"Bagaimanapun, pria dan wanita, satu atap selama enam hari, apa kau pikir kami akan percaya saat kau bersikap seolah tidak ada apa-apa?" cecar Sakura sambil menyipitkan mata emerald-nya. "So, you better to tell us the truth!"
Mendengar paksaan Sakura tersebut, Ino hanya bisa menghela napas. Lalu ia mengamat-amati sebentar ketiga temannya, bergantian. Pada akhirnya, tatapannya terarah pada Sakura selaku penanya.
"We kissed."
"Huh?"
"Kami berciuman, Sakura-chan," ujar Ino santai seolah ia tidak ada beban saat mengatakan hal tersebut. Berlawanan dengan sikap Ino yang tampak santai, ketiga temannya yang mendengar pernyataan tersebut langsung membelalakkan mata dan menganga dengan sukses. "Apa? Aku sudah jujur pada kalian kan? Kenapa kalian malah berwajah seperti itu?"
"Kau…" ujar Tenten sambil menunjuk Ino.
"B-berciuman…" sambung Hinata sambil meletakkan kedua tangannya di depan mulut.
"Dengan Direktur itu?" tambah Sakura sedikit histeris.
Ino mengangkat bahunya. "Kami mabuk."
"Mabuk?" tanya Sakura lagi.
"Ah, sudahlah! Jangan dibahas lagi. Bisa tidak?" tanya Ino sambil mengernyitkan alis dan mengibaskan tangannya.
"Ta…"
Belum sempat Sakura melanjutkan kata-katanya, Tenten keburu memotong Sakura dengan menarik baju wanita tersebut dan menggelengkan kepalanya. Sakura sudah memasang wajah hendak protes, tapi sekali ini, Hinata yang menghentikan wanita berambut pink tersebut dengan membuat wajah yang seolah meminta Sakura untuk tidak lagi membahas persoalan tersebut sampai Ino sendiri yang berniat menceritakannya pada mereka. Sakura yang kalah suara akhirnya mengalah dan tidak lagi bertanya apapun. Suasana ruang kerja itu pun berakhir dengan keramaian yang lain sebelum atasan mereka melakukan inspeksi mendadak dan membuat mereka bubar untuk menjalankan tugas mereka masing-masing.
o-o-o-o-o
Di ruangan kerjanya, Gaara tampak melamun dengan bolpoin di tangan kanannya. Matanya memang memandang tajam ke arah berkas di atas meja, tapi tidak demikian dengan pikirannya. Sesuatu terasa mengacaukan kerja otaknya. Dan Gaara, bukan orang bodoh sampai ia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya.
Ya, yang terjadi kemarin, tepatnya lusa malam kemarin, dimana ia berciuman dengan Ino, semua bukanlah dorongan yang disebabkan oleh kemabukan semata. Gaara mengetahui dengan jelas kondisinya. Ia belum benar-benar mabuk. Ia masih memiliki setengah lebih kesadarannya saat ia mencium wanita tersebut. Ia sadar dan ia memang menginginkannya.
Hanya saja, ia belum bisa benar-benar mengakuinya. Tepatnya, ia sedikit menghindari perasaannya sendiri. Dan itu bukan tanpa alasan.
Keraguan itu muncul saat ia melihat kakaknya muncul bersama suaminya. Awalnya, Gaara sama sekali tidak memikirkan apapun. Tapi begitu ketiga bocah anak kakaknya menanyakan keberadaan Ino, bahkan menyebut nama wanita itu dengan jelas, Gaara bisa melihat ekspresi keterkejutan di wajah iparnya.
Dengan itu, Gaara seolah kembali ditarik pada kenyataan sebenarnya.
Wanita itu – Ino – adalah wanita yang baru saja dibuat patah hati oleh iparnya yang bertampang malas tersebut. Wanita itu kemudian mabuk dan menciumnya, membuatnya mengajukan syarat agar wanita itu menjadi pengasuh bagi anak-anak kakaknya. Terpaksa wanita itu pun menerimanya.
Waktu berlalu dan wanita itu tidak lagi terlihat seperti wanita yang baru saja patah hati. Wanita itu dan Gaara pun semakin dekat. Dan puncaknya adalah saat dimana mereka berciuman sebelum masa kerja wanita itu berakhir.
Tapi… benarkan ciuman itu terjadi karena wanita itu juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Gaara rasakan?
Ataukah…
Wanita itu cuma menjadikan Gaara pelarian karena tidak berhasil mendapatkan kakak iparnya?
Kenapa Gaara jadi merasa menyesal telah mempekerjakan wanita itu? Padahal sebelumnya ia merasa bahwa kehadiran wanita itu sangat membantunya. Selain untuk mengurus anak-anak, juga…
Gaara mengacak rambut merahnya dengan tangan kirinya. Ia kemudian menghela napas. Sungguh, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Kepalanya terlalu dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Dan bagi Gaara yang baru pertama kali mengalaminya, hal ini menjadi sangat… merepotkan. Andai ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Di saat ia tengah pusing seperti itu, mendadak saja pintu ruang kerjanya terbuka, memperlihatkan sosok kakaknya dengan seorang anak kecil dalam gendongannya serta dua bocah lain yang sudah terlebih dahulu menghambur ke arahnya.
"Hai, Gaara!" sapa kakaknya itu – Temari – dengan sebuah seringai yang terpampang jelas di wajahnya.
"Gaala-chaaan!" panggil Rika dalam gendongan Temari dengan riang, sambil melambai-lambaikan tangannya.
Duo kembar yang bagaikan angin ribut itu – Shima dan Teru – kini sudah berada di dekat Gaara. Shima bahkan sudah hendak memanjat naik ke atas pangkuan Gaara. Pria berambut merah itu pun hanya bisa menyipitkan matanya atas kunjungan yang tiba-tiba ini.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Aduh, aduh. Dingin sekali?" tanya Temari sambil sedikit membungkuk untuk melepaskan Rika dari gendongannya. "Kami cuma mampir buat main kok?"
"Di jam kerja?" tanya Gaara curiga.
Temari mengangkat bahunya sambil menyeringai. "Tidak boleh?"
"Sudahlah, katakan saja apa keperluanmu," ujar Gaara sambil merapikan berkasnya sebelum Shima dan Teru mengacak-acaknya.
"Yaaah… sebenarnya, aku penasaran saja dengan cerita anak-anak. Dan aku jadi ingin mendengarkannya langsung darimu!"
"Tentang?"
Temari tersenyum. Manis. Sangat manis.
"Pengasuh sementara yang cantik itu, Gaara. Ino-chan?"
o-o-o-o-o
Bisa bertemu sekarang? Ada yang ingin kubicarakan.
Mata Ino langsung terbuka sepenuhnya saat ia melihat email yang baru masuk ke handphone mungilnya. Bagaimana tidak, di bawah isi email itu terpampang jelas nama pengirimnya.
From : Shika Nanas.
Apa yang mau pria itu bicarakan? Itulah yang terus terbayang dalam benak Ino. Ia kemudian melirik ke arah jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Masih sekitar satu jam lagi sebelum waktunya istirahat. Tidak mungkin Ino bisa seenaknya keluar kantor di jam kerjanya, tentu saja. Kecuali, ia memang benar-benar ingin dipecat.
Akhirnya, Ino mengetikkan balasan yang mengatakan bahwa baru satu jam lagi ia bisa keluar. Tidak lama, balasan dari pria berambut model nanas itu pun datang. Ia menyetujui usul yang ditawarkan Ino mengenai waktu dan tempat dimana mereka bisa bertemu nanti. Membaca jawaban tersebut, Ino pun memutuskan untuk tidak lagi memberi balasan apapun.
o-o-o-o-o
"Ino-chan itu pintel bikin pancake dan telul dadal!" seru Rika bersemangat.
"Dia bawel tapi menyenangkan untuk diajak bermain!" timpal Shima sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan menyeringai.
"Dia suka marah-marah tapi ia tetap saja menemani kami sepanjang hari!" tambah Teru sambil tersenyum dan mengangkat salah satu jari telunjuknya.
"Dan apa pentingnya membicarakan ini semua?" tukas Gaara kemudian. Datar.
Temari dan anak-anaknya dalam sekejab memasang wajah innocent. Tepatnya, Temari yang pertama memasang wajah seperti itu dan kemudian ketiga anaknya mengikuti.
"Oh, ayolah, Gaara. Masa kau mau membiarkan Nee-chan-mu ini mati penasaran?"
"Apa lagi, Temari?" tanya Gaara bosan.
"Kalau kudengar dari cerita anak-anak juga, dia bukan sekedar pengasuh dari biro atau semacam itu kan?" tanya Temari sambil duduk di kursi di hadapan Gaara. "Wanita berpendidikan, kukira? Temanmu?"
"Temari…"
"Gaara," ujar Temari memotong perkataan Gaara. "Mungkin kau beranggapan bahwa aku hanya mengganggumu dengan datang saat jam kerja dan malah bertanya-tanya soal pengasuh sementara yang kau pekerjakan kemarin ini."
Gaara sudah hendak membenarkan pernyataan Temari saat wanita tersebut kembali melanjutkan kata-katanya.
"Tapi, cerita bahwa kau bisa dekat dan bertahan selama beberapa hari dengan seorang perempuan benar-benar membuatku lega sekaligus penasaran setengah mati!"
Gaara menyangga wajahnya dengan sebelah tangan yang terkepal. Tatapannya tidak mengarah pada Temari, tapi pada berkas di hadapannya. Meskipun demikian, setengah perhatiannya memang masih tertuju pada ucapan Temari.
"Kau yang tidak pernah terlihat dekat dengan seorang perempuan mana pun, tinggal satu atap, selama beberapa hari, dengan seorang perempuan yang cantik. Ya, anak-anak yang bilang kalau dia cantik. Aku tidak tahu seperti apa rupanya. Tapi… Oh, Gaara! Ceritakan pada Nee-chan-mu ini! Tidakkah kau merasakan sesuatu padanya?" ujar Temari sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Gaara dengan bersemangat.
Gaara ingin sekali beranjak keluar dari ruangan ini segera dan meninggalkan kakaknya itu dengan pertanyaannya barusan. Tapi di luar kendalinya, Gaara malah berkata.
"Ya. Aku punya perasaan khusus padanya," aku Gaara.
Wajah Temari semakin sumringah. "Benar–…"
Sekali ini, Gaara yang memotong Temari.
"Nama wanita itu Yamanaka Ino. Kalau kau belum tahu, dia adalah pegawai dari kantor sebelah."
Bukannya marah karena ucapanya dipotong, Temari lagi-lagi semakin mengembangkan senyumannya. Setidaknya, menurut Temari, Gaara tidak jatuh cinta pada wanita tidak jelas asal usulnya. Status Ino sebagai 'pegawai kantor sebelah' sudah cukup meyakinkan Temari bahwa Ino bukan berasal dari kalangan wanita rendahan yang selalu mencoba peruntungan mereka dengan bermain laki-laki. Memutus pertimbangan-pertimbangan yang sudah terbentuk dalam benak Temari, Gaara kembali membuka mulutnya.
"Dan dia," tambah Gaara, "adalah wanita yang dibuat patah hati oleh suamimu."
o-o-o-o-o
Tanpa sadar, satu jam sudah berlalu begitu saja. Dan kini, dua orang yang telah membuat janji sebelumnya, tengah duduk berhadap-hadapan di suatu restoran. Belum ada yang berinisatif untuk membuka pertanyaan.
Bagi Ino, itu bukan karena canggung. Ia lebih memilih diam karena ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan. Pria di hadapannya – Shikamaru-lah – yang mengatur pertemuan ini. Dengan kata lain, pria itulah yang memiliki sesuatu untuk dibicarakan.
"Kau menjadi pengasuh sementara bagi anak-anakku selama lima hari kemarin?" tanya Shikamaru akhirnya tanpa basa-basi.
"Begitulah. Anak-anak yang merepotkan ya, anak-anakmu itu," jawab Ino sambil tersenyum dan memainkan sedotan di dalam gelas panjang berisi cairan berwarna oranye. Ino kemudian menyeruput sedikit orange juice yang ada di hadapannya tersebut.
"Hn," jawab Shikamaru tenang. "Arigatou."
Ino hanya mengangkat bahu. "Apa kau memanggilku hanya untuk mengucapkan terima kasih?"
"Tidak. Sebenarnya, aku hanya ingin tahu, bagaimana ceritanya sampai kau bisa menjadi pengasuh sementara bagi anak-anakku."
"Terlalu panjang untuk diceritakan, Shika. Yang jelas, adik iparmu itu yang memintaku, setengah memaksa sebenarnya."
"Kalau begitu, biar kuubah pertanyaannya." Ino memutar bola matanya bosan, seolah wanita itu bisa menduga apa yang akan terlontar keluar dari mulut pria berambut model nanas di hadapannya tersebut. "Bagaimana kau bisa mengenal Gaara?" tanya Shikamaru kemudian.
"Kau ingat, hari dimana kantorku dan kantormu pergi hanami di malam hari yang sama?"
Shikamaru mengangguk.
"Yah, di situlah aku pertama kali bertemu dengan Gaara."
Shikamaru terdiam. "Tapi bagaimana…"
"Soal bagaimananya… hem… katakan saja, takdir," jawab Ino santai.
Shikamaru-pun dibuatnya menghela napas sementara Ino hanya terkekeh kecil menanggapi respon dari si pria bertampang mengantuk yang ada di depannya.
Tak lama kemudian, Ino memiringkan kepalanya sambil bertanya, "Apa cuma itu yang ingin kau tanyakan?"
Hening sesaat sebelum Shikamaru akhirnya menjawab, "… Kurasa, kau sudah bisa melupakanku kan?"
Ino mengerjabkan matanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kata-kata itulah yang kemudian meluncur dari mulut Shikamaru. Tapi pria itu tidak ada niatan untuk mengejeknya. Setidaknya, di mata Ino, Shikamaru sedang menanyakan pertanyaan tersebut dengan wajah yang serius. Karena itulah, Ino pun memutuskan untuk menjawabnya dengan keseriusan yang sama.
"Yah… Mungkin," jawab Ino awalnya. "Kurasa, ya!"
Sekali itu, Shikamaru tersenyum. Ino juga akhirnya tidak dapat menahan dirinya untuk tidak membalas senyuman pria tersebut.
"Untunglah, kau tidak harus jadi wanita yang merepotkan," ujar Shikamaru kemudian sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, yang sebenarnya tidak gatal. "Cukup Temari saja yang merepotkan."
Ino tertawa tulus. Tapi kemudian tawa itu hilang dan tatapannya pun mengarah hambar pada meja.
"Tapi... mungkin aku akan patah hati lagi, Shika," ujar Ino yang entah kenapa malah menyuarakan isi hatinya. "Orang itu, aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya…"
Shikamaru tidak butuh nama dari 'orang itu' yang disebut Ino. Ia sudah cukup tahu siapa yang dimaksudkan wanita tersebut.
"Pada akhirnya, ia tidak mengatakan apapun dan hanya menggantungkannya begitu saja. Sejujurnya, aku terus bertanya-tanya, maksud perlakuannya yang terakhir…"
Shikamaru tetap bungkam. Ino sendiri kemudian menghela napas panjang.
"Kayaknya Dewa Kesialan belum mau jauh-jauh dariku, deh?" ujar Ino lagi sambil memberikan suatu tawa yang sangat jelas terpaksa.
"Sial atau tidaknya, bukan Dewa Kesialan yang memutuskan," jawab Shikamaru, sedikit sinis. "Bukankah itu tergantung pada apa atau bagaimana kau melihat suatu permasalahan?"
"Here it comes. Ceramah dari Nara-sama yang sangat jenius," goda Ino dengan tawa kecil.
"Tch. Aku serius, tahu?"
"Ya, ya! Aku tahu!" jawab Ino defensif. "Tapi aku ini wanita, Shikamaru. Ada kalanya aku ingin bersikap sentimental kan?"
"Excuse yang tidak berguna," balas Shikamaru malas. "Kalau kau penasaran, kenapa tidak kau hubungi dia dan tanyakan langsung padanya?"
Ino terdiam. Sebenarnya apa yang dikatakan Shikamaru tidak salah. Tapi, kenapa sulit mengakui kalau pria itu benar dan bahwa Ino akan menjalankan saran yang telah diberikan olehnya? Mungkin ini hanyalah salah satu bentuk kekeraskepalaan yang lain dari wanita itu.
"Telepon dia dan tanyakan hal yang mengganggumu," ulang Shikamaru lagi dengan tatapan yang menyiratkan bahwa ia bosan namun tetap merasa perlu mengatakannya, jika tidak ingin hal yang merepotkan menimpanya. "Aku yakin, ia akan menjawab semua keraguanmu."
Ino menatap Shikamaru lekat-lekat.
"Gaara memang seperti itu."
o-o-o-o-o
Temari sudah tidak lagi berada di kantor Gaara. Tentu saja ketiga anak lincah yang sebelumnya juga ikut untuk menggerayangi kantor Gaara, telah dibawa oleh wanita berambut pirang kuncir empat tersebut. Keadaan hening kembali mengudara di dalam ruangan sang Direktur muda yang sudah ditinggal seorang diri.
Seharusnya, dengan keheningan, Gaara bisa berpikir dengan lebih jernih. Dulu, ia pun lebih menyukai suasana hening dan tenang. Tapi, entah sejak kapan, ia jadi membenci keheningan seperti ini. Ia butuh sedikit keributan. Apalagi, jika keributan itu dibuat oleh satu orang.
Orang itu.
Yamanaka Ino.
Nama yang sempat membuat kakaknya terpana sesaat sebelum wanita tersebut tertawa sampai mengeluarkan sedikit air di sudut matanya.
Yah, siapa yang pernah menyangka? Temari ternyata sudah tahu mengenai masalah Ino dan suaminya. Rupanya, Shikamaru sudah terlebih dahulu menceritakan masalah tersebut walaupun ia tidak sampai menyebutkan nama. Saat itu, Temari juga merasa tidak membutuhkan nama wanita yang dikatakan tengah mendekati suaminya. Selama suaminya itu tetap setia padanya.
Namun, yang membuat Gaara semakin terkejut - terlepas dari fakta bahwa Temari ternyata tidak begitu kaget dengan pernyataannya - adalah reaksi sang kakak setelah itu. Kakaknya tersebut malah menyuruh Gaara untuk segera menaklukkan Ino. Wanita sulung dari keluarga Sabaku yang kini telah menyandang marga Nara itu bahkan menegaskan bahwa saat-saat dimana seorang wanita sedang patah hati, adalah saat yang paling mudah jika seorang pria ingin mendapatkan sang wanita untuk dirinya sendiri.
Pemikiran yang sebenarnya sangat menguntungkan. Tapi juga, terasa begitu salah. Gaara tidak mau memanfaatkan kondisi patah hati Ino untuk bisa menaklukkan wanita tersebut. Ditambah, ia juga tidak mau dimanfaatkan Ino sebagai pelarian semata. Hubungan dengan asas saling memanfaatkan seperti itu, tidak bisa dibilang hubungan yang sehat kan?
Gaara semakin menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya mengarah ke langit-langit dan matanya terpejam. Sungguh, ia ingin sekali mengusir bayangan Ino, setidaknya untuk sementara, dari benaknya. Tapi sulit. Wanita itu seolah sudah membentuk bentengnya sendiri di dalam benak Gaara.
Begitu Gaara membuka kelopak yang menutup turquoise-nya, saat itulah sebuah kata-kata lirih meluncur dari mulutnya.
"Bisakah aku mempercayakan hubungan ini pada takdir yang telah membawa kami sampai ke sini?"
o-o-o-o-o
Sepulangnya dari kantor, Ino langsung berdiam diri di kamarnya, merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur beralaskan seprai berwarna keunguan. Ia mencoba merenungkan pembicaraan yang sudah ia lakukan bersama Shikamaru sebelumnya. Dan karena itulah, Ino berkali-kali sudah memegang handphone-nya, berniat menghubungi pria berambut merah yang terus saja mengganggu pikirannya. Tapi berkali-kali pula, Ino membatalkan niatnya, untuk suatu alasan yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan.
Ino mendesah. Rasanya, ia tidak sampai seperti ini saat sedang jatuh cinta pada Shikamaru. Tapi kenapa, sekali ini, perasaan yang seharusnya menyenangkan jadi begitu menyesakkan?
Memang, pertemuan pertama Ino dengan pria itu – Gaara – tidak bisa dibilang sebagai pertemuan yang indah. Pertemuan takdir di antara mereka sangat kacau. Tapi, siapa yang sempat menduga kalau semua kekacauan itu kini akan menuntun Ino pada perasaan sakral yang… baiklah, sebut saja, cinta.
Kebersamaan mereka memang singkat. Tapi, intensitas kebersamaan di antara keduanya membuat perasaan itu dapat bertumbuh dengan cepat. Mungkin terdengar konyol. Ia baru saja patah hati dan dalam selang waktu lima hari kemudian, ia sudah jatuh cinta pada pria lain. Tapi, meskipun konyol, Ino tidak bisa memungkiri perasaan yang sudah bertumbuh dalam dirinya tersebut.
Layaknya bunga Sakura yang bermekaran di musim semi, perasaan dalam dirinya pun seperti itu. Perasaan yang tengah bertumbuh indah. Tapi… apakah perasaan itu akan berguguran bahkan sebelum tiba waktunya? Bisakah Ino mempertahankan perasaan itu agar terus berkembang dengan indah dan tidak gugur sebelum saatnya? Sebuah metafora yang tepat untuk menggambarkan kegalauannya.
Ng? Tunggu!
Apa itu tadi yang menyusup masuk dalam benaknya?
Bunga Sakura?
Hanami?
Bukankah itu adalah kata-kata yang berasosiasi dengan malam pertama pertemuannya dengan Gaara?
Ino memandangi langit-langit rumahnya beberapa saat sebelum ia menelengkan kepalanya, menghadap ke arah jendela yang memperlihatkan sorot mentari senja yang tajam menusuk permukaan iris matanya.
Senja yang indah. Tapi yang Ino inginkan adalah… agar senja itu segera berlalu.
Wanita berambut blonde panjang itu kemudian terduduk dari posisi berbaringnya sebelum ia kemudian turun sepenuhnya dari kasur. Ia bersiap-siap. Ia akan ke sana. Entah apa yang akan ditemuinya nanti.
Seandainya Dewa Kesialan benar-benar tidak mengikutinya…
Seandainya takdir memang masih berpihak padanya…
o-o-o-o-o
Bulan sudah berada di tahtanya. Sedikit bintang menemaninya. Dan itu sudah cukup untuk menunjukkan keagungan malam yang menjadi latarnya.
Ditambah dengan hamparan merah muda yang sesekali menerbangkan bagian kecilnya ke udara, malam sungguh menyajikan pemandangan lain yang tidak kalah indah dibandingkan siang.
Dan di tengah selimut kegelapan inilah – walaupun lampu-lampu penerangan jalan membuatnya tidak benar-benar pekat – Ino berada. Wanita itu berjalan seorang diri, di tengah-tengah jalan lebar yang di kiri kanannya ditumbuhi pohon Sakura. Pohon-pohon tersebut saling berdampingan, bagaikan penyambut tamu di suatu acara besar. Berdiam dalam jajarannya, sambil sesekali menaburi Ino dengan kelopak merah muda yang berbau harum.
Dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di balik punggungnya, Ino melangkah perlahan. Ia masuk ke bagian dalam taman. Kakinya melangkah dengan cukup pasti ke suatu arah yang menjadi tujuannya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, sementara dadanya sedikit bergemuruh dan pikirannya memperlihatkan kejadian di masa lalu yang membuatnya geli.
Langkahnya semakin ia percepat hingga akhirnya berhenti sama sekali. Di sini adalah tempat dimana ia dan teman-teman sekantornya melakukan hanami malam itu. Sesaat, Ino menoleh, berusaha mengingat dimana tempat 'kenangan' yang membuatnya nekad datang ke sini hari ini.
Sekali ini, dengan keraguan, Ino mulai melangkah ke satu arah. Ia harusnya tidak datang ke sini hanya dengan tujuan menyambangi tempat pertemuan pertama mereka. Bukankah pemandangan indah di sekelilingnya bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk berada di sini? Tapi Ino memang wanita yang keras kepala kan? Baginya, kenangannya lebih penting dibandingkan pemandangan seindah apapun.
Beruntungnya, kekeraskepalaannya kali itu membawanya pada suatu pemandangan yang jauh, jauh lebih indah dibandingkan hamparan pohon Sakura yang ada di sekelilingnya. Keindahan itu bahkan membuat Ino menahan napas dengan langkah yang terhenti seketika. Tas kecil yang semula ia jinjing dengan sebelah tangannya sampai terhempas begitu saja ke tanah berumput.
"G-Gaara?"
Sosok berambut merah itu pun akhirnya berbalik untuk menghadap wanita berambut pirang yang tengah memandangnya takjub, tidak percaya.
"Ino…"
Ino kembali menggerakkan kakinya, mendekat pada pria yang dipanggilnya 'Gaara' tersebut. Setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Ino pun berhenti.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Ino dalam nada yang menyiratkan bahwa wanita itu benar-benar tidak menyangka – walaupun ia sedikit mengharapkan – bahwa pria itu akan datang ke sini.
"… Takdir…" jawab Gaara lembut sambil menarik sebelah tangan Ino dan mengajak wanita itu untuk semakin mendekat padanya.
Ino merasa air matanya akan tumpah mendengar suara pria itu. Tapi apa yang perlu ditangisinya? Sebaliknya, ia harunya merasa lebih gembira bukan? Apa yang diharapkannya, apa yang dipikirkannya selama dua hari belakangan ini, kini ada di hadapannya. Sosok ini… nyata! Bukan sekedar imajinasinya.
"Kalau begitu… kita bertemu lagi karena takdir?" ujar Ino sambil tersenyum dan kemudian menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh dada bidang Gaara. "Bolehkah aku berharap kalau takdir ini adalah suatu rencana yang memang dipersiapkan khusus untuk kita?"
Gaara mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Ino. Sebelah tangannya yang lain kemudian merengkuh kepala Ino. Lembut, Gaara mengecup puncak kepala Ino.
"Jika demikian," ujar Gaara sambil memejamkan matanya, "bolehkah aku juga berharap kalau perasaan ini bukanlah sesuatu yang salah? Bukan sekedar ulah iseng anggur yang memabukkan ataupun sebagai bentuk pelarian akibat patah hati?"
Ino seketika itu langsung mengangkat kepalanya untuk melihat langsung ke dalam bola mata Gaara.
Itukah yang dicemaskan pria itu?
Itukah yang menyebabkan pria itu bungkam meskipun keduanya sudah saling memiliki rasa yang tidak dapat dipungkiri satu sama lain?
Ino tidak dapat lagi menahan senyumnya.
"Tadi aku…" ujar Ino sambil memejamkan matanya, "bertemu Shikamaru."
Pundak Gaara sedikit menegang. Tapi kemudian, Ino menggenggam tangan Gaara yang masih memegang tangannya dengan lebih erat.
"Tapi aku tidak lagi merasakan apapun saat bersamanya. Tidak lagi berdebar, tidak lagi marah, tidak lagi kecewa. Semua terasa biasa."
"Hn?"
"Ya. Kurasa, perasaanku pada Shikamaru sudah tidak bersisa. Yang ada…"
Ino berjinjit sedikit dan kemudian mengecup pipi Gaara sekilas.
"Hanya perasaan ini, yang entah sejak kapan sudah tumbuh untukmu, Gaara…"
Gaara kemudian menyentuh pipinya sendiri dengan tangan yang tidak menggenggam tangan Ino. Wajahnya sedikit memerah. Andai saja saat itu pencahayaan yang ada sedikit lebih memadai, Ino pasti sudah dapat melihat dengan lebih jelas rona merah di wajah Gaara. Dan sebaliknya, Gaara pun pasti dapat melihat bagaimana semburat kemerahan mulai mendominasi wajah wanita tersebut.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam, saling memandang, berusaha mengembalikan detak jantung mereka agar menjadi normal kembali. Tapi, begitu keduanya sudah merasa lebih tenang, yang kemudian mereka lakukan adalah... semakin mendekatkan wajahnya satu sama lain. Tanpa aba-aba, keduanya pun saling menempelkan bibir mereka. Hanya sentuhan ringan dan mereka langsung menarik diri.
Otomatis, debaran jantung mereka kembali menggila. Tapi itu tidak lantas menghilangkan senyuman Ino dari wajahnya. Gaara yang biasanya tidak berekspresi pun, kini membalas senyuman Ino itu dengan sebuah senyum kecil yang begitu menawan. Melihat itu, Ino tidak dapat lagi menyangkal pemikiran kecilnya yang berkoar-koar bahwa Gaara adalah pria yang benar-benar mempesona!
Merasakan dorongan yang kembali mendesak di sela-sela kegiatan mereka untuk saling mengamati satu sama lain, keduanya pun kembali menempelkan bibir mereka. Kali ini, mereka memutuskan untuk membiarkan ciuman tersebut bertahan lebih lama dibandingkan ciuman sebelumnya.
Tidak, mereka tidak sedang mabuk saat ini. Keduanya sadar, sangat sadar. Tapi ciuman kali ini pun terasa begitu hangat, sama hangatnya seperti ciuman terakhir yang mereka bagi setelah mereka menenggak wine di apartemen Gaara waktu itu. Lebih daripada itu. Ciuman kali ini terasa jauh lebih hangat dan juga lebih… memabukkan.
Gaara tidak lagi diliputi keraguannya dan Ino pun semakin menanggapi ciuman tersebut dengan seluruh hatinya. Gaara kemudian sedikit menggerakkan tubuh Ino hingga punggung wanita tersebut bersandar pada batang pohon Sakura yang berdiri kokoh. Kondisi ini seolah memperlihatkan versi lain dari ciuman pertama mereka dimana dulu, Ino-lah yang mengendalikan keadaaan. Tapi bagi Ino, ia sama sekali tidak keberatan walaupun sekarang Gaara yang memegang kendali atas ciuman mereka. Tepatnya, keduanya tidak ada lagi yang mempedulikan dan mempermasalahkan hal tersebut. Setidaknya untuk saat ini.
Keindahan bunga Sakura yang ada di sekeliling mereka pun tidak mereka hiraukan. Meskipun demikian, bunga-bunga berwarna pink tersebut masih saja setia menemani keduanya untuk saling menunjukkan perasaan satu sama lain melalui ciuman panjang mereka.
Setelah beberapa saat penuh kehangatan, akhirnya keduanya pun memisahkan diri. Walaupun dikatakan memisahkan diri, pada kenyataannya, jarak di antara mereka tidak terlalu banyak berubah.
"Akhirnya, ciuman keempat, tanpa mabuk sedikit pun," ujar Ino berkelakar.
"Empat?" tanya Gaara sambil menyipitkan matanya.
Ino tertawa kecil. "Tidak ingat, eh?"
Gaara mencoba mengingat-ingat. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa mengingat dengan benar jumlah ciuman yang sudah mereka lakukan. Apakah sekedar menempelkan bibir hari ini pun dihitung sebagai ciuman?
"Pertama kalinya, saat kau mabuk, di taman ini. Kedua kalinya, saat kau akan pulang, di apartemenku. Lalu tadi… ciuman ketiga dan keempat?" ujar Gaara berusaha memastikan kapan dan di mana saja ciuman yang berjumlah empat kali itu dilakukan.
"Huh! Bukan, bukan. Hari ini hanya dihitung satu ciuman," jawab Ino sambil mendorong dada Gaara agar pria itu sedikit memberi jarak bagi keduanya.
"Jadi? Kapan…"
"Pikir saja sendiri," ujar Ino kemudian sambil tertawa-tawa dan kemudian berjalan menjauh dari Gaara. Wanita itu beranjak ke arah tasnya, membungkuk untuk mengambilnya, menepuk debu yang sedikit menempel, dan akhirnya menyelempangkan tas kecil tersebut di pundak kanannya. Setelah itu, ia pun melirik ke arah Gaara yang masih terdiam dalam kebingungannya.
Tentu saja Ino tidak bisa menyalahkan Gaara seandainya pria itu tidak ingat mengenai sebuah ciuman lain yang telah mereka lakukan. Dan melihat reaksi Gaara yang tampak berusaha setengah mati untuk mengingat, Ino tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum geli.
Merasa kalau ia tidak akan mendapatkan jawaban selain yang keluar dari mulut Ino, Gaara akhirnya memutuskan untuk menangkap tangan Ino dan menarik wanita tersebut ke dalam pelukannya. Sebelah tangan Gaara kemudian menahan pinggang Ino sementara tangannya yang lain kembali berkaitan dengan jari-jari ramping wanita tersebut.
"Katakan?" ujar Gaara, setengah memaksa wanita tersebut untuk segera membeberkan fakta yang dijadikannya sebuah rahasia. Ino sendiri masih terlihat menikmati permainannya untuk membuat Gaara merasa semakin dan semakin penasaran sehingga ia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan Gaara dengan lidahnya yang terjulur mengejek.
"Ino…" ujar Gaara dengan nada yang seperti meminta. Melihat reaksi Gaara yang seolah sangat memohon untuk diberi tahu, mau tidak mau, tawa Ino pun kembali pecah.
Ino kemudian menangkupkan kedua tangannya ke pipi Gaara. "Baiklah, baiklah," ujarnya lembut. "Akan kuberitahukan padamu…"
Gaara menundukkan kepalanya sedikit sementara Ino berjinjit sebelum ia berbisik tepat di telinga Gaara.
"It was our second kiss…"
Saat Ino selesai mengatakan itu, beberapa kelopak Sakura mulai menari dengan diiringi desiran angin, seolah hendak memberi dukungan bagi Gaara agar pria itu dapat segera mengingat saat-saat yang dimaksudkan oleh wanita dalam dekapannya. Namun tampaknya, niat tulus bunga Sakura tersebut tidak membuahkan hasil apapun. Dahi Gaara tetap saja berkerut setelah mendengarkan pernyataan tersebut. Ino yang mendapati bahwa Gaara semakin kebingungan hanya bisa menggelengkan kepala sambil melayangkan sebuah senyuman manis yang membuat Gaara tidak ingin tahu apapun lagi. Ia hanya ingin kembali melumat bibir wanita di hadapannya ini.
Tapi, dengan cepat, Ino menarik kepala Gaara mendekat dan membuat pria itu sedikit tersentak hingga lamunannya pun menguap. Hembusan napas wanita itu terasa hangat menggelitik wajah Gaara yang lagi-lagi mulai menunjukkan rona kemerahan. Mata aquamarine itu juga kemudian mengunci kedua turquoise Gaara yang memang tidak ingin lepas dari jerat pesona yang diciptakan oleh wanita tersebut.
Sementara Gaara berusaha keras untuk mengatur detak jantungnya agar kembali normal, Ino malah meletakkan sebuah telunjuknya di bibir Gaara. Lalu, dengan suara yang menggoda, wanita itu kemudian berkata.
"It happened on your apartment as well as the third. And back then..."
Gaara menyipitkan matanya. Ino menyeringai.
"You kissed me while you're drunk!"
***おわり***
A/N:
Huakakakakaka! Akhirnya fic ini beres juga! Ya-ha! Agak gantung yah? Atau malah sangat gantung? Tapi emang inilah ending yang udah terbayang oleh saya sejak awal. Moga-moga sih reader-tachi sekalian nggak kecewa yah. Dan maaf juga kalau-kalau ada yang menantikan peran tiga bocah lincah itu lagi. Di sini mereka cuma nongol sedikit. Wkwkwk. Ohyah, kalau ada yang merasa alur di chapter ini agak rush… well… nggak salah sih. Saya sendiri juga merasa demikian *tersenyum kecut*. Tapi moga-moga nggak sampai mengganggu kenyaman reader-tachi dalam membaca fic ini. ^^v
Nah, sesuai janji saya pada beberapa reader, setelah fic ini, saya bakalan konsen buat namatin Flower Lady. So, tunggu aja tanggal main last chapter-nya Flower Lady yak? XD
Sebelum sampai di penghujung kata-kata, I'd like to give my special thanks to : el Cierto, Minewoppa, agusthya, Putri Luna (really? I'm glad you like that sentences. ^^), licob green, Kara 'lluvia' Couleurs (ha…ha…ha… :P), Yuki Tsukushi n ratoe sang gigi (kapan-kapan menggila lagi yo? XD), vaneela, Cendy Hoseki, lavender magic (sabar yah buat FL-nya), Lollytha-chan, dasya-chanELFShawol, moe chan (GM ngantri yak, abis FL tamat baru saya lanjut GM ^^v) yang udah mereview chapter kemarin. Juga untuk yang telah nge-fave, nge-alert, dan semua yang udah baca fic ini sebagai silent reader. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya #bow.
Okey, sekarang…
Would you mind to gimme review? Tell me your opinion bout this last chapter.
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
