Sumary: Yunho memintaku untuk menuliskan kisah cintanya dengan Kim Jaejoong yang telah kandas.
Disclaimer: Yunho and Jaejoong belong to god and themselves. The OC is Tya's
Pairing: Yunho X Jaejoong, Yunho X OC
Rating: T (rating akan berubah di tiap chapter berikutnya)
A/N: I got more inspiration from 'Lelaki Terindah' by Andrei Aksana when writing this fic. Jadi, jangan heran bila saya sedikit 'mengutip' jalan cerita dari novel beliau. Saya juga menerima siapapun yang nge-flame FANFIC ini, asal bukan nge-flame DBSK atau YunJae pairing. Let's enjoy it!
.
.
.
Little gift for nae sista,
Tya aka Hikaru Ryuuzaki
Story Between Yunho, Jaejoong and I
Prologue
Aku merebahkan diri di kasur empukku dan mengistirahatkan kedua mataku yang telah berkunang-kunang akibat seharian berkutat dengan laptop. Melelahkan memang bekerja sebagai seorang penulis novel, apalagi jika di tengah jalan ide-ideku sudah buntu, huuuhh. Terkadang aku berpikir bahwa diriku belum menjadi penulis yang baik, meskipun respon positive terus saja mengalir untuk beberapa karyaku sebelumnya.
"Tiiit..Tiiit," telingaku menangkap bunyi bel yang menyebalkan itu. Kututup kedua telinga dengan bantal, mengacuhkan orang yang terus memencet bel rumahku. Paling-paling juga remaja yang ingin meminta tanda tangan, mengingat peminat novelku kebanyakan adalah para remaja.
"Tiit..Tiit..Tiitt.." bel itu terus meraung-raung, seperti anjing yang ingin diperhatikan majikannya. Demi tuhan, haruskah berkunjung malam-malam begini? Shit!
Dengan langkah yang –sangat- kesal, aku menghentak-hantakkan kakiku dan berjalan kearah pintu. Aku bersumpah akan mematahkan leher orang yang mengganggu malamku ini, jika ia datang hanya untuk meminta tanda tangan! Aku membuka pintu dengan kesal –yang menimbulkan bunyi cukup keras- dan dari balik pintu aku melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri sambil menggigil kedinginan. Mataku menyipit, mengamati pria itu mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ya, aku mengenal pria ini, sangat! Dan setelah sekian lama tak bertemu, ia bahkan sama sekali tak berubah. Aku masih terdiam, hingga akhirnya suara bassnya menyadarkanku.
"Isseul-a, apa kau lupa cara menjamu tamu? Aku sangat kedinginan diluar,"
"Ju...Jung Yunho," aku hanya bisa mendesah pelan melihat pemandangan yang ada di hadapanku saat ini. Tanpa kupersilahkan, ia telah memasuki rumahku.
Ia duduk di sofa ruang tamu-ku –tanpa kupersilahkan- dan kemudian menyulut sigaretnya. Tunggu, ia merokok? Bukankah sejak menjalin hubungan dengan –kau tahu siapa- Yunho sudah tidak lagi merokok?
"Well Jung Yunho, katakan apa yang membuatmu berinisiatif untuk mengganggu tidurku?," aku berujar ssedikit tajam, mencoba menghilangkan kegugupanku saat pertama kali melihatnya. Yunho hanya menyeringai dan mengepulkan asap rokoknya.
"Tidakkah kau bisa bersikap ramah kepada sahabat lama-mu ini?," Yunho berujar dan aku tertawa pelan. Ia masih saja Jung Yunho yang dulu, walau rautnya tidak. Ia terlihat tak seceria dulu, -mungkin- karena cobaan yang dideranya beberapa waktu lalu.
"Haruskah aku beramah-tamah dengan orang yang menghilang tanpa kabar setelah kepergian kekasihnya?," aku berujar tajam. Dulu aku dan ia sering berbicara dengan nada seperti ini, ssedikit tajam dan sinis. Jadi aku rasa ia sudah terbiasa. Yunho menunduk, setelah mendengar ucapanku yang menyinggung tentang 'kekasihnya'
"Kenapa kau menghilang setelah 'ia' pergi?" tanyaku melihat tingkah Yunho, sejujurnya aku juga ingin mengetahui alasan kepergian putera sulung dari keluarga Jung itu.
"Bukan urusanmu!" kini, nada bicara Yunho terdengar dingin, seolah tak ingin aku mengungkit 'hal itu' lagi.
"...Tapi aku sahabatmu!"
"Bukan berarti berhak mengatur privasiku.." well. Aku diam. Sia-sia saja berdebat dengan seorang pria seperti Jung Yunho, malah akan memperkeruh suasana. Dan kuputuskan untuk mengalah.
"Oke, ... lantas mau apa kau kemari, hm?" akhirnya kuulangi lagi pertanyaanku pada Yunho, menghindari pertikaian dengannya.
"Aku ingin kau menuliskan kisah cintaku dengan Jaejoong," ia berujar dengan nada yang terdengar –sangat- serius.
"Mwoo?" aku mendelik. Bagaimana mungkin ia menyuruhku menuliskan kisah cintanya dengan Jaejoong,yang merupakan masa lalu kami bertiga. Yunho, Jaejoong dan... Aku
"Ayolah, Isseul-a... Kau kan seorang novelis terkenal. Aku bahkan sudah bersusah payah mencari alamat rumahmu. Lagi pula kupikir, kau-lah orang yang tepat untuk mengabadikan kisahku dan Jaejoong, mengingat kau juga terlibat di dalamnya," Yunho berkata dengan panjang lebar.
"A...Aku.." lidahku mendadak kelu mendengar permintaan Yunho tadi. Masa lalu ku bersama Yunho dan Jaejoong adalah satu hal yang –sebenarnya- sangat ingin kulupakan.
"Ayolah, Isseul-a. Kita kan sahabat..," Yunho merajuk lagi. Sahabat? Bukankah sejak dulu ia selalu menganggapku sebagai sahabat –meskipun aku berharap lebih- Kemudian, ia melancarkan puppy eyesnya yang membuatku selalu tak bisa menolak permintaan dari seorang Jung Yunho.
"Nee. Baiklah," kata-kata pemungkasku itu mampu mengukir senyum indah di bibirnya. Ya, akhirnya aku bersedia menuliskan kisah cinta antara Yunho dan Jaejoong yang juga merupakan kepingan masalalu kami bertiga. Yunho, Jaejoong dan... aku.
Tak lama kemudian, Yunho beranjak pulang. Meninggalkan aku sendiri mematung di ruang tamu. Kemudian, ku putuskan untuk melangkahkan kakiku kembali ke kamar, membiarkan masa lalu kami bertiga mengabut di benakku. Haruskah aku turut menuliskan perasaanku yang sebenarnya pada Yunho? Ah, tidak. Ini kisah antara Yunho dan Jaejoong, bukan Yunho dan aku. Baiklah Jung Yunho, kalau memang itu yang kau inginkan...
-To Be Continued-
Kicauan author: Gimana, gimana prolognya? Well agak membosankan-kah? Maklum, saya hiatus menulis lama sekali, jadi harus membangun mood lagi.. –ngeles- niwey, fanfic ini sebenarnya adalah hadiah untuk ulang tahun Tya pada bulan Maret lalu. Tapi karena UNAS, saya baru bisa membuat fic untuknya sekarang. Thanks buat yang sudah menyempatkan diri untuk baca... Jangan lupa kritik, saran dan sanjungannya ya... See yaaa.. ^^
