A/N (part 1) : Terima kasih kepada eleamaya, Sugar Princess71 dan sweet miracle 'michu 17', yang sudah membaca dan merieview fic ku ini :D


Disclaimer : Lagi-lagi aku bermimpi diberi hak milik One Piece oleh Eiichiro Oda-sama *dilempar durian*

Warning : OOC, abal, gaje, bahasa kacau, summary gak nyambung, alur sedikit kecepetan dan gak jelas, dan juga, Hancock dan Robin itu seumuran dengan Luffy dkk.

Hope You Enjoy! :D


-Second Chapter-

.

.

.

"Luffy! Zoro!"

Brak!

Pintu terbuka dengan satu hentakan keras. Nami menghela nafas lega, lalu menariknya lagi, "BANGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUN!"

Teriakannya, mampu sedikit menggetarkan kaca di seluruh pelosok rumah. Kedua orang yang sedang tidur dikasur dengan posisi yang aneh itu sontak terbangun dari tidur mereka.

"APA-APAAN KAU!" teriak mereka bersamaan.

Nami memasang wajah garang sebelum akhirnya memeluk mereka berdua dengan erat. Sementara kedua orang yang dipeluk itu hanya terbengong-bengong heran.

"Ne, Nami, kau kenapa?"

"Heh, kau sakit ya?"

Zoro menatap Luffy dan Luffy menatap Zoro. Heran dengan semua yang terjadi. Tapi akhirnya, mereka menghembuskan nafas -hampir bersamaan- sebelum akhirnya memeluk Nami.

"Hei, Nami, kau kenapa?" tanya Luffy sambil mengelus rambut Nami.

Nami melonggarkan pelukannya dan menatap Luffy, "Kau tanya aku kenapa?"

Alis Luffy terangkat begitupun juga Zoro. "Kau memangnya kenapa?"

Nami melepas pelukannya dan menatap Luffy juga Zoro dengan tatapannya yang agak sedih, agak marah, juga lega itu.

"Baka! Baka! Kalian baka! Kenapa pulang tidak bilang-bilang!" marahnya.

Luffy menaikkan alisnya, heran. "Tidak bilang apanya? Bukannya kami sudah bilang?"

"Tapi kau tidak bilang akan pulang jam berapa!" marah Nami lagi.

Luffy memiringkan kepalanya dan menatap Nami heran. Lalu menghela nafas pelan, "Gomen ne, Nami. Kami lupa menghubungimu."

Zoro yang dari tadi hanya diam, akhirnya buka suara, "Tumben sekali kau mengkhawatirkan kami,"

Nami menjitak Zoro pelan, "Baka! Kau pikir sudah berapa bulan kita tidak bertemu! Sudah hampir 9 bulan! Dan lagi, kalian sama sekali tidak ada kabar! Apalagi misi yang kalian jalani ini tingkat bahayanya tinggi! Bagaimana aku tidak khawatir! Sementara kalian… Kalian…" Suara Nami melemah dan dia menunduk.

Zoro heran kenapa Nami seperti ini. Begitu juga Luffy. Tapi akhirnya, mereka mengerti kenapa dan kembali memeluk Nami dan membiarkan gadis itu mulai menangis di masing-masing bahu Zoro dan Luffy.

"Nami, dengarkan aku. Maaf, lain kali, aku –kami- berjanji akan selalu memberi tahu mu. Janji." Tegas Luffy. Nami hanya mengangguk dalam pelukan mereka berdua. Sementara Zoro tersenyum kecil.

"Hei! Hei! Kalian apakan Nami-swan ku!" sewot Sanji sambil berjalan kearah Zoro dan Luffy.

"Kami tidak mengapa-apakan dia, alis dart!" sewot Zoro.

"Heh! Kau bilang apa, Marimo!" balas Sanji.

Luffy tertawa kecil dan Franky menghela nafas pelan. Sudah lama rasanya tidak melihat kedua orang itu bertengkar seperti ini.

"Luffy-bro, Zoro-bro, sebaiknya kalian lepaskan Nami dari pelukan kalian. Nanti Sanji-bro akan cemburu." Sela Franky.

Zoro menaikkan alisnya, "Kenapa?"

Sanji menghembuskan asap rokonya dan berkata dengan santainya, "Ah, aku lupa memberi tahu kalian. Aku dan Nami-swan 'kan sudah jadian."

"A-APA!"


"Dia adalah Portgas D. Ace. Dia adalah peneliti baru disini. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengannya."

Semua mata yang berada diruangan tersebut menatap lelaki yang baru saja diperkenalkan tadi. Lelaki dengan wajah yang bisa dibilang tampan dengan bintik samar dikedua pipinya dan tattoo di tangan kirinya yang samar-samar terlihat karena tertutup kemeja. Lelaki itu membungkuk dan membiarkan matanya 'meneliti' ruangan tersebut. Lalu pandangan lelaki itu jatuh pada mata onyx biru milik seorang wanita cantik yang juga sedang menatapnya.

.

.

.

"Hallo, kita belum sempat berkenalan tadi. Aku Portgas D. Ace. Salam kenal." Kata Ace sambil mengulurkan tangannya kepada kedua wanita yang duduk dihadapannya.

Kedua wanita itu menatap uluran tangan itu dengan tatapan heran. Baru setelah Ace menggerakkan tangan yang dia ulurkan, kedua wanita akhirnya merespon dan menjabat tangannya.

"Aku Hancock. Boa Hancock." Kata Hancock lalu menjabat tangan Ace. Ace tersenyum, "Salam kenal, Hancock." Katanya.

"Aku Robin. Nico Robin." Ganti Robin yang memperkenalkan diri. Ace lagi-lagi tersenyum. Tapi entah mengapa, senyumanya pada Robin tampak agak berbeda dengan senyumannya kepada Hancock.

"Jadi kau, Nico Robin?" tanyanya.

Robin menaikkan alisnya, "Kau kenal aku?" selidiknya.

"Tidak, tidak, hanya aku dengar kalau ibumu tertangkap karena kasus korupsi. Benar?" tanya Ace lagi.

Deg!

Mata Robin membulat dan menatap Ace dengan tatapan heran sekaligus agak marah. Tentu saja karena disinggung-singgung tentang masalah pribadinya. Dia benar-benar sudah lelah menghadapi rentetan pertanyaan-pertanyaan yang hampir mirip seperti tadi. Menjawab dan memperedam pertanyaan-pertanyaan tersebut benar-benar menguras hati dan tenaga, dan Robin tidak mau ada yang mengungkit-ungkit masalah tersebut. Seperti sekarang ini.

"Ace, bisakah kau membicarakan hal lain?" perintah Hancock dengan nada tidak suka.

"Tenang, Hancock. Ya, kau benar Ace, ibuku adalah narapida kasus korupsi. Aku harap kau tidak mempermasalahkannya. Dan tidak mengungkit-ungkitnya." Tegas Robin.

"Ah, gomen. Aku benar-benar minta maaf telah menyinggung perasaanmu." Kata Ace sambil membungkuk sedikit.

"Tidak apa. Itu sudah cerita lama." Kata Robin ringan.

Ace tersenyum, "Baiklah nona-nona, aku pergi dulu. Sampai jumpa." Katanya dengan sedikit membungkuk lalu melambaikan tangan dan pergi dari taman yang rindang itu.

Hancock mendengus kesal. "Kau ini benar-benar! Dasar nona sok tegar!"

Robin tersenyum, "Aku tidak sok tegar, nona ular,"

Hancock lagi-lagi mendengus, "Aku sudah bilang, kalau aku bukan—"

"Robin! Hancock!" teriak Nami sambil berlari kearah Robin dan Hancock dan juga melambaikan tangan.

"Hei! Nami!" teriak Hancock juga sambil melambaikan tangan.

Nafas Nami tersenggal-senggal saat sudah ada disebelah Hancock dan Robin. Tapi, itu tidak menghentikannya untuk tetap mengoceh.

"Eh, katanya ada peneliti baru ya? Apa dia sudah datang?" tanya Nami.

Hancock mengangguk. "Ya, dia sudah datang. Tadi kami baru saja mengobrol dengannya. Benar 'kan Robin?" tanya Hancock pada Robin. Tapi, tak ada tanggapan. "Hei, Robin? … Robin!" bentaknya dan sedikit menggucangkan bahu Robin.

"Ya? Kenapa, nona ular?" tanyanya. Jujur saja, agak kaget.

"Jangan panggil aku seperti itu! Kau tadi tidak mendengarkan aku, tahu!" sewot Hancock.

Nami menghela nafas, "Sudah, sudah. Robin, kau tadi kau melihat apa memang?" selidik Nami.

Robin mengalihkan pandangannya kearah Nami. "Tidak. Hanya sepertinya, aku melihat seseorang mengintip dari balik tralis itu, tadi."

Nami menaikkan alisnya. "Seperti apa orangnya?"

"Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena wajahnya tertutup." Jelas Robin.

"Yasudah, kita pergi saja dari sini." Ajak Hancock dan mengajak Nami juga Robin pergi.

Nami dan Robin mengikuti Hancock pergi dari tempat itu. Tapi sebelum pergi, Robin kembali menatap tralis-tralis besi tadi, tempat orang yang tadi dia lihat, dan kembali memperhatikannya.

'Sepertinya tadi ada yang memperhatikan. Tapi… Siapa?' batinnya.


"Target sudah ditemukan. Sekarang tinggal menjalankan misi saja 'kan?"

'Tidak. Tidak secepat itu. Kita harus memilih waktu yang tepat untuk menjalankannya.' Kata suara berat dari sebrang sana.

"Harus menunggu sampai kapan? Semakin lama kita menunggu, semakin banyak kemungkinan penyamaran ini akan segera terbongkar."

'Sabarlah sedikit. Bukankah kau mau mengalahkan "dia"? Kau harus sabar.'

"Ck. Sesukamu saja. Kau bos-nya. Kau yang mengatur semuanya." Katanya lalu menutup flap Handphone-nya dan pergi dari tempat itu, kembali menjalankan misinya.

.

.

.

To be continued


A/N (part 2)

Lolu : Uyeeeeeeeeeeeeeh! Chap 2 selesaiiiii! Yippieee!

Sora : Hei, hei, kasihani aku dong yang ngetik!

Lolu : Ah! Sebodo amat! Yang penting ini selesaiiiii!

Sora : Seneng amat! Ckck

Lolu : Giliran gak semangat dimarahin… Giliran semangat, dimarahin juga…

Sora : Hhhhhh! Capek ya, ngomong sama kamu!

Lolu : Yaudah! Fine! Mau kamu apa!

Sora : Aku mau jadi bosnya! Kamu jadi Assistant!

Lolu : … *deathglare*

Sora : E-eeerr… Yasudah! Kita tutup aja A/N part 2 ini!

Lolu : Okay! Nah, minna-san, silahkan review, ngeflame, kritik, saran, ataupun apapun (?) juga boleh kok!

Sora : REVIEW PLEASE!

Klik tombol dibawah ini