A/N (part 1) : Moshimoshi minna-san! Akhirnya aku bisa mengupdate ini setelah sekian lama FFn error -_- Enjoy!


Disclaimer : Sampai kapanpun aku bermimpi, One Piece memang milik Eiichoro Oda.

Genre : Crime – Mystery. (Perubahan dari Tragedy ke Mystery :D)

Warning : Gaje-ness, OOC-ness, abal-ness, alur kecepetan, typo dan kalau gak suka, boleh tekan tombol back di kiri atas :D

Don't like don't read

Hope You Enjoy!


-Third Chapter-

.

.

.

"Berurusan dengan Nico Robin lagi, eh?"

Zoro menghembuskan nafas panjang. "Kalian juga 'kan?"

Sanji menhisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya, "Tidak-tidak. Kami hanya memback-up mu saja. Yang menyelesaikan inti dari misi ini adalah kau."

"Kau sudah masuk ditempat kerjanya?" Sela Luffy yang baru saja dari dapur. "Sanji! Aku lapar!" teriaknya kemudian. Sanji mendengus kesal dan segera ke dapur.

Zoro menyalakan televisi lalu meneguk sake nya. Pikirannya kembali pada siang hari tadi. Setelah agak lama terdiam, Zoro melirik Luffy yang sedang menunggu jawaban darinya. "Tidak. Ada orang lain yang sudah mengambil penyamaranku disana. Dugaanku, dia adalah mata-mata dari group koruptor yang mengincar Nico Robin."

"Lalu bagaimana?" tanya Sanji dari dapur yang sedang membuat makanan untuk Luffy dan Zoro.

Zoro kembali menghela nafas, "Sekarang kita hanya mengandalkan informasi dari Nami saja. Dan juga 'penyelidikan'ku secara diam-diam."

"Kau melakukannya secara berkala?" tanya Sanji yang datang dengan makanan dikedua tangannya. Lalu menaruhnya dimeja dan segera dibabat oleh Luffy.

"Setiap hari." Jawab Zoro singkat lalu memakan makan malamnya.

Sanji duduk di sofa di sebelah Luffy. "Apa dia sadar? Menurutku, dia wanita cantik yang kemampuan observasinya berbahaya,"

"Sepertinya dia menyadari kalau diperhatikan. Nami juga mengatakan padaku kalau dia merasa diperhatikan oleh seseorang." Jelas Zoro. "Hei! Itu makananku!" sewotnya saat Luffy mengambil makanannya.

Luffy tertawa kecil, "Shishishi… Telat, Zoro. Jadi Nami sudah tahu, ya?"

"Tentu saja. Kau pikir aku ini agen sepertimu apa?" sewot Nami yang tiba-tiba sudah ada diruangan tersebut. Lalu berjalan kearah Luffy, Zoro dan Sanji dan duduk di sebelah Zoro.

"Nami-san? Kau belum tidur? Mau kubuatkan apa?" tawar Sanji.

Nami tersenyum kecil kearah Sanji, "Aku mau jeruk hangat ya, Sanji-kun." Katanya. Sanji dengan hitungan detik, sudah ada didapur untuk membuatkan pesanan wanita yang sekarang menjadi pacarnya itu.

Nami menatap Zoro, serius. "Lalu kenapa aku juga menjadi target perlindungan juga?" tanyanya.

Zoro meletakkan piringnya dan menenggak sake-nya lagi. "Kau adalah informan penting disini. Karena aku tidak bisa masuk kesana, jadi kaulah yang paling kita andalkan." Jelasnya.

"Dan beruntunglah, Nami. Keberadaanmu sebagai agen rahasia hanya diketahui oleh komandan utama dan kami." Tegasnya kemudian. "Dan juga, Boa Hancock." Tambahnya lagi.

Nami membulatkan matanya, "Dari mana kau tahu kalau Hancock…?" kagetnya. "Ah, aku lupa. Kau adalah pencari informasi yang berbahaya." Tambahnya kemudian.

"Itu sebabnya kita melindungi Hancock-sama juga?" sela Sanji yang datang dari dapur dengan pesanan Nami.

"Ya, mungkin seperti itu." jawab Zoro. "Dan mungkin karena dia anak dari pemilik salah satu perusahaan terkemuka di Jepang. Bisa muncul kasus baru kalau dia sampai kenapa-kenapa." Jelas Zoro.

"Jadi target perlindungan kita ada tiga. Robin, Hancock, dan Nami. Benar 'kan?" pasti Luffy yang dari tadi hanya diam karena mengantuk.

Sanji menengok kearah Luffy. "Ku kira kau sudah tidur." Ujarnya. "Luff, usahakan kau bisa menjaga Hancock-sama dengan baik! Kalau kau tidak menjaganya dengan baik, kau akan berhadapan denganku!" perintah Sanji dengan mata membara-bara (?)

Luffy menaikkan kedua alisnya, "Hah? Kenapa aku?"

"Kenapa kau? Karena sudah jelas akulah yang akan menjaga Nami-san dan marimo ini yang akan menjaga Robin-chan. Lagipula, dia adalah teman kecilmu 'kan? Seharusnya, kau sadar kalau kau berkewajiban untuk menjaganya!" jelas Sanji sambil menjitak kepala Luffy.

Luffy mengusap kepalanya, "Aduh… Ya, ya, ya, aku mengerti Sanji. Tidak usah dijelaskan panjang lebar dan sambil menjitak begitu. Kepalaku sakit jadinya…"

Sanji, Zoro dan Nami menghela nafas lebai, "Sekarang aku benar-benar heran kenapa orang sepertimu bisa menjadi agen rahasia…" kata mereka berbarengan.

"Eh, marimo! Aku baru ingat. Siapa orang yang menjadi mata-mata group koruptor itu? Yang memakai penyamaranmu itu? Dan jangan tidur dipangkuan Nami-san ku!" Sewot Sanji yang ingin 'menyingkirkan' Zoro yang sedang tiduran di sofa, dengan kepala dipangkuan Nami.

Nami menahan Sanji. "Diam sajalah, Sanji-kun. Jangan membuat keributan malam-malam begini!" perintah Nami lalu mendorong Sanji duduk di sofa lagi.

"Nami-swaaaaaaaaaan~~" rengek Sanji sambil nangis gak jelas. Nami hanya sweatdrop saja melihatnya.

Zoro membuka matanya sebelah dan menyeringai, "Kau berisik alis dart! Masa' kau tidak tahu? Bahkan dia menyebutkan nama aslinya dengan jelas sewaktu berkenalan dengan Nico Robin dan Boa Hancock."

Luffy memajukan mulutnya, "Payah banget! Kenapa dia langsung membocorkan nama aslinya? Mata-mata group koruptor itu benar-benar payah!" cibirnya, masih sambil tiduran.

"Tidak Luff. Bukan begitu. Masa' kau tidak mengerti sih!" sewot Sanji. Lalu memegang kepalanya dan menghela nafas sabar.

"Tidak. Aku benar-benar tidak mengerti. Ayo jelaskan padaku!" pinta Luffy dengan muka innocent-nya.

Nami mendengus kesal. "Kau ini agen rahasia bukan sih! Kita sebagai agen rahasia mempunyai kode sebagai pengganti nama kita. Jadi itu tidak terlalu berpengaruh kalau kita hanya menyebutkan nama asli kita saja. Mengerti!"

Mulut Luffy membentuk huruf 'O' "Oooh… ya, ya, ya, aku paham. Aku paham. Jadi, siapa nama penyusup itu, Zoro?" tanyanya lalu duduk melihat Zoro.

Zoro membuka matanya, melihat Luffy. "Temanku sewaktu kami berlatih di kamp DICE, Portgas D. Ace."


Satu minggu kemudian,

.

.

Robin POV

Aku terus berlari. Tidak, yang benar aku diseret sehingga aku harus ikut berlari. sekelilingku gelap. tapi aku masih bisa melihat serpihan-serpihan kaca dilorong yang kami lalui.

DOR!

Suara tembakan terdengar jelas ditelingaku. Tanpa aba-aba, aku langsung menunduk. Mataku mencari-cari sosok yang menembak tadi.

"Serahkan dia!" perintah sebuah suara. Mataku mencari darimana arah suara tersebut berasal. Ternyata suara itu berasal dari gedung seberang. Siluetnya tidak jelas. Tapi aku yakin kalau dia laki-laki dan dia sedang memegang pistol.

DOR!

Lagi-lagi suara tembakan. Peluru itu persis mengarah kearahku. Seperti slow motion, peluru itu perlahan mendekat kearahku yang tidak bisa bergerak. Terpaku. Lalu aku merasakan badanku ditarik kepelukan seseorang. Dan aku selamat.

DOR!

Tembakan kembali terdengar. Dan lagi-lagi ini seperti slow motion. Peluru itu kembali mengarah kepadaku. Aku, yang masih dipeluk oleh seseorang itu, hanya bisa diam terpaku melihat peluru yang sebentar lagi akan menghabisi nyawaku itu.

Aku akan mati.

End of Robin POV

"Robin!"

"….!"

Robin mengerjapkan matanya berkali-kali. "Hancock?" sahutnya kemudian.

Hancock menatap Robin cemas, "Kau kenapa? Kau sakit?"

Robin tersenyum, "Tidak apa. Aku baik."

"Jangan berbohong. Kau pasti mimpi buruk 'kan? Sampai berkeringat begitu," ujar Hancock dengan nada khawatir.

Robin tersenyum, "Ya, ya, aku memang mimpi buruk. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Mau menceritakannya padaku?" tawar Hancock.

Robin tertawa kecil, "Fufufu Nona ular, itu tidak penting. Yang penting sekarang, apa kau sudah mandi? Karena ini sudah jam setengah sepuluh." Kata Robin santai, sambil menunjuk jam dindingnya.

Hancock melihat jam dinding dan membelakkan matanya. "Kita pasti akan disuruh lembur lagi." Ujarnya kemudian. Pasrah.


"Mereka sudah mulai bergerak. Bagaimana?" tanyanya kepada orang yang sedang ditelfonnya.

"Baiklah, kita akan pakai 'plan A' saja. Kau sudah siap, Ace?" tanya suara berat disebrang sana.

Ace mendengus, "Kau selalu meremehkan ku. Aku siap kapan saja."

Terdengar kekehan dari orang yang ditelfonnya. "Kau terlalu sombong."

Ace menyeringai, "Bukankah kau yang mengajarkanku?" tukasnya. "Jadi kapan pelaksanaannya?" tanyanya kemudian.

"Sampai aku selesai mengecek semua persiapan. Saat itulah kau harus bertugas." Jawab seorang disebrang sana.

Ace mendengus, "Aku menunggu, Smoker-san."

.

.

.

To Be Continued


A/N (part 2)

Lolu : Ya, ya, ya, ini memang tidak lebih baik daripada sebelumnya. Tapi aku benar-benar sudah berusaha T_T

Sora : Udahlah, terima aja. Yang penting kita pikirkan kelanjutan ceritamu ini gimana.

Lolu : Ah, iya ya… Aku akan memikirkannya!

Sora : Lalu sekolahmu?

Lolu : Ya tetap! Ah, iya, Minna-san! Do'a kan aku ya, semoga UN-ku bagus! Hehehe :D

Sora : Do'a kan ya, Minna-san! Kasian dia kalo UN-nya gak bagus. Makanya Do'a kan yaaa~~

Lolu : Tumben kau baik.

Sora : Gak papa, sekali-kali.

Sora : Nah, Minna-san, mohon maaf kalau fic ini masih banyak kekurangan. Kami tahu pendeskripsiannya masih jauh dari bagus. Tapi, kami benar-benar sudah berusaha (⌣_⌣)

Lolu : Yosh! Kalau begitu, silahkan review untuk kritik, saran, flame (meskipun aku belum siap T_T) dan semua unek-unek kalian.

Sora : REVIEW PLEASE!

.REVIEW PLEASE.