One Piece © Eiichiro Oda

.

Warning
Bacalah fic ini dengan iman yang kuat
Barang hilang atau semacamnya, itu sama sekali bukan kesalahan saya. Sungguh!
Keterangan berlanjut ada di Author Note

.

Note
Chapter of LuffyHancock
Fact between Ace and Nami

.

Don't like don't read

Hope you enjoy!


-Fourth Chapter-

.

.

.

"Kita akan memulainya. Kau siap?" tanya suara berat dari ujung sana.

"Tsk. Tentu saja. Siapa target pertama kita?" tanya lelaki bertopi koboi warna oranye itu, tidak sabaran.

Lelaki satunya lagi, yang sedang ditelfon oleh lelaki bertopi oranye, menyeringai. "Target pertama dari plan A kita, adalah Boa Hancock. Putri satu-satunya dari pemilik perusahaan Boa crop. Kau pasti mengenalnya, Ace." Terdengan suara berdeham diseberang sana. "Dan target kita ada dua. Mereka berdua wanita dan sahabat dekat Nico Robin." tambahnya.

Lelaki yang dipanggil Ace itu juga menyeringai. "Jadi semua target kita sahabat wanita Nico Robin, eh? Bukan hal sulit. Siapa wanita yang satu lagi itu?"

"Mengincar mereka memang bukan hal sulit. Tapi membuat mereka terluka didekat 'penjaga'-nya bukanlah hal yang mudah juga." Terdengar kekehan dari orang yang ditelfon Ace. "Dan wanita yang kedua ini, aku yakin kau sangat mengenalnya. Namanya Nami."

DEG!

Ace merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Nama itu… Sebuah wajah terbayang dipikiran Ace saat lelaki itu mendengar nama yang dikatakan oleh atasannya itu. Membawanya kembali kemasa lalu, saat dimana dirinya belum memutuskan untuk meninggalkannya dan memilih jadi seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, terjadilah. Ace menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingatnya lagi.

Ace mendengus. "Tsk. Aku tidak peduli. Apa wanita itu dan wanita satunya lagi sudah dijaga?"

Terdengar suara tawa dari seberang sana. "Tentu saja. Sepertinya mereka sudah akan menduga akan terjadinya hal ini. Dan jangan kau remehkan 'kawan lama'-mu itu. Dia adalah agen rahasia juga. Sudah pasti dia mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Dan mungkin akan sulit melukainya, mengingat kau pernah punya hubungan 'khusus' dengannya."

"Ya, ya, aku tahu. Itu sudah kisah lama. Aku tidak ada ikatan apa-apa lagi dengannya. Tsk, Benar-benar merepotkan." Nada bicara Ace mulai terdengar marah. Dan itu membuat orang yang sedang menelfonnya makin ingin memanas-manasinya lagi.

"Ah, bukannya kalian satu tempat kerja? Apa kau sudah menemuinya? Mungkin sekedar mengajaknya mengobrol atau berjalan-jalan seperti dulu lagi, eh? Dan apa dia tidak curiga, atau mencarimu? Kau belum melaporkannya padaku," pancing lelaki yang sedang menelfonnya itu lagi.

Ace berdecak kesal. "Memang. Aku sengaja menghindarinya. Kalau sampai aku bertemu dengannya, apalagi sampai berbicara dengannya, bukankah rencana kita ini bisa gagal?" Ace mengatur nada suaranya supaya tetap tenang. "Jadi kapan aku mulai melakukannya?"

"Keh… Mengalihkan pembicaraan rupanya." Suara kekehan lagi-lagi terdengar. "Aku mau Boa Hancock, selesai malam ini juga. Bisa?"

"Jangan terus menerus mempermainkan aku." Ace mendengus lagi. "As your wish, Smoker-san." Ujarnya kemudian, lalu memustuskan hubungan.


.

.

Wanita berambut hitam panjang dan berparas cantik itu menyelusuri jalanan yang sepi sendirian. Angin malam yang bertiup dikota Kyoto membuatnya merapatkan jaket putih yang sedang dipakainya. Wanita itu menatap jam bewarna putih dipergelangan tangan kanannya. Pukul setengah sepuluh malam. Waktu yang agak, bukan, waktu yang terlalu berbahaya bagi seorang gadis untuk pergi keluar sendirian dijalan yang sepi dan penerangan yang remang-remang ini.

Tapi sebagian besar hal ini terjadi karena ulahnya sendiri. Ibunya tadi menelfon untuk bertemu dan berbicara dengannya di Tokyo. Dan ternyata pembicaraan itu sungguh tidak penting, karena lagi-lagi menyangkut tentang perjodohannya dengan anak-lelaki-siapa-itu-yang-tidak-penting-di-ingat-nama-nya. Seharusnya dia tidak datang saja, dan seharusnya dia bisa meminta diantarkan pulang oleh supir keluarganya. Tapi dikarenakan dirinya sendiri yang bersikap buruk terhadap Ibu, Ayah dan lelaki yang mau dijodohkan dengannya, maka inilah hukuman yang diterimanya. Pulang ke Kyoto dengan kereta dan juga, sendirian.

Hancock mengendus sebal dan mengeluarkan handphone dari dalam tasnya yang sedang berdering. Dia melihat nama yang tertera disana, dan membuka flap Handphone-nya. "Moshimoshi. Ada apa, Robin?"

"Halo, Nona ular. Urusanmu sudah selesai?" tanya suara diseberang sana.

Ada empat siku yang terbentuk didahi Hancock. "Jangan panggil aku Nona ular! Dan ya, urusanku sudah selesai."

"Fufufu… Sepertinya kau sedang kesal. Apa yang terjadi?" selidik wanita yang menelfon Hancock lagi.

Dan sekali lagi, Hancock mendengus kesal. "Kau tahu, Robin? Lagi-lagi aku mau dijodohkan! Dan kenapa aku dijodohkan terus? Memangnya aku ini anak kecil apa? Apa kepindahanku ke Kyoto, untuk menjauh dari semua perjodohan yang dilakukan ibuku ini, tak ada gunanya?" sewotnya.

"Ara ara… Tenang Nona ular. Maksud mereka pasti baik. Karena anaknya yang sudah dewasa ini belum mengenalkan pacar kepada orang tuanya, mungkin?" kata Robin bijak.

"Huh. Aku tidak peduli. Pokoknya aku kesal diperlakukan seperti ini!" sewot Hancock lagi.

Robin lagi-lagi tertawa. "Fufufu… Baiklah, baiklah. Selesaikan omelanmu itu dirumah. Aku menunggumu. Nah, hati-hati dijalan. Ja Nee."

Hancock menghela nafas, "Hmm. Arigato Robin. Ja Nee." katanya lalu menutup flap Handphone-nya dan memasukkannya kembali kedalam tas kulit ular hitamnya.

Untuk kesekian kalinya, Hancock mendengus kesal memikirkan apa yang terjadi. Tiba-tiba dia melihat suara yang agak berisik dibelakangnya. Dan juga, sekelebat bayangan. Hantu? Pikirnya dalam hati. Atau penjahat? Kiranya lagi.

Hancock meningkatkan kewaspadaannya. Dia sedikit-sedikit diajari oleh pamannya, yang notabene adalah seorang kepala polisi di Tokyo, kemampuan melacak seseorang. Dan benar saja, saat ini kemampuan yang diajarkan pamannya sangat berguna baginya.

Hancock merasakan langkah kaki dibelakangnya seirama dengan langkah kakinya. Dan dari cara berjalannya, yang mengikutinya saat ini kemungkinan besar adalah laki-laki. Karena sadar hampir semua tenaganya telah terkuras untuk hari ini, Hancock mempercepat langkah kakiknya. Mungkin agak jauh, tapi didepannya sudah terlihat jalan raya.

Bulu kuduknya seketika itu juga berdiri. Kedua tangannya juga terasa lebih dingin dibandingkan sebelumnya. Wanita cantik ini merasakan kalau dirinya sedang diincar. Tapi dia tidak tahu dari mana. Apa dari orang yang mengikutiku? Tebaknya. Tapi perasaannya mengatakan kalau hal itu bukan dari orang yang sedang mengikutinya itu. Lalu dari arah mana? Uuh… Sesuatu yang buruk akan terjadi, pikirnya cemas. Wanita itu semakin mempercepat jalannya.

DOR!

Hancock merasakan tubuhnya ditarik kebelakang dan bahu kirinya terasa perih. Dia menengok kebelakang, melihat siapa yang menariknya. Pencahayaan yang remang-remang itu masih bisa membuatnya melihat orang yang sedang memeluknya kini. Orang yang bisa dipastikan laki-laki itu berambut hitam dan mempunyai bekas jahitan dibawah matanya. Hancock juga bisa melihat tangan kanan lelaki itu yang sedang mengacungkan pistol kearah atap, sementara dia merasakan tangan kiri lelaki itu memeluk tubuh ramping Hancock dari belakang.

"Lu… Luffy-kun?" tanyanya tidak percaya.

Lelaki yang dipanggil Luffy menengok kearahnya. "Gomen ne, Hammock. Aku terlambat." Katanya lalu kembali menatap atap. "Sial! Orang itu sudah kabur." Gerutunya.

"K-kau mengikuti a-aku, Lu-Luffy-kun?" lirihnya.

Luffy mengangguk. "Jangan banyak omong lagi, Hammock. Bertahanlah. Aku akan membawamu kerumah sakit." Perintah Luffy saat melihat Hancock membuka mulutnya. Wajahnya kini terlihat serius.

Hancock mengangguk dan segera digendong Luffy, menuju mobil lelaki itu. Hancock memegang bahu kirinya yang terasa semakin lama semakin perih. Dia merasakan tulangnya berdecit. Kini cairan bewarna merah itu terlihat jelas dijaket putihnya. Luffy yang melihat darah yang terus keluar dari bahu Hancock, jadi menggedongnya sambil setengah berlari dengan wajah cemas.

Hancock menggigit bibir bawahnya dengan keras. Tangan kirinya mencekram kaus Luffy erat-erat. Belum pernah dia merasakan kesakitan seperti ini. Pandangannya tidak jelas dan berputar-putar. Nafasnya menderu, dan keringat telah menyinggahi wajahnya yang cantik. Jantungnya berdetak cepat. Wanita itu merasa pusing dan serasa terbang.

"Bertahanlah, Hancock!" suara Luffy terdengar panik. Hancock melirik Luffy dengan matanya yang sudah mau menutup. Setelah itu, semuanya menjadi gelap.


.

.

Portgas D. Ace mengeluarkan Handphone dari saku celana kanannya, men-slide Handphone-nya, dan memencet beberapa nomor. "… Aku sudah selesai mengerjakannya."

Terdengar suara kekehan dari seberang sana. "Wanita itu tertembak dibagian tubuh sebelah mana?"

"Tadinya aku ingin menembaknya persis disebelah jantungnya. Tapi penjaganya lebih dahulu menariknya, jadi terkena dibahu kirinya."

"Bukan masalah. Yang terpenting dia sudah tertembak. Besok pagi, kau dekati Nico Robin dan malamnya bersiaplah melukai wanita yang kedua." Perintah suara diseberang sana.

Ace mendengus. "Ya, ya, ya, aku tahu."

Lagi-lagi terdengar suara kekehan diseberang sana. "Jangan sampai kau lemah dengan wanita yang berikutnya. Jangan ragu untuk melukainya, hanya karena dulu kalian pernah menjalin suatu hubungan. Salah-salah, kita bisa gagal nantinya."

Sekali lagi, Ace mendengus. "Kau terlalu cerewet. Aku sudah tidak menganggapnya. Begitupun juga dia."

Lelaki diseberang sana terkekeh lagi. "Orang-orangku yang lain akan menghadapi penjaganya. Kau hadapi langsung wanita itu. Jangan sampai kau kasihan terhadap wanita itu. Habisi dia."

Ace memutar bola matanya dan mendengus kesal. "Tidak akan. Kau bisa memegang kata-kataku. Akan aku pastikan wanita itu mendapatkan dua peluru yang bertengger dibadannya."


.

.

Luffy memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya terlihat cemas dan sesekali melirikkan pandangannya kebelakang. Tempat Hancock terbaring tidak sadarkan diri. Setelah Hancock pingsan tadi, Luffy langsung berlari secepat kilat kemobilnya dan langsung memacunya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.

Hancock tergeletak dibangku belakang sedan sport merah milik Luffy, dengan darah yang sedikit-sedikit masih keluar dari bahu kirinya. Wajahnya pucat dan dia tidak sadarkan diri. Luffy kembali melirik kearah Hancock. Keringat mengaliri wajah tampannya. Tangannya yang mencekram stir mobil telah memutih. Nafasnya menderu dan perasaannya tidak enak.

Sesampainya dirumah sakit, Luffy langsung memberhentikan mobilnya didepan ICU dan langsung menggendong Hancock kedalam rumah sakit, tepatnya kearah suster yang sedang berjaga. Tanpa aba-aba lagi, suster itu langsung mengambil kasur dorong, meletakkan Hnacock diatasnya, dan segera membawa Hancock keruang ICU.

"Tolong tunggu disini." Kata suster itu sambil menahan Luffy didepan pintu ruang ICU. Setelah itu, suster tadi masuk bersama beberapa dokter dan beberapa suster lainnya.

Luffy berhenti tepat didepan pintu sambil menatap pintu itu dengan pandangan kosong. Lelaki itu membalikkan badan dan duduk disalah satu kursi tunggu yang tersedia. Kedua tangannya yang sudah memutih itu memegangi rambut hitamnya dengan erat. Nafasnya masih menderu seperti tadi dan pikiran negatif telah menyinggahi otaknya.

Tangan Luffy tidak bisa diam. Pikirannya mulai meracau. Lelaki itu tidak mengerti apa yang merasukinya saat ini. Lelaki itu merasakan kalau dia bukanlah Luffy yang biasanya. Lelaki itu tidak mengerti apa yang membuatnya terus menerus memikirkan Hancock dan begitu mengkhawatirkannya. Lelaki itu sama sekali tidak menyadari semua kata yang keluar dari mulutnya, juga tidak mengerti apa yang sedang dirasakannya sekarang. "Aku mohon, Tuhan. Selamatkanlah dia… Tolonglah…"

Luffy mendekap wajah tampannya dengan kedua tangannya, lalu bergumam. "… Aku sangat menyayanginya…"

Setelah puas selama beberapa menit menyalahkan dirinya sendiri, Luffy menghela nafas panjang dan mengeluarkan Handphone dari saku celananya. Lelaki itu memencet beberapa nomor. "… Nami? … Bisa kau dan yang lainnya kesini? … Aku dirumah sakit Tokigawa … Aku baik, tapi Hancock…," dengan nada berat Luffy melanjutkan, "… Dia tertembak…"


.

.

Jam menunjukkan pukul empat lewat tiga belas menit ketika Luffy, Nami, dan Sanji masih terjaga. Luffy, yang sedang duduk disebelah tempat tidur Hancock, masih menatap tembok rumah sakit yang bewarna putih itu dengan tatapan kosong. Tangan kirinyanya memegang tangan kanan Hancock erat.

Sementara Nami, yang duduk disofa sambil bersender dibahu kiri Sanji, sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. 'Benarkah kau yang melakukan semua ini, Ace…? Kenapa kau jadi begitu…? Padahal selama ini kau ada didekatku… Kenapa aku tidak bisa menghentikanmu…?' batin Nami. Pikirannya kini diliputi oleh rasa bersalah. Seandainya dia lebih cepat sadar, seandainya dia lebih sigap, seandainya dia dapat bertemu Ace langsung, seandainya…

Sanji yang menyadari kegelisahan kekasihnya itu langsung menggenggam kedua tangan Nami yang bergerak-gerak gelisah. Nami medongakkan kepalanya, melihat Sanji. Sanji tersenyum lembut saat Nami menatapnya. Lelaki itu sudah melupakan rokoknya. Tangan kirinya memeluk Nami erat, sedangkan tangan kanannya menggenggam kedua tangan Nami. Kehangatan yang dirasakan Nami membuatnya melupakan pikiran-pikiran anehnya tadi.

Ah, dan kalau kau bertanya tentang Zoro, dia tidur disofa yang lain dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat didepan dadanya. Jangan lupakan balon yang keluar dari hidungnya. Balon itu akan menjadi kecil kalau dia menarik nafasnya, dan besar saat dia menghembuskannya. Membuatku ingin memeletuskannya.

"Uuh…" terdengar erangan kecil dari arah tempat tidur. Luffy, Nami, Sanji dan juga Zoro, yang terbangun karena mendengar erangan yang belum pernah didengarnya, menatap wanita yang baru saja mengerang, yang tidak lama kemudian disusul dengan suara batuk dari sumber yang sama.

"Hammock? Kau bisa melihatku?" Tanya Luffy sambil menatap Hancock dengan wajah cemas. Hancock mengangguk tanda 'iya'.

"Jangan paksa dirimu untuk bangun. Berbaringlah dulu." Kata Nami yang sudah berada disebelah Hancock sambil mencegah wanita itu untuk bangun. Zoro dan Sanji kini juga sudah berada disebelah Luffy dan Nami.

Hancock kembali berbaring ditempat tidurnya. Wanita itu memegang bahu kirinya dengan wajah menahan sakit. "Jangan dipegang dulu, Hancock-sama. Memang agak perih, tapi itu adalah reaksi dari obat, supaya lukamu cepat tertutup. Itu yang Chopper, dokter disini, yang mengatakannya padaku." Jelas Sanji.

Hancock kembali menuruti permintaan orang-orang yang sedang berada didepannya ini. Wanita itu membuka mulutnya dan merasakan tenggorokannya terasa kering untuk berbicara. Maka itu dia berdeham kecil, "Jadi… Apa sekarang kalian –uhuk– berniat menjelaskan semuanya –uhuk– kepadaku?"

Zoro menghela nafas dan memasukkan kedua tangannya kesaku celananya. "Kau saja yang jelaskan, Nami." Yang lain mengangguk, setuju. Nami menghela nafas perlahan. Wanita itu mulai merasa lelah dengan semua ini.

"Pertama-tama, mereka ini adalah sahabat-sahabatku, dan juga pacarku. Kau pasti tahu yang berambut hitam dan kuning ini bernama Luffy dan Sanji. Sedangkan lelaki berambut hijau itu adalah Zoro. Kami bekerja pada tempat dan atasan yang sama. Jadi seperti yang kau kira, mereka adalah agen rahasia juga. Sama sepertiku. Kami bekerja disuatu organisasi rahasia yang bernama oikaketa. Organisasi kami berada langsung dibawah naungan FBI, yang bertugas untuk membantu FBI itu sendiri, mengawasi Negara Jepang ini. Setiap Negara juga mempunyai organisasi rahasia, yang bertugas membantu FBI mengawasi Negara mereka masing-masing. Dengan nama yang berbeda-beda pula," Kata Nami sambil menaikkan jari telunjuknya, sementara jari yang lain tertekuk.

Nami kemudian mengangkat jari tengahnya. "Kedua, tujuan kami kesini, dan menyamar, adalah untuk meyelidiki dan melindungi Robin yang sedang diincar group koruptor. Kau tahu 'kan? Group koruptor adalah organisasi yang bermaksud membungkam para saksi-saksi yang mengetahui siapa saja orang-orang yang mengkorupsikan uang Negara, dengan cara apapun. Dan ada hal yang perlu kau ketahui, kalau Nico Olvia bukanlah tersangka disini, melainkan dialah satu-satunya saksi yang masih hidup. Maka dari itu, group koruptor mengincar Robin, untuk menjadikannya sandera untuk mengancam Nico Olvia agar bersedia membungkam mulutnya atas semua kejadian yang dia ketahui."

Nami menaikkan jari manisnya, "Ketiga, menurut analisis kami, alasan kau bisa terlibat, dan tertembak seperti tadi, karena kau diperlukan sebagai 'pemancing' agar group koruptor bisa 'lebih dekat' dengan Robin. Kasarnya, kau hanyalah tumbal agar mereka bisa sedikit mencapai tujuan mereka. Mungkin aku nanti juga akan berakhir sepertimu. Dan sepertinya aku akan lebih parah. Ya, mungkin karena dia punya dendam tersendiri denganku. Entahlah," Yang lainnya langsung menengok begitu Nami mengatakan hal itu. Tapi Nami sama sekali tidak mengubrisnya.

Wanita berambut oranye itu menaikkan jari kelingkingnya. "Keempat, sekarang kau tidak perlu takut lagi terluka ataupun diincar, karena ada kami, khususnya Luffy, yang akan melindungimu. Sekarang dia sudah bisa menjagamu secara terang-terangan. Dan kau masih harus beristirahat disini selama tiga hari kedepan, sampai lukamu itu tertutup total. Selama itu, kami yang akan menjaga Robin."

Jari-jari tangan kiri Nami terbuka semua, "Dan yang kelima, tolong jangan beri tahu ini dulu kepada Nee-chan. Aku takut dia menjadi khawatir atau semacamnya. Sebenarnya, ketidaktahuan Robin ini juga bagian dari rencana kami, agar group koruptor itu bisa cepat-cepat melepaskan 'topeng penyamaran' mereka. Dan kami berjanji untuk menjaganya juga. Akan kami usahakan kejadian sepertimu ini tidak akan terjadi kepada Robin. Yang akan menjaga Robin adalah Zoro, jadi kalau terjadi apa-apa dengannya, kau salahkan saja orang ini." ujar Nami sambil menunjuk Zoro yang ada diseberangnya. Sedangkan yang ditunjuk memberikan death glare yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap Nami, melainkan dibalas oleh Sanji.

Nami berdeham, "Yang terakhir, aku mengatakan ini kepadamu karena aku, –kami, percaya padamu. Lagipula, kau sudah mengetahui identitasku sebelumnya, 'kan? Dan kami belum memberi tahu Robin, atau keluarga atau siapa-mu, tentang kau yang masuk kerumah sakit. Aku yakin Robin sedang cemas menunggumu dirumah, karena dari tadi Handphone-mu terus bergetar. Dan kami sengaja menunggumu sadar, supaya kau bisa menyiapkan alasan atas kejadian ini, yang masuk akal tentunya, kepada Robin."

"Kenapa harus aku?" tanya Hancock kepada Nami yang sedang menatapnya dengan senyuman yang –eerr- licik.

"Mudah saja, karena aku terlalu malas untuk memikirkan alasan insiden penembakan-mu ini kepada Robin." ujar Nami santai, dengan senyuman licik diwajah manisnya.

Hancock hanya bisa ber-sweatdrop ria mendengar alasan Nami. "Licik seperti biasanya. Dasar kucing."

Empat tanda siku muncul didahi Nami. Kedua alisnya terangkat. "Kau bilang apa, wanita ular?" ujarnya sambil tersenyum seram.

"Aku mau menelfon Robin dulu, wanita kucing. Cepat ambilkan Handphone-ku." Perintahnya kepada Nami dengan gaya angkuhnya, sambil tiduran tentunya.

"Kau kira aku pesuruhmu? Tidak sudi! Dasar wanita ular!" balas Nami. Dan dimulailah adu mulut oleh kedua orang wanita yang dikenal sama-sama tidak mau mengalah ini.

"Oi, oi…" ujar Zoro dan Luffy, sweatdrop. Sementara Sanji, matanya telah berbentuk love-love melihat dua wanita cantik itu sedang bertengkar.

"Sanji… Bisakah kau mengambilkan Handphone-ku?" pinta Hancock dengan jurus puppy eyes-nya kearah Sanji.

Sanji yang mendapat puppy eyes dari Hancock, tanpa ba-bi-bu lagi, langsung mengambilkan Handphone Hancock. "Ini Handphone-mu, Hancock-swamaaaa~" katanya sambil noseblend. Nami hanya bisa ber-sweatdrop ria saat melihat kekasihnya lagi-lagi seperti itu.

"Hei, wanita ular. Kau harus berikan kami jarak waktu yang cukup agar kami tidak bertemu." kata Zoro kemudian. Yang lainnya menoleh kearah Zoro, begitupun Hancock yang menatap Zoro dengan marah.

"Kau. Jangan. Panggil. Aku. Wanita. Ular!" marah Hancock kemudian. Sepertinya dia sudah sehat kembali.

"Ya, ya, sesukamulah. Hei, sebaiknya kita pulang. Karena sang 'tokoh utama' akan segera kesini." Kata Zoro sambil acuh tak acuh terhadap amarah Hancock. Karena Hancock tidak bisa berbuat apa-apa, maka Sanji lah yang berbuat apa-apa. Seperti yang kalian perkirakan, mereka berkelahi lagi. Dan hebatnya, mereka tidak peduli berkelahi dimana dan didepan siapa. Ya, didepan siapa…

BLETAK!

"Jangan berisik. Kita akan segera pulang." Nami meninggalkan dua orang yang tergeletak tak berdaya ini begitu saja. Lalu wanita berambut oranye itu mengambil tas tangannya yang ada disofa dan keluar sambil menyeret kedua orang yang tadi sudah ditumbangkannya.

"Ah, Luff, jangan lupa panggil dokter untuk mengecek keadaan Nona ular itu," Nami menunjuk Hancock dengan dagunya.

"Kami pulang dulu. Baik-baiklah disini. Jaa Ne~" ucapnya sambil mengedipkan mata dan melenggang keluar. Kedua orang yang menatap kepergian wanita berambut oranye dan dua lelaki yang sedang diseretnya, hanya bisa mengangguk.

"Itulah sebabnya aku tidak mau berurusan dengan Nami, shishishi…" Luffy tersenyum lebar. "Kalau begitu, kau telfon Robin, dan aku akan memanggil dokter. Okay, Hammock?" katanya lalu bangkit berdiri.

Hancock menatap Luffy. "Ha-hai, Luffy-k-kun…" katanya sambil terpatah-patah. Luffy lagi-lagi tersenyum dan meninggalkan Hancock yang sedang berblushing ria, juga berteriak-teriak kecil, kesenangan.


.

.

Robin menatap kedua orang dihadapannya ini secara bergantian. Wanita berambut raven dan berkulit tan mulus itu masih agak ragu dengan perkataan kedua orang itu. Mata indahnya menjelajahi masing-masing mata yang sedang ditatapnya ini. Mencari-cari kebohongan yang tersimpan disana. Tapi yang dicarinya tentu saja nihil.

"Jadi, pencuri itu membawa senjata, lalu menembak Nona ular ini?" Kening Hancock menampakkan empat siku, saat Robin berkata 'Nona ular', sementara Luffy mengangguk lalu tersenyum seperti biasanya, lalu kembali memakan makanan yang tadi dibawakan Robin.

Robin menatap Hancock, "Tapi barang-barangmu tidak hilang?"

Hancock menunjuk tas warna merahnya yang terletak disofa dengan dagunya. Robin ikut menatap tas itu. "Barangmu selamat, tapi kau tertembak? Hebat sekali,"

"Tentu saja. Karena aku cantik." Kata Hancock, yang sudah dalam posisi duduk, sambil mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, bergaya angkuh. Robin menggelengkan kepalanya sementara Luffy tidak melihatnya, masih sibuk memakan makanannya.

"Mungkin begitu," sahut Robin seadanya. "Jadi, kau mau aku tunggui atau bersama Luffy-mu saja?" Luffy menoleh kearah Robin dan Hancock saat mendengar namanya disebut.

Wajah Hancock menampakkan sedikit rona merah saat Luffy menatapnya. "Te-terserah Luffy-kun saja…" Entah kenapa wanita yang tadi bersikap angkuh ini, langsung menjadi kikuk didepan Luffy.

"Shishishi… Kalau begitu, aku menemani Hancock saat kau bekerja saja, bagaimana?" tanya Luffy kearah Robin.

Robin tersenyum. "Aku setuju. Kalau begitu, lebih baik sekarang aku pulang dulu. Aku harus berangkat pagi-pagi sekali, hari ini." Robin mengambil tasnya yang berada dimeja. Lalu berjalan kearah pintu. "Aku akan kesini lagi saat pulang kerja nanti. Pastikan kau masih bernyawa saat berdua saja dengannya—"

"He-hei!" protes Hancock. Luffy hanya tersenyum lebar mendengarnya.

Robin tertawa kecil dan membuka pintu. "—Nah, Luffy, aku titip Hancock ya."

"Shishishi… Serahkan padaku! Hati-hati, Robin. Ja Nee!" Kata Luffy sambil melambaikan tangannya kearah Robin.

Robin lagi-lagi tersenyum dan menundukkan kepalanya. "Arigato, Luffy. Ja Nee." Kata wanita berkulit tan mulus itu, lalu berjalan keluar dan menutup pintu.

Setelah agak lama mereka terdiam, Hancock menghembuskan nafasnya. "Haah~ Akhirnya dia percaya juga."

"Shishishi aku kira bakal susah membuatnya percaya. Ternyata tidah terlalu susah. Shishishi." Sahut Luffy sambil melihat Hancock. Hancock yang sadar diperhatikan Luffy menunduk sambil berblushing ria. Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.

"Kau tahu, Hammock?" tanya Luffy tiba-tiba.

Hancock menatap wajah Luffy, masih dengan semburat merah dipipinya. "A-apa, Luffy-kun? Da-dan aku ini Han-hancock, bukan Hammock, Luffy-kun…"

Luffy tersenyum lebar kearah Hancock. Pandangan lelaki itu menatap lurus kedua bola mata Hancock. "Aku senang kau tidak apa-apa."

Rasanya… Hancock ingin pingsan sekarang juga.

.

.

.

(To Be Continued)


.

-Author Note-

Lolu : Yohohoho minna-san!~~ maafkan aku!~~ Aku tahu sudah lama sekali aku tidak mempublishnya. Gomenasaiiii DX

Sora : Hei, hei, rasanya dichapter ini juga tidak lebih baik dari pada chapter sebelumnya deh… Gimana ini?

Lolu : Ya… Iya sih… Tapi yang penting 'kan aku sudah berusahaaaaa DX

Letta : Nah, minna-san, mohon maaf kalau dichapter ini charanya ada yang OOC, terus banyak typo, terus bahasanya aneh, ancur, nista, kacau, dan sebagai-bagainya. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Sora : Nah, gue sama Letta mau ngerjain cerita yang lain! Ja Nee!~ *poof*

Letta : Ja Nee~ *poof*

Lolu : Yosh! Keluarkan unek-unek kalian diREVIEW! Terserah mau kritik, saran (puhleess), dan juga… flame. Yah, kalau memang kalian mau ngeflame, tidak apa-apa. Saya harus terima apapun yang terjadi.

.

.

REVIEW PLEASE

.

.