MY LORD
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : T
Pairing : SasuNaru
Genre : masih berkutat dengan kebingungan. *dilempar kursi
a-ada yang review! Te-terima kasih! Ka-Kazuki bener-bener gak nyangka! Ternyata ada yang mau berbaik hati mau membaca fict Kazu bahkan nge-review... sekali lagi TERIMA KASIH ya! Kazu tambah semangat nih!
Ok. Sekarang Kazu mau bales review dulu. Mohon maaf kalau ada yang nggak di bales. OK! KITA MULAI! *semangat '45
Mechakucha no aoi neko
Terima kasih sarannya! Kazu baru sadar sekarang setelah, (boleh kupanggil aoi-san?) Aoi-san bilang begitu. Hehehe maaf, Kazu ceroboh banget kenapa bisa lupa ya? Gimana kalo gini aja? Jadi, si Naruto itu udah 'bodo amit' sama masa lalunya jadi mau ada yang tahu kek dia juga bodo amat alias udah mau bunuh diri. Terus kan kakashi bilang kalo dia yang lama udah mati trus terlahir kembali kan? Yah, dia anggap itu masa lalu orang lain bukan masa lalunya gitu… sekali lagi terima kasih.
Luciel Lucifer
Terima kasih Luciel-san! Aku mau dong ikut PM Luciel-san! Aku masih baru banget dalam hal tulis menulis sih, masih gak becus. Ceritanya ngelantur ya? Maaf, Kazu jarang banget nulis kalo gak di suruh guru. Yang biasa Kazu lakukan Cuma menggambar langit… hehe. Jadi kapan PM dimulai? Terima kasih udah kasih tahu cara menulis yang benar. Terima kasih…
Micon
Terima kasih, Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih udah mau ngelirik Fict gak mutu ini…. Sekali lagi Terima kasih
Arisa Adachi
Terima kasih! Saran dari Arisa-san pasti sangat berguna untuk Ch 2 ini. Terima kasih Arisa-san! Arisa-san suka ceritaku? Aku nggak nyangka bisa ada yang suka... soalnya menurutku ini payah banget di bandingkan sama yang lain... Terima kasih!
Hayashibara Nao
Terima kasih sudah memberi tahukan hal sepenting itu yang ternyata luput dari mata Kazu. Terima kasih Hayashibara-san! TERIMA KASIH!
Nah, untuk yang lain yang belum Kazu balas Reviewnya Kazu minta maaf.
Oke! Happy Reading!
Chapter 2 Tuan Muda
Naruto POV
Kami berjalan beriringan di sebuah lorong panjang.
"Kamar tuan muda Sasuke ada di ujung lorong ini." aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tuan Muda, saya membawa butler anda yang baru." Ujar Iruka-san sopan pada seseorang yang ada di kamar itu.
"Hn," balas orang yang ada di dalam kamar singkat.
"Namamu?" tanya orang yang akan menjadi Tuan Mudaku.
"Nama saya Namikaze Naruto, Botchama." ujarku memperkenalkan diri
"Kau boleh pergi Iruka"
"Baik tuan". Ujar Iruka-san.
Aku merasa Tuanku ini memiliki sifat yang dingin. Wajahnya datar tanpa ekspresi sepertiku. Tapi, kurasa dia bukan 'tidak memiliki' ekspresi tapi 'menyembunyikan' ekspresi lebih tepatnya.
"Namamu Naruto kan? Berapa umurmu? Tubuhmu kecil. Apa kau benar-benar bisa melindungiku?" tanyanya bertubi-tubi.
"Umur saya 15 tahun, Botchama. Dan perlu Anda ketahui, saya sudah menguasai semua ilmu beladiri dan jurus ninja." Ujarku tak rela diremehkan.
"Hn." balasnya singkat.
Sasuke POV
'Butler baruku dia kan?' tanyaku dalam hati. Ya, 'dia' pemuda pirang dengan tubuh penuh luka yang kemarin kulihat tengah di gendong oleh Iruka.
"Tuan Muda, saya membawa butler anda yang baru." aku mendengar suara Iruka. Aku menghadapkan wajahku ke sumber suara. Aku melihatnya, orang yang akan melindungiku mulai sekarang. Anak yang kemarin.
"Namamu?" aku sudah tau namanya dari Kakashi, aku hanya ingin memastikan informasi saja.
"Nama saya Namikaze Naruto, Botchama." jawabnya sopan.
"Kau tau tugasmu?" tanyaku lagi.
"Aku hanya hidup untuk melindungimu, Botchama." entah mengapa aku mendengar nada tulus dari mulutnya, mengingatkanku pada butler pertamaku. Bagaikan deja 'vu. Kata-kata yang ia ucapkan sama persis dengan yang 'dia' ucapkan.
Flashback
"Sasuke, kau sudah besar. Nyawamu mulai jadi incaran. Karena itu aku akan memperkerjakan butler untukmu."
"Baik, tou-sama."
"Masuklah." perintah tou-sanku pada seseorang. Aku melihat seorang pemuda berambut coklat dengan tato segitiga terbalik di masing-masing pipinya.
"Namaku Inuzuka Kiba! Yoroshiku, Botchama" aku hanya bisa memandang wajah pelayanku itu. Senyuman lebar dengan setia bertengger di wajahnya.
"Sa-Sasuke, namaku Uchiha Sasuke." kataku tergagap.
"Mm! Aku sudah tau kok! Sasuke-sama!"
"Bawa Sasuke ke kamarnya, Kiba!" ayahku memerintahkan pelayanku untuk membawaku kekamar.
"Ha'i! Fugaku-sama. Ikuzo, Bocchan." kata pria itu riang sambil menggandeng tanganku seolah dia adalah aniki-ku.
"Le-lepas!" aku menarik tanganku dari genggamannya.
"Aduh... tuan muda tidak usah malu-malu begitu dong.." dia mulai menggodaku. Aku tidak mempedulikannya dan melanjutkan langkah kakiku menuju kamarku.
"Ohayou, Bocchan! Ayo bangun, kau harus sekolah bukan?"
"Eng..." cahaya matahari memaksa untuk menerobos kelopak mataku. Dengan amat terpaksa aku bangun, sarapan, dan berangkat ke sekolah dengan mobil. Tentu saja yang menyetir mobil itu adalah Kiba, butlerku.
"Nah, sudah sampai." aku turun dari mobilku dan melangkahkan kaki menuju kelas.
12.45 waktunya pulang. Aku bisa melihat dari jendela kelasku, pemuda bertato yang sejak pagi tadi berdiri dengan posisi yang sama saat aku meninggalkannya, pelayanku, menunggu dengan setia di pagar sekolah.
"Ayo, pulang aku lapar." ujarku tanpa mempedulikan senyuman yang ia tujukan padaku.
"BOCCHAN! AWAS!" tiba-tiba dia menggendongku dan membawaku berlari.
"A-ada apa? Pembunuh?"
"Ya tuan muda. Mereka mengincar nyawamu."
Aku tersentak. Apa mulai sekarang aku akan melewati hari-hariku dengan cara seperti ini? Kalau setiap hari aku di incar berarti tak ada jaminan aku masih hidup besok 'kan? Jangan kan untuk kedepannya, apa hari ini aku akan bertahan?
"Tuan muda jangan khawatir. Aku hanya hidup untuk melindungimu, Bocchan." Aku sama sekali tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu. Seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. Tapi, aku senang dia berkata seperti itu. Entah kenapa aku merasa dia tulus mengatakannya. Ayahku saja tak pernah mengatakannya.
"Kau tidak bohong kan?" tanyaku menyakinkan.
"Tentu saja" ujarnya sambil tersenyum.
Flashback off
Aku masih ingat betul hari-hari yang kulalui bersama pelayan pertamaku itu. Semuanya sangat menyenangkan. Ya, menyenangkan sampai hari itu tiba. Hari yang membuatku terus mengutuk diriku, mengutuk dunia. Aku terus mengenang masa laluku hingga aku jatuh tertidur.
Normal POV
SREK! Naruto menggeser tirai yang menghalangi cahaya matahari pagi masuk ke dalam kemar tuan mudanya.
"Ohayou, Botchama." Ujarnya sambil mengguncang tubuh tuannya.
"Eng... Berisik! Aku masih mengantuk, tahu!" Naruto hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah tuannya yang seperti anak kecil.
"Botchama, anda harus sekolah. Apa anda lupa? Ini hari pertama untuk tahun ajaran baru." Sebelum di ceramahi oleh si cempreng pirang itu lagi, Sasuke memutuskan untuk segera memasuki kamar mandi.
"Botchama, saya sudah menyiapkan seragam anda. Saya akan menyiapkan sarapan anda sekarang." Naruto pun meninggalkan kamar tuan mudanya.
Selesai memakai seragam, Sasuke pun melangkahkan kakinya ke ruang makan. Di ruang makan sudah tersedia makan paginya.
"Ohayou, Sasuke-kun!" sapa pria muda berambut silver.
"Hn." sapaan hangat dari kakashi hanya di balas dengan gumaman Sasuke.
"Setelah sarapan saya akan mengantar anda ke sekolah, Botchama." Sasuke mengalihkan pandangan dari sarapannya ke arah sumber suara.
"Oi, kenapa kau memakai seragam yang sama denganku?" Sasuke tidak dapat menutupi keterkejutannya.
"Ah, aku lupa memberi tahukanmu. Mulai hari ini, Naruto akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu agar dia bisa mengawasimu selama di sekolah." Kakashi menjelaskan.
"Tapi, masuk ke KHS (Konoha High School) bukanlah hal yang mudah kan? Ini ulahmu ya?" Sasuke mulai meninggikan nada suaranya. 'Yang benar saja! Masa' di sekolah masih harus di buntutin juga?' pikir Sasuke.
"Yare-yare... jangan berburuk sangka begitu, Naruto mengikuti tes dengan adil seperti murid lain kok. Ya 'kan?" Naruto hanya mengangguk. "Dan dia lulus dengan nilai sempurna! Pelayanmu hebatkan, Sasuke? Tak hanya kuat tapi juga pintar." lanjut Kakashi. Sasuke hanya mendengus kesal.
'Intinya, aku tidak bisa membantah karena dia masuk dengan adil. Tidak bisa kuusir ya?' kata Sasuke dalam hati
Selesai sarapan, Naruto dan Sasuke menuju mobil yang akan mereka naiki. Iruka-lah yang mengendarai mobil itu. Tentu saja! Naruto kan baru 15 tahun! Sedangkan Sasuke? Dia memang sudah diperbolehkan membawa mobil sendiri. Tapi, tahu sendirikan? Dia itu seorang 'TUAN MUDA'. Mobil mereka berhenti di depan gerbang sekolah. Naruto membukakan pintu untuk tuan mudanya. Mereka berjalan beriringan.
"Hei, kau kelas 1 apa?" tanya Sasuke pada pelayannya, Naruto.
"Saya di perintahkan untuk ke ruang kepala sekolah dulu." Naruto menjelaskan pada Sasuke.
"Hn, ayo."
Sepanjang jalan menuju ruang kepala sekolah, banyak siswi yang berteriak saat mereka berdua melewati kerumunan orang.
'KYAAA! SASUKE-SAMA!'
'KYAAA!' Tentu saja, Sasuke sudah biasa dengan teriakan fans girlnya. Naruto yang tidak biasa dengan lengkingan perempuan hanya bisa menahan diri untuk tidak mencekik mereka –dilarang Sasuke- karena meneriaki tuannya. Meskipun mayoritas dari mereka berteriak ada juga yang berbisik membicarakan Naruto,
'Eh, siapa tuh?'
'Keren ya?'
'Matanya biru!'
'Keren'
'Keren sekali'
'Gak kalah sama Sasuke-sama'
Sasuke yang mendengar hal itu hanya mendengus kesal, 'Dasar perempuan-perempun centil' batinnya. Sedangkan Naruto mau tidak mau senang juga atas pujian mereka. Yah.. bangga dong, muka pelayan gak beda-beda jauh sama majikannya meski statusnya beda jauh.
"Tsunade-baasan! Pelayanku kau tempatkan di kelas 1 apa?" ya, tahun ini Sasuke memasuki tingkat 3. Naruto kan baru 15 tahun jadi pasti dia masuk tingkat 1 kan? Itulah yang di pikirkan Sasuke. Tapi, pikirannya salah besar.
"Kau bicara apa Sasuke-kun? Dia ada di tingkat 3. Sama denganmu." jawab sang kepala sekolah santai.
"APA?" lagi-lagi Sasuke tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Hancur sudah citra Uchiha di tangannya.
"Kau tidak salah?" tanya Sasuke untuk memastikan pendengarannya.
"Ya, dia jenius sekali. Bahkan melebihimu dan Shikamaru. Jadi kumasukkan saja di tingkat 3. kan sayang bakatnya tersia-siakan." jelas Tsunade asal.
'Apa? Aku yang terkenal paling jenius di sekolah ini bisa kalah dari orang yang statusnya adalah pelayanku?' batin Sasuke tidak percaya.
"Dia di kelas apa?" tanya Sasuke datar setelah berhasil menyembunyikan keterkejutannya.
Naruto POV
Di sinilah kami, berdiri dihadapan pintu geser berwarna putih dengan papan menggantung diatasnya yang bertuliskan 3-A.
"Sedang apa kau? Kau tidak mau masuk?" kata-kata dari tuan mudaku menyadarkanku dari alam khayalku.
"Ma-maaf, Botchama. Silahkan" aku menggeser pintu dan mempersilahkan tuanku masuk.
"Hn. Kau duduk di sebelahku." Ujar (baca:perintah) Botchama padaku.
"Ha'i, Botchama."
"Silahkan, Botchama." Aku menggeserkan kursinya dan mempersilahkanya duduk.
"Hn"
Anak-anak lain di kelas mulai membicarakanku. Aku bisa dengar semua pembicaraan mereka dengan jelas. Yah, pakai keahlianku sedikit sih... kalau sedikit tak apa kan?
'Hei, itu pelayan Sasuke-kun yang baru ya?'
'Sepertinya iya. Tadi dia memanggil Sasuke dengan sebutan 'Botchama' kan?' yah, kira-kira seperti itulah yang terdengar olehku.
Bel pelajaran pun berbunyi. Beberapa menit setelah bel berbunyi pintu kelasku dan tuan muda di geser oleh seorang guru yang akan menjadi wali kelas kami. Muncullah seorang wanita berambut panjang dari ambang pintu.
"Halo, semua! Saya Kurenai dan mulai saat ini saya akan bertanggung jawab terhadap kelas ini."Ujarnya mulai memperkenalkan diri pada kami. "Nah, supaya terasa lebih akrab, aku minta kalian maju ke depan kelas satu persatu dan memperkenalkan diri kalian. Aku minta kalian menyebutkan nama kalian, hal yang kau sukai dan tidak kau sukai, hobi dan setelah lulus nanti mau kuliah jurusan apa. Ok! Mulai dari barisan paling depan!
"Tch, memangnya kita anak TK? Di suruh memperkenalkan diri seperti itu?" gerutu tuan mudaku.
"Tuan muda tidak suka ya? Disuruh maju ke depan kelas hanya untuk memperkenalkan diri?" tanyaku berbisik.
"Hn."
"Berikutnya!" tanpa memperdulikan deathglare dari murid-muridnya dia melanjutkan acara perkenalan itu.
Satu persatu temanku maju kedepan kelas dan memperkenalkan diri mereka. Tibalah giliranku sekarang. Aku melangkahkan kakiku ke depan kelas. Di depan kelas semua mata tertuju padaku, membuatku sedikit gugup. Aku menarik napas dan membuka mulutku.
"Namaku Namikaze Naruto. Hal yang kusukai aku sendiri tidak tahu. Hal yang tidak kusukai ada banyak. Aku hanya pelayan. Jadi, mungkin aku tidak akan meneruskan pendidikanku." kudengar teman-teman sekelasku hanya ber-oh-ria mendengar acara perkenalan selesai, kami pun mulai belajar.
Normal POV
Bel istirahat berbunyi.
Belum sempat Naruto berdiri dari kursinya dia langsung di kerumuni siswi-siswi teman sekelas mereka atau mungkin juga tidak. Naruto sendiri tidak tahu. Naruto yang tidak pernah di kerumuni orang sebanyak ini mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia mengirimkan sinyal 'minta bantuan' pada tuan mudanya. Tapi memang nasib, yang diterimanya hanya gelengan kepala dan senyum yang entah apa maksudnya, membuat Naruto tambah berkeringat dingin
'Sepertinya aku tidak bisa meminta bantuan tuan muda sekarang ini' itulah yang di pikirkan Naruto saat ini.
"Hei, namamu Naruto 'kan? Aku Haruno Sakura. Yoroshiku."seorang siswi mulai mengajaknya bicara. Belum sempat dia menjawab kata-kata gadis tadi, gadis lain sudah mengajaknya bicara.
"Aku Yamanaka Ino."
"Aku Karin!" mereka berebut untuk bicara dengan Naruto.
BRAK! Naruto kaget dan langsung mengarahkan pandangan ke sumber suara. 'Haah... ulah tuan muda ya?' batin Naruto
"Pergi! aku ingin ke kantin dengannya! Menjauh dari pelayanku!" bentaknya pada gadis-gadis yang sejak tadi mengerumuniku. 'Yokatta na~ Akhirnya tuan muda mau menolongku.' Naruto sangat bersyukur dalam hati.
Mereka pergi dengan wajah merengut. Setelah mereka pergi datanglah orang-orang tak diundang *plak –teman-teman Sasuke. (jangan main pukul! Sakit tahu!)
"Sasuke, kenapa kau marah-marah?" ujar teman tuan muda yang memiliki rambut dan mata yang sama seperti Sasuke.
'Mirip Tuan Muda.' Pikir Naruto.
"Diam kau Sai!"
'Oh... namanya Sai?' batin Naruto.
"Botchama, tidak baik memperlakukan seorang lady seperti tadi. Laki-laki harus bersikap lembut pada seorang lady. Tidak boleh menggebrak meja di hadapan para Lady seperti tadi." Ujar Naruto memperingatkan. Orang yang diperingatkan hanya menjawab dengan gumam-an kesayangannya.
"Hn."
"Ayo ke kantin! Aku sudah lapar!" ujar Sai sambil menarik-narik Sasuke.
"Botchama, anda ingin saya pesankan apa?" tanya Naruto sopan.
"Ah, aku mau spaghetti saja!" bukannya Sasuke, malah Sai yang menjawab pertanyaan Naruto.
"Maaf, tapi saya menanyakan tuan muda. Haruskah saya melayani mereka, Botchama?" 'aku hanya melakukan perintah tuan muda, jika tak ada perintah, itu artinya aku tak akan bergerak.' Tambah Naruto dalam hati.
"Tidak perlu, biar saja mereka melayani diri mereka sendiri! Kau 'kan pelayanku! Aku mau jus tomat dan sandwich saja." ujarnya sambil memandang dingin teman-tamannya.
"Silahkan, Botchama." Naruto meletakkan nampan berisi jus tomat dan sandwich pesanan Sasuke.
"Hei, kau sopan sekali ya? Kau mau saja di suruh melayani orang minim kosakata kayak dia" ujar seseorang berambut coklat panjang dengan iris berwarna lavender.
'Kenapa? Itu pertanyaan bodoh! Tentu saja! Karena tuan mudalah yang menyelamatkanku!' batin Naruto.
Flashback.
Naruto POV
"Naruto, apa kau tahu? Kenapa orang asing yang sama sekali belum kami kenal sepertumu malah kami pekerjakan?" tanya Iruka-san padaku.
"Tidak."
"Itu karena menjadikanmu butlernya adalah permintaan langsung dari tuan muda. Ia yang meminta pada Fugaku-sama agar kau di pekerjakan sebagai butlernya. Kemarin dia melihatku menggendongmu. Lalu dia bertanya begin,i
'Siapa dia?' Aku menjawab, 'maaf tuan muda tapi, dia terlihat kesakitan saya hanya ingin menyembuhkan luku-lukanya saja. Setelah sembuh saya akan menyuruhnya pergi dari sini. Aku mohon tuan. Hanya sampai lukanya sembuh.
'Tidak perlu di usir. Biarkan dia tinggal di mansion ini. pekerjakan dia sebagai butlerku!' kurang lebih begitulah katanya." Iruka-san menceritakan padaku kronoligis bagaimana aku bisa bekerja di sini.
'Tuan mudaku menyelamatkanku. Aku akan melundunginya meski nyawa taruhannya, meski harus menjual jiwaku pada iblis. Aku akan melindunginya dengan cara apapun.' Tekadku dalam hati.
Flashback Off
"Hei, kau belum menjawab pertanyaan Neji. Jangan melamun!" suara Sai menyadarkanku dari lamunanku.
"Itu karena Botchama telah menyelamatkanku." Kata Naruto tenang.
BRUSH!
Naruto sama sekali tidak menyangka suara tadi berasal dari tuan mudanya. Secara gitu, Tuan mudanya kan orang yang paling jaim. "Anda tersedak? Anda tidak apa-apa, Botchama?" Naruto memberikan sapu tangannya pada Sasuke.
"Ti-tidak apa-apa. Iruka menceritakannya padamu?" Naruto hanya mengangguk pelan, yang sukses membuat wajah Sasuke bersemu merah. 'Buat apa dia malu?' pikir Naruto polos.
Para siswa itu pun mulai berbincang-bincang. "Bagaimana kalau kita memperkenalkan diri kita masing-masing pada Naruto?" usul Sai.
"Aku Hyuuga Neji. Yoroshiku."
"Aku Sai! Yorushiku, Naruto "
"Sabaku no Gaara."
"Aku Namikaze Naruto. Yoroshiku ne minna." Naruto ikut menyebutkan namanya.
Bel pelajaran berbunyi. Sudah saatnya bagi para pemuda tadi untuk kembali ke kelas mereka.
"Sudah bel. Nah, ayo kembali ke kelas. Ayo, Naru-chan!" ajak Sai sambil menarik lengan Naruto.
BATS!
Naruto menarik tangannya yang ada dalam genggaman Sai. "Go-gomen ne, saya kaget karena di tarik tiba-tiba. Maaf, tapi apa Sai-sama bisa memanggil ku dengan embel-embel '-kun'? Saya bukan anak perempuan, saya malu jika di panggil begitu." Naruto mengatakan itu semua tanpa ekspresi, membuat yang lain –Neji, Shika, Sasuke- sakit perut menahan tawa .
"Ahahaha gomen. Gomen. Habis... Naru imut sih..." kata Sai dengan intonasi kekanak-kanakkan.
BZIIT!
Seketika itu juga wajah Naruto memucat. 'Ti-tidak mungkin! Te-tenang Naruto! Ini Cuma bercanda! Ya, bercanda! Kau benar-benar tidak tau cara bersosialisasi!' batin Naruto. 'Ok! Apa yang harus kulakukan? Ehm... ehm... ehm...'
"Oh..." Naruto membalas ucapan Sai tadi dengan satu kata 'oh'! Sai yang malang! Kontan ucapan Naruto membuat yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Naruto hanya bisa memasang wajah bingung pada teman-teman barunya.
"Botchama, sudah saatnya anda kembali ke kelas." Ingatnya.
"Ahahahahahaha, wakatta! Wakatta! Hahaha..." sahut Sasuke masih tertawa. 'Tuan muda kalau sudah tertawa berlebihan ya?' pikir Naruto.
Naruto dan Sasuke kembali ke tempat duduk mereka dan lagi-lagi di kerumuni gadis-gadis. Mumpung guru belum datang! Itulah yang ada di pikiran mereka.
"Ne~ Naruto-kun sepulang sekolah nanti mau kencan denganku? Mau ya?" ajak seorang gadis berambut pink pada Naruto.
"Jangan! Denganku saja!" sela gadis berambut pirang.
"Hei! Aku duluan 'kan yang mengajaknya!"
"Mana mau dia kencan dengan gadis berdahi lebar sepertimu!" mereka mulai adu mulut dan sepertinya lupa maksud awal mereka. Sebelum terjadi aksi saling gigit -?- Naruto menengahi.
"Maaf, nona-nona. Tapi, saya harus berada di sisi Botchama setiap saat. Mungkin kalu aku sedang cuti?" Naruto menolak ajakan keduan gadis tadi dengan sopan, sangat sopan malah. Tapi sepertinya mereka tidak terima dan mulai merengek pada Sasuke agar butler miliknya di beri izin untuk berkencan.
"Sasuke-kun 'kan bukan anak kecil lagi! Tidak apa-apa 'kan di tinggal sebentar? Nee~ Sasuke-kun~ aku pinjam pelayanmu sore ini saja ya?" rengek Sakura si gadis berambut pink.
"Tidak" jawab Sasuke singkat.
"Ayolah~ hanya sentar kok~" masih belum menyerah juga gadis pink ini.
'Tch, maksa banget sih! Naruto kan udah jelas-jelas nolak! Nolaknya terlalu sopan sih! Dasar baka! Huh, apa aku kerjain saja ya si dobe ini? Aku ingin balas dendam karena bilang yang tidak-tidak sama mereka tadi aku 'kan tidak mau dianggap sebagai orang yang 'peduli'. Sekalian, aku juga ingin lihat wajahnya saat berkencan dengan seorang gadis, apa masih tanpa ekspresi? Fufufufu ok juga ideku! Aku memang jenius! Menjahili butler kedengarannya menyenangkan juga! Hihihihihi' begitulah isi kepala Sasuke sekarang.
Merasakan hawa yang tidak enak, Naruto bergidik. 'Aku merasakan firasat buruk. Sudahlah tak usah di pedulika!' pikir Naruto tak acuh.
"Baiklah. Aku mengijinkanmu berkencan dengan pelayan ku tapi-" Sasuke belum menyelesaikan kata-katanya tapi sudah di potong oleh gadis berdahi lebar itu.
"Horee~. Kita mau ke mana Naruto-kun?" tanya Sakura tidak sabaran.
"AKU BELUM SELESAI BICARA BODOH! Uhuk, kau boleh pergi dengannya tapi tidak hari ini. Hari sabtu nanti aku akan meminjamkannya padamu SEHARIAN." Sasuke memberikan penekanan pada kata 'seharian'.
"Bo-Botchama?" Naruto memelas minta janji itu di batalkan.
"Urusai! Ini perintah! Kau harus menuruti perintahku kan?" Sasuke membentak. "Lagi pula aku sebal karena kau menolak mereka dengan terlalu sopan" lanjut Sasuke dengan berbisik.
"Wakatta, Botchama." sahut Naruto tak berdaya.
"Jadi, kau mau melaksanakan perintahku kan?" tanya Sasuke.
Naruto mengambil posisi berlutut ala eropa abad pertengahan lalu mengatakan kata-kata yang hanya akan dia tujukan pada Sasuke, "Anything for you my lord."
'KYAAAA~! KAKKOI~!' sialnya itu hanya membuatnya tambah kebanjiran fans girl. Memang nasib.*author di timpuk
TING TONG
Bunyi menandakan pelajaran untuk hari ini berakhir. Sasuke dan pelayannya, Naruto segera menuju mobil sebelum salah satu diantara mereka di kerumuni fans mereka.
"Sasuke! Naruto! Tunggu kami!" terdengar suara Neji dari belakang mereka. "Aduh... kalian ini! Gak majikan gak pelayan! Jalannya cepet banget sih?" keluh Neji sambil terengah-engah.
"Gomennasai, Neji-sama. Tapi kalau-" belum selesai meminta maaf, Naruto langsung di bentak oleh Sasuke
"Baka! Jangan minta maaf! Itu 'kan salahnya sendiri karena lari-lari! Jangan minta maaf, nanti dia tambah besar kepala, tahu!"
"Gomennasai, Botchama."
"Hei Sasuke! Apa salahnya sih dia minta maaf padaku? Ah, dari pada itu ada yang ingin aku bicarakan berdu- eh, berempat denganmu."
"Berempat? Siapa saja?" tanya Sasuke.
"Tentu saja! Aku, kau, Gaara, dan Sai!" terang Neji tidak sabar.
"Hn. Kau tunggu saja di mobil!" perintah Sasuke pada Naruto. Naruto yang di perintah begitu langsung menuju parkiran mobil tempat Iruka menunggu.
Di tempat parkir.
"Lho, Naruto? Mana Sasuke-sama?" tanya Iruka pada Naruto.
"Botchama ingin membicarakan sesuatu dengan teman-temannya, aku di perintahkannya untuk kesini lebih dulu." Jelas Naruto pada Iruka.
"Sou ka."
"Hn." Jawab Naruto singkat mengikuti trade mark tuan mudanya.
Sasuke POV
Di sinilah aku, di kerumuni teman-temanku seakan aku habis melakukan pembunuhan dan sedang di introgasi.
"Jadi, Sasuke. Sudah bertahun-tahun kami mengenal dan berteman denganmu. Kami tahu, kau tak pernah mau membagi sesuatu, apapun itu yang merupakan milikmu. Kecuali bisa memberikan keuntungan bagi dirimu sendiri." Tutur Neji dengan nada yang di dramatisir, membuatku ingin muntah di tempat. Tapi, tentu saja kutahan kalau tidak mau kena bogem mentah Neji yang sakitnya minta ampun.
"Jadi, maukah menceritakan rencanamu? Kami juga ingin bersenang-senang bersamamu. Bolehkan?" lanjut Neji dengan nada yang masih sama dan sukses membuatku tambah mual di buatnya.
"Oke! Oke! Aku emang mau ngerjain butler minim ekspresi kayak Gaara itu." Gaara yang ku bicarakan hanya mendengus kesal.
"Aku ingin membuntutinya dan merekam kencannya Sabtu nanti, siapa tahu tiba-tiba dia menunjukkan ekspresi yang- yah begitulah, di wajahnya. Pasti lucu sekali!" jelasku pada mereka.
"Kau itu! Benar-benar tuan muda tidak punya kerjaan... memangnya rekaman itu buat apa nantinya?"
Aku sebal pada perkataannya. Apa-apaan tuh? 'Tuan muda tidak punya kerjaan' katanya? "Haah... dasar makhluk tidak punya pupil. Sudah tidak punya pupil tidak punya otak pula rupanya.." Neji yang mendengar 'pujian' dariku langsung melayangkan bogem kearahku. Beruntung, Gaara menahannya.
"Kau ingin jawabannya kan?" tanya Gaara pada Neji.
"Haah... Oke! Kalian mau tahu untuk apa?" semua menatapku serius dan mulai mencondongkan badan mereka padaku. "Tentu saja untuk kutertawakan dan kujadikan bahan ancaman untuknya!"
GUBRAK –semua jatuh ala anime- (minus Sasuke)
"Kalian mau ikut? Pasti asik!" tanyaku pada mereka. Mereka hanya menjawab dengan anggukkan kepala dan pergi meninggalkanku. Aku pun bergegas menuju mobil.
Neji POV
"Aku tidak menyangka tuan Uchiha jenius kita berpikiran sempit seperti anak kecil." aku memulai pembicaraan.
"Benar! Tapi aku mau ikut! Pasti seru!" jawab Sai semangat.
Aku bingung apa yang dia pikirkan, kenapa dia bisa semangat sekali? Sudahlah! Aku juga ikut saja. Sekalian isi waktu luang. (pada akhirnya pun kau tidak punya kerjaan dan menguntit orang kan? *di kaiten)
Naruto POV
Haah.. hari ini tiba juga. Ukh, ini merupakan weekend paling menyebalkan dalam hidupku! Kenapa aku harus berkencan dan pura-pura ramah pada gadis pink itu selama seharian nanti? Tuan muda benar-benar mengerjaiku.
Aku segera bangun dan mandi. Hari ini aku tak perlu membangunkan tuan muda karena hari ini sekolah libur dan dia tak memiliki kegiatan apapu hari ini. Selesai mandi, aku bersegera berangkat menuju tempat yang sudan dijanjikan.
'Tidak baik membuat seorang gadis yang akan berkencan denganmu menunggu kedatanganmu terlalu lama.' Kata-kata itu kudapat dari buku yang kubaca karena di suruh tuan muda. 'kau harus membaca ini kalau mau kencanmu lancar!' kira-kira begitulah katanya. Haah... siapa juga yang mau kencan dengan gadis itu. Kalau boleh memilih, aku lebih memilih untuk latihan jutsu-jutsu ku ketimbang jalan dengan gadis pink itu.
Nah, sudah. Sekarang aku harus bergegas.
Di Amusement Park
Ah, itu dia! "Haruno-san! Maaf, apa kau terlalu lama menunggu?" tanyaku hati-hati. Hari ini aku harus melayaninya dengan baik. Ingat Naruto! Ini perintah!
"Tidak apa-apa kok. Oh ya, jangan panggil 'Haruno' panggil saja aku Sakura" katanya lembut.
"E-eh, Sa-Sakura-san?" kataku tergagap. Ini pertama kalinya aku memanggil nama seorang gadis dengan nama depannya.
"Hihihi.. kau lucu. Ternyata kalau memakai baju bebas Naruto terlihat lebih keren ya?" dia memberikan pujian padaku.
Aku merasakan wajah dan kupingku memanas. 'Apa wajahku memerah?'
"A-ah, Arigatou Sakura-san"
"Ayo! Kita mulai kencan kita!" aku hanya membalasnya dengan anggukkan.
Normal POV
Naruto dan Sakura memasuki kawasan Amusement Park itu tanpa tahu kalau ada yang membuntuti mereka.
"fufufufufu... Bagus! Mereka tidak menyadari kita! Ayo, Sai, Neji, Gaara!" ujar Sasuke bersemangat. Yang diajaknya hanya bisa cengok melihat tingkah Sasuke.
'Sejak kapan Sasuke jadi seperti ini? Apa dia kerasukan?' pikir Neji dan Gaara bersamaan. Sai sih Cuma senyum-senyum doang. Karena dia senang melakukan hal ini. 'Menarik' pikirnya.
"Ikuzo!" seru Sasuke bersemangat.
TBC
Udaaaaaah...! huaaaah... capek! Aku ingin tahu pendapat kalian tentang cahapter ke-2 ini. Jadi, mohon review-nya... kalo boleh minta, kritiknya jangan pedes-pedes ya? Kazu agak bergidik bacanya... hehehe. Terima kasih, bagi yang sudah berbaik hati membuang waktunya yang berharga hanya untuk baca fict gaje ini. Nah, Kazu permisi dulu! Nanti kita ketemu lagi ya di chapter 3 ! bye bye!
