My Lord

Chapter 3 Cousin

Disclaimer : Seonggok daging bernama Masashi Kishimoto *di lempar meja*

Rated : T

Paring : NaruSasu? Or maybe SasuNaru

Genre : Sebenarnya fict ini lebih menjutus ke friendship. Romancenya Cuma sekedar slight aja. Hahahaha *dibakar*

Warning : OOC, Gaje, Abal, alur cepat, typo dan masih banyak lagi hal-hal buruk dalam fict ini. AU/AR? Entahlah? Ada yang tahu?

A/N : Terima kasih atas riview-reviewnya yang membangun! Sekali lagi, Kazu benar-benar berterima kasih atas reviewnya~! Yak, cukup. Tanpa banyak bacot lagi….

HAPPY READING~~~!

"Haruno-san! Maaf, apa kau terlalu lama menunggu?" tanyaku hati-hati.

"Tidak apa-apa kok. Oh ya, jangan panggil 'Haruno' panggil saja aku Sakura" katanya lembut.

"E-eh, Sa-sakura-san?" kataku tergagap. Ini pertama kalinya aku memanggil nama seorang gadis dengan nama depannya.

"Hihihi.. kau lucu. Ternyata kalau memakai baju bebas Naruto terlihat lebih keren ya?" dia memberikan pujian padaku.

Aku merasakan wajah dan kupingku memanas. 'Apa wajahku memerah?'

"A-ah, Arigatou Sakura-san"

"Ayo! Kita mulai kencan kita!"

.

"Fufufufufu... Bagus! Mereka tidak menyadari kita! Ayo, Sai, Neji, Gaara!" ujar Sasuke.

"Ikuzo!" seru Sasuke bersemangat.

My Lord by Kazuki

Chapter 3 The Most Dangerous Date

Normal POV

"Nah, Sakura-san. Duduklah dulu disini. Biar saya saja yang mengantri di loket." Ujar Naruto sambil mempersilahkan Sakura duduk di sebuah bangku taman.

Nah, bagaimanakah keadaan manusia yang baru saja dipersilahkan tadi? Bingo! Manusia tadi Cuma bisa nyengir-nyengir gak jelas. *plak*

Lima menit

Sepuluh menit

Lima belas menit sudah berlalu, akhirnya Naruto kembali dengan dua tiket Amusement Park sebagai buah tangan.-?-

"Ikkou, Sakura-san?" ajak Naruto pada Sakura.

"Ha'I, Naruto-kun!" sahut Sakura. Lalu bergelayut manja pada lengan pemuda pirang itu.

Naruto yang sama sekali tidak mengerti apa maksud Sakura bergelayut manja padanya, tidak menolak sama sekali perlakuan gadis pink tersebut. Dilain pihak, Sakura merasa cintanya terbalas karena Naruto sama sekali tidak menolak perlakuannya.

'Kami-sama, semoga kencan kami berjalan lancar dan Naruto akan menerima penyataan cintaku nanti!' mohon Sakura.

========Tempat Sasuke, dkk========

"Oi, Neji! Sudah dapat tiketnya?" Tanya Sasuke pada Neji.

"Bawel! Udah dapet nih! Kenapa mesti aku sih?" jawab Neji sewot.

"Salahmu sendiri kalah Janken!" sahut Sasuke gak kalah sewot.

"Dengar ya, 'Anak Ayam' tadi itu aku-" Neji batal menyelesaikan kata-katanya begitu merasakan hawa dingin menusuk yang di keluarkan seorang pemuda bermarga Sabaku.

"Jadi masuk tidak?" kata Gaara dingin dan mengancam.

Melihat Gaara yang mulai memasuki tahap badmood, mau tidak mau Sasuke dan Neji menghentikan perdebatan mereka dan menelan ludah paksa. Oh, what about Sai? Ya, tentu saja. Ia masih setia melakukan aktifitas yang sudah mendarah daging pada dirinya yaitu, 'Cengar-cengir gak jelas'

"I-ikkou." Ajak Sasuke pada ketiga temannya.

"Hn." Jawab Gaara singkat. Meskipun wajahnya terlihat datar, sebenarnya Gaara sedang merasa sangat senang saat ini. Bagaimana tidak? Ini merupakan kali pertamanya ia pergi ke tempat semacam ini. Maklum, ia juga seorang 'Tuan Muda' yang hidupnya selalu di awasi.

"Horee~! Cepat! Ayo cepat!" ujar Sai tidak sabaran.

Neji dan Sasuke Cuma bisa sweatdrop melihat tingkah sahabat mereka yang satu ini. Gaara? Dia gak ngambil pusing atau emang gak mau ambil pusing dengan tingkah Sai yang mulai gak normal.

'Ini akan jadi hari yang melelahkan…' batin Sasuke dan Neji bersamaan.

========Tempat NaruSaku========

Naruto POV

'Bersikap manis dan sopan di depan teman kencan, cek. Tiket, cek. Lalu, apa ya? Ehm…. Dibuku yang diberikan tuan muda…. '

Ya, aku diharuskan menghafal seluruh isi buku itu oleh tuan muda. Buku yang membahas tentang kiat-kiat berkencan yang memiliki judul 'Panduan Berkencan' oleh Botchama. Memang merepotkan sih, tapi apa boleh buat? Ini perintah majikanku.

Aku masih berusaha mengingat-ngingat apa kiat selanjutnya. 'Ah ya! Tanyakan pada teman kencanmu wahana apa yang ingin ia naiki. Baiklah, akan kutanyakan.'

"Sakura-san. Wahana apa yang ingin anda naiki?" tanyaku padanya.

"E-eh, Naruto-kun sendiri ingin naik apa?" bukannya menjawab, dia malah menanyakan balik hal yang sama padaku.

'Huh! Tidak usah bersikap sok manis di depanku! Menjijikkan! Kalau bukan perintah pasti sudah kucekik dia daritadi!'

"Tidak Sakura-san. Masa' saya yang laki-laki yang menentukan hal seperti itu? Bukannya terbalik?" ujarku sambil memasang senyum palsu sebagus mungkin.

"Eh? Benar juga ya? Hahahahaha" Sakura-san mulai tertawa

'Apa yang dia tertawakan? Ada yang lucu? Ukh.. hidup sebagai manusia biasa memang membingungkan!'

"Lagipula Sakura-san, bukankah saya di pinjamkan pada anda seharian ini oleh Botchama?" Tanyaku sinis.

Eh, apa ucapanku keterlaluan? Wajah Sakura-san terlihat sedih sekali. Kenapa aku tega mengatakan hal sekejam itu padanya?

'Akh! Dasar bodoh, Ucapanku keterlaluan sekali! Tak seharusnya seorang pria berkata seperti itu pada seorang gadis! Kuso! Baka!'

"Ma-maaf, Sakura-san saya tak bermaksud-" aku tak bisa menyelesaikan kata-kataku karena tiba-tiba jari telunjuk Sakura-san menempel pada bibirku.

"Kau tidak perlu meminta maaf Naruto-kun. Aku memang gadis yang egois. Seenaknya saja aku mengajakmu berkencan seperti ini tanpa persetujuan darimu. Maaf. Seharusnya akulah yang mengatakannya. Jadi, maukah kau memaafkanku, Naruto-kun?" tanyanya. Ia pun menundukkan kepalanya.

Aku bersumpah, aku mendengar nada sedih dalam kalimatnya. Pria macam apa aku? Aku sudah membuat seorang gadis bersedih!

"Sa-sakura-san, a-aku…. Maaf! So-sou de, kau ingin naik apa? Aku baru pertama kali kesini. Jadi, aku tak tahu apa-apa tentang wahana-wahan disini. Jadi, maukah kau menemaniku, Sakura-san?" tanyaku tulus padanya.

Dia mendongakkan kepalanya. Aku bisa melihat mata emerald-nya menatapku. Aku bisa merasakan perasaan tak percaya, bahagia dan semacamnya dari bola matanya

"Bagaimana Sakura-san? Aku yang mengajakmu kencan lho?" godaku.

"Na-naruto-kun?"

"Ng?" aku mendekatkan wajahku ke wajahnya agar bisa mendengar lebih jelas.

BLUSH!

"Sakura-san? Kau demam? Wajahmu merah." Aku khawatir dengan keadaannya dan menempelkan dahiku ke dahinya.

"A-ah, na-naik itu yuk?" katanya sambil menjauhkan tubuhku darinya.

"Kau yakin? Kupikir wanita tidak suka dengan wahana yang memacu adrenalin semacam itu."

"Huh! Maaf saja ya! Jangan samakan aku dengan wanita yang kau maksud itu!" jawabnya.

"Hihihi.. kau manis sekali. Aku jadi tertarik." Godaku lagi.

"Sudah! Ayo!"

Dia mulai berjalan dan meninggalkanku di belakangnya. Aku menggenggam tangannya dengan tujuan agar dia menghentikan langkahnya dan mendengarkan omonganku.

"Arigatou Sakura-san, sudah mengajakku kesini. Aku senang sekali. Ini pertama kalinya bagiku." Ujarku sambil tersenyum tulus padanya.

"Tidak masalah. Ayo!"

"Yes, Milady!"

========Tempat Sasuke, dkk========

Normal POV

"Yosh! Kita jaga jarak aman dari mereka sekitar 4 meter. Jangan sampai ada yang ceroboh dan akhirnya menarik perhatian Naruto! Mengerti?" seru Sasuke pada Neji, Sai dan Gaara.

"Yes, sir." Jawab ketiganya malas.

"Neji, siapkan handycam-nya!." Ujar (baca:perintah) Sasuke pada Neji.

"Kenapa mesti aku lagi sih? Asal kau tahu saja ya! Aku. Bukan. Budakmu! Bukankah masih ada Sai dan Gaara?" Tanya Neji dengan emosi. Ia memberikan tekanan pada tiap kata yang ia ucapkan.

Pertanyaan menggebu-gebu dari Neji hanya dibalas dengan telunjuk Sasuke yang mengarah pada Sai dan Gaara.

"Neji, tak mungkin 'kan aku menyuruh dua orang itu? Kalau kuserahkan tugas ini pada mereka bisa-bisa mereka cuma merekam Amusement Park ini bukannya kencan Naruto." Kata Sasuke santai.

"Tuh, lihat! Mereka kesenangan banget tuh!" lanjut Sasuke.

"Nee~ Sasuke, kita membuntuti Naruto kan? Jadi, kita naik wahana yang dia naiki juga dong?" Tanya Sai dan Gaara penuh harap.

Tak tahan dengan pancaran cahaya penuh harap dari onyx dan seagreen,Sasuke dan Neji hanya bisa mengangguk pelan.

"Yatta~" teriak Sai dan Gaara. (A/N: aduh, aduh, Gaara jadi OOC nih? *disabaku*)

Sasuke dan Neji hanya bisa sweatdrop melihat kedua sahabat mereka yang bertingkah kekanakan.

Setelah puas, Gaara pun menghentikan teriakannya. Sai? Masih bertahan rupanya.

"Hehehe…. Yatta~ yatta~" teriak Sai.

Hening.

Tak ada satupun dari Sasuke, Neji dan Gaara yang berminat menghentikan kegiatan Sai.

Masih hening.

"Ehem," Sasuke mulai memecah keheningan.

"Begini ya, aku maklum saja pada Gaara karena dia memang jarang bisa dengan bebas keluar rumah dan datang ke tempat seperti ini. Tapi, yang tidak aku habis pikir itu…." Sasuke memberikan jeda pada ucapannya.

"SAI! BERHENTI BERTINGKAH SEAKAN-AKAN KAU PERTAMA KALINYA DATANG KESINI! KAU 'KAN SERING KESINI!" lanjut Sasuke berteriak. Rupanya ia sudah muak melihat tingkan Sai.

"Aduuh… Sasu-nii, gak perlu teriak-teriak gitu kali! Aku memang sering kesini. Tapi, kali ini aku pergi dengan kalian. Menurutku itu sangat menyenangkan! Terlebih lagi, ada tontonan asik." Ujar Sai sambil menunjuk Naruto yang sedang menempelkan dahinya pada dahi Sakura.

"Ne-neji! Rekam! Cepat rekam! Kita dapat gambar bagus nih." Seru Sasuke semangat.

Tanpa ba-bi-bu, Neji langsung menyalakan handycam dan mulai merekam adegan tadi.

"Sepertinya mereka mau menaiki wahana itu." Tunjuk Gaara.

"Ayo, kita juga naik." Kata Neji yang langsung melesat menuju wahana yang di tunjuk Gaara.

.

.

*#=#=#Setelah empat setengah jam nonstop menaiki wahana#=#=#*

========Tempat NaruSaku========

Sakura POV

HUEK!

"Sakura-san, daijoubu?" Tanya Naruto padaku.

Apa dia gila? Mana mungkin aku baik-baik saja setelah menaiki Halilintar dua puluh kali, Kora-kora enam belas kali, Arung Jeram lima belas kali, Histeria 23 kali, Niagara tujuh belas kali dan Rajawali delapan belas kali! (A/N: 0_o; haduh, jadi kayak di Dufan aja.. *ditendang*)

"Da-daijoubu ne, Naruto-kun. Emm… bagaimana kalau kita istirahat dulu?" tanyaku padanya.

"Benar juga, kau pasti lelah. Sebaiknya kita makan siang dulu. Aku yang traktir! Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan padaku.

'Ah… rasanya rasa marahku padanya jadi hilang setelah melihat senyumnya. Senyumannya menawan sekali. Bahkan menurutku dia lebih tampan dari Sasuke-kun. Terlebih lagi, dia ramah dan perhatian.'

"Kalau begitu kita makan disana yuk?"

========Tempat Sasuke, dkk========

Normal POV

"Oi, Sasuke! Kau pungut di mana sih makhluk itu? Masa' dia tahan berkali-kali menaiki wahana seperti itu? Apa otaknya masih berfungsi?" ujar Neji meneriakkan isi hatinya pada Sasuke. -?-

"Diam kau! Begitu saja sudah nyerah! Mana si Hyuuga Neji sang juara satu Taekwondo, Karate, Wushu dan Kendo tingkat Nasional yang tangguh itu?" balas Sasuke tak mau kalah.

"Itu 'kan gak ada hubungannya sama sekali! Haah…. Sudahlah! Aku capek kalau harus bertengkar terus denganmu!" sahut neji malas.

"Hih! Siapa juga yang mengajakmu bertengkar? 'Kan kau yang mulai duluan!" ujar Sasuke emosi karena di perlakukan seperti anak kecil.

"Apa? Kau-"

"Sudah-sudah. Lebih baik kita juga masuk ke restoran itu dan makan siang?" ujar Sai menengahi

"Ya sudah. Ayo." Ajak Sasuke.

DEG!

"Kau kenapa Gaara?" Tanya Neji pada Gaara.

"Aku merasakan hawa membunuh. Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ujar Gaara datar tapi penuh dengan kewaspadaan.

"Paling itu Cuma perasaanmu saja! Aku tidak merasakan apa-apa tuh." Sahut Neji.

"Begitu ya? Ya sudah." Ujar Gaara sambil berlalu.

'Dia itu serius tidak sih?' batin Neji dalam hati. Kemudian ia pun menyusul ketiga temannya ke dalam restoran

========Tempat NaruSaku========

"Huft… kenyang! Arigatou, Naruto-kun!" ujar Sakura.

"Ya, tidak masalah. Kita mau naik wahana apa lagi?" Tanya Naruto pada Sakura.

"Nah, sekarang terserah Naruto-kun ingin naik apa."

"Itu!" Seru Naruto bersemangat.

"Oh tidak! Tidak! Jangan menaiki itu lagi! Sekarang 'kan sudah sore bagaimana kalau kita naik Bianglala saja? Sebagai penutup acara kencan kita, sekaligus menikmati sunset? Bagaimana?" usul Sakura.

"Hmm…. Boleh juga. Ikkou." Naruto menggandeng tangan Sakura dan mulai berjalan menuju Bianglala yang dimaksud.

Ini sudah yang kesekian kalinya mereka bergandengan tangan. Namun, tampaknya tak satu pun dari mereka yang membencinya. Jutru mereka menyukainya.

'Hangat' itulah yang mereka pikirkan.

========Tempat Sasuke, dkk========

"Mereka mau kemana lagi sih?" ujar Sasuke sewot. Ia sudah mulai capek dan bosan mengintai kencan Naruto.

"Sepertinya mereka akan menaiki Bianglala." Ujar Gaara datar.

"Ikut naik?" Tanya Neji pada Sasuke.

"Tak usah. Kita tunggu saja disana." Sasuke menunjuk sebuah bangku taman dan mulai berjalan kearahnya. "Sini! Duduk disini!"

Tiba-tiba saja muncul sekelabat bayangan tepat dibelakang Sasuke.

"SASUKE! BELAKANG!" teriak Neji memperingatkan.

"Eh?"

BUAKK!

"Diam di tempat!" perintah seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam serta sebuah masker yang menutupi sebagian wajahnya. Ia menodongkan sebuah kunai pada leher Sasuke.

"Kuso! Sasuke!" Neji berusaha menyadarkan Sasuke dengan teriakannya.

"Dia pingsan. Kau tahu itu kan?" kata pria satunya. Pria itu memiliki rambut berwarna silver.

"Nah, langsung kita bawa saja yuk?" lanjut pria tadi.

"Hn."

Kedua pria tadi pun langsung berlari dengan Sasuke bersama mereka.

"Sial! Ayo kita kejar! Dimana sih Butler itu saat di butuhkan?" ujar Neji kesal. Meski sering bertengkar, sebenarnya dia sudah menganggap Sasuke sebagai adiknya sendiri. Ia akan dengan senang hati menghajar orang yang berani menyakiti Sasuke.

========Tempat NaruSaku========

Naruto POV

DEG!

A-apa? Perasaan apa ini? Aku merasakan firasat buruk.

"Na-naruto-kun?" panggil Sakura-san.

Botchama? Apa terjadi sesuatu padanya?

"Naruto-kun?" panggilnya lagi.

Kami-sama sebenarnya ada apa? Apa Botchama baik-baik saja?

"Naru-"

"APA?" Balasku berteriak. "Ah, maaf. Hanya saja aku sedang berpikir. Maaf." Ujarku mencoba meminta maaf dan menundukkan kepalaku.

Ah? Bukankah itu Botchama? Dia juga pergi kesini bersama teman-temannya? Akh!

Aku bisa melihat dengan sangat jelas dari sini kalau tuan mudaku baru saja di culik oleh dua pria yang tadi memukul tengkuknya.

"BOTCHAMA!"

"Eh? Naruto-kun?"

"Maaf Sakura-san. Saya ada urusan, saya pergi dulu. Permisi." Ujarku sambil membuka pintu gondola Bianglala kami.

"He? Ma-matte! Jangan melom-"

SYUUT!

Aku segera melompat dan berlari ke lokasi teman-teman Botchama tanpa mengindahkan ucapan Sakura-san. Aku berlari secepat mungkin.

"Gaara-sama, Neji-sama! Matte!" panggilku pada mereka.

"Ah! Naruto!" mereka menghentikan langkah mereka dan berbalik kearahku.

"Wow! Bagaimana kau bisa cepat sampai disini, padahal tadi gondolamu 'kan baru mencapai puncak. Kau loncat?" Tanya Sai padaku.

"Itu tidak penting! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku tak sabar.

"Kami juga tidak begitu mengerti. Kejadiannya terjadi begitu cepat." Ujar Gaara-sama mencoba menjelaskan.

Aku mencengkram bahunya dan menghadapkan wajahnya padaku. "Apa ciri-ciri mereka?"

Gaara tak kunjung menjawab pertanyaanku. "Neji-sama?" aku mencoba mencari info dari Neji.

"Salah satu dari mereka berambut silver dan yang satu lagi memakai masker." Ujar Neji memberikanku deskripsi duo penculik tadi.

Begitu mendapat info yang kubutuhkan, aku langsung melesat kearah dua pria tadi pergi.

"Tunggu! Aku ikut!" Neji mengejarku, kami berdua berlari secepat mungkin.

Gaara POV

"Gaara?" Tanya Sai padaku yang sejak tadi diam mematung.

"Sai, mata Naruto berwarna biru?" Tanyaku pada Sai.

"Ya, memangnya kenapa?" Sai balik bertanya.

"Waktu perkenalan dia bilang kalau namanya adalah 'Namikaze Naruto' 'kan?"

"Iya! Memang ada apa sih?"

"Kuso! Kenapa aku tak menyadarinya!" aku mulai berlari mengejar Neji dan Naruto.

"Sadar apa? Eh, tunggu!"

Naruto POV

'Sial aku kehilangan jejak mereka! Tenang, tenang Naruto! Sekarang, konsentrasi. Rasakan cakra orang-orang di sekitarmu. Yak! Kesini.'

Aku mempercepat langkahku. Aku sudah bisa memastikan lokasi musuh. Kalau tidak cepat-cepat entah apa yang akan terjadi pada Botchama.

'Apa Neji-sama bisa mengimbangi kecepatanku?'

Aku menengok ke belakang. Aku sangat terkejut. Neji masih tepat di belakangku. Ia tidak kehilangan jejakku. Aku tidak tahu kalu Neji bisa mengimbangiku.

"Apa?" tanyanya.

"Tak apa. Yang lebih penting, aku sudah tahu lokasi musuh."

"Eh? Bagaimana-"

"Sebelah sini." Aku tak menggubris omongannya dan lagi-lagi mempercepat langkahku.

"Berhenti." Perintahku pada Neji.

"Jadi mereka disini? Bangunan apa ini?"

"Sepertinya bekas gudang. Huh! Tempat murahan." Ujarku sinis.

"Dobrak?" aku hanya membalas dengan anggukkan kecil.

Neji mulai mengambil ancang-ancang dan langsung mengarahkan tendangannya pada pintu gudang. Pintu tersebut lepas dari engselnya, memberikan jalan masuk pada kami berdua.

"Kau hebat" pujiku pada Neji.

"Terima kasih."

Normal POV

Neji membuat ancang-ancang dan langsung menendang pintu gudang. Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat sosok Sasuke penuh dengan lebam dan luka sayatan.

"Wah, wah. Kau hebat juga rupanya 'Tuan Butler' . Tapi sayang sekali, sepertinya kau sedikit terlambat ya?" ujar pria berambut silver

"Lepaskan Sasuke!" raung Neji murka.

"Boleh saja. Tapi, kalahkan kami dulu!" ujar pria bermasker.

Lalu, muncullah puluhan orang dari balik tumpukan barang. Orang-orang itu mulai mengepung Neji dan Naruto.

"Biar aku yang urus orang-orang ini. Kau tangani bosnya saja!" ujar Neji pada Naruto.

"Hn. Arigatou, Neji-sama. Botchama pasti sangat senang memiliki teman seperti anda." Balas Naruto.

"Heh! Arigatou yo."

Naruto melompat melewati orang-orang yang mengepungnya dan Neji. Dia langsung berlari kearah pria yang menculik Botchama-nya.

"Huh! Punya nyali juga rupanya! Kakuzu, biar aku yang tangani bocah ini!" ucap pria berambut silver.

"Terserah kau sajalah Hidan!" jawab pria bemasker.

'Jadi, yang berambut silver berambut bernama Hidan dan yang bermasker bernama Kakuzu ya?' batin Naruto.

"Maju." Ujar pria bernama Hidan sambil memainkan sabitnya.

"As your wish!" balas Naruto.

Naruto melempar shuriken miliknya yang di tangkis dengan mudah oleh Hidan.

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku hanya dengan shuriken? Kau bodoh, nak."

TWICH

"Heh! Aku punya lebih dari sekedar shuriken."

Naruto mulai membentuk berbagai segel dengan tangannya.

"Ka-kau, ninja?" Tanya Hidan tergagap. Dia sama sekali tidak menyangka akan melawan seorang ninja. Dia pikir ,dia hanya akan melawan seorang butler payah yang hanya bisa menggunakan satu macam beladiri.

"Huh! Neji-sama! Tinggalkan saja orang-orang itu! Bawa Botchama keluar dari gudang ini!" perintah Naruto pada Neji.

"Kau mau apa?" Tanya Neji.

"Membakarnya." Jawab Naruto santai.

"Apa?"

"Cepat!"

Neji melesat melewati orang-orang yang mengepungnya. Dengan cekatan, dia merebut Sasuke dari tangan Kakuzu dan membawanya berlari menjauhi gudang yang katanya akan di bakar Naruto.

'Bagaimana cara dia membakarnya? Jangankan minyak, api pun tak ada.' Batin Neji.

Lalu, Neji mendengar Naruto meneriakkan sesuatu.

"Katon. Gokakyu no jutsu!"

Sedetik kemudian, Neji melihat gudang tadi sudah di lahap api raksasa.

"Mu-mustahil! Bagaimana dia melakukannya?" ujar Neji tak percaya.

"Neji-sama, bagaimana keadaan Botchama?" Tanya Naruto yang tiba-tiba saja ada di depan Neji.

"Eh? Ah, tak ada luka dalam. Hanya luka-luka ringan kok." Jawab Neji.

"Hah… Yokatta na~ tapi, tetap saja. Seandainya aku lebih cepat Botchama pasti-"

"Eng…." Erang Sasuke.

"Botchama!" seru Naruto.

"Naruto? Ka-kau menyelamatkanku?" Tanya Sasuke.

"Tentu saja. Apa anda baik-baik saja Botchama? " Jawab Naruto sabar.

"Ku-kupikir tak akan ada yang datang. Kupikir tak akan ada yang peduli. Kupikir, kupikir. Hu..hu…hu…HUAAA…..! UWAA…!" Sasuke mulai menangis. Neji hanya maklum melihatnya.

"Botchama?"

"Arigatou Naruto. Hontou ni arigatou!" ucap Sasuke berterima kasih di antara isakkannya.

"Kami telat ya?" Tanya Sai dari arah Belakang mereka.

"Tak apa kok! Semua sudah di hanguskan si pirang ini." Ujar Neji menunjuk Naruto.

"Sasuke?" ujar Sai dan Gaara bersamaan.

"Tak apa. Hanya luka dangkal kok!" Neji menjelaskan.

"Yokatta" ujar Sai dan Gaara bersamaan lagi.

"Sebaiknya aku menghubungi Kakashi agar menjemput kita." Ujar Naruto.

Narotu mulai menekan-nekan deret angka di ponselnya dan mendekatkannya ke telinga.

"Moshi moshi, Kakashi-san? Ano, apa kau bisa menjemput kami?"

Terdengar suara dari seberang sana. "Ya, kalian dimana?" Tanya Kakashi dari seberang.

"Eh, Ano, aku tidak tahu. Bisa kau jemput kami di Konoha Amusement Park saja?"

"Oke!"

"Aku bilang agar Kakashi-san menjemput kita di Amusement park saja. Ayo kita kembali." Ajak Naruto pada yang lain sambil menggendong Sasuke.

Naruto mendapat kesulitan saat hendak menggendong Sasuke karena postur tubuhnya yang lebih kecil dari Sasuke.

"Biar aku saja?" Neji menawarkan diri.

"Terima kasih. Tapi, biar aku saja." Ujar Naruto menolak.

Mereka mulai berjalan menuju tempat yang sudah dijanjikan. Sepanjang perjalanan, Gaara terus saja memperhatikan wajah Naruto.

'Ternyata benar. Memang mirip. Apa memang benar-benar dia?' batin Gaara.

Sesampainya di Amusement Park, mereka langsung di hampiri oleh Sakura.

"Naruto-kun!" panggil Sakura.

"Ah, Sakura-san?"

"Kau ini kemana saja? Aku khawatir tahu! Kupikir kau mati setelah melompat!" ujarnya bertubi-tubi. "Eh? Sa-sasuke-kun? Ada apa? Kenapa tubuhnya?" lanjut Sakura.

"Ada insiden kecil." Jawab Neji.

"Kecil? Rasanya-"

"Sudahlah sakura-san." Sela Naruto.

"Baiklah. Oh ya! Emm… ano, Naruto-kun bisa bicara sebentar?" Tanya Sakura.

"Tapi aku-"

"Biar aku yang gendong" potong Neji sambil mengambil tubuh Sasuke dari gendongan Naruto.

"Jadi ada apa?" Tanya Naruto setelah mereka cukup jauh dari Neji dan yang lain.

"Suki da yo!" ucap Sakura.

"Are?"

"A-aku menyukaimu Naruto-kun! Kumohon jadilah pacarku!" ulangnya.

"E-eh… ano… etto…" Naruto tergagap. Ini adalah kali pertamanya dia di'tembak' oleh seorang gadis.

"Kumohon" ucap Sakura lagi.

"Bisa aku minta waktu untuk memikirkannya?" Tanya Naruto.

"E-eh, Ha'i." jawab Sakura.

"Arigatou." Balas Naruto berterima kasih.

"Naruto! Ayo!" panggil Neji. Rupanya Kakashi sudah datang.

"Maaf Sakura-san, aku tak bisa mengantarmu pulang. Apa tak apa?" tanya Naruto merasa tak enak pada Sakura.

"Daijoubu." Balas Sakura.

"Baiklah. Maaf ya? Jaa ne, Sakura-san." Naruto segera bergegas menuju mobil.

"Jaa~" jawab Sakura.

Naruto pun bergegas menuju mobil tuan mudanya.

'Naruto...' panggil Sakura dalam hati.

Gaara POV

Aku melihatnya bergegas menuju mobil. Naruto. Kuperhatikan lagi warna matanya. Biru. Berapa kalipun kupandang matanya tetap berwarna biru.

'Bukan ilusi.'

"Gaara, kau ingin ke rumah Sasuke dulu atau langsung pulang?" Tanya Neji padaku.

"Aku pulang saja. Ada yang ingin kulakukan." Jawabku singkat.

"Baiklah."

Aku diturunkan tepat di depan rumahku. Setelah turun dari mobil, aku segera berlari kedalam. Aku memacu langkahku menuju rak buku yang menyimpan foto-foto tua tanpa mempedulikan salam dari para pelayanku. Aku menarik satu album yang kuyakini memiliki umur yang sama denganku. Dengan tak sabar, aku membolak-balikkan lembaran pada album itu.

'Ini dia!'

Dengan kasar, kuambil foto itu dan membawanya ke kamar. Mencoba menyusun potongan puzzle yang berantakan. Aku membaringkan tubuhku di kasur empukku dan mencoba mengingat masa lalu.

Flashback

Normal POV

"Niichan! Onii-chan" panggil seorang bocah pirang yang berumur tak lebih dari empat tahun.

"Ada apa Naru-chan?" seorang anak lelaki berumur sekitar enam tahun menjawab panggilan sang bocah pirang.

"Gaara-nii, kita main yuk? Naru bosan terus-terusan di dalam rumah." ujar bocah pirang benama Naruto.

"Tapi Naru-chan, sebentar lagi 'kan tou-san dan kaa-san Niichan pulang? Sebaiknya kita tetap di rumah sampai mereka pulang." terang anak yang di panggil Gaara-nii oleh Naruto.

"Tapi Naru bosan... ayolah? Cuma sebentar kok Gaara-nii..." Naruto mulai merajuk.

"Baiklah." ujar Gaara mengalah.

Mereka berdua pun mulai bermain bersama tanpa ada yang kalau mereka sedang diawasi saat ini.

SREK!

"Niichan, sepertinya ada sesuatu di balik semak itu." ujar Naruto sambil menunjuk semak yang ia maksud.

Naruto mulai berjalan mendekati semak itu.

"Naru, jangan didekati! Bisa saja ada ular!" ucap Gaara khawatir atas keselamatan adik sepupunya ini.

"Tak apa kok Gaara-nii. Paling-paling anak kucing."

Naruto semakin dekat dengan semak tersebut. Tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh seorang pria yang memakai topeng setelah sebelumnya memukul tengkuk Naruto yang membuatnya tak sadarkan diri.

"Naru!" teriak Gaara.

"Lepaskan Naru! Lepaskan adikku!" raung Gaara murka.

Pria bertopeng tadi sama sekali tak membalas ucapan Gaara.

BUKK!

Tiba-tiba saja dunia serasa memudar bagi Gaara. Kesadarannya mulai menghilang.

"Naru..." erangnya sebelum sedetik kemudian kesadarannya hilang sepenuhnya.

Flashback Off.

"Aku ingat sekarang. Ternyata benar. Benar dia. Maafkan Niichan Naru. Kumohon maafkan Niichan. Gara-gara aku kau harus menderita selama belasan tahun. Maafkan Niichan." Ujar Gaara lirih menahan tangis.

Tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir ke pelipisnya. Ia terus merutuki diri sendiri dan menangis sampai akhirnya ia terbang ke alam mimpi.

"Maaf, Naru-chan." bisiknya sampai setelahnya jatuh dalam duni mimpi.

~Bersambung~

Nah, sekarang waktunya balas review! Yei! Yei! (tabur-tabur kerikil *ditendang*). Kali ini Kazu mau balas review dengan pembawa acara! Nah, pemwaba acara kali ini pembawa acaranya adalah Tachibana Kazuki! (readers: siapa tuh? Kazu T.: OC? mungkin bisa dibilang begitu?).

Takazawa Kazuki= Me

Tachibana Kazuki= Kazu

Kita mulai!

Kazu : dari Hayashibara Nao

Me : Terima kasih Reviewnya! Oke! Tuh, udah Kazu tulis 'kan? *nunjuk atas* Eh, emm... sepertinya NaruSasu.

Kazu : kok sepertinya? Kamu gimana sih?

Me : Bodo! Yang bikin fic ini 'kan Kazu! Lanjut!

Kazu : dari Micon

Me : udah Update nih! Lama nunggunya gak? Hehe

Kazu : dari Luciel Lucifer. Thank's koreksinya! Koreksi lagi ya chap ini?

Me : Hoi! Kenapa kamu yang jawab? Maaf ya, Neechan. Kazuki emang kurang ajar. *ngejitak kepala kazu* hehe. Oke! Kazu perhatiin lagi. RnR terus ya...

Kazu : dari Jelli Jelfish. Iya, ini- hmmpph! *di bekep Kazu*

Me : iya, nih. Udah dibalikin lagi. Ano, Kazu manggilnya apa nih? Kazu bingung.

Kazu : alah! Itumah karena lo nya aja yang gak punya otak!

Me : Kazuki? Kau mau kubunuh? *nyiapin kunai*

Kazu : Glekk! Lanjut. Dari Mechakucha no aoi neko

Me : Mecha-san! Oh iya... hehe Kazu ceroboh… thanks CnC-nya~

Kazu : terakhir, CCloveRuki.

Me : Iya tuh! Sasu kurang kerjaan! Wooo! *Chidori*. Oh, ya. Makasih ya! Tetep RnR ya~

Kazu : nah, udah semua! Intinya si Kazu sangat berterima kasih atas review kalian sampai dia bela-belain bergadang buat ngelanjutin fic ini. TERIMA KASIH *bungkuk*

Me : Makasih! *ikutan bungkuk* Kazu, ayo!

Kazu & Me : Review pleaseee~?