Chapter 4 Am I?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Paring : khusus cahapter ini SasuNaru.
Genre : Friendship? *kayaknya* Romance? *gak yakin* (dihajar)
Warning : OOC, Gaje, Abal, alur cepat, EYD hancur, typo, AU *mungkin-ditimpuk*
A/N : Yei! Kazu balik lagi membawakan chap 4~ Di cerita ini Kazu buat Sasu agak…. Gimana ya~? *plak* Cari tahu sendiri oke? *dibakar* Terima kasih bagi yang sudah me-review di chap 3. review lagi ya? *puppy eyes* Yosh langsung saja….!
HAPPY READING, MINNA~!
My Lord
By Takazawa Kazuki
'Bukan ilusi.'
"Aku ingat sekarang.".
"Maaf, Naru-chan." bisiknya
Chapter 4 Am I?
Naruto POV
Sudah lebih dari seminggu semenjak kejadian penculikan Botchama. Jasad duo penculik yang kubunuh itu pun sudah ditemukan. Hari-hari berjalan dengan normal. Ya, normal. Hanya saja, entah kenapa….
"Botchama, daijoubu?" tanyaku padanya.
"Hn." Jawabnya singkat.
Belakangan ini Botchama jadi lebih pendiam. Sebenarnya apa yang terjadi padanya sebelum aku datang? Apa beliau di ancam? Sebenarnya apa yang dikatakan duo abnormal itu sampai membuat Botchama-ku jadi pendiam?
"Botchama, kalau ada yang mengganggu pikiran anda bicaralah. I'm all ears." Ujarku mencoba meyakinkan
"Thanks. Tapi, aku belum mau menceritakannya. Bisa kau pergi sekarang? Aku ingin istirahat." tolaknya.
"Ha'i. Botchama."
Kami-sama, sebenarnya ada apa? Kelakuan tuan muda belakangan ini benar-benar membuat seluruh penghuni mansion ini khawatir.
"Bagaimana?" tanya Iruka-san. Dialah orang yang menyuruhku untuk menanyakan perihal ini pada Botchama.
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan lemah.
Ia menghela nafas. "Sebenarnya ada apa ya? Aku khawatir." Ujarnya lemah.
"Iruka-san, anda terlihat pucat. Lebih baik anda istirahat dulu. Masalah ini biar aku yang menanganinya sebagai butler tuan muda." Saranku padanya. Cukup masalah tuan muda saja yang membuat khawatir. Jangan ditambah dengan masalah kesehatan Iruka-san.
"Haah... Baiklah. Arigatou Naru-kun."
Iruka-san pun pergi meninggalkanku yang masih menatap sendu pintu kamar Tuan muda di depanku.
'Botchama...'
Sudahlah, lagi pula Botchama itu tipe keras kepala. Biarkan saja sampai bicara sendiri. Nah, lebih baik sekarang aku kembali ke kamar dan memikirkan jawaban pernyataan Sakura-san tempo hari. Tidak baik membuat seorang gadis menunggu terlalu lama.
CKLEK
Aku membuka pintu kamarku dan segera masuk. Aku membaringkan tubuhku diatas kasur empukku.
'Haah... bagaimana sebaiknya? Tolak atau...'
Memikirkan hal seperti ini benar-benar membuat kepalaku penat. Kupejamkan mataku perlahan. Menutup mata shappire-ku.
'Mungkin sebaiknya aku mendiskusikan ini pada Botchama. Siapa tahu beliau bisa membantu.' Aku pun terbang ke alam mimpi.
Sasuke POV
"Eng..."
Cahaya mentari pagi yang menyeruak mesuk ke kamarku memaksaku untuk bangun dan bersiap ke sekolah.
"Ohayou, Botchama. Anda ingin sarapan apa hari ini?" tanya seorang bocah lima belas tahun yang mengabdikan dirinya untukku. Naruto.
"Terserah." Jawabku singkat.
"Baiklah. Ini, seragam anda sudah saya siapkan. Saya akan menyiapkan sarapan anda sekarang. Permisi."
"Naruto.." bisikku. Aku yakin dia tak bisa mendengar suaraku.
"Ya?" ucapnya.
'Di-dia bisa mendengarnya? Itu 'kan hanya sebuah bisikan. Bahkan lebih pelan dari sebuah bisikan. Bagaimana-'
"Botchama?" panggilnya.
"Nothing. Kau boleh pergi." Kataku padanya agar dia segera meninggalkan kamarku.
"Baik. Permisi."
'Maaf, tapi aku belum siap mengatakannya. Aku takut jika itu kenyataan. Aku takut...'
Aku segera menuju ruang makan setelah memakai seragam khusus musim panasku. Ya, musim panas di mulai hari ini. Aku benci musim panas. Musim panas membuatku berkeringat dan itu menyebalkan.
"Ohayou." Sapaku pada Kakashi yang sedang asik membaca buku bersampul orange. Yah, tak perlu kusebutkan buku macam apa itu 'kan?
"Ng? Ohayou." Jawabnya tanpa memalingkan pandangannya dari buku itu.
'Dasar om-om mesum!' batinku.
"Ini sarapan anda." Ujar Naruto sambil menyodorkan piring berisi telur mata sapi dan roti panggang. Ah, tak lupa dia menaruh irisan tomat di piringku.
"Hn." Aku segera melahap sarapanku. Aku tak mau terlambat.
"Kami berangkat dulu. Ayo Naruto, Iruka."
Mobil yang dikendarai Iruka melesat menuju sekolahku dan Naruto. Sesampainya didepan gerbang sekolah Naruto segera membukakan pintu untukku. Kami pun berjalan beriringan menuju kelas. Oh, tak lupa para fansgirl-ku dan Naruto mengiringi kami dengan teriakan mereka.
'Hah... sepertinya aku tidak bisa berkonsentrasi hari ini. Semoga bel pulang segera berbunyi.' (A/N: baru juga masuk. Sasu payah! *chidori*)
Naruto POV
Seharian ini Botchama benar-benar tidak memperhatikan pelajaran selama di kelas. Bahkan ia sempat ditegur beberapa guru. Haah... Botchama makin mengkhawatirkan.
Ini adalah jam pelajaran terakhir sebelum semua murid diperbolehkan pulang. Biologi. Aku bingung kenapa pelajaran yang membuat -mayoritas- murid mengantuk ini malah ditaruh di jam akhir? Bukankah peminatnya tambah sedikit? Perhatikan saja, tigaperempat dari jumlah murid di kelasku tertidur. Bahkan Botchama pun tertidur.
"Nah, cukup segini dulu. Kalian baru boleh keluar setelah bel berbunyi. Sensei permisi dulu." Ujar Asuma-sensei dan meninggalkan kelas.
'Ada apa? Tumben sekali?'
Setelah Asuma-sensei keluar, Sabaku noTemari sang ketua kelas dan saudara Gaara maju ke depan kelas.
"Ini dia." Ujar Botchama.
'Are? Ini dia apanya?'
"Botchama, anda sudah bangun?"
"Hn."
"Ano, apa yang anda maksud dengan 'ini dia'"? tanyaku
"Neraka. Festival Budaya."jawabnya.
'Festival budaya? Apa itu?'
"Itu apa, Botchama?" tanyaku padanya.
"Sudahlah. Kau lihat saja sendiri." Katanya lalu kembali membaringkan kepalanya diatas meja.
"Teman-teman, seperti yang kalian ketahui. Sebentar lagi akan di adakan festival budaya. Karena itu, aku ingin salah satu dari kalian menjadi panitia. Mengerti?" dia memberi penekanan pada kata 'mengerti'.
Tak ada yang mengangkat tangannya termasuk aku. Kalau aku tahu apa itu festival budaya, aku pasti sudah mengangkat tanganku. Sayangnya...
"Hah... sudah kuduga karena itu aku akan menunjuk salah seorang dari kalian." Ujarnya lagi.
"Ng... Ng... ah, Uchiha-san. Selamat kau terpilih." Lanjutnya.
Tuan muda tidak mengengkat kepalanya sama sekali. Sepertinya dia tak mendengar ucapan Sabaku-san.
"Kau adalah panitia festival budaya tahun ini. UCHIHA-SAN!" ucap Sabaku-san sedikit berteriak.
Sontak, Botchama langsung mengangkat kepalanya dan berteriak, "APAAAA?"
'Apa segitu tidak enaknya kah menjadi panitia?'
"Sabaku-san, biar aku saja yang mengantikan Botchama." Ujarku dambil mengangkat tangan
."Kau beruntung sekali mendapat pelayan setia seperti dia. Ya 'kan? Tapi, kau tidak bisa lari kali ini, Uchiha-san! Ah, tapi kau boleh memilih Namikaze-kun sebagai wakilmu. Jadi, silahkan." Ujar Sabaku-san lalu kembali ketempat duduknya.
"Tch, ayo Naruto kita kedepan." Ujar Botchama padaku.
"Nah, kalian memangnya mau buat stand apa?" tanya Botchama pada seluruh isi kelas dengan nada dingin dan datar.
'Sebaiknya kuambil alih.'
"Konnichiwa minna-san. Seperti yang sudah di terangkan oleh Sabaku-san, akan di adakan festival budaya. Jadi kalian ingin membuat stand apa?" ujarku sopan dan tak lupa senyum bisnisku.
"Maid Cafe!" ujar salah seorang siswi yang kurasa bernama Yamanaka Ino.
"Bagaimana kalau Rumah Hantu?" saran yang lain.
"Bunny Cafe saja!" susul yang lain
"Drama lebih bagus!" ujar yang lain tak mau kalah.
"Tulis saran mereka di papan tulis" bisik Botchama.
"Sebenarnya festival budaya itu apa sih, Botchama?" balasku berbisik.
"Intinya, nanti setiap kelas membangun stand untuk menghibur pengunjung yang datang ke sekolah ini." Terangnya asal.
"Baiklah. Ada lagi?" tanyaku pada isi kelas.
Sakura-san mengangkat tangannya.
"Ya, Sakura-san?" tanyaku padanya.
"Bagaimana kalau kita membuat 'Host Club'? Bukankah lebih dari setengah 'pangeran' KHS ada dikelas ini? Pasti akan laku keras!" ujarnya semangat.
"Benar juga ya?"
"Iya"
"Benar"
"Oke! Kami semua sepakat! Host Club!" ujar seluruh isi kelas kompak.
.
.
"Hah... akhirnya selesai juga rapatnya. Kenapa harus aku yang jadi panitia sih?" ujar Botchama kesal.
"Sudahlah Botchama, tak ada ruginya juga 'kan? Menurutku sih, ini menyenangkan" balasku pada Botchama. 'Karena dengan begini, aku bisa menjalani hidup normal.' Tambahku dalam hati.
"Ya..ya.. whatever ." sahutnya malas.
Aku hanya tersenyum menghadapi tuan mudaku yang satu ini.
"Ah ya."
"Ng? Ada apa?" tanyanya.
"Ano, ada yang ingin kudiskusikan dengan anda, Botchama." Jawabku ragu-ragu.
"Apa? Bicara saja." Katanya.
"Mm... ano... etto... sebenarnya, itu..."
"Bicara yang jelas!" bentaknya.
"Ha'i Botchama!" balasku kaget.
"Eh, itu Sa-sakura-san... Me-menyatakan cinta padaku.." kataku akhirnya.
"Hoo... Lalu?" balasnya tak tertarik.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku.
"Itu semua tergantung perasaanmu sendiri. Kau suka padanya atau tidak?" jawabnya santai.
"Suka? Maksudnya cinta?" tanyaku lagi.
"Ya, semacam itulah... Eh, jangan bilang kalau kau tak tahu apa itu cinta dan kasih sayang?" tanyanya padaku.
Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukkan kecil. "Ya Botchama. Aku... tak tahu apa itu cinta. Aku yang tak pernah merasakan kehangatan keluarga dan seorang pembunuh ini mana mungkin merasakan 'sesuatu' yang biasa disebut... 'kasih sayang'. Kalu tahu aku pasti tak akan membunuh kan? Hahahahaha " aku tertawa untuk menghilangkan rasa sakit di dadaku.
Sebenarnya aku tak tahu pastinya, orangtuaku meninggal saat aku lahir atau mereka membuangku. Para anggota Akatsuki tak pernah memberi tahukanku apapun mengenai orangtuaku atau apapun yang berhubungan dengan 'keluarga'. Aku di didik keras oleh mereka. Makanya, aku tak tahu yang namanya 'kasih sayang' dan 'cinta'. Aku yang dibesarkan dalam dunia yang kelam dan kejam, hidup dengan mencabut nyawa orang lain tak mungkin diberi cinta 'kan?
Mereka selalu berkata 'Seorang pembunuh sepertimu tak membutuhkan sesuatu yang disebut cinta dan kasih sayang. Kau harus ingat itu. Tak ada yang mencintai seorang iblis sepertimu dengan tulus."
Ukh! Kepalaku sakit kalau mengingatnya. Apa itu benar? Apa benar tak akan ada yang menyayangiku? Kenapa aku? Kenapa hanya aku yang tak pantas mendapatkan kasih sayang? Aku... ingin seseorang menyayangiku... Siapa saja boleh. Meski hanya seorang, aku pasti akan bahagia karena ia dengan senang hati menerimaku apa adanya. Menyayangiku. Selalu ada untukku.
Sasuke POV
"... hahahahaha" Ia tertawa. Pelayanku, Naruto. Pelayanku yang tak tahu apa itu cinta dan kasih sayang. Tawanya terdengar seperti tangisan di kepalaku.
Tanpa sadar aku memeluknya, membenamkan wajah mungilnya dalam dekapanku. Aku merasakan tubuhnya menegang.
'Apa ini juga pertama kalinya ia dipeluk seseorang?'
"Bo-Botchama?" ucapnya tergagap.
"Baka! Kenapa kau tidak bilang dari dulu? Bilang saja padaku kalau kau membutuhkan kasih sayang! Kenapa tidak pernah mengatakannya? Aku ini 'kan tuanmu!" ujarku.
Ada berbagai perasaan berkecambuk dalam hatiku. Ada rasa kecewa karena ia tak pernah menceritakannya padaku, rasa sedih saat mendengar ucapannya, rasa sakit seakan aku merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Semua bercampur jadi satu.
"Ano... Botchama?" panggilnya.
"Apa?"
"Apa ini yang di sebut 'peluk'?" tanyanya. Perkiraanku benar. Aku tak tahu kalau pelayanku adalah orang yang haus akan kasih sayang.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Hangat." Ucapnya. "Apa rasanya seperti ini saat tubuh kita dipeluk oleh seorang ibu?" tanyanya lagi.
"Ya."
"Pasti menyenangkan." Ujarnya.
"Kau ingin mendapatkan kasih sayang 'kan?" tanyaku padanya.
"Eh?"
"Kalau begitu, kau boleh menganggapku sebagai 'kakak'. Bagaimana?:" tawarku.
Ia melepaskan pelukanku, mengadahkan wajahnya menghadapku.
"Tak mungkin. Kau adalah tuanku, majikanku, pemilikku. Aku hanyalah anjingmu. Aku tak pantas untuk itu." Jawabnya.
A-apa? Kenapa dia memiliki pikiran seperti itu? Umurnya masih lima belas tahun 'kan?
"Mungkin saja!" balasku tak mau kalah.
"Datte-"
"Urusai! Memangnya kau mau selamanya tak mengerti arti cinta dan kasih sayang?" potongku.
"Tapi, tetap saja-" sanggahnya lagi.
"Segitu tidak inginnya kah aku menjadi kakakmu?" tanyaku lirih. Ini adalah siasatku, kalau begini dia pasti luluh.
"E-eh... bukan begitu... ano..." ujarnya tergagap.
'Berhasil!'
"Berarti kau mau!" kataku meyakinkannya.
"Eh? Mungkin..." ujarnya ragu.
"Ok! Mulai sekarang, kalau kau ingin merasakan kasih sayang bilang saja." Perintahku padanya.
"Hehehe... Ha'i, Oniichan." Ujarnya dengan sorot mata bahagia.
"Oh ya, jadi masalah Sakura-san bagaimana?" tanyanya.
"Hn? Sudah kubilang 'kan? Itu tergantung kau." Jawabku malas.
"Kalau begitu kutolak saja. Aku akan memintanya jadi sahabatku dan mengajariku tentang kasih sayang. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang menyayangiku." Ucapnya polos.
'Baka! Kalau pacaran 'kan dia juga akan mendapat kasih sayang! Hah... terserah dia sajalah.'
"Hn. Ikuzo, Naruto" kami berjalan beriringan menuju parkir mobil, tempat Iruka menunggu.
~0o0~
Sakura POV
"Sakura-san, saat istirahat nanti maukah kau datang ke atap? Ada yang ingin kusampaikan. Aku akan menjawab pernyataanmu tempo hari."
Begitulah katanya dan disinilah aku, atap sekolah. Menunggu kedatangan pengeran yang kukencani dua minggu lalu.
CKLEK
Aku mendengar pintu menuju atap dibuka, aku segera membalikkan badanku untuk menghadap pangeran pujaanku.
"Maaf membuatmu menunggu Sakura-san." Ujarnya ramah.
"Tak apa." Jawabku singkat.
Jantungku berdebar tidak keruan. Aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Penerimaan atau malah penolakan?
"Aku cuma mau bilang kalau aku juga menyukai Sakura-san. Makanya, kita berteman ya?" ujarnya polos.
Hancut sudah. Aku 'kan menyatakan cinta agar dia menjadi pacarku! Bukan temanku!
"Ano, Naruto-kun tapi... aku menyatakan cinta untuk-"
"Aku tahu, pacar 'kan?" potongnya
"Aku tahu Sakura-san. Tapi, saat ini aku belum begitu mengerti arti kata 'cinta'. Makanya, kita berteman saja dulu. Ajari aku tentang kasih sayang. Jika aku sudah mengerti, aku akan menjawab pernyataan Sakura-san dengan tegas." Lanjutnya.
Dia tersenyum. Senyum yang berbeda dari yang selama ini kulihat. Senyuman itu terlihat-err- hangat? Juga ada ketulusan tersirat didalamnya.
"Aku mengerti. Baiklah, aku terima. Mulai sekarang aku akan mengajarimu tentang kasih sayang!" aku mengatakannya dengan nada riang. Karena aku tahu, itu bukan alasan untuk menolakku. Itu tulus.
"Hontou? Arigatou, Sakura-san!" matanya berbinar. Ia terlihat sangat senang, seperti seorang anak yang habis dipeluk oleh ibunya.
"Hihihihi... kau kekanakan sekali. Memangnya umurmu berapa?" tanyaku iseng.
"Eh, lima belas tahun."
WUUUSH
"E-eh, maaf. Aku tidak dengar." Aku ingin memastikan pendengaranku.
"Lima belas, Sakura-san." Ulangnya.
Aku merasa seperti tersambar petir. 'Li-lima belas? Aku tak tahu! Tunggu, kalau masih lima belas kenapa-'
"Lalu kenapa kau ada di tingkat 3?" tanyaku.
"Itu keputusan kepala sekolah. Katanya sayang bakatku tersia-sia kan." Ucapnya datar.
"Be-berapa nilaimu saat masuk kesini?" tanyaku lagi.
"Jumlahnya... 600" ujarnya tanpa dosa.
'Nilai sempurna? Haah... selain tampan, baik, ramah ternyata dia juga jenius. Meski umurnya lebih muda dariku... tak apa 'kan kalau menyukainya?'
"Kalu begitu aku permisi dulu, Sakura-san. Botchama menungguku di kantin. Jaa." Ujarnya berlalu. Meninggalkanku yang masih asik dengan alam khayalku sendiri.
=-=-=-=Kantin Sekolah=-=-=-=
Naruto POV
"Bagaimana?" tanya Botchama padaku.
"Dia bilang tak apa." Jawabku sambil tersenyum.
"Syukurlah." Ujarnya tersenyum.
"Ya."
Syukurlah, sekarang bertambah satu orang lagi yang menyayangiku. Semoga semakin hari, semakin banyak yang sayang padaku.
~0o0~
Normal POV
"Silahkan. Mari, saya antar ke meja anda, Oujo-sama." Ujar Naruto ramah menuntun para tamu.
"Silahkan pilih Host yang anda inginkan." Ujar Naruto lagi sambil menyodorkan buku yang terlihat seperti daftar menu restoran. Hanya saja isinya mukan daftar makanan tapi daftar para pria Host yang disajikan di Club ini.
"Jika sudah menentukan silahkan panggil saya lagi. Saya permisi dulu." Lanjut Naruto lalu meninggalkan gadis-gadis yang tadi ia tuntun.
Naruto berjalan menuju belakang kelas. Terdapat sekat disana yang membatasi tempat para tamu dan tempat para Host beristirahat. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan penuh nafsu dari wanita segala umur. Mulai dari para gadis seumurannya, tante-tante, nenek-nenek, bahkan banci pun ada.
"Fuuh..." Naruto menghela nafas.
"Kau lelah ya? Ini minumlah." Ujar Sakura sambil menyodorkan segelas orange juice.
"Arigatou. Ano, mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu dengan 'Sakura-chan'?" tanya Naruto hati-hati.
Wajah Sakura bersemu merah. "Ti-tidak apa. Ke-kenapa bertanya dulu?" tanyanya balik.
"Karena, kupikir kalau langsung kupanggil begitu kau akan marah." Jawab Naruto.
"Baka! Tak mungkin 'kan? Aku 'kan menyukaimu!" ujar Sakura. Pipinya makin merah.
Kali ini giliran Naruto yang merona setelah mendengar ucapan Sakura. "A-arigatou." Ujarnya tergagap.
"Hinata, apa tak apa tuh? Kau suka Naruto 'kan?" tanya Tenten pada Hinata.
"E-eh? Ta-tak apa kok. I-itu 'kan hak Naruto-kun ingin dekat dengan siapa." Jawab Hinata gagap.
"Haah... kau ini. Kau terlalu baik Hinata! Tapi, kau cemburu 'kan?" goda Tenten.
"Te-tenten! A-apa-apaan sih?" balas Hinata merona. Ia lalu kembali memandangi Naruto yang mulai beranjak dari tempatnya untuk menghibur para tamu tanpa menggunakan cara murahan.
'Ganbatte, Naruto-kun.' Ujar Hinata dalam hati. Ia pun beranjak dari tempat itu.
Naruto melihat seseoarang mengangkat tangannya, isyarat agar ia menghampirinya.
"Ya, nona?" tanya Naruto ramah.
Gadis itu bersemu. "A-aku memilihmu saja sebagai Host-ku." Ujarnya malu-malu.
"Ya." Naruto tersenyum ramah dan mulai bercengkrama dengan tamunya ini.
Sakura POV
'Ikh... apa-apaan sih cewek itu? Gak usah sok manja pada Naruto-kun! Menjijikkan!'
Aku sebal melihat ada cewek lain yang dekat-dekat dengan Naruto-kun. Yah, meskipun aku belum resmi jadi pacarnya... bolehkan kalau aku cemburu?
Aku melihat cewek itu makin manja pada Naruto. Ia mulai menyender manja pada Naruto. Naruto yang diperlakukan begitu juga terlihat santai-santai saja. Membuatku makin terbakar api cemburu.
'Dasar polos! Polos! Terlalu polos!' batinku kesal.
'Terserahlah aku tak peduli!'
"Sakura!" Tiba-tiba saja ada suara yang membuyarkan lamunanku.
"Ino? Ada apa?" tanyaku malas.
"Tak apa. Hanya menyapa saja. Eh, ngomong-ngomong kayaknya Host kelas kita yang paling laku itu Naruto ya?" ujarnya.
'Memang benar, sejak tadi para tamu itu pasti memesan Naruto-kun. Mungkin sekitar separuh dari para tamu itu memesan Naruto-kun, seperempatnya memesan Sasuke-kun, sisanya untuk Neji-kun dan Gaara-kun.'
"Apa mungkin Naruto yang akan jadi Pangeran tahun ini ya?" Ino melanjutkan kata-katanya.
"Mungkin." Balasku seadanya. 'Dan aku harus menjadi Tuan Putrinya!' lanjutku dalam hati.
~0o0~
Naruto POV
"Terima kasih. Sampai jumpa lagi." Ujarku berusaha seramah mungkin pada tamuku.
Tamuku melambaikan tangan padaku, aku pun membalas lambaian tangannya. Selesai sudah. Tugasku sudah selesai. Sebentar lagi festival budaya akan ditutup dan hampir semua kelas sudah menutup stand-nya. Kelas kami pun memutuskan untuk segera menutup stand Host Club kami.
"Haah... merepotkan! Kenapa sih perempuan-perempuan itu cerewet banget?" ujar Tuan Mudaku penuh emosi.
Aku hanya bisa sweatdrop melihatnya. Aku sudah mulai biasa dengan sifat Tuan Mudaku ini.
"Hei, Naruto! Kau sudah dapat pasangan untuk pesta dansa nanti?" tanya Botchama padaku.
"Ng? Ada pesta dansa ya? Saya tidak tahu menahu mengenai hal ini." Jawabku jujur.
"Jadi belum ya? Kita kabur saja yuk?" ajak Botchama antusias.
"Kabur?" aku membeo.
"Ya, memangnya kau mau seharian penuh dikerubungi para gadis-gadis bawel itu? Huh! Cukup yang tadi saja!" ucapnya dengan nada kesal tentunya.
"Baikla-"
"Naruto-kun?" panggil seseorang dari belakangku. Dari suaranya aku bisa memastikan kalau pemilik suara ini adalah perempuan.
"Eh? Ah, Hyuuga-san. Ada apa?" tanyaku sopan.
"A-ano, i-itu... A-apa Na-naruto-kun sudah memiliki pa-pasangan untuk pe-pesta dansa nanti?" tanyanya tergagap.
'Dia gugup? Kenapa gugup?'
"Belum. Kenapa?"
"E-eh... a-ano, ma-maukah kau be-berpasangan denganku?" ajaknya.
"Aku mau, hanya saja Botchama menyuruhku untuk segera pulang besamanya." Jawabku datar.
"So-sou ka. Ma-maaf. Aku permisi dulu." Ujarnya dengan wajah merah padam ia pun berbalik hendak meninggalkan tempat ini.
"Tunggu!" panggil Botchama padanya.
'Eh? Botchama?'
"Kau ingin Naruto jadi pasanganmu?" tanya Botchama pada Hyuuga-san.
"E-eh... i-iya. Ta-tapi ka-kalau tidak bisa juga tidak a-apa kok." Jawab Hyuuga-san.
"Haah... apa boleh buat. Naruto, kau datang saja ke pesta dansa itu." Perintah Botchama padaku.
"Tapi, Botchama. Bagaimana dengan anda? Saya tidak akan meninggalkan anda tanpa pengawasan lagi." Ujarku tegas. Aku tak ingin penculikan serupa terjadi lagi.
"Aku juga ikut. Tenang saja." Balasnya santai.
"Hihihi... ternyata Tuan Mudaku orang yang peduli ya?" godaku pada Botchama.
"U-urusai! Siap-siap saja sana!" ujarnya sambil meninggalkan tempat ini.
'Malu disebut peduli ya?'
"Hyuuga-san, boleh kutinggal sebentar? Aku ingin bersiap untuk dansa kita nanti." Kataku padanya.
"Si-silahkan. A-ano, kalau tidak keberatan, apa Naruto-kun bisa memanggilku dengan Hinata saja?" pintanya. Dia mendongakkan kepalanya agar aku bisa melihatnya.
DEG!
'Ma-manisnya.' Pipiku memanas. Sepertinya aku merona.
"Ba-baiklah. Boleh kupanggil Hina-chan?" tanyaku.
'Bodoh! Kau lancang! Masa' langsung sok dekat dengan panggilan seperti itu? Baka! Baka!'
"Ma-maaf aku-"
"Tak apa. Aku malah senang sekali." Potongnya. Dia menatapku dengan mata lavendernya, ada semburat merah di pipinya. Membuatnya tampak lebih manis.
Aku makin merona, "A-arigatou." Ucapku gugup.
"Ka-kalau begitu aku juga permisi dulu. Sampai jumpa di Aula." Ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkanku.
Normal POV
Seorang gadis berambut pink mencolok berlari sepanjang koridor. Dari wajahnya bisa ditebak kalau ia sedang mencari seseorang.
'Itu dia!' batin gadis itu.
"Naruto-kun!" panggilnya pada seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Sakura-chan? Ada apa?" ujar sang pria yang dipanggil Naruto dan berjalan mendekati sang gadis.
"Begini, aku ingin berpasangan denganmu di pesta dansa nanti. Kau mau 'kan?" tanya sang gadis to the point.
"Maaf Sakura-chan. Tapi, saya sudah lebih dulu berjanji dengan Hyuuga-san." Jawab sang pria a.k.a Naruto datar.
"Eeeeh... nande? Sudah, lupakan saja janjimu dengannya. Lebih baik pergi denganku saja." Ujar Sakura manja.
"Maaf. Tapi saya bukan tipe pria yang suka mengingkari janji. Terlebih lagi pada seorang gadis." Ujar Naruto dingin. Ia kembali menggunakan panggilan formal, pertanda kalu dia benar-benar kesal.
"Saya tidak suka dengan sikap anda yang seperti ini, Sakura-san. Hal seperti ini bukanlah hal yang disebut 'kehangatan'. Bukankah begitu, Sakura-san." Lanjut Naruto.
Sakura menundukkan kepalanya, "Maaf, tapi aku ingin Naruto-kun jadi pasanganku. Itu saja." Terdapat nada sedih dan menyesal dalam suaranya.
"Tak apa. Aku hanya tak suka dengan caramu. Aku juga minta maaf karena telah bicara dingin padamu, Sakura-chan!" ujar Naruto kembali pada panggilan santai.
Sakura mendongakkan kepalanya, ia melihat wajah pria yang dicintainya memasang senyum yang hangat. Ia jadi tak enak sendiri karena sudah bersikap kekanakan.
"Huh! Baiklah! Tapi, lain kali aku tak akan kalah cepat lagi! Nikmati pesta dansanya ya!" ujarnya sambil berlalu.
"Jaa ne, Sakura-chan!" ujar Naruto dan pergi dari tempatnya semula. Pergi menuju aula sekolah untuk menemui gadis yang akan berdansa dengannya.
"Hina-chan, maaf membuatmu menunggu." Sapanya sopan.
"Tak apa. Naruto-kun. Kau co-cocok sekali dengan setelan jas itu." Puji Hinata malu-malu.
"Arigatou, Botchama yang memberikannya padaku." Kata Naruto berterima kasih atas pujian yang ia dapat.
"Anda sendiri juga sangat manis dengan gaun itu, Hina-chan." Puji Naruto.
Hinata hanya merona mendapat pujian Naruto. Pria pujaannya.
"Mari, Oujo-sama." Ajak Naruto mengulirkan tangannya, mengajak Hinata untuk berdansa.
Hinata menerima uluran tangan Naruto. Mereka pun mulai berdansa.
~#sementara itu sasuke#~
Sasuke POV
"Kyaaaaaa~"
"Kyaaaa~"
"Kerennya~"
"Dansa denganku yuk~?"
'Bawel! Aku 'kan sudah bilanga tidak!"
"Maaf nona-nona. Bukankah saya sudah bilang? Saya. Tidak. Tertarik." Aku memberikan penekanaan pada tiap kata dalam kalimat tertakhirku.
"Jangan gitu dong~"
"Iya, buat apa ke pesta dansa kalau tidak berdansa?"
'Suka-suka aku dong! Mau dansa, mau tidak. Terserah padaku!'
"Tch. Pergi!" ujarku galak agar mereka pergi.
"Kyaaa~ makin keren!"
"Kakkoi~"
"Kyaaaa~"
Putus asa. Aku mengambil ponselku dari kantong. Hendak menghubungi Naruto dan memintanya agar segera menyelesaikan dansanya dan segera pulang.
Aku mendengar suaranya di seberang sana, "Ha'i, Botchama?"
"Kita pulang!" ujarku tegas.
"Wakatta." Jawabnya tenang.
Huh! Kau patuh sekali ya? Aku senang sekali bisa memiliki Butler sepertimu.
Baru saja aku menutup telpon dan memesukkannya ke dalam saku, butler-ku Naruto muncul di sampingku.
"Botchama, mari kita pulang." Ucapnya sopan.
"Wuah! Ka-kapan kau datang?"
"Baru saja, kok." Ujarnya santai.
Apa dia tahu? Kalau saja aku punya penyakit jantung, mungkin aku sudah tak bernapas saat ini.
'Haah... dia ini... dia manusia bukan sih?'
"Ayo." Aku berjalan mendahuluinya. Dia mengikutiku dengan patuh di belakangku. Sungguh tipikal anjing yang patuh.
"Sasuke, bisa kita bicara sebentar sebelum kau pulang?" panggil seseorang, mengganggu khayalanku.
Aku menengok kebelakang, sumber suara tadi. "Oh, Gaara ya? Kenapa, cepat bicara aku mau pulang." Balasku malas.
"Bisa bicara di tempat lain?" pintanya sopan.
"Baiklah... Naruto, tunggu saja disini." Perintahku pada Naruto.
"Jadi kenapa?" tanyaku setelah kami memasuki salah satu ruang kelas umtuk tempat bicara.
"Dari mana kau menemukannya?" tanyanya datar.
"Hah?" aku tak mengerti maksudnya. Lagi pula yang dia maksud siapa?
"Naruto. Namikaze Naruto." Jelasnya. Tampaknya dia mengerti maksud pandanganku.
"Memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu? Dia butler-ku. Tak akan kuberikan pada siapa pun. Bahkan padamu, sahabatku sendiri, Gaara." Ujarku tegas.
"Apa benar namanya Namikaze?" tanyanya lagi.
"Kalau iya kenapa?" tanyaku balik dengan sewot.
"Apa dia pernah sekali saja menceritakan masa lalunya?" dia bertanya lagi.
'Apa sih sebenarnya yang dia maksud? Mau apa sih dia?'
"Kau tak perlu tahu!" jawabku kasar dan berbalik hendak keluar.
Aku merasa ada yang menarik pergelangan tanganku. Aku berbalik. Aku sudah tahu siapa yang menarik tanganku. Jelas saja, 'kan Cuma ada aku dan Gaara dalam kelas ini.
"Sudah kubilang! Itu bukan uru-"
"Kumohon?" potongnya. Mata benar-benar memancarkan cahaya sebuah permohonan.
Aku luluh juga. Karena ini adalah pertama kalinya Gaara berwajah seperti itu.
"Mm... pernah. Tapi hanya dari umur enam tahun. Kalau umur-umur sebelumnya dia tak pernah cerita." Terangku pada Gaara.
Kulihat Gaara membelalakkan matanya.
"Ternyata benar. Benar dia. Yokatta. Yokatta. Yokat... hiks...hiks..." dia mulai menangis.
"O-oi! Ka-kau kenapa? Sebenarnya ada apa?" tanyaku bingung.
'Kenapa tiba-tiba saja Gaara menangis?'
"Dia, Naruto. Namikaze Naruto. Dia sepupuku yang hilang sebelas tahun lalu." Jawabnya setelah bisa mengendalikan tangisnya.
'Se-sepupunya?'
"Ka-kau bercanda?" tanyaku kasar.
"Tidak. Aku serius. Dia adalah orang yang selama ini kucari." Jawabnya yakin.
"Ja-jadi, yang kaucari selama ini..."
"Benar. Dia. Naru-chan adikku yang manis."
Aku tak percaya dengan pendengaranku. Orang yang selama ini kubantu cari keberadaannya untuk Gaara adalah butler –ku sendiri? Jadi, mereka keluarga? Syukurlah. Tapi tunggu! Apa Gaara akan-
"Boleh aku memintanya? Adikku tersayang, Naruto."
"Eh?"
~Bersambung~
Hehehe... gimana? Bagus gak? *Ngaak!
Abal ya? *iya!*
Aneh ya? *Banget*
Hiks... hiks... gak perlu sejujur itu kan? Kazu sedih nih... *dilempar sendal*
Kali ini gak ada bales-bales review karena udah Kazu bales lewat PM. Kalo yang belum dibales maaf ya? Kazu kan sibuk... *Plak*
Nah, Kazu sudahi dulu.
Jaa~
Jangan lupa review ya~ ^^
