Chapter 5 Don't ever leave
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Paring : SasuNaru lagi.^^; *dirajam* mungkin untuk kedepannya akan SasuNaru terus
Genre : Romance and Friendship
Warning : OOC, abal, gaje, typo(s), EYD hancur, AU
A/N : Maaf kalau Kazu lama Up Date…. Habis, Kazu lagi kena WB sih... *alasan-dikeroyok* dan Maaf juga karena seenaknya ganti pairnya... *Dibakar readers* haah... sudahlah dari pada Kazu makin disiksa karena banyak omong... mending langsung aja... oh ya, maaf kalau isi chapter ini nggak seperti yang kalian harapkan! Hontou ni gomenasai! Yah pokoknya DON'T LIKE DON'T READ, lah.
HAPPY READING MINNA-SAN~
Flashback:
"Ja-jadi, yang kaucari selama ini..."
"Banar. Boleh aku memintanya? Adikku tersayang, Naruto."
"Eh?"
Chapter 5 Don't ever leave
Sasuke POV
"Me-memintanya? Apa maksudmu?" tanyaku pada Gaara.
'Apa benar Naruto itu adik sepupunya yang katanya hilang karena diculik itu? Aku masih tidak percaya!'
"Ya, memintanya. Karena sekarang ini dia butler-mu 'kan? Itu berarti bisa dibilang saat ini dia adalah anjing-mu. Milikmu seorang. Karena itu, 'memintanya' adalah hal yang tepat bukan?" ujarnya kembali datar dengan topeng stoic-nya.
"Tidak! Tidak boleh! Dia milikku! MILIKKU!"
Aku tak mau kehilangannya. Entah kenapa, rasanya berat sekali untuk melepasnya. Padahal, selama ini aku tak pernah peduli pada pelayan-pelayanku yang dulu, meski mereka mati sekalipun.
"Kumohon Sasuke. Kau ingin dia bahagia 'kan?" pintanya lagi.
"Tidak! Kubilang tidak! Dia butler-ku yang berharga! Takkan kuberikan!" setelah mengatakannya, aku berlari. Berusaha lari dari rasa berat yang hinggap di hati.
'Kenapa? Kenapa rasanya berat? Kenapa berat hanya untuk melepas Naruto?'
Aku terus berlari, berlari tanpa mempedulikan sekitarku. Aku mempercepat langkahku. Tak peduli jika akan ada yang kutabrak.
BRUK
Aku merasakan tubuhku menabrak seseorang. Aku terhuyung, aku hampir jatuh terduduk jika orang yang kutabrak tadi tidak menarik tanganku agar berdiri lagi.
"Botchama, ada apa? Anda terlihat kacau." Tanya orang yang kutabrak dan ternyata adalah pelayanku, Naruto.
"Ka-kau. Apa kau akan meninggalkanku?" tanyaku padanya.
'Apa yang dikatakan dua orang itu benar? Apa benar tak ada yang akan perduli denganku? Semua akan melupakan ku? Meninggalkan ku dalam dinginnya neraka kesendirian? Tidak! Aku tidak mau! Tidak mau!'
"Apa maksud anda, Botchama?" tanyanya balik. Sepertinya ia bingung kenapa tiba-tiba saja aku menanyakan hal ini.
"Mi-misal, jika ternyata kau masih memiliki keluarga dan mereka mengajakmu untuk tinggal bersama mereka dan meninggalkanku. Mana yang akan kau pilih, tetap dengan ku atau pergi dari ku untuk bersama mereka?" tanyaku lagi.
"Maksud Botchama apa? Apa Botchama tahu siapa keluargaku? Bisakah Botchama memberitahukan ku?" pintanya.
"Kalau kuberitahu apa kau akan meninggalkanku? Meninggalkanku sendirian?"
Sakit. Rasanya sakit jika membanyangkan dia akan pergi dari sisiku. Pergi meninggalkan aku sendiri dalam duniaku yang gelap.
Seolah tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranku, ia tersenyum lembut.
"Tidak kok."
"Eh?"
"Tidak. Aku tak akan meninggalkanmu sendiri, Botchama. Karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Berat sekali. Karena itu aku tak akan meninggalkanmu." Ujarnya lembut.
"Benarkah? Tapi, mereka keluargamu." Tanyaku meyakinkan.
"Ya, memang benar mereka keluargaku. Tapi, bukankah Botchama sendiri adalah keluargaku?"
'Aku? Keluarganya? Aku 'kan tidak punya hubungan darah dengannya.'
Seakan tahu apa yang kupikirkan dia berkata, "Mungkin kita tidak memiliki hubungan darah. Tapi, bukankah Botchama bilang kalau kau adalah kakakku dan aku adalah adikmu?"
Itu 'kan... Hhh~ aku memang bodoh. Aku yang mengatakannya tapi aku yang melupakannya. Dia ini... fuuh~
"Ahaha... kau benar. Jadi, kau tak akan pergi 'kan?"
"Tentu saja, Oniichan!" ujarnya dengan suara kekanakan.
Su-suaranya, lu-lucu sekali!
"Mmphh... hahahahaha jadi itu suara aslimu ya?" tanyaku disela tawaku.
"Eh? Ja-jangan tertawa!" teriaknya dengan wajah merona. Dia menggembukan pipinya seperti yang biasa dilakukan anak kecil saat merajuk.
"Mmphh... hu..hu...hu..." sulit sekali mengendalikan diri. Wajahnya itu... aduh... aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak!
"Tuan Muda, sikapmu sama sekali tidak mencerminkan seorang dengan derajat tinggi." Ujarnya kembali dengan suara tegasnya.
"Hei, kalau bicara dengan Aniki-mu ini gunakan suara aslimu saja ya!" ujarku sambil mengelus kepalanya.
"Bo-botchama! Rambutku! Huh! Jadi berantakan 'kan! Padahal susah sekali mengatur rambutku!" ia memajukan bibir bawahnya.
"Bagus. Bagus. Ini baru adikku!" godaku
"Botchama!" teriaknya sambil berusaha menjauhkan tanganku dari kepalanya.
"Ahahahahaha"
"Huuh! Lebih baik kita segera pulang. Tidak baik pulang terlalu malam." Ujarnya mengintrupsi tawaku.
"Ayo!"
Gaara POV
Sial! Kemana larinya si Uchiha itu? Cepat sekali larinya.
"... Meninggalkanku sendirian?"
Itu! Bukankah itu suara Sasuke? Bicara dengan siapa dia? 'Sendirian' apa maksudnya?
"Tidak kok."
Eh? Suara Naruto? Uchiha itu bicara dengan Naruto?
Ini memang tidak elit. Tapi, aku tak punya pilihan lain selain mencuri dengar pembicaraan mereka.
"...bukankah Botchama sendiri adalah keluargaku?"
Fuh... jadi kau menganggap si Uchiha itu sebagai keluargamu juga ya. Naru-chan?
"Mungkin kita tidak memiliki hubungan darah. Tapi, bukankah Botchama bilang kalau kau adalah kakakku dan aku adalah adikmu?"
Segitukah berharganya Tuan-mu, Naru-chan? Kau lebih memilihnya dari pada aku yang jelas-jelas punya hubungan darah denganmu? Apa kau dendam pada kami, keluargamu? Kami yang tidak bisa menyelamatkanmu?
"Aku... kalah ya?" ujarku miris.
"Hahahahaha" mareka tertawa.
Aku mendengar tawa kalian. Sepertinya kalian bahagia ya? Yah, tak apa lah! Yang penting adikku yang manis itu bahagia. Meski bukan bahagia karena ku.
"Ah, sudah semakin larut. Sebaiknya aku pulang sebelum kena marah Temari-nee."
Aku pun beranjak dari sana menuju mobilku dan segera pulang.
.
.
Normal POV
Pagi buta yang indah di Uchiha mansion. Burung-burung mulai berkicau, angin berhembus lemah, cahaya matahari yang redup. Ini pagi yang sempurna untuk memulai hari. Keadaan sekitar pun sunyi. Menambah nilai bagi pagi ini.
DUARR!
Ups, sepertinya tidak sunyi lagi.
"Naruto! Daijoubu ka?" Tanya seorang pria berambut cokelat panjang dikuncir tinggi.
"Ukh…. Ya, aku tak apa Iruka-san…." Jawab Naruto lemah.
"Kau ini. Kau 'kan tidak bisa masak! Kenapa tidak minta tolong padaku seperti biasa?" Tanya pria yang di panggil Iruka-san oleh Naruto.
"Aku ingin belajar Iruka-san!" balas Naruto tak mau di salahkan.
"Kenapa tiba-tiba? Memangnya ada apa?" tanya Iruka curiga dengan perubahan sikap Naruto yang tiba-tiba. Karena, biasanya Naruto itu paling anti sama yang namanya kompor, wajan, dll. Katanya sih, 'Itu dibuat Cuma untuk perempuan! Laki-laki seperti aku paling pantang menyentuhnya!' yah, begitulah.
"Itu…. Karena…."
Flashback
Hari ini hari terakhir sebelum seluruh murid KHS diliburkan. Karena itu, tak ada guru yang datang untuk memberi pelajaran. Konsekuensinya? Yah, sudah tahu 'kan? Benar! Kelas ribut setengah idup. -?-
"Hei, Naruto-kun, Sakura! Kalian sudah punya acara untuk liburan musim panas nanti?" Tanya seorang gadis berambut pirang pucat, Yamanaka Ino.
"Hm? Belum tuh. Kenapa? Kau punya acara asik?" jawab gadis lain berambut pink a.k.a Sakura yang sedang asik mengobrol dengan pemuda berambut pirang cerah a.k.a Naruto.
"Kalau Naruto-kun? Bagaimana?" Tanya Ino pada Naruto.
"Aku tak punya rencana apapun kalau Botchama tak punya rencana. Semuanya tergantung Botchama." Jawab Naruto datar.
Ino yang belum biasa dengan sikap Naruto jadi sweatdrop. Sedangkan Sakura yang sudah biasa, biasa saja. Eh, nggak deh. Dia teriak-teriak dalam hati tuh, 'Kyaaaaa! Naru-kun Kakkoi!' (A/N : Dasar -,-')
"Begitu ya? Kalau gitu aku Tanya Sasuke-kun dulu deh." Ujar Ino sambil berlalu. Naruto dan Sakura pun melanjutkan obrolan mereka.
"Ne, Sasuke-kun kau-" kata-kata Ino langsung dipotong oleh Sasuke.
"Aku tak punya waktu untuk kencan! Cari yang lain saja! Oh ya, jangan Naruto juga! Dia sibuk!" semburnya cepat tanpa peduli apa maksud Ino sebenarnya. Dan sukses di hadiahi jitakan di kepalanya oleh Ino.
"Kepedean! Siapa juga yang mau ngajak kamu kencan? Huh! Aku Cuma mau Tanya kamu udah punya rencana buat liburan nanti belum?" Tanya Ino akhirnya.
"Oh… kirain. Aku belum punya. Ada apa?" Tanya Sasuke balik.
"Mau ikut kami piknik ke pantai konoha?" Tanya Ino lagi.
"Siapa saja yang akan ikut?" Tanya Sasuke.
"Hmm…. Aku, Tenten, Neji, Lee, Shikamaru, Sai, Gaara, Hinata, Kiba, Shino, Shion, Karin, Temari. Jadi, mau ikut tidak?"
'Gaara juga ikut? Apa aku ikut saja ya, agar masalah antara aku, Naruto dan dia cepat selesai?' batin Sasuke.
"Oke! Aku ikut!" Jawab Sasuke akhirnya.
"Horee~! Berarti Naruto-kun juga ikut dong? Asiik! Thank's Sas! Bye, aku mau kasih tahu Naruto-kun dulu." Ujar Ino sambil berlalu.
'Jadi, ngajak aku supaya Naruto ikut? Sial! Padahal dulu kalian memujaku habis-habisan!' batin Sasuke sweatdrop.
"Naruto-kun~" panggil Ino manja.
"Hm?" balas Naruto datar.
Ino yang Cuma menerima balasan seperti itu pundung di pojok kelas.
"Ada apa, Ino-chan?" Tanya Naruto karena melihat Ino yang pundung. Ia juga sengaja memanggil Ino dengan namanya untuk menghibur hati gadis pirang itu.
Ino yang merasa dipanggil langsung bangkit dan mendekati Naruto.
"Naruto, kata Sasuke-kun dia ikut. Nah, kau juga ikut 'kan?" tanyanya.
"Ya. Aku akan selalu disamping Botchama." Jawab Naruto datar.
"Sip! Nah, aku punya tugas untukmu!" seru Ino semangat.
"Apa?" Tanya Naruto lagi-lagi datar.
"Kau harus membuatkan bento untuk kami semua. Kau mau 'kan?" pinta Ino.
"Ta-tapi…."
"Tak ada tapi-tapian! Yakan teman-teman?" seru Ino pada seluruh isi kelas.
"Iya! Iya! Kami ingin coba masakanmu Naruto!"
"Iya! Aku setuju dengan Ino-chan!"
"Naruto! Buatkan bento untuk kami ya!" seru seluruh kelas kompak.
'Huh! Ya sudah! Tapi, aku tidak tanggung kalau kalian mati karena makan masakanku ya!' batin Naruto.
"Tapi, aku tidak tanggung kalau kalian tidak suka ya!" Naruto menyetujui.
"Mana mungkin masakanmu tidak disukai, Dobe? Masakanmu enak tahu!" sambung Sasuke.
'Yang biasa kau makan itu masakan Iruka-san tahu! Kerjaku hanya menuang susu kedalam gelas.' Batin Naruto lagi.
"Sudah, masakan saja untuk mereka!" perintah Sasuke.
'Belajar masak ya? Hiks, menyedihkan…' Batin Naruto meratapi nasibnya.
"Haah… anything for you My Lord!" ujar Naruto sambil membungkuk dan sukses membuat semua perempuan dikelas dilarikan ke UKS karena mimisan.
Flashback Off
"Oh, begitu? Ya… ya…" Iruka mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.
"Iya… makanya, ajari aku ya, Iruka-san?" pinta Naruto.
"Baiklah! Nah, ayo kita mulai!"
Mereka pun mulai kegiatan belajar mengajar tentang memasak.
"Yosh! Selesai! Terima kasih Iruka-san!" ujar Naruto senang.
"Sama-sama. Tapi banyak sekali bento-nya. Memang ada berapa orang yang ikut?" Tanya Iruka penasaran.
"Hm…. Lima belas orang kalau tak salah." Jawab Naruto.
"Wah, banyak sekali. Ah, sudah jam lima pagi rupanya? Sebaiknya kau bangunkan Sasuke-sama. Sarapan beliau biar aku yang siapkan." Ujar Iruka sambil mengambil wajan.
"Oke! Arigatou, Iruka-san!" Naruto segera melepas celemeknya dan berlari menuju kamar Botchamanya.
TOK! TOK! TOK!
"Shitsurei, Botchama." Dia langsung menuju jendela dan membuka tirainya.
"Sudah pagi? Hari ini piknik-nya ya?" Tanya Sasuke
"Ya, Botchama. Sebaiknya anda segera bersiap." Jawab Naruto sopan.
"Kau sudah siapkan bento-nya?"
"Sudah."
"Apa lauknya?"
"Kalau makan siang nanti Botchama juga akan tahu kok." Balas Naruto sambil berlalu.
"Kau itu!" Sasuke pun memasuki kamar mandinya dan mandi. Saat keluar kamar mandi, baju yang akan dipakainya sudah siap. Dia memakai bajunya dan turun menuju ruang makan.
"Ohayou." Sapanya pada Iruka, Naruto dan Kakashi.
"Ohayou." Jawab Naruto dan Iruka.
"Ah, ohayou, Sasuke-kun. Aku punya berita untukmu. Aniki-mu, Itachi-kun akan pulang minggu depan." Ujar Kakashi.
"Oh. Aku sudah tahu kok. Semalam Aniki menghubungiku." Jawab Sasuke.
"Botchama punya kakak?" Tanya Naruto.
"Hn."
"Ayo, cepat dimakan sebelum dingin."
"Hn. Itadakimasu." Ucap Sasuke lalu segera melahap sarapannya.
Setelah selesai dengan sarapan masing-masing. Sasuke dan Naruto segera menuju mobil.
"Kata Ino, kita kumpulnya langsung di pantai saja. Jadi, kita langsung ke pantai Konoha, Iruka." Ujar Sasuke.
"Baik, Sasuke-sama."
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam penuh, akhirnya mereka sampai di pantai Konoha.
"Sasuke! Naruto! Sini! Sini!" panggil Sai semangat.
"Berisik sekali sih dia!" ujar Sasuke kesal.
Naruto tak menanggapi ucapan tuan mudanya. Lebih baik diam, dari pada jadi kena sembur, ya 'kan?
"Ohayou Sasuke, Naruto." Sapa Gaara.
"Ohayou, Gaara-sama." Balas Naruto.
"Hn." Respon Sasuke.
"Boleh kupinjam sebentar?" Tanya Gaara pada Sasuke.
"Mau pinjam apa?" Tanya Sasuke balik.
"Naru. Tenang saja, tak akan kubawa kabur kok. Hanya ingin memberitahukan sesuatu. Nanti kau juga boleh tahu kok." Jawab Gaara cepat.
"Hn."
"Ayo, Naruto."
"Ya,"
"Jadi anda ingin bicara apa?" tanya Naruto sopan.
"Langsung saja. Kau tahu 'kan kau masih punya keluarga?"
Naruto mengagguk.
"Akulah keluargamu itu. Kau tak ingat ya?"
Naruto mengangguk lagi. "Ya. Aku tak ingat apa-apa. Tapi, maaf Gaara-nii aku tidak bisa ikut denganmu." Ujar Naruto penuh dengan nada penyesalan.
"Aku tahu. Tak masalah kok. Aku mendukung semua keputusanmu asal kau bahagia." Balas Gaara.
"Arigatou."
"Lalu, ada lagi yang ingin kusampaikan. Orangtua-mu…. Sudah meninggal tiga tahun lalu." Ujar Gaara sedih.
"Ja-jadi tou-san dan kaa-san ku….. ka-kapan tepatnya mereka meninggal dan… karena apa?" Tanya Naruto bertubi-tubi.
"Orangtua-mu meninggal saat kau berumur dua belas tahun. Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat." Jawab Gaara perlahan.
"Pesawat? Memangnya mereka hendak kemana?" Tanya Naruto lagi.
"Mereka hendak ke Inggris. Karena mereka dengar ada kemungkinan keberadaanmu disana." Jawab Gaara.
"Aku memang di Inggris saat itu. Membunuh salah seorang petinggi disana. Jadi, saat itu tou-san dan kaa-san hendak menyelamatkanku?"
"Ya. tapi, sayang. Pesawat yang mereka tumpangi meledak. Dan perlu kuingatkan, melalui penyelidikkan polisi pesawat itu sengaja diledakkan. Motifnya masih belum diketahui hingga sekarang."
"Eh? Sengaja diledakkan?" Naruto menerawang, 'Apa mungkin ini ulah mereka? Tapi, apa untungnya membunuh kedua orangtuaku? Pasti ada sesuatu yang special.'
"Ano, Gaara-nii, sebenarnya orangtuaku itu apa? Maksudku pekerjaannya? Atau yang special dari mereka?"
"Gomen, aku juga tidak tahu. Itu rahasia keluargamu. Rahasia keluarga Namikaze. Keluarga Sabaku tidak pernah diberi tahu.
"Tapi, mungkin kau bisa menemukan sesuatu di perpustakaan pribadi Namikaze. Di rumahmu yang seharusnya." Lanjutnya cepat.
'Begitu ya? Tapi, aku tak mungkin meninggalkan Botchama. Berarti cara terakhir, menyusup tengah malam.' Pikir Naruto.
"Boleh kuminta denah menuju rumahku dari Uchiha's mansion?" pinta Naruto.
"Segera kugambar." Gaara mulai membentuk garis-garis diatas sebuah kertas. Setelah beberapa menit, tergambarlah sebuah denah di kertas itu.
"Ini."
"Terima kasih Gaara-nii!" seru Naruto sambil menyerbu kearah Gaara dan memeluknya.
"Iya. Iya. Hahaha… otouto-ku manis sekali ya?" ujar Gaara sambil mengelus kepala Naruto.
"Hehehehe…."
Sasuke POV
'Mana sih si Dobe itu? Dia dibawa kabur? Tidak, tidak. Dia 'kan kuat. Sebaiknya kau menyusulnya.'
Aku berjalan menuju arah yang tadi dituju Gaara dan Naruto.
'Ah, itu mereka!' seruku dalam hati saat melihat mereka. Kulihat Gaara memberikan selembar kertas pada Naruto dan tiba-tiba saja Naruto memeluk Gaara.
Aku sebal melihat pemandangan tersebut. 'Apa-apaan mereka?' Aku segera berlari kearah mereka, "Naruto!" seruku.
"Ah, Botchama? Anda menyusul?" Tanyanya santai.
Aku tak mempedulikan pertanyaannya dan menarik lengannya, "Ayo. Urusanmu sudah selesaikan?" ujarku dingin.
Aku menariknya menjauh dari Gaara tanpa menengok kearah Gaara sedikitpun. Aku sebal karena Naruto dekat-dekat dengan Gaara.
'Aku kenapa sih? Aneh. Masa' begitu saja sebal? Lagi pula Naruto 'kan hanya pelayangku. Tidak lebih. Sebenarnya ada apa denganku?' aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan tak memperhatikan sekitar,
"Botchama, kita mau kemana?" Tanya Naruto tiba-tiba.
"Tentu saja ke teman-teman kita yang lain."
"Tapi, kita baru saja melawati tempat mereka berkumpul."
"Eh?" aku menghentikan langkahku dan mulai memperhatikan sekelilingku. Benar, kami melewati mereka dan aku melakukannya tanpa sadar.
'Aku makin aneh saja.'
"A-ayo, susul mereka."
"Oke!" seru Naruto semangat dan kali ini dialah yang menggenggam dan menarik tanganku.
'Tangannya hangat. Eh! Tunggu apa yang kupikirkan sih? Oke, Sasuke kau aneh sekali hari ini!' aku mulai sibuk dengan pikiranku sendiri lagi.
Gaara POV
"Gaara, kau lihat apa sih?" Tanya sepupuku, Temari.
"Hm? Tidak. Sepertinya adikku mendapat seseorang yang mencintainya." Ujarku sambil mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Maksudnya siapa?" tanyanya lagi.
"Fufufufufu…. Ini akan sangat menyenangkan, Temari-neesan." Aku mulai mengembangkan seringai setanku tanpa peduli pada reaksinya yang sepertinya mulai berkeringat dingin.
"Ki-kita susul yang la-lain yuk?" ajak Temari tergagap.
"Hn."
Normal POV
Pantai Konoha, tempat yang sangat indah. Tempat paling cocok untuk menghabiskan waktu dimusim panas. Banyak orang yang datang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dan lansia. Nah, mari kita lihat aktifitas yang dilakukan tokoh utama kita.
"Naruto, ayo kita berenang!" ajak Sakura.
"Sebentar. Botcahama, boleh saya berenang?" Tanya Naruto pada Sasuke meminta izin.
"Memangnya aku ibumu apa? Kalau mau berenang ya berenang saja!" ujarnya sewot.
"Oke! Ayo, Sakura-chan!" seru Naruto sambil menarik tangan Sakura.
"Sa~su~nii~!" pangil Sai manja dibuat-buat.
"Huh?"
BRUGH
Tiba-tiba saja, Sai memeluk Sasuke.
"Gyaaaaaa! Lepaskan! Lepaskan!" seru Sasuke sambil meronta.
"Aih, Sasu-nii jahat nih!" ujar Sai manja sambil melepaskan pelukannya.
"Kau menjijikkan!" seru Sasuke lagi.
"Apa sih? Kita 'kan sepupu. Padahal Tachi-nii tidak protes kalau kupeluk!" balasnya tak mau kalah.
"Aku bukan dia tahu! Lagi pula umur kita sama! Siapa juga yang tidak jijik?" sewot Sasuke.
"Ya udah. Aku mau main sama yang lain aja!" ujar Sai sambil berlalu meninggalkan Sasuke.
Sasuke tak lagi mempermasalahkan hal itu dan kembali memandangi Naruto.
"Naru-chan manis 'kan?" Tanya seseorang.
"Iya." Jawab Sasuke tanpa sadar.
"Kau suka padanya?" Tanya orang itu lagi.
"Iy- Apa?" akhirnya Sasuke sadar kalau dari tadi ada orang yang mengajaknya bicara.
"Apa maksudmu Gaara?" Tanya Sasuke masih kaget.
"Tidak ada. Cuma mau Tanya saja. Kalau kau suka jangan sampai diambil orang lain ya. Bye!" ujar Gaara sambil berlalu.
'Apa sih maksud si panda itu?' batin Sasuke sweatdrop.
Saat ia memalingkan wajahnya untuk malihat Naruto lagi, ternyata Naruto sedang berjalan kearahnya.
"Botchama, anda tidak mau berenang?" tanyanya.
"Hn? Baiklah." Sahut Sasuke sambil membuka kausnya.
"Ayo, kita berlomba!" ajak Naruto.
"Uwoooo! Ayo! Kupastikan kemenangan di tanganku!" sahut Lee dengan 'semangat muda'-nya
"Hahaha oke, Lee! Aku juga tak akan kalah darimu!" balas Naruto tak mau kalah.
'Childish.' Batin Sasuke.
Mereka pun mulai bermain air sampai lupa waktu. Matahari makin tinggi. Perut mereka mulai keroncongan.
"Hei, kita makan siang dulu yuk?" ajak Sai pada yang lain.
"Biar aku ambilkan dulu bentonya." Ujar Naruto.
"Biar kubantu Narunaru." Ujar Sai sambil berjalan disamping Naruto.
"Biar aku saja yang bantu!" Seru Sasuke sambil menyusul Sai dan Naruto.
"Aku saja. Tuan muda seperti Sasu-nii duduk saja." Ujar Sai.
"Kalau kubilang aku ya aku!" seru Sasuke sewot.
"Gak perlu sewot gitu dong!" mau tak mau Sai sebal juga disewoti seperti itu.
"Kau juga jadi sew-"
"Kalian niat bantu gak sih?" potong Naruto. Ternyata ia sudah mengambil semua bentonya dan malahan sudah membagikannya pada semua orang.
"Gara-gara kau!" seru Sasuke sewot lagi.
"Terserah!" sahut Sai acuh.
Gaara POV
'Sasuke. Sudah kuduga.' Tanpa sadar aku kembali tersenyum atau bisa dibilang seringai setan.
"Ga-gaara?" Tanya Temari takut-takut.
"Ah, Temari-nee. Kau mau membantuku kan?" tanyaku datar
"Te-tentu. Apapun untuk otouto-ku." Jawabnya tebata.
'Fufufu…. Ini akan sangat menyenangkan' batinku senang.
Sasuke POV
DEG!
'Ngg… perasaanku tak enak ada apa ya?'
"Botchama?" Tanya Naruto khawatir.
"Tak apa."
"Naru~ ayo, Aaam~" seru Sai dibuat-buat.
"Sai hentikan!" seruku sambil menjauhkan Sai dari Naruto. Kami terus saja bertengkar tanpa tahu kalau ada seseorang yang terus memperhatikan kami dengan mata sea green-nya.
TBC
Fufufufu…. Bagaimana? Pendek? Sengaja! Hahahahahaha *ketawa nista* Nah, sekarang Kazu minta reviewnya ya~
Oh ya, mau promosi. Kazu baru publish fict kedua Kazu lho! Judulnya Next to You. Pairnya NaruHina. Kalau berkenan baca ya~
Nah, bales review! Bales review! Bale-hmmpph *dibekep readers*
Ok! Kita mulai!
Kiryuu arcafia kurozuki : Naru gak dibawa kok. Tuh! *nunjuk atas* Udah update! THANK'S FOR REVIEW^^
muthiamomogi : Yup, semua chara aku nistain disini! Buahahahahaha *ketawa nista* THANK'S FOR REVIEW^^
Vii no Kitsune : gak apa kok kalo baru review! Salam kenal juga^^ ceritanya bagus? Hiks…hiks… makasih! Kazu merasa fict ini jelek banget. Ternyata menurut kamu bagus ya? syukurdeh! Udah lanjut. Ini ch5 nya! THANK'S FOR REVIEW^^
Hikarii Hana : Keren? Arigatou! Syukur deh kalo Rii-san suka. Aku ikut senang!^^ sesuai permintaan, jadi SASUNARU! Udah Update! THANK'S FOR REVIEW^^
HaikuReSanovA : makin baik? Syukurlah~ tapi, kayaknya chapter ini terjadi penurunan deh -,-' THANK'S FOR REVIEW^^
R
E
V
I
E
W
