Chapter 6 Kind of Feeling
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Pairing : SasuNaru *Yei! Yei!*
Warning : AU, OOC, alur super cepat, gaje, abal, BL, lahir dari author gak berbakat, dll, dsb, dst, dkk.
A/N : Ahahahahaha… *ketawa garing* hai semua! Maaf Kazu lama update. Itu semua karena Kazu 'tersesat dijalan bernama jalan kehidupan'. Jadi, maaf ya? *Readers: emangnya siapa yg mau maafin lo?* Hei, jangan gitu dong! Masih mending Kazu mau update. Kalo nggak gimana? *dibakar* Udah ah! Kazu disiksa mulu! Nah, selesai baca chap ini tolong review ya? pendek juga gak apa-apa kok! Kazu butuh review supaya semangat ngelanjutin fict ini. Ya? ya? ya? Chap ini menceritakan yang damai-damai aja. Mungkin akan sangat membosankan. Oh ya, makasih yang udah baca dan nge-review next to you. Umm… bales reviewnya di akhir aja yah? Nah, cukup. Kazu gak cuap-cuap lagi. Eh, ngomong dikit lagi deh. Nama-nama makanan yang Kazu cantumkan disini Kazu copas dari manga favorit Kazu 'Black Butler'. Sekali lagi, Kazu minta review ya? flame juga boleh~! Tapi Kazu gak terima flame pair. Oke~
~Don't Like Don't Read~
HAPPY READING, MINNA-SAN~
Chapter 6
Flashback ch5
"Ga-gaara?" Tanya Temari takut-takut.
"Ah, Temari-nee. Kau mau membantuku kan?" tanyaku datar
"Te-tentu. Apapun untuk otouto-ku." Jawabnya terbata.
'Fufufu…. Ini akan sangat menyenangkan' batinku senang
Sasuke POV
DEG!
'Ngg… perasaanku tak enak ada apa ya?'
"Botchama?" Tanya Naruto khawatir.
"Tak apa."
"Naru~ ayo, Aaam~" seru Sai dibuat-buat.
"Sai hentikan!" seruku sambil menjauhkan Sai dari Naruto. Kami terus saja bertengkar tanpa tahu kalau ada seseorang yang terus memperhatikan kami dengan mata sea green-nya.
Chapter 6 Kind of Feeling
Naruto POV
KRIIING! KRIIING!
Alarm yang setiap hari kupasang berbunyi. Menandakan bahwa sekarang saatnya bagiku untuk bangun dan bersiap menemui majikanku. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi khusus para pelayan. Membasuh tubuhku. Selesai dari kamar mandi, aku segera kembali ke kamarku untuk memakai coat khusus milikku sebagai butler tuan muda di mansion ini.
"Nah, sudah rapi. Sekarang aku harus membangunkan Botchama dan membuatkannya sarapan."
Kususuri lorong panjang Uchiha's mansion dalam diam meski sesekali tersenyum saat ada pelayan lain yang menyapaku. Kuhentikan langkahku di depan pintu kamar tuan mudaku.
Tok! Tok! Tok!
Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik kamar, aku membuka pintunya sambil menggumamkan kata 'Permisi'. Kusibak tirai yang menghalangi sinar matahari pagi ini.
"Ohayou, Botchama. Sudah saatnya anda bangun." Sapaku sopan pada sesosok manusia yang bergelung diatas kasur dengan sprei biru gelap.
"Sekolah sudah libur… Nanti saja…" pintanya sambil menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya dari serangan cahaya matahari.
"Meski libur, bukan berarti kau harus malas-malasan seperti ini." Ujarku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Eng… daripada berisik begitu lebih baik kau ikut tidur denganku."
Tiba-tiba saja Botchama menarik lenganku. Aku kehilangan keseimbanganku akibat tarikan yang begitu tiba-tiba darinya.
Bruk!
Aku jatuh. Tersungkur diatas tubuhnya. Dan sama saat ia menarik lenganku, tiba-tiba ia melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Hmm…. Kau lembut sekali…" Ujarnya dengan nada yang err- seksi?
BUGH!
"Ouch! Sakit! Kau kejam sekali!" serunya seraya melepaskan pelukannya.
"Botchama! Kau ini apa-apaan sih? Memangnya aku apaan main peluk-peluk saja? Makin hari tingkahmu makin kacau! Kepalamu terbentur apaan sih?" seruku padanya.
Aku segera membalikkan tubuhku, berjalan menuju pintu kamarnya. Takut jika ia mendapatiku berwajah semerah tomat kesukaannya.
"Cepat mandi. Akan kubuatkan sarapan." Ujarku sebelum meninggalkan kamarnya.
Kututup pintu kamarnya. Aku berlari menusuri lorong panjang menuju dapur dan ruang makan. Mengingat kejadian tadi membuat kepalaku serasa ingin meledak.
'Apa-apaan dia? Terlebih lagi….. Aku kenapa? Ke-kenapa… aku… Arrrgh!'
Kuhentikan langkahku mendadak. Kutenggelamkan wajahku diantara lututku. Mencoba menghilangkan rona merah diwajahku. Setelah merasa kalau wajahku tak semerah tadi, aku melanjutkan langkahku menuju dapur.
Normal POV
"Ohayou, Iruka-san, Kakashi-san." Sapa bocah berambut pirang pada dua pria dewasa yang sudah sejak tadi ada di ruangan tersebut menikmati makan pagi mereka.
"Ohayou, Naru-kun!" sahut pria berambut cokelat dikuncir tinggi yang di panggil Iruka-san oleh si bocah pirang.
"Ohayou." Sahut pria satunya yang memiliki rambut silver tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dipegangnya.
'Kakashi-san hebat bisa makan tanpa mengalihkan pandangan dari buku itu.' Batin Naruto kagum.
Sayang, ia tak tahu buku macam apa yang dibaca Kakashi. Jika tahu? Kau pasti akan memutilasinya.
Setelah sapaan paginya dibalas, Naruto segera memasuki dapur untuk membuatkan sarapan bagi tuan mudanya. Tak lama waktu berselang, Naruto kembali ke ruang makan dengan sebuah nampan ditangannya yang berisikan sepiring roll cabbage dan French toast jahe juga segelas susu hangat sebagai pelengkapnya.
"Waaah, kau jadi pandai sekali memasak ya, Naru?" puji Iruka.
"Ah, tidak. Ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan masakan Iruka-san." Balas Naruto merendah.
"Benar." Ujar Kakashi ikut membenarkan ucapan Naruto.
"Kalian ini." Ujar Iruka dengan wajah sedikit merona karena terlalu dipuji.
"Hoem… Ohayou." Sapa seorang pemuda berambut pant -plak!- raven memasuki ruang makan itu. (Kazu: ngapain lo nampar gue? Sasu: tadi lo mau bilang 'pantat ayam' kan? Itu balasannya!)
"Ohayou." Jawab ketiga orang yang sudah terlebih dulu ada dalam ruang itu bersamaan.
"Sarapanku?"
"Ini. Silahkan, Botchama." Ucap Naruto sambil meletakkan nampan yang tadi ada ditangannya keatas meja. "Saya permisi dulu." Ujarnya lalu membalikkan badan hendak pergi.
"Tunggu! Umm…. Naruto, yang tadi… maaf ya?" ujar Sang tuan muda malu-malu.
"Ah, tak apa kok. Aku sendiri tak terlalu memikirkannya." Bohong Naruto.
"Hn. Baguslah kalau begitu." Sahut sang tuan muda a.k.a Sasuke dan mengalihkan perhatiannya pada makanan yang ada didepannya.
'Kalau kau bukan tuanku….. pasti sudah kubunuh!' janji Naruto dalam hati.
Segera, Naruto melangkah menuju dapur untuk membersihkan peralatan yang tadi ia pakai. Selesai dengan pekerjaannya tadi, ia langsung menghadap kepala pelayan, Kakashi untuk menanyakan pekerjaan apa yang harus dilakukannya hari ini.
"Kakashi-san, apa yang harus kukerjakan hari ini?" Tanya Naruto sopan.
"Hmm… repot juga ya kalau kehilangan pekerjaan sehari-hari? Sasuke dirumah terus sih. Hari ini kau membersihkan halaman belakang saja." Ujarnya sambil tersenyum sepertinya. Sepertinya? Ya, tak ada yang tahu pasti karena ia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya dan entah apa namanya itu untuk menutup mata kirinya. (Kazu: bener gak?)
"Baiklah." Sahut Naruto sambil berenjak dari tempatnya tadi.
Naruto POV
'Membersihkan halaman belakang? Dia niat sekali sih menyiksaku!'
Kenapa kubilang menyiksa? Oh, itu karena luas halaman belakang Uchiha Mansion ini menyaingi luas Konoha Amusement Park yang beberapa pekan lalu kukunjugi.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku mengambil sapu dan mulai menyapu dedaunan kering yang berjatuhan dari dahannya. Aku sudah menyelesaikan seperempat luas halaman ini ketika aku merasakan kehadiran orang lain. Aku segera menghentikan kegiatan menyapu daunku.
"Hei, kau yang disana. Keluar saja. Sudah ketahuan." Ujarku pada sosok misterius itu.
SRAK! SYUUT!
Dengan tiba-tiba orang yang tadinya bersembunyi itu melempar shuriken padaku dan tentu saja kutangkis dengan mudah.
'Apa dia salah satu orang yang mengincar tuan muda? Huh! Akan kubunuh dia!' seruku dalam hati.
Normal POV
Orang yang tadi melempar shuriken kearah Naruto kembali melayangkan serangan kearahnya. Kali ini ia tak hanya menggunakan satu-dua shuriken seperti tadi. Tapi, emm- bisa dibilang ribuan?
"Uwaa!" seru sang korban berambut pirang sambil berusaha meloloskan diri dari serangan sosok misterius itu.
'Sial! Kalau hanya terus lari aku bisa kalah.' Batin Naruto kesal. Ia pun membalikkan badannya dan menangkis semua shuriken itu dengan mengalirkan cakra dalam jumlah besar keluar tubuhnya. Mengubah haluan shuriken-shuriken itu ketanah.
"Cih! Ditangkis." Dengus sosok itu sebal.
Sementara itu, kemarahan Naruto sudah sampai ubun-ubun. Ia benci melihat orang-orang yang terus saja mencoba mencelakakan tuan mudanya. Ini sudah kasus kelima untuk minggu ini. Yah, meski rata-rata lemah dan tak berguna tetap saja ini membuat Naruto naik pitam.
Iris birunya mulai berubah. Tak lagi sebiru langit musim panas tanpa awan. Warna biru itu telah tergeser oleh warna merah. Merah menyala. Warna yang melambangkan betapa kesalnya ia saat ini. Gerakannya semakin cepat. Hawa pembunuhnya makin menusuk. Membuat siapa pun didekatnya diam mematung. Termasuk sosok yang menyerangnya tadi. Hampir saja ia membunuh sosok itu, jika saja sesuatu tak menghalangi aksinya.
"Saat tuanku diserang seperti itu, aku tak boleh diam saja 'kan?" ujar seseorang yang mengendalikan 'sesuatu' yang menghalangi aksi Naruto barusan.
Naruto mengalihkan pandangnnya dari sosok misterius itu dan menatap orang yang bicara tadi, "Sa-sasori… senpai?" ujarnya terkejut bukan main.
Kelengahan Naruto barusan memberikan kesempatan pada sang sosok misterius untuk menendang tubuh Naruto.
"Uagh!"
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Belum sempat ia bangkit, sebuah boneka muncul didepannya.
"Memohon izin untuk membunuh." Ujar sang pengendali boneka a.k.a Sasori.
Sosok misterius itu tak menjawab. Ia hanya diam membisu.
Tak menyia-nyiakan waktu yang ada, Naruto mencoba mengumpulkan cakra dalam jumlah besar untuk mengeluarkan jurus ninjanya.
Cakra terkumpul. Persiapan selesai, Ia mulai membentuk segel. ia menarik napas panjang dan bersiap meneriakkan nama jutsu yang akan ia gunakan, "Suiton-"
"Hentikan, Naruto!" intrupsi seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah tuan mudanya sendiri.
"Botchama? Masuklah! Orang ini mengincarmu. Ia ingin membunuhmu." Ujar Naruto sambil mencoba berkonsentrasi kembali.
"Hentikan. Ia tak akan membunuhku. Tenang saja." Sahut tuan mudanya, Sasuke.
"Kenapa anda bisa seyakin itu?" Tanya Naruto meragukan ucapan tuannya.
"Karena, dia itu Aniki-ku." Jawab Sasuke santai dan beranjak memasuki mansion.
"Wah, cepat sekali ketahuannya?" ujar sang sosok misterius sambil membuka tudung yang sedari tadi dipakainya. "Cukup Sasori. Simpan kusugutsu-mu." Perintahnya pada Sasori.
"Ya."
Naruto tak bersuara sama sekali ia masih menatap kedua sosok itu dengan tatapan yang rumit untuk diartikan. Antara kaget, tercengang dan tak percaya. (kayaknya sama aja ya?)
"Hai. Namaku Uchiha Itachi. Aniki Sasuke, tuan mudamu. Kau Namikaze Naruto 'kan? Butler otouto-ku?" ujarnya mencoba mengakrabkan diri pada Naruto.
"A-ah, sumimasen. Ya, saya butler tuan muda. Nama saya Naruto. Panggil saja begitu." Ujar Naruto sambil membungkukkan badannya.
"Hahahaha… tak perlu seformal itu. Butler adikku berarti adikku. Ya 'kan, Sasori?" sahutnya sambil tertawa.
"Ya." jawab Sasori datar.
"Ano, Sasori-senpai. Kau… butler Itachi-sama?" Tanya Naruto pada Sasori.
"Ya. seperti yang kau lihat." Jawabnya singkat.
"Umm… aku tak begitu memperhatikan sih… tapi, kurasa sikapmu berbeda sekali ya saat berada di sekolah?" Tanya Naruto lagi.
"Oh, itu aku yang menyuruhnya, Naru. Agar ia bisa sedikit membaur." Jawab Itachi.
"Be-begitu ya? ah, silahklan masuk, Itachi-sama, Sasori-senpai." Ujcap Naruto sambil membungkuk mempersilahkan para tamunya.
"Panggil aku Tachi-nii saja ya! kalau dia, panggil Sasori saja." Kata Itachi sambil lalu.
Naruto menanggapi omongan Itachi dengan anggukan kecil tanda ia menyetujuinya meski dia tak akan melakukannya. Ia harus meunjukkan kesopanannya pada orang dengan derajat diatasnya bukan? Mereka pun masuk kedalam Uchiha's Mansion tanpa mengeluarkan suara lagi.
"Tadaima!" seru Itachi lantang.
"Kalau mau bilang 'tadaima' seharusnya dari tadi, baka Aniki." Sahut Sasuke yang tak rela telinganya tercemar polusi suara yang dikeluarkan Itachi.
"Sasu-chan. Kau menyebalkan." Balas Itachi sambil menggkerutkan dahinya.
"Hn."
"Itachi-sama, anda ingin saya buatkan sesuatu? Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan kesini. Apalagi tadi sempat bertarung dengan saya." Tanya Naruto dengan tujuan meredam pertikaian tak berguna tadi.
"Buatkan aku minuman segar saja. Apapun boleh. Terima kasih ya, Naru."
"Baik. Saya permisi dulu."
Naruto meninggalkan ruang tersebut dan beranjak menuju dapur untuk membuatkan sesuatu untuk Aniki sang tuan muda.
Itachi POV
'Wahh~ butler Sasu-chan manis sekali~! Beruntung sekali Sasuke bisa mendapatkan bocah semanis itu menjadi butlernya!'
"Ne, Sasu-chan!" panggilku.
"Berhenti memanggilku seperti itu, baka Aniki!" sahutnya marah.
"Sudahlah. Aku cuma mau Tanya. Boleh 'kan?"
"Hn. Mau tanya apa?" tanyanya bosan.
"Dia. Dimana kau mendapatkannya? Manis sekali." Tanyaku tanpa basa-basi.
"Hah?" ucapnya tak sadar. Mungkin dia tak habis pikir kenapa tiba-tiba Aniki-nya bertanya hal yang aneh.
"Aduhh~ kau kok jadi lemot gitu?" ujarku tak sabar.
"Apa? Aku tidak mendengarnya." tanyanya bingung.
"Ck, aku Tanya tentang butler-mu baka Otouto!" seruku tak sabar.
"Ada apa dengan saya?" suara seseorang mengagetkanku.
Perlahan, aku membalikkan wajahku, "Ah, Naru-chan? Itu minumanku?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan. Malu 'kan kalau ketahuan membiacaran orang didepan orang itu sendiri?
"Ya. silahkan." Ujarnya datar.
"Arigatou." Aku menyesap minumanku perlahan. Minuman buatannya terasa sangat sejuk di tenggorokanku. Tidak manis, tapi juga tidak masam. Sempurna sekali.
"Jadi Aniki, siapa yang tadi kau maksud? Aku tak mendengarmu" ujarnya santai.
TWICH!
"Oi, Aniki? Siapa maksudmu?" tanyanya lagi.
TWICH!
"Jadi…. Daritadi kau tak mendengarkan-ku, Sa-Su-chan~?" ujarku ramah ditambah hadiah aura gelap di sekelilingku sebagai tambahannya.
"A-ano, A-aniki… Etto…"
"Fufufufufufu…"
'Bagus sekali! Aku sudah hampir ketahuan membicarakan Naruto tapi dia tak mendengarkanku?'
"Sasu-chan~ kita main yuk?" ucapku seraya menyeretnya ke halaman belakang mansion.
"Cho-chotto! A-aniki… Gyaaaaa!"
Normal POV
"Sasu-chan~ kita main yuk?" ujar Itachi sambil menggeret Sasuke keluar ruangan menuju halaman belakang mansion.
Beberapa saat kemudian terdengarlah teriakan pilu dari sang adik, Sasuke, "Cho-chotto! A-aniki… Gyaaaaa!"
'Eh? Bukankah itu suara Botchama? Sebaiknya kulihat.' Batin Naruto tak tenang.
Naruto beranjak dari tempatnya berdiri, melangkah menuju asal suara tuan mudanya. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, Sasori menahan bahunya.
"Tak apa. Santai saja. Tuan mudamu tak akan mati kok." Ujarnya santai.
"Eh, da-datte…" Naruto berusaha menyanggah.
"Duduklah. Sebentar lagi tuan mudamu akan muncul." Potong Sasori.
"Ta-"
"3" ucap Sasori memotong ucapan Naruto lagi.
"Kenapa kau berhitung?" Tanya Naruto bingung.
Sasori tak memperdulikan ucapan Naruto dan terus berhitung mundur, "2"
"Hei! Jawab aku!" Naruto mulai sebal dengan tingkah senpai-nya ini.
"1"
"Ooooi!" Naruto meneriaki senpainya.
"Ding!" ucap Sasori sambil menyeringai aneh.
"Narutooooo! Tasuketeeeee!" Seru Sasuke sambil berlari menuju rangan dimana Naruto berada.
"Are? Botchama? Daijoubu ka?" Tanya Naruto. Ia bingung dengan tingkah laku tuannya ini. Tak ada luka sama sekali tapi kenapa minta dilindungi seperti sedang dikejar mafia begitu?
Sasuke berlari kearah Naruto dan bersembunyi dibelakan punggung Naruto yang lebih kecil darinya, "Jangan biarkan Aniki-ku mendekat!" serunya pada Naruto.
"Eeekh? Kenapa? Kau bahkan tak luka sedikit pun." Ujar Naruto bingung.
"Dia….. Dia….. Monster!" Seru Sasuke makin kalap.
"Hhhh~ sebaiknya saya mengantar anda ke ruangan anda, Botchama." Ujar Naruto menenangkan.
Sasuke tak membalas ucapan Naruto dan mengikuti Naruto menuju ruangannya.
"Sasu-chan~ kok pergi sih? Aniki belum puas main nih~" ujar Itachi dari belakang.
"Gyaaaaa!" Sasuke yang mendengar suara Itachi kontan langsung berlari menuju ruangannya dan meninggalkan Naruto yang cengok dan Itachi yang tersenyum misterius.
"Tuan muda aneh." Komentar Naruto setelah punggung Sasuke menghilang di lorong panjang itu.
"Sasuke memang begitu kok kalau habis main denganku. Terlalu senang mungkin?" sahut Itachi sambil melenggang santai.
"Sayangnya saya ber-hipotesis kalau Botchama sangat membencinya, Itachi-sama" gumam Naruto.
"Ahahahaha…." Itachi yang mendengarnya hanya tertawa ringan.
"Sudahlah. Sebaiknya aku menyiapkan makan siang." Gumam Naruto sambil melangkah menuju dapur.
Itachi POV
'Wah~ menyenangkan sekali. Sudah lama aku tidak bermain dengan Otouto-ku satu-satunya itu.'
Aku terus berjalan dengan menutup mata hingga tak sadar kalau aku sudah kembali ke ruangan tempat tadi kami berkumpul. Aku akan menabrak tembok didepanku jika saja suara Sasori tak menyadarkanku dari lamunanku.
"Okaeri, Tachi-sama."
"Ah? Ups!" aku segera menghentikan langkahku sebelum wajahku mencium tembok keras itu.
"Hahh… untung kau menyadarkanku, Sasori."
"Ya. Memangnya apa yang kau pikirkan hingga melamun? Tak seperti kau yang biasanya." Tanyanya penasaran.
"Wah,,,,Wah,,,, kau memang hebat Sasori!"
"Biasa saja. Yang harusnya kau bilang 'hebat' itu karena aku bisa bertahan dengan majikan sepertimu." Sahutnya santai.
"Ukh…. Kau jahat sekali Sasori." Ujarku pura-pura sedih. Aku sudah terbiasa dengan cara bicaranya yang err- terlalu terus terang?
"Kau benar. Ada yang mengganggu pikiranku saat ini." Jawabku akhirnya.
"Apa?"
"Mungkin lebih tepat jika kau bertanya 'siapa' daripada 'apa'."
"Jatuh cinta, Eh?"
"Mungkin?" sahutku malas.
"Biar kutebak. Naruto?" tanyanya santai tanpa peduli akan seperti apa wajahku nantinya.
Segera, kubekap mulutnya, "Jangan keras-keras, baka!"
"Thidhak apha-apha jugha khan? Bhagush mhalhah khalau dhiah tahu!" (baca: tidak apa-apa juga kan? Bagus malah kalau dia tahu!)
Aku melepaskan tanganku dari mulutnya dan mendecih "Cih! Kau menyebalkan Sasori."
"Arigatou." Jawabnya santai.
Kami terus bedebat hingga suara Naruto memanggil kami untuk segera ke ruang makan untuk makan siang.
Normal POV
"Itachi-sama, Sasori-san. Mari keruang makan. Makan siang sudah disiapkan." Panggil Naruto pada Sasori dan Itachi yang sepertinya sedang asik berdebat sambil berbisik.
"Ah? Naru-kun…. Ya. sebentar lagi kami kesana!" sahut Itachi.
"Baik." Jawab Naruto sopan.
Itachi berjalan beriringan dengan butler-nya, Sasori menuju ruang makan. Di ruang makan tersebut sudah ada Sasuke yang tengah bertopang dagu dan Naruto yang berdiri patuh disampingnya.
"Wah, Sasu-chan sudah disini duluan ya?" sapa Itachi ramah.
"Sudahlah. Tak usah berbasa-basi begitu! Aku sudah lapar. Naruto, bawakan makanan kami." Perintah Sasuke.
"Ha'i!"
Naruto berjalan memasuki dapur dan membawakan mereka makan siang. Beberapa saat kemudian tersajilah makan siang mereka.
"Kenyang. Terima kasih, Naruto!" ucap Itachi tulus.
"Sama-sama. Senang kau menyukainya, Itachi-sama." Jawab Naruto sambil membawa piring-piring kotor tadi ke dapur untuk mencucinya.
"Aniki, kenapa kau kembali kesini?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"Hm? Aku hanya ingin melihat butler-mu saja." Sahut Itachi malas.
"Satu lagi, kenapa kau….. MENYURUH BUTLER-MU MENJADI MURID DI SEKOLAHKU, HAH?"
"Aduh, Sasuke… bisa saja dong…" ucap Itachi dibuat-buat
"Hentikan. Kau membuatku jijik. Jawab saja." Ujar Sasuke dingin.
"Itu…. Ahahaha…." 'Kalau Sasuke tahu alasannya dia pasti marah!' Batin Itachi bingung.
"Jawab Aniki!" seru Sasuke tak sabar.
"Baik! Baik! Itu…. Aku 'kan ingin tahu apa saja yang biasa dilakukan Otouto-ku disekolah. Yah, plus iseng juga sih! Hehehe…" jawab Itachi jujur tanpa dosa.
"Hhh~! Sudah kuduga…."
"eh? Kau tak marah?"
"Buat apa aku marah pada orang gila? Tak berguna." Sahut Sasuke dingin.
"Kau makin menyebalkan ya?" dahi Itachi berkedut.
"Aku mau tidur siang. Kalau mau pulang, pulang saja tak usah pamit. Toh, aku tak peduli." Ujarnya sambil berlalu.
"Botchama, anda ingin tidur siang?" ujar Naruto yang tiba-tiba saja muncul di depan Sasuke.
"Uwaaa! Kau mengagetkanku saja! Bisakah kau muncul dengan lebih normal?" omel Sasuke.
"Sumimasen." Jawab Naruto sambil membungkukkan badan.
"Kenapa tak sekalian kau buat dia pingsan saja, Naru-chan?" ujar Itachi pada Naruto, senang karena sempat melihat Sasuke dikerjai butler-nya sendiri.
"…" Naruto tak berkomentar sama sekali.
Itachi pundung disudut ruang makan.
"Apa aku benar-benar tak pintar melawak ya?" Aura-aura aneh pun mulai memenuhi ruangan itu.
"Maafkan saya, Itachi-sama." Ucap Naruto merasa bersalah.
"Tak usah minta maaf. Memang dia saja yang berlebihan." Ujar sasuke sambil menarik lengan Naruto keluar ruang makan.
Sasuke POV
'Tch! Buat apa sih, si keriput itu pulang? Bukankah dia harus mengurus cabang perusahaan keluarga Uchiha di Paris? Lagipula, dia pasti akan selalu mengganggu kesenanganku saja!'
' Padahal… aku ingin menghabiskan liburan ini dengan Naruto saja…. Eh? Tunggu! Kenapa harus sama Naruto? Tunggu! Arghh! Sudahlah!'
"Botchama, anda kenapa? Akhir-akhir ini saya lihat Botchama sering melamun. Apa yang anda pusingkan? Siapa tahu saya bisa membantu anda." Suara Naruto menyadarkanku.
"Eh? Ah, tak apa kok. Tak usah kau pusingkan. Hahh…. Kuharap, liburan cepat selesai"
"Kenapa? Bukankah Botchama tidak menyukai sekolah?" tanyanya penasaran.
Ya. Aku tak suka pergi ke sekolah. Disana itu ramai, berisik, aku tak tahan harus berlama-lama disana. Kenapa orang-orang tak berguna itu tak menutup mulutnya saja sih? Aku yang menyukai kesunyian dan ketenangan mana mungkin suka berada ditempat yang banyak orang dan berisik seperti itu?
"Aku tak suka Aniki-"
'Aku tak suka jika Aniki dekat-dekat denganmu, Naruto.' Lanjutku dalam hati.
"Hmm, manusia memang makhluk yang rumit ya?" ujarnya tiba-tiba.
"Ya."
Kami terus berjalan menyusuri lorong mansion-ku dalam diam. Tak ada diantara kami yang berusaha memecahnya. Kami menghentikan langkah kami saat kami sampai pada sebuah pintu. Tak ada yang khusus dengan tampilannya. Hanya saja, pintu itu menuju sebuah ruangan yang bisa dibilang istanaku. Benar, kamarku.
Naruto membukakan pintu untukku, mempersilahkan aku masuk. Aku mengayunkan kakiku memasuki ruang kamarku. Naruto membungkuk sedikit lalu menutup pintu. Sebelum pintu benar-benar tertutup, aku memanggilnya.
"Na-naruto!" panggilku agak terbata. 'Kenapa aku gugup ya?'
"Ya?" jawabnya sambil berbalik dan menampilkan senyum polosnya.
'Manis sekali!' batinku tanpa sadar.
"A-ah… ano, ng…"
'Kenapa jadi gagap begini?'
"Kalau ada yang ingin anda sampaikan, sampaikanlah, Botchama."
'eh? Tadi dia kupanggil untuk apa ya? Umm… Tadi aku hanya berpikir agar aku bisa berduaan dengannya… Tapi, selama ada Aniki di mansion ini, pasti tidak bisa! Tunggu! Kalau tidak dimansion bisa dong? (K/N: ya iyalah! Bloon banget lo, Sasu-chan!) Kalau begitu-'
"Hei, mumpung liburan bagaimana kalau kita pergi ke penginapan?" ajakku akhirnya.
"Apa tak apa? Nyawa anda bisa terancam diluar sana." Jawabnya agak khawatir.
Ah, wajahnya saat mengkhawatirkanku imut sekali! Kalau bukan karena darah Uchiha yang mengalir di tubuhku, aku pasti sudah mimisan!
"Akan kuajak yang lain."
"Emm… bagaimana ya? Terserah Botchama sajalah. Saya tak punya hak untuk melarang anda."
"Bagus. Sudah diputuskan! Akan kuhubungi akan pergi besok! Siapkan segalanya." Kataku mengakhiri percakapan.
"Besok?"
Dari suaranya, sepertinya dia kaget. Memang, Untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk seorang 'Tuan Muda' sepertiku memakan waktu yang cupuk lama. Fufufufu… aku suka sekali melihat wajahnya itu. Ternyata aku memang hobi menyiksa ya?
Normal POV
"Bagus. Sudah diputuskan! Akan kuhubungi akan pergi besok! Siapkan segalanya." Ujar Sasuke mengakhiri percakapan singkat mereka mengenai acara liburan mereka selanjutnya.
"Besok?" seru Naruto tidak percaya.
'Dia pikir mudah apa? Mengurus semua perlengkapan manusia manja sejenis dia?' batin Naruto tak rela.
'Ternyata liburan benar-benar menjadi Neraka bagiku.' Pikir Naruto.
'Ternyata liburan itu seindah Surga~' pikir Sasuke.
Siang dan malam. Cahaya dan kegelapan. Dua pribadi yang bertolak belakang. Pemikiran yang berlawanan. Tapi, sisi itulah yang istimewa. Dengan adanya perbedaan bukankah kita jadi saling melengkapi?
.
.
.
.
TBC
Oke~! Chapter 6 SELESAI! Pasti membosankan ya? yang mau flame boleh~ boleh~ habis, chap ini emang gak bermutu banget. *nyadar?* iya dong!
Nah, bales review aja ah~
~ untuk muthiamomogi terima kasih reviewnya ^^
'Ya. Semua chara kunistain disini! Buahahahahaha! *ketawa laknat* Alurnya kecepetan ya? Gomen ne~ akan Kazu coba perbaiki! Chap ini gimana? Masih kecepetan gak? Review lagi ya~?'
~ untuk Vipris terima kasih reviewnya ^^
'Keren? Fict-ku keren? Uwaaa! Arigarou! Arigatou! Ariga-hmmp! *dibekep* Ah, maaf. Salam kenal juga! Makasih udah di fave~ maaf gak bisa update kilat (_._) maklum, factor usia #plak! Bercanda, maksudnya factor biologis #plak! Iya, iya. Maksudnya itu semua karena Kazu diserang badai tugas yang tak kunjung reda. Dan saat mulai reda malah kehilangan semangat. Maaf ya? Oh ya, panggilnya 'Kazu' aja. Jangan senpai. Kazu belum ada apa-apanya. Review chap ini lagi ya?'
~ untuk Namikaze Shiruna Kuruta terima kasih reviewnya ^^
'Pairnya gak usah begitu diperdulikan. Disini gak ada pair #duak! Prang! Duar! A-ampun! Kazu Cuma bercanda! Yah, pairnya SasuNaru kok… dibikin banyak pair biar Sasu cemburu gitu…. Intinya begitu. Sudah update. Maaf gak update kilat~ RnR terus ya~'
~ untuk icha22madhenterima kasih reviewnya ^^
'ahahaha.. gak apa kok! Makasih sudah baca dan sudi menyukai fict ini~ sudah update~! Review lagi ya!'
~ untuk Hikarii Hanaterima kasih reviewnya ^^
'Sama-sama! Oke, sekarang Kazu manggil kamu Rii-chan ya? gak bisa pake acc-mu? Hmm, gak tahu juga? Maaf Kazu gak bisa cepet-cepet update. Review?'
~ untuk sasutennaru terima kasih reviewnya ^^
'Betul! Sasu ngaku aja deh! Meski Kazu gak yakin bakal diterima… bagaimana pun kau itu seme bejad! *Sasu: sialan! Lo bilang gue bejad? Rasain, Chidori!* Hehe.. makasih udah bilang menarik. Udah update. Review lagi ya?'
~ untuk Vii no Kitsune terima kasih reviewnya ^^
'Iya~ mereka sepupu. Hubungan biologis boleh di acak-acak 'kan? Eh? Gak enak badan? Semoga cepet sembuh~ *Sasu: pasti udah sembuh lah! Lo 'kan updatenya lama banget!* hiks, Sasu jahat! Review lagi, oke?'
~ untuk Hanazawa Ais terima kasih reviewnya ^^
'Aah… Ano, kau berlebihan Ais-kun. Nih, lanjutannya. Review lagi ya?'
~ untuk Hinazawa Ruki terima kasih reviewnya ^^
'Kyaaaa~ *treak ala FG* #plak! Kau me-review fict-ku rucchan? Arigatou! Kenapa jadi BL? Tentu saja karena Kazu seorang serius mau jadi SasuNaru! Oke, sudah lanjut. Kalau tak suka BL jangan memaksakan untuk membacanya ya? nanti kau bisa muntah. Kalau sanggup baca, review lagi ya?'
~ untuk Sadistic Shinigami Kuromaru terima kasih reviewnya ^^
'Kuro-chan! Ahh- terimakasih info-nya. Makasih reviewnya! Review lagi ya!'
Sudah semua~ nah, sampai jumpa di chapter depan!
JAA NE~
REVIEW or FLAME, please?
