Chapter 7 The Beginning of Everything

Disclaimer : Oh, masa' pada gak tahu sih? Naruto itu jelas-jelas punya Kazu! *Disambit sandal sama MK + diChidori"

Rated : T

Pairing : Sudah pasti! SASUNARU! Slight xxxNaru~

Warning : OOC tingkat tinggi, typo(s), alur cepat, gaje, abal, EYD hancur dan…. BL~

Genre : Romance/Friendship

HAVE A NICE READ!

.

.

.

Flashback

"Hei, mumpung liburan bagaimana kalau kita pergi ke penginapan?" ajakku akhirnya.

"Emm… bagaimana ya? Terserah Botchama sajalah. Saya tak punya hak untuk melarang anda."

"Bagus. Sudah diputuskan! Akan kuhubungi akan pergi besok! Siapkan segalanya." Kataku mengakhiri percakapan.

'Ternyata liburan benar-benar menjadi Neraka bagiku.' Pikir Naruto.

'Ternyata liburan itu seindah Surga~' pikir Sasuke.

Siang dan malam. Cahaya dan kegelapan. Dua pribadi yang bertolak belakang. Pemikiran yang berlawanan. Tapi, sisi itulah yang istimewa. Dengan adanya perbedaan bukankah kita jadi saling melengkapi?

Chapter 7 The Beginning of Everything

.

.

Normal POV

Malam yang tenang di Uchiha Mansion. Hampir seluruh penghuninya telah terbuai dalam indahnya alam mimpi. Hamper? Ya, masih ada satu penghuninya yang masih tetap terjaga malam itu. Dari yang terlihat, tampaknya ia sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Sosok itu tampak sangat serius menatap sebuah kertas dalam genggaman tangannya.

"Hmm, sepertinya sudah semua." Gumam sosok itu. Sosok itu berperawakan lumayan tinggi bagi remaja seumurannya dengan rambut berwarna pirang terang dan mata seindan batu sapphire.

"Hhh~ menjadi butler memang merepotkan ya? harus bangun paling awal dan tidur paling akhir. Apalagi harus melayani tuan muda yang manja." Keluhnya.

Ia kembali memperhatikan kertas dalam genggamannya yang ternyata adalah daftar barang-barang yang harus ia bawa dan siapkan untuk liburan tuan mudanya.

"Kurasa cukup. Berarti aku bisa pergi sekarang." Gumamnya lagi.

Sosok berambut pirang itu menyambar jaket hitam yang sedari tadi ada didekatnya dan mengayunkan kakinya keluar ruangan. Menuju pintu belakang Mansion. ia keluar dari Mansion Uchiha, tempatnya bekerja dan segera bersembunyi dibawah bayangan pohon dimalam gelap tanpa kehadiran sang bulan itu. Untuk mempersingkat waktu tempuh, ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas dengan melompat diantara atap rumah. Ia semakin mempercepat langkahnya sambil sesekali menatap denah yang terlukis pada kertas yang dipegangnya. Sosok itu menghentikan langkahnya tiba-tiba dan melompat turun dari atap.

"Ini ya, rumahku?" ucapnya lemah. Matanya merefleksikan kesedihan dan kerinduan yang dalam.

Sosok berambut pirang itu, atau yang biasa kita panggil dengan Naruto, menundukkan kepalanya sedih. Ia mulai mengangkat kepalanya perlahan, "Tadaima, Tousan, Okaasan."

Ia melangkahkan kakinya, perlahan memasuki halaman depan Namikaze Mansion. ia membuka pintu utama dengan satu gerakan tegas namun lembut. Pintu berderik membuka. Mengekspos seluruh ruangan yang ada didalamnya. Ia mulai melangkahkan kakinya, langkahnya terlihat sangat ragu.

"Hhh… Kendalikan dirimu, Naruto! Kau datang kesini bukan untuk mencuri! Bagaimana mau mencuri kalau semua benda disini adalah milikmu sendiri?" serunya pada diri sendiri.

Ia kembali melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda. Perlahan, ia mulai menyusiru tiap inci rumahnya.

"Sial! Kenapa muncul disini lagi? Masa' tersesat didalam rumahn sendiri? Tidak lucu!" gumamnya kesal karena kecerobohannya sendiri.

'Seharusnya kuminta Gaara-nii untuk membuah denah ruangan rumah ini juga.' Batinnya.

Ia memutar balikkan tubuhnya dan mencoba untuk mencari jalan lain. Beruntung, tak lama kemudian ia mendapatkan pintu yang akan membawanya meuju ruang yang sedari tadi dicarinya, perpustakaan. Naruto membuka pintu perlahan. Bau apak langsung menyergap hidungnya, membuatnya bersin.

"Hatchiiii! Sial, rumahku tak terurus sama sekali ya?" ucapnya.

Mengacuhkan segala macam bau yang menyerang hidungnya, Naruto mulai mengaduk-aduk isi perpustakaan itu. Ia mulai mengambil buku-buku yang kemungkinan adalah sebuah buku biografi keluarganya. Ia menghentikan aksi 'menghancurkan' perpustakaan yang sesungguhnya miliknya itu setelah mendapatkan beberapa buku yang ia inginkan.

"Hmm, cukup untuk sekarang. Aku bisa datang kapan-kapan lagi." Ujarnya berbisik.

Ia keluar dari ruangan itu dengan tiga buah buku ditangannya. Naruto menutup pintu utama Mansion perlahan. Setelah memastikan pintunya tertutup dengan baik, ia kembali melompat diantara atap rumah. Ia melirik jam Oranye yang melekat erat dipergelangan tangannya, pemberian tuan mudanya, "Gawat! Jam 4!"

Naruto mempercepat langkahnya. Ia tak ingin terlambat membangunkan Botchama-nya. Itu hanya akan membuatnya menjadi bahan tertawaan Kakashi, sang kepala pelayan. Naruto melompat turun dan berjalan mengendap-endap dibawah naungan bayangan pepohonan. Ia membuka pintu belakang dengan hati-hati, mengedarkan pandangan kesetiap sudut yang ada. Merasa cukup aman, Naruto segera masuk dan melangkah menuju kamarnya.

"Waktunya siap-siap." Gumamnya pelan.

Naruto segera melepas jaketnya dan berlari menuju kamar mandi untuk membasuh peluh yang mendominasi tiap inci tubuhnya. Selesai dengan mandinya, ia kembali kekamarnya, untuk mengambil coat-nya. Merasa cukup, ia segera menuruni tangga dan menuju kamar Botchama-nya.

Naturo POV

Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, menuruni dua anak tangga sekaligus. Akhirnya, aku sampai pada kamarnya, tuan mudaku. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan 'Permisi'. Saat celah pintu terbuka lebar, aku melihat Botchama-ku sudah berdiri didepan cermin, lengkap dengan setelannya.

"Kau telat, usuratonkachi!" Ujarnya mengejek.

Dahiku berkedut mendengarnya. 'Tahu apa kau, apa saja yang kulakukan semalaman kemarin?' Batinku kesal.

"Sumimasen. Saya akan menyiapkan sarapan anda dengan cepat sebagai gantinya." Ujarku sopan.

"Naruto, buatkan aku salmon sandwich dan jus tomat ya?" Pintanya.

Aku menengok kebelakang dan mendapatinya sedang tersenyum. Ya, tersenyum. Tersenyum. Tarse-nyum?

'Bo-botchama yang itu? Tersenyum?'

Aku melangkah dengan langkah lebar mendekatinya. Segera, kusambar dahinya dengan tanganku.

"Botchama, batalkan saja wisata ini dan istirahatlah. Kau pasti sedang sakit." Ujarku.

"Apa-apaan sih? Singkirkan tanganmu. Jangan banyak bicara, cepat siapkan sarapanku." Ujarnya sambil menepis tanganku dari dahinya.

"Baiklah. Saya permisi, Botchama." Balasku sambil meninggalkannya sendiri di ruangannya.

Sasuke POV

'Dasar bodoh! Kenapa aku dianggap sakit? Aku 'kan tersenyum untuknya.'

Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya itu. Masa- ah! Sudahlah. Buang-buang waktu memikirkannya. Tapi, wajahnya tadi... Imut sekali... Cukup. Kalau memikirkannya terus, pasti tidak akan ada habisnya. Sebaiknya aku segera ke ruang makan.

Aku berjalan dengan langkah lambat. Tak perlu buru-buru. Makananku tak akan ada yang menghabiskan kok. Jadi, santai saja.

"Ohayou." Ujarku sesampainya diruang makan.

"Ohayou Sasu-sama." Jawab Sasori.

"Ohayou, Sasu-chan." Kali ini Aniki-ku lah yang menjawab.

"Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan panggilan menjijikan itu!" Sahutku kesal.

"Ya, Otouto-ku yang menyebalkan." Balasnya dengan senyum menyebalkan.

"Botchama, duduklah. Sarapan anda sudah siap." Ujar Naruto yang baru saja keluar dari dapur,

Aku segera duduk di kursiku tanpa menjawab ucapannya. Ia meletakkan piring berisi Salmon Sandwich yang tadi kupesan. Tanpa pikir panjang, aku segera melahapnya. "Itadakimasu." Tak butuh waktu lama untukku, untuk menghabiskan sandwich-ku.

"Naruto, semuanya sudah kau siapkan 'kan?" Tanyaku pada Naruto.

"Tentu saja, Botchama." Jawabnya.

"Sasu-chan mau pergi ya? Bo-"

"Tidak boleh. Kau, tetap dirumah!" Potongku cepat.

"Tch, pelit." Umpatnya.

"Botchama, sebaiknya kita segera berangkat. Saya yakin kalau yang lain sudah sampai di rumah Neji-sama."

"Kau benar. Nah Aniki, aku pergi dulu. Jangan hancurkan rumah ini. Kau mengerti?" Ingatku padanya.

"Hei! Aku yang posisinya sebagai 'kakak' disini aku, tahu! Sasori, kau juga! Kenapa dari tadi kau tak membelaku?" Serunya tak terima.

"Sasori, sebagai butler-ku seharusnya kau-"

Selagi Aniki-ku asik dengan pidato mimbar bebasnya, aku dan Naruto bergegas menuju mobil yang akan membawa kami sampai ke kediaman keluarga Hyuuga, tempat kami berkumpul. Naruto membukakan pintu mobil untukku dan mempersilahkan-ku. Aku masuk dan menyamankan diri di jok belakang sedangkan, Naruto duduk di jok depan disamping jok supir.

Tak lama waktu berselang, kami sudah sampai di kediaman Hyuuga. Disana sudah berkumpul teman-teman kami. Wajah mereka terlihat bosan. Apa aku terlalu membuat mereka menunggu? Ah, sudahlah. Tak usah dipedulikan.

Normal POV

Sasuke berjalan dengan langkah angkuh khas miliknya. Merasa sama sekali tak berdosa telah membuat temannya hampir berjamur menunggu kedatangannya.

"Kau lama sekali, Sasuke." Ujar Neji dingin.

"Hn."

"Maafkan saya, Neji-sama. Keterlambatan Botchama kali ini sepenuhnya kesalahan saya." Ucap Naruto sambil membungkuk hormat.

"Tak perlu begitu, Naruto. Angkat kepalamu. Tidak apa-apa kok. Aku sih, rela-rela saja menunggumu. Tapi, aku tidak rela harus menunggu si bocah pantat ayam itu." Balas Neji sambil mencoba menegakkan wajah Naruto untuk menghadapnya.

"Huh!" Sasuke yang disalahkan hanya mendengus kesal dan membuang muka.

Naruto mengangkat wajahnya perlahan dan tersenyum hangat, "Arigatou, Neji-sama." Ucapnya.

Sontak, wajah Neji bersemu melihat senyuman Naruto yang sangat manis itu.

DEG!

'I-imutnya~!' Batinnya tanpa sadar.

Neji membatu pada posisinya hingga suara Gaara mengintrupsi.

"Ehem! Naru-chan, kemarilah, Niichan rindu padamu." Panggil Gaara dengan tujuan menyelamatkan adik tersayangnya dari sasaran seme-seme bejat. *diJyuuken+Chidori*

"Gaara-niichan!" Naruto segera menghambur kepelukan Gaara.

Sasuke dan Neji hanya bisa pasrah dan melempar pandangan cemburu pada Gaara yang bisa bebas memeluk Naruto.

"Ano, jadi pergi tidak sih? Aku kepanasan disini. Terlebih dengan aura-aura yang kalian keluarkan." Ujar Sai menyadarkan mereka.

"Masuk ke mobilku." Perintah Sasuke pada mereka semua agar segera masuk dan melakukan perjalanan liburan mereka.

Tujuan liburan mereka kali ini adalah onsen milik keluarga Uchiha yang berada di gunung Myoboku. Dalam tak ada yang membuka suara. Semua bergelut dengan pikiran masing-masing. Akh, terkecuali Sai. Ia sibuk dengan kantung muntahnya, dia mabuk perjalanan darat.

'Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya pada Naruto.' Pikir Sasuke.

'Aku baru sadar kalau Naru manis sekali ya? Yosh, ini kesempatan bagus untuk melakukan pendekatan!' Pikir Neji.

'Aku harus selalu siap siaga menjaga Naru-chan agar tidak diterkam mereka' pikir Gaara sambil melirik sinis dan menerka-nerka apa yang ada dipikiran Neji dan Sasuke.

'Meski liburan, aku tak boleh menurunkan kewaspadaan dalam menjaga Botchama!' Pikir Naruto.

'Ukh... Aku mual, hoek' Sai mengeluh dalam hatinya.

Yah, begitulah isi kepala mereka kala itu. Beberapa puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai pada onsen milik Uchiha. Saat mereka memasuki halaman penginapan, mereka langsung disambut oleh para pelayan yang bekerja disana.

"Selamat datang, tuan muda" ujar para pelayan itu sambil membungkuk hormat.

Mereka memasuki bangunan dan disambut oleh sang kepala pelayan, "selamat datang, tuan."

Dari kelihatannya, sang kepala pelayan tak berumur lebih dari 16 tahun. Ia memiliki rambut berwarna pirang sangat pucat dan mata ungu yang indah.

"Nama saya Shion, kepala pelayan baru disini."Ujarnya memperkenalkan diri.

Sasuke tak menjawab dan hanya melengos menuju kamarnya. Begitu pula dengan yang lain, terkecuali Naruto yang dengan ramah mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri,

"Namaku Namikaze Naruto. Yoroshiku, Shion-san." Ujarnya sambil tersenyum ramah. Hal tersebut sukses membuat Shion berwajah merah padam.

"Y-yoroshiku ne, Namikaze-san." Ucapnya formal.

"Naruto."

"Eh?"

"Panggil aku Naruto saja ya, Shion-san." Ucapnya sambil berlalu membawa koper sang tuan muda. Meninggalkan berbagai kesan pada Shion dalam perkenalan tadi.

'Ramah dan tampan. Apa ia juga salah satu teman Sasuke-sama?' Tanyanya dalam hati.

'Akh! Apa yang kupikirkan? Kau harus ingat posisimu, Shion! Kau hanya pelayan disini! Ya, hanya pelayan.' Batinnya miris.

"Akh! Aku harus segera menyiapkan makan siang tuan!" Serunya sambil berlari kecil menuju dapur.

Sasuke POV

'Penginapan ini tak berubah sama sekali ya? Hanya kepala pelayannya saja yang baru.'

'Rasanya rindu.' Pikiranku mulai melayang ke masa-masa saat aku masih kecil dulu. Keluargaku yang hangat. Kehangatan yang kurindukan. Kehangatan yang tak pernah lagi kurasakan setelah kematian Kaasan.

"Sasuke, kami menempati kamar yang mana?" Tanya Gaara mengembalikan pikiranku ke alam nyata.

"Terserah. Masing-masing mendapat kamarnya sendiri." Jawabku singkat.

"Aku dengan Naru!" Seru Sai sambil mengangkat tangan layaknya anak TK.

"Tidak bisa dia denganku saja." Sahut Neji tak mau kalah.

'Oi! Oi! Percaya diri sekali mereka? Jelas-jelas Naruto akan sekamar denganku. Aku 'kan tuannya.'

"Tidak. Naruto harus bersama-"

"Aku." Potong Gaara.

'Hei!'

"Apa-apaan kau Gaara? Aku tuannya!" Seruku tak terima.

"Memangnya seorang pelayan harus tidur sekamar dengan tuannya? Tidak 'kan? Itu sih, hanya berlaku untukmu yang berpikiran kotor!" Sahutnya tak mau kalah.

"Ada apa sih? Ribut sekali. Seperti anak kecil." Ujar Naruto yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakangku.

"Waktu yang tepat. Naruto, kau pilih sekamar dengan siapa? Aku, Gaara, Sai atau Sasuke?" Tanya Neji cepat. (K/N: ini sama sekali tak berguna, Neji. ==" *Jyuuken!*)

'Pilih aku, Dobe! Aku tuanmu! Pilih aku! Pilih aku!' Aku terus merapalkan kalimat itu dalam hati seakan itu adalah kalimat mantra yang bisa membuat Naruto memilih sekamar yakin, kalau mereka juga merapalkan kalimat yang sama meski tak serupa -?-

"Aku..." Ia menggantungkan kalimatnya.

'Aku, Dobe! Pilih aku!'

"Tak akan sekamar dengan siapa pun." Lanjutnya datar.

Gubrak!

"Jawaban apa itu?" Teriakku sewot.

"Habis! Ini pasti bakal jadi perselisihan tidak berguna! Ya sudah, aku tidak memilih siapa pun. Tapi, aku akan tidur dikamar yang bersebelahan dengan kamarmu, Botchama. Untuk jaga-jaga." Jawabnya santai

'Ya sudahlah. Yang penting masih dekat.' Pikirku.

"Hn."

Naruto POV

'Hahh... Mereka itu, ada-ada saja. Buat apa berebut untuk sekamar denganku?'

Aku menggeret koper milik tuanku memasuki kamarnya. Segera, kususun bajunya dilemari yang telah disediakan. Setelah selesai aku langsung meminta izin untuk pergi kekamarku sendiri agar aku bisa membereskan barangku. Karena pasti akan butuh waktu lama untuk menemukan persembunyian yang pas untuk senata-senjatku. Aku tak mau ambil resiko dianggap pembunuh. Salah-salah, aku bisa dipenjara 'kan?

"Setelah ini aku mau berendam. Siapkan handukku." Perintah Botchama-ku.

"Ha'I"

Aku segera kembali kekamarku dan membereskan senjataku. Selesai dengan senjata, aku bergegas kembali ke kamar Botchama.

"Akh! Lupa!"

Aku berbalik menuju lemari disudut kamar yang kualih fungsikan sebagai tempat menyimpan senjata. Kuambil dua handgun dan menyembunyikannya dibalik kemeja Oranye polosku untuk jaga-jaga selama Botchama berendam.

"Permisi."

Kubuka pintu kamar Botchama. Kuayunkan kakiku menuju lemari tempat aku tadi menyusun pakaiannya. Kuambil peralatan yang sekiranya akan dibutuhkan Botchama-ku.

"Botchama, semua sudah saya siapkan. Mari,"

"Hn."

Botchama berjalan mendahuluiku, aku berjalan dibelakangnya bak anjing yang patuh mengikuti tiap langkah majikannya. Botchama memasuki ruang ganti sedangkan aku menunggunya diluar. Tak lama, ia keluar hanya dengan handuk yang dililitkan mengikat pinggangnya. Mengekspos dada porselennya yang bidang. Jika aku perempuan, aku pasti sudah pingsan kekurangan darah karena nosebleed.

Lagi-lagi, ia berjalan mendahuluiku. Ternyata disana sudah ada Sai-sama, Neji-sama, dan Gaara-nii. Tanpa menyapa teman-temannya, Botchama segera memasukkan tubuhnya, merilekskan ototnya.

"Naru, kau tak berendam?" Tanya Gaara-nii.

"Akh! Aku lupa!" Seruku.

"Ahahaha! Kau ini lucu sekali, Naru masa' begini saja sudah lupa?" Ujar Neji-sama mentertawakanku.

"Maksudku bukan untuk berendam, Neji-sama." Jawabku singkat.

Aku melompat dan bertengger didahan pohon yang ada sebelahku. Mencoba duduk dan menyamankan tubuhku didahan itu.

"Kau tak berendam?" Tanya Sai-sama dengan berteriak.

"Tidak, Sai-sama. Saya harus memantau keadaan sekitar sini." Jawabku tegas.

"Kau yakin, Dobe?" Tanya Botchama.

"Ya, Botchama."

'Lagi pula aku tak begitu suka berendam. Apalagi dimusim panas seperti ini. Yah, meski udara disini sejuk sih.'

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menikmati hembusan angin lembut di tubuhku yang membuatku segera meresa nyaman duduk di dahan itu.

'Ng?'

Aku sepertinya melihat pergerakan sesuatu. Gerakannya sangat cepat. Kurasa bukan manusia. Biarkan saja. Mahkluk itu pasti ingin hidup.

Splash!

Dari kedengarnnya, mereka sudah selesai berendam.

Aku melompat turun dari dahan. Mendarat mulus tepat didepan Botchama.

"Cepat sekali?" Tanyaku. Tumben Botchama tidak berteriak kaget? Biasanya selalu begitu kalau aku tiba-tiba muncul dihadapannya. Apa ia sudah biasa ya?

"Kami lapar." Jawab Neji-sama singkat.

"Baiklah, saya akan menyiapkan makan siang. Silahkan menunggu di ruang tengah." Ujarku penuh kesopanan.

"Kau bodoh atau apa sih? Ini 'kan penginapan. Makanan pasti sudah disediakan." Sahut Botchama.

"Eh?"

"Dasar bodoh. Sudah. Ayo segera masuk."

Kami berlima pun segera memasuki ruang makan setelah sebelumnya mereka memakai pakaian mereka.

Benar perkataan Botchama. Makanan sudah disediakan disana. Botchama duduk santai dan aku mengambil posisi dibelakangnya, selayaknya seorang butler.

"Sedang apa kau disana? Ayo, duduk dekat Niichan." Panggil Gaara-nii ramah.

"Aku-"

Belum selesai dengan jawabanku, Botchama menyelak, "Biasa sajalah, Dobe! Ini liburan. Tak perlu se-formal itu."

"Eh?"

"Duduk. Disini." Perintah Botchama sambil sedikit menggeser duduknya. Memberikanku tempat disampingnya.

"A-arigatou." Jawabku gugup. Baru kali ini ada yang memperlakukanku sebaik itu.

Kualihkan pandanganku pada makanan yang teredia diatas meja.'Apa ada yang beracun ya?' Pikirku. Kulirik Botchama. Ia mengambil sumpit dan mencoba mengambil salah satu makanan yang tersedia.

'Akh!'

Kurebut sumpit dari tangan Botchama dengan cepat.

"Hei!" Protesnya.

Tanpa mempedulikan protesnya, kukulum ujung sumpit itu.

'Hmm, tak beracun.'

Kukembalikan sumpit itu padanya, "Silahkan."

Ia menyambar sumpit yang kupegang, "Apa yang kau lakukan?" Serunya.

"Hm? Mendeteksi apakah sumpit itu beracun atau tidak"

Normal POV

"Hm? Mendeteksi apakah sumpit itu beracun atau tidak" jawab Naruto santai atas pertanyaan penuh emosi -?- Sasuke.

Sasuke tak membalas ucapan Naruto. Ia menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan semburat merah dipipi putihnya.

'Kalau aku makan pakai sumpit ini... Berarti... Aku berc-c-ci-ciuman tak langsung dengan Naruto?' Batinnya histeris.

Yang lain hanya speechless. *alah, bilang aja cengok* Sedangkan Naruto sendiri sedang sibuk mencicipi satu-satu makanan yang ada disana. Mendeteksi apakah beracun atau tidak.

'Sip! Semua sudah kucoba dan ternyata tak ada racunnya.' Batin Naruto.

Naruto pun mengambil sumpit dan berucap pelan, "Itadakimasu."

Mereka makan dalam diam. Setelah selesai, mereka segera kembali ke kamar masing-masing dengan alasan 'Tidur siang'. Tapi tidak untuk Naruto. Ia membantu para pelayan membereskan piring kotor bekas makan siang mereka.

"Biar kubantu." Ujar Naruto sambil membawa piring-piring kotor ditangannya.

"Akh! Jangan tuan! Biar kami saja. Anda bersantai saja." Bantah salah seorang pelayan.

"Tak apa. Dan jangan panggil aku 'tuan'. Posisiku sama dengan posisi kalian dalam keluarga Uchiha." Jawabnya sambil tersenyum.

"Panggil Naruto saja ya!" Lanjutnya ceria.

Para pelayan yang tadinya ingin mencegah Naruto, hanya bisa diam sambil menahan darah darah segar yang memaksa keluar dari hidung mereka. Tanpa memperdulikan keadaan para pelayan itu, Naruto mulai membasuh piring-piring tadi dan membilasnya dengan air hingga bersih.

"Lho? Naruto-sama! Bi-biar saya saja yang melakukannya. Anda istirahat saja, Naruto-sama." Seru Shion kalang kabut.

"Yup! Selesai!" Ujarnya riang.

"Tenang saja, Shion-san. Kau tidak akan dimarahi Sasuke-sama mu itu kok!" lanjutnya.

"Ta-tapi, kalau saya membiarkan teman Waka mencuci piring kotor, beliau pasti-"

"Tidak akan, kok!" potong Naruto.

"Karena aku juga pelayannya. Pelayan pribadi Uchiha Sasuke-sama." Lanjutnya sambil tersenyum lembut.

"Ja-jadi, kau- fuhhh~ membuatku khawatir saja!" ujar Shion kesal.

"Ahahahaha! Gomen ne! Maaf sudah membuatmu khawatir!" Ujar Naruto dengan muka polos.

"Sudahlah. Oh ya, sejak kapan kau jadi pelayan Waka?" Tanya Shion penasaran.

"Hmm? Entahlah?" Ujar Naruto sambil berlalu. Meninggalkan Shion yang sedang memasang wajah kesal atas jawaban Naruto tadi.

"Dasar anak kecil! Huuh!" gerutu Shion.

Naruto POV

Setelah selesai dengan piring-piring kotor itu, aku menyegeraka diri menuju kamar. Tujuanku segera ke kamar bukanlah untuk mengistirahatkan diri melainkan untuk mempersenjatai diri dan berjaga. Aku harus meningkatkan tingkat kewaspadaanku. Memperhatikan dengan teliti setiap aliran energi disekitarku. Entah mengapa aku merasa kalau sejak sampai disini, Botchama terus saja diperhatikan oleh seseorang. Yang membuatku bingung adalah, kadang auranya lembut dan kadang auranya kasar dan penuh dengan nafsu membunuh. Aku tidak mau asal serang saja dan berujung dicap sebagai pembunuh.

Aku terus berjalan dengan menundukkan kepala. Bukti bahwa aku sedang serius berpikir.

"Gyaaaaa!"

'Itu! Teriakan Botchama 'kan?'

Aku panik. Berbagai bayangan buruk menari dalam pikiranku. Aku yakin suara teriakan itu milik Botchama-ku. Suaranya khas sekali. Aku berlari secepat yang kubisa. Mengabaikan tatapan para pelayan lain. Dalam pikiranku saat ini hanyalah keselamatan Botchama. Tak ada yang lain.

Kutarik handgun dari balik kemejaku. Kutendang pintu kamar Botchama hingga lepas dari engsel-nya dan berteriak, "Menjauh dari Botchama!"

"Are? Sedag apa kau, Naruto?"

Normal POV

"Menjauh dari Botchama!" seru Naruto lantang.

"Are? Sedang apa kau, Naruto?" sahut sang obyek yang dikhawatirkan tanpa dosa. Pamandangan yang terpampang didepan Naruto adalah empat orang pemuda yang ia kenali sebagai tuan dan teman-temannya sedang asik bermain poker. Kartu berserakan diatas meja dan mereka duduk melingkari meja tersebut. Semua mengalihkan pandangannya pada Naruto.

"Heh? Botchama? Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto linglung.

"Kau kenapa sih?" Ujar Sasuke sweatdrop.

"Kenapa tiba-tiba kau menendang pintu Naru-chan?" Tanya sang Aniki, Gaara.

"Ya, dan kenapa kau mengacungkan pistol pada kami?" Tanya Neji tak kalah bingung.

"Jangan tembak aku Naru~!" Teriak Sai kalang kabut sendiri.

Suasana hening mendadak. Tak ada yang buka suara. Semua sibuk menatap Naruto dengan pandangan 'kau-tidak bermaksud-membunuh-kami-kan?'.

Naruto menurunkan senjatanya. Menyembunyikannya lagi dibalik kemejanya.

"Ahahaha! Gomen, kupikir, Botchama kenapa-kenapa. Hahahaha." ujar Naruto sambil tertawa hambar.

Masih ditatap seperti itu, Naruto mencoba membela diri, "Habis, tadi Botchama berteriak sih! Aku pikir ada penjahat." ujarnya sambil mengerucutkan bibir. Membuatnya terlihat seperti anak-anak yang sedang merajuk.

"O-oh." ujar Sasuke. Sai, Neji dan Gaara kompak.

Degh!

'Lagi-lagi! Aura membunuh yang sama.' Batin Naruto.

"Semua, TIARAP!" Seru Naruto lantang sambil menerjang kearah Botchama-nya. Menjadi tameng bagi sang tuan muda. Sepersekian detik kemudian, terdengan bunyi tembakan, yang disusul dengan bunyi pecahan kaca.

Dor! Dor! Dor!

Prang! Prang! Prang!

Sasuke, yang memiliki posisi yang sangat tidak menguntungkan itu pasti akan tertusuk dan tergores pecahan-pecahan kaca jika saja Naruto, Butler-nya tidak menjadi tameng baginya.

Darah segar mengalir di pelipis Naruto. Terus mengalir hingga dagunya dan menetes tepat diwajah Sasuke. Membuat Sasuke yang sadari tadi menutup mata, perlahan membukanya. Menampakkan sepasang iris onyx yang menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran.

"Botchama, daijoubu ka?" tanya Naruto lemah. Ia meringis merasakan perih di tubuh bagian belakangnya.

"Na-ruto?" ucap Sasuke tergagap.

"Daijoubu ka?" Naruto mengulangi pertanyaannya. Dijawab oleh anggukan lemah dari Sasuke.

"Yokatta na. Maaf, Botchama bisa anda bergeser sedikit? Saya tidak sudah tidak kuat." ujar Naruto dengan tubuh yang bergetar. Posisi Naruto saat ini tengkurap dengan siku dan lutut yang menahan berat tubuhnya agar tak menimpa sang tuan muda.

Sasuke beringsut bergeser. Setelah dirasa cukup memberikan ruang bagi tubuhnya, Naruto menghempaskan tubuhnya kelantai marmer yang keras dan dingin.

"Naruto!" Gaara, sebagai seorang kakak segera menghampiri Naruto setelah memastikan tak ada tembakan yang akan menyusul.

Tindakan Gaara diikuti Neji dan Sai yang keluar dari perlindungan meja.

"Aku tak apa-apa kok, Niichan." ujar Naruto berusaha menenangkan kakaknya yang mulai panik.

Tik!

"Keluar dari ruangan ini! CEPAT!"

Teriakan Naruto lagi-lagi disusul oleh suara tembakan beruntun. Kali ini, Naruto memberikan perlawanan. Ia menarik handgun-nya dan membalas tembakan-tembakan tadi. Menurut perhitungannya, setidaknya ada delapan sniper yang bersembunyi diantara pepohonan yang lebat itu. Naruto melayangkan delapan tembakan beruntun yang segera disusul oleh teriakan menyakitkan dari para sniper itu.

"Uuaaaghh!"

Darah para sniper itu membasahi dedaunan. Meninggalkan bercak merah dimana-mana. Lagi-lagi, ia membunuh seseorang. Naruto jatuh terduduk. Kakinya lemas dan kepalanya mulai pusing dikarenakan banyaknya darah yang ia keluarkan. Pandangannya mulai merngabur. Kesadaran mulai berkhianat padanya. Perlahan meninggalkannya. Tubuh Naruto terhempas. Ia belum pingsan sepenuhnya, matanya masih terbuka. Hanya saja, ia merasa tubuhnya terasa begitu berat untuk digerakkan.

Sasuke segera menghampiri tubuh Naruto yang terbaring tak berdaya tanpa mempedulikan larangan dari teman-temannya.

"Naruto!" seru Sasuke sambil berlari mendekati Naruto.

"Tunggu Sasuke! Keadaan belum sepenuhnya aman! Sasuke!" seru Neji.

"Naruto! Naruto!" Sasuke memanggil-manggil Naruto yang terbaring lemas. Mangguncang-guncang tubuh itu.

"Ja-ngan kema-ri. Aku masih me-rasakan aura-"

Ucapan Naruto yang terbata itu dipotong seseorang yang sedang mengacungkan pistolnya kearah Sasuke, "Kau hebat ya? Tuan Butler."

"Eh?" Sasuke menengokkan kepalanya dan mendapati sebuah pistol mengacung tepat didepan dahinya.

"Sampai jumpa, Uchiha-san."

"Botchama!"

Sosok itu bersiap menarik pelatuk pistol dalam genggamannya.

-Alam bawah sadar Naruto-

"Hei bocah, kau butuh bantuanku 'kan?" terdengar sebuah suara berat dan menyeramkan.

"Hentikan, Kyuubi. Aku bukan budakmu." sahut Naruto. Ia yakin kalau yang baru saja bicara adalah 'sesuatu' yang ada dalam dirinya, Kyuubi.

"Tak usah basa-basi. Tinggal katakan saja siapa yang ingin kau bunuh. Aku pasti meminjamkan kekuatanku."

"Aku tak butuh!"

"Oh ya? Tapi, tampaknya kau sedang sekarat. Apa kau ingin membuat 'tuan'-mu itu terbunuh?"

"..."

"Ahahahaha! Kau mengakuinya 'kan? Nah, ayo segera selesaikan ini."

"Pinjami aku kekuatanmu, Kyuubi."

"khu khu khu khu... anak manis."

-Alam Nyata-

Naruto membuka matanya perlahan. Tubuhnya mulai mengeluarkan cakra berwarna oranye. Melapisi tiap inci tubuhnya. Mulanya kepala, tangan hingga seluruh tubuh. Akan tetapi, sebelum seluruh proses penyatuan antara Naruto dan Kyuubi selesai, sosok itu menarik pelatuknya. Sasuke menutup matanya, bersiap menjemput ajalnya.

Dor!

Naruto siap mengamuk sampai ia mendengar suara yang terbilang sangat ramah mengintrupsi, "Tuan, ini saya kembalikan pelurunya."

Sasuke membuka matanya perlahan, ia melihat punggung seseorang dihadapannya. Tubuh sang penembak bergetar hebat. Pistol dalam genggamannya jatuh. Proses penyatuan Naruto terhenti akibat tindakan 'orang' itu. Kuku-kuku 'seseorang' itu memanjang perlahan. Naruto tak meneruskan proses penyatuan dan tidak mencoba untuk menghentikan tiap pergerakan 'seseorang' tersebut karena ia dapat merasakan kalau orang yang menjadi tameng tuan mudanya saat ini adalah orang baik. Sama sekali tak memiliki maksud jahat. 'Seseorang' ini malahan bermaksud melindungi tuannya alih-alih dirinya yang sedang terbaring lemah dipangkuan sang tuan.

Lagi-lagi kepala nya terasa berat. Pandangannya mengabur dan menghilang bersamaan dengan tertutupnya kelopak matanya. Naruto pingsan.

"Berani sekali kau ingin melukai'nya', Hah?" seru 'seseorang' yang menjadi tameng Sasuke saat ini. 'Seseorang' itu mengayunkan tangannya. Menerjang kearah sosok penembak. Menembus dada sang penembak tepat dijantungnya. Tubuh sang penembak yang sudah tak bernyawa langsung jatuh.

Neji, Gaara dan Sai yang melihat adegan tadi tak bisa bergerak dari posisinya karena kaget. Baru kali ini mereka melihat seseorang membunuh orang lain tepat dihadapan mereka.

Sosok yang sedari tadi menggantikan posisi Naruto sebagai tameng Sasuke dan melindunginya, berbalik. Ia memutar tubuhnya untuk menghadap Sasuke. Ia berjongkok dihadapan Sasuke yang terduduk dan masih memeluk tubuh Naruto. Sosok itu mengangkat kepalanya perlahan dan menampilkan cengirang khas yang sangat diingat oleh Sasuke.

"Tadaima, Bocchan!" serunya riang.

"Kau-"

.

.

.

.

.

TBC

Yup! Udahan dulu ya! Sekarang bales review.

muthiamomogi

= Gak jadi Hiatus Momo-chan. Tadinya Kazu mau berhenti dulu karena lagi gak ada ide plus semangat. Tapi! Tiba-tiba ide dan semangat itu dateng! Akhirnya Kazu lanjutin deh.

elfdobby

= Okaerinasai, Oneechan! *hugs* Semoga chap ini bikin Neechan makin puas! Makasih reviewnya Neechan!

Vii no Kitsune

= Uwaaa! Maaf! Kazu bantuin bersihin lumutnya deh~ Semoga puas dengan chap ini~

Hanazawa Ais

= uhh~ Gomen, Ais-kun. Semoga kau puas dengan chap kali ini.

Vipris

= Cukup 'Kazu' saja panggilnya. Kalau mau pake embel-embel pakenya '-kun' aja. Kazu risih dipanggil pake '-chan' dan '-san'. Udah update nih! Cepet gak? Makasih review-nya~