Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Pairing: SasuNaru
Warning: OoC, AU, Abal, gaje, alur SUPER cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, Sho-Ai, and maybe typo(s).
Genre: Romance and Tragedy
Kazu's Note: Hehehehehe... *garuk2 kepala* ano, DUAK! DUAR! DZING! PRANG! *digebukin readers* Iya! Iya! Ampun! Kazu tahu, Kazu kelamaan. Gak update, update! Komputer Kazu Error... Harus instal ulang... Kena WB... diperintahkan secara 'halus' untuk membuat fict khusus untuk beberapa orang… (gak Kazu publish karena gak boleh sama yang minta) sibuk dengan tugas sekolah...(Akibat menumpuk pekerjaan) uhh, banyak! Makanya... baru bisa update sekarang, deh. Gomen! Hontou ni gomennasai! Chap ini isinya Flashback kehidupan Sasuke saat masih kecil. Pas masih menjalani hari-harinya bersama sang Butler pertama. Oke, Kazu gak cuap-cuap lagi. Hope you like this chapter.
Flashback
Sosok itu mengangkat kepalanya perlahan dan menampilkan cengiran khas yang sangat diingat Sasuke.
"Tadaima, Bocchan!" serunya riang.
"Kau-"
Chapter 8 Wareware no Kako?
"Kau-"
"Wah, tak kusangka kau masih ingat padaku. Senangnya~" potong sosok itu riang.
"Siapa?" lanjut Sasuke tenang.
"He?"
"Kau siapa?" ulang Sasuke.
"Bocchan... tidak ingat... pada... ku? Huweeeee!" sosok itu tiba-tiba berteriak sejadi-jadinya. Tak perduli dengan sekitar yang berusaha melindungi kuping mereka dari ketulian dini.
"O-oi, makanya kutanya kau siapa?" bentak Sasuke. Sepertinya, pendeskripsian 'cengiran khas yang sangat diingat Sasuke' harus diganti dengan 'cengiran khas yang tidak diingat Sasuke'.
"Kejamnya~ padahal kau memanggilku 'Niisan' dulu."
"Hahh? Eh,... KIBA?" Teriak Sasuke sambil menunjuk Kiba dengan jari telunjuknya. Sungguh bentuk ketidaksopanan pada orang yang lebih tua darimu.
Kiba menggenggam tangan Bocchan-nya dan menurunkan tangan itu agar tidak menunjuknya. "Tidak sopan. Aku lebih tua darimu, tahu!"
"Tidak... Mungkin..." Ujar Sasuke horor.
"He? Tidak mungkin? Apa yang tidak mungkin?" Tanya Kiba.
"Kiba seharusnya sudah mati! M.A.T.I.!" Ujar Sasuke menggebu-gebu dengan pengejaan kata 'mati'.
"Lagipula, kalaupun masih hidup, setidaknya kau sudah sumuran Kakashi! Harusnya mukamu tidak seperti pemuda seumuranku!" lanjut Sasuke makin kalap. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin orang yang seharusnya sudah berumur lebih dari 25 tahun bisa terlihat seperti pemuda berumur belasan tahun?
"Ah... Itu..."
"Tunggu, sebenarnya ada apa sih? Kami tidak mengerti arah pembicaraan ini." Potong Neji.
"Sebelum menjelaskan, lebih baik kita bawa Naruto ke kamar lain. Ia butuh mengistirahatkan badannya. Kita juga harus mengobati lukanya sebelum infeksi. Dan juga, sepertinya kalian punya sesuatu yang harus dibicarakan dengan serius." Ujar Gaara.
"Iya. Kasihan Naru." Sahut Sai setuju dengan usul yang diberikan Gaara.
"Hn." Dengan mudah, Sasuke membawa Naruto ke gendongannya. Baginya, tubuh Naruto terlalu ringan. Tak akan memberikan kesulitan berarti untuk menggendongnya.
Setelah membaringkan tubuh Naruto dan meminta sang kepala pelayan untuk mengobati luka-luka yang diderita Naruto, Sasuke juga Kiba dan yang lainnya menuju taman untuk membicarakan masalah 'siapa sosok yang menyelamatkanku ini?' ditemani dengan secangkir teh, berbagai cake dan angin sepoi sore hari.
"Nah, jadi kau siapa?" Tanya Sasuke membuka pembicaraan.
"Aku `kan sudah bilang, aku Kiba. Inuzuka Kiba. Butler pertamamu, Bocchan!" Sahut Kiba sambil memasukkan potongan terakhir cake-nya kedalam mulutnya.
"Kau masih mau bohong? Mukamu memang persis dengannya bagai pinang dibelah dua. Tapi, yang benar saja? Dia seharusnya sudah berumur sekitar 25 tahun! Wajahnya pasti tak beda jauh dengan Kakashi! Bukan wajah remaja belasan tahun seperti kau!" Sasuke mengatakan semuanya dalam satu tarikan napas. Membuatnya terengah-engah begitu menyelesaikan kalimatnya.
"Wow! Kau mengatakan semuanya dalam satu tarikan napas? Hebat." Puji Kiba tulus.
"Bukan itu! Jawab pertanyaanku! Siapa kau?" raung Sasuke murka.
"Ahahaha... seperti biasa, tempramen."
"Kau..."
"Oke! Oke! Aku akan cerita. Tapi, bagaimana kalau kau coba mengingat dulu kapan kau terakhir kali melihatku. Oke?" tawar Kiba.
"Umm, kalau tidak salah... Waktu ulang tahunmu 'kan?"
"Benar. Tapi, apa kau tahu apa yang terjadi setelah kau kuloloskan?"
Flashback
Liburan musim panas. Jadwal yang sangat dinanti-nantikan bagi kebanyakan anak sekolah dasar. Tak terkecuali dengan tuan muda kita. Tapi, sepertinya ia tak menikmati liburannya ini. Semenjak pagi ia terus saja menggerutu. Entah apa yang membuatnya kesal.
"Bosan." Keluhnya.
"Bocchan, apa yang membuatmu bosan?" tanya Butler-nya dengan sabar menghadapi tuan muda seperti dirinya.
"Bosan." Ulangnya.
"Sasu Bocchan, aku tak bisa membantumu kalau kau hanya mengulangi kata yang sama tiap detiknya." Jelas sang Butler.
"Bosan."
"Bocchan-"
"Kau tidak dengan Kiba? Aku bilang, Aku BOSAN!" serunya pada Kiba.
'Anak ini...' batin Kiba kesal.
"Bocchan, apa yang bisa saya lakukan agar kau tidak bosan?" tanyanya berusaha mengendalikan emosi.
"Bawa Aniki kesini." Jawabnya santai.
'Dia...' batin Kiba makin emosi menghadapi tuan mudanya ini.
"Itu tidak mungkin, Bocchan. Aniki-mu sedang mengurus masalah perusahaan. Ia sedang dilatih untuk menjadi penerus perusahaan keluargamu." Jawab Kiba sabar.
"Cih, tidak berguna." Olok Sasuke.
"Bocah menyebalkan." Bisik Kiba.
"Apa kau bilang?" tantang Sasuke.
"Bocah. Menyebalkan." Ulang Kiba tidak takut.
"Kau..."
"Apa? Tidak bisa membalas ya?" ejek Kiba.
"Anjing bau!" balas Sasuke.
"Bocah irit kata!"
"Ba-"
"Rambut pantat ayam!"
"Bo-"
"Kurang kosakata!"
"Chiku-"
"Bocah sok stoic!"
"Bre-"
"Pantan ayaaam!"
Yak, cukup. Semua olokan Kiba pada Bocchan-nya itu telah mendatangkan bencana pada dirinya sendiri. 3...2...1...
"Kemari kau, sialan!" raung Sasuke murka sambil menebaskan Katana kesayangannya pada Kiba.
"Hiii..." Kiba yang tidak mau mati muda, segera melarikan diri.
Mereka terus melakukan aksi kejar-mengejar hingga membuat seluruh mansion berantakan. Sekarang mereka sedang berlari di sepanjang koridor menuju ruang makan.
"Hii... Ka-kakashi! Tolong aku!" teriak Kiba sambil bersembunyi di balik punggung Kakashi.
"Yare-yare... ada apa ini?" Tanyanya sambil terus membaca buku yang dipegangnya.
"Bukan saatnya untuk membaca buku mesum! Nyawa bawahanmu terancam, tahu!"
"Memangnya ada apa?" Tanyanya santai masih tetap berkutat dengan bukunya.
"Kemari kau, Kiba!" teriakan Sasuke terdengar.
"Hiii... Bocchan ingin membunuhku!" jelas Kiba cepat.
"Haa?"
"Di sini kau rupanya." Ujar Sasuke dengan aura dewa kematian di belakangnya.
"Ahahahaha... Oha-you?"
"Gyaaaaaaaa!" teriakan Kiba membahana. Teriakannya yang keras mampu didengar oleh seluruh penghuni Mansion. Membuatnya mau tak mau jadi bahan tontonan para pelayan lain.
"Maafkan aku! Maafkan aku, Bocchan! Aku hanya bercanda!" pinta Kiba ketakutan karena sudah terdesak di pojokan dapur dengan Katana tepat di depan hidungnya.
"Hoo?" ucap Sasuke makin mendekatkan Katana pada Kiba.
"Hii..." Kiba mulai berkeringat dingin.
"Yak, cukup sampai di sini." Interupsi Kakashi sambil mengambil Katana dari tangan Sasuke.
"Ah! Kakashi, kembalikan!" perintah Sasuke sambil berusaha merebut Katana-nya kembali.
"Kau bilang kau bosan 'kan? Mau pergi belanja?" tawar Kakashi pada tuan mudanya.
"Balanja? Untuk apa?" tanya sang tuan muda bingung.
Kakashi berjongkok, menyetarakan tinggi tubuhnya dengan tinggi sang tuan muda. Lalu, ia berbisik tepat di samping telinga Sasuke, "Bukankah sebentar lagi ulang tahun Butler-mu? Mau memberikan kado 'kan?" tanya Kakashi.
"Oh ya, aku lupa. Ayo kita pergi Kakashi." Ujar Sasuke akhirnya.
"Eh? Bocchan mau pergi kemana?" tanya Kiba.
"Bukan urusanmu! Kau, tetap di rumah." Sahut Sasuke dingin.
"Eekh? Aku 'kan butler tuan muda! Harus ikut!" paksa Kiba dengan intonasi yang kekanak-kanakan.
"Tenang saja. Ada Kakashi yang akan menggantikan tugasmu." Balas Sasuke.
"Ta-"
"Tenang saja. Aku juga hebat kok." Potong Kakashi cepat.
"Ee... baiklah." Ujar Kiba akhirnya.
"Nah, ayo berangkat."
"Baiklah, Sasuke-kun."
Kiba POV
Kulihat mobil yang dikendarai Kakashi perlahan menjauhi mansion. Entah ingin pergi kemana mereka. Aku tidak dibiarkan tahu.
'Apa kubuntuti saja ya? Rasanya aku gelisah hari ini.'
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kuputuskan. Aku akan mengikuti mereka secara diam-diam. Kalau Bocchan tidak tahu, tidak apa-apa 'kan?
Segera, aku berlari menuju kamarku untuk mengambil jaket. Aku segera membawa kakiku keluar masion dan mengikuti arah yang tadi dituju Bocchan.
'Semoga hari ini tak terjadi apapun. Semoga kegelisahanku hanya sekedar pemikiranku saja.'
Normal POV
Kiba membawa kakinya melesat diantara para pejalan kaki lain. Berusaha agar tidak kehilangan jejak mobil sang tuan muda. Tiba-tiba mobil yang dibuntutinya sedari tadi berhenti di sebuah pusat pertokoan. Ia melihat tuan muda dan pelayan senior-nya turun dan mulai mengelilingi pertokoan ini hari Minggu. Membuat pusat pertokoan yang sudah padat jadi makin padat. Meningkatkan presentase tertinggal atau kehilangan orang yang pergi denganmu.
'Ramai sekali. Aku tidak boleh kehilangan jejak Bocchan. Bisa saja ia hilang di tengah keramaian ini.' Pikir Kiba sambil terus menjaga jarak dari tuan mudanya.
"Kakashi, menurutmu hadiah apa yang cocok untuk Kiba ya?" tanya Sasuke pada pelayannya.
"Umm, bagaimana kalau-"
"Bukan buku mesum-mu itu." Potong Sasuke tegas.
'Ya ampun, aku bahkan belum mengatakannya.' Batin Kakashi sweatdrop.
"Aku tidak mau dia jadi mesum seperti kau." Lanjut Sasuke.
'Padahal Kiba sudah cukup umur untuk membacanya.' Pikir Kakashi.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Ingat Sasuke.
'Dia bisa baca pikiran?' Batin Kakashi horor.
"Menurutku, kau mau memberikan dia kado apapun pasti akan diterima dengan senang hati. Karena dia tahu kau tulus memberikannya." Nasihat Kakashi.
"Hmm, meski mesum pemikiranmu bagus juga."
'Se-mesum itukah aku?' Batin Kakashi depresi.
Mereka mulai melangkahkan kaki mereka mengelilingi pertokoan. Berkali-kali mereka keluar masuk toko. Namun, tidak satu bendapun yang ada di toko-toko itu menarik perhatian Sasuke.
Sementara, tak jauh dari mereka, seorang pemuda berambut cokelat sedang memperhatikan mereka dengan seksama. Membuat para pejalan kaki lain melihatnya dengan wajah sweatdrop. Diakibatkan cara menguntitnya yang tidak umum.
DEG!
'Ng? Aku merasakan sesuatu.' Batinnya.
Ia mengalihkan pandangan dari Bocchan-nya dan mulai memperhatikan keadaan sekitar. Mengacuhkan pandangan orang lain dan mengarahkan pandangannya pada sebuah lorong sempit tak jauh dari tempatnya berdiri.
'Aku yakin ada sesuatu disana.' Pikirnya yakin.
Mengingat tujuan utamanya, Kiba kembali mengalihkan pandangnnya pada objek yang sedang di untitnya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Bocchan-nya mengedarkan pandangan kesegala arah dengan gelisah. Nampaknya ia terpisah dengan Kakashi.
'Bocah ceroboh.' Pikir Kiba.
Sasuke kecil mengedarkan pandangannya keseluruh sudut toko yang tadi ia masuki. Mencoba menemukan sosok House Steward-nya. Namun, nihil. Ia tak menemukannya dimanapun. Sasuke mulai panik. Ia keluar toko dengan tergesa-gesa, menenteng sebuah kalung khusus anjing yang akan ia berikan pada Kiba sebagai hadiah ulang tahun. Menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan gelisah. Ia berjalan dengan cepat, berusah mencari titik awal perjalanannya dengan Kakashi namun gagal. Ia tersesat.
Tanpa sadar dirinya telah tersesat, Sasuke kecil mulai berlari. Kepanikannya membuatnya tidak perduli dengan orang-orang yang ditabraknya.
Kiba yang melihat Bocchan-nya berlari tak tentu arah, mulai mengejar. Ia khawatir jika Bocchan kesayangannya memasuki daerah yang rawan akan kejahatan. Oh, tidak. Tidak. Ia tidak ingin sampai sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya. Umm, Majikannya.
'Kupikir dia orang yang tidak mudah panik. Yah, jika dilihat dari wajah stoic-nya.' Batin Kiba sweatdrop.
Kiba POV
'Akh! Dia mulai berlari. Aku harus segera mengejarnya. Bisa gawat kalau sampai hilang.'
Aku mulai berlari mengejarnya. Tidak perduli jika aku akan kena marah olehnya karena sudah dengan lancang membuntutinya. Aku semakin mempercepat lariku. Jarak kami hanya tinggal beberapa meter saja. Aku hanya perlu meneriakkan namanya dan, Voila! Kami pulang.
Aku menarik napas panjang untuk meneriakkan namanya sekeras mungkin, "SASU BOCCH-"
Belum sempat aku meneriakkan namanya, tiba-tiba ia melihat Sasuke memasuki lorong. Lorong yang sedari tadi dirasakannya menyebarkan aura dingin. Tanpa membuang banyak waktu yang bisa berakibat fatal untuk sang tuan muda, Kiba segera berlari menuju lorong itu.
"Sial! Ini memang hari yang menyusahkan." Rutuknya kesal.
"Lepaskan!" raung sebuah suara.
Tanpa perlu memastikan, Kiba tahu kalau suara yang baru saja didengarnya adalah milik tuan mudanya. Sesaat setelah Kiba memasuki lorong itu, sesuatu menghantam tubuhnya hingga ia terpelanting jauh.
"Uaaagh!"
"Niisan! Kiba-niisan! Apa yang kau lakukan, jelek? Lepaskan aku!" teriak Sasuke sambil berusaha melepaskan cengkraman orang yang sedang memitingnya.
"Sasuke! Jangan gegabah! Diam di sana!" seru Kiba menyuruh Sasuke untuk diam. Ia takut, salah-salah, nyawa tuan muda kesayangannya bisa melayang.
"Kau baik-baik saja, Kiba-niisan? Hei, Lepaskan ak-"
Bugh!
Sepertinya orang yang memiting Sasuke mulai kesal atas tingkah Sasuke yang sulit diam juga diatur. Ia memukul tengkuk Sasuke hingga ia tak sadarkan diri.
"Hah… kau diam juga akhirnya. Nah, sekarang kita bisa bertarung dengan leluasa. Iya 'kan, Inuzuka?" ujar orang itu pada Kiba yang masih diam mematung mencari kesempatan untuk menyerang dan menyelamatkan tuan mudanya. Tapi, sepertinya ia sudah terlambat selangkah. Tuan mudanya sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Kenapa kau tahu namaku? Siapa kau?" Tanya Kiba tenang. Meski sering ceroboh, sebenarnya Kiba tidak mudah tersulut emosinya. Ia bisa menghadapi segala sesuatunya dengan kepala dingin dan tenang.
"Wah, aku senang sekali kau menanyakan namaku. Perkenalkan, aku Zetsu. Lalu, kau tak ingin menyebutkan namamu, Butler-san?" ujarnya dibuat-buat ramah.
"…"
"Kau tahu, Butler-san? Tidak sopan jika kau tak menyebutkan namamu pada orang yang telah menyebutkan namanya." Ujarnya menyeringai.
"Kiba." Sahut Kiba singkat.
"Nah, begitu lebih baik. Sekarang, bisa kita mulai pertarungannya?" ujarnya seraya melompat dan menghujamkan kunai kea rah Kiba, mencoba menggores kulit kecokelatan Kiba.
Dengan mudah, Kiba melakukan salto kebelakang. Menghindari kunai yang diayunkan padanya.
"Kau lincah juga, ya? Pantas 'dia' tertarik." Ujar Zetsu seraya melompat mundur menghindari layangan kepalan tangan Kiba.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Kiba tanpa menghentikan gerakan tangan juga kakinya.
"Hi-mi-tsu." Sahut Zetsu seraya menempelkan telunjuknya pada belahan bibirnya sendiri. Dibaringkannya tubuh Sasuke tak jauh darinya.
"Heh. Kalau begitu, akan kubuat kau bicara." Ujarnya seraya membentuk beberapa segel.
'Kijyu ninpo. Shikyaku no jutsu.' Ucapnya dalam hati. Seketika itu, kuku Kiba yang semula normal menjadi tajam. Tubuhnya diselubungi oleh cakranya sendiri. Penciumannya pun meningkat jauh dari yang sebelumnya.
Dengan satu gerakan cepat, Kiba menghampiri Zetsu dan melayangkan serangan padanya. Tak ada gerakan perlawanan dari Zetsu. Kiba yakin pukulannya akan kena telak. Namun, sesaat sebelum pukulan Kiba mendarat pada Zetsu, tiba-tiba Zetsu menghilang dari hadapannya.
'Dihindari? Tidak mungkin!'
"Wah, belum-belum sudah dapat sambutan hangat. Aku jadi tersanjung bisa melihat Kijyu ninpo khas milik klan Inuzuka sedekat ini." Racaunya.
"Sialan! Diam kau!" raung Kiba kesal.
"Ughh... Ki-kiba-niisan…" erang sebuah suara mengalihkan perhatian Kiba dari Zetsu.
"Sasu Bocchan, kau sudah sadar?" Tanya Kiba setengah berteriak karena posisinya yang jauh dari Sasuke.
"Aku tidak apa-apa." Lirihnya. Nampaknya, kepalanya masih sakit karena pukulan itu.
"Kau sudah bangun? Hebat juga kau." Puji Zetsu seraya memandangi Sasuke yang tak seberapa jauh darinya.
'Kesempatan.' pikir Kiba.
Kiba melompat tinggi. Ia mengayunkan cakarnya kearah Zetsu. Lagi-lagi, dengan mudah dihindari Zetsu. Tak menyerah, Kiba kembali berusaha mencakar Zetsu. Kakinya pun tak tinggal diam. Berkali-kali Kiba melayangkan tendangan. Namun tak membuahkan hasil apapun. Tak ada yang mengenai sasaran.
"Kudengar klan Inuzuka itu kuat. Ternyata lemah begini. Apa karena tak ada yang mengajarimu?" bisik Zetsu tepat di kuping Kiba saat ia menghindari serangan Kiba.
Degh!
Kiba terus melayangkan berbagai pukulan dan tendangan yang sia-sia. Zetsu pun sepertinya senang bermain-main dengan Kiba. Ia terus menghindar tanpa melukai Kiba sedikit pun.
Satu pukulan dilayangkan.
Dihindari.
"Oh ya, kudengar kau itu satu-satunya anggota Inuzuka yang tersisa."
Tendangan dilayangkan Kiba.
Ditangkis dengan mudah.
"Kau sendirian, ya?"
Kiba melempar beberapa shuriken.
Dibalas oleh Zetsu dengan mudah.
"Pasti sepi, ya? Sendirian. Menjadi satu-satunya yang selamat."
Kiba kembali melayangkan tendangannya.
Tep! Kakinya ditangkap dengan mudah oleh Zetsu. Napas Kiba putus-putus akibat kelelahan.
"Kudengar, kau membunuh kakakmu? Kau membiarkan kakakmu terbunuh di depan matamu sendiri."
Kiba membelalakkan matanya terkejut. 'Ke-kenapa…. Dia tahu masa laluku?' Batin Kiba bingung.
"Kau terkejut? Kenapa aku bisa tahu?" ujar Zetsu menyebalkan.
"Siapa yang memberi tahu mu?" Tanya Kiba masih terengah.
"Siapa? Bukan siapa-siapa, kok. Fufufufu…. Aku tahu semua karena… akulah yang membantai klan-mu atas pertintah-'nya'." Ujar Zetsu seraya menusukkan kunai pada perut Kiba.
"Uaaaaagghh!"
Zetsu melempar tubuh Kiba dengan kasar. Tubuh Kiba memebentur tembok dengan keras hingga menimbulkan retakan di sana.
"Kiba!" seru Sasuke seraya mendekati tubuh Kiba yang ternaring kesakitan.
"Ki-kiba, daijoubu ka? Go-gomen…. Gomennasai. Ini karena aku… hiks… jangan mati. Jangan mati." Isak Sasuke.
"Bo-bocchan, tadi aku sudah menghubungi Kakashi. Begitu ia datang, segera lari dengannya. Aku akan menghalanginya." Perintah Kiba pada Sasuke.
"Tidak! Tidak mau! Kalau aku pergi, bagaimana dengan Kiba?" seru Sasuke.
"Tenanglah. Aku pasti pulang." Janji Kiba.
"Be-benarkah? Janji?" ujar Sasuke seraya mengulurkan jari kelingkingnya pada Kiba.
"Janji. Saat aku pulang nanti, pastikan kau menyambutku, ya?" sahut Kiba sambil menautkan jarinya pada jari Sasuke.
"Sekarang, pergi. Aku sudah merasakan keberadaan Kakashi. Lari kearah ujung lorong dan kau akan menemukannya." Perintah Kiba.
"Kau harus pulang. Aku akan menunggun dan menyambutmu, Kiba-niisan." Ujar Sasuke seraya berlari menjauhi Kiba.
"Wah, keputusan yang bagus sebagai Butler. Meloloskan tuan meski nyawa bayarannya. Patut dipuji." Ujar Zetsu santai.
"Kenapa kau tak mencegah Sasuke pergi? Dia incaranmu 'kan?" Tanya Kiba seraya berusaha berdiri.
"Buup! Salah. Kali ini kau salah langkah, Inuzuka. Kaulah incaran kami." Ujar Zetsu pada Kiba.
"Kami?" ulang Kiba.
"Bukan begitu, Pain, Konan?" seru Zetsu tanpa memperdulikan ucapan Kiba.
"Sesuai rencanamu bukan, Pain?" ujar Konan membuka suara.
"Ya."
"Ka-kalian… siapa sebenarnya kalian?" Tanya Kiba.
"Kami menyebut diri kami 'Akatsuki'." Ujar sebuah suara sebelum semuanya menjadi gelap bagi Kiba.
Kiba POV
Gelap.
Sakit.
Dingin.
Aku ada dimana?
Kenapa begitu gelap?
Akh! Aku harus segera pulang.
Bocchan akan mengomel padaku jika pulang terlambat.
Aku harus cepat. Harus.
Aku ingin segera melihat senyumannya yang jarang ia tampakkan itu.
Ingin melihat matanya yang selalu memantulkan bayanganku.
Menganggapku sebagai eksistensi yang nyata.
Ingin mendengar seruan kesalnya akibat ulahku.
Mendengar suaranya menyambutku pulang.
Mendengarnya yang mengucapkan….
Okaeri, Kiba-niisan!
Normal POV
"Ugh…" erang Kiba berusaha bangkit dari tidurnya.
"Sudah sadar?" ujar sebuah suara pada Kiba.
"Siapa kau? Kau membawaku kemana?" Tanya Kiba dengan suara lirih. Sakit di perutnya akibat tusukan kunai makin menjadi.
"Dia sudah bangun kita mulai upacaranya." Ujar suara itu mengacuhkan pertanyaan Kiba.
"Kau! Aku bicara padamu." Raung Kiba.
"Bawa dia."
"Oi! Mau ap- hei! Jangan asal tarik! Ooooiii!" seru Kiba sambil meronta mencoba melepaskan diri. Namun gagal. Tubuhnya lemas akibat luka yang dideritanya.
"Kita mulai."
Orang-orang disekeliling Kiba mulai mengonsentrasikan cakra mereka.
"Tung-uaaarrrggg! Apa yang kalian- ukh…. Lakukan? Uaaaaggghh!" raung Kiba kesakitan.
Tiba-tiba saja Kiba merasakan sesuatu yang kuat memasuki tubuhnya dengan paksa. Menggerogoti tubuhnya dari dalam.
"Diamlah, Inuzuka. Kami hanya membuatmu lebih kuat sebelum menjadi pion kami." Sahut sebuar suara.
"Pi-on? Aaaaaaggghhh!" setelah meneriakkan bentuk kesakitannya, Kiba jatuh tak sadarkan diri.
"Upacara selesai dengan sukses. Sepertinya dia pingsan." Ujar Zetsu membuka suara.
"Biarkan dia tidur. Biarkan pion manis kita menikmati keindahan alam mimpi sesaat. Sebelum ia menjalankan kewajibannya."
End of Flasback
"Lalu, setelah itu aku mulai diperintahkan untuk membunuh banya orang tak bersalah. Sampai akhirnya mereka lengah dan aku lolos!" ujarnya tersenyum.
"Aku beruntung 'kan~?"
"Begitu. Jadi kau tidak mati, ya?" ujar Sasuke dingin.
"Kenapa bicaramu begitu? Dingin sekali. Padahal dulu kau-"
Belum sempat Kiba menyelesaikannya, Sasuke sudah memotong, "Kalau begitu, aku harus mengucapkannya sekarang. Okaeri, Kiba." Ujarnya tersenyum.
"Eh? Etto… Ta-tadaima, Bocchan." Sahut Kiba tergagap.
Setelah menjawab ucapan Sasuke, Kiba melanjutkan, "Kenapa Cuma 'Kiba'? Mana 'Niisan'-nya? Padahal dulu-"
"Urusai!" potong Sasuke lagi.
"Ah,Bocchan malu, ya? Karena banyak yang lihat, ya?" goda KIba.
"Urusai. Urusai! Urusaaaaiiii!"
"Ternyata Anda punya masa lalu yang cukup buruk, ya Inuzuka-san." Ujar Gaara mencoba mencegah adu mulut antara Kiba dan Sasuke.
"Begitulah. Tapi, tidak masalah, kok." Ujarnya riang.
"Oh ya, bagaimana keadaan Naru, ya?" ujar Sai tiba-tiba.
"Benar juga. Ayo kita lihat." Ajak Neji seraya bangkit dari kursinya.
"Tidak perlu. Sebentar lagi ia akan sampai ke sini kok." Ujar Kiba sambil melahap cake-nya yang lain.
"Eh?" koor Sasuke, Neji , Gaara dan Sai kompak.
"BOTCHAMAAAA!"
"Na-naruto?" sahut Sasuke tergagap.
"Ah, Botchama! Saya mencari Anda dari tadi." Ujar Naruto seraya menghampiri Sasuke.
"Kau sudah sadar, Naruto?" Tanya Sasuke lembut.
Naruto terus melangkah mendekati Sasuke. Menghiraukan pertanyaan Sasuke. Dari wajahnya, jelas sekali kalau ia sedang khawatir dan cemas saat ini. Dengan cepat disambarnya pergelangan tangan Sasuke. Ditelitinya tiap inci tubuh tuannya itu. Berkali-kali ia memutar tubuh Sasuke tanpa seijin sang pemilik tubuh.
"O-oi! Naruto! Kau sudah sadar apa belum, sih? Kau mengigau, ya? jangan putar tubuhku seenak jidatmu!" seru Sasuke seraya menangkap tangan Naruto yang sekarang mulai menggerayangi tubuh Sasuke. Mencoba menemukan bekas luka di sana. Yang malah membuat Sasuke panas-dingin dibuatnya.
"Botchama, jawab pertanyaan saya dengan jujur. Saya hanya mengatakannya sekali." Ujar Naruto lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Sasuke.
"E-eh? Memangnya kau mau bilang apa?" Tanya Sasuke dengan wajah memerah.
'Jangan-jangan pe-pernyataan cinta?' pikir Sasuke penuh harap.
"Jangan berharap, Uchiha." Ujar Neji dan Gaara kompak seakan bisa membaca pikiran Sasuke.
'Berharap 'kan, boleh-boleh saja. Apa masalah mereka?' batin Sasuke.
"Apa yang mau kau katakan, Naruto?"
"Botchama, kau…"
'Ayo, Dobe! Nyatakan! Nyatakan! Tak usah malu. Anggap saja mereka itu lalat! Ayo!' batin Sasuke.
'Jangan Naruto! Jangan! Kau tidak serius 'kan, suka pada di Uchiha mesum satu ini?' batin Neji dan Gaara kompak.
'Bocchan pasti berpikiran yang tidak-tidak saat ini.' Batin Kiba sweatdrop.
'Kenapa Sasu-nii jadi tegang? Padahal 'kan, Naruto Cuma ingin menanyakan keadaannya.' Batin Sai bingung.
Tampaknya, hanya ada dua manusia yang normal disini. Ah, jadi tiga jika Naruto dimasukkan dalah hitungan.
"Apa kau…"
'Ayo, sedikit lagi. Kau hanya perlu menyebutkan 'mau jadi pacarku' dan selesai! Ayo!' batin Sasuke tidak sabar.
'Jangan, Narutooo!'
'Ya, ampun.'
"Kau… terluka?" Tanya Naruto akhirnya.
"Hah?" sahut Sasuke tidak mengerti. Sedangkan Gaara juga Neji sedang bersorak bahagia dalam hati karena hal buruk yang mereka bayangkan tidak terjadi.
"Apa kau terluka di suatu tempat? Tadi, saya pingsan. Saya tidak bisa memastikan keadaan Anda." Ulang Naruto datar.
"Apaaa?" raung Sasuke.
"E-eh?"
"Jadi, kau bicara putus-putus tadi cuma ingin menanyakan keadaanku?"
"i-iya." Sahut Naruto seraya memundurkan wajahnya. Akibat dari Sasuke yang memajukan wajahnya kearah Naruto.
"Bodoh! Kau membuatku berharap dan salah paham!" balas Sasuke.
"Memangnya apa yang kau pikir akan kukatakan, Botchama? Memangnya apa lagi yang akan saya ucapkan selain untuk menanyakan keadaan Anda?" Tanya bingung.
"Sudah. Sudah. Yang penting Butler-mu sudah sadar, Bocchan." Lerai Kiba.
"Ah. Maaf, Anda siapa? Kenapa memanggil Botchama-ku dengan sebutan 'Bocchan'?" Tanya Naruto sopan.
"Ah, aku, ya? perkenalkan, aku Inuzuka Kiba. Butler pertama tuan muda." Sahut Kiba.
"Butler pertama?"
"Ya. dia Butler pertamaku." Ujar Sasuke membenarkan perkataan Kiba.
"Yoroshiku ne, Naruto." Ujar Kiba seraya mengulurkan tangannya pada Naruto.
"Y-yoroshiku. Ano, mungkin aku lancang tapi, benar kau Butler pertama Botchama? Kau terlihat muda sekali. Memangnya kau menjadi Butler Botchama pada umur berapa?" Tanya Naruto
"Banyak yang terjadi. Akan kuceritakan pelan-pelan. Tapi, nanti saja, ya? Toh, kita pelayan dirumah yang sama?" sahut Kiba malas.
"'Pelayan di rumah yang sama'? Botchama, kau akan mempekerjakannya lagi?" TanyaNaruto pada Sasuke.
"Tentu saja. Ia sudah susah-susah pulang, masa' diusir begitu saja?"
"Ba-baiklah."
"Tenang saja, aku tidak akan mengambil pekerjaanmu, kok." Ujar Kiba pada Naruto.
"A-ah. Iya. Terima kasih."
"Oh ya, lukamu bagaimana?" Tanya Kiba.
"Masih agak sakit." Jawab Naruto.
"Lebih baik kita pulang saja, Naruto." Ujar Sasuke tiba-tiba.
"Ti-tidak udah, Botchama. Saya tidak ingin mengganggu acara liburan Anda." Tolak Naruto.
"Tidak apa. Liburan ini tidak begitu penting, kok." Sahut Sasuke seraya beranjak dari tempatnya semula.
"Botchama tak perlu repot-repot. Saya baik-baik saja." Seru Naruto berusaha menghentikan langkah Sasuke.
"Tidak masalah buatku. Kau tak merepotkanku sama sekali."sahut Sasuke masih terus berjalan menuju kamarnya.
"Botchama~" panggil Naruto.
"Lagipula, kalau bukan denganmu…. Tidak akan ada artinya." Ujar Sasuke berbisik. Namun, nampaknya masih bisa didengar oleh Naruto.
"Kalau tidak dengan saya, tidak ada artinya? Maksudnya apa, Botchama?" Naruto polos.
"Ap- urusai! Cepat bereskan barangku dan kita pulang." Perintah Sasuke dengan wajah bersemu merah.
"Eh? Ha'i!" jawab Naruto patuh dan beranjak pergi.
Nampak dari kejauhan, Kiba sedang memperhatikan tuannya juga Butler baru tuannya itu. Ia tersenyum penuh arti tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sepertinya banya hal terjadi selama aku pergi, ya?" ujarnya pada diri sendiri.
"Eh, kau mengatakan sesuatu, Inuzuka-san?" Tanya Gaara sopan.
"Ah, tidak kok." Sahut Kiba.
'Wah, wah. Ini pasti akan sangat menarik.' Batin Kiba seraya menyeringai menyeramkan. Membuat sekelilingnya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing dan membereskan barang mereka dan ikut pulang bersama Sasuke.
Semua barang sudah selesai dibereskan. Mereka hanya perlu memindahkannya ke dalam mobil. Kiba pun ikut membantu tuannya memindahkan barang-barang itu. Setelah selesai, mereka pun segera memasuki mobil. Namun tidak bagi Sasuke. Sesaat sebelum memasuki mobil, Kiba menariknya menjauh dari mobil dan berjalan menuju sebuah taman dekat situ.
"Apa-apaan kau, Kiba?" seru Sasuke meminta penjelasan atas tingkah aneh Butler pertamanya itu.
"Baiklah. Aku akan cepat karena Naruto sudah mulai menyusul kita." Sahut Kiba.
"Hah?"
"Nah, Bocchan~ jangan bohong ya~? kau tahu aku tidak bisa dibohongi 'kan?" ujar Kiba dengan manis ditambah glare 'indah' di belakangnya.
"Ya sudah. Cepat katakan. Kau mau Tanya apa?" sahut Sasuke bosan.
"Kau suka pada Butler barumu itu 'kan?" ujar kiba langsung.
Sasuke terdiam sesaat sebelum menjawab, "Lalu kenapa?" tantang Sasuke.
"Mau kubantu?"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Kazu: Selesaiiiii~ akhirnya aku menyelesaikan kewajibanku. Leganya~ tapi, kapan, ya? fict ini tamat? Capek mikir kelanjutannya.
Sasu: 'Kan lo yang bikin nih fict, Author gila!
Kazu: oh iya. Lupa. Tunggu! Tadi lo nyebut gue apa?
Naru: *narik" baju author* emang kapan tamatnya?
Kazu: masih lama. Mungkin 5 chapter lagi? Mungkin kurang, mungkin lebih. Gak pasti. Tapi, perkiraanku segitu.
Naru: Yahhh! Lama banget?
Kazu: sabar ya, Naru-chan?
Sasu: woi! Yang boleh manggil 'Naru-chan' Cuma gue!
Kazu: *pura-pura gak denger*
Sasu: Wooooiiiii!
Kazu: mari tinggalkan Sasu dan kita balas review sekarang. Nah, Naru tolong di bacakan, ya?
Naru: Oke! Yosh! Dari ArizaKurosaki
Kazu: Yuph! Kiba lah yang menyelamatkan Sasu-teme-pantatayam itu. Udah update.
Sasu: masih sempert-sempetnya lo ngejek gue, ya?
Kazu: iya dong! *bangga*
Naru: selanjutnya dari males login
Kazu: tau tuh, Sasu jadi lebay. Alergi gue deket-deketnya.
Sasu: maksud?
Kazu: bawel! Udah, mending lo bantu uke lo bacaain aja.
Naru: kenapa gue jadi uke muluuuu…?
Kazu, Sasu: takdir.
Sasu: umm, dari Vii no Kitsune
Naru: pasti dia lumutan lagi. *bisik*
Sasu: pasti. Orang nih author paling males update.
Kiba: bener. Gue ampe nunggu lama banget ampe dapet peran.
Naru: iya. Mana dapet peranku dikit banget di chapter ini.
Sasu: tahu tuh, romance-nya gak berasa sama sekali. Tragedy-nya juga gak keliatan.
Kazu: bisa berenti gak? Atau gue bunuh lo semua di fict gue?
Kiba: maaf, silahkan lanjutkan. *bungkuk*
Kazu: Ne, gomennasai. Update-nya lama banget. Kazu juga gak yakin masih ada yang inget nih fict apa nggak. Maaf ya? dan kayaknya chap depan bakal lama lagi. Sabar aja ya. emang susah berhadapan sama author macam gue ini.
Naru: nyadar tuh~
Kazu: *mendelik*
Naru: ehem, lanjut. Dari .Sora
Kiba: Betul. 'seseorang' itu gue. Aksi gue heroic banget kan~?
Kazu: *nabok Kiba* nyerobot aja lo. Udah update nih. Jangan panggil senpai, ya? aku ini amatir. Jadi panggil 'Kazu' atau 'Kazu-kun' aja. 'Hiro-kun' juga boleh.
Kiba: Hiro?
Naru: dulu, penname-nya itu 'Hiro'. Terus dia ganti jadi 'Kazuki'. Katanya, 'Hiro' itu 'kan artinya pahlawan, sedangkan dia gak ada sifat kepahlawanan sama sekali. Jadi diganti deh.
Kiba: gak masuk akal.
Naru: banget.
Sasu: Lalu, dari Muthiamomogi
Kazu: bukan. Yang ngelindungi mereka itu Kiba. Orang terdekat Sasuke. Bukan Naruto.
Kiba: dari me. kenapa TBC? Tanya authornya *digebuk Kazu* iya. Gue yang muncul.
Naru: umm, selanjutnya Uzumaki Chiaki. Iya. Yang muncul itu Kiba. Yang jadi Kyuubi itu saya. Mau ngamuk tapi gak jadi gitu deh… sudah update.
Sasu: dari via-SasuNaru
Kazu: Makasih.
Naru: dari edinuts
Kazu: Yo, Edi! Udah lanjut nih. RnR lagi ya!
Kiba: icha22madhen
Kazu: udah update dan gak bisa cepet-cepet.
Sasu: Dari Hanazawa Ais. dia muncul lagi. 'unyu moment'?
Kazu: Ais! Kau puas? Syukur deh. Aku emang paling pe-de untuk chap 7. yang ini sih pesimis banget. Gomen gak bisa nyelipin unyu moment-nya. Gak ada scene yang pas. Gomen.
Sasu: oi, unyu moment apaan sih?
Naru: iya. Apaan sih?
Kazu: Hi-mi-tsu. *julurin lidah.
Naru: dari Noona Shawoelf/ Lady Prussia
Kazu: Nee-chaaaaaan~ *hugs nee* maksih CnC-nya. Rambling-nya bikin Hiro nge-fly *mulai lebay* pokoknya makasih rteview-nya! Jujur, Hiro emang buru-buru banget ngetiknya. Publish dari hp. Ngetik juga di hp. Payah kan? Semoga Neechan puas dengan chap 8 ini.
Kiba: Dari ichiko yuuki. Tebakan lo yang muncul.
Sasu: Dari Vipris. Gue gak punya perasaan apapun sama anjing buluk ini. Bener posisi Naru di hati gue gak bakal tergantikan.
Naru: teme… *blush
Sasu: Dobe…
Kazu: woi! Jangan ngancuri fict gue, napa? Adegan lo berdua udah kayak film india aja? Merinding gue!
Kiba: Oke, kita lanjut aja. Dari Namikaze Trisha
Kazu: baru update! *nyengir tanpa dosa* *Ditendang Trisha*
Sasu: Dari Mr. X
Kazu: saya membuat Naru berkesan keren juga imut dalam waktu bersamaan karena saya ingin menjadikan Naru sebagai uke yang tidak kehilangan jati dirinya. Ia sadar kalau ia tetap lelaki meski posisi-nya uke. Karena menurut saya, uke itu bukan banci yang harus berperilaku seperti perempuan. Lalu, kenapa jadi yaoi? Ini bukan yaoi tapi, BL dan saya sudah mencantumkannya pada warning di tiap chapter yang mengandung unsure BL. Saya menerima protes apapun kecuali ini. Kalau tidak suka, jangan memaksa untuk terus membaca. Anda hanya perlu meninggalkan halaman yang anda buka dengan menekan tombol back. Gak perlu capek-capek review juga, lho. Dan antara Naru yang Imut dan Keren, itu tergantung pandangan masing-masing orang. Anda tahu, saya menyukai L sebagai seme di fandom death note. Karena menurut saya, L lebih pantas. Tapi. Teman-teman saya bilang kalau L itu imut sedangkan Light itu ganteng. Sehingga Light lebih cocok jadi seme. Lihat 'kan, kami memiliki pendapat yang berbeda. Tergantung seseorang melihatnya dengan cara apa. Menurut anda Naruto Keren. Saya juga menganggapnya keren meski tidak menghilangkan aksen imut pada dirinya di pikiran saya. Jadi, berlapangdada lah dalam menilai pandangan orang lain.
Sasu: tumben lo sopan?
Kazu: kalau nyolot nanti malah ribut. Gue gak suka nyari ribut. Oh ya, Mr.X kalau mau rew lagi silahkan. Saya gak menganggap anda musuh kok. TapI, kalo jadi Fujo/Fudan saya gak nanggung ya~
Sasu: Hoo… lanjut, dari naomi arai
Kazu: Udah update! Panggilnya Kazu aja. Takazawa terlalu formal rasanya. RnR lagi!
Yosh! Minna-sa, jangan lupa review ya~
Sampai jumpa di chapter depan~
Takazawa
