Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Pairing: SasuNaru
Warning: OoC, AU, Abal, gaje, alur SUPER cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, Sho-Ai, and maybe typo(s).
Genre: Romance and Tragedy
Author's Note: Yo, Minna~ Semoga kalian gak kelamaan nunggu chap ini! Tanpa banyak bacot,
HAVE A NICE READ~!
.
.
.
Flashback
"Nah, Bocchan~ jangan bohong ya~? kau tahu aku tidak bisa dibohongi 'kan?" ujar Kiba dengan manis ditambahglare'indah' di belakangnya.
"Ya sudah. Cepat katakan. Kau mau Tanya apa?" sahut Sasuke bosan.
"Kau suka padaButlerbarumu itu 'kan?" ujar kiba langsung.
Sasuke terdiam sesaat sebelum menjawab, "Lalu kenapa?" tantang Sasuke.
"Mau kubantu?"
.
.
.
Chapter 9 RIVAL?
Normal POV
"Mau kubantu?" ujar Kiba pada tuan mudanya seraya tersenyum ganjil. Ia yakin, tuan mudanya pasti tidak akan menolak penawarannya ini. Khas anak remaja yang tidak akan menolak uluran tangan temannya.
"Tidak. Terima kasih." Sahut Sasuke seraya mengangkat satu tangannya dan menggeleng pelan.
"Eh? Kenapaaa?" seru Kiba tidak terima.
"Biar kujelaskan langsung saja ya, minta bantuan padamu sama dengan, meminta masalah." Sahut Sasuke tenang dan datar.
"…" Kiba tidak membalas ucapan tuan mudanya. Ia membatu di tempatnya. Tanpa memperdulikan butler pertamanya, Sasuke melangkahkan kakinya dengan santai dan tak sekalipun menengok kebelakang. Sungguh. Cerminan tuan yang kejam dan dingin.
'Ukh… Aku sepayah itu, apa? Dia tidak tahu prestasiku sebagai playboy kelas kakap, rupanya. Meski bilang 'tidak' aku akan tetap melaksanakan rencanaku, Bocchan. Lihatlah!' pikir Kiba nista.
"Hahahahahaha!" tawanya ganjil. Membuat orang-orang di sekitarnya refleks mundur beberapa langkah menjauh. Takut jika tiba-tiba Kiba menjadi gila dan menyerang mereka. Tanpa tahu kalau sekitarnya memandang aneh padanya, Kiba memasuki mobil sang tuan muda dan menyetirkannya untuk sang tuan.
Perjalan pulang mereka hanya diisi oleh kesunyian. Tak ada yang membuka suara seorang pun. Kiba serius dengan tugas menyetirnya. Naruto yang duduk di sebelah Kiba, sibuk dengan buku yang di pegangnya. Dan Sasuke yang berwajah masam duduk di jok belakang. Ia sebal karena merasa diacuhkan oleh kedua butler-nya.
"Naruto! Kiba!" panggil Sasuke keras.
"Ya, Botchama/Bocchan?"sahut Naruto dan Kiba berbarengan.
'Kompak sekali mereka?' batin Sasuke sweatdrop.
"Kenapa kalian hanya diam saja?" tanya Sasuke pada keduanya.
"Bukankah Anda tidak menyukai kebisingan, Bocchan/Botchama?" Jawab Kiba dan Naruto lagi-lagi bersamaan.
'Hebat juga anak ini. Sudah tahu seluk beluk sifat Sasu Bocchan dalam waktu singkat. Tapi, akan kubuktikan kehebatan taktikku! Pertama, buat ia merasa tersaingin. Lalu, ia pun dengan sengaja akan mendekat pada Bocchan. Hahaha, rencana yang hebat, Kiba.' Puji Kiba dalam hati.
'Butler tuan muda yang dulu memang tak boleh diremehkan.' Pikir Naruto.
Keduanya saling berpandangan dan melempar senyum sinis sesaat sebelum kembali mengalihkan pandangan mereka pada kesibukan semula. Sasuke yang merasa diacuhkan hanya mendengus sebal dan memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur.
'Mereka berdua auranya aneh.' Pikir Sasuke agak bingung. Sepertinya ia sama sekali tidak menyadari aura bertarung antara kedua butler-nya.
'Sebagai butler senior, aku harus terlihat hebat.' Batin Kiba.
'Sebagai butler Botchama, aku tidak boleh mengecewakannya.' Batin Naruto.
'Aku tidak akan kalah darinya!' batin keduanya bersamaan dan mengeluarkan seringai masing-masing. Mengakibatkan Sasuke tiba-tiba menjadi bergidik ngeri.
'Kenapa aku merasakan aura yang berat, ya?' pikirnya bingung.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam diam. Sasuke mulai kehilangan kesabarannya. Ia memang tidak suka kebisingan. Tapi, ia lebih tidak suka suasana begini. Membuat tegang.
"Hei, Naruto," panggil Sasuke.
"Ya, Botchama?" sahut Naruto dengan gaya yang professional dan senyum cemerlang. Ia akan memperlihatkan kehebatannya dalam melayani tuannya pada Kiba sekarang.
Sasuke merasa bingung dengan tingkah Naruto. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Bukankah butler-nya ini sudah mulai bisa bersikap santai?
"Err, kau kenapa sih?" tanya Sasuke dengan wajah curiga.
"Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Botchama." Jawab Naruto lagi-lagi dengan gaya bak butler kelas atas.
Sasuke sweatdrop dibuatnya. Ia pun mencoba bicara dengan Kiba. Sekedar untuk bernostalgia.
"Kiba,"
"Ya, Bocchan? Anda menginginkan sesuatu?" Tanya Kiba dengan sopan. Mari saya ulangi lagi,' dengan sopan'. Saya ulang lagi, 'SOPAN'! Saya ul- *author dihajar readers sebelum mulai gila*
Sasuke langsung merinding. Rasanya gatal jika melihat Kiba menjadi sopan begitu. Bukankah biasanya Kiba sangat kasar? Dalam kamusnya, Kiba tidak pernah dan tidak akan pernah berlaku sopan padanya. Namun sekarang? Oh tuhan, Sasuke ingin ia bangun dari mimpi buruknya ini. Kalau Naruto yang sopan, itu sudah biasa. Naruto memang sudah sopan sejak awal. Namun Kiba? Sesuatu pasti sudah membentur kepalanya dengan amat keras hingga ia berlaku sopan begitu pada Sasuke.
"Kiba, kau membuatku merinding." Ujar Sasuke dengan dingin.
"Ah? Maafkan saya, Bocchan. Saya tidak bermaksud begitu." Sahut Kiba masih dengan nada dan kalimat yang sopan.
'Cih, kalau bukan karena persaingan dan membantu masalahmu, aku tidak sudi bersopan-sopan padamu, pantat ayam!' batin Kiba kesal.
Wajah Sasuke memucat. Ia yakin kalau yang bicara tadi bukanlah Kiba. Mustahil Kiba berlaku sopan.
'Kiba itu serampangan seperti anjing. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Dia pasti bukan Kiba.' Batin Sasuke horror.
Kiba melongokkan kepalanya untuk melihat reaksi sang tuan muda akan sikapnya tadi. Namun, ia dikejutkan oleh wajah pucat pasi sang tuan. Apalagi ditambah oleh pandangan horror sang tuan yang di tujukan padanya. Kondisi tuannya saat ini seperti baru saja melihat seorang pria melahirkan bayi kedunia ini dengan mata kepalanya sendiri. Satu kata, mengenaskan.
'Oh, sial. Tidak berhasil. Ganti rencana.' Batin Kiba.
Kiba memutuskan untuk kembali berlaku seperti biasanya. Ia pun membuka pembicaraan, "Ne, Naruto, sejak kapan kau menjadi pelayan di Uchiha's mansion?" tanya Kiba.
"Umm, saya tidak begitu ingat. Memangnya ada apa, Inuzuka-san?" sahut Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.
"Oh," sahut Kiba seadanya.
'Ya ampun, bocah ini dua kali lebih dingin dan menyebalkan dari Sasu Bocchan. Tuhan, terima kasih telah memberikanku rekan seperti dia.' Batin Kiba sarkastik.
"Begitu. Oh ya, kenapa kau tertarik mejadi pelayan di sana?" tanya Kiba lagi.
"Saya bukan melamar pekerjaan. Saya dipungut." Sahut Naruto lagi-lagi dengan datar tanpa memandang Kiba.
'Bocah ini…' Kiba mulai kesal.
"Pungut? Hahaha… kau bisa bercanda juga." Kiba berusaha tertawa.
"Saya tidak bercanda, kok. Saya dipungut oleh Botchama, Inuzuka-san." Sahut Naruto.
"Hei, Naruto, jangan menggunakan kata 'pungut', dong. Kau 'kan bukan anak anjing." Ingat Kiba pada Naruto.
"Dulu, saya memang tak lebih dari sekedar anjing buangan." Jawab Naruto dengan pandangan menerawang. Matanya terlihat sangat sendu. Membuat Kiba menjadi sedikit merasa simpati.
"Ngomong-ngomong, kau sedang baca apa?" tanya Kiba berusaha mendekatkan diri pada Naruto.
"Bukan apa-apa." Sahut Naruto singkat seraya menutup bukunya dan menyembunyikannya dari pandangan Kiba.
'Anak ini anti-sosial sekali?' pikir Kiba.
Mereka kembali menutup mulut mereka hingga mereka sampai pada Uchiha's mansion. tak ada yang membuka suara kali ini. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Apa orang ini tidak berbahaya? Apa ia tidak akan mengkhianati Botchama?' pikir Naruto bingung.
'Nah, misiku selanjutnya adalah memanas-manasi Bocchan. Sepertinya akan seru~' batin Kiba riang.
'Syukurlah Kiba hanya bercanda tadi. Kupikir ia amnesia atau apa. Ternyata hanya bercanda, toh.' Batin Sasuke bersyukur.
Sesampainya mereka di Uchiha's mansion, Kiba dan Naruto segera menurunkan barang-barang dan menaruhnya dalam rumah yang setelahnya akan dibereskan oleh pelayan lain di mansion megah ini. Setelah semua barang mereka turunkan, Kiba segera berlari keluar mansion menuju taman belakang mansion.
"Waaahh, mansion ini tidak berubah sama sekali, ya?" serunya riang sambil berguling di rerumputan layaknya anak kecil.
"Atur tingkahmu, Kiba." Intrupsi seseorang dengan suara dingin yang dibuat-buat.
"Eh? Akh, Kakashi! Waaa! Lama tidak jumpa!" seru Kiba.
"Okaeri, Kiba." Ujar Kakashi menyambut Kiba.
"Hahaha…. Tadaima! Oh ya, mana Iruka-san? Sudah lama aku tidak melihat wajahnya. Rindu juga." Tanya Kiba.
"Okaeri, Kiba-kun." Ujar seseorang dari arah belakang Kiba.
Kiba segera berbalik dan mendapati Iruka berdiri di belakangnya. Segera, Kiba menghambur kedalam pelukan Iruka, "Iruka-saaann!"
"Haha.. Kiba-kun tidak berubah, ya?" ujar Iruka sambil mengelus puncak kepala Kiba layaknya sedang mengelus kepala seekor anak anjing. Kiba yang diperlakukan begitu senang-senang saja. Sudah lama ia tidak diberi kasih sayang.
"Yak! Cukup." Intrupsi Kakashi dan menjauhkan Kiba dari Iruka. Kakashi pun melingkarkan tangannya pada pinggang ramping milik Iruka.
"Kakashi pelit! Aku 'kan rindu Iruka-san!" protes Kiba.
"Kiba!" seru Sasuke memanggil butler-nya tiba-tiba.
"Sasuke-kun memanggilmu. Sudah sana." Usir Kakashi layaknya mengusir seekor lalat.
"Huh! Jaa ne, Iruka-san!" ujar Kiba seraya berlari menghampiri tuannya.
"Hei Kakashi, lepaskan." Perintah Iruka seraya mencoba melonggarkan pelukan Kakashi pada pinggangnya,
"Tidak." Sahut Kakashi kekanakan.
"Kau ini kenapa, Kakashi? Kau cemburu pada Kiba? Oh ayolah, dia hanya kuanggap anak dan ia pun menganggapku sekedar pengganti ayahnya." Terang Iruka sabar.
"…" Kakashi sama sekali tidak menjawab ucapan Iruka dan malah mengeratkan pelukannya pada Iruka. Pelukannya menjadi lebih erat dan memperlihatkan kesan posesif pada siapapun yang melihatnya.
"Aku lebih suka jika Kiba menganggapmu…. 'Ibu'," bisik Kakashi tepat di telinga Iruka.
PLAK! DUAK! BUGH!
"Tak ada jatah makan malam untukmu, Kakashi." Ujar Iruka seraya berjalan meninggalkan tubuh Kakashi yang berasap akibat pukulannya yang bisa dibilang sangat keras.
"Ada apa memanggilku, Bocchan?" tanya Kiba penasaran.
"Ikut aku." Ujar Sasuke singkat.
"Eh? Memangnya kita mau kemana?" tanya Kiba masih penasaran dengan tingkah tuan mudanya ini.
"Berisik! Aku bilang ikuti aku!" bentak Sasuke.
'Sifat menyebalkannya tidak berubah, ya?' batin Kiba.
"Ng? bangunan apa itu, Boccchan? Rasanya sewaktu dulu, bangunan itu belum ada." Ujar Kiba pada Sasuke yang masih belum juga membuka suaranya.
"Itu kandang." Jawab Sasuke singkat.
"Hah?"
Sasuke sama sekali tidak mengomentari reaksi dari Kiba. Diambilnya kunci dari kantongnya dan membuka gembok yang ada pada pintu kandang tersebut. Ia menaruh kembali kunci itu dalam kantungnya dan mengambil sapu tangan sebagai gantinya. Ditutupinya hidungnya dengan sapu tangan, dan membuka pintu kandang itu perlahan.
"Guk!"
"A-akamaru?" seru Kiba tidak percaya. Ya. Akamaru. Anjing yang dipeliharanya secara diam-diam selama bekerja di mansion ini dulu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau peliharaannya ini masih bertahan di sini. Ia pikir, tuannya yang alergi terhadap bulu anjing ini sudah membuangnya jauh-jauh. Terlebih, Sasuke, tuannya tidak suka dengan hewan yang suka menyalak ini.
"Guk!" gonggong anjing itu seperti sedang menyapa Kiba, tuannya.
"Ini benar kau, Akamaru?" bisik Kiba seraya mengelus-elus kepala Akamaru.
"Guk!" Akamaru seolah mengerti apa yang sedang dibicarakan Kiba.
"K-kenapa bisa?" ujar Kiba yang sepertinya ditujukan pada Sasuke.
"Tentu saja bisa. Aku yang merawatnya." Sahut Sasuke.
Siiing~
"Apa?" tanya Sasuke merasa di pandangi sedari tadi oleh Kiba dengan pandangan meragukan.
"Ah, tidak. Tidak apa. Terima kasih, Bocchan." Ujar Kiba tulus.
"Hn. Oh ya, ini." Ujar Sasuke seraya menyodorkan sebuah kado pada Kiba.
"Apa ini?" tanya Kiba penasaran sambil membolak-balikkan kado yang ada di tangannya.
"Otanjoubi Omedetou, Kiba-niisan. Itu untuk ulang tahunmu yang ke sembilan belas. Mungkin kalau sekarang yang ke – 24, ya?" ujar Sasuke dengan nada datar.
Kiba terpaku di tempatnya. Memandangi tuannya dan sesekali menengok memandangi kado di tangannya. Membuat sang pemberi kado bingung akan reaksinya.
"Kenapa? Tidak suka dapat kado?" tanya Sasuke dengan wajah sebal karena merasa sempat OOC tadi.
"Huwaaaa~!" Kiba segera menghambur memeluk Sasuke.
"Ap- Hei! Lepaskan!" seru Sasuke meronta dalam pelukan Kiba.
"Arigatou! Arigatou, Sasuke! Arigatou!" lirih Kiba tanpa melepas pelukannya pada Sasuke.
"H-hei? Kenapa suaramu sedih begitu?" tanya Sasuke pada butler-nya.
"Tidak. Hanya saja, ini pertama kalinya aku menerima kado untuk ulang tahunku semenjak runtuhnya klan-ku." Jawab Kiba seraya melepaskan pelukannya pada Sasuke sebelum ada yang melihat dan salah paham.
"Boleh kubuka?" tanya Kiba meminta izin.
"Hn."
Kiba merobek kertas pembungkus kado perlahan. Ia sudah tidak sabar untuk melihat apa yang menjadi kadonya ini. Pembungkus sudah terlepas. Isi dari kado yang diberikan padanya pun terekspos jelas. Matanya mebelalak saat melihat apa yang menjadi kadonya, "S-sasu Bocchan, apa… ini?" tanyanya dengan suara begetar.
"Hah? Itu 'kan kalung untuk anjing…mu, APA ITU?" seru Sasuke tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dia sudah memastikan kalau hadiah yang diberikannya pada Kiba adalah kalung untuk Akamaru, anjing peliharaan Kiba. Namun, apa ini? Benda yang ada dalam genggaman Kiba bukanlah sebuah kalung anjing melainkan… Icha-Icha Paradise?
"A-aku tidak tahu kau menyukai novel macam ini, Bocchan. Kupikir kau-" ucap Kiba tersendat-sendat seraya menatap horror ke arah Sasuke.
"Bukan! Aku tidak suka novel seperti itu! Bukan aku! Pasti Kakashi menukarnya!" Ujar Sasuke mencoba menjelaskan dengan panik. Kiba hanya mengirimkan pandangan curiga pada Sasuke.
"Bukan aku! Ini pasti ulah Kakashi!" seru Sasuke masih mencoba meluruskan kesalah pahaman antara dirinya dan Kiba. Kiba juga masih saja memandang curiga pada Sasuke. Membuat Sasuke makin merasa tertekan karena dianggap mesum.
"Bukan Akuu!"
Malam yang tenang. Matahari sudah turun dari singgasananya. Digantikan oleh naiknya sang bulan. Malam di Uchiha's mansion terasa begitu damai seperti biasanya. Semua penghuni mansion tersebut sedang duduk di ruang makan. Menikmati makan malam bersama.
Naruto dan Kiba berdiri patuh di belakang Sasuke sebagai butler yang baik juga setia pada tuannya. Sasori juga melakukan hal yang sama. Ia berdiri tegap di belakang tuannya, Itachi. Ia setia pada tuannya meski wajahnya tidak menyiratkan hal itu. Ya, tentu saja. Wajah yang selalu terlihat mengantuk mana mungkin meyakinkan, bukan? Namun, Itachi tidak pernah mempermasalahkannya. Ia tahu, Sasori tidak akan pernah berkhianat.
"Senang kau bisa kembali, Kiba-kun." Ujar Itachi berusaha beramah-tamah pada butler pertama adiknya.
"Saya pun senang bisa bergabung kembali." Jawab Kiba sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
Ia selalu sopan terhadap anggota keluarga Uchiha. Kecuali Sasuke tentunya. Dan anggota keluarga Uchiha yang paling dihormatinya adalah Uchiha Mikoto. Ibu dari Sasuke dan Itachi. Pendamping kepala keluarga Uchiha. Itu semua karena beliaulah yang mengambil Kiba yang saat itu sudah bagaikan sampah tak berguna. Merawatnya dan memberikannya kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya. Membuat Kiba bangkit kembali dan kuat. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk mengabdi pada keluarga sang wanita penyelamatnya.
"Oh ya, Kakashi kemana? Kok tidak kelihatan?" tanya Itachi.
"Kakashi-san sedang ada urusan sepertinya, Itachi-sama." Sahut Naruto dengan sama sopannya dengan Kiba.
"Memangnya kenapa, Aniki? Kau ingin meminjam novel mesum-nya?" tanya Sasuke ketus.
"Hahaha… kau masih marah karena isi kado yang akan kau berikan pada Kiba ditukar dengan novel itu, ya? Sudahlah Sasuke, yang penting Kiba sudah mendapat hadiahnya, 'kan?" sahut Itachi.
"Mudah mengatakan itu, Baka Aniki. Kau tidak tahu betapa malunya aku." Balas Sasuke makin ketus.
"Hahaha… " tawa Itachi makin keras.
"Ck, urusai."
"Haha… gomen ne, Otouto. Hanya saja, Uphh! Ini, benar-benar lucu!"
"Ck, aku sudah selesai." Ujar Sasuke seraya meninggalkan Itachi yang masih tertawa.
Kiba dan Naruto pun mengikuti tuan mereka meninggalkan ruangan. Keduanya berjalan patuh di belakang Sasuke, "Aku ingin tidur. Kalian boleh pergi." Ujar Sasuke pada kedua butler –nya tanpa menoleh sama sekali.
Kiba dan Naruto mengangguk dan berbalik meninggalkan Sasuke dan menuju kamar mereka masing-masing. Mereka berjalan beriringan dalam sunyi hingga Kiba membuka suara, "Naruto, kudengar kau bisa jurus ninja, ya?"
"Ah, ya. Memangnya ada apa, Inuzuka-san?" tanya Naruto balik.
"Haha.. tak perlu se-formal itu! Panggil saja aku 'Kiba'!" ucap Kiba dengan riang.
"Kiba-san."
"Kiba saja cukup."
"Kiba-kun."
"Kubilang cukup Kiba saja."
"Kiba-chan."
"Err- Kiba-niisan saja kalau begitu." Sahut Kiba akhirnya menyerah atas kekeras kepalaan Naruto untuk memanggilnya dengan embel-embel.
"Jadi, kau ninja, Naruto?"
"Ya. seperti yang kau dengar, Kiba-niisan."
"Hei, kenapa kau dingin begitu, sih? Ayolah, aku tidak akan membuatmu dipecat." Ucap Kiba mulai tidak nyaman menghadapi sikap dingin Naruto.
"Saya memang dari sananya sudah begini, Kiba-niisan." Sahut Naruto singkat.
"Ya, ya, baiklah. Oh ya, bagaimana kalau ke kamarku dulu? Aku ingin kita saling kenal. Tidak enak 'kan kalau bekerja sama dengan orang yang tidak kita kenal?" usul Kiba.
"Bukankah kita sudah kenalan?"
"Maksudku bukan kenalan begitu. Aduhh, bagaimana, ya?"
"Ya. Ya. Saya mengerti maksudnya, kok. Ayo, ke kamarmu."
"Oke! Nah, silahkan masuk." Seru Kiba seraya mempersilahkan Naruto memasuki ruang pribadinya.
"Oke. Aku langsung ke masalah utama saja karena kuperhatikan kau tidak suka berbasa-basi." Ujar Kiba memulai.
"Pengamatan yang hebat, Kiba-niisan." Sahut Naruto memuji Kiba.
"Aku tahu kalau kau menaruh curiga padaku. Tapi, perlu kau tahu kalau aku juga menaruh curiga padamu, Naruto."
"Apa maksudmu? Untuk apa kau mencurigaiku?" tanya Naruto tidak terima.
"Kau pasti berpikir kalau aku yang baru saja datang harus dicurigai olehmu selaku butler tuan muda. Namun, aku juga begitu, Naruto. Sebagai butler pertamanya, aku menganggapmu sebagai pendatang baru yang patut dicurigai. Bisa dibilang, posisi kita sama saat ini. Tapi, aku tidak suka hubungan yang didasari kecurigaan. Makanya, aku akan menceritakan semuanya padamu. Tidak akan ada yang kurahasiakan. Aku bersumpah. Namun, setelah itu, kau juga harus menceritakan semua tentangmu. Bagaimana? Impas bukan?" tawar Kiba pada Naruto
Naruto memandang lekat bola mata Kiba. Tidak ada kebohongan di sana. Naruto pun mengangguk pelan sebagai bentuk persetujuannya atas tawaran Kiba.
"Baiklah. Aku mulai. Namaku Inuzuka Kiba. Kau sudah tahu 'kan?"
Naruto mengangguk.
"Kau pasti tidak mengenal klan-ku karena memang klan-ku sudah hancur. Akulah anggota terakhirnya. Satu-satunya Inuzuka yang tersisa di muka bumi ini. Aku yang selamat, terus bersembunyi. Hidup seperti anak buangan yang tak memiliki apapun hingga suatu malam bersalju, aku bertemu dengan Mikoto-sama. Hahaha... Kalau ia mendengarku memanggilnya begitu, ia pasti marah. Ia selalu melarangku memanggilnya dengan embel-embel '-sama'. Kau tahu Mikoto-sama, 'kan?"
Naruto menggeleng.
"Beliau adalah ibu dari tuan kita juga Itachi-sama. Beliau juga penyelamat nyawaku. Pemberi kehangatan pada hatiku yang dulu sudah membeku. Pemberi kekuatan saat aku sangat lemah. Beliau adalah orang yang paling kuhormati di dunia ini." Terang Kiba dengan tatapan lembut. Membuat Naruto yang melihatnya terpana.
"Setelah cukup besar, aku memutuskan untuk mengabdi pada keluarga penyelamatku, orang yang paling kuhormati. Maka, jadilah aku seorang butler untuk Sasuke. Aku menjalani tugasku dengan baik. Aku bahagia bisa berguna untuk Mikoto-sama. Setidaknya untuk keamanan keluarganya. Tapi, ada saat dimana aku merasa sangat terpuruk. Saat dimana Mikoto-sama, orang yang paling kuhormati, paling ingin kulindungi, terbunuh tepat di depan mataku. Dan tragisnya, ia mati demi melindungiku. Orang yang seharusnya melindungi dirinya. Bodoh, bukan? Membiarkan orang yang berharga bagimu mati di depan matamu sendiri." Ujar Kiba lirih. Matanya berkaca-kaca hendak mengalirkan air mata.
Naruto merasa sedih melihat Kiba yang seperti ini. Kiba yang ia lihat adalah Kiba yang selalu tersenyum dan tertawa lepas. Bukan Kiba yang ada di hadapannya saat ini. Tanpa sadar, Naruto beringsut mendekat pada Kiba dan memeluknya. Kiba tersentak dan tubuhnya menegang namun tidak berusaha melepaskan pelukan Naruto. Ia merasa nyaman dipeluk seperti ini.
'Hangat dan begitu nyaman.' Batin Kiba seraya membalas pelukan Naruto.
Naruto melonggarkan pelukannya pada Kiba dan mendongak, "Kalau tidak kuat untuk bercerita, tidak usah. Aku, tidak suka melihat wajah Kiba seperti ini." Ujarnya lembut.
Kiba melepaskan tangan Naruto yang melingkar di sekitar lehernya, "Tak apa. aku sudah bersumpah untuk menceritakan semuanya, bukan? Lagipula, bisa kau lepaskan pelukanmu? Aku tidak mau Bocchan marah padaku."
"He? Kenapa Botchama harus marah?" tanya Naruto tidak mengerti.
'Kasihan Sasu Bocchan harus menyukai bocah lamban begini.' Batin Kiba sweatdrop.
"Sudah, lepaskan pelukanmu. Aku akan lanjutkan ceritaku."
Naruto melepaskan pelukannya pada Kiba dan kembali mendengarkan cerita Kiba, "Setelah kematian Mikoto-sama, aku hidup bagaikan boneka. Tak berekspresi tak ada reaksi. Namun, semuanya kembali normal ketika tiba-tiba saja, Sasuke, tuan kita, menghampiriku dan mengatakan kalau ibunya tidak akan bahagia jika aku bersedih seperti ini. Ucapannya membuka mataku. Aku pun kembali menjadi diriku yang dulu. Kembali tersenyum. Hubunganku dengan Sasu Bocchan makin akrab. Kami sudah seperti kakak dan adik dikarenakan umurku yang terpaut cukup jauh dengannya. Tapi, tampaknya Tuhan sama tidak berniat membuat hidupku menjadi damai. Kembali, orang yang kusayangi dan kuanggap berharga dihadapkan oleh bahaya. Aku memutuskan untuk menyelamatkan orang yang berharga bagiku kali ini. Apapun bayarannya. Makanya, aku menyerahkan diriku ketika mereka ingin menangkap Bocchan."
"Mereka Siapa?" tanya Naruto.
"Penghancur kehidupanku. Perengut kebahagiaanku. Pencemar tanganku dengan darah. Organisasi terkutuk. Akatsuki." Jelas Kiba dengan mata penuh amarah.
"Aka-tsuki?" ucap Naruto tergagap.
"Ya. ada apa?" tanya Kiba bingung akan tingkah Naruto.
"K-kau anggota Akatsuki?" tanya Naruto perlahan.
"Dulu. Tapi, aku tidak suka menyebut diriku sebagai bagian dari mereka." Ucap Kiba tegas.
"A-aku juga…. Anggota mereka." Naruto mengucapkannya pelan.
"Apa? Kau juga bagian dari Akatsuki?" seru Kiba kaget.
Naruto mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Bagaimana bisa? Kau tidak bermaksud mengkhianati Bocchan, bukan?" tanya Kiba berharap.
"Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah mengkhianati Botchama apapun yang terjadi, apapun yang harus kubayar, meski aku harus menjual jiwaku pada iblis sekali pun!" sumpah Naruto di hadapan Kiba.
Kiba tersenyum mendengar ucapan Naruto. Ia tahu kalau Naruto tidak main-main dengan ucapannya, "Aku yakin kau serius. Matamu menunjukkannya. Jadi, apa yang dilakukan Akatsuki padamu?" tanya Kiba.
"Mereka, mengurung Kyuubi dalam tubuhku. Mengubahku menjadi pembunuh berdarah dingin. Memanfaatkanku untuk keuntungan mereka." Terang Naruto dengan nada penuh kebencian.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku pun dijadikan kelinci percobaan oleh mereka." Ujar Kiba.
"Benarkah? Apa yang mereka lakukan pada tubuhmu?" tanya Naruto.
"Mereka memodifikasi tubuhku agar mampu melakukan jurus khusus kembangan mereka yang hanya bisa digunakan oleh keturunan klan Inuzuka. Akulah orang itu." Desis Kiba penuh kebencian.
"Hahaha… aku tidak menyangka bisa bertemu orang senasib denganku di sini." Ujar Kiba tiba-tiba seraya tersenyum lebar.
"Benar juga. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau seniorku juga memiliki hubungan dengan Akatsuki. Kebetulan yang mengerikan." Komentar Naruto.
"Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu. Jangan bohong, ya~"
"Baik. Namaku Namekaze Naruto. Aku kehilangan ingatanku saat berusia sekitar umm- empat tahun kurasa. Jadi, aku tidak mengingat kehidupanku sebelumnya. Entah aku dibuang atau diculik, aku belum memastikan. Yang jelas, salah seorang anggota Akatsuki merawatku dan mengajariku berbagai jurus ninja dan beladiri. Setelah menguasai semuanya, mereka menanamkan Kyuubi dalam diriku. Lalu, aku pun di perintahkan menjadi pembunuh. Aku melakukannya tanpa perasaan sama sekai. Melakukan semuanya bagai robot yang hanya bisa mematuhi perintah pembuatnya." Terang Naruto.
"Hmm, aku penasaran dengan kehidupan lalumu. Tapi, apa boleh buat. Kau hilang ingatan, ya?"
"Ya, aku kehilangan ingatanku. Aku melakukan berbagai misi pembunuhan hingga suatu ketika, aku gagal menjalankan misi dan mendapat luka cukup berat. Iruka-san menyelamatkanku dan membawaku ke mansion. lalu, Botchama mempekerjakanku. Begitulah." Ujar Naruto mengakhiri ceritanya.
"Oh ya, baru-baru ini aku mengetahui kalau aku berasal dari Klan Namikaze yang juga sudah runtuh layaknya klanmu. Akulah satu-satunya yang tersisa. Lalu, aku bersaudara dengan Gaara-niisan dari klan Sabaku. Saat ini, aku sedang berusaha mencari tahu tentang sejarah klan-ku. Aku mencari tahu lewat buku jurnal kepala pelayan Namikaze terdahulu." Terang Naruto tenang.
"Hmm. Begitu rupanya. Oke, kita sudah saling kenal. Sekarang, waktunya tidur! Oyasumi." Ujar Kiba seenaknya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk juga hangat. Ia pun langsung jatuh tertidur dengan cepat tanpa mempedulikan Naruto yang terbengong-bengong dengan sikapnya yang mudah berubah-ubah mood dengan cepat.
"Hahh, apa-apaan dia ini? Sudahlah, aku juga harus segera tidur dan bersiap untuk besok." Gumam Naruto seraya beranjak dari kamar Kiba, "Oyasumi, senpai."
Seperti pagi pagi sebelumnya, Naruto memakai coat khusus miliknya dan berjalan tenang menuju kamar sang tuan muda. Ia mengetuk pintu kamar tuannya pelan dan membukanya perlahan. Menggumankan kata permisi dan segera menghampiri jendela kamar sang tuan. Menyibak tirai yang menghalangi cahaya yang seharusnya masuk dan mengguncang tubuh tuannya pelan, "Botchama, anda harus segera bangun. Anda tidak boleh bermalas-malasan, lho."
"Berisik, Naruto! Aku masih mengantuk!" bentak Sasuke.
"Botchama, Anda tidak boleh seperti itu. Bgaimana nantinya? Apa kata rekan bisnis Anda jika Anda terlambat hanya karena kesiangan?" bujuk Naruto.
Sasuke tidak mempedulikan ucapan Naruto dan kembali bergelung di bawah selimutnya.
"Botchama, ayolah." Bujuk Naruto lagi.
Tiba-tiba saja Sasuke bangkit dari posisi tidurnya dan menarik dagu Naruto medekat pada wajahnya, "Kenapa kau berisik sekali, Hime-chan? Bisakah kau lebih tenang sedikit, hm?" goda Sasuke.
"Ap-B-botchama, apa yang Anda lakukan? Lepaskan." Seru Naruto memberontak. Namun, dengan cepat, Sasuke menangkap kedua tangan Naruto sehingga ia tak bisa berontak lagi.
"Akan kulepaskan setelah kau memberikanku ciuman selamat pagi." ujar Sasuke seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto.
"Botcha-"
"Sshhh... panggil saja aku Sasuke." Ujar Sasuke dengan intonasi menggoda.
"S-sasuke-sama... hentikan," pinta Naruto dengan tergagap. Ia sangat gugup saat ini. Wajahnya terasa sangat panas dan jantungnya berdegup tak normal. Ia jadi bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Wajahmu memerah, Hime-chan." lagi-lagi Sasuke menggoda Naruto.
"Khh..."
Wajah Sasuke makin mendekat pada wajah Naruto.
Sedikit lagi...
Satu inci lagi...
Dan...
BRAK!
"Ohayou, Sasu Bocchan!" teriak Kiba penuh semangat.
Naruto segera menarik wajahnya menjauh dan segera berbalik meninggalkan kamar sang tuan muda, "S-saya siapkan sarapannya." ujarnya sebelum berjalan menjauh.
"Wah, sepertinya aku datang disaat yang kurang tepat, ya?" goda Kiba.
"Ck, kau mengganggu Kiba."
"Tapi Bocchan, tidak boleh terlalu vulgar seperti itu, lho. Salah-salah kau bisa dianggap mesum olehnya." nasihat Kiba.
"Terserah padaku." sahut Sasuke tak mau kalah.
"Ya sudah." ujar Kiba acuh dan berjalan meninggalkan ruangan sang tuan.
"Ck, Kiba benar-benar menganggu. Seandainya dia tidak datang kami pasti sudah... aargghh! Kiba, kau memang perusak suasana. Padahal Naruto tidak menolak tadi. Ck, menyebalkan." gerutu Sasuke tak henti.
Setelah selesai dengan ritual paginya, Sasuke segera melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan memakan sarapannya.
"Apa hari ini kau akan pergi, Sasuke-kun?" tanya Kakashi yang tentu saja tak melihat Sasuke. Ia tetap memandangi novel yang ada di tangannya.
"Tidak. Aku ingin istirahat." ujar Sasuke ketus.
"Wah, tumben sekali, Otouto." ujar Itachi heran.
"Mood-ku sedang buruk." jawab Sasuke singkat.
"Wah, kau ngambek karena tadi kuganggu, ya?" tanya Kiba
"Diam kau, Kiba." desis Sasuke penuh amarah.
"Oh ayolah, Bocchan! Bukankah aku sudah meminta maaf?" bujuk Kiba.
"Kapan kau minta maaf?" sahut Sasuke ketus.
"Sudahlah. Yang jelas hari ini aku istirahatku tidak diganggu siapapun. Termasuk butler." lanjut Sasuke tegas.
"Ya baiklah, Sasuke-kun. Selamat menikmati kesendirianmu." sahut Kakashi.
Tanpa membalas ucapan Kakashi, Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan suara debaman yang kencang. Perlahan, ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja belajarnya. Diangkatnya sebuah pigura foto seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu hangat dan lembut senyumannya.
"Kaasan," bisik Sasuke.
"Apa kabar? Aku baik-baik saja di sini. Oh ya, apa aku sudah menceritakan kalau aku memiliki seorang butler baru? Dia lebih muda dua tahun dariku. Tapi, dia sangat hebat. Menyamai kehebatan Kiba-niisan. Lalu, ada lagi yang ingin kukatakan. Kaasan, sepertinya aku... Aku... mencintai butler baruku. Bolehkah aku mempertahankan perasaan ini? Aku sungguh-sungguh menyukainya. Dia... satu-satunya orang yang bisa melihat hatiku. Satu-satunya yang bisa melihat pada yang terdalam dari yang terdalam." ceritanya dengan suara pelan.
"Kaasan, aku juga Itachi... merindukanmu." ujarnya berusaha menghilangkan rasa rindunya pada sang Ibu.
Sudah lama ia tak bicara pada ibunya. Rasa rindunya sudah tak terbendung lagi. Ia kembali meletakkan pigura itu dan melirik kalender di atas mejanya, "Tiga minggu lagi hari peringatan kematian Kaasan."
Sasuke merebahkan tubuhnya di kasur. Melipat kedua tangannya di atas kepalanya dan mendongak menatap langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong menerawang. Tiba-tiba saja, ia mendengar seolah seseorang mengetuk pintu menuju balkon kamarnya, "Aku tidak mau diganggu, Kiba."
Tuk! Tuk!
Lagi, suara itu terdengar.
"Kiba, aku bisa saja memecatmu kalau kau tidak berhenti menggangguku." ujar Sasuke menaikkan nada bicaranya.
Tuk! Tuk!
Sasuke kehabisan kesabarannya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju balkon kamarnya untuk memaki Kiba yang telah berani-beraninya mengganggu acaranya. Dibukanya pintu balkon dengan cepat dan bersiap memaki Kiba. Namun, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dengan sebuah kain.
'Ukh... Chioroform! Sialan!'
Sasuke kehilangan kesadarannya. Tubuhnya sudah siap menghantam tanah jika saja orang yang sedari tadi membekapnya tak menangkap tubuhnya, "Selamat datang di pesta kami, Uchiha-san." bisik orang itu dan segera menghilang dari tempatnya semula dengan Sasuke pada gendongannya.
Kiba dan Naruto berjalan beriringan di lorong mansion megah itu. Mereka berjalan menuju kamar tuan mereka. Mereka bermaksud memberitahu tuan mereka kalau makan siang sudah siap, dan lebih baik sang tuan segera makan sebelum makan siang yang susah-susah mereka buat menjadi dingin dan terbuang percuma.
Kiba mengetuk pintu kamar Sasuke pelan, "Maaf kami tidak mematuhi perintahmu, hanya saja, sudah waktunya untuk makan siang, Bocchan." ujar Kiba di depan pintu.
"..." tak ada jawaban dari dalam.
"Bocchan? Anda tertidur?" tanya Kiba.
"..." sunyi. Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Maafkan aku, Bocchan." ujarnya seraya membuka pintu kamar sang tuan sedikit. Sedangkan Naruto hanya diam menunggu di balakang Kiba. Tampaknya ia masih canggung untuk bertemu muka dengan Sasuke semenjak kejadian pagi tadi.
"Hahh... Makan siang yang sudah susah payah kubuat jadi percuma kalau begini." ujar Kiba tak jelas.
"Ada apa, Kiba-niisan?" tanya Naruto bingung.
Kiba tak menjawab pertanyaan Naruto dan malah membuka pintunya makin lebar sehingga mengekspos isi kamar lebih bebas. Naruto membelalakkan matanya begitu melihat isi kamar tuannya sudah seperti habis diserang badai. Berantakan. Dan yang paling membuat Naruto membelalak tidak percaya adalah, tuannya, Uchiha Sasuke, tidak ada di sudut mana pun di kamar itu. Singkatnya, Uchiha Sasuke telah menghilang dari kamarnya. Dan kesimpulan sementaranya adalah, ia telah diculik.
"Wah, tidak profesional sekali sampai meninggalkan bukti seperti ini. Sepertinya kita memang sengaja diundang." ujar Kiba sambil berkeliling kamar sang tuan. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa ia baui.
"Kurang ajar. Tak akan kumaafkan." bisik Naruto.
"Dari pada kau bengong di sana, lebih baik kau membantuku menemukan sesuatu yang berhubungan dengan sang penculik agar aku dan Akamaru bisa membauinya." perintah Kiba.
"Tak akan kumaafkan." desisnya makin keras.
"Heh? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Kiba.
"Kubunuh mereka!" serunya seraya berlari menyusuri lorong. Bermaksud untuk segera keluar dari mansion ini dan mengejar sang pelaku penculikan.
Naruto berjalan dengan cepat. Di sekitar tubuhnya tersebar aura yang berat dan dingin. Membuat semua orang yang ada di sekitarnya tidak mau ambil resiko dan segera menjauh.
"Tunggu Naruto! Tenang dulu. Kita cari petunjuk dulu, baru setelah itu kita- Hei! Dengarkan aku!" seru Kiba seraya berusaha menahan bahu Naruto agar berhenti berjalan.
"Lalu membiarkan Botchama mati di tangan mereka?" sahut Naruto berteriak.
"Bukan begitu, Naruto! Kita harus menghadapinya dengan kepala dingin. Ketergesaan tidak akan menghasilkan apapun!" balas Kiba.
Naruto tak membalas ucapan Kiba dan terus berjalan tanpa sekali pun menoleh dan memperlambat langkahnya.
"Naruto!" seru Kiba saat dirinya berhasil mencengkram bahu Naruto.
"Lepaskan aku." desisnya seraya melepaskan bagitu banyak cakra yang mau tak mau membuat Kiba melepaskan cengkramannya dan mundur beberapa langkah.
"Kiba benar, Naruto. Dinginkan kepalamu." ujar Kakashi bijak.
"Jangan terburu-buru. Kami juga akan membantu. Bagaimana pun, yang sedang dalam bahaya itu adikku, 'kan?" sambung Itachi.
"Kakashi-san? Itachi-sama?" bisik Naruto.
'Mereka bisa tahu dari mana, ya?' batin Kiba sweatdrop.
"Anda tidak boleh ikut." bantah Sasori tiba-tiba.
"Hee? Doushite?" seru Itachi tidak terima.
"Terlalu berbahaya untuk Anda. Jadi, saya akan mengurung Anda di mansion ini." ujar Sasori seraya mendorong Itachi ke dalam sebuah ruangan dan menguncinya dari luar.
"Apa-apaan ini, Sasori? Buka!" perintah Itachi.
Sasori tidak mengindahkan teriakan Itachi sama sekali dan berbalik menghadap Naruto dan Kiba, "Mari kita berangkat?" ujarnya sambil tersenyum.
"Sasoriii!" teriak Itachi dari dalam ruangan.
Ia pun berjalan meninggalkan Naruto dan Kiba yang memandangnya sweatdrop.
"Nah, sekarang kita bagi tugas. Aku akan mencari sesuatu yang bisa kubaui di kamar Bocchan. Naruto, aku ambilkan Akamaru. Ia akan sangat berguna untuk misi ini. Lalu, Sasori-san siapkan saja kusugutsu-mu. Lima menit lagi kita berangkat." ujar Kiba pada Naruto dan Sasori. Keduanya mengangguk mengerti dan segera melakukan apa yang diperintahkan Kiba pada mereka.
"Kami berangkat dulu, Kakashi, Iruka. Oh ya, jangan biarkan Tachi-sama keluar dari ruangannya." ingat Sasori pada Kakashi dan Iruka.
"Ba-baiklah, sasori-kun" sahut Iruka dengan butiran keringat di kepalanya.
"Ayo Naruto, Sasori. Kita selamatkan tuan muda merepotkan itu." ujar Kiba.
Naruto dan Sasori menganggukkan kepala mereka dan mulai berlari bersama Kiba untuk mencapai tempat sang penculik.
'Tunggu aku, Sasuke-sama!' batin Naruto
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author: Yosh! Sampai di sini dulu untuk ch 9!
Sasori: kalau saya lihat, sepertinya chapter depan akan penuh dengan scene pertarungan?
Author: Mungkin ya, mungkin tidak. *dengan bangga*
Sasori: #sweatdrop
Author: udah! Yang lebih penting, sekarang saatnya balas review!
Sasori: ah, ya, benar.
Author: Ayo, silahkan dimulai~
Sasori: baiklah. Ehem! Untuk CCloveRuki, ttixz lone cone bebe,Intan eva, Ariza, dan adelove sasunaru, terima kasih reviewnya. Author sudah update. Semoga kalian tidak menunggu terlalu lama. *senyum*
Author: Yep! Saya udah usaha update kilat, nih!
Sasori: lalu, untuk Nyx Keilantra, Shikamaru mungkin tidak akan muncul. Tapi, kalau Anda ingin agar Shikamaru dimunculkan, Author ini akan berusaha untuk memenuhinya. Lalu, Author tidak ada niat untuk membuat pair ShikaKiba. Mohon maaf. *nunduk ala Sebastian dari Kuroshitsuji* *Saso FG nosebleed semua*
Author: halo, tolong, itu hidung ditutup, ya. banjir, nih.
Kiba: sekarang, biar aku yang lanjutkan~! Nah, untuk sabishii no kitsune, Tidak apa-apa kalau baru review. Sudah di review saja, Author ini seneng banget. *nunjuk Author yang lagi senyam-senyum gaje depan laptop* Lalu, kuberitahu, ya! Aku bukan agen ganda! Aku memang hanya mau mengabdi pada Uchiha! Bukan yang lain. Dan aku tidak akan pernah mengkhianati Uchiha! Selamanya! Garis bawahi perkataanku.
Author: santailah sedikit, Kiba. Kau berapi-api.
Kiba: Aku tidak suka dianggap pengkhianat~ *mewek*
Author: ya, ya, baiklah.
Naruto: sepertinya sudah bagian saya. Baiklah, untuk Viini Kitsune, Ya tentu saja Author ini masih ingat dengan Anda. Author ini hampir gak sadar kalau memiliki kewajiban update jika saja kepalanya tidak terbentur.
Author: apa maksudmu, hah?
Naruto: lalu tentang jumlah Akatsuki, itu rahasia. Dan peran Orochimaru akan Anda ketahui kurang lebih dua chapter dari chapter ini. *senyum*
….
….
Krik krik krik….
Author: hoi, ini mana yang ngelanjutin? Bagian Kakashi, 'kan? Kakashi terlambat lagi? *mulai kesel*
Kiba: Oi~! Kakashi! Ini bagianmu!
Kakashi: Oh, maaf. Maaf. Saya terlambat karena tadi saya bertemu dengan seorang nenek yang terlihat kesusahan dan-
Kiba: dan itu semua hanya bualanmu. Sudah, cepat. Kau lambat sekali. *mulai gak sabar*
Kakashi: yare-yare… umm, untuk , terima kasih atas review Anda sebelumnya. Sesuai permintaan Anda, author menyisipkan scene KibaNaru dalam chapter kali ini. Tentang pertanyaan anda, itu rahasia. Author tidak ingin memberi tahu.
Naruto: baiklah yang terakhir, annattabell. Sebelumnya saya akan mewakilkan untuk mengucapkan terima kasih atas review Anda. Author sangat senang mendapat review dari Anda. Terima kasih atas pujian Oneesama pada sedang melayang karenanya.
Author: Huahahaha! Hahaha! *ketawa karena kesenengan*
Naruto: hmm, selanjutnya untuk perkataan Anda, umm- itu b-benar.s-sejak awal, author membuat Botchama memiliki ketertarikan pada s-saya. S-saya tidak tahu pasti apakah Botchama me-menyukai saya. *blushing* Untuk request Anda, Author akan berjuang membuatnya.
Sasori: terima kasih pada Anda semua yang telah me-review ataupun sekedar membaca tanpa me-review fict ini. Author sudah sangat senang meskipun Anda seklian hanya menjadi silent readers. Akhir kata, MOHON REVIEW-NYA. *bungkuk*
Author: mohon review-nya~ *ikut nunduk*
All: Review, ya~
.
.
.
