Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Pairing: SasuNaru
warning: OOC, AU, abal, gaje, alur super cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, Sho-Ai, and maybe typo(s).
Genre: Romance and Tragedy
Author's Note: Yo, minnna-san! Saya udah balik lagi, nih! CHAPTER 11! Semoga kalian tidak terlalumenunggu update-an saya, ya!
"bold italic" = Kyuubi POV
/italicunderline/ = tulisan pada buku.
Italic = flashback
Langsung saja,
HAVE A NICE READ!
.
.
.
.
Flashback
"Bagaimana, Yamato?" tanyanya.
Yamato menggeleng lemah dan berkata, "Seperti dugaanku,senpai. Anak ini… tidak akan bertahan lama lagi," ujar Yamato dengan wajah sendu.
"Begitu, ya?" sahut Kakashi dengan tatapan sedih yang dilayangkannya pada langit.
'Naruto...,' panggilnya dalam hati.
"Berapa lama lagi?" tanya Kakashi.
"Lima bulan. Lima bulan lagi hingga ia diambil alih sepenuhnya oleh Kyuubi."
.
.
.
Chapter 11 Exsistence
Normal POV
Naruto berjalan dengan tergesa menuju kamarnya. Sudah beberapa hari belakangan ini kepalanya sakit bukan main. Seakan kepalanya akan meledak secara tiba-tiba saat itu juga. Dibukanya pintu kamarnya tergesa dan membanting pintu itu keras. Tak perduli jika suara yang ditimbulkannya dapat mengganggu orang lain. Yang terpenting, ia harus mengendalikan 'sesuatu' dalam dirinya.
"Khu khu khu, kenapa terburu-buru? Bukankah lebih asik di luar? Banyak nyawa yang bisa dibunuh," sebuah suara yang sudah ia hafal karena berkali-kali berbicara itu muncul lagi.
"Diamlah…" rintih Naruto mencengkram kepalanya yang kembali berdenyut sakit.
"Kau benar-benar membosankan. Bagaimana kalau tubuh ini untukku saja?" suara itu tertawa mengejek Naruto yang terlihat begitu tersiksa.
"Tak akan kubiarkan. Aku… memiliki sesuatu yang harus kujaga dan kulindungi. Takkan kubiarkan makhluk busuk sepertimu mengambil alih tubuhku," sahut Naruto dengan susah payah. Tubuhnya terasa limbung. Tumpuannya seraya bergoyang. Pandangannya mengabur.
Naruto menutup matanya. Mencoba mengembalikan fokus matanya. Tubuhnya tersentak tiba-tiba ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya lumayan keras.
"Naruto, kau baik-baik saja? Apa kau kesakitan? Kudengar kau merintih tadi," ujar orang yang mengetuk pintu kamarnya dengan lembut.
'Iruka-san?' batin Naruto.
Naruto melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Dengan gerakan takut-takut, dibukanya kamarnya dan melongokkan kepalanya.
"Kau merasa sakit? Sudah kubilang untuk istirahat saja, 'kan? Kau baru saja sadarkan diri seminggu lalu. Kenapa memaksa bekerja?" ucap Iruka tanpa memberi kesempatan Naruto untuk sekedar mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku baik-baik saja, Iruka-san. Maaf membuatmu khawatir," sahut Naruto begitu diberi kesempatan bicara.
"Baiklah. Eh? Naruto, kau memakai sejenis kontak lens?" tanya Iruka tiba-tiba.
"Maksud Iruka-san?" sahut Naruto tidak paham.
"Kenapa matamu berwarna merah sebelah?" tanya Iruka lagi.
Dengan segera, Naruto menutup sebelah matanya dan tertawa ringan, "Ah-hahaha… I-iya. Aku memakainya. Sudah malam, sebaiknya aku tidur. Oyasumi, Iruka-san!" ujar Naruto tergesa dan segera menutup pintunya.
'Kyuubi!' seru Naruto dalam hati. Setengah berlari, Naruto menghampiri cermin yang tergantung di dinding kamarnya. Diturunkannya telapak tangan yang menutupi sebelah matanya sedari tadi dan membuka kelopak mata itu perlahan.
Betapa terkejutnya dia ketika mendapati sebelah matanya menjadi sewarna dengan darah segar. Merah. Merah yang sangat pekat dengan pupil pipih khas milik ras kucing.
"Kenapa? Kau kagum dengan warna mataku? Khu khu khu," tawa siluman dengan Sembilan ekor itu bergema dalam kepala Naruto. Membuatnya merasa muak.
"Kembalikan mataku!" seru Naruto penuh amarah.
"Kembalikan warna biru mataku!" serunya lagi dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Siap untuk mengalir ke pipinya.
"Kembalikan warna biru mataku. Warna yang…. 'ia' katakan indah," lirih Naruto seraya jatuhnya air mata.
"Botchama, saya perhatikan Anda suka sekali dengan warna biru gelap dan hitam," ujar Naruto mengutarakan pendapatnya.
"Salah. Warna kesukaanku adalah biru langit," sahut Sasuke dengan nada datarnya.
"Eh? Kenapa?" tanya Naruto bingung.
"Karena, aku suka warna indah matamu," ujar Sasuke lagi seraya memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan tanpa sempat melihat wajah Naruto yang juga tersapu oleh warna yang sama.
Tubuhnya perlahan merosot ke lantai yang dingin. Rasa putus asa memenuhi rongga dadanya. Tangannya terkepal kencang. Matanya terpejam erat. Dadanya terasa meletup-letup. Ingin rasanya menumpahkan semuanya pada orang lain. Namun mustahil. Lagipula, jika hal itu memang memungkinkan, apa ada orang yang bersedia memikul ini? Tidak. Tidak ada. Tidak mungkin ada yang mau memikul beban Naruto dengan suka rela.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang mengalami ini?" isaknya tertahan.
Tiba-tiba seseorang memasuki kamarnya tanpa permisi, "Naruto," panggil orang itu.
"K-kiba-niisan," sahut Naruto seraya menghapus jejak air matanya. Menutup sebelah matanya.
"Maukah kau menceritakannya?" pinta Kiba halus sambil mengelus puncak kepala Naruto lembut.
Naruto tidak menanggapi ucapan Kiba dan kembali menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Menyembunyikan wajahnya dari pandangan Kiba.
Kiba yang mengerti maksud dari tindakan Naruto hanya tersenyum kecil dan kembali mengelus puncak kepala Naruto penuh kasih, "Kalau kau sudah siap menceritakannya, datanglah padaku. Oke," ujar Kiba seraya menarik kepala Naruto untuk bersandar pada pundaknya.
Naruto memejamkan matanya. Ia merasa nyaman dan aman. Seakan tidak perlu mengkhawatirkan apapun di dunia ini. Tidak perlu meneteskan air mata. Tak perlu, memikirkan kematian yang semakin mendekat. Tak perlu memikirkan…
Kalau tubuhnya sebentar lagi akan diambil alih oleh seekor siluman.
Kepala Naruto tersentak. Wajahnya terlihat ketakutan. Ia terus bergumam, "Kowai… Kowai…"
Kiba bingung dengan tingkah Naruto. Namun, Ia sadar. Ia harus menenangkan Naruto. Bisa gawat jika membiarkan anak ini terus terkurung dalam ketakutannya.
"Shh, daijoubu. Daijoubu da yo, Naruto," bisik Kiba lembut.
Nampaknya bisikan Kiba memberikan efek. Gemetar tubuh Naruto berkurang. Wajahnya terlihat lebih rileks sekarang. Naruto kembali menyenderkan kepalanya pada pundak Kiba dan memejamkan matanya perlahan.
"Aku… takut," mulainya.
"Tidak apa. Aku, Bocchan, Kakashi, Iruka-san, dan semua penghuni mansion ini ada di pihakmu. Kami akan terus mendukungmu. Tidak akan pernah meninggalkan dan mengkhianatimu. Kami, akan selalu ada untukmu, Naruto," sahut Kiba tepat di telinga Naruto. Mengalirkah perasaan hangat pada hati Naruto.
"Janji?" tanya Naruto pelan.
"Janji," Kiba tersenyum kecil melihat Naruto sudah tenang sepenuhnya.
"Kiba-niisan, mungkin aku… tidak akan hidup lama lagi," lirih Naruto.
"Apa mak-"
Naruto memotong ucapan Kiba, "Kyuubi mulai menguasai tubuhku. Perlahan, ia akan mendapatkan tubuh juga pikiranku. Jika ia sudah mengendalikanku, maukan Niisan berjanji suatu hal padaku?"
"Ta-tapi Naruto, aku-"
Naruto lagi-lagi memotong ucapan Kiba, "Maukah kau berjanji?"
Kiba menyerah. Ia tak sanggup menatap wajah penuh harap Naruto, "Baiklah. Kau ingin aku melakukan apa?"
Naruto tersenyum. Ia menarik kepalanya bangkit. Tak lagi bersandar pada pundak Kiba. Ia berjalan perlahan menuju kasurnya dan mendudukkan dirinya di sana.
"Jika Kyuubi telah mendapatkanku, kumohon," Naruto menggantungkan kalimatnya. Perlahan, ia membuka sebelah matanya yang sedari tadi ditutupnya. Enggan untuk memperlihatkan pada Kiba.
Kelopak mata itu sudah sepenuhnya terangkat. Memperlihatkan iris semerah darah pada Kiba yang sekarang tengah terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"N-Naruto matamu-" Kiba tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia begitu terkejut.
"Kumohon, bunuh aku ketika Kyuubi mendapatkanku," lanjut Naruto serius.
"Bunuh?" ujar Kiba ambigu.
Kiba memulai harinya seperti biasa. Namun, ada yang ganjal pada wajahnya. Wajah yang biasa menampilkan senyuman dan seringai jahil itu terlihat suram pagi ini. Tak secerah biasanya.
'Hahh… apa yang harus kulakukan?' tanyanya dalam hati.
Kiba saat ini tengan dalam perjalanan menuju kamar sang tuan muda. Sudah waktunya bagi sang tuan muda untuk bangun dari alam mimpinya. Mulai hari ini kedepannya, ia lah yang bertugas untuk membangunkan Sasuke atas pemintaan Naruto. Naruto meminta ini semua untuk menjaga keselamatan sang tuan muda sendiri. Ia tidak mau jika tiba-tiba dirinya hilang kendali dan membunuh sang tuan muda tanpa ia sadari.
Awalnya Kiba menolak. Tapi, setelah mendengar argumen Naruto yang masuk akal baginya, Kiba pun memenuhi permintaan itu.
Kiba mengetuk pelan pintu kamar sang tuan muda. Tanpa permisi, ia menyibak tirai dan berteriak, "Ohayou, Bocchan! Ayo, angkat tubuh pemalasmu dan segera mandi. Kita punya sarapan lezat untuk ditelan~!"
Sasuke tersentak kaget atas teriakan Kiba dan terjatuh dari kasurnya, "K-Ki-Kiba?"
"Ayo! Ayo! Cepat mandi. Kita sarapan!" seru Kiba seraya meninggalkan kamar Sasuke karena ia sudah mulai merasakan hawa tak enak dari tuannya tersebut.
"BRENGSEK KAU, KIBA!"
Benar, 'kan?
Tanpa aba-aba, Kiba segera mengambil langkah seribu. Menghindari lemparan segala jenis dan bentuk benda yang dilemparkan Sasuke dari kamarnya.
"KEMARI, KAU!" teriak Sasuke penuh amarah.
"Are? Botchama, apa yang kau lakukan?" tanya seseorang mengiterupsi kegiatan Sasuke.
"Naruto!" seru Sasuke terlihat marah.
"A-apa?" sahut Naruto tergagap.
Sasuke mensengkram bahu Naruto kencang dan membawa wajah Naruto mendekat pada wajahnya. Membuat Naruto meringis ngeri seketika.
"Kau… Kenapa bukan kau yang membangunkanku?" tanya Sasuke penuh dengan nada ancaman.
"Botchama, S-saya punya alasan," terang Naruto panik.
"Hoo? Bisa kau jelaskan?" sahut Sasuke masih dengan nada ancamannya.
"Saya-ukh!"
"Khu khu khu, anak ini kurang ajar sekali. Kubunuh saja, ya?" suara Kyuubi bergema dalam kepala Naruto.
'Kyuubi!' pikir Naruto panik.
Tiba-tiba, Naruto menepis tangan Sasuke keras. Dengan wajah panik, Naruto berlari meninggalkan Sasuke yang terpaku di tempatnya. Tidak menyangka perlakuan Naruto padanya.
"Naruto?" gumamnya bingung.
"Wah~ ditolak, ya? Kasihan. Ayo, mengadulah pada Niichan," ujar Kiba yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Sasuke.
Sasuke yang sudah sebal menjadi makin sebal dengan ucapan Kiba barusan. Dengan gerak slow motion ala Matrix, Sasuke membalikkan badannya dan mengirim deathglare paling mematikan miliknya pada Kiba.
"Ups, sepertinya ucapanku salah," ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Mati kau!" seru Sasuke seraya menarik katana kesayangannya dari sarungnya.
"Aku sih, tidak masalah jika kau ingin mengejar dan menebasku saat ini, hanya saja, apa kau yakin ingin keliling mansion dengan piyama seperti itu, Bocchan?" ucap Kiba menyeringai jahil seraya berbalik meninggalkan Sasuke.
Sasuke tersentak dan memerhatikan baju yang sedang dikenakannya saat ini. Dengan cepat, ia kembali ke kamarnya. Membanting pintunya keras dan meneriakkan sumpah serapah pada Kiba.
"Kutunggu di ruang makan, Bocchan~" sahut Kiba melangkahkan kakinya menuju ruang makan dimana anggota Uchiha lain telah berkumpul.
Naruto POV
Sial! Aku hampir kehilangan kendali tadi. Untung saja, aku belum sempat melukai Botchama. Jika sampai hal itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.
Kularikan tubuhku pada toilet. Tempat dimana aku bisa sendirian tanpa seoramg pun yang menggangguku. Lagipula, siapa yang ingin masuk ke sini? Orang mesum, mungkin. Tapi, kurasa tidak. Kuperhatikan pantulan wajahku pada cermin. Memandang jijik pada wajahku sendiri. Wajahku yang semakin menyerupai si iblis dalam tubuhku.
"Hei, kenapa tampangmu begitu, bocah? Harusnya kau berterima kasih. Wajahmu tampak lebih garang sekarang," ucapnya menyebalkan.
'Ya. banyak terima kasih untukmu yang hampir saja membunuh tuanku.' Ujarku sarkastik.
Ia sama sekali tidak menjawab ucapanku. Ada apa? Apa dia menyerah untuk menguasai tubuhku? Sepertinya tidak. Mungkinkah dia tertidur?
Kuperhatikan lagi wajahku. Mataku melebar tak percaya. Di sana. Di pantulan cermin itu. Wajahku kembali seperti biasa. Tiga garis di pipiku kembali menipis. Irisku kembali ke warna seharusnya. Membuatku memekik riang dalam hati.
"Kubiarkan kau menikmati wajah perempuan milikmu itu sampai aku mendapatkan tubuh ini," ujarnya masih dengan nada menyebalkan.
Namun, aku tersenyum. Tidak menyangka jika monster seperti dirinya bisa mempunyai hati juga.
"Terima kasih, Kyuubi," ujarku tulus.
Ya. hanya sampai dia mendapatkaku sepenuhnya. Sampai ajal benar-benar menjemputku. Biarkanlah aku, melindungi apa yang berharga untukku. Dengan tanganku. Dengan kekuatanku. Dengan nyawa sebagai taruhanku.
Normal POV
Sasuke berjalan ke ruang makan dengan langkah berat dan wajah tertekuk. Terlihat sekali kalau bungsu Uchiha ini sedang dalam mood yang buruk. Dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya, Sasuke memasuki ruang makan dan menyapa semua orang yang sudah ada di sana lebih dulu, "Ohayou," ucapnya tak ikhlas.
"Ada apa, Otouto?" tanya Itachi yang menyadari mood buruk Sasuke.
"Bukan urusanmu, Baka Aniki!" sahutnya langsung mendudukkan dirinya di kursi dan melahap sarapannya.
"Kau tak pernah belajar sopan santun, ya? aku ini Aniki-mu, Sasuke," ujar Itachi berusaha untuk bersabar.
"Bawel. Dasar banci," sahut Sasuke tanpa melihat ke arah Aniki-nya.
Twich!
"Sasuke, bisakah kau sedikit saja bersikap sopan padaku?" suara Itachi mulai meninggi tanda kalau kesabarannya sudah menipis.
"Berisik. Diam, keriput," sahut Sasuke makin kurang ajar.
Twich! Twich!
"Fuhh, kau memang sulit untuk di ajari ya, Otouto?" ucap Itachi masih berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Hn. Lalu Aniki, kapan kau pulang?" tanya Sasuke meletakkan alat makannya. Ia sudah selesai dengan sarapannya dan sedang menyeruput kopinya.
"Apa maksudmu, Otouto? Bukankah aku sudah pulang?" tanya Itachi tak mengerti.
"Pulang ke Paris," ujar Sasuke menjelaskan.
"Kau mengusirku, begitu?" tanya Itachi dengan mata menyipit.
"Hn. Aku sudah selesai. Hari ini aku akan sibuk. Jangan ganggu aku," ujar Sasuke seraya berlalu meninggalkan Aniki-nya yang sedang menatap sebal padanya.
"Hahh," Itachi menghela napas dan menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Ada apa, Tachi-sama?" tanya Sasori.
"Hei Sasori, menurutmu, apa ada yang salah padaku?" tanya Itachi tiba-tiba.
"Apa maksud Anda?" Tanya Sasori balik.
"Kenapa kesannya aku yang menjadi adik, ya?" sahut Itachi kembali menghela napas.
'Yah, menurut saya, Anda kurang wibawa saja.' Sahut Sasori sweatdrop dalam hati.
Sasuke POV
Aku berjalan dengan langkah yang bisa dibilang cukup tergesa mengelilingi mansion besar ini. Bukan untuk mencari Kiba dan menebasnya. Melainkan untuk mencari Naruto dan mencari tahu apakan ia sedang ada masalah denganku. Pasalnya, tingkahnya tadi pagi sangat ganjal dan aneh menurut pengamatanku. Selama menjadi butler-ku ia tak pernah sekalipun berlaku kasar padaku. Ia selalu bersikap lembut juga ramah. Yah, kecuali saat aku yang memulai bersikap kurang ajar, sih. Tapi, selebihnya, ia selalu sopan juga ramah. Ia tak pernah menepis tanganku.
'Pasti ada masalah.'
Kulangkahkan kakiku menuju taman belakang. Biasanya, di pagi seperti ini ia sedang menyapu halaman bersama Kiba. Tak ada salahnya kucek, bukan?
Tepat dugaanku, ia sedang menyapu halaman berama Kiba. Ia terlihat serius menangani pekerjaannya. Berbanding terbalik dengan Kiba yang melakukannya sambil bermain-main. Mungkin terbiasa hidup bebas sewaktu masih di Akatsuki?
"Naruto!" panggilku.
Kulihat ia tersentak dan segera berlari ke arahku, "Ya, Botchama?" tanyanya dengan wajah ramah juga senyum seperti biasanya.
'Apa ini? Sudah kembali seperti biasa?'
"Botchama?" ucapnya padaku yang sedari tadi hanya terpaku melihat wajah manisnya. Tunggu! Manis? A-apa-apaan?
"A-aku hanya ingin bertanya," ujarku tergagap.
'Sial! Sejak kapan aku jadi seperti Nona Hyuuga itu?'
"Ya?" balasnya dengan senyuman yang terbentuk sempurna pada bibirnya.
"Aku ingin tanya, kau sedang ada masalah?" tanyaku akhirnya.
Tubuhnya sedikit tersentak. Memberikanku petunjuk kalau ia memang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak, kok," sahutnya dengan senyum paksaan.
Percuma menyuruhnya bicara sekarang. Aku akan menanyakannya pada Kiba nanti.
"Baiklah," ujarku seraya berlalu meninggalkannya.
Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku dan memanggil salah seorang pelayan yang kebetulan melewati depan kamarku. Menyuruhnya untuk memanggil Kiba dan menghadap padaku di kamarku.
"Ada apa, Bocchan?" tanya Kiba sesampainya ia di kamarku.
"Kau pasti tahu sesuatu, 'kan?" ujarku penuh ancaman. Memberikan dia peringatan untuk berkata jujur.
"Tahu tentang apa?" tanyanya dengan wajah bingung bodohnya.
"Naruto. Ia menyembunyikan sesuatu, 'kan?" tanyaku serius.
Kiba terdiam sesaat sebelum ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara, "Sebenarnya Naruto memintaku untuk menyembunyikannya darimu. Tapi, kupikir lebih baik kalau kau mengetahuinya."
"Jadi, ceritakanlah."
Normal POV
"Naruto tidak akan bertahan lebih dari lima bulan lagi," ucap Kiba dengan wajah serius. Membuktikan bahwa tak ada yang ia sembunyikan sama sekali.
Sasuke melebarkan matanya tidak percaya, "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Ini. Bacalah," ujar Kiba seraya menyerahkan sebuah buku pada tuannya.
"Apa ini?" tanya Sasuke. Di tangannya tergenggam sebuah buku bersampul hitam tanpa judul.
"Buku harian," sahut Kiba santai.
"Apa? I-ini barang pribadi! A-aku.. aku.. s-sebagai tuannya… a-a-a-ak-k-ku…" tanpa aba-aba, tubuh Sasuke bergetar cukup hebat. Wajahnya tersapu oleh warnah merah samar.
"Oi, oi, kau memikirkan apa, sih? Berlebihan," ujar Kiba sweatdrop melihat tingkah tuannya.
"Ini tidak berlebihan, bodoh! I-ini b-buku harian milik Nar-"
"Bukan. Itu milik butler Namikaze Minato terdahulu," potong Kiba dengan wajah setengan mengantuk. Malas jika harus melihat tingkah Sasuke yang sudah masuk tahap abnormal lebih lama.
Krak!
Seolah menjadi patung batu, Sasuke seperti hendak terbelah saat ini.
Melihat Bocchan-nya membatu seperti itu, Kiba langsung membuka mulutnya untuk meledek, "Wah, impian yang tak tercapai, ya? Bersabarlah, Bocchan," ujarnya seraya menepuk pelan bahu Sasuke dan meninggalkan ruangan itu dengan santai.
Sasuke kembali tersadar begitu Kiba membanting pintu kamarnya, "Ck, yang lebih penting saat ini adalah nyawa Naruto," ujarnya seraya mulai membaca tiap paragraph dalam buku itu.
/Penyegelan Kyuubi pada tuan muda akan dilakukan besok. Sesuai dengan perintah Minato-sama juga Kushina-sama./
"Jadi, penyegelan Kyuubi di tubuh Naruto itu atas perintah ayah ibunya sendiri? Apa ini yang membuatnya sedih," gumam Sasuke menerawang.
Merasa mendapat kesimpulan yang kurang tepat, ia kembali membaca tiap lembar buku itu hingga ia menemukan satu paragraph yang membuatnya melebarkan matanya tak percaya. Membuatnya membaca paragraph itu berulang kali. Hingga ia percaya. Bahwa kalimat yang tertulis di sana adalah kenyataan. Bukan sekedar refleksi pikiran buruknya.
/Sekali seorang wadah ditanamkan Biju, wadah itu tak akan pernah lolos dari mimpi buruk. Mereka akan terus dikejar oleh kematian. Karena, mau tak mau, sudi ataupun tidak, wadah itu, akan dibunuh jika sudah waktunya. Tanpa memandang siapa sang wadah itu. Meski harus membunuh orang terkasih. Hanya demi keseimbangan di dunia. Wadah itu, tak lebih sebagai tempat pengurungan Biju. Tidak lebih./
"Bunuh?" bisiknya tak percaya.
Dengan amarah yang memuncak, Sasuke membanting buku yang ada dalam genggamannya, "Persetan dengan dunia! Bagiku, Naruto…"
"Eksistensinya lebih berharga dibanding dunia busuk ini!" serunya dengan wajah penuh amarah. Dengan sharingan yang terbentuk sempurna pada matanya. Ia membanting pintu kamarnya. Berlari mencari Kiba. Begitu dilihatnya siluet yang menurutnya adalah Kiba, ia langsung berteriak, "Kiba!"
Ia segera menghampiri siluet itu. Mencengkram pundak sosok itu keras hingga sosok itu meringis, "Apa yang dikatakan buku itu benar? Pasti ada cara lain, bukan?" tuntut Sasuke.
"Tenang, Bocchan. Kau hampir meremukkan bahuku," ujarnya berusaha melepaskan cengkraman Sasuke pada bahunya.
Dengan berat hati, Sasuke melepaskan cengkramannya pada bahu Kiba. Ia berdiri menyandar tembok dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sebenarnya, aku sendiri merasa kalau ada cara lain selain membunuh Naruto," ujar Kiba memulai.
"Kau tahu caranya?" tanya Sasuke.
"Tidak. Tapi, aku –bukan, kita bisa mengusahakannya," jawab Kiba jujur.
"Kau yakin, kalau ada cara lain? Kenapa dan darimana kau tahu?" tuntut Sasuke.
"Insting. Hanya lewat insting. Tapi, jangan sekali-kali meremehkan instingku ya, Bocchan," ujar Kiba memperingatkan.
"Aku tak punya pilihan. Jadi, apa rencanamu?" balas Sasuke tidak sabar.
"Malam ini, kita menyusup ke Namikaze's mansion. Kita temukan semua rahasia di sana," bisik Kiba.
"Baiklah," sahut Sasuke penuh keyakinan.
"Tapi sebelumnya, ada yang aku ingin kau lakukan," ujar Kiba menatap serius pada Sasuke yang mau tak mau jadi terbawa suasana.
"Apa?" pinta Sasuke.
"Latih dirimu. Naruto diincar oleh orang-orang hebat. Kekuatannya tak bisa dibandingkan jika dengan kita yang sekarang. Kita belum memastikan kekuatan mereka yang sebenarnya. Karena itu, bangkitkan Mangekyou-mu," terang Kiba menatap tajam pada Sasuke.
"Dengan begitu, kau bisa melindunginya," lanjut Kiba seraya berbalik meninggalkan Sasuke. Bermaksud untuk kembali pada pekerjaannya.
"Dengan begitu, kau bisa melindunginya,"
"Heh, dasar sok keren. Aku memang bermaksud untuk berlatih," ujar Sasuke pada dirinya sendiri seraya berlalu dari tempatnya semula.
"Aku akan meminta Kakashi untuk melatihku,"
"Begitulah. Jadi, cepat latih aku," perintah Sasuke pada Kakashi setelah menceritakan semuanya pada Kakashi.
"T-tapi, Sasuke-kun," Kakashi berusaha untuk membantah.
"Sudahlah, Kakashi. Apa salahnya melatih tuan muda? Ia ingin melindungi yang berharga untuknya. Menurutku itu keinginan mulia," sela Iruka.
"Hn," gumam Sasuke.
"Baiklah. Baiklah. Ayo, kita kehalaman," ajak Kakashi.
"Yosh, kita mulai latihan kita," ujar Kakashi
"Apa yang akan kau ajarkan padaku?" tanya Sasuke tak sabar.
"Tenang dulu, Sasuke-kun. Karena kau adalah pemula, aku akan memulai dari dasar," terang Kakashi.
"Pertama, aku akan menjelaskan padamu apa itu cakra."
"Tidak butuh. Aku sudah bisa mengeluarkan jutsu tanpa penjelasan berliku itu. Aku sudah bisa menggunakan cakraku," potong Sasuke cepat.
"Tidak. Kau mungkin bisa menggunakannya. Tapi, kau belum bisa menggunakannya dengan benar. Hanya 'menggunakan' akan sangat fatal, Sasuke-kun," sahut Kakashi.
"Hn," gumam Sasuke entah apa maksudnya.
"Aku tahu kau memiliki otak yang jenius. Jadi, aku hanya akan menjelaskannya sekali. Cakra adalah energy yang dibutuhkan seorang ninja untuk melakukan jutsu. Cakra terdiri dari energy jiwa dan energy raga. Gabungan dari kedua energy inilah yang diperlukan ninja untuk menggunakan jutsu yang diselesaikan dengan adanya penggunaan segel oleh tangan," terang Kakashi panjang lebar.
Sasuke mengangguk mengerti.
"Karena kau sudah mengerti, kita mulai latihan kita," ujar Kakashi akhirnya.
"Latihan apa?" tanya Sasuke panasaran.
"Memanjat pohon."
.
.
.
.
"Kau menyuruhku menjadi monyet, hah?" tanya Sasuke sarkastik dengan glare di belakang tubuhnya.
"Yare-yare, bukan begitu Sasuke-kun. Biar kuperlihatkan," ujarnya seraya berjalan menuju pohon paling tinggi di sana.
Perlahan, Kakashi mengangkat kakinya dan mulai berjalan vertical di pohon itu tanpa terlihat kesulitan sama sekali.
"Kurang lebih seperti ini. Kau pun bisa melakukannya. Kau hanya perlu memusatkan cakra pada telapak kakimu," terang Kakashi.
"Mudah," sahut Sasuke.
"Jangan meremehkan begitu, Sasuke-kun. Untuk memanjat dengan cara ini, kau memerlukan jumlah cakra yang tepat. Lagipula, telapak kaki adalah daerah paling sulit untuk dijadikan tempat pemusatan cakra," terang Kakashi dengan sabar.
Sasuke tak menjawab ucapan Kakashi. Kakashi pun melanjutkan penjelasannya, "Tujuan dari latihan ini adalah, menguasai control cakra juga melatih stamina dalam mengontrol keseimbangan cakra."
"Kau yakin aku akan kuat dengan latihan ini?" tanya Sasuke memastikan.
"Yakin. Jika kau sudah menguasai control cakra dengan baik, akan mudah bagimu untuk melakukan berbagai jutsu," terang Kakashi lagi.
Kakashi melompat turun dari atas pohon dan menyerahkan sebuah kunai pada Sasuke, "Gunakan ini untuk membuat goresan pada pohon. Yah, untuk mengukur seberapa tinggi kau bisa memanjat vertical. Lalu, karena kau masih pemula, kusarankan kau melakukannya sambil berlari. Berjuanglah, Sasuke-kun. Aku akan kembali petang nanti," ujarnya seraya berjalan meninggalkan Sasuke menuju mansion dimana ia bisa bersantai.
"Bilang saja kalau malas mengawasi," gumam Sasuke sebal.
"Dengan begitu, kau bisa melindunginya,"
"Baiklah," ujarnya meyakinkan diri sendiri.
Sasuke memejamkan matanya. Mencoba berkonsentrasi untuk memusatkan cakra-nya pada telapak kakinya. Setelah ia rasa cukup, ia mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari.
Sasuke melesat ke arah pohon yang akan dijadikan bahan latihannya. Kakinya menapak vertical pada batang pohon itu.
'Berhasil!' batinnya senang.
Ia terus berlari.
Lima langkah.
Tujuh langkah.
Sebelas langkah.
Krak!
Tiba-tiba, dahan yang menjadi pijakan Sasuke retak. Membuat Sasuke kehilangan keseimbangannya dan akan terjatuh. Tubuh Sasuke baru saja akan membentur tanah jika saja seseorang tidak mencegahnya dan membuat tubuhnya melayang.
'Keahlian ini,'
"Jangan ganggu latihanku, Baka Aniki," ujarnya keras.
"Kau ini bukannya berterima kasih malah meneriakiku. Aku 'kan sudah menolongmu," sahut Itachi dari balik pohon.
"Sasori yang menyelamatkanku," balas Sasuke tak mau kalah.
"Terserah. Turunkan dia, Sasori," perintah Itachi.
Tak selang beberapa lama, tubuh Sasuke sudah menyentuh tanah. Kini, ia sudah berdiri tegak di atas kakinya.
"Untuk apa kau kemari, Aniki?" tanya Sasuke penuh selidik.
"Tidak ada maksud khusus, kok. Aku cuma ingin mengatakan, untuk membangkitkan Mengekyou Sharingan, dibutuhkan potensi khusus. Dan kau, memiliki potensi itu. Nah, berjuanglah dengan latihanmu, Otouto," ucapnya seraya menepuk pelan kepala Sasuke. Sekedar memberi dukungan semangat pada Otouto-nya tersayang.
"Hn," sahut Sasuke seadanya.
Itachi hanya bisa angkat bahu melihat tingkah dingin adiknya dan berlalu pergi.
"Terima kasih, Aniki," ujarnya pelan meski masih bisa terdengar oleh Itachi.
Itachi tersenyum kecil mendengar ucapan terima kasih dari adiknya yang jarang-jarang keluar itu. Tahu kalau Sasuke akan marah jika ia menyahut, Itachi pun hanya diam dan melangkahkan kakinya memasuki mansion.
Sasuke kembali berdiri tegak seolah menantang pohon di hadapannya. Ia kembali bersiap. Menggenggam erat kunai di tangannya. Kembali memusatkan cakra pada telapak kakinya. Berlari vertical.
Tak akan berhenti. Tak akan menyerah. Tak akan berputus asa. Sebelum ia berhasil menaklukkan tinggi pohon itu. Untuk dia yang istimewa. Untuknya yang berharga. Melebihi apapun di dunia ini. Untuk eksistensi dirinya. Yang takkan tergantikan.
Petang telah datang. Semburat warna orange menghiasi langit yang sebelumnya berwarna biru. Sewarna dengan sepasang permata dia yang berharga bagi Sasuke.
Sasuke terduduk di salah satu dahan tertinggi pohon itu dengan napas terengah. Wajahnya dipenuhi oleh tetesan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Berusaha mentralkan suhu tubuh Sasuke. Dari tempatnya terduduk, ia melihat siluet perak bergerak lambat di bawahnya. Mengenali sosok itu, Sasuke langsung saja melemparkan kunai yang dipegangnya pada orang itu tanpa bermaksud untuk melukai sosok itu.
Tep!
Sebuah kunai menancap tepat di hadapan Kakashi. Membuatnya menengokkan kepalanya ke atas. Mencari sang pelaku pelemparan.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau dikatakan jenius, Sasuke-kun," puji Kakashi tersenyum.
"Jangan banyak bicara. Latihan selanjutnya. Aku harus segera menjadi kuat," sahut Sasuke.
"Sabar dulu. Yang lebih penting, sudah saatnya kau makan malam," balas Kakashi seraya melompat ke dahan dimana Sasuke terduduk. Mengalungkan salah satu lengan Sasuke pada lehernya dan membantu sang tuan muda masuk ke dalam mansion untuk membersihkan diri dan menyantap makan malamnya.
"Itadakimasu,' ucap Sasuke pelan dan langsung melahap makan malamnya.
"Bagaimana latihanmu, tuan muda?" tanya Iruka ramah.
"Hn," sahut Sasuke tak jelas.
'Sepertinya itu berarti berjalan lancar,' pikir Iruka tersenyum maklum dengan watak sang tuan muda.
"Nah Sasuke-kun, sambil kau melahap makan malammu, aku akan menjelaskan tentang latihan kita selanjutnya. Kita akan memulainya pagi sekali besok," mulai Kakashi.
"Jangan banyak bicara. Jelaskan saja," perintah Sasuke tak sabar.
"Yare-yare, kau tak sabaran sekali? Baiklah. Menu latihan kita selanjutnya adalah, berjalan di atas air," jelas Kakashi akhirnya.
"Hahh? Setelah berjalan vertical di pohon, kau menyuruhku berjalan di atas air? Kau mau menjadikanku badut multitalenta, ya?" tanya Sasuke sarkastik.
Kakashi sweatdrop mendengarnya, "Dengar Sasuke-kun, latihan ini tak kalah pentingnya dengan latihan yang sudah kau kuasai sore ini. Lagipula, latihan ini lebih sulit dari memanjat vertical, lho," ujar Kakashi.
"Kenapa?" tanya Sasuke meminta penjelasan lanjut.
"Berbeda dengan pohon yang merupakan benda padat, air adalah benda cair. Jika berjalan di benda padat, kau hanya perlu mengumpulkan cakra pada jumlah tertentu dan mempertahankannya. Lalu, kau hanya perlu menempelkan kakimu pada benda itu dan selesai. Tapi, jika kau berjalan di benda cair seperti air, kau harus terus menerus mengeluarkan cakra dalam jumlah tepat dan megalirkannya ke dalam air. Kau pun harus mempertahankan ketepatan jumlah cakra yang kau keluarkan agar tubuhmu bisa mengambang," terang Kakashi panjang lebar.
Namun, dengan otak jenius yang merupakan anugerah bagi keturunan Uchiha, Sasuke dapat langsung memahaminya dengan mudah.
"Begitu. Dengan kata lain, ini akan lebih sulit dari latihan hari ini?" tanyanya memastikan.
"Yap. Sebaiknya kau tidur sekarang. Kita mulai besok pagi sekali. Karena, latihan ini akan lebih memakan waktu," ujar Kakashi sebelum meninggalkan ruangan menuju kamarnya.
Selesai dengan makan malamnya, Sasuke berjalan dengan langkah lelah menuju kamarnya. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, "Bocchan,"
Dengan enggan Sasuke menengokkan kepalanya menghadap Kiba, "Apa?"
"Sebaiknya kau istirahat saja hari ini. Biar aku saja yang pergi ke Namikaze's mansion," ujar Kiba.
"Sebaiknya kau selesaikan dulu latihanmu. Aku ataupun kau yang pergi juga sama, 'kan?" lanjut Kiba sebelum Sasuke sempat memprotes.
"Baiklah. Kuserahkan padamu, Kiba. Jangan sampai kau membuat kesalahan," ujar Sasuke berlalu.
"Tentu," sahut Kiba riang dan bersiap untuk pergi.
Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, Sasuke bangun dengan sendirinya hari ini. Bahkan ia sudah mandi juga sarapan sejak tadi. Sepertinya ia bersemangat sekali untuk latihan kali ini.
"Baiklah. Kita mulai saja latihan hari ini. Aku sudah meminta Yamato untuk membuat kolam air cukup besar di halaman belakang," ujar Kakashi menerangkan.
"Yamato?" tanya Sasuke bingung pasalnya ia baru kali ini mendengar nama orang ini di mansion.
"Ah, Yamato adalah tukang kebun baru kita, Sasuke-kun," terang Kakashi.
'Lagi-lagi dia merekrut orang tanpa izinku,' batin Sasuke kesal.
"Nah Sasuke-kun, coba kumpulkan cakra di telapak kakimu seperti saat memanjat pohon kemarin," perintah Kakashi memulai latihan mereka.
Tanpa banya bicara, Sasuke langsung melakukan apa yang diperintahkan Kakashi padanya.
"Hmm, hebat. Sekarang, terus keluarkan cakra seperti itu. Cocokkan dengan berat badanmu dan berjalanlah di air," perintah Kakashi lagi.
Sasuke memejamkan matanya. Mencoba mencari porsi cakra yang pas untuk berat badannya. Perlahan, dilangkahkan kakinya berjalan di atas air. Baru saja ia melangkahkan kakinya ke atas air dan,
Byur!
"Wuaaah! Puah!" serunya berusaha mengeluarkan air yang masuk ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Sulit, 'kan? Kuberi batas waktu penguasaan control cakra ini dua hari. Kau harus menguasainya dalam 48 jam, ya. Tapi, kalau kau bisa menguasainya dalam sehari, lebih bagus sih," sahut Kakashi melangkahkan kakinya ke salah satu pohon terdekat dan mendudukkan tubuhnya di sana. Mengawasi latihan Sasuke.
Kakashi merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan buku orange yang sudah sangat dihafal Sasuke. Kakashi membuka lembaran-lembaran buku itu dan mulai membaca. Sesekali, telinganya mendengan teriakan ataupun suara tubuh Sasuke yang gagal mengapung dan terjatuh ke air.
Byur!
"Kuso!"
Byur!
'Berjuanglah, Sasuke-kun,' batin Kakashi menyemangati.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Pertanda kalau ini adalah tengah hari. Sasuke masih saja berusaha memusatkan dan mengontrol cakra-nya dengan benar. Ia sudah bisa mengapung dan sedikit berjalan sekarang. Sungguh perkembangan yang cepat. Namun, ini bukanlah hal yang aneh jika ini merupakan pencapaian seorang Uchiha. Mereka adalah jenius, ingat?
Tubuh Sasuke basah kuyup oleh air kolam. Napasnya terenagah. Namun, matanya tetap memancarkan semangat yang sama. Tidak. Ia tidak akan menyerah semudah itu. Dia adalah Uchiha. Ia harus bisa melakukan semua ini.
Kakashi bangkit dari posisinya dan berteriak memanggil Sasuke, "Kau mau makan siang di sini atau di dalam?" tanya Kakashi.
"Di sini saja. Aku tidak mau membuang-buang waktu," sahut Sasuke seraya mencoba kembali berjalan di atas air.
"Baiklah," sahut Kakashi melenggang masuk ke dalam mansion.
Sasuke mulai melangkahkan kakinya ke atas air. Lima langkah. Masih terkontrol baik. Delapan langkah. Sesekali ia limbung. Duabelas langkah. Ia hampir terjatuh. Enam belas langkah. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Siap untuk terjatuh lagi.
'Sial!' rutuknya dalam hati.
Tubuhnya meluncur cepat. Ia akan jatuh saat ini juga. Namun tiba-tiba,
Tep!
"Ups! Hati-hati, Bocchan!" ujar seseorang yang menangkap lengannya.
"Oh, Kiba?" sahut Sasuke dengan wajah lelah. Ia mendongak ke atas dan melihat jelas sosok Kiba dengan sebelah tangannya yang sedang menggenggam lengannya. Sedangkan, lengannya yang lain sedang membawa nampan berisi makan siang untuk Sasuke. Kiba berjongkong di atas air. Kakinya terlihat mengeluarkan cakra.
Perlahan, Kiba mengangkat tubuh Sasuke dan membawanya ketepian kolam. Di sodorkannya nampan berisi makan siang sang tuan muda, "Ini. Buatan Naruto, lho," ujar Kiba mengedipkan sebelah matanya.
"Naruto, bagaimana?" tanya Sasuke khawatir seraya mulai melahap hidangan di depannya.
"Lumayan. Mungkin karena waktunya yang masih agak jauh. Tapi, terkadang ia sedikit hilang kendali. Tadi saja, aku hampir ditikam pisau olehnya," jawab Kiba dengan butiran keringat di dahinya mengingat kejadian tadi pagi. Dimana ia berlari-lari dengan wajah pucat penuh rasa takut, dikejar oleh Naruto yang membawa pisau dapur layaknya seorang psychopat.
Mengingatnya membuat Kiba merinding.
"Terima kasih makanannya," ujar Sasuke pelan dan mengembalikan nampan berisi piring kotor pada Kiba.
Sasuke bangkit berdiri dan kembali berusaha memusatkan cakranya. Ia kembali berjalan di atas air.
"Ganbatte ne, Bocchan!" seru Kiba dan berlalu dari tempatnya semula. Meninggalkan Sasuke yang tengah bejuang.
Tengah malam. Langit berwarna gelap. Halaman belakang Uchiha's mansion hanya diterangi oleh cahaya bulan. Tanpa mempedulikan segalanya yang ada di sekitarnya, Sasuke masih terus berjalan di atas air. Ia terlihat begitu serius. Wajahnya menampakkan sebuah seringai penuh kemenangan. Tunggu. Seringai kemenangan?
"Hebat sekali, Sasuke-kun! Kau menguasainya hanya dalam sehari," ujar Kakashi sambil bertepuk tangan.
"Heh, ini mudah bagi seorang Uchiha," sahut Sasuke menyeringai.
Sasuke berjalan ke arah Kakashi dan mendudukkan tubuhnya di samping Kakashi. Mengatur napasnya yang terengah.
"Kau terlalu memaksakan dirimu, Sasuke-kun," ingat Kakashi.
"Hn," sahut Sasuke asal dan mulai melangkah memasuki mansion. ia butuh istirahat.
Tanpa salah seorangpun menyadari, Naruto terus memerhatikan Sasuke sejak tadi. Berdoa untuk sang tuan muda.
"Arigatou, Botchama," gumamnya tersenyum lembut. Ia melangkah ke arah kasurnya. Menidurkan dirinya di sana.
"Aku yang akan membangunkannya besok," janjinya sekali lagi tersenyum lembut sebelum ia benar-benar jatuh dalam alam mimpinya.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Author: Yeah! Chapter 11 selesai!
Sasu: Gue emang baik. Berlatih keras mempertaruhkan segalanya untuk uke tercinta.
Author: Kepedean lo! #geplak kepala Sasuke
Plak!
Sasu: Apaan sih lo, author sarap? Mau gue Chidori?
Author: Eits! Gak bisa! Lo belom belajar Chidori! #meletin lidah.
Sasu: Sial!
Author: Nah, saya akan balas review! Yang review-nya log in, sudah kukirim PMs. Jadi, gak saya jawab di sini. Nah, mulai.
Namikaze Trisha: Thanks bilang bagus. Sudah update. Makasih review-nya!
Ariza: Thanks bilang seru. Saya membuatnya mati-matian, lho. #inget diri sendiri yg sampe ketiduran depan computer. Makasih review-nya
Yup! Udah. #dikit? Emang! Saya aja mau nangis~ (Lebay. Jangan pedulikan.)
Oh ya, saya mau minta maaf kalau chap ini kurang seru atau sebagainya. Saya benar-benar minta maaf. (_._)
Saya usahakan chap selanjutnya lebih seru.
Nah, sampai jumpa di chap 12, ya!
Jaa~
