Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Pairing: SasuNaru

warning: OOC, AU, abal, gaje, alur super cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, Sho-Ai, and maybe typo(s).

Genre: Romance and Tragedy

Author's Note: Minna-san~! Saya balik lagi! Chapter 12! Yei! Yei! #tebar pasir *dikeroyok readers karena bikin kotor*

"bold italic" = Kyuubi POV

Italic = flashback

/Italic underline/ = tulisan pada buku

Langsung saja,

HAVE A NICE READ!

.

.

.

.

Flashback

Tanpa salah seorangpun menyadari, Naruto terus memerhatikan Sasuke sejak tadi. Berdoa untuk sang tuan muda.

"Arigatou, Botchama," gumamnya tersenyum lembut. Ia melangkah ke arah kasurnya. Menidurkan dirinya di sana.

"Aku yang akan membangunkannya besok," janjinya sekali lagi tersenyum lembut sebelum ia benar-benar jatuh dalam alam mimpinya.

.

.

.

.

Chapter 12 Training!

Normal POV

Naruto, atau lengkapnya Namikaze Naruto, seorang butler milik keluarga uchiha, melangkahkan kakinya dengan riang. Entah apa yang membuat mood-nya hingga sebagus ini. Dilihat dari wajahnya yang sumringah, tampaknya banyak sekali hal yang telah membuat hatinya berbunga-bunga.

Ia memperlambat langkahnya begitu memasuki lorong utama. Dengan langkah sopan dan elegan bak butler kelas satu, Naruto menghampiri sebuah pintu dengan wajar dan mengetuknya perlahan.

Tok! Tok!

Sekedar menggumamkan kata permisi, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju jendela seperti pagi-pagi sebelumnya. Menyibak tirai yang menggantung di sana agar cahaya matahari dapat masuk menyinari kamar tuan mudanya.

Sang tuan muda tak merasa terusik sedikit pun. Tampaknya sang tuan muda sangat lelah hingga tertidur sepulas itu. Sedikit menghela napas, Naruto segera mengguncang tubuh sang tuan muda.

"Botchama, ayo bangun. Anda bisa ketinggalan sarapan," ujarnya lembut.

"Ngg, berisik Naruto," sahut sang tuan muda kesal. Sekedar melirik dan kembali bergelung di bawah selimut hangatnya.

'Dasar pirang menyebalkan!' serunya dalam hati.

'Tunggu sebentar. Pirang?'

Dengan satu gerakan tiba-tiba, sang tuan muda, Uchiha Sasuke menyibak selimutnya kasar. Dengan mata terbuka sempurna, ia mengedarkan pandangannya. Mata sekelam malam tanpa bintangnya langsung menangkap sosok pirang dengan senyum hangat bagaikan matahari di makin membelalak tak percaya.

"Akhirnya Anda bangun juga," ucap sang butler manis.

"Naruto? Kenapa kau- bukan Kiba- maksudku-" ucap Sasuke terpotong-potong. Nampaknya ia bingung mau memulai dari mana.

"Botchama tidak suka jika aku yang membangunkan?" tanya Naruto dengan wajah cemberut. Membuat Sasuke sudah mendapatkan senam jantung pagi-pagi.

"Bukan begitu. Hanya saja, kondisimu?" tanya sang tuan muda perlahan.

Naruto tersenyum lembut, "Tidak apa. Sejak kemarin malam, Kyuubi tidak menggangguku. Jadi, kurasa aku bisa bekerja seperti biasanya."

"Sebaiknya, Anda- maksudku kau mandi saja dulu. Akan kubuatkan sarapannya," lanjut Naruto.

Sasuke tidak menjawab ucapan Naruto dan hanya mengangguk menurut. Selesai dengan semua ritualnya, Sasuke segera melarikan dirinya menuju ruang makan. Untuk segera mendapatkan sajian istimewa dari butler kesayangannya itu.

"Ohayou," sapanya pada Kakashi yang masih dan selalu asik dengan buku orange mesum di tangannya.

"Ohayou, Sasuke-kun. Bagaiman tidurmu?" sahut sang ketua pelayan, Hatake Kakashi.

"Lumayan," sahut Sasuke tak begitu perduli.

"Silahkan sarapannya, Botchama," ucap Naruto sopan seraya meletakkan sarapan di depan sang tuan muda.

"Hn. Itadakimasu," ucapnya pelan dan segera melahap habis sarapan yang telah disajikan butler-nya tadi.

"Mana Kiba, Naruto?" tanya Kakashi begitu menyadari bahwa tak ada sosok Kiba di ruang itu.

"Masih tertidur. Sepertinya dia kelelahan sekali. Apa aku terlalu merepotkan dia karena tidak bekerja?" ujar Naruto dengan wajah khawatir.

"Tenang saja. Itu bukan salahmu, kok," sahut Kakashi menenangkan.

Sasuke mengelap bibirnya dengan serbet, tanda bahawa ia telah selesai dengan sarapannya. Naruto segera mengangkat piring kotor itu menuju dapur untuk mencucinya.

"Apa latihan kita hari ini, Kakashi?" tanya Sasuke to the point.

"Hmm? Karena kau jenius, kau pasti bisa menguasai berbagai jutsu dasar hanya dalam sekali lihat. Terlebih kau sudah punya Sharingan. Jadi, aku akan mengajarkanmu mengenai perubahan bentuk dan jenis cakra," terang Kakashi sambil menggiring Sasuke menuju halaman belakang.

"Perubahan bentuk dan jenis?" ucap Sasuke ambigu.

"Yap! Nah, pertama-tama akan kujelaskan mengenai perubahan bentuk. Naruto akan memperlihatkannya padamu," ujar Kakashi tersenyum.

"Naruto?"

"Benar. Aku yang akan memperlihatkannya, Botchama," sahut Naruto yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah Kakashi.

Naruto membentuk sebuah kagebunshin. Naruto mengangkat sebelah lengannya sedangkan klon dirinya mengangkat kedua tangannya ke arah lengan Naruto. Perlahan, cakra berkumpul di lengan Naruto dan membentuk lingkaran sempurna.

Naruto menghilangkan klonnya dan menghadap Kakashi tersenyum, "Sudah jadi, Kakashi-san!"

"Bagus, Naruto," sahut Kakashi balas tersenyum.

"Apa itu?" tanya Sasuke.

"Rasengan," sahut Kakashi.

"Ini adalah contoh jutsu yang hanya menggunakan perubahan bentuk cakra, Botchama. Karena, untuk membentuk jutsu ini, kita hanya perlu menekan cakra dengan membuat putaran berkecepatan tinggi. Untuk jutsu ini, perubahan jenis cakra tidak dibutuhkan," jelas Naruto.

"Lalu, apa hubungannya dengan jutsu yang akan kupelajari?" tanya Sauke tidak sabar.

"Yare-yare… kau sangat tidak sabaran sekali, Sasuke-kun?" sahut Kakashi menggelengkan kepalanya pasrah.

"Urusai! Cepat jelaskan!" seru Sasuke dengan urat kemarahan mencuat di pelipisnya.

"Sebenarnya sih, tidak ada. Hanya untuk pembanding saja. Baiklah. Pegang kertas ini," ujar Kakashi seraya menyerahkan selembar kecil potongan kertas.

"Alirkan cakramu pada kertas itu. Untuk memperlajari perubahan jenis cakra, terlebih dahulu, kita harus mengetahui jenis cakra-mu yang satu lagi," lanjut Kakashi.

"Yang satu lagi?" tanya Sasuke tidak mengerti.

"Semua keturunan Uchiha memiliki jenis cakra api. Normalnya, tiap orang memiliki lebih dari satu jenis cakra. Karena kau pasti akan sangat mudah menguasai cakra jenis api, maka, aku akan mengajarkanmu jutsu untuk jenis cakra-mu yang satu lagi," terang Kakashi panjang lebar.

"Mengalirkan cakra pada kertas ini? Apa yang akan terjadi kemudian?" tanya Sasuke.

"Kertas itu terbuat dari pohon khusus yang hidup dengan meghisap cakra. Kita akan mengetahui jenis cakra kita dengan mengalirkan cakra pada kertas itu. Misalnya begini," terang Naruto seraya mengambil satu kertas dari tangan Kakashi.

Naruto memejamkan matanya dan berkonsentrasi mengalirkan cakranya pada kertas di genggamannya. Tiba-tiba, kertas itu terbelah menjadi dua bagian.

"Terbelah?" ucap Sasuke.

"Kalau terbelah menjadi dua bagian seperti ini, itu berarti jenis cakra-mu adalah 'Angin'. Kalau 'Api' kertasnya akan terbakar. Kalau 'Air' kertas akan basah. Kalau 'Tanah' kertas akan hancur. Kalau petir seperti Kakashi-san, kertas akan mengkerut," terang Naruto.

Tanpa membalas ucapan Naruto, Sasuke memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi mengalirkan cakranya pada kerta di tangannya.

"Heah!"

Zrekk!

"Petir," ujar Naruto.

Sasuke membuka matanya dan melihat kertas di tangannya terlah mengkerut secara instan.

"Pertir, ya? Baiklah kalu begitu, yang akan kuajarkan padamu adalah, Chidori," sahut Kakashi tenang.

"Chi-dori?" ucap Sasuke ambigu.

"Benar!" sahut Kakashi tersenyum bangga.

.

.

.

"Namanya pasaran sekali? Naming sense pembuat jurus itu jelek sekali," ujar Sasuke tanpa perasaan.

"Kejamnya. Itu teknik original-ku, tahu!" sahut Kakashi tidak terima.

"Cih, ternyata benar. Seleramu itu buruk," lanjut Sasuke lagi.

"Sudah-sudah. Bagaimana kalau Kakashi-san memperlihatkan saja jurus itu pada Botchama? Kurasa pandangan Botchama terhadap jurus itu akan berubah setelah melihat kehebatan jurus itu," lerai Naruto menenangkan.

Kakashi mengangkat sebelah tangannya dan mulai berkonsentrasi. Perlahan, cakra mulai berkumpul di telapak tangannya dan berubah menjadi aliran listrik.

Cip! Cip! Cip! Cip!

"Jurus inilah yang akan kuajarkan padamu," ujar Kakashi.

Sasuke manatap tak percaya ke arah telapak tangan Kakashi, "Bagaimana kau melakukannya?"

"Akan kuajarkan padamu. Sebentar lagi."

Naruto POV

"Akan kuajarkan padamu. Sebentar lagi," ujar Kakashi-san pada Botchama.

Aku tersenyum kecil dan segera meninggalkan tempat itu. Bermaksud untuk tidak menjadi pengganggu latihan Botchama. Lagipula, aku memiliki pekerjaan yang harus kulakukan. Baiklah! Aku juga akan berjuang!

Kulangkahkan kakiku dengan cepat. Menuju tempat dimana aku harus mencuci. Dalam hati aku berdoa agar latihan Botchama berjalan lancar tanpa perlu ia memaksakan diri.

"Yo, Naruto!" sapa seseorang tiba-tiba dari arah belakangku.

"Kiba-Niisan? Sudah bangun?" sahutku.

"Yup! Terima kasih, ya! Aku jadi punya waktu tidur lebih lama," sahut Kiba-Niisan tersenyum lembut.

"Tidak masalah," jawabku ikut senang.

"Jadi, apa pekerjaan kita hari ini?" tanyanya.

"Untuk Kiba-Niisan tidak ada. Kau diliburkan hari ini," sahutku mulai sibuk dengan pekerjaanku.

"Tidak ada pekerjaan? Ja-jangan-jangan…. Aku… dipecat?" ujarnya dengan wajah dibuat-buat agar terkesan horror.

Membuatku sweatdrop seketika, "Bukan begitu, Kiba-Niisan," sahutku mencoba menjelaskan.

"Hahahahaha! Bercanda! Bercanda! Baiklah kalau begitu, aku tidur saja lagi. Sampai nanti, Naruto," ujarnya seraya meninggalkanku dan kembali ke kamarnya.

Hahh, senior-ku yang satu itu. Senang sekali bercanda dan mempermainkan orang. Semoga saja Botchama tidak tertular. Bisa kiamat dunia ini jika Botchama memiliki sifat seperti Kiba-Niisan. Um? Kenapa aku jadi tiba-tiba merinding, ya? Sudahlah. Lebih baik aku berkonsentrasi pada pekerjaanku.


Kiba POV

Matahari telah turun dari singasananya. Mengubah warna orange kemerahan kesukaan rekanku tergeser dengan warna gelapnya malam. Lagi-lagi, aku menyusup keluar mansion. untuk menjalankan misi 'mulia' dari Bocchan-ku yang keras kepala.

Aku melesat cepat dari satu atap ke atap lain. Mencoba memperkecil kemungkinan tertuduh sebagai pencuri dengan berlari di bawah bayang-bayang gelap malam. Setelah beberapa berlari, akhirnya aku sampai di tempat tujuanku, Namikaze's mansion.

Oke, baiklah. Mungkin aku memang pantas disebut pencuri karena aku menyusup ke dalam tanpa permisi. Membawa beberapa buku dari dalam mansion ini tanpa persetujuan sang pemilik mansion sesungguhnya. Tapi, aku juga melakukan hal ini untuk kepentingan sang pemilik mansion ini juga, 'kan? Bisa jadi hubungan timbal balik sang seimbang, bukan?

Aku menyusup melalui jendela. Menyusup melalui pintu utama hanya membuatku tersesat. Seperti waktu itu. Waktu aku pertama kali datang ke sini. Bagaikan mimpi buruk jika tersesat di mansion tua tak terurus seperti ini.

Aku memasuki ruangan dengan melompat dari ujung jendela. Dengan instan, aku sudah berada di perpustakaan. Untuk kesekian kalinya, kujelajahi isi perpustakaan ini. Mungkin kalian tidak akan percaya. Tapi, kukatakan saja kalau sudah sebagian besar buku di sini sudah kubaca. Mustahil? Heh, tidak akan mustahil jika kau bisa menggunakan Kagebunshin.

Aku menuju sebuah rak dimana semua buku yang memenuhi rak ini belum kubaca. Kubuat lima Kagebunshin dan menyuruh mereka untuk membaca semua buku di sana. Kalau hanya tinggal satu rak ini, tiga jam pun akan selesai. Rahasia mengenai penyegelan Biju pasti ada di sini. Pasti!

Berjam-jam telah berlalu. Aku menggerakkan bahu dan leherku yang terasa pegal akibat terlalu lama membaca. Kusuruh para klonku untuk tetap membaca selama aku keluar ruangan untuk sekedar meregangkan otot dan merilekskan pandanganku. Merasa penasaran dengan lorong kecil di sampingku, aku segera saja melangkahkan kakiku ke arahnya.

Lorong itu sangat sempit sampai-sampai aku harus berjalan menyamping agar bisa melewatinya. Akhirnya, aku sampai di ujung lorong itu. Tak kusangka jika ujung lorong ini memiliki ruang yang sangat luas.

Begitu terlepas dari rasa sesak karena lorong sempit laknat itu, aku langsung dihadapkan oleh pintu besar yang menjulang. Pintu itu terlihat berbeda dengan pintu-pintu lain di mansion ini. Pintu itu terlihat begitu megah dengan ukiran-ukiran tak biasa. Berwarna sangat gelap. Menandakan bahwa pintu itu berasal dari kayu yang bagus.

Kulangkahkan kakiku ke arah pintu itu. Menggeser salah satu daun pintu itu perlahan. Aku menahan napasku. Mencoba untuk tidak bernapas. Karena, aku tahu bagaimana buruknya aroma ruangan yang sudah lama tak terurus. Apak.

Namun, semua perkiraanku meleset. Ruangan itu sama sekali tidak berbau apak seperti pikiranku. Ruangan itu berbau sangan nyaman. Seperti bau rerumputan. Wangi yang segar. Ruangan itu sangat luas. Jarang ada benda di sana. Di ruangan ini hanya ada sofa panjang berwarna maroon, dan sebuah meja dengan kursi besar dibelakangnya. Khas untuk ruang kerja. Terlebih lagi, yang paling membuatku berpikir kalau ruangan ini benar-benar aneh adalah,

Ruangan ini begitu bersih. Tanpa debu setitik pun.

Aneh, bukan?

Kulangkahkan kakiku mendekati meja. Kutengok buku yang tergeletak di atas meja itu. Buku yang terlihat biasa sepintas. Namun, jika kau memerhatikannya lebih lama, maka kau akan menemukan keindahan dari buku itu.

Aku mengangkat buku itu perlahan. Tampaknya ini adalah sebuah buku catatan milik seseorang. Namun, kenapa memilih buku dengan ukiran gambar seindah ini hanya untuk hal sederhana seperti itu? Pasti ada sesuatu yang istimewa juga di dalamnya.

Kuperhatikan buku di tanganku. Buku itu terlihat sangat mengagumkan bila diterpa sinar bulan. Membuat lambang di tengah buku ini seakan bersinar terang. Buku ini berwarna Violet indah dengan lambang paku perak yang dililit oleh api berwarna biru. Aneh. Namun, indah. Ah, sudahlah. Aku kurang pintar mendeskripsikan sesuatu.

Kubuka lembaran buku ini, "Ng? Oleh… Ji-ra-i-ya? Jiraiya? Siapa?"

Kubuka lembaran berikutnya. Ternyata, buku ini adalah milik Jiraiya-san yang merupakan kakek dari Naruto. Terlebih, aku sama sekali tidak menyangka kalau kakeknya adalah seorang peneliti Biju. Beliau bahkan membuat catatan rapi tentangnya. Hebat. Benar-benar tekun.

"Ichibi hingga Kyuubi? Wow, lengkapnya!"

Kubalik lembaran-lembaran itu dengan tergesa, "Ng… Kyuubi…. Kyuubi… Kyu- ah! Ini dia!"

Aku mulai membaca paragraph demi paragraph yang tertera di sana.

/Kyuubi (Siluman Rubah Berekor Sembilan)

Kyuubi, Siluman paling kuat dan mengerikan dari siluman-siluman yang lain diseluruh dunia ini. Berdasarkan pengamatan dan penelitianku selama bertahun-tahun, tak ada cara untuk melepaskan Kyuubi dari seorang wadah tanpa membunuh sang wadah./

Hatiku mencelos. Apakah benar tidak aka nada harapan lagi? Apa benar kami harus membunuh Naruto? Tunggu, Kiba! Kau tak boleh menyerah dulu. Masih banyak paragraph yang belum kau baca. Masih ada kemungkinan, 'kan? Ayo, jangan menyerah dulu!

Kembali, kubaca isi buku itu.

/Tak ada satu hal pun yang dapat mengalahkan sang iblis. Hal ini memang menguntungkan sang wadah. Akan tetapi, Kyuubi tak hanya menumpang dalam tubuh sang wadah sebagai inangnya. Lambat laun, tubuh dan pikiran sang wadahpun mulai di ambil alihnya. Jika seluruh emosi dan pikiran sang wadah sudah dalam kendali sang iblis, tubuh sang wadah akan hancur. Jika itu terjadi, kita harus segera mencarikan inang baru untuk sang iblis./

Ck, aku sudah tahu! Penjelasannya bertele-tele sekali? Cih!

/Mungkin kita tak akan bisa menang dari sang iblis. Itu semua karena ia menganggap kita adalah musuh yanhg berusaha melenyapkannya. Tapi, bagaimana kalau kita jadikan ia sekutu kita? Benar. Kita tak perlu kehilangan kesadaran dan nyawa kita bahkan kita tak akan kehilangan seluruh kemampuan Kyuubi. Semua itu bisa kita dapatkan dengan cara yang sangat mudah dan menguntungkan. Menjadikan Kyuubi dipihak kita dengan kata lain teman. Dan inilah cara untuk menjinakkan Kyuubi-/

"Ini dia!" seruku tanpa membaca kelanjutan buku itu.

Kututup buku itu dengan kera hingga menuimbulkan suara debaman yang cukup keras. Tanpa basa-basi, segera aku keluar dari ruangan itu, melepas jutsu-ku dan berlari pulang. Aku tak sabar untuk menunggu besok pagi. Dimana aku bisa membawakan kabar gembira ini untuk Naruto. Yah, terutama sih, untuk Sasu Bocchan.

Semoga mereka kembali tersenyum!


Normal POV

Angin sejuk berhembus perlahan. Menimbulkan rasa sejuk pada semua penghuni Uchiha's mansion. Tak ada awan di langit. Menandakan bahwa hari ini akan menjadi hari yang cerah. Burung-burung berkicau dengan merdunya. Benar-benar menentramkan hati. Sungguh pagi yang….

"BOCCHAN….!"

Tidak tenang.

Teriakan Kiba barusan benar-benar membuat hampir seluruh penghuni mansion itu kaget. Hampir? Ya. kurangi Sasori dan Naruto dalam hitungan. Mereka sudah hafal kelakuan Kiba tiap paginya. Selain mereka berdua, tentu saja semuanya tersentak karena kaget. Tak terkecuali tuan muda mansion ini, Uchiha Sasuke yang tengah mengembangkan jutsu Chidori yang baru saja di ajarkan Kakashi padanya.

Cip! Cip!

Membuat Chidori yang sudah susah payah dibuatnya hilang tak berbekas. Dengan suara berat dan terengah, ia meneriaki Kiba, "Kiba… hahh… beraninya kau…. Rasakan ini!" seru Sasuke seraya melayangkan beberapa Shuriken pada Kiba.

Dengan sigap, Kiba melompat dan membentuk satu putaran sempurna di udara, "Aku tidak suka merasakan Shuriken, Bocchan. Pahit," sahut Kiba meringis.

"Kau harus memiliki sebuah berita yang sangat hebat hingga mengganggu latihanku seperti ini," ujar Sasuke mulai tenang.

"Ini," ujar Kiba seraya meletakkan sebuah buku yang kemarin malam ia temukan di Namikaze's mansion pada tangan tuan mudanya.

"Buku? Apa isinya?" tanya Sasuke.

"Itu adalah buku catatan penelitian seorang yang berusaha mengendalikan Biju. Buku ini dikarang oleh kakek kandung Naruto sendiri. Jiraiya-san," jelas Kiba dengan wajah serius.

"Hmm,"

"Dan di buku ini, tertulis lengkap mengenai cara mengendalikan Kyuubi. Menjinakkan siluman itu, agar beralih ke pihak kita dan tidak membunuh Naruto," lanjutnya.

Sasuke tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia mulai membuka lembaran buku itu dan menemuka kalimat, /Dan inilah cara untuk menjinakkan Kyuubi-/

Sasuke segera mengalihkan matanya pada paragraph berikutnya. Ingin segera mengetahui cara menyelamatkan Naruto. Mata onyx-nya beralh dengan cepat. Kiba juga tidak ingin ketinggalan. Ia melirik isi buku itu bersamaan dengan sang majikan. Bola matanya juga mengikuti deretan huruf di sana.

'Dan cara menyelamatkan Naruto dari monster itu adalah….' batin keduanya bersemangat.

/אוןדאָסאיזוויצאַמעןדעםנייַן-טיילדפוקס.קודם,

אירמוזןאַרייַןדידימענסיעספוןדיקינסטלעךפאַנטאָם.פארבעטןצורעדןאוןפאַרהאַנדלען.נוצןאַסאַטאַלוועגווייַלעראיזאַפאַנטאָםמיטאַפאַרביסןטיפּ.פּרובירןאַזויאירקענעןזייַןטראַסטידדורךאים./

"….."

"….."

"….."

"Uhm.."

"Kiba?" ujar Sasuke dengan nada datar.

"Ya, Bocchan?" sahut Kiba mulai berkeringat dingin.

"Kau belum memeriksa semua isi buku ini?" tanyanya tetap dalam nada yang sama.

"Belum, Bocchan," sahutnya jujur.

"Artikan bahasa ini," perintah Sasuke meletakkan buku itu di atas tangan Kiba dan segera berbalik. Melanjutkan latihannya.

"B-baik, Bocchan," sahut Kiba takut-takut dan segera melarikan dirinya ke perpusatakaan. Dimana ia bisa mendapatkan kamus berbagai bahasa di sana.

'Menakutkan! Menakutkan! Bocchan yang berwajah datar lebih menakutkan!' batinnya hampir menangis.

.

.

Dengan patuh, dimulainya mencari artian dari deretan huruf -atau apalah itu- dalam buku itu. Berpacu dengan waktu yang senantiasa terus mengejar mereka di belakang.

'Aku akan berjuang,' batin Kiba berusaha menyemangatkan dirinya sendiri.

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda. Sasuke tengah melatih kekuatan serta jutsu-nya. Berusaha menggunakan waktu se-efektif mungkin.

'Aku takkan menyerah,' batinnya dengan tatapan penuh keyakinan.

"Untuk Naruto!" teriak Sasuke dan Kiba bersamaan.

Membuat orang yang bersangkutan mendengarnya. Mengembangkan senyum tipis penuh rasa terima kasih.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Yup! Saya minta maaf jika chapter ini pendek –sangat-. Ini semua memang disengaja untuk kepentingan chapter selanjutnya.

Nah, Saya balas review dulu.

Lasanaru: Salam kenal juga. Terima kasih sudah mengatakan kalau fiction ini keren. Terima kasih review Anda. Maaf chapter ini pendek. (_._)

Zuko Minami: Terima kasih rambling-nya, Nee! ^^ Gak nyangka Hiro bisa juga nge-angst. Hehe… Terima kasih review Neechan. Maaf chapter ini pendek. (_._)

: Terima kasih, Rii-chan. Sasuke 'kan seme. Gak enak kalau lemah mulu. ==a. Terima kasih review-nya, Rii-chan. Maaf chapter ini pendek. (_._)

DesyFujoYaoi: Yah, beginilah ceritanya. Jadi, ini SasuNaru dan Naruto juga cocok jadi butler 'kan, Heh, Desy-chan? Terima kasih review-nya. Maaf chapter ini pendek. (_._)

SasuNaru4ever: Ini chapter selanjutnya. Semoga Anda suka. Terima kasih review Anda. Maaf chapter ini pendek. (_._)

Yap! Sudah semua. Oh ya, itu saya pakai bahasa Yiddish. Kenapa gak saya artiin, karena saya Cuma ngebacot gaje di sana. XD

Gak ada arti khusus. ^^

Cuma buat ngeribetin Kiba plus ngasih waktu Sasu untuk berlatih.

Terdengar teriakan putus asa Kiba dari kejauhan, "AUTHOR SIALAAANN!"

Oke, Sampai jumpa di chapter 13!

REVIEW or FLAME, please?