WAAAHAHAHAHA~… Aim bek minnatachii~… HAHAHA (stress) Oh iya, nanti ada ZoRobin-nya, ga bisa dibilang slight juga sih…
Ga usah banyak ngomong, mari cepet kita mulaaaii! U/
Story, START!
"Terkenal?"
A One Piece FanFiction by NekoLover-Nyan
Disclaimer : One Piece Eiichiro Oda-sensei
Genre : Adventure, Humor
Warning : Slight Yaoi, Typo, Ga jelas, de-el-el.
Rated : K+ to T
"Ada apa sih dengan kota ini?"
Keesokan harinya, mereka disambut dengan keramaian yang berlebih seperti kemarin. Tetapi kerumunan tersebut cepat menipis, dan akhirnya hilang. Mereka menghela napas. "hh, kerumunan seperti mereka itu tidak pernah bisa dimengerti ya?" komentar Nami. "Tenang saja Nami-swaan~… kalau mereka berbuat apa-apa denganmu, aku tidak akan segan-segan menghajar merekaa~…" jawab Sanji, dengan putaran mellorine-nya. Nami sweatdrop. "T-terima kasih, Sanji-kun."
Malam itu, sebelum makan malam.
"Aku pergi." Kata Zoro, yang langsung melompat turun dari kapal Thousand Sunny. "Oke, tapi jangan tersesat!" Teriak Nami pada Zoro yang telah menginjak tanah. Yang diteriaki malah mengabaikannya dan berjalan dengan santai.
"huh, dia itu…" Robin tersenyum. "fufufu, biarkanlah dia, Navigator-san. Pria itu memang bersikap bebas, kan? Kalau dia hilang, biar aku yang mencarinya." Nami memandang Robin dengan berbinar-binar. "Terima kasih, Robin-neesama~..!" Robin hanya tertawa kecil melihat reaksi sang Navigator.
Di kota… Zoro tersesat.
Ia tersasar ke bagian gang kecil di kota tersebut. Setelah melihat bahwa jalannya buntu, ia berbalik dan mencari jalan lain yang (menurutnya) benar. Tetapi jalannya dihalangi oleh sekumpulan perampok jalanan.
"khu khu khu… Roronoa Zoro! Jika aku membawa kepalamu yang berharga tinggi itu, aku akan kaya! Dan aku akan menjadi terkenal!" Zoro tidak memperdulikannya. "Kau benar. Tapi, itu pun kalau kau berhasil, bukan?" Zoro dengan cepat menghajar mereka semua. Total mereka ada sekitar 20 orang, dan Zoro sama sekali tidak kalah jumlah.
Karena ia berharga sekitar 120 orang.
Setelah Zoro menyelesaikan para perampok yang tidak berdaya tersebut, ia melangkahkan kakinya menuju keluar gang. Ia tidak menyangka, bahwa ada sekumpulan warga –atau penggemarnya- yang melihat kejadian tersebut.
"Zoro-kuun! Kau hebat sekalii!"
"jangan pernah berharap bisa menang dengan seorang Roronoa Zoro, dasar perampok jalanan!"
"Aku cinta kamu, Zoro-kun!"
Zoro hanya bisa menghela napas panjang. Oh sial, mereka lagi. Batinnya. Ia segera mengambil langkah seribu keluar dari kerumunan para… penggemarnya.
Walaupun Zoro berniat meninggalkan mereka, penggemarnya terus mengejar mereka. Sial! Lari mereka cepat sekali! SIAALL! Zoro mempercepat larinya, tetapi entah kenapa penggemarnya selalu bisa menyusulnya. Dan satu-satunya cara Zoro bisa lepas dari mereka adalah :
lari melewati atap-atap rumah.
Zoro melompati atap-atap rumah untuk mencapai kapalnya. Ia melompat naik, dan mendarat di atas kapal dengan selamat sentosa dan sejahtera (?).
Chopper memandang Zoro dengan bingung. "Zoro, kamu kenapa? Kok ngos-ngosan begitu?" Zoro tidak memperdulikan pertanyaan Chopper dan segera naik ke atas ruang pemantauan dan menutup pintu dengan keras.
Siaal! Untung aku sampai dengan selamat! Kalau tidak… Zoro seketika saja merinding memikirkan akibatnya. Apalagi ia sempat melihat seorang bapak-bapak berusia 30 tahunan ikut mengejarnya. Ada pedofil pula! Aku beruntung sekali!
Zoro sedang mensyukuri keberuntungannya ketika seseorang mengetuk pintu. Pintu terbuka dan terlihatlah sosok Robin membawakan sebuah botol.
Zoro terdiam menatap perempuan tersebut. "Ada apa?" "Kau terlihat lelah sekali, jadi kubawakan minuman. Silahkan, tuan Pendekar." Kata Robin seraya menyerahkan sebotol sake pada Zoro. Ia menerimanya. Lalu membuka busa penutupnya dan menelan isinya.
"Terima kasih." Kata Zoro sambil meletakkan botol sake itu. Robin tertawa kecil. "Tidak masalah. Kalau tidak mengganggu, boleh beritahu aku apa yang terjadi di kota tadi?" Zoro menatap Robin. "Baiklah."
Sementara Zoro menceritakan pengalaman yang (menurutnya) lumayan menakutkan tadi kepada Robin, para kru yang lain bertanya-tanya mengapa Zoro terengah-engah dan mukanya horror.
"Zoro kenapa sih? Mukanya kok mengerikan begitu?" tanya Chopper.
"Mana aku tahu, tanyalah sendiri pada si marimo!" … kalian pasti tahu siapa yang mengatakannya.
"yohoho, kedatangan Zoro-san yang tiba-tiba membuat jantungku berdebar-debar! Walaupun-" Ucapan Brook terputus.
"walaupun kau sudah tidak punya jantung kan? Haha." Sambar Nami ketus.
"Lalu, kenapa Robin repot-repot membawakan minuman padanya?" tanya Franky, kali ini tidak memakai pose SUPER-nya. Atau begitulah yang dikatakannya.
"Entahlah…" Jawab Usopp.
"Mungkin Robin tahu Zoro kelelahan?" tanya Luffy dengan polosnya.
"KITA JUGA TAHU, BODOH!" teriak para kru. Luffy hanya meringis.
"yah, begitulah. Hh, cukup sudah aku memasuki kota itu…" Zoro mengakhiri ceritanya. "Lagipula, kenapa dibawah berisik sekali?"
"Aku tidak tahu, tuan Pendekar. Kita lihat?" tawar Robin.
"Ada apa, sih? Berisik sekali kalian." Tanya Zoro sambil melompat turun dari ruang pemantauan, sementara Robin turun dengan kekuatan buah iblis hana-hana-nya. "Tidak, tidak ada apa-apa." Jawab para kru spontan.
Zoro hanya mengangkat bahunya. Robin hanya tertawa kecil, lagi-lagi.
"hei Marimo! Apa yang kau lakukan pada Robin-chan, HAH?" SAnji bertanya dengan keras pada Zoro. "Aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Zoro datar. "Sialaan, kau mau bertarung?" "Silahkan."
Nami menghalangi mereka. "Sudahlah, ini sudah malam, tahu! Tidur sana! Yang bagian menjaga hari ini kan Franky! Sisanya, tidur!" Perintah Nami pada seluruh kru. Para kru yang mengerti apa akibatnya melanggar kata-kata Nami, menurut saja. Nami sendiri masuk ke kamarnya dan Robin.
Para anggota kelompok bajak laut Mugiwara telah terlelap di tempat tidur mereka. Kecuali seorang.
Anehnya, Roronoa Zoro sama sekali belum memejamkan matanya dan berangkat kealam mimpi. Matanya masih terbuka lebar, ia masih terjaga. Ia mencari-cari posisi yang cocok, yang tidak ia dapatkan. Zoro menggerutu. Ini dia akibatnya kalau kelebihan tidur siang. Batinnya, dan turun dari hammock-nya untuk mencari udara segar di luar.
Ia bertemu dengan Franky yang tentunya masih terjaga. "Yo, abang Zoro. Belum tidur? Aneh sekali." Zoro mengangkat sebelah alisnya. "haha. Apakah aku sebegitu seringnya tidur siang?" Franky mengangguk.
Zoro bersandar pada pagar, merasakan dinginnya hawa malam. Franky beranjak ke sebelahnya. "Abang Zoro lumayan terkenal, ya." "entahlah. Mungkin hanya di kota ini." Franky menghela napas.
"hh… Abang, apakah aku kurang super?" Zoro memandang Franky. "… mana aku tahu." "Aku tidak mempunyai penggemar…" Zoro menyeringai. "Belum waktunya… mungkin?" Zoro mulai merasakan kantuknya datang kembali. Ia beranjak dan menepuk bahu nakama cyborg-nya itu perlahan.
"Aku tidur. Jaga yang benar." Zoro pun kembali ke kamarnya, dan memanjat naik ke atas hammock -nya. Ia berbaring dan merenung.
Sebaiknya aku tak mengunjungi kota.
-oo TO BE CONTINUED? oo-
Nyan : MUHAHAHAHA.
Zoro : Kenapa 'muhahaha' terus?
Nyan : Emang ga boleh?
Zoro : ngga.
Nyan : *kesel*
Oh iya, adegan terakhir yang Zoro sama Franky itu ga saia anggep Yaoi, oke? Saia sama sekali ngga bermaksud gitu. Cuman sekedar man to man talk.
REVIEW PLEASE? *muka ngarep
NekoLover-Nyan, logged out!
