Ohayou! Konichiwa! Konbawa, minna! Akhirnya, chapter 2 telah hadir! *ngacung2in berkas di tangan* Apakah para readers sudah menunggu kelanjutan dari cerita ini? Tidak? Sudah Blue duga... Hahahaha! *sableng* Okay! Euhm... Mau bicara apalagi ya? *menaruh telunjuk di dagu sambil berpikir* Ah, di chapter ini menceritakan bahwa Naruto dan Hinata sudah beranjak dewasa. Tapi sayangnya, mereka tidak saling mengenali karena perbedaan fisik yang telah mengalami perubahan. Namun, Hinata merasa tidak asing lagi dengan sosok Naruto yang selalu melihatnya dengan tatapan hangat yang pernah dirasakannya dulu. Langsung saja baca ceritanya, kalau Blue ceritakan nanti malah tidak di baca fict buatan Blue. *smirk*
Disclaimer: Om Kishi: Blue! Kenapa genrenya jadi berubah Fantasy?
Blue: suka-suka dong, Om Kishi. Ini 'kan cerita buatan Blue. *buang muka*
Om Kishi: Tapi kau meminjam tokoh buatanku.
Enjoy it!
Bloody Lover
10 tahun kemudian...
Siang hari di SMA Kazuen Shibuya. Matahari sedang bersinar dengan teriknya. Sinarnya terasa sangat menyengat di kulit jika kita tak memakai jaket ataupun topi, para penjual es krim pun laku keras dengan cuaca seperti ni.
Seorang gadis bertubuh mungil ideal bermata lavender dan berambut panjang tengah berjalan di koridor memegang atau tepatnya mendekap beberapa buku sambil mencari sesuatu kebingungan. Karena pandangannya sibuk melihat sekelilingnya, gadis itu tidak memerhatikan seseorang di depannya. Dan...
BRUK!
" Aduh!"
" Ma-maaf! Aku tidak melihat depan! Maaf!"
" Tidak apa kok."
Gadis berambut indigo itu mengangkat kepalanya melihat seseorang yang tadi ditabraknya. Seorang pria berambut blonde spike bermata biru seperti sapphire dan berkulit tan. Yang aneh, ada tiga garis seperti kumis kucing di kedua pipinya. Meski begitu, semua orang mengatakannya tampan dan manis.
" A-ah... Ma-maaf!" ujar gadis itu mengambil buku-bukunya yang terjatuh.
" Tidak apa. Kau murid baru ya? Siapa namamu?"
" H-Hyuuga Hinata..." Naruto sedikit menaikkan sebelah alisnya mendengar nama gadis itu. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu sebelumnya...
" Aku Uzumaki Naruto. Salam kenal!" seru pria bernama Naruto itu sambil tersenyum tiga jari.
" Sa-salam kenal..."
" Kau mencari ruangan kepala sekolah ya? Ayo, kuantar!" Naruto mengulurkan tangannya bermaksud membantu Hinata beriri. Hinata menerima uluran tangan Naruto dengan ragu dan tersenyum malu.
Hinata merasa familiar dengan teman barunya itu. Senyumannya, tawanya, sikapnya yang hangat, mengingatkannya pada seseorang yang menjadi cinta pertamanya 10 tahun yang lalu. Ia menatap sebuah cincin yang terbuat dari berlian merah di jari manisnya. Melihatnya dengan tatapan sendu. Tak sengaja, Naruto melihat cincin yang terdapat di jari manis Hinata. Berlian merah.
Itu adalah cincin yang sangat langka. Tidak bisa ditemukan atau dicari. Hanya klan Namikae yang memilikinya. Jadi, darimana gadis ini mendapatkannya? Ingatan Naruto melayang pada kejadian 10 tahun lalu. Dimana dia memberikan sebuah cincin berlian merah pada seorang gadis yang berumur dua tahun lebih muda darinya. Warna rambut dan matanya... Sama. Naruto pernah memberikan cincin yang sama di pakai oleh Hinata pada seseorang yang disukainya. Mungkinkah...?
" Cincin yang bagus. Darimana mana kau mendapatkannya?" tanya Naruto membuat Hinata terkejut dan menutupi jari manisnya.
" E-euhm... Dari teman lamaku. Tapi, kami tak pernah bertemu lagi." jawab Hinata tersenyum kecil. Naruto hanya manggut-manggut.
Sampailah mereka berdua di depan pintu ruangan kepala sekolah. Naruto mengetuk pintu dengan pelan dan terdengar suara wanita yang lantang.
" Masuk."
" Sumimasen, Tsunade-sensei. Saya mengantarkan seorang murid baru di sini." sapa Naruto masuk ke ruangan kepala sekolah.
" Ooh... Hyuuga Hinata?"
" Y-ya..."
" Baik, Naruto. Kau bisa kembali ke kelasmu." perintah Tsunade.
" Baik."
" Jadi, kau yang bernama Hinata? Murid pindahan dari Osaka?" tanya Tsunade melipat tangannya di dada. Hinata mengangguk pelan da sopan.
" I-iya, Tsunade-sensei..."
" Baik. Kamu akan masuk ke kelas 10-B. Dan, wali kelasmu adalah Yuuhi Kurenai." ucap Tsunade membaca sebuah berkas di tangannya. Lalu, muncullah seorang wanita berambut hitam bergelombang dengan mata berwarna merah ruby.
" Saya Yuuhi Kurenai. Mulai hari ini, aku akan menjadi wali kelas kamu." kata wanita bernama Kurenai itu dengan senyumannya yang ramah.
" Y-ya. Te-terima kasih, Kurenai-sensei..."
" Baiklah, Kurenai. Tolong antarkan dia ke kelasmu. Aku rasa dia sudah siap menerima pelajaran untuk hari ini." perintah Tsunade.
" Baik. Silahkan ikuti saya, Hinata."
" Ba-baik, Kurenai-sensei..."
Hinata mengikuti langkah Kurenai keluar dari ruangan kepala sekolah. Suara ketukan sepatu hak tinggi yang dikenakan Kurenai memecahkan keheningan di koridor yang sunyi itu. Melewati beberapa kelas yang dimana beberapa muridnya melirik Hinata dengan tatapan ingin tahu atau tepatnya penasaran. Sampailah mereka berdua di depan kelas 10-B.
Pintu kelas terbuka.
" Ohayou gozaimasu, Minna..."
" Ohayou gozaimasu, Sensei."
Hinata mengekor di belakang Kurenai sambil menundukkan kepalanya malu. Beberapa siswa tampak berbisik-bisik melihat kedatangan Hinata. Hinata hanya tersenyum malu melihat beberpa anak yang melempar senyum padanya.
" Anak-anak, kita kedatangan murid baru dari Osaka. Namanya Hyuuga Hinata. Dia akan menjadi anggota kelas kita. Sensei harap kalian bisa berteman baik dengannya." ucap Kurenai.
" Mo-mohon bantuannya..." kata Hinata sambil menunduk sopan.
" Nah, Hinata, kau bisa duduk di samping Ino. Ino, angkat tanganmu." seorang gadis berambut pirang dengan poni menutupi sebelah matanya mengangkat tangannya.
" Iya sensei!"
" Nah, Hinata, duduklah di sana." Hinata mengangguk pelan. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya.
" Hay~! Aku Yamanaka Ino! Salam kenal!" sapa Ino mengulurkan tangannya. Hinata menyambutnya dengan senyuman manis sambil menjabat tangan Ino.
" Kau berasal dari Osaka ya? Saudaraku ada yang tinggal di sana."
" O-oh ya...?"
" Iya! Osaka adalah tempat yang menyenangkan!"
" Anak-anak, buka halaman 45..."
-o0o-
" Ne, Hinata. Kau mau ikut aku ke kantin? Sekalian kuperkenalkan ke teman-teman sekelas." ajak Ino dengan senyumannya yang ceria. Hinata yang tengah memasukkan bukunya ke dalam laci mejanya mengangkat sedikit wajahnya. Ia mengangguk pelan dan berdiri dari duduknya. Hinata mengikuti langkah Ino yang terus berceloteh riang memperkenalkan seluruh isi sekolah. Hingga akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah tempat yang ramai.
" Ino~! Di sini!" teriak seorang gadis berambut merah muda melambaikan tangannya.
" Hay! Ternyata sudah kumpul semua ya?" sambut Ino menarik tangan Hinata dan duduk di samping gadis berambut merah muda itu. Hinata hanya menunduk malu.
" Hey, duduklah di sini. Tidak usah malu-malu! Kami tidak jahat kok!" seru seorang gadis dengan rambut di cepol dua sembari tersenyum ramah pada Hinata.
" Jadi, kau adalah anak baru di kelas Ino?" tanya gadis berambut merah muda itu.
" I-iya..."
" Kenalkan! Aku Haruno Sakura! Kelasku tepat di samping kelasmu! Aku adalah sahabat dari piggy Ino ini!" kata Sakura mengulurkan tangannya sambil tersenyum ceria.
Ino langsung menjitak kepala Sakura, " Sialan kau! Dasar Jidat Lebar!"
" Adaw! Daripada kau, Piggy!"
" Jidat lebar!"
" Piggy!"
" Jidat lebar!"
" Piggy!"
" E-eh...?" Hinata yang melihat pertempuran adu mulut antara Sakura dan Ino hanya melongo keheranan karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
" Biarkan saja. Mereka memang selalu begitu." ucap gadis bercepol dua itu sambil mengibaskan tangannya.
" Se-selalu begitu?"
" Ya. Setiap bertemu, mereka langsung perang mulut. Tiada hari tanpa pertengkaran. Bahkan, mereka berdua dijuluki Mrs. Fussy dan Mrs. Trouble karena saking seringnya mereka berantem tanpa pernah akur. Ah, ya, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Tenten! Salam kenal!" ujar Tenten tersenyum ceria mengulurkan tangannya.
Hinata menyambut tangan Tenten dengan hangat, " Salam kenal juga..."
" Kyaaahhhhhh~! Sasuke-kun~! Naruto-sama~!"
" Ikutlah makan dengan kami~!"
" Tidak! Mereka akan pergi ke taman sekolah dengan kami!"
" Enak saja! Aku duluan yang mengajak mereka!"
" Aku!"
" Aku!"
" Aku!"
" Hhh... Berisik sekali." keluh seorang pria tampan berambut hitam legam memasuki daerah kantin dengan wajah datar tanpa terlihat jengah sedikit pun dikerubungi beberapa gadis tadi.
" Wajar saja. Perempuan-perempuan itu tidak ada lelahnya mengejar-ngejar kita kemanapun sekalipun di dalam toilet." kata Naruto mengingat kejadian dimana saat dia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan tak disadarinya bahwa salah seorang fansnya mengikuti dirinya hingga ke dalam toilet cowok. Wajar saja jika Naruto langsung terkejut bagaikan disambar petir melihat ada wanita di kamar mandi lelaki yang tengah memandangi dirinya dengan tatapan mesum. Menurut Naruto, itu cukup menakutkan...
" Hn."
" Kau mau makan apa, Teme?" tanya Naruto memandangi barisan menu di etalase cafetaria sekolah mereka.
" Sup tomat."
" Baiklah! Aku ramen!"
Kejadian dimana para gadis-gadis sekolah tadi yang menjerit-jerit histeris melihat dua cowok populer di sekolah mereka membuat Hinata tak berkedip memandangi Naruto dan Sasuke. Bukan karena dia ikut terpesona sehingga ingin berteriak-teriak seperti para gadis tadi, Hinata heran mengapa hanya karena dua orang laki-laki itu lewat banyak para gadis yang langsung menjatuhkan diri ke tanah dengan wajah memerah.
" Mereka adalah Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Dua sahabat yang akrab dan kemana saja selalu berdua." ucap Ino seolah bisa mengetahui pertanyaan yang berputar mengelilingi kepala Hinata. Mendengar sahutan Ino, Hinata langsung menengok ke arah gadis berambut pirang itu dengan tatapan ingin tahu.
" O-oh, ya...?"
" Ya. Mereka adalah cowok populer di sekolah ini. Naruto adalah ketua klub karate yang dimana berhasil meraih kejuaraan karate tingkat internasional yang bisa mengalahkan 25 lawannya yang berasal dari berbagai negara. Sedangkan, Sasuke adalah ketua klub Kendo yang dulu pernah muncul di televisi dua tahun lalu karena berhasil melumpuhkan perampok bank yang saat itu sedang hangat dibicarakan." sahut Tenten.
" W-wah... Pa-pantas saja mereka terkenal. Ti-tidak heran banyak gadis yang mengejar-ngejar mereka." kata Hinata sembari tersenyum.
" Ne, ne, sebenarnya juga Uchiha Sasuke adalah kekasih dari si Jidat Lebar ini. Aku heran, kenapa Sasuke memilih Jidat Lebar yang bisa menyilaukan mata orang jika melihatnya daripada wanita lain?" ucap Ino menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuknya.
" Aku juga heran kenapa Sai menyukai gadis berhidung babi sepertimu. Padahal, di luar sana masih banyak gadis yang lebih cantik dan berhidung mancung." sengit Sakura tersenyum sinis.
" Oh, ya...? Begitu ya...?" balas Ino dengan tatapan menantang.
" Yaahh... Mulai lagi, deh..." keluh Tenten menepuk dahinya.
Hinata terkikik geli melihat kelakuan teman-temannya. Ia memutarkan kepalanya ke belakang dimana ia bisa melihat Naruto dan Sasuke sedang bersenda gurau. Tanpa sadar, bibir Hinata sedikit tertarik ke atas melihat senyuman Naruto yang terlihat renyah itu. Karena terlalu serius memerhatikan Naruto, Hinata tak menyadari bahwa Naruto pun sadar kalau dirinya sedang di perhatikan.
" Sepertinya kau sejak tadi memerhatikan gerombolan gadis itu." celetuk Sasuke meminum jus tomatnya dengan wajah datar. Naruto yang sadar telah disindir Sasuke langsung salah tingkah menengok ke arah Sasuke.
" Me-memangnya tidak boleh?" seru Naruto dengan wajah sedikit memerah.
" Anak baru itu 'kan?" kata Sasuke tak melepas pandangannya dari gerombolan gadis-gadis itu sambil melipat tangannya dan bersender di kursi.
" Da-darimana kau tahu?" seru Naruto dengan mata membulat kaget.
" Sejak tadi gadis berambut biru itu juga memperhatikanmu. Tak mungkin Ino dan Tenten melihatmu dengan tatapan penuh cinta." ucap Sasuke tersenyum tipis dengan pandangan menggoda. (OOC banget... –digaplok Sasuke-)
" A-apa sih...! Jangan menggodaku, Teme!"
" Baka dobe..."
" Apa?"
Hinata yang sejak tadi memerhatikan Naruto dan Sasuke yang sedang bersenda gurau sambil tersenyam-senyum, tak sadar bahwa Ino, Tenten dan Sakura tengah memerhatikannya dengan tatapan heran.
" Wah, wah, sepertinya teman baru kita ini lagi memerhatikan seseorang dengan seksama hingga tak berkedip selama 10 detik ya..." ucap Sakura membuka suara.
Hinata yang merasa dirinya di sindir langsung menengok ke arah teman-temannya, " E-eh...?"
" Hinata, katakan padaku kalau kau terpesona oleh Naruto." cetus Ino dengan tatapan menggoda.
" A-apa? A-aku tidak—e-eng... A-ano..."
" Hahahahahaha! Dari wajahmu saja sudah kelihatan, Hinata! Kau memang orang yang tidak ahli dalam hal menyembunyikan perasaan ya." kata Tenten tertawa geli. Hinata hanya menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yah, sepertinya kini Hinata mempunyai tiga teman baru yang bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan hatinya...
-o0o-
Cuaca memang sedang tidak mendukung hari ini. Tepat saat bel pulang berbunyi, hujan turun dengan deras mengguyur bumi. Beberapa siswa siswi sudah pulang berlari-larian melawan hujan. Ada yang memakai payung, dijemput oleh orang tuanya, ada juga yang menerobos paksa hujan yang terlihat deras dengan angin yang kencang itu. Melihatnya saja, Hinata sudah merasa kedinginan. Tak perlulah dia mengikuti orang-orang yang mencari penyakit seperti itu. Dia lebih suka menunggu hujan reda di depan kelasnya sambil memandangi rintik rinai air hujan yang menempel di jendela kelasnya.
" Tidak pulang?" sapa seseorang ketika Hinata sedang sibuk bertopang dagu memandangi keluar jendela. Hinata yang mendengar itu langsung memutarkan kepalanya ke belakang dan melihat seseorang sedang tersenyum ke arahnya.
" A-ah... Hu-hujan belum reda... Ja-jadi aku menunggu di sini hingga hujan reda.." ujar Hinata membalikkan tubuhnya menghadap orang itu.
Naruto tersenyum kecil, " Tapi sekarang sudah sore. Hujan seperti ini tidak akan cepat reda. Kecuali kalau kau mau menunggu hingga malam."
Hinata hanya melongo mendengar penjelasan Naruto. Benar apa yang dikatakan Naruto. Hujan tampaknya cukup deras, tidak mungkin reda dalam waktu beberapa menit. Langit juga terlihat sangat gelap membuat Hinata tak tahu masih sore atau sudah menjelang malam. Hinata bingung antara ingin pulang namun ia tak membawa payung, jika ia memaksa pulang dengan menerobos hujan maka ia akan sakit.
" Bagaimana kalau kuantar pulang?"
Hinata menengok ke Naruto dengan mata membulat kaget, " A-apa?"
" Kau tidak membawa payung 'kan? Aku kebetulan bawa payung. Aku antar pulang ya?" tawar Naruto seolah bisa membaca pikiran Hinata yang sejak tadi berputar di kepala Hinata.
" E-ehm... A-apa tidak merepotkanmu...?"
" Kalau merepotkan, mengapa aku menawarimu pulang bersamaku?" ucap Naruto mengulurkan tangannya. Dengan rona merah yang menempel di kedua pipinya, Hinata menyambut uluran tangan Naruto dengan ragu.
Naruto menggandeng tangan Hinata keluar dari kelasnya dan menuju pintu gerbang sekolah. Dilihatnya hanya beberapa orang yang masih berada di sini. Mungkin sekitar 6-7 orang yang masih menunggu hujan berhenti. Sebelum menginjakkan kaki ke tanah yang basah, Naruto membuka payungnya.
" Ayo." ajak Naruto mengulurkan tangannya.
" Eh?" Hinata sedikit bingung melihat tangan Naruto yang hanya memegang satu payung.
" Hmft. Tentu saja aku hanya membawa satu payung untuk berdua. Kau kira aku membawa dua payung?" ucap Naruto membaca air muka Hinata.
" Ba-bagaimana bisa kau membaca pikiranku...?"
" Tatapan matamu." jawab Naruto tersenyum misterius.
" Huh?"
" Ayo, aku antar kau pulang." Naruto menarik tangan Hinata keluar dari gerbang sekolah dan menuju rumah Hinata.
Ada sesuatu yang aneh saat Hinata menyentuh tangan Naruto. Rasanya seperti memegang sebongkah es batu yang sangat dingin. Namun juga, ada secercah rasa yang hangat menerpa pembuluh darah dari denyut nadinya. Yang lebih terkesan... Hangat... Hinata pernah merasakan aura ini sebelumnya, namun tak tahu dimana dia merasakannya. Apakah hanya de javu saja? Rasanya terasa sangat nyata. Apapun itu, membuat Hinata menarik sudut bibirnya ke atas.
Tetapi, dua orang yang sedang menikmati saat-saat hujan rintik di balik payung oranye itu tak sadar bahwa ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka di balik tiang listrik yang tinggi itu...
.
.
.
.
TBC...
Finally~! Blue akhirnya menyelesaikan chapter kedua ini! Gomenasai untuk para readers karena Blue lama tidak update. Yaaahhh... Nasib anak SMA =='. Apalagi Blue saat itu sedang ujian kenaikan kelas membuat Blue harus fokus dengan pelajaran. Maaf sebesar-besarnya untuk para readers . Review please~! ^^v
