HAAAEEE! *menggema*
Akhirnya apdet. Fiuuhh… setelah sekian lama hiatus *lama gak siy?* akhirnya bisa saia publish fic ini.
Sebelumnya, saia ingin berterimkasih kepada:
Sara Hikari: Hae… makasih ripiuwnya. Yap! Akhirnya saia bikin juga. Hoee? Nggak, lha… Alois gak suka sama Sebas. Nanti Cielnya mau dikemanain? Wkwkwk… yaah… semoga cepat ketemu. ^^
Arlein Uchiha Trancy: Arlein…! Makasih ripiuwnya.^^ Yup! Saia kahirnya bikin. Silahkan penasaran. Hahaha… ni sudah saia bikin chapter duanya. Alois suka Lizzie? Wahahaha… sayangnya saia tidak akan membuat cerita seperti tiu. ^^ saia tidak akan mengkhianati Ciel. :D *PLAAKK!*
Ryoko Lamperouge: Hihihihi… coba aja tebak. XD makasih ripiuwnya yahhh… ^^
Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso
Rated: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Summary: 'Ini adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bagiku. Dan kita… akan terus bersama selamanya. Iya, kan?'
Enjoy… ^^
.
.
JOURNEY
.
.
Chapter 2: This is Only Nightmare, isn't It?
Alois berjalan melewati sebuah lorong. Cahaya di situ sangat minim hingga ia terpaksa memicing-micingkan matanya untuk bisa melihat lebih jelas. Baju tidur berwarna putihnya bergoyang selaras dengan langkahnya. Mengendap-endap tapi pasti, ia terus melangkah lurus. Tangan kairinya meraba-raba dinding lorong itu, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah lilin.
Setelah lama ia menyusuri lorong yang tak berujung itu, sampailah ia di ujung lorong. Napasnya terengah-engah. Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia mendapati dirinya berada di ambang pintu ruang tengah mansionnya, dengan masih menggunakan baju tidur dan membawa sebuah lilin. Ia terheran-heran. Mata biru mudanya mendapati sang paman dan butlernya sedang berkumpul di sana. Paman Arnold nampak sedang membaca koran di sofa mewah, sedangkan Claude sedang menuangkan teh ke cangkir porselen China nomor satu. Alois ternganga kecil, tidak percaya.
Tiba-tiba, tak sengaja Arnold menoleh ke arah Alois.
"Sedang apa kau di situ? Kenapa kau memakai baju tidur begitu? Ini belum waktunya untuk tidur, bukan?" tanya Arnold dengan nada dingin. Alois tercekat.
"Ah! Ini…" Alois tidak bisa menjelaskan. Ia melirik ke arah Claude yang sibuk dengan pekerjaannya. Seketika itu, pria berkacamata itu menegakkan tubuhnya, membenarkan letak kacamatanya dan menoleh ke arah Alois.
"Selamat malam, Tuan Muda." Sapanya sambil membungkuk. Entah kenapa, Alois tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Walaupun ia terheran-heran dengan apa yang ia lihat, tapi di sudut hatinya, pemandangan ini adalah pemandangan yang sangat ia rindukan. Diam-diam, ia menyunggingkan senyum rindunya.
"Kenapa kau hanya berdiri di situ? Kau tidak ingin bergabung?" tanya Arnold cuek sambil membolak-balikkan halaman demi halaman koran. Saat itu juga, lamunan Alois buyar. Ia pun tanpa pikir panjang ikut bergabung dengan pamannya. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan pamannya. Entah kenapa, ia merasa canggung. Sementara Claude hanya berdiri di belakang sang paman. Dengan ragu, Alois mengambil secangkir teh di hadapannya. Ia menghirup aroma dan menyeruput teh itu. Sungguh menenangkan. Teh buatan Claude memang membuat hati dan jiwanya tenang.
Suasana ruangan sungguh hening. Tak ada percakapan yang berarti. Sikap Arnold yang mendingin sejak ayah angkat Alois, kakak kandungnya meninggal berubah total. Terkadang, Alois hanya berkoar sendiri tanpa dipedulikan oleh pamannya. Alois pastinya merasa diabaikan, tapi tak apa-apalah. Asalakan pamannya mendengarkan. Alois memperhatikan paman dan butlernya itu sambil tersenyum kecil. Andai saja waktu dapat ia hentikan, ia ingin sekali kembali ke masa-masa seperti ini. Tapi, sedang asyik-asyiknya ia berkhayal, tiba-tiba pemandangan di hadapannya mengabur sedikit demi sedikit. Bayangan sang paman dan butlernya menghilang seketika. Alois tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia panik seketika.
"Paman! Claude!" teriaknya. Tapi terlambat. Mereka semua telah lenyap, diikuti oleh suasana yang tiba-tiba menggelap. Alois tak lagi berada di ruang tengah mansionnya, tapi berada di ruangan berwarna hitam kelam. Ia bingung, membalik-balikkan tubuhnya.
Ia panik dan berlari ke sana-sini. Mencari tahu apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba, telinganya mendengar suara teriakan-teriakan. Awalnya hanya satu orang, tapi kemudian disusul beberapa orang dan terus bertambah. Alois membalikkan tubuhnya seratus delapan puluh derajat dengan cepat. Tiba-tiba, ia mendapati di bawah kakinya muncul sebuah pemandangan secara tiba-tiba. Pemandangan di mana tragedi itu terjadi, tenggelamnya sang Kapal Impian. Ia mendekatkan tubuhnya pada pemandangan itu. Ia melongokkan kepalanya ke bawah. Di sekitarnya masih hitam dan gelap, tapi di hadapannya terhampar lautan luas dan kapal Titanic yang telah tertelan laut setengahnya.
'Apa maksudnya ini semua? Kenapa aku bisa ada di sini?' batin Alois bingung.
Tak sengaja, ia menangkap sesosok pria yang begitu familiar di matanya. Pria itu nampak kesusahan berenang lantaran tubuhnya yang gendut.
"Paman!" panggilnya setengah berteriak. Tapi si paman tidak mendengar. Ia hanya terlihat berteriak-teriak minta tolong. Bagian itu seperti di zoom untuknya. Ia bagaikan melihat film di hadapannya. Ia baru sadar, kalau pamannya itu berenang tepat di bawah buritan yang menukik karena berat sebelah. Dan ia juga baru akan menyadari, kalau buritan itu akan patah seperti yang ia lihat kemarin.
"Paman!" teriaknya. Dan benar saja, kapal akhirnya membelah. Alois terus meneriaki pamannya itu, tapi si paman tidak mendengar. Percuma, Alois. kau di sini tidak nyata. Alois sudah panik bukan dan sedetik kemudian, buritan jatuh dan menimpa manusia-manusia di bawahnya, termasuk paman Alois. Alois hanya bisa berteriak menyebut nama pamannya dengan perasaan terpukul dan kecewa. Hatinya hancur melihat kematian pamannya yang ironis itu.
Air mata bergenang di pelupuk matanya. Tapi, pemandangan lain buru-buru ingin memperlihatkan diri. Kini, matanya menangkap pria bermata emas tengah berenang menjauh dari tubuh kapal. Tapi, sebuah penampakan yang mengerikan terjadi. Sebuah cerobong asap yang besar dan kokoh tiba-tiba tumbang dan menimpanya.
"Claudeee!" pekik Alois sehingga suaranya serak. Alois lemas seketika melihatnya. Ia jatuh terduduk di udara, melihat kejadian-kejadian ironis yang menimpa kerabatnya.
"Ini tidak mungkin…" gumamnya tidak percaya. Tapi, sesaat kemudian, isakan pertama melompat keluar dari mulutnya. Air mata meleleh membasahi pipi. Tangisnya pun pecah.
"INI TIDAK MUNGKIIINN!"
"Tidak mungkin…"
"Alois…?"
"Tidak mungkin!" seru Alois sambil bergerak gelisah.
"Alois! Bangunlah. Kau tak apa-apa?"
"INI TIDAK MUNGKIIIN!" sontak Alois pun terbangun. Napasnya terengah-engah. Peluh berleleran melewati pelipisnya. Ia berusaha menelan ludah yang rasanya seperti menelan batu.
"Alois…? Kau baik-baik saja?" tanya Ciel yang ternyata sedari tadi berusaha membangunkan Alois yang terus saja bergumam tak jelas. Alois hanya menatap tembok kamar Ciel sambil mengatur napas.
"Kau… mimpi buruk?" tanya Ciel lagi. Mendengar pertanyaan sahabatnya, Alois menoleh perlahan. Wajahnya nampak tidak tenang. Ia pun mengangguk canggung.
"Aku… bermimpi… Paman dan Claude meninggal dalam tragedi kemarin..." Jelas Alois putus-putus.
"Benarkah itu?" Ciel agak tersentak. Tapi, ia pun berusaha menenangkan diri. "tenanglah… itu hanya mimpi. Bukan hal yang sebenarnya…" katanya sambil mengambil handuk kecil dan mengusap keringat Alois yang sebesar jagung-jagung itu.
Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu diketuk.
TOK, TOK, TOK!
Ciel menoleh cepat, dan mendapati pintu terbuka.
"Ah! Anda sudah bangun rupanya." Dari balik pintu muncullah pria bermata merah.
"Sebastian?" panggil Ciel. Sebastian membungkuk, meminta izin untuk masuk lebih ke dalam. Tapi kemudian, matanya melirik ke arah Alois.
"Lho? Ada apa dengan Tuan Alois?" tanyanya.
"Dia… baru saja bangun dari mimpi buruknya." Jelas Ciel.
"Mimpi buruk?" Sebastian menaikkan sebelah alisnya. "apa… yang terjadi?" Sebastian mendorong meja saji yang di atasnya terdapat dua cangkir porselen beseta tekonya. Ia pun menuangkan teh susu dari teko ke dalam dua cangkir tersebut.
"Alois bermimpi… Paman dan butlernya meninggal saat tragedi kemarin." Kata Ciel sambil memandangi Alois dengan tatapan nanar. Mendengar itu, mata Sebastian terbelalak.
"Apa? Benarkah itu, Tuan Alois?" tanya Sebastian antusias. Pemuda yang ditanyai hanya bisa mengangguk lemas.
"Kalau begitu… lebih baik minum dulu teh susu ini agar perasaan anda menjadi lebih tenang, Tuan Alois." Sebastian pun menyondorkan secangkir teh susu kepada Alois, kemudian kepada Ciel. Alois menoleh lemah dan menerima sondoran cangkir tersebut, lalu meminumnya perlahan.
"Teh susu buatanmu selalu enak, seperti biasanya, Sebastian." Puji Ciel sambil menyunggingkan senyum khasnya.
"Terimakasih atas pujiannya, Tuan Muda." Sebastian membungkukkan tubuhnya. Tak sengaja, matanya melirik ke arah Alois yang duduk berselimut di atas ranjang. Cangkir teh susunya ia tampah dengan satu tangan di pangkuannya, dan tangan yang lain memegangi gagangnya. Matanya terlihat kosong menatap ke depan. Sebastian tercenung untuk sesaat.
.
.
"Ohohoho! Sebastian! Kau memang berbakat menjadi koki! Masakanmu selalu saja membuatku ingin tambah!" puji Angelina. "bisa-bisa berat badanku akan naik drastis!" lanjutnya sambil tertawa dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Hati-hati, Bibi. Bisa-bisa…. Bibi tidak bisa langsing lagi, lho." Timpal Diana. Ia pun tertawa renyah.
"Mau bagaimana lagi Diana… makanan buatan Sebastian pasti akan membuatku gemuk! Ahahahaha!" Angelina tertawa lagi.
"Lain kali, saya akan membuatkan makanan yang rendah kalori untuk Nyonya…" celetuk Sebastian. Semua pun tertawa.
"Selera humormu tinggi, ya, Sebastian!" Elizabeth menimpali. "iya, kan, Alois?" tanyanya. Tapi, Alois hanya diam. Tangannya hanya memainkan steak sarapannya yang masih setengah dengan garpu. Lizzie tertegun sejenak. Alois akhir-akhir ini jadi banyak diam. Wajahnya juga selalu murung. Mendengar pertanyaan Lizzie yang tidak terjawab, semua mata kini tertuju pada Alois.
"Alois? Ada apa denganmu, sayang?" tanya Diana bersimpati. "kenapa wajahmu murung begitu?" mendengar kakaknya berbicara, Alois pun tercekat.
"Ah! I-iya?" jawabnya canggung.
Diana mendesah. "Alois… ada apa denganmu? Kenapa pagi-pagi begini sudah murung begitu?" Diana mengulang pertanyaannya lagi.
"Ah! Tidak… aku…" Alois memberi jeda. "aku tidak apa-apa! Sungguh!" katanya meyakinkan sambil tersenyum. Tapi, itu hanyalah akting. Ia tahu itu. "ah! Ayo! Kenapa diam? Dimakan lagi sarapannya! Kalian sendiri yang bilang… masakan buatan Sebastian enak, kan? Kenapa diam saja?" Alois pun kembali menusuk daging steaknya dengan semangat dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Baiklah kalau kau tak apa-apa... ayo. Kita lanjutkan sarapannya." Seru Diana pada semuanya. Di tengah-tengah mereka semua yang kembali sibuk dengan sarapannya, perlahan gerakan Alois melambat. Wajahnya kini memurung lagi. Ciel yang duduk di pojok diam-diam memperhatikannya.
TING TONG!
Seketika itu, terdengar bel pintu berbunyi.
"Ah! Saya permisi dulu." Sebastian undur diri untuk memeriksa siapa yang datang bertamu sepagi ini.
"Bukakan saja." Kata Angelina sambil memberi isyarat untuk menyuruh Sebastian cepat. Sebatian pun membungkuk dan segera berlalu. Lizzie yang terhenti sejenak dari aktivitasnya menoleh ke arah sebastian dan memeprhatikan punggung pria serba hitam itu menjauh.
.
.
Sebastian berjaln menyusuri lorong-lorong mansion yang besar dan luas ini menuju pintu utama. Sesampainya di depan pintu yang tingginya hampir tiga kali lipatnya itu, ia pun segera membukanya. Seketika, ia mendapati dua orang berpakainan abu-abu dengan memakai topi di kepalanya.
"Selamat pagi, Tuan…" sapa salah satu dari mereka sambil membungkukkan badan. Diikuti oleh temannya di belakang. Sebastian balas membungkuk sambil tersenyum.
"Ada keperluan apa Tuan-Tuan kemari?" tanya Sebastian ramah.
"Saya dengar dari maid keluarga Trancy… kalau Earl Alois Trancy menginap di sini…" kata orang itu. "bisa… saya bertemu dengannya?"
"Ah! Benar. Saya yang memberitahunya kemarin melalui telepon." Sebastian nampak berpikir. "anda… siapa, ya?"
"Ooh… maafkan saya, Tuan butler. Kau… butler Earl Ciel Phantomhive, bukan? Saya adalah awak kapal di kapal penyelamat pada waktu Titanic mengalami kecelakaan. Anda mengingat saya?" jelas si awak kapal itu.
Sebastian mengusap-usap dagu, mencoba mengingat. "Oh! Astaga… maafkan kelancangan saya, Tuan…"
"Tak apa. Kau terlihat sudah baikan dari pada waktu itu, ya…" si awak kapal tertawa.
"Ah! Silahkan masuk dulu." Sebastian terkekeh dan mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu yang jaraknya lumayan jauh dari pintu utama. Sepanjang koridor menuju ruang tamu, terpampang pajangan lukisan-lukisan dari pelukis ternama di tembok berwarna krem cerah.
"Silahkan duduk, Tuan-Tuan." Kata Sebastian. "anda… ingin mencari Tuan Alois?" tanya Sebastian.
"Ah! Benar." Kata si awak kapal, mengambil posisi untuk duduk. Begitu juga dengan kawannya. "pada saat mengidentifikasikan nama-nama korban di kapal, saya bertemu dengan Earl Alois Trancy. Beliau meminta saya untuk mencari dua kerabatnya yang hilang, dan bila ketemu, saya diminta untuk memberitahunya."
"Benarkah itu?" Sebastian nampak bersimpati. "lalu… bagaimana? Tuan Alois sudah menunggu kabar ini."
Si awak kapal itu bertatap-tatapan dengan kawannya, kemudian menatap Sebastian lagi. Tatapannya nampak seperti kesulitan untuk menyampaikan kabar yang ternyata telah ditunggu-tunggu.
"Kerabat Earl Alois Trancy… Tuan Arnold Trancy telah ditemukan…" katanya menggantung. "tapi… kondisinya sudah tidak memungkinkan."
"Apa maksud Tuan?" Sebastian mengernyitkan dahinya.
Si awak kapal itu terlihat ragu untuk berkata. Sedikit takut juga dengan ekspresi wajah pria di depannya. "Tuan Arnold Trancy… ditemukan dengan kondisi sudah tak bernyawa." Kata si awak kapal itu akhirnya. Mendengar hal itu, Sebastian nampak tersentak.
"Oh, Tuhan… benarkah itu? Lalu… di mana yang satu lagi?" tanya Sebastian.
"Maksud anda… Tuan Claude Faustus?" si awak kapal balik bertanya. Sebastian mengangguk.
"Beliau… masih menjadi korban hilang." Kata si awak kapal dengan menyesal.
"Oh… begitukah?" Sebastian juga ikut-ikutan menyesali kabar tersebut. "kalau begitu… biar saya sampaikan pada Tuan Alois…"
"Tidak! Jangan. Lebih baik… kau panggilkan Earl Alois Trancy kemari." Si awak kapal memotong.
Sebastian memiringkan kepalanya. "Earl bilang sendiri padaku… kalau beliau ingin mendengarnya langsung dariku." Kata si awak kapal. Sebastian tercenung sejenak.
"Tidak apa-apakah…?"
"Kuharap begitu…" si awak kapal menundukkan kepalanya sedikit.
"Baiklah, Tuan. Akan saya panggilkan." Sebastian pun dengan berat hati berjalan meninggalkan mereka untuk memanggil Alois ke dalam. Perasaannya sedikit tak tenang. Ia tak yakin bahwa Alois akan baik-baik saja mendengar kabar ini. Aah… ia tidak bisa membayangkan untuk kedepannya. Dengan langkah lebar-lebar, Sebastian pun melangkah menuju tuan berambut pirang itu.
.
.
Alois dan yang lainnya sudah selesai menyantap sarapannya. Kini, dirinya, Ciel dan Lizzie sedang berkumpul di ruang tengah. Lizzie dan Ciel nampak sedang menyusun-nyusun bidak-bidak catur, sedangkan Alois hanya terduduk di bangku dekat jendela sambil melamun, menatap keluar jendela. Wajahnya nampak lesu dan suram. Ia menyangga kepalanya dengan tangan yang ia letakkan di atas kusen jendela bagian bawah.
Lizzie tak sengaja melirik ke arahnya. Melihat ekspresi wajah Alois, ia menjadi iba. Ia bertanya-tanya ada apa dengannya. Baru saja ia mendengar cerita dari Ciel kalau sepagi tadi, Alois mimpi buruk tentang paman dan butlernya. Lizzie termangu mengetahuinya. Ia tahu, mereka adalah kerabat yang paling dirindukan oleh Alois, karena ia hanya memiliki mereka setelah ayahnya meninggal dunia.
"Alois…" sesaat gadis berkuncir dua itu akan memanggil nama Alois, tiba-tiba, pintu ruang tengah diketuk.
TOK, TOK, TOK!
"Permisi, Tuan-Tuan dan Nona…"
"Ah! Sebastian?" mendengar suara dari ambang pintu, Lizzie pun menoleh.
"Sebastian. Ada apa?" tanya Ciel. Dari jendela, Alois pun ikut menoleh.
"Ada tamu… yang mencari anda, Tuan Alois…" kata Sebastian sambil memandang ke arah Alois yang berada di seberangnya.
"Aku?" tanyanya sambil menunjukki diri sendiri. Seketika itu, Lizzie dan Ciel ikut menatapnya.
"Siapa?"
"Mereka… awak kapal yang anda mintai untuk mencari paman dan butler anda." Jelas Sebastian sambil menyilangkan satu tangannya di dada dan membungkuk. Mendengar itu, Alois langsung sumringah.
"Benarkah?" serunya. Ciel tercekat. Ia merasa lega. Di bibirnya tersungging senyum puas. Akhirnya kabar datang juga. Ia lelah melihat sahabatnya itu murung terus di depannya.
"Bagaimana kabarnya?" Alois menghampiri Sebastian dengan wajah yang berbinar-binar. "Paman dan Claude selamat?"
Mendengar pertanyaan Alois yang antusias dan penuh rasa gembira itu, Sebastian tak tega untuk memberitahukan hal yang sebenarnya. Ia miris melihat eskpresi wajah Alois yang sekarang, dan membayangkannya untuk sesaat sesudah ia mendengar kabar buruk itu langsung dari sumbernya.
"Anda diminta untuk menemui beliau di ruang tamu." Sebastian berpaling dan mempersilahkan Alois keluar. Alois berlari dengan langkah yang begitu ringan. Rasa penasaran membuncah di dadanya.
"Alois! tunggu aku!" Lizzie mengikutinya di belakang dengan berlari-lari kecil, sedangkan Ciel masih berada di ruang tengah. Ia hanya berjalan santai. Ia melirik ke arah Sebastian, seakan bertanya akan kejelasan kabar tersebut.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Ciel lirih. Namun, Sebastian menggeleng dengan kecewa.
"Tuan Arnold Trancy sudah ditemukan. Tapi… kondisinya sudah tak bernyawa." Kata Sebastian. "sedangkan butlernya… masih menjadi korban hilang, Tuan." Ciel tersentak. Ekspresinya berubah menjadi sedih dan kecewa. Ia pun berpaling dan menundukkan kepalanya. Dengan satu isyarat dari butlernya itu, ia menyadari… bahwa paman Alois dan butlernya tidak terselamatkan.
'Apakah… mimpi buruk Alois manjadi kenyataan?'
.
.
Alois berlari menyusuri koridor diikuti Lizzie di belakangnya. Di belakang sendiri, Sebastian dan Ciel mengikutinya sambil berjalan.
"Eh, Alois? kenapa kau lari-lari di dalam rumah?" tiba-tiba di persimpangan koridor, Diana muncul.
"Kakak! Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu!" kata Alois bersemangat.
"Hari ini? Ada apa?" Diana nampak tidak mengerti.
"Hari ini… awak kapal di kapal penyelamat datang kemari untuk memberitahukan kabar Paman dan butlernya." Jelas Lizzie.
Diana langsung tersenyum lebar. "Benarkah? Kabar tentang Paman dan Claude?" Alois mengangguk cepat.
"Aku diminta untuk menemuinya di ruang tamu. Kakak harus mendengarnya juga!" Alois pun menarik tangan halus kakak angkatnya itu. Mereka bertiga pun kembali berlari-lari kecil menuju ruang tamu, sedangkan Ciel terdiam jauh di belakang. Ia menatap punggung sahabatnya itu nanar.
Sesampainya di ruang tamu, Alois tak bisa menyembunyikan wajah cerianya. Dua awak kapal pun segera berdiri mengetahui si tuan telah tiba. Mereka mengangguk dan entah kenapa, tingkah lakunya menjadi canggung. Mereka bingung untuk menyampaikan kabar… err… kabar buruk ini.
"Selamat pagi, Earl Alois Trancy." Sapa salah satu awak kapal sambil membungkuk. Mereka nampak merasa bersalah saat melihat wajah ceria Alois.
"Selamat pagi!" jawab Alois riang.
"Eh? Kenapa semuanya berkumpul di sini?" tanya seseorang yang tak sengaja lewat.
"Bibi An?" Ciel menoleh. Diikuti dengan yang lainnya.
"Ah! Nyonya Burnet. Selamat pagi." Sapa si awak kapal refleks.
"Ah… kalian berdua bukannya para awak kapal penyelamat itu?" tanya Angelina. Ia nampak bertanya-tanya mengapa mereka kemari.
"Mereka kemari membawa kabar tentang Paman dan butler saya, Bibi." Jelas Diana. Angelina hanya bisa berhoho ria.
"Syukurlah kalau begitu." kata Angelina sambil mengelus dada.
"Jadi… bagaimana kabar mereka… Paman awak kapal?" tanya Alois seketika. Si dua awak kapal, Ciel dan Sebastian segera tercekat. Mereka saling berpandang-pandangan. Melihat itu, Alois, Lizzie, Bibi Angelina dan Diana nampak bertanya-tanya. Entah kenapa, Angelina dan Diana merasa tidak enak.
"Lho? Kenapa malah berpandang-pandangan begitu? Ayo, lekas beritahu aku!" Alois nampak tidak sabar. Di belakang, Ciel nampak cemas.
"Alois… sabarlah dulu…" katanya. Alois menyipitkan kedua matanya curiga.
"Atau jangan-jangan… ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" potong Alois tiba-tiba. Mendengar itu, Diana menoleh. Ia nampak kaget. Ia meremas-remas tangannya di bawah dagu, berharap tidak ada kabar buruk yang keluar dari mulut awak kapal itu.
"Bu-bukan begitu…" sangkal si awak kapal. Melihat orang-orang di sekelilingnya tegang, ia menjadi lebih berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Berat sekali! Tapi, mau bagaimana lagi, ia sudah dipesan untuk menyampaikan kabar ini. Buruk maupun bahagia. Dengan berat hati, ia menelan ludah dan segera mengatakannya.
"Tu-Tuan Arnold Trancy… sudah kami temukan…" katanya menggantung. Ia menggigit bibir bawahnya. Sedangkan orang-orang di depannya tengah menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia keluarkan dengan wajah harap-harap cemas.
"Tuan Arnold Trancy sudah kami temukan… tapi… keadaannya sudah tak bernyawa." Kata si awak kapal akhirnya. Mendengar itu, Alois dan Diana nampak tercekat. Nafas mereka seakan berhenti sejenak.
"Sedangkan Tuan Claude Faustus… masih menjadi korban hilang…" lanjut awak kapal penuh sesal. Mendengar semua kalimat si awak kapal telah dilontarkan seluruhnya, Diana tiba-tiba melemas. Ia terhuyung ke samping, tapi berhasil di cegah oleh Angelina.
"Diana!" pekik Angelina. Serentak Sebastian, Ciel dan Lizzie menoleh ke arah Diana. Nafas Diana nampak terputus-putus, tubuhnya dingin dan gemetaran. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menangis tertahan di pelukan Angelina. Melihat Diana sudah diatasi oleh Bibinya dan Maylene yang kebetulan lewat, Ciel segera menoleh ke arah sahabatnya yang nampak terpaku. Ia menyesali apa yang dikatakan awak kapal barusan.
Alois nampak terbelalak tak percaya. Tangannya gemetaran, dan berusaha ia kepal-kepalkan. Bibirnya bergetar. Keringat dingin tiba-tiba merembes melalui pori-pori kulitnya. Ia begitu syok dibuatnya. Ciel khawatir mengetahuinya.
"Alois…" Tapi tiba-tiba, Alois menyunggingkan seulas senyum. Senyum yang terlihat seperti tidak mempercayai kabar ini. Kepalanya digelengkan dengan canggung.
"Ini tidak mungkin…" lirihnya. "Ini tidak mungkin…" Di sampingnya, Lizzie menitikkan air mata.
"Alois…" katanya sambil menggenggam tangan Alois.
Sang awak kapal menatap Alois iba. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Tugasnya hanyalah menyampaikan kabar.
"Maafkan saya… Earl…" begitulah kalimat yang diucapkan si awak kapal, dan berhasil membuat perasaan Alois menjadi hancur lebur. Tubuhnya melemas dan ia jatuh terduduk.
"Alois!" seru Ciel, cekatan menahan Alois agar tidak jatuh secara tiba-tiba. Sedangkan Lizzie hanya bisa menangis.
"Ini tidak mungkin…" gumam Alois. Ia teringat akan mimpi buruknya semalam. Apakah mimpinya semalam… malah menjadi kenyataan? Sungguh ironis. Mengingat itu, ia mulai terisak. Air matanya menetes satu per satu melewati pipinya. Ia terpuruk dalam posisinya. Ia malah sesunggukkan.
"Alois…" Ciel menyamai Alois yang tengah terduduk di lantai dan mengelus pundak sahabatnya itu. perasannya sakit melihat sahabatnya itu menangis.
"Paman… dan Claude…" kata Alois terbata-bata. Ciel mencoba menenangkan Alois. "ini tidak mungkin…!" seketika itu, tangis Alois pun pecah. Ia menjatuhkan tubuhnya di pelukan Ciel. Ia tak tahu harus bersandar pada siapa lagi selain pada sahabatnya. Alois pun menangis sejadi-jadinya, membuat seluruh ruangan dipenuhi suara tangisnya. Ciel hanya bisa memeluk erat tubuh ringkih sahabatnya itu dan berusaha membuatnya tenang, walaupun ia juga terkena imbasnya. Setetes air mata mengalir di pipinya. Ia memendamkan wajah Alois di pundaknya. Tangannya mengelus-elus lembut rambut pirang pemuda berumur 15 tahun itu.
Pagi yang nampak cerah itu terlihat kontras dengan suasana pilu di ruang tamu kediaman Phantomhive. Teringat bagaimana tragedi itu terjadi secara tiba-tiba, dan merenggut banyak nyawa manusia. Teringat bagaimana perjuangan Alois mencari paman dan butlernya yang ternyata kini sudah tiada. Ciel benar-benar ingat kata-kata Alois malam itu.
'Aku… sangat iri padamu. Kau masih bisa bersama keluarga yang kau sayangi, yang akan setia menemanimu. Sementara aku tidak.'
Mengingat itu, Ciel jadi sangat merasa bersalah. Kenapa hal ini terjadi begitu saja? Ia pun mengeratkan pelukannya pada Alois. Sementara Alois masih sibuk menangis.
'Akankah… mimpi buruk ini bisa cepat berlalu?'
.
.
To be continued
A/N: Aduuuhh… *ambil tissue* *SROOOTT!* *digampar* gak nyangka bakal begini jalan ceritanya. Saia yang nulis aja sampai gimana… gitu rasanya. Sambil ditemani lagu-lagu yang berkesan slow dan menyedihkan… uhuhuhuhu… *nangis sendiri* *ditabok*
Okeeh~ sekian dulu chap 2 ini. Kita lanjutkan di lain waktu. Maaf kalau ada tulisan yang kurang berkenan atau buruk (maksudnya typo). Mohon riview dan sarannya… arigato gozaimasu… *SROOTT!*
Yunoki Trancy ^^
