Akhirnya apdet juga. Sebenernya saia udah bikin ni lanjutan fic. tapi baru apdet sekarang. Hehehe. Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:
Pichipichi-pit: Makasih ripiuwnya. Iya. Ini sekuelnya. Maaf baru kebales di sini. ^^
Sara Hikari: Arigato ripiuwnya! Yap! Mimpinya saia bikin jadi nyata! *ketawa nista* he? Masa' siy jd angst? Ya sudahlah. Hehehe.
maria yuki hagisa: Makasih ripiuwnya. Astaga… sampek nangis segala. Tapi gpp. Maklum. Semoga kamu suka. ^^
Mutankinoko: Makasih ripiuwnya. Okeh! Saia berhasil membuat dua org nangis di fic ini ==. Hehe… semoga kamu suka! ^^
Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso
Rated: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Summary: 'Ini adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bagiku. Dan kita… akan terus bersama selamanya. Iya, kan?'
Enjoy… ^^
.
.
JOURNEY
.
.
Chapter 3: Funeral and Hot Chocolate
Pagi ini langit begitu kelabu. Udara dingin menyelimuti. Bunyi dentangan lonceng gereja memekakan telinga. Dentangannya terdengar ganjil, begitu lemah dan tidak berdaya. Menyiratkan kedukaan yang mendalam.
Sebuah gereja yang cukup megah di tengah kota berubah menjadi tempat yang memilukan. Gereja dengan segala fasilitas dan hiasan-hiasan mewah yang memenuhi langit-langit dan altarnya terlihat mencekam. Hanya terdengar rintihan tangis yang dapat membuat hati siapapun teriris.
Di dalam gereja itu hanya terlihat warna hitam yang kelam. Semua orang berpakaian hitam pekat, membuat mata serasa ngeri melihatnya. Kau tahu kenapa? Ya. Hari ini, di gereja ini akan diadakan upacara pemakaman, upacara mewah di akhir kehidupan. Para pelayat duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan. Kebanyakan dari mereka berwajah lesu dan sedih. Tak urung juga mereka menangis. Hari ini, Arnold Trancy, paman angkat dari Alois akan dimakamkan. Ia ditidurkan di dalam peti berwarna putih bersih berpelitur indah, yang di dalamnya sudah dihiasi bunga lily berwarna puitih dengan corak bintik-bintik merah muda di tengah-tengah kelopak dalamnya. Tubuhnya telah kaku dan memucat, matanya terpejam untuk selamanya.
"Pamaan! Jangan tinggalkan akuu!" Alois terus menangisi kepergian pamannya. Sedari jenazah sang paman diserahkan kepada pihaknya, ia tak jua berhenti mennagis hingga saat ini. ia sudah lupa bagaimana caranya mengehentikan tangisnya sejak saat itu. Ia berlutut di depan peti sang paman dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh pamannya yang sudah mendingin itu. Tangisnya yang pilu menular siapapun yang mendengarnya.
"Alois aku mohon… tabahlah…" Ciel tak henti-hentinya menenangkan tubuh ringkih yang tengah berguncang hebat itu. Walaupun ia tahu, ia juga ikut menikitikkan air mata. Dadanya sesak melihat sahabatnya itu terus-terusan terpuruk dalam kesedihannya. Ciel berusaha menjauhkan tubuh Alois dari peti itu menuju tempat duduk. Tapi ia tak bisa. Alois bersikeras untuk terus berada di sisi pamannya. Mulutnya bergerak-gerak dan bergetar, meneriakan nama pria paruh baya yang tertidur di hadapannya.
Di tempat yang agak jauh darinya, Diana dan Angelina berdiri. Mereka memandangi pria berambut putih dan pemuda berambut pirang itu dengan tatapan pedih. Air mata Diana berjatuhan. Ia menangis dalam diam. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Itu sudah prinsipnya. Sesedih apapun dia, sebisa mungkin ia tidak mau terlihat berlebihan menangisi kepergian orang-orang yang ia sayangi. Ia selalu berusaha tabah menghadapinya. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Angelina yang kini memakai gaun merah marun. Ia tak pernah mengenakan gaun hitam kelam ke acara pemakaman. Tetap bergaun merah, tapi warnanya sedikit gelap. Angelina mengelus kepala Diana dengan sayang. Ia tahu Diana sedang sesunggukkan di pundaknya.
Di seberangnya, berdirilah Sebastian dan Lizzie. Lizzie nampak sesunggukkan sambil membawa setangkai bunga lily. Gaun hitamnya menyentuh lantai keramik gereja. Sebastian berdiri tegak sambil merangkul pundak gadis berambut gelombang itu dalam diam. Ia tidak suka suasana menyedihkan seperti ini. Ia hanya memperhatikan tuan mudanya bersama sahabatnya dan jenazah Arnold Trancy dengan tatapan miris.
"Aku… tidak suka suasana pemakaman…" tiba-tiba Lizzie berkata di tengah-tengah isakannya. Sebastian menoleh.
"Kalau begitu, akan saya antar keluar sebentar…"
"Tidak! Biarkan aku di sini… menemani Ciel dan Alois… walaupun ini terasa berat dan menyesakkan…" Lizzie terisak lagi. Sebastian menatap iba nona di sampingnya itu. Ia pun mengelus pundak Lizzie dengan lembut. Sebastian pun meluruskan pandangannya lagi ke arah tuan muda dan sahabatnya yang masih histeris menangisi kematian pria berambut putih itu.
Tiba-tiba angin bertiup kencang melewati pintu utama dan jendela-jendela gereja yang terbuka. Sebastian tercekat sejenak merasakan deburan angin yang menghantam tubuhnya pelan. Ia menoleh ke arah pintu utama. Seketika itu juga angin berhenti berhembus. Sebastian terdiam menatap lurus ke luar pintu, sementara orang-orang masih serius dengan kegiatannya. Orb merah Sebastian menatap kosong pelataran gereja yang kini banyak dihampiri dedaunan kering yang berserakan. Langit di luar juga mulai gelap, tertutup awan mendung yang tebal.
'Sepertinya… akan turun hujan.' Batin Sebastian.
.
.
Langit berubah menjadi gelap saat jenazah Arnold Trancy keluar dari gereja menuju tanah peristirahatannya yang terakhir. Iringan-iringan hitam mengikutinya di belakangnya. Alois berjalan terhuyung-huyung. Wajahnya sembab dan terlihat lelah. Diana menjadi sandarannya saat ini. Wanita berambut cokelat bergelombang itu kini berada di sisi adik angkatnya. Walaupun hatinya pedih, tapi ia yakin. Ia dapat mengatasinya. Ia sudah mengikhlaskan pamannya pergi untuk selamanya-lamanya. Eyeshadow hitam di bawah kantung matanya terlihat luntur sedikit karena air mata.
Di belakang Ciel, Lizzie dan Sebastian mengikuti. Lizzie tertunduk dan terdiam. air matanya masih bercucuran, tapi tak seberapa dibandingkan yang tadi. Ciel hanya menatap sahabatnya itu dengan wajah pedih. Sedangkan Sebastian tetap tegak berdiri.
Tak lama kemudian, jenazah yang sudah mendingin itu dikebumikan. Inilah saat-saat terberat bagi keluarga yang ditinggalkan. Alois berlutut di dekat pusara pamannya, dan Diana mencoba menenangkan adiknya yang kembali bersedu-sedan itu. Hingga saatnya sosok wajah nan damai itu habis tertutup timbunan tanah yang basah.
Langit bocor tepat setelah jenazah Arnold selesai dikebumikan. Seakan langit ikut berduka atas kematiannya. Air mata langit membasahi tanah berwarna merah kecokelatan itu hingga tercium aromanya yang khas, membasuh nisan-nisan kuburan yang tertutup debu. Burung-burung yang sedari tadi bercicit-cuit kini telah menghilang, berlindung di bawah rindangnya pepohonan yang ada di sekitar.
Ciel baru menyadari bahwa hujan mulai mengguyur. Ia menengadahkan kepalanya, tak peduli berkali-kali wajahnya ditusuk-tusuk oleh air hujan yang bagaikan jarum itu. ia membiarkan tubuhnya basah kuyup disiram air hujan, menikmati dinginnya hawa yang membuat suasana makin dingin. Ia mengambil napas dan menghembuskannya keras.
'Hujan…' katanya dalam hati.
.
.
Alois masih bertahan di sisi pusara sang paman sementara orang-orang sudah berbondong-bondong pulang. Tangan dinginnya mengelus-elus nisan yang masih baru—yang bertuliskan Rest In Piece 'Arnold Trancy'—dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Wajahnya yang sembab menatap nisan itu dengan ekspresi kecewa dan terluka. Hujan yang masih deras terus menghunjam tubuhnya yang ringkih. Ia tak peduli seberapa basahnya ia sekarang. Tak peduli seberapa kotornya bajunya sekarang karena terkena percikan tanah basah. Ia hanya mengetahui bahwa hari ini adalah hari di mana ia harus mengucapkan 'selamat tinggal' kepada sang paman untuk selama-lamanya. Air hujan menetes satu-satu dari ujung rambut pirangnya yang sudah berat menahan air hujan.
Di jarak yang agak jauh dari Alois, Ciel dan yang lainnya berdiri dengan berlindungkan payung. Menemani kesendirian Alois dari jauh.
"Hujan semakin deras…" Lizzie berkata. "tidakkah sebaikanya kita segera pulang?"
"Itu benar. Biar saya menjemput Tuan Alois…" Sebastian pun mengangkat satu kakinya untuk melangkah menuju tempat Alois.
"Tidak!" tiba-tiba Ciel menggenggam tangan sang butler hitam tersebut. "biar aku saja." Ciel pun akhirnya berjalan menuju tempat sahabatnya dengan membawa payung untuk menaunginya. Melihat Ciel mulai menjauh, Sebastian hanya pasrah. Ia hanya berharap untuk segera pulang dan menyelesaikan pekerjaannya yang masih menunggu di rumah.
Ciel berjalan dengan perlahan menuju tempat Alois berada. Tanah yang mulai becek menghambat langkahnya. Setelah cukup dekat, Ciel berhenti. Ia menatap sahabatnya dengan tataban iba. Ia tak kuat melihat sahabatnya begini terus. Dengan ragu, ia pun mulai melangkah lagi mendekati Alois.
Alois masih terdiam sambil menglus-elus nisan pamannya. Tapi kini, tangan kirinya mulai merambah ke tumpukan tanah yang menimbum jenazah pamannya. Tanah yang begitu dingin dan basah. Hatinya masih terasa perih, tapi entah kenapa air matanya tak mau lagi mengalir. Apakah air matanya sudah mengering? Entahlah.
Ciel pun perlahan menaungi kepala Alois yang sudah basah itu dengan payungnya. Merasa tak ada rintik hujan yang menghunjam kepalanya, Alois tercekat dan menoleh.
"Ciel…?" katanya serak.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Ciel dingin. Mendengar pertanyaan Ciel, Alois kembali menatap pusara pamannya dengan canggung.
"Hujan deras sekali. Kita harus segera pulang. Tak tahukah kau betapa basahnya dirimu? Kalau kau tetap seperti ini kau bisa sakit!"
"Aku ingin di sini…" jawab Alois lirih.
"Alois… aku mohon… berdiri dan ayo kita pulang!" pinta Ciel sedikit memaksa. Tapi Alois hanya terdiam. Mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari Alois, Ciel mendesah keras dan ikut berjongkok di sisi pusara Arnold Trancy. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka hanya saling terdiam sambil menikmati irama hujan. Ciel diam-diam melirik ke arah Alois. Alois begitu membela pamannya yang—ia pasti sudah tahu—yang sudah berkali-kali ingin membunuhnya. Tapi, berhubung Alois sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan sudah terlanjur sayang pada sang paman walaupun sering kali menjahilinya sehingga sang paman marah, ia selalu memaafkan semua perbuatan sang paman walaupun terkadang merasa jengkel dengan peraturan-peraturan konyol yang sang paman buat. Ciel tertegun mengingat hal itu. Kalau dirinya jadi Alois, belum tentu ia sanggup menjadi seperti itu.
Ciel berusaha menyelami mata turquois milik Alois. Mata yang dulu selalu bersinar cerah, kini berubah menjadi redup. Dirinya yang dulu secerah matahari, kini sekelam malam. Mata yang indah dan dalam itu… berbeda dari biasanya. Ciel tak bisa membendung perasaan prihatinnya.
Alois hanya menatap tanah merah dengan tatapan kosong. Tatapan penuh kekecewaan, kesedihan yang begitu dalam, dan keputusasaan. Ujung bibirnya menukik ke bawah, seakan berat untuk ia menariknya ke atas. Tak ada yang bisa mengerti perasaannya. Mungkin…
.
.
Malam turun dengan cepat. Lampu-lampu jalanan telah menyala terang. Suara jangkrik mengudara merdu. Sesekali burung hantu nampak di beberapa ranting pohon dan mengeluarkan suaranya yang angker. Matanya yang bulat hitam benatap tajam sekitar. Bunyi gemericik air mancur memecah keheningan.
Setelah menyelesaikan tumpukan pekerjaan di ruang kerjanya, Ciel yang berbalut kimono tidur berniat menuju kamarnya untuk istirahat. Setelah pulang dari pemakaman paman sahabatnya itu, ia langsung dijejeli pekerjaan di ruang kerjanya. Melihat tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya, wajahnya langsung ciut. Ia mendengus sambil mengerucutkan mulut mungilnya. Yah… beginilah kehidupan seorang penerus keluarga Phantomhive. Waktu senggang hampir tidak ada.
Ciel mengusap kepalanya yang berat dan pening. Suasana rumah sudah remang-remang. Rupanya lilin-lilin sudah dipadamkan. Hanya beberapa lilin-lilin kecil yang dinyalakan di dinding-dinding koridor. Sepi. Semuanya sudah terlelap dalam tidur, pikirnya. Ciel berjalan menuju kamarnya yang agak jauh dari ruang kerjanya. Tangannya membuka kenop pintu. Tak terasa ia mengerjakan tugas yang menumpuk hingga selarut ini. Sedari siang hingga malam, ia lembur. Terkadang Sebastian juga ikut membantunya mengerjakan tumpukan-tumpukan kertas menjemukan itu. Tiba-tiba, pikirannya melayang. Ia teringat Alois yang sedari pulang dari pemakaman terus saja menyendiri. Ia ingin sekali menemani kesendirian sahabatnya itu. Tapi apa daya. Pekerjaan menumpuk! Huh!
"Alois pasti sudah tidur." Gumamnya agak menyesal. Menyesal karena meninggalkan Alois yang sedang berduka sendirian.
Ciel membuka pintu kamarnya perlahan.
"Alois… kau sudah tidur?" panggilnya. Tak ada yang menjawab. Ciel pun membentangkan pintu kamarnya. Seketika itu, ia mengerjap-kerjapkan matanya sejenak. Ia melihat ke sekitar kamarnya. Kosong!
'Alois… tak ada di kamar?' tanyanya dalam hati.
Ciel berjalan cepat menyusuri koridor yang remang-remang. Ia membuka pintu-pintu ruangan lain yang ia temukan. Tak ada Alois. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun ke lantai satu. Kebetulan, ia melihat Maylene melintas.
"Maylene!" panggilnya serambi menuruni tangga.
"Ah! Se-selamat malam… Tuan Muda!" Maylene segera membungkuk.
"Kau…" Ciel mulai berkata. "apa kau melihat Alois…?" tanyanya dengan ekspresi khawatir.
Maylene terdiam. "Eem… Tuan Alois… sepertinya saya melihat beliau di taman…" jawab Maylene sambil mengingat-ingat. Mendengar penjelasan pelayannya itu, Ciel tercekat. Ia segera memutar kepalanya sembilan puluh derajat, melihat jam yang tergantung di dinding. Pukul 23.00 malam!
"Malam-malam begini?" nada bicara Ciel naik satu oktaf. Maylene hanya mengangguk. Ciel berdecak. Ia pun segera menarik tirai jendela. Benar saja. Ia mendapati sahabatnya sedang duduk terpekur di bangku taman. Wajahnya nampak sendu. Melihat itu, kegusaran Ciel mereda. Ia tertegun.
"Maylene…" panggil Ciel tanpa berpaling ke arah Maylene. "bisa buatkan… dua cangkir cokelat panas?" pintanya dengan nada lembut. Mendengar permintaan Ciel, Maylene segera sigap.
"Yes, My Lord!" Malene segera menuju dapur, meninggalkan Ciel yang sedang berdiri di depan jendela. Ia mendesah dan menutup tirai jendela. Tangannya menyambar sebuah coat berwarna ungu di gantungan topi dan jaket yang berada tak jauh darinya. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu samping.
.
.
Alois terduduk di atas bangku taman. Wajah sendu dan sedihnya terpantul di permukaan air kolam. Seharian ini, ia sudah terbiasa melihat wajahnya yang tak kunjung tersenyum itu. Ia tak berniat berkumpul ramai-ramai, membaca buku di perpustakaan milik Ciel, atau sekedar bermain catur dengan Lizzie. Ia hanya ingin sendiri. Sendiri meratapi nasib. Entah sudah berapa kali ia menumpahkan air mata seharian ini. Ia sadar bahwa wajahnya kini benar-benar sembab. Ia menatap bayangan wajahnya di permukaan air kolam yang tenang. Kemudian ia menutup kedua matanya khidmat dan mendesah.
Ciel memperhatikan sosok pemuda berambut pirang itu dari jarak yang tidak begitu jauh. Di tangannya sudah tersampir coat berwarna ungu yang biasanya digunakan oleh sahabatnya itu. Perlahan tapi pasti, ia pun mulai mendekati Alois. Ia mengambil posisi duduk di samping pemuda sendu itu tanpa diketahui olehnya. Kedua tangannya menyampirkan coat ungu itu menutupi punggung Alois. Seketika itu, Alois tercekat dan menoleh cepat.
"Ciel…?" mata Alois nampak terbelalak.
"Jangan lupakan coatmu jika kau keluar rumah." Kata Ciel. "udara malam tak baik untuk kesehatanmu…" mendengar perkataan dan melihat ekspresi Ciel yang begitu khawatir, Alois tertegun. Matanya yang tadi sempat terbelalak, perlahan surut. Ia memalingkan pandangannya ke arah kolam. Ia menatap air kolam dengan tatapan pedih. Satu tangannya meremat lengan coatnya.
Perlahan, Alois menengadahkan kepalanya. "Kau lihat? Malam ini sungguh mencekam. Tak ada bintang gemerlapan… juga tak ada bulan yang menemani." Alois menarik ujung bibirnya naik. "sama seperti suasana hatiku saat ini." Ciel hanya terdiam.
"Aku kini tinggal sendirian. Tak ada yang menemani di sampingku…" hati Ciel terasa ditusuk-tusuk mendengar kata-kata barusan. Ia menatap sahabatnya itu dengan tatapan iba.
"Jangan berkata seperti itu, Al…" Ciel mengerti perasaan Alois yang kini sedang putus asa. Maka dari itu ia selalu beranggapan bahwa ia sendirian. Padahal… ia masih mempunyai Ciel.
"Aah… iya. Aku baru ingat." Kata Alois sambil menoleh ke arah Ciel sambil menyimpulkan senyum palsu. "aku sudah lama tinggal di sini. Aku harus segera pulang. Aku tidak mau merepotkanmu."
Ciel menatap Alois dengan tatapan bersalah. Ia diam sejenak memperhatikan wajah ceria Alois yang palsu itu. Ia tahu Alois berusah menyembunyikan kesedihannya.
"Tidak, Al… kau boleh tinggal di sini kapaknpun kau mau." Kata Ciel. "atau setidaknya… hingga perasaanmu merasa baikan."
Alois menatap Ciel yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat sedih. Ia pun kembali menatap permukaan air kolam.
"Permisi Tuan Muda…" tiba-tiba Maylene datang sambil membawa nampan yang ditumpangi dua buah cangkir porselen. "maaf lama menunggu." Katanya sambil menurunkan kedua cangkir tersebut ke atas meja taman.
"Terimakasih Maylene." Kata Ciel singkat. Mendengar itu, Maylene tertegun sejenak, lalu ia pun undur diri. Ciel menoleh ke arah Alois yang tengah menunduk menatap bayanganya di permukaan air kolam dengan wajah terluka. Ciel hanya bisa mendesah sambil memejamkan mata. Ia tak tahu harus berbuat apa supaya sahabatnya itu tersenyum lagi.
"Minumlah ini." Ciel mengambil secangkir cokelat panas dan memberikannya pada Alois. "cokelat panas ini akan membuat tubuhmu lebih hangat…" dengan ragu, Alois pun menoleh. Lambat sekali. Seakan kepalanya terasa berat untuk ia putar. Ia menatap cangkir porselen dan Ciel secara bergantian. Sorot matanya terlihat lemah redup. Membuat Ciel miris melihatnya. Mengetahui Alois sedikit ragu, Ciel menganggukkan kepalanya agar Alois mau menerima secangkir cokelat panas sondorannya. Perlahan tapi pasti, Alois pun menerimanya. Melihat tangan pucat Alois menggenggam cangkir dan membawanya ke atas pangkuannya, Ciel merasa lega. Ia menyimpulkan senyum tipis di bibirnya. Kemudian, ia mengambil secangkir cokelat panas untuk dirinya sendiri.
Alois nampak terdiam. Mata biru mudanya menatap pekatnya cokelat panas di dalam cangkirnya. Awalnya ia menatapnya dengan tatapan sedih, tapi kemudian tatapannya berubah menjadi benci. Ia benci dengan cokelat panas. Cokelat panas mengingatkan kenangan-kenangan indah yang menyedihkan. Cokelat panas hanya akan membuatnya lebih sedih dari pada membuatnya tersenyum. Alois pun merapatkan kedua belah bibir ranumnya. Bibir itu nampak gemetar menahan emosinya yang meluap.
"Aku benci cokelat panas." Geramnya. Hampir seperti bergumam. Mendengar itu, Ciel tercekat dan menoleh. Ia yang baru saja meneguk cokelat panasnya pun terpaksa berhenti. Ciel mengerutkan dahinya.
"Apa… maksudmu?" tanyanya tak mengerti. Ciel meletakkan cangkirnya di meja taman, dengan masih menatap ke arah Alois. Alois melirik ke arah Ciel yang nampak kebingungan itu. Perasaanya bergejolak, dadanya pun terasa makin sakit.
"Cokelat panas…" kata Alois tertahan dengan nada yang gemetar. "cokelat panas mengingatkanku pada… sesuatu yang ingin aku lupakan…" jelasnya susah payah. Ciel sabar mendengarkan.
"Cokelat panas… mengingatkanku akan kenangan…" Alois menelan ludah yang rasanya seperti menelan sebongkah batu. "kenangan Ayah… dan orang-orang yang ingin melenyapkanku… seperti halnya Paman."
Ciel tercekat mendengarnya. "Melenyapkan?" Alois pun terkekeh. Tapi kekehannya terdengar tak wajar.
"Ironis sekali kehidupanku ini…" kata Alois tiba-tiba. Bulu kuduk Ciel entah kenapa terasa menegang mendengar nada bicara dan melihat ekspresi Alois saat itu. Tapi, setelah Alois menampakkan sisi mengerikannya, ia kembali melemah. Wajahnya kembali lesu dan suram seperti sedia kala.
"Kau tahu…? Saat aku masih berumur tujuh tahun… Ayah suka membuatkanku secangkir cokelat hangat… dan bercerita macam-macam tentang berbagai hal…" pandangan Alois lurus ke depan. Menerawang. "aku sungguh merindukan pelukannya…" rasa rindu yang begitu dalam menyeruak masuk di benak Alois. Ciel hanya diam dan mendengarkan curahan hati sahabatnya itu dengan simpati.
"Ayah… selalu membuatnya sendiri. Ia tak pernah mau menerima tawaran Claude untuk membuatkannya…" lanjut Alois. Matanya mulai berkaca-kaca. Ciel menatap kedua mata Alois yang nampak berkaca-kaca. Hatinya sakit melihatnya terus menumpahkan air mata seperti itu.
"Sampai akhirnya…" Alois mengambil napas. "dua tahun yang lalu… Ayah meninggal karena kecelakaan. Itu membuatku hancur…" Alois mulai terisak. Air matanya yang sedari tadi terbendung, kini berhasil mengalir. Ciel tak sampai hati melihatnya.
"Aku pun dipercaya untuk meneruskan kedudukannya. Seketika itu, Paman merasa iri… aku tak mengerti akan hal itu. Paman merasa tak adil… dan terus menerus melarangku ini-itu… bahkan berusaha untuk membunuhku…!" Alois mulai sesnggukkan. "padahal… aku sangat menyayanginya…" katanya di sela-sela tangisnya. "aku tak mengerti kenapa jadi seperti ini!" Alois menutupi telinganya dengan kedua tangan dan menunduk. Ia frustasi. Air matanya mengalir lebih deras.
Ciel hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan serba salah. Ironis memang. Benar-benar tak terduga. Ia teringat saat ayah dan ibunya pergi meninggalkannya ke surga. Ia juga seperti ini. Tak berdaya dan selalu menyendiri. Dan kini, ia melihat tampilan ulang kisahnya terdahulu pada diri Alois. Sungguh menggelikan… sekaligus menyedihkan. Ciel perlahan menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Alois. tangannya merangkul pundak bidang Alois dan menepuk-nepuknya pelan. Menandakan bahwa ia peduli terhadap Alois. Melihat Alois masih sesunggukkan, perlahan Ciel meletakkan kepala sahabatnya itu dalam dekapannya.
Alois tercekat sesaat. Menyadari dekapan Ciel yang hangat itu penuh dengan perhatian dan kasih sayang, ia pun terenyuh. Tangisnya pun pecah. Ciel sebenarnya tak tega melihat Alois menangis pilu di dalam dekapannya. Tapi, biarlah ia melegakan perasaannya. Alois terus menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya menggema di udara. Ia meremat piyama tidur Ciel. Ciel hanya terdiam sambil mengelus-elus rambut pirang sahabatnya. Ia pun meletakkan dagunya di atas kepala Alois. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
'Harus kau ketahui, Alois… Aku akan selalu ada bersamamu. Jadi… hentikan tangismu…'
.
.
To Be Continued
A/N: Akhirnya kelar juga chapter 3 yang saia ketik ngebut ini. Lagi ujian praktek, masiiih aja ngeyel bikin fic. Wkwkwkwk… XP
Tapi… kenapa sedikit nyelonong ke shonen ai ya? ==
Oke deh. Segini dulu chapter 3 dan sebagainya ini. Mohon review dan sarannya yah… ^^
Yunoki Trancy ^^
