Akhirnya apdet! *nari gaje*
Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:
Sara Hikari: Khamsa hamnida buat reviewnya! Saia amati pasti kamu yang duluan ngereview. Makasih banget! Emang. Alois emang perlu ditenangin sama Ciel imutku! Makasih ya! XD
Arlein Uchiha Trancy: Makasih reviewnya. Iya. Saia yang buat aja juga terharu kok. Bingung juga kenapa saia bisa bikin cerita beginian ==. Fic yang STILL bakal apdet secepatnya. Udah jadi kok. Tinggal publish. ^^
Yukira Adeline: Arigato for the review! *bener gak tuh bahasanya? ==* hee? Kasian ya? Saia juga *yang bikin aja juga ngerasa kasian* Yosh! Arigato ne!
Matsumoto Sayaka: Makasih Rviewnya! ^^ yup! Masa lalunya Alois hampir sama. Betul itu. harus tabah. Ciel selalu bersamamu! *kekekekeke* *PLAK!*
Mutankinoko: Makasih Reviewnya yak! ^^ Heee…. Nangis lagi. Jangan cengeng ah! *ngomong gampang! Sendirinya juga sama!* hahaha! Malah suka! == XD. Oke. Makasih. ^^
Pichipichi-pit: Makasih reviewnya! Hoee? Nangis aja. Gak ada yang ngelarang. *nyaialah! Yang bikiin aja gimana gitu rasanya* yap! Kamu bener! Coba di filmnya juga begini. Nangis karena kegirangan saia nanti! XD
Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso
Rated: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Summary: 'Ini adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bagiku. Dan kita… akan terus bersama selamanya. Iya, kan?'
Enjoy… ^^
.
.
JOURNEY
.
.
Chapter 4: I Want You Smiling Again
Sudah hampir seminggu Alois suka menyendiri sejak pamannya meninggal. Ia suka sekali duduk di ruang tengah sambil menerawang ke luar jendela. Wajahnya lesu dan tak bersemangat. Atau ia juga suka mengurung diri di kamar. Entah berbuat apa. Ciel dan Lizzie hampir bingung dibuatnya. Bagaimana caranya menghibur pemuda berambut pirang itu. Hal yang dilakukan Alois itu-itu saja. Makan, termenung, sesekali bermain gitar—entah itu asal-asalan atau memang dia bermain sambil menggumamkan lagu, tidur, dan begitu seterusnya. Seakan hidupnya tak memiliki arah dan tujuan.
"Ciel…" panggil Lizzie sambil berbisik. "tak seharusnyakah kita mengajaknya keluar? Hanya untuk sekedar mencari udara segar…" Lizzie melirik Alois yang sedang termenung memandang ke luar jendela di ruang tengah.
Perkataan Lizzie ada benarnya juga. Sudah sekian hari Alois tak pernah keluar rumah. Dia selalu mengurung diri di rumah.
"Tapi, Lizzie… kau tahu, kan? Kemarin kita juga sudah mengajaknya ke luar. Tapi dia menolak." Balas Ciel sambil berbisik. Mendengar itu, Lizzie jadi susah.
"Ayolah… sekali saja. Ajak dia keluar. Kau kan sahabatnya!" desak Lizzie sambil menggoyang-goyangkan lengan Ciel.
"Ck! Lizzie…! Kau juga tahu dia susah sekali dibujuk!" protes Ciel sambil menampik tangan Lizzie. "memangnya… kau yakin akan berhasil?"
Lizzie mengangguk. "Aku yakin. Aku akan mencoba mengajaknya. Tapi kalau dia malas-malasan, kau yang melanjutkan. Aku yakin dia pasti mau di bujuk kalau kau yang membujuk."
Ciel nampak berpikir sejenak.
"Memangnya… kita akan mengajaknya ke mana?" tanya Ciel memastikan. Lizzie terdiam. Ia berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu.
"Oh! Aku tahu!" Lizzie baru saja disinggahi sebuah ide. Ciel jadi penasaran.
"Kau ingat kita pernah ke Diamond Lake? Danau yang terkenal itu." kata Lizzie.
"Uum… sepertinya aku ingat." Ciel menimpali.
"Aku ingin mengajaknya ke sana. Sekalian kita bersampan ria di sana." Kata Lizzie bersemangat. "semoga saja dia berkenan ikut." Lizzie berangan-angan.
"Kita juga ajak kak Diana?" tanya Ciel. Mendengar itu, mata Lizzie melebar.
"Aah! Ide bagus!" seru Lizzie, masih dengan nada bisik-bisik. "walaupun Kak Diana terlihat tegar… tapi kurasa dia juga perlu sedikit hiburan." Lanjut Lizzie. "aku yakin. Di sudut hatinya… pasti dia juga merasa sakit seperti adiknya."
Ciel mengangguk-angguk. Ia pun menoleh ke arah Alois yang nampak membelakanginya. Siluet tubuhnya terlihat sendu terkena sinar matahari.
Ya… semoga saja Alois mau pergi bersamanya… dan bisa tersenyum lagi.
.
.
Dua hari kemudian, rencana yang sudah disusun Ciel dan Lizzie pun terlaksana. Ciel dan Lizzie akan pergi dengan kereta kuda, didampingi oleh Sebastian. Lizzie sudah membujuk Diana dan Alois lebih dulu. Diana dengan senang hati mau ikut sambil berharap hatinya yang terpuruk dapat bangkit lagi. Tapi… Alois tidak. Dia sempat menolak beberapa kali saat Lizzie membujuknya untuk ikut bersamanya.
"Ayolah… ikut bersamaku. Kujamin! Kau pasti senang…" kata Lizzie sambil memohon-mohon malam hari sebelum pergi esok paginya.
"Aku tidak mau!" jawab Alois singkat tanpa menoleh ke arah Lizzie. Ia malah sibuk mengamati bintang-bintang di langit hitam dari jendela kamarnya.
Lizzie mengerucutkan bibirnya dengan imut. "Alois… tidak baik kalau kau terus-terusan terpuruk seperti ini… setidaknya keluar rumahlah barang sekali. Kau perlu sinar matahari…" pinta Lizzie dengan nada sedikit merayu. Alois hanya terdiam.
"Ya Alois, ya…" rayu Lizzie. Alois melirik Lizzie malas. Ia sama sekali tak mempedulikan rayuan gadis berambut pirang itu. Mendapatkan perlakuan seperti itu, akhirnya Lizzie menyerah. Ia tahu, ia tak akan pernah berhasil merayu Alois untuk ikut bersamanya.
"Oke… baiklah. Aku mengerti. Kau bisa pertimbangkan malam ini. Kalau kau bersedia, besok siap-siap dan segera naik ke kereta kuda, ya!" Lizzie pun keluar dari kamar Alois. Alois menolehkan kepalanya setelah tubuh Lizzie tertelan pintu. Ia terpaku sejenak pada pintu kamarnya yang tertutup, lalu kembali terpekur pada bintang-bintang sambil bersangga dagu. Matanya sendu menatap bintang-bintang yang berkelip-kelip dengan ceria.
Dan… pagi ini, akhirnya Ciel yang turun tangan. Setelah makan pagi, seperti biasa, Alois kembali duduk termenung di atas sofa yang empuk di ruang tengah. Ciel tak sengaja mendapatinya di sana. Ia hanya bisa mendesah sambil menatapnya lesu. Ciel pun mengambil langkah masuk ke ruang tengah dan menghampiri sahabatnya itu.
"Termenung lagi?" tanya Ciel lembut sambil mengambil posisi duduk di samping kiri Alois yang nampak menghadap ke arah jendela—sedikit membelakangi Ciel. Alois menoleh sedikit ke arah Ciel, lalu kembali menghadap keluar jendela. Kini kepalanya ia baringkan di atas lengan kirinya di kusen jendela, menghadap ke arah kanan. Ciel tersenyum seadanya melihat sahabatnya itu.
"Kau tahu?" Ciel mulai berkata. "kau tahu? Aku lebih suka melihatmu tersenyum. Kau terlihat menyenangkan jika begitu." Ciel berusaha menghibur, sekaligus memberi candaan. "lihat dirimu. Begitu tak berdaya seperti itu." Alois masih terdiam. Mengetahui Alois tak merespon kata-katanya, Ciel pun terpaksa ikut diam. Untuk beberapa saat, suasana menghening.
"Hari ini… aku, Lizzie, Kak Diana dan Sebastian akan pergi keluar." Katanya melepas keheningan. Ciel menatap wajah Alois. "kau ikut, ya?" pintanya dengan nada lembut. Alois menoleh ke kiri sedikit.
"Alois. Keluar rumahlah barang sekali. Hampir seminggu kau terus-terusan mengurung diri di rumah." Ciel menyentuh lengan kiri Alois. Alois tak mempedulikan sahabatnya itu dan kembali menatap keluar jendela. "heii…" Ciel sedikit menggoyang-goyangkan lengan sahabatnya itu.
"Aku tidak mau!" Alois menampik tangan Ciel. Ciel tercekat. Tapi kemudian, ia hanya tersenyum. Membujuk pemuda berumur lima belas tahun di hadapannya ini memang susah belakangan ini. Tidak hanya Lizzie yang merasa kesusahan. Tapi Ciel juga! Ciel pun berpikir untuk mencari bahan lain demi membujuk Alois.
"Apa kau tak merasa sesak? Paru-parumu itu butuh udara segar di luar rumah. Kulitmu juga berubah pucat seminggu terakhir ini." Ciel bersimpati.
"Apa pedulimu?" Jawab Alois singkat tanpa menoleh.
"Bagaimana aku tak peduli padamu kalau kau begini terus. Kau itu sahabatku. Aku harus peduli padamu." Ciel mendesah dan membalikkan tubuh Alois agar menghadapnya secara halus. Alois sendiri juga tak menolak. Ciel menatap kedua mata turquois milik Alois dalam-dalam. Matanya benar-benar tak menyiratkan sinaran apapun. Yang ada hanya kelam dan tidak berdaya. Ciel merasa miris melihatnya.
"Ke mana perginya sinar matamu? Kini berubah kelam seperti ini." kata Ciel. Karena dipandangi Ciel terus, Alois pun membuang pandangannya ke samping. Ciel mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Ia pun menggenggam kedua tangan Alois.
"Bersedih memang boleh, teman… tapi jangan terlalu berlarut-larut. Selain kau merasa lelah, kau juga bisa sakit." Ciel menasehati. "hidup akan terus berjalan. Apakah kau ingin menyia-nyiakan waktumu hanya untuk bersdih?"
Alois menoleh ke arah Ciel lagi. Ekspresi wajahnya terlihat seperti terluka. Matanya berkaca-kaca.
"Lupakan semua kesedihanmu. Untuk hari ini, aku ingin melihatmu tersenyum. Sekali saja… itu sudah membuat hatiku nyaman. Atau… kalau kau bisa, aku malah ingin melihatmu tertawa lagi seperti dulu." Ciel tersenyum. Tapi senyuman itu tak berakibat baik pada Alois.
"Ikutlah keluar bersamaku. Kita akan bersenang-senang." Kata Ciel. "kau pasti juga ingin bisa tersenyum lagi, kan?"
Alois menunduk. Agak lama. Tapi kemudian, ia mengangguk pelan sekali. Nyaris tak terlihat.
"Kalau begitu, ikut aku." Ajak Ciel. "katu tahu? Kau bakal membusuk kalau terlalu lama di dalam rumah, lho." Ciel bercanda. Alois menengadahkan kepalanya menatap Ciel. Ciel mengangguk untuk memastikan apakah Alois bersedia ikut dengannya atau tidak. Alois nampak ragu. Ia takut rencana Ciel keluar kali ini bukannya membuat ia tersenyum, tapi malah membuatnya lebih sedih atau setidaknya sama saja seperti sekarang. Tapi Ciel tak menyerah. Ia terus meyakinkan sahabatnya itu untuk ikut. Dan setelah sekian menit mempertimbangkan, Alois pun mengangguk. Melihat itu, Ciel merasa lega. Ternyata usahanya tidak sia-sia.
"Baiklah…! Cepat siap-siap. Aku akan menunggumu di kereta." Ciel menepuk pundak Alois, pertanda memberinya semangat. Walaupun tak seberapa.
Ciel pun berlalu menuju keluar. Alois melihat punggung sahabatnya itu menjauh. Ia pun nampak terdiam sebentar, kamudian turun dari sofa dan mulai berjalan menuju kamarnya.
.
.
Tiga puluh menit yang lalu, kereta meninggalkan halaman manor house Phantomhive, dan kini sudah setengah perjalanan menuju Diamond Lake. Selama perjalanan, Alois terus termenung. Ia menoleh ke arah jendela sambil berpangku tangan di kusen jendela. Wajahnya terlihat tak bersemangat. Ciel yang duduk di sampingnya hanya bisa melihatnya dengan tatapan serbasalah.
Lizzie dan Diana malah kebalikannya. Mereka nampak sibuk sendiri. Mereka duduk bersisian, berhadapan dengan Ciel, Alois dan Sebastian yang duduk sebangku. Lizzie menceritakan apa-apa saja yang ia lihat di sekitar. Kereta berjalan melewati jalanan yang di kanan kirinya terdapat pepohonan pinus menjulang tinggi. Begitu asri dan udaranya segar.
"Lizzie… sungguh! Aku baru pertama kali kemari. Kau sungguh tepat memilih tempat untuk rekreasi." Puji Diana.
"Begitukah?" Lizzie malah ber-hehe ria. "kalau begitu syukurlah." Diana dan Lizzie pun tertawa.
"Apakah Nona Diana pernah mendengar nama Diamond Lake?" tanya Sebastian tiba-tiba. Diana terperangah dan menatap Sebastian.
"Oh? Pernah. Aku mendengarnya dari teman Ayah. Tapi… itu sudah lama sekali." Kata Diana. "apa kau tahu? Seperti apa danau tersebut?"
Sebastian tersenyum. "Seperti kata orang. Bila permukaan air danau terkena sinar matahari, air danau tersebut akan berkelip-kelip layaknya sebuah intan. Airnya jernih dan bersih. Kata orang juga, air danau tersebut dapat dipercaya mempercantik kulit wajah."
"Benarkah itu? Aku baru mendengarnya." Diana nampak tertarik dengan cerita-cerita Sebastian.
"Itu benar, Kak. Diamond Lake, danau yang tersembunyi di balik hutan pinus yang sejuk. Pemandangannya juga indah. Kita juga bisa bersampan ria di sana."
"Ooh… aku sudah tak sabar ingin melihatnya langsung…!" rengek Diana tak sabaran. Lizzie, Diana dan Sebastian pun tergelak. Sementara Lizzie dan Diana masih asyik tertawa, Sebastian perlahan terhenti. Ia menoleh ke arah tuan mudanya yang nampak membelakanginya. Ciel nampak memperhatikan sahabatnya dalam-dalam. Melihat ekspresi Ciel dan Alois, Sebastian hanya bisa membuang napas.
Walaupun Alois nampak seperti tak menikmati perjalanan, tapi sebenarnya ia menikmatinya. Hanya saja… kenikmatannya itu tak terdukung oleh ekspresi wajahnya yang sudah terbiasa termenung itu. Matanya memandang sekitar. Sesekali ia menengadahkan kepalanya sedikit demi melihat pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Sinar matahari tak begitu terik pagi ini. Udara juga sejuk dan menyehatkan. Di dalam hati, Alois membenarkan ajakan Ciel tadi pagi. Memang sesekali mata dan tubuhnya harus dimanjakan seperti ini.
Ciel menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Alois. Ia menyadari tatapan mata Alois yang nampak antusias itu. Walaupun tak begitu terlihat.
"Kau bisa lihat? Pohon-pohon pinus itu." Ciel menunjuk pohon-pohon pinus yang terjejer rapi di pinggir jalan itu. "kau bisa menebak berapa tingginya?"
Alois menoleh ke arah Ciel dalam diam. Matanya menyiratkan rasa penasaran. Ciel tersenyum lebar. "Tinggi mereka bisa mencapai lima belas meter. Atau bahkan lebih, menurutku. Aku tahu dari beberapa buku yang kubaca." Kata Ciel. Mata Alois melebar menatap pohon-pohon pinus itu lagi. Ciel diam memperhatikan tingkah laku Alois. sepertinya… Alois menikmati perjalanan ini walaupun tak tersenyum sekalipun. Walaupun begitu, Ciel merasa senang. Ia masih berharap Alois mau tersenyum hari ini… dan seterusnya.
.
.
Sesampainya di danau, kereta pun berhenti. Lizzie, Diana, Ciel dan Alois pun turun. Sementara Sebastian menurunkan beberapa barang keperluan mereka dengan dibantu oleh kusir. Suasana danau terlihat sedikit lengang karena hari ini bukan hari libur umum. Beberapa orang nampak bersampan ria di tengah-tengah danau yang begitu luasnya. Lizzie dan Diana berbinar-binar melihat pemandangan di sekitar danau.
"Uwaaah! Indahnyaaa!" seru Diana.
"Benar, benar! Sama sekali tak berubah! Masih tetap indah seprti dulu!" timpal Lizzie.
Ciel tersenyum melihat pemandangan di sekitarnya. Benar kata Lizzie. Masih sama seperti saat terakhir ia mengunjungi danau ini bersama bibi Angelina dan keluarga Lizzie beberapa bulan yang lalu.
"Alois. Pemandangan yang indah bukan?" Ciel menoleh ke arah Alois yang berdiri di sampingnya.
Alois memandang ke sekitar. Memang indah. Indah sekali. Ciel merasa puas melihat bahasa wajah Alois. Walaupun bibirnya masih mengkerut, tapi matanya seperti menyiratkan bahwa ia senang sekali berada di sini. Dan tiba-tiba, Alois mengangguk.
"Kau benar. Pemandangan di sini indah." Kata Alois datar. Ciel tercekat mendengar kata-kata itu. Akhirnya… sahabatnya itu berujar juga setelah sekian lama.
"Cieeel!" tiba-tiba terdengar suara gadis memanggil dengan nada cemprengnya yang khas. Ciel langsung menoleh.
"Ayo! Kita naik sampan! Masih ada dua sampan yang tidak dipakai, lho!" Lizzie melambaikan tangan dari jauh. Tepat di bibir danau. Sementara Ciel masih berdiri tak jauh dari kereta. Ciel mengerjap-negerjapkan matanya.
"Ayoo!" seru Lizzie lagi. Ciel melihat Sebastian sudah menuntun Diana untuk naik ke atas sampan, dan berikutnya Lizzie. Ciel pun menoleh ke araj Alois. dan dengan waktu yang bersamaan, Alois juga menoleh ke arahnya. Mereka berpandangan sejenak.
"Eerrm… ada baiknya jika kita bergabung." Kata Ciel canggung. Tapi kemudian, ia menggandeng tangan Alois dan mengajaknya berlari menuju bibir danau. Alois sedikit tercekat karena tangannya di tarik oleh Ciel. Ciel terlihat bersemangat dan ceria sekali. Sama seperti tiga orang di depan sana. Alois menatap Ciel yang nampak membelakanginya. Ciel mengajaknya berlari-lari kecil menuju bibir danau. Rambut kelabunya melambai-lambai seiring langkah yang ia hentak-hentakkan. Alois sedikit terpesona melihatnya. Diam-diam, ia menyunggingkan seulas senyum tipis.
.
.
Lizzie duduk di satu sampan bersama Diana dengan tuntunan Sebastian tentunya. Sebastian nampak mendayung sampan tersebut sambil sesekali menceritakan asal-usul danau. Lizzie yang sudah tahu menjadi tambah tahu, sedangkan Diana yang baru tahu jadi mempunyai tambahan pengetahuan baru.
Di belakang, Ciel dan Alois menyusul. Karena mereka laki-laki, tentu saja mendayung sampan sendiri! Walaupun begitu, Ciel menikmatinya. Kepalanya ia tolehkan ke kana dan ke kiri. Suasana danau yang masih sedikit berkabut membuat suasana menjadi tentram. Hanya terdengar bunyi gemericik air. Ciel terpaku pada pemandangan danau yang terletak di dataran tinggi ini. Bukit-bukit terlihat jauh di sana.
"Aku rindu sekali dengan pemandangan di sini…" kata Ciel tanpa menoleh ke arah Alois. mendengar itu, Alois tetap diam dan sibuk mendayung. Sesekali ia juga memandangi pemandangan di sekitar. Tapi tidak seantusias Ciel dan yang lainnya. Ia justru sedikit gengsi. Tapi, ia tak bisa memungkiri keindahan pemandangan di sini.
Tak terasa, mereka semua sudah berada di tengah-tengah danau. Danau ini begitu luas! Untuk bisa mencapai setidaknya di tengah-tengah danau membutuhkan waktu beberapa menit. Diana asyik melihat pemandangan sekitar dengan teropongnya. Sesekali ia mengajak Lizzie untuk melihat bersama dan bergantian memakai teropong tersebut. Sebastian hanya terdiam sambil mendayung. Melihat gadis-gadis lugu tersebut tertawa-tawa ceria mengundangnya untuk menyimpulkan senyum kecil.
Alois menatap kesamping sambil sesekali meluruskan tunjukkan telunjuk Ciel yang nampak sedang menjelaskan sesuatu lebih jelas padanya. Alois sama sekali tidak bicara saat itu. Ia hanya menjadi pendengar setia. Ciel hari ini sedikit cerewet dan banyak tersenyum kagum. Alois melirik ke arah Ciel diam-diam. Melihat wajah ceria sahabatnya itu, entah kenapa hatinya jadi merasa sejuk. Senyuman Ciel terlihat berbeda dari biasanya. Alois bertanya dalam hati. Apakah ia bisa tersenyum seperti itu lagi?
Alois kembali menolehkan kepalanya. Menatap bukit-bukit yang mengelilingi danau dengan tatapan teduh. Tenang… dan santai. Namun tiba-tiba, ia merasakan sebuah keganjalan. Wajahnya yang tadi terlihat tentram, sekarang sedikit mengkerut. Ia menautkan kedua alisnya. Ia merasa aneh. Satu tangannya kini mulai menjamah bagian belakang tubuhnya. Tunggu! Ia merasa… basah? Ya! Basah. Alois makin mengerutkan alisnya. Bagaimana bisa celana dan coat bagian bawahnya basah? alois pun sedikit gelisah dan berusaha mencari tahu ada apa dengannya.
Ciel tak sengaja melihat tingkah laku Alois yang sedari tadi grasak-grusuk sendiri. Ia merasa heran.
"Ada apa?" tanyanya. Tapi Alois tetap diam. Alois pun sedikit mengangkat pantatnya dan meraba celananya. Air! Alois terbelalak. Ia pun berbalik dan menatap tempat yang ia duduki. Tunggu! sampan ini berlubang! Alois tiba-tiba menjadi panik. Sampan ini bisa tenggelam!
"Ada apa?" tanya Ciel lagi. "hei!" Ciel pun mendekat. Tapi sebelum mendekat, Alois sudah berbalik dan berkata dengan suara keras.
"Ciel! Sampan ini berlubang! Airnya masuk dan terus bertambah! Kita bisa tenggelam!" kata Alois tanpa titik. Ia mulai panik. Sementara Ciel hanya bisa ber-'ha?' ria.
"Ap-apa?" nampaknya, Ciel juga mulai panik. Matanya terbelalak. Bagaimana tidak? Ini ditengah-tengah danau, lho!
"Ciel! Kembali! Putar balik! Kita harus segera menuju pinggir danau! Kita bisa tenggelam!" seru Alois. Ia nampak menutupi lubang dengan coatnya sambil bangun dari duduknya. Sampan pun goyang-goyang.
"Alois! Tunggu! Jangan goyang-goyang! Cepat duduk! Kita bisa jatuh ke danau!" Ciel nampak kewalahan.
"Apa kau bilang?" kini Alois malah berdiri dengan lututnya. "cepat dayung balik!"
"Ka-kau gila! Bagaimana bisa aku mendayungnya sendiri!" protes Ciel. Dan terjadilah perang mulut di tengah-tengah kepanikan antara Ciel dan Alois.
Sementara Lizzie dan Diana nampak heran dengan sikap mereka dari kejauhan.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa panik seperti itu?" tanya Lizzie.
"Apakah… sampan Tuan Muda berlubang dan kemasukan air, ya?" tiba-tiba Sebastian menyeletuk tanpa merasa bersalah. Mendengar itu, Lizzie dan Diana pun menoleh ke arah butler hitam itu dengan cepat. Matanya terbelalak. Sementara Sebastian melirik ke arah mereka dengan tatapan heran. Seakan bertanya 'ada yang salah dengan penampilan saya?'. Dasar lelet! Akhirnya beberapa detik kemudian, Sebastian sadar.
"Tuan Muda!"
"Aloiiss!"
"Ciell! Aloiiss!" begitulah teriakan-teriakan mereka setelah menyadari apa yang terjadi.
Sementara itu, Ciel dan Alois masih panik-paniknya.
"Alois! duduk! Kalau kau seperti itu, sampannya bisa oleng!" seru Ciel.
"Kita harus menutup lubangnya! Hei, Ciel! kau harus membantuku!"
"Dasar bodoh! Kalau kau terus bergerak-gerak begitu, kita bisa jatuh ke danau! Kau tak mendengarku, hah?"
"Kau ini! Kita sekarang sedang di ujung tanduk! (?) Kau mau mati?" Alois mendekati Ciel tanpa mempedulikan keseimbangan. Ternyata, penyakit trauma akan Titanic masih membekas di benaknya.
"Alois! Jaga keseimbangan!" teriak Ciel sambil memegangi dayung. Benar-benar di ujung tanduk. Sampan tidak seimbang, air terus saja masuk memenuhi sampan.
"Astaga! Airnya terus bertambah! Bagaimana ini, Ciell!" Alois main menggila. Ia pun berdiri sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ciel.
"A-Alois!" daan… hal yang dikhawatirkan Ciel pun terjadi. Sampan pun oleng ke kanan, dan mereka jatuh ke danau.
"Waaa!"
BYUURR!
Melihat Ciel dan Alois jatuh (baca= nyebur) ke danau, Lizzie, Diana dan Sebastian sudah kalang kabut.
"Ciel! Alois!" seru Lizzie sambil memegangi pinggiran sampan.
"Tolong mereka, Sebastian! Mereka bisa tenggelam!" Diana segera mendesak Sebastian. Sebasian pun alih-alih bersiap akan terjun. Tapi sesaat sebelum Sebastian terjun, Ciel dan Alois muncul lagi kepermukaan.
"Tolooong!" seru Alois. Sebenarnya dia bisa saja berenang. Tapi karena paniknya, dia lupa untuk berenang. Ciel juga panik karena dia asli tidak bisa berenang.
"Tolong! Uhuk!" Ciel terbatuk-batuk karena kemasukan air. Mereka berkecipak-kecipak sambil meminta tolong dnegan panik. Tapi, sedetik kemudian, mereka menyadari sesuatu dan berhenti berteriak. Mereka merasa kakinya dengan udah menapak di dasar danau. Dan lagi. Setelah mereka mencoba berdiri, air danau ternyata tidak seberapa dalamnya. Hanya sepundak untuk Ciel, dan sedada untuk Alois.
Alois dan Ciel pun diam sambil berpandang-pandangan. Mereka nampak tenang dipermukaan air. Lizzie dan Diana juga ikut diam walaupun khawatir. Sementara Sebastian hanya melihat mereka heran. Dua sahabat itu berpandang-pandangan hingga akhirnya mereka tertawa bersama. Tertawa karena geli atas apa yang mereka lakukan.
"Ahahahaha!" Alois tertawa terbahak-bahak, membuat Ciel keheranan. Dari jauh pun Lizzie dan Diana juga keheranan.
"Ahahahaha! Aku tidak tahu. Ternyata danaunya dangkal!" Alois tertawa lagi. Ciel tertegun melihat sahabatnya itu tertawa. Sudah sekian lama ia tidak tertawa selepas itu. diam-diam Ciel tersenyum.
"Kau benar!" kata Ciel. ciel sama sekali tak tertawa. Malah, sebenarnya dia ingin merutuki dirinya sendiri karena sudah panik takut tenggelam di danau yang dangkal ini!
Akhirnya, Sebastian pun datang dan menuntun mereka ke sampan Lizzie dan Diana.
.
.
"Kenapa kau tak bilang kalau air danaunya dangkal!" Ciel pun protes-protes.
"Anda tidak bertanya kepada saya. Bagaimana saya mau menjelaskan." Jawab Sebastian. Mendengar itu, Ciel tertohok.
"Apa?" yang lain pun tertawa.
Tiba-tiba Alois berhenti tertawa dan menatap horor pada Ciel. "Ciel. Acara kecebur tadi bukan rencanamu juga, kan?"
"A-aku… bukan! Aku tidak tahu!" Ciel kelabakan. Melihat Ciel panik, Alois pun tertawa. Diikuti Lizzie dan Diana.
"Baiklah, baiklah… sekarang lebih baik Anda berdua ganti baju. Ini saya ambilkan handuk." Sebastian pun menyetop candaan dan menyerahkan dua lembar handuk. Sementara Diana mengeluarkan beberapa bekal makanan dari keranjang yang terbuat dari anyaman rotan. Tak lama kemudian, Sebastian membantunya. Di sisi lain, Ciel dan Alois mulai mengeringkan badannya—terutama—yang tak tertutup baju dahulu.
Mereka mengeringkan badan mereka dengan seksama. Gerakan mereka sama persis. Dari bagian wajah, mereka menggerakkan tangannya dari bagian jidat, lalu pipi, baru keseluruhannya. Bagian tangan, mereka mengutamakan yang kanan dahulu. Utnuk bagian rambut, mereka mengeringkannya bukan dengan cara yang kasar, tapi pelan-pelan. Lalu turun ke leher, ada sikap yang khas dari mereka berdua yang sama persis. Yaitu memutar leher mereka sambil mengelapnya dengan handuk. Gerakan mereka sama, walaupun belum tentu bersamaan. Melihat itu, Lizzie terlihat heran sekaligus kagum.
"Eeh? Lho, kok?" Lizzie menunjukkan jari telunjuknya. Mendengar suara Lizzie yang naik satu oktaf, Diana dan Sebastian pun menoleh. Mereka pun melihat keadaan yang sama sebelum akhirnya Ciel dan Alois menoleh ke arah Lizzie. Sebastian nampak kagum. Sementara Diana terbelalak.
Ciel dan Alois pun menoleh ke arah Lizzie secara bersamaan.
"Ya?"
"Ada apa?"
Lizzie tercekat saat mereka berdua melihat ke arahnya. "A… itu… kenapa gerakan kalian bisa sama persis?" katanya. Seketika, Ciel dan Alois tidak percaya.
Sementara itu, Diana terus memperhatikan mereka. Matanya terbelalak tak percaya. Atau lebih pas dikatakan khawatir dari pada memperhatikan. Tiba-tiba saja, ia merasakan kekhawatiran yang besar. Bukan khawatir karena Ciel dan Alois seperti terluka atau apa. Tapi… kekhawatiran karena takut. Ya. Ketakutan yang mulai detik ini membuncah lagi setelah sekian lama. Gerakan mereka yang sama itu… mengingatkannya akan masa lalu. Membuat hatinya nyeri. Diana pun menempatkan tangannya di dada dan meremas kerah bajunya.
"Eh?" Ciel dan Alois pun berpandangan. "benarkah itu?" Alois pun menoleh lagi ke arah Lizzie. Lizzie mengangguk.
"Kok bisa, ya? Jarang-jarang, lho ada orang yang gerakannya bisa sama seperti itu." kata Lizzie. Ciel melirik ke arah Alois, lalu menoleh lagi ke arah Lizzie.
"Uum… kata orang-orang, gerakanku saat mengeringkan tubuh dengan handuk sama seperti kebiasaan Ibu." Kata Ciel.
"Kalau aku sudah terbiasa seperti ini dari kecil." Timpal Alois. lizzie hanya menatap mereka dengan tatapan tak percaya sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.
"Waah… itu jarang terjadi, lho Tuan Muda, Tuan Alois. saya saja sampai heran melihatnya. Yang barusan itu kejadian langka lho. Biasanya… yang mungkin gerakannya bisa sama seperti itu adalah saudara sedarah. Tapi… Anda berdua, kan, hanya sebatas sahabat. Saya kagum melihatnya." Sebastian terkekeh.
"Mungkin… Aku dan Ciel memang sudah ditakdirkan untuk bersama, ya?" Alois tertawa. Diikuti Ciel yang hanya terkekeh. Mau tak mau, Lizzie yang sedari tadi keheranan akhirnya pun ikut tertawa.
Sementara semuanya tertawa, di belakang tak jauh dari mereka terlihat siluet yang nampaknya tak seirama dengan mereka yang memunggunginya. Diana menatap Ciel dan Alois dengan tatapan sedih, takut dan khawatir bercampur menjadi satu. Tak sengaja, Sebastian menoleh ke arah Diana sambil tertawa renyah. Tapi, sesaat kemudian surut saat melihat ekspresi nona berambut cokelat tersebut. Alisnya mengerut. Ia heran dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan?
Diana menatap nanar kedua pemuda di depanya yang tengah tertawa-tawa itu. Tak lama kemudian, Diana pun menunduk. Ia mengeratkan satu tangannya yang bebas.
'Jangan sampai kekhawatiranku ini… menjadi kenyataan.'
.
.
To Be Continued
A/N: Hyaaaah! Akhirnya selesai. Daan… tambah lagi masalah, nih, kayaknya ==. Entah kenapa saya kesambet ide seperti ini. Maaf kalau apdetnya lama. Apalagi yang STILL. Harap sabar. Saia sedang membuat kelanjutannya setelah sekian lama saia tingaalkan itu fic. Itu juga atas perhatian para pembaca. *dalem ati: ternyata cerita abal gitu ada juga yang pingin lanjut* *lho?* tapi gak apa. Saia bakal ngelanjutin kok. Tunggu, ya? Sekali lagi maaf banget buat para readers yang menunggu-nunggu kelanjutan fic 'STILL' saia DX.
Akhir kata….
Review? :D
