Akhirnya apdet jugaaa!
Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:
Al-chan: Yee… hahaha…. Gpp. Gak maksa kok. Makasih reviewnya. ^^
Sara Hikari: My dear Sara! XD makasi… hehehe. Iya. Aku pingin aja buat mereka konyol gt. Biar ada sedikit humor2nya gt *pdhl aslinya gak bakay bgt bkin humor! Sumpahh!* makasih reviewnya. ^^
Arlein Uchiha Trancy: Hai… ketemu lagi. Iya. Alois mati di situ. Makasih reviewnya ya…. ^^
Matsumoto sayaka: Makasih reviewnya. Hehehe…. Saia emang gak bakat bikin humor! Sumpah deh! *stres sendiri* Diana? Hehehe…. Baca dulu. Nanti juga tau ^^
Pichipichi-pit: Hai…. Makasih reviewnya. Iya kah? Nyesek? Asal jgn kselek *gak nyambung* iya. Saia pengen bikin mereka se-OOC mungkin! ^^
Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso
Rated: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Summary: 'Ini adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bagiku. Dan kita… akan terus bersama selamanya. Iya, kan?'
Warning: Typo(s) maybe, OOC banget!
Enjoy… ^^
.
.
JOURNEY
.
.
Chapter 5: A Secret
Dua hari berlalu.
Alois kembali menjalani hari-harinya dengan senyuman. Mengumbar tawa ke seantero mansion Phantomhive. Kepribadiannya yang suka ribut dan manja itu selalu berhasil membuat semua orang tersenyum. Ciel dan Lizzie pun tersenyum melihatnya. Tapi mereka tahu. Masih ada sedikit beban yang ditanggung pemuda berambut pirang itu. beban yang masih membuatnya tegang menunggu. Yaitu Claude yang masih belum ada kabarnya. Tatapannya tiap malam saat menatap bintang seakan berubah menjadi tatapan rindu dan sedih. Ciel dan Lizzie tahu. Alois pasti merindukan butlernya itu. Tapi dibalik itu semua, Alois sudah kembali tegar.
Pagi hari mulai menyambut. Sinar matahari perlahan muncul dan mulai menghangatkan permukaan bumi. Cuaca yang semalam hujan meninggalkan butiran-butiran air hujan yang tertinggal di permukaan dedaunan, berkilau terkena sinaran matahari. Beberapa burung terbang dan hinggap di ranting-ranting pohon, bercengkerama dengan asyiknya, dan terbang lagi dari ranting pohon satu ke ranting pohon yang lain.
Alois berjalan menapaki jalan setapak yang terbuat dari batu-batuan di halaman belakang mansion. Udaranya sejuk dan segar. Alois tersenyum sambil mengirup udara segar itu hingga memenuhi paru-parunnya yang tadinya terasa lembab. Sudah lama rasanya ia tak pernah keluar rumah pagi-pagi begini. Ya… kalian pasti tahu sejak saat pamannya meninggal, Alois selalu mengurung dirinya di dalam mansion.
Alois berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan riang. Membuat bagian bawah coat ungunya bergerak-gerak ringan. Melambai-lambaikan helai rambutnya yang halus. Ia memandangi sekitar. Pepohonan dan bunga-bunga terlihat segar pagi ini. halaman yang luas, pikirnya. Di mana-mana selalu ditumbuhi bunga-bunga dengan berbagai jenis dan warna. Mata Alois seakan terbelalak melihat warna-warna yang begitu mencolok dan menggiurkan itu.
Alois menghampiri salah satu gerombolan bunga mawar berwarna putih kebiruan. Ia hendak memetiknya beberapa untuk hiasan kamarnya. Ia merasa kagum dan gemas melihat kelopak-kelopak mereka yang basah akibat hujan semalam. Dengan hati-hati, Alois membungkukkan tubuhnya, menjatuhkan tubuhnya di atas tanah dengan ditopang lutut dan bersiap memetik.
"Hati-hati, Tuan Alois. Durinya tajam." Tiba-tiba seseorang berkata. Alois tercekat dan segera menoleh. Seketika itu, nampaklah seorang pemuda berambut pirang dengan topi jerami yang ia kalungkan di leher. Pemuda itu terlihat tersenyum ramah pada Alois.
"Fi-Finnian?" kata Alois terbata-bata.
"Selamat pagi, Tuan Alois…!" sapa Finnian riang. Alois hanya terkekeh heran. Ternyata, ada juga orang yang hampir menyaingi kehiperaktivannya di mansion ini. Finnian, misalnya.
"Tumben…" Finny mulai berkata sambil membungkukkan tubuhnya.
"He?" Alois terlihat bertanya-tanya.
"Tumben Tuan Alois jalan-jalan pagi di halaman belakang?" Finny menaikkan sebelah alisnya. Alois hanya terkekeh.
"Entah kenapa… aku jadi ingin jalan-jalan kemari. Apa lagi… di mansion ini banyak sekali bunga-bunga. Membuat mataku segar." Katanya. "sudah lama aku terus-terusan mengurung diri di dalam, kan?" Alois pun mulai menarik tangkai bunga mawar itu. tapi segera dicegah oleh Finnian.
"Jangan pakai tangan kosong. Nanti bisa tertusuk duri." Finnian pun mengeluarkan gunting bunga dan menggunting beberapa bunga untuk Alois. Alois tertegun sejenak. Tak lama kemudian, Finnian menyerahkan bunga-bunga yang sudah ia hilangkan durinya itu pada Alois.
"Silakan bunganya, Tuan Alois." katanya sambil menyondorkan bunga-bunga itu pada Alois. Ia tersenyum hingga matanya nyaris tenggelam. Alois menerima sondoran bunga itu sambil sedikit terperangah. Ia menatap bunga-bunga ditangannya itu teduh, kemudian perlahan tersenyum lembut.
"Anda tahu?" tiba-tiba Finnian berkata. Kepalanya ia tengadahkan ke atas, menatap birunya langit. "saat Tuan Alois mengalami masa-masa berat beberapa hari yang lalu, saya merasa sedih." Katanya sambil menerawang. Alois terhenyak dan menoleh dari bunganya.
"Suasana yang biasanya ramai dengan suara-suara Anda… tiba-tiba hilang begitu saja. Rasanya… begitu sepi." Lanjut Finnian. Mendengar itu, Alois merasa bersalah. Ia pun menundukkan kepalanya sedikit, menatap serbasalah bunga-bunga di dalam genggamannya itu. Finnian menoleh ke arahnya yang nampak murung itu.
"Tapi…" Finnian berlutut dan melingkarkan satu lengannya di pundak Alois. Menepuk-nepuknya pelan. "sekarang saya begitu senang melihat Anda tersenyum lagi. Dan saya berharap… jangan sampai Anda murung lagi seperti beberapa hari yang lalu." Alois tercekat ketika lengan Finnian bertengger di pundaknya. Finnian mendekapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Baru kali ini ia merasakan didekap orang lain selain Claude dan Ciel. Finnian menatapnya sambil tersenyum lagi. Seketika itu, senyuman Finnian seakan menular pada Alois sehingga pemuda bermata biru muda itu ikut tersenyum.
"Terimakasih…" kata Alois begitu saja. Finnian pun alih-alih mengajaknya berkeliling halaman dan menawarkan beberapa bunga untuk Alois dengan semangatnya. Lelaki berambut kuning itu memetikkan beberapa bunga dengan jenis yang berbeda dengan cekatan. Alois hanya heran sambil terkekeh-kekeh. Tapi ia juga tak bisa menolaknya karena bunga-bunga di halaman ini benar-benar indah. Dan dalam sekejap, sudah bertengger banyak bunga di pelukannya. Bunga mawar, tulip, lily dan masih banyak lagi.
"Finny…?" tiba-tiba seseorang memanggil. Finnian dan Alois pun menoleh. Nampaklah seorang pemuda sedang terheran-herannya.
"A… Tuan Muda…? Hehehe…" Finnian hanya bisa tersenyum sejadinya sambil mengusap-usap kepala.
"Kau yakin bunga-bunga itu cukup untuk menghias kamar?" kata Ciel sambil menunjuk. Finnian hanya terkekeh-kekeh. Sementara Alois menahan tawa sambil menangkupkan telapak tangannya menutupi mulut.
"Sudahlah… tak apa. Bunga-bunga ini juga sekalian untuk kamarmu saja. Kan bisa?" timpal Alois. Ciel hanya bisa sweatdrop.
"Tapi… sebanyak itu…?" Ciel pucat seketika. Dia membatin, 'bunga-bungaku…' dengan melasnya.
"AH?" Finnian berseru. Wajahnya puct seketika. "Tuan Muda… sa-saya kehilangan kendali… saya tidak sadar bakal memetik bunga-bunga indah itu sebanyak ini…" Finnian nagis-nangis sambil sujud. Alois hanya terkekeh-kekeh heran. Tiba-tiba, Ciel terkesiap.
"Ah, sudahlah. Lupakan." Ciel mengibas-ngibaskan tangannya. "toh, apa gunanya menanam bunga bila tidak digunakan? Hanya dibiarkan mati begitu saja?" kata Ciel. "Finny! Bawakan bunga-bunga Alois ke dalam! Taruh mereka di vas bunga dan jangan lupa beri air!" Ciel memberi perintah. "Yes, My Lord!" seru Finnian sambil memberi hormat. Setelah itu, segeralah ia meminta tiga per empat dari bunga yang berada di pelukan Alois dengan sopan, lalu membawanya masuk. Alois sedikit tersentak saat bunga-bunga itu diminta, tapi kemudian ia bernapas lega sambil menyimpulkan senyum.
"Ehem!" Ciel berdeham. Seketika itu Alois tersentak. "tumben sekali kau keluar pagi-pagi begini?" tanya Ciel. Alois melirik ke arah Ciel. Ia pun tersenyum sambil menunduk, memperhatikan bunga-bunga di dalam dekapannya.
"Kau tahu sendiri, kan? Sudah lama aku tidak keluar rumah? Kau sendiri yang bilang kalau aku terus-terusan di dalam rumah, tubuhku bisa-bisa membusuk." Ia menengadahkan kepalanya menatap sahabatnya itu. Ciel hanya mendesah sambil menyimpulkan senyum kecil.
"Kau benar…" katanya lembut.
Matahari sudah mulai meninggi. Sinarnya kini mulai menyengat. Burung-burung bercicit-cicit dengan riangnya. Kupu-kupu beterbangan dengan indahnya dari satu tangkai bunga ke tangkai bunga yang lain. Ciel dan Alois tengah duduk bersisian di atas bangku taman yang terbuat dari besi yang permukaannya diukir dengan aneka bentuk bunga dan daun serta bercat warna-warni. Mereka nampak terdiam satu sama lain. Sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, menikmati hangatnya matahari yang menyoroti mereka.
"Ciel…" tiba-tiba, Alois membuka suara. Ciel menolehkan kepalanya.
"Hm?" gumamnya simpati.
"Waktu itu…" kata Alois menggantung. Ia ragu. "waktu itu… aku hampir saja beranggapan bahwa…. Aku mungkin tak akan bisa tertawa lagi. aku berpikir… mungkin selamanya aku tak akan bisa bahagia lagi." katanya sambil menerawang. Ciel menatap dengan seksama seraya mendengarkan perkataan pemuda berambut pirang di hadapannya itu.
"Aku tak mengira… mau bisa membuatku tertawa lagi." Alois menoleh ke arah Ciel. "terimakasih." Alois menyimpulkan senyum lembut. Wajahnya putih mulusnya terkena sorotan sinar matahari, membuat wajahnya terlihat bercahaya. Ciel sempat dibuatnya merona merah. Ia terpesona dan tertegun sesaat. Tapi sedetik kemudian, ia berusaha bersikap wajar.
Ciel kini menatap dalam mata turquois milik sahabatnya itu. Agak lama. Kemudian ia berpaling pada bunga-bunga kecil berwarna merah cerah yang tak jauh darinya itu. Segeralah ia memetik setangkai bunga yang ada di dekatnya. Bunga itu berwarna merah cerah. Ia menatap teduh bunga itu sejenak.
Alois heran dan memiringkan kepalanya. "Ciel…?" tanyanya. Ciel memutar-mutar tangkai bunga itu asal. Ia pun menatap Alois dan tersenyum. Seketika itu, ia menyematkan tangka bunga itu di telinga kanan Alois. Alois sungguh tak mengira. Matanya terbelalak. Ciel menyawang sejenak bunga di telinga sahabatnya itu.
"Ternyata benar… Kau memang terlihat manis kalau kau tersenyum." kata Ciel lembut. Mata sapphirenya menatap teduh mata turquois di hadapannya.
"Aku senang kau bisa tersenyum lagi." kata Ciel lagi. Alois kini malah menunduk malu. Sesekali melirik ke arah Ciel. Menyadari itu, Ciel sedikit geli. "aah… kau ini! Ternyata kau punya malu juga, ya?" katanya sambil menggoyang-goyangkan kaki Alois.
"Kau ini! Jangan buat aku malu, bodoh!" Alois protes. Ciel hanya tertawa lepas. sesekali ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Ciel tertawa begitu renyah dan terlihat imut sekali. Tak terasa, Alois pun ikut tertawa pelan.
Sementara Ciel masih tertawa, Alois terdiam duluan. Ia menatap wajah di hadapannya. Wajah yang begitu cerianya, begitu cerahnya hingga rasanya menyilaukan. Melihat tawa di wajah itu, Alois merasa tentram dan damai. Ternyata benar, ya? Tawa dan senyum itu bisa membuat siapa saja merasa tenang. Alois pun menyimpulkan senyum kecil. Setelah lama memandangi Ciel, ia pun mengambil ancang-ancang dan segera saja memeluk pemuda berambut kelabu itu. Ciel—tentu saja tersentak bukan main saat itu. Mata biru tuanya membulat besar, dan tawanya pun terhenti seketika. Sementara Alois menempelkan kepalanya di atas dada Ciel hingga mungkin ia bisa mendengar degub jantung sahabatnya itu.
"A-Alois…" kata Ciel terbata-bata. Wajahnya pun berubah merah. Ia tak bisa melakukan apa-apa di saat-saat seperti ini. Seakan ia tak bisa bergerak. Alois yang tak menyadari tingkah Ciel yang sudah salting itu hanya diam saja dan menikmati pelukannya. Ia mengusap-usapkan kepalanya lebih dalam di dada Ciel dengan manja. Atau lebih tepat… manja dengan arti menyayangi. Setelah sedemikian detik Ciel terkaget-kaget, ia pun mulai menyesuaikan diri. Ia tahu sahabatnya ini memang manja dan bakal melakukan hal-hal tak terbayangkan sewaktu-waktu seperti saat ini. Tapi… itu tak akan jadi masalah buatnya. Bagaimanapun, ia akan tetap menyayangi Alois seperti ia menyayangi dirinya sendiri. Ciel pun dengan gerakan kaku mulai menempatkan kedua lengannya di punggung Alois. Satu tangannya mengusap-usap rambut halus sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang. Membuatnya agar terasa nyaman. Di dalam dekapannya, Alois pun mulai merasakan kehangatan darinya. Alois pun tersenyum sambil memejamkan matanya, seraya mengeratkan pelukannya.
Angin berhembus semilir, melambai-lambaikan dedaunan dan menerbangkan kelopak-kelopak bunga dengan aneka warna. Beberapa kupu-kupu terlihat terhuyung sedikit karena diterpa angin. Tapi mereka bisa mengatasinya kemudian.
Ciel masih terus mendekap sahabatnya dengan erat. Matanya menatap teduh ke depan. Merasakan angin menerpa wajahnya lembut. Rambut kelabunya yang halus melambai-lambai lembut. Sementara Alois berlarut dalam dekapan Ciel. ia memejamkan matanya dan tersenyum. Ia merasa nyaman dalam pelukan Ciel. sudah lama ia tak merasakan dekapan hangat seperti ini. Walaupun ia tahu, Ciel mungkin agak canggung dengan kegiatan manja seperti ini. Walaupun ia gengsi. Tapi sebenarnya, pemuda bermata sapphire itu juga merindukannya. Alois pun menggelamkan pipinya di dada bidang Ciel.
'Aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertimu, Ciel…'
.
.
Diana nampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya yang luas. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya sambil meremat-remat telapak tangannya. Wajahnya nampak cemas dan takut. Keringat dingin perlahan membasahi kulitnya yang putih mulus. Pagi ini terpaksa tidak ia mulai dengan senyuman, tapi dengan wajah mengkerut cemas. Kenapa? Entah kenapa, semalaman tadi ia juga susah tidur. Pikirannya terbang ke waktu itu. Hari itu. Hari dimana hanya ia yang tahu. Setelah sekian lama hal itu ia lupakan, tiba-tiba ia teringat kembali. Sebuah kejadian yang menyangkut kematian keluarga Phantomhive. Juga hari dimana ia melihat kejadian ganjil di tepi danau. Diana melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan. Dasar sepatunya membentur lantai keramik. Kedua alisnya bertaut. Ia menggigiti kuku-kuku jarinya. Ia khawatir. Khawatir akan suatu kejadian fatal di keluarga ini.
Tiba-tiba, terdengar pintu diketuk. Diana serasa terlonjak dan menolehkan kepalanya cepat. Lamunannya kabur. Tak lama kemudian, pintu terbuka.
"Selamat pagi, Nona." sapa seseorang yang kini bertengger di depan pintu.
"Sebastian…" gumam Diana. Tetap memperlihatkan sisi kekhawatirannya.
"Saya membawakan herb tea untuk Anda." Sebastian pun masuk sambil mendorong kereta makanan. Diana hanya menatap butler serba hitam itu. Ia pun duduk di bibir tempat tidur.
Sebastian menuangkan teh hangat itu ke dalam cangkir porselen berwarna putih dengan aksen ukiran keungu-unguan dan menyerahkannya pada Diana. Saat menyerahkan cangkir itu, Sebastian menangkap wajah Diana yang nampak tidak tenang. Membuatnya mengernyit.
"Nona… kenapa wajah Anda kusam begitu?" tanya Sebastian. Diana tercekat. Ia pun menatap mata merah Sebastian. Tapi kemudian, ia menundukkan kepalanya.
Melihat itu, Sebastian memiringkan kepalanya. "Apakah… ada yang mengganjal hati Anda, Nona?" tanyanya bersimpati. Diana hanya diam. Ia memandangi teh di dlama cangkirnya yang tenang. Sebastian tersenyum lembut. "jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, bersediakah Anda berbagi? Begini-begini, saya adalah mendengar yang baik. Saya berjanji akan merahasiakan hal itu jika memang harus dirahasiakan." tawar Sebastian sambil berlutut di depan Nonanya. Ia tersenyum. Diana menatap nanar butler di hadapannya itu. Sebastian meyakinkan sekali lagi dengan mengangguk. Diana pun menelan ludah dengan berat.
"Sebastian…" panggil Diana lirih.
"Ya, Nona?"
"Kau janji… akan merahasiakan ini?" tanya Diana memastikan.
Sebastian meletakkan tangan di dadanya. "Saya berjanji, Nona." Mengetahui itu, Diana merasa lega. Ia pun mulai mencurahkan isi hatinya.
"Kau ingat…. Saat kita semua jalan-jalan ke danau?" tanya Diana.
"Ya. Saya ingat, Nona." Jawab Sebastian. Mendengar jawaban itu, Diana terdiam. ia tiba-tiba merasa ragu. 'Baikkah jika kau menceritakan ini pada Sebastian? Tapi… aku juga tak bisa memendamnya sendiri.' batinnya. Diana pun menghembuskan napas.
"Apakah… kau melihat kejadian ganjil… antara Ciel dan Alois saat itu?" tanya Diana ragu-ragu. Sebastian sedikit tercekat. Sempat terlintas perasaan curiga. Tapi, itu takkan jadi soal.
"Ya. Saya melihatnya karena jaraknya dekat dengan saya." Jawab Sebastian tenang. Diana terdiam lagi. Ia merapatkan bibirnya.
"Tidakkah kau merasa aneh?" tanya Diana. Pertanyaan tersebut langsung membuat Sebastian merapatkan bibirnya. Rasa curiga yang sedari tadi selalu ia tepis, kini muncul lagi.
"Saya sempat meraa aneh karena jarang sekali manusia memiliki kebiasaan yang sama persis." Kata Sebastian. "kecuali… kalau mereka sedarah dan satu keturunan. Hal itu mungkin masih bisa dibenarkan. Tapi… Tuan Muda dan Tuan Alois bukan saudara sedarah." lanjut Sebastian setelah beberapa jeda. Diana terkejut mendengar pendapat Sebastian.
"Kau yakin?" tanya Diana. Sebastian merasa aneh.
"Nona…?" Sebastian menyipitkan matanya.
Diana menarik napas. "Sebastian! Aku mohon… rahasiakan apa yang akan kukatakan padamu." Diana mencengkeram kedua pundak Sebastian. "aku mohon! Rahasiakan apa yang akan kuceritakan padamu…" katanya lagi. Sebastian merasa rasa curiganya memang benar. Mata merahnya terbelalak karena kaget.
"Sebenarnya… Ciel dan Alois… Ciel dan Alois…" Diana menggantung. Sebastian terlihat tak sabar menunggu kelanjutan yang ingin dikatakan oleh nonanya ini.
"Nona…?"
"Ciel dan Alois adalah saudara sedarah!" Diana menaikkan nada suaranya. Membuat Sebastian berhasil membulatkan kedua matanya.
"Apa?" kata Sebastian tak percaya. "ba-bagaimana bisa…?"
.
.
Malam turun menggerayangi hari. Kunang-kunang beterbangan ringan di udara. Jangkrik-jangkrik jantan saling adu suara untuk memikat jangkrik betina. Suaranya yang bising terdengar merdu di telinga. Samar-samar terdengar suara burung hantu yang bertengger di ranting pohon.
Seperti biasa, Alois menyempatkan diri untuk melihat bintang-bintang yang kebetulan terlihat jelas malam ini. Ia duduk di bangku taman sambil menengadahkan kepalanya. Mata turquoisnya menatap langit hitam dengan tatapan tenang. Alois mendesah, mengeluarkan udara dari hidungnya, lalu tersenyum. Ia menikmati malam ini.
Sedang asyik-asyiknya menikmati bintang, seseorang datang dan duduk di samping Alois.
"Apakah setiap menikmati bintang harus keluar?" tanya orang itu, membuat Alois kaget.
"Ciel…?" kata Alois. "kau ini mengagetkanku saja."
"Aku tanya." Kata pemuda bermata biru muda. "apakah setiap kau melihat bintang harus ke luar seperti ini?"
Alois terdiam. Ia tergelak sejenak. "Yaah… aku selalu merasa tidak puas bila hanya melihat dari jendela. Kalau seperti ini, kan… rasanya bebas sekali." Alois tersenyum puas.
"Kau tidak kedinginan?" tanya Ciel.
Alois menolehkan kepalanya. "Hm? Ah… tidak…" katanya sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Lalu ia kembali memandangi bintang.
Sunyi.
Sejenak mereka berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ciel…" panggil Alois pelan. Ciel yang duduk di samping Alois langsung menoleh.
"Ya?" jawabnya.
"Entah kenapa… aku selalu berpikir. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu saat berlayar dengan Titanic saat itu." kata Alois menerawang. Bibirnya menyimpulkan senyum kecil. Sedangkan Ciel sedikit memerah wajahnya.
"Kita sebenarnya tak jauh berbeda saat itu. yang sealu menuntut keadilan dan kebebasan. Benar, kan?" Alois menoleh. Ciel yang saat itu melihat Alois menoleh, sedikit tercekat. Tapi kemudian ia menunduk dan mengangguk.
"Aku… juga merasa beruntung." kata Ciel pelan. Alois menoleh.
"Benarkah?" Alois sedikit antusias.
"Sifatmu yang usil dan periang itu… sedikit mempengaruhi keberadaanku saat itu." Ciel tersenyum kecil. Alois terbelalak sedikit.
"Oh ya?"
"Sudah lama aku tidak tertawa dan tersenyum lebar seperti saat itu. Dan ketika kau datang… semuanya berubah." Kata Ciel lagi. "aku sangat berterimakasih karena kau mau hadir dalam hidupku…" Ciel menatap sahabatnya itu dengan lembut. "saat bertemu denganmu… aku merasa… kita sudah dekat sekali." Alois tertegun. Ia pun tersenyum.
"Aku juga." Kata Alois. "benar, kan kataku waktu itu? mungkin saja kita sudah ditakdirkan untuk bertemu dan bersama. Jadi… sebisa mungkin… jangan rusak hubungan persahabatan kita ini. apapun yang terjadi." Ciel mengangguk.
"Hei, Ciel…" Ciel dan Alois pun kembali memandangi bintang. "kau masih ingat dengan janji kita di kapal?"
"Hm? Tentu saja." Jawab Ciel tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya itu.
"Aku sempat berpikir… kita berjanji akan terus bersama hingga kematian memisahkan kita. Tapi…. Apakah kau tak pernah berpikir, kalau setelah mati nanti… kita masih bisa bertemu lagi di alam sana?" tanya Alois. Ciel nampak berpikir. Ia mengedip-ngedipkan matanya dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Benar juga." Kata Ciel mengiyakan. "kematian memang memisahkan kita, tapi hanya untuk sementara. Benar, kan?" tanya Ciel balik sambil menoleh. Alois mengangguk pasti.
"Jadi intinya… kita akan terus bersama walaupun akan sempat dipisahkan sementara." Kata Alois. Ia pun menyangga duduknya dengan menaruh telapak tanganya ke belakang. "setelah hidup kita di dunia berakhir… kita harus bisa bertemu lagi di alam sana."
"Kau benar." Ciel tersenyum.
"Kau janji?" Alois menawarkan janji baru sambil menunjukkan jari kelingkingnya. "apapun yang terjadi…. Kita akan terus bersama?" Ciel menatap jari kelingking Alois yang ramping. Beberapa detik kemudian, ia menautkan jari kelingkingnya bersama jari kelingking sahabatnya itu.
"Aku berjanji." Jawab Ciel yakin. Agak lama mereka berdua menautkan jari kelingking mereka di bawah rimbunnya bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Tapi kemudian, mereka melepaskannya.
Alois mendekatkan posisi duduknya dengan Ciel. perlahan tapi pasti, Alois pun menempatkan kepalanya di pundak kiri Ciel. membuat si rambut kelabu itu terlonjak kaget.
"A-Alois…!" Ciel seketika itu memerah wajahnya.
"Tidak apa… aku pinjam sebentar bahumu." Kata Alois. Matanya masih menatap ribuan bintang di langit.
"Kau ini… manja sekali…" Ciel malu-malu dan sedikit memberontak.
"Tapi kau mau kan berteman denganku?" goda Alois sambil menyeriangi. Kalau sudah begini, mau tidak mau, Ciel harus merasa kalah. Ia tidak tahan dengan godaan Alois yang selalu saja dapat melumpuhkannya. Beberapa detik kemudian, Alois tertawa geli. Membuat Ciel salah tingkah.
"Kau sangat mudah digoda, ya?" kata Alois di sela-sela tawanya.
"Kau ini!" rutuk Ciel. Tapi kemudian, semuanya kembali normal. Mereka kembali menengadahkan kepala, dan Alois masih terus bersandar di bahu Ciel. Di sela-sela mereka menikmati bintang, Alois pun berkata dengan lembut.
"Ciel… aku menyayangimu." Ciel yang mendengar itu tercekat. Wajahnya memerah. Sementara Alois meringsutkan kepalanya lebih dalam di atas bahu Ciel. pemauda pirang itu memejamkan mata sambil tersenyum nyaman. Walaupun Ciel tak kuasa menahan rasa malu dan degub jantungnya yang terus berdebar keras, ia menempelkan kepalanya di atas kepala Alois dengan lembut. Ia tahu sahabatnya itu memang manja dan sering kali bertindak terang-terangan seperti saat ini. Ia juga seringkali membuatnya malu dan blushing. Tapi, apa mau dikata. Ciel sudah menyayangi Alois seperti saudaranya sendiri. Begitu juga sebaliknya.
Tapi di balik itu semua, mereka tidak tahu sesuatu masih mengganjal antara hubungan mereka yang sebenarnya. Hubungan terselubung yang tak mereka ketahui. Yang mungkin akan merubah segalanya. Atau bahkan persahabatannya. Bisakah mereka bertahan sesuai janji mereka?
.
.
To be continued
A/N: Maaff! Saia telat bgt apdtnya! DX DX DX
Mmaf bgt. Karena saia entah kenapa malah dibanjiri banyak ide dan lagi bikin fic baru lg, yang entah kpn jadi dan kpn publishnya. Karena bagi saia, susah juga nanti kalau kebanyakan publish fic dan meneruskan fic-fic sebanyak itu. pikiran saia kebagi-bagi. Gak enak jg kan? Apalagi fic saia yang AN ANGEL. Belum nemu-nemu ide lanjutan lagi. padhal dulu udh kepikiran, tp malah ilang ketika saia dpt ide baru buat fic lain. Hadu-hadu…. DX DX
Tp yang pasti… saia apdt fic ini. maaf kalau lama. Selain kehabisan ide, saia jg saat itu lagi sibuk belajar buat UN. Do'akan saia lulus, dan saia mau mengucapkan selamat untuk para author dan readers yang lulus SMA! Kemarin seru g coret2nya? Wkwkwkwk… XP
Oke, deh. Daripada saia lebih lama ngebacot, saia akhiri dulu deh curhatan saia ini (?)
Akhir kata…
Review? :D
