Sara Hikari: Makasih Reviewnya! ^^ maaf apdetnya lama. Lagi ngumpulin ide soalnya. Hahaha.
Yukira: Arigato reviewnya ya! ^^
Disclaimer: Kuroshitsuji © Yana Toboso
Rated: T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Summary: 'Ini adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bagiku. Dan kita… akan terus bersama selamanya. Iya, kan?'
Warning: Typo(s) maybe, OOC banget!
Enjoy… ^^
.
.
JOURNEY
.
.
Chapter 6: Can You Keep A Secret?
Jam berdentang sembilan kali beberapa detik yang lalu. Matahari sudah lama muncul dan sinarnya telah berhasil menghangatkan permukaan bumi. Semua orang melakukan rutinitas paginya seperti biasa. London. Kota yang padat dan ramai. Mulai dari gelandangan hingga bangsawan berjubel di kota ini. Suara mesin mobil dan ketukan sepatu kuda merebak di udara. Belum lagi suara-suara pedagang yang menjejakkan dagangannya di pinggir jalan. Lihat? Semuanya berjalan seperti biasanya.
Tapi… di suatu mansion beratap biru nan megah tinggal seorang wanita yang kini hanya mengurung dirinya di kamar. Mungkin hanya untuk pagi ini. Semoga saja. Tubuhnya terbalut gaun biru yang terbuat dari sutra dengan aksen renda-renda nan cantik di beberapa bagiannya. Rambut cokelat bergelombangnya dikucir kuda sedemikian rupa dan diberi hiasan pita sederhana berwarna putih. Wanita itu nampak berdiri di depan jendela kamarnya, menatap lurus keluar dengan tatapan was-was. Entah sudah keberapa kalinya ia meremat-remat tangannya.
Diana Trancy. Ya. Siapa lagi kalau bukan dirinya. Putri kandung bangsawan Trancy terdahulu. Pikirannya seakan tidak tenang pagi ini. Tidak. Sedari malam, malah. Ia sulit tertidur tadi malam. Seperti dibayang-bayangi sesuatu. Sesuatu yang begitu menekan dirinya. Ia ingin sekali membaginya pada seseorang. Tapi… ia takut orang itu tak bisa menjaganya. Sebuah rahasia besar… di balik kejadian yang ia lihat kemarin saat bertamasya ke danau bersama adik-adik kesayangannya. Kejadian yang mmebuatnya ingat akan hal yang sudah lama terjadi.
Tiba-tiba, pintu kayu berukir indah itu diketuk merdu. Walaupun suaranya sedikit terpedam, tapi berhasil membuat Diana terlonjak hebat. Pintu pun terbuka dan menampakkan seorang berbaju tailcoat hitam—yang sedang membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah teko dan cangkir porselen.
"Selamat pagi, Nona Diana…" sapanya sambil membungkuk sopan.
Diana segera menatap sang butler multifungsi Phantomhive—Sebastian Michaelis.
"Sebastian…" desahnya lega.
"Saya membawakan teh untuk pagi ini." Sebastian segera meletakan nampannya di meja dekat tempat tidur Diana dan menuangkan teh hangat nan harum itu ke dalam cangkir porselen.
"Apakah yang lainnya sudah bangun?" tanya Diana. Masih di posisinya—berdiri di depan jendela kamarnya.
"Sudah, Nona. Tuan Muda dan Tuan Alois malah sudah keluar kamar. Begitu juga dengan Nyonya Angelina dan Nona Elizabeth." Kata Sebastian. Diana melirik Sebastian yang sedang menuangkan teh untuknya. Ia pun segera berjalan menuju pinggir ranjangnya dan duduk.
"Makan pagi akan siap sebentar lagi. Lebih baik, Nona segera turun." Kata Sebastian ramah sambil menyerahkan secangkir teh. Diana menerimanya dan menyeruputnya perlahan. Tapi hanya satu-dua teguk, ia pun menurunkan cangkir tehnya kepangkuannya. Tatapannya terlihat lesu dan sedikit tertunduk.
"Nona? Kenapa wajah Anda begitu lesu? Anda sakit?" Sebastian bertanya-tanya.
"Tidak… hanya saja… semalam aku sulit untuk tidur." Jelas Diana. Sebastian menatap nonanya itu dengan tatapan menyelidik.
"Ada yang Anda pikirkan?" tanya Sebastian. "sejak pulang dari danau… Anda terlihat seperti tidak tenang. Ada apa gerangan?"
Diana tercekat. Kepalanya tersentak keatas, tepat menatap sang butler yang kini sedang berlutut dihadapannya. Sepertinya… pria bermata merah ini merasa curiga. Ya… dari kemarin, malah. Diana merasa berat untuk jujur. Ia pun menunduk, menatap genangan air berwarna cokelat bening di cangkirnya.
"Jika ada sesuatu yang mengganjal pikiran Anda, Anda bisa membaginya kepada saya jika tak ingin menceritakannya pada siapapun." Sebastian tersenyum lembut sambil menyilangkan satu tangannya di dada. Tatapannya sendu dan penuh makna. Bagaimanapun juga… Sebastian lebih tua empat tahun dari Diana. Diana sudah seperti adiknya sendiri walaupun ia tak bisa menganggapnya seperti itu.
Diana melirik wajah Sebastian. Ya… selama ini, kalau saja ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dia selalu bercerita hanya pada Sebastian. Tidak dengan yang lain. Sebastian selalu bisa menjaga curahan hati nonanya itu dengan sangat baik. Dan terkadang… dia malah memberi solusinya. Sebastian begitu pengertian. Tapi… untuk hal ini… entah kenapa Diana merasa sulit sekali untuk membaginya. Walaupun hatinya sudah berkali-kali mendorong dirinya untuk menceritakan semuanya. Ia tahu hatinya sudah tak kuat menanggung beban ini. Tapi… kenapa bibirnya tak juga mau berkata?
"Nona…?"
"Sebastian…" tiba-tiba Diana memotong. Membuat Sebastian sedikit tercekat. Ia menatap Diana yang nampaknya merasa tertekan dan tegang. Jari-jari lentiknya menggenggam cangkir porselen dengan erat. Sedikit gemetar juga.
"Ya, Nona…?" jawab Sebastian yang sebelumnya terpaku pada ekspresi wajah dan tingkah laku Diana.
"Saat ada di danau kemarin… apa kau melihat sesuatu yang aneh?" tanya Diana yang kini menatap wajah Sebastian penuh harap. Sebastian mengerjapkan matanya dua kali, berusaha mengingat.
"Entahlah Nona. Mungkin saya melihatnya. Tapi entahlah jika itu memang terlihat aneh atau tidak." Kata Sebastian membingungkan. Sebastian berusaha mengingat-ingat. Sementara Diana seperti memasang wajah yang seakan berkata 'ayolah! Ingat sekali lagi! Kau pasti melihatnya!' pada Sebastian. Ia yakin bahwa Sebastian melihat apa yang ia lihat waktu itu—yang sampai saat ini menjadi momok dalam hati dan pikirannya.
"Ah… waktu itu… saya melihat tangan Tuan Muda dan Tuan Alois bergerak dengan seksama. Saat mengeringkan tubuh dengan handuk… gerakan mereka sama persis. Saya tahu seluk-beluk kebiasaan Tuan Muda saat mengelap tubuh dengan handuk. Tapi… saya tak mengira Tuan Alois juga memiliki kebiasaan yang sama persis." Kata Sebastian sambil memegangi dagunya. Ia terlihat serius.
Diana seakan menahan napas ketika mendengar perkataan Sebastian. Adakah sisi Sebastian yang menunjukkan dirinya curiga dengan kejadian itu? Ia berharap seperti itu. Ia berharap Sebastian mencurigai sesuatu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Diana tertahan.
Sebastian nampak berpikir. "Saya rasa… itu adalah kejadian langka. Saya tidak pernah melihat gerakan atau kebiasaan yang sama persis seperti itu. Jika itu berkaitan dengan saudara sedarah, mungkin bisa dimaklumi. Tapi… Tuan Muda dan Tuan Alois, kan… hanya sebatas sahabat." Sebastian berkata seakan bergumam. Diana terbelalak. Dari nada bicara butler serba hitam di depannya itu… terdengar seakan Sebastian mencurigai sesuatu. Bukan mencurigai. Tapi mungkin merasa ada yang tidak beres, menurutnya. Setelah berkata seperti itu, Sebastian berpikir keras. Entah kenapa… kalau diselami lebih dalam… hal itu juga jarang sekali terjadi dikalangan orang-orang yang bukan saudara sedarah. Bahkan tidak pernah. Ia merasa gamang. Hingga akhirnya sesuatu tercetik di pikirannya dan berhasil menyimpulkan sesuatu… yang mungkin jauh dari jangkauan perkiraannya.
Sebastian tiba-tiba menyentakkan kepala, menatap Diana dengan mata yang seakan berkata 'jangan-jangan'. Diana tercekat melihat itu. Tapi… dari mata si butler, Diana bisa mengetahui kalau Sebastian berpikir seperti dirinya.
"Apakah mungkin… Tuan Muda dan Tuan Alois…" kata Sebastian menggantung. Diana langsung merasa dirinya lega. Akhirnya Sebastian menyadari keanehan itu. Dengan begini, Diana—mungkin—bisa menjelaskan apa yang menjadi beban hatinya. Diana lantas meletakkan cangkirnya di meja dan mencengkeram pundak Sebastian yang tengah berlutut di hadapannya itu. Sebastian tersentak.
"Kumohon, Sebastian…" kata Diana geram. "rahasiakan apa yang akan kukatakan padamu kali ini…" bola mata ruby Sebastian membulat.
"Nona…" Sebastian seakan tahu apa yang dimaksudkan nonanya itu, walaupun ia belum bisa mencernanya dengan baik. Yang dimaksudkan Diana adalah…
"Alois dan Ciel adalah saudara seibu."
Seketika itu, mata Sebastian membulat sempurnya.
"Apa…?"
.
.
Setelah mkaan pagi, semua beraktivitas seperti biasa. Lizzie tidak terlihat bersama dengan Angelina. Mereka nampaknya sedang keluar bersama. Mungkin sedikit refreshing dengan berjalan-jalan, membeli pernak-pernik wanita. Mereka pergi dengan Maylene yang menjadi kusir kereta kudanya. Ciel juga kembali berkutat di ruang kerjanya. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Terlihat setumpuk dokumen dan beberapa surat yang disondorkan Sebastian dengan sebuah nampan yang terletak di pinggir meja kerjanya. Matanya bergerak dengan seksama saat membaca lembar demi lembar domumen dan surat yang ia terima. Tidak hanya dari Sang Ratu saja, tapi dari beberapa bangsawan dan pejabat istana. Raut wajahnya terlihat serius dan tak bisa diganggu.
Alois nampak terduduk sendirian di ruang tengah—sedang menjalankan bidak caturnya. Bidak hitam… bidak putih… semuanya ia yang menjalankan. Ia bermain catur sendiri. Haah… ini begitu membosankan. Di saat-saat begini, ia tak punya teman untuk diajak bersenang-senang. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Alois hanya bisa mendengus bosan. Bidak-bidak catur yang sudah tersusun rapi di papan catur itu segera ia obrak-abrik hingga berceceran di meja. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk dan mengerang bosan.
"Kenapa mereka malah sibuk dengan kegiatan mereka dan meninggalkan aku sendirian?" erangnya. Tak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Alois pun mendengus sebal. Ia ingin mencari suasana baru. Dengan begitu, secepatnya ia membereskan bidak-bidak caturnya dan segera keluar dari ruang tengah. Entah kemana. Yang penting, di situ ada hal yang menarik. Semoga saja.
.
.
Alois berjalan menyusuri koridor mansion. Matanya melirik dari ruang satu ke ruang yang lain. Hingga akhirnya, matanya terpaku pada satu ruangan.
Alois terpaku pada seseorang di ruangan itu. Ruangan penuh dengan bermacam-macam peralatan masak. Ya… tentu saja itu dapur. Ia melihat seorang pria tengah asyik menekan-nekan adonan roti di meja. Sesekali ia menaburkan sedikit tepung agar tidak begitu lengket.
"Sebastian…?" sapa Alois. Si pria di dalam dapur pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh.
"Aah… Tuan Alois?" jawab Sebastian hangat. "kenapa Anda ada di sini?"
Mendengar pertanyaan butler berambut hitam itu, Alois langsung merengut. "Aku bosan. Semua temanku sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tidak Ciel, tidak Elizabeth… semuanya sibuk sendiri-sendiri." Gerutu Alois. wajahnya saat kesal terlihat lucu dan imut. Sementara Sebastian hanya menatapnya, mengerjapkan kedua matanya beberapa kali lalu tersenyum.
"Pagi-pagi begini… Tuan Muda selalu berkutat di ruang kerjanya hingga siang nanti. Walaupun terkadang juga malas-malasan." Kata Sebastian. Alois terkekeh. "kalau Nona Elizabeth dan Nyonya Angelina… entah kenapa ingin refreshing keluar sebentar."
"Tapi… kenapa tidak mengajakku?" Alois protes. Sebastian hanya tertawa renyah.
"Mungkin… itu hanya urusan wanita. Maka dari itu Tuan Alois tidak diajak." Alois mendengus mendengarnya.
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar benturan adonan menatap permukaan meja. Alois yang berdiri di ambang pintu dapur hanya terdiam sambil mengamati aktivitas yang dilakukan Sebastian. Tiba-tiba, sesuatu terbesit di pikirannya. Muncul sebuah bola lampu di atas kepalanya dan dia berkata 'aha!' dalam hati. Dari pada bosan… lebih baik ikut Sebastian membuat roti.
"Sebastian." Panggil Alois.
"Ya?"
"Aku… ikut membuat roti denganmu, ya?" pinta Alois. sebastian yang mendengarnya tentu tidak percaya. Seorang Earl… mau ikut membuat roti dengan butler?
"Tapi, Tuan Alois…"
"Ayolah… kumohon! Ajari sedikit saja cara membuat roti kepadaku. Aku bingung harus melakukan apa kalau sendirian seperti ini. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru dan menarik." Sebastian mendesah.
"Baiklah…" kata Sebastian sambil tersenyum lalu mengajak Alois bergabung. Alois tentu saja merasa senang. Segera Sebastian melepaskan jubah ungu Alois dan memakaikannya celemek putih padanya.
Dengan sabar, Sebastian mengajari cara-cara mmebuat roti, kue dan cara menghias yang baik. Alois berpangku tangan di pinggir meja sambil memperhatikan gerak-gerik Sebastian dengan seksama. Saat waktunya mencoba, Alois tak jarang bertanya. Hmm… jadi kayak les privat masak nih. ==
Alois mulai mencampur bahan-bahan menjadi satu dalam mangkuk besar, lalu mengaduknya. Sesekali Sebastian memperingatkan hal-hal yang tidak boleh ia lakukan agar adonan kue terlihat kenyal. Alois hanya mengangguk dan mencampurnya dengan hati-hati.
Sementara Alois membuat kuenya sendiri, Sebastian pun melanjutkan roti dan kuenya yang baru setengah jadi. Alois melirik-lirik Sebastian yang ada di sampingnya. Terlintaslah pikiran jahil di benaknya. Senyum jahilnya tersungging di bibir tipisnya. Diam-diam. Ia mencomotkan adonan kuenya dan mengoleskannya di pipi Sebastian. Sebastian tentu saja tersentak. Sementara Alois hanya cengengesan.
"Yak! Satu kosong!" serunya. Sebastian nampak seperti orang bodoh dapat kecolongan seperti ini. Melihat wajah Alois, teman Tuan Mudanya itu, ia menjadi gemas. Ia pun membalas perbuatan Alois tadi.
"Ah!" pekik Alois.
"Satu sama, Tuan Alois." kata Sebastian sambil memamerkan peace-nya. Entah kenapa, kepribadiannya sebagai butler ia tanggalkan sementara. Sebastian lebih bersikap seperti kakak ketimbang bawahan. Alois pun juga tak keberatan.
"Aaarrgh! Sebastiaaann!" seru Alois. Sebastian hanya tertawa. Dan, terjadilah perang adonan di dapur mansion Phantomhive. Saling melempar-lempar tepung dan mencolek-colek adonan satu sama lain. Suara-suara alat-alat dapur bergema ke seluruh dapur.
"Awas kau, Sebastian! Hyaaaa!"
.
.
Ciel merasa seluruh tubuhnya pegal-pegal. Entah sudah berapa jam ia terus duduk sambil mengamati beribu-ribu tulisan di mejanya. Ia mendesah keras sambil memegangi jidatnya yang terasa pening.
"Lebih baik aku istirahat sebentar dan keluar dari sini…" gumamnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Ciel pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Menghirup udara segar. Sekalian saja… meminta Sebastian membuatkannya camilan.
Ciel berjalan menyusuri koridor rumahnya mencari Sebastian. Hingga akhirnya, ia mendengar suara gaduh dari dapurnya. Mendengarnya saja sudah membuat telinga Ciel panas dan sakit. Ada apa ini sebenarnya? Tanpa ba-bi-bu lagi, ia pun segera menuju dapur dengan langkah cepat.
Sesampainya diambang pintu, ia sungguh terkejut. Suasana dapur begitu kotor dan berantakan. Ditambah lagi… butir-butir tepung beterbangan di dalam ruangan itu. Membuat suasana ruangan itu nampak seperti tertutup kabut.
"Hei! Ada apa ini? Berantakan sekali dapur ini!" seru Ciel kesal. Ia pun berhati-hati memasuki dapur dengan tangan menutupi hidung. Sesekali ia terbatuk-batuk karena pengaruh tepung yang mengumbul tinggi di dalam ruangan memasak itu. Tapi, baru beberapa langkah memasuki dapur, sesuatu melayang kearahnya dengan lambat. Seperti diefek slow motion. Ciel sungguh tercekat.
Eh? Ada tepung terbang.
Dengan cekatan, Ciel pun menghindar. Benar-benar! Ada apa ini sebenarnya? Membuatnya heran bukan kepalang. Suasana di sini seakan sedang ada perang!
Dengan berhati-hati, Ciel masuk lebih dalam. Mulai terdengar suara tawa yang semula samar, kini mulai jelas. Sambil menghindari benda-benda yang beterbangan—yang menurutnya berbahaya itu—ia mulia mendekati sumber suara. Tepung-tepung yang beterbangan ini sungguh menghalangi pandangannya. Seseorang—tidak—dua orang mulai terlihat di balik kabut tepung. Mereka terlihat sedang lempar-melempar satu sama lain sambil tertawa-tawa. Dan tak lama kemudian, sosok mereka menjelas. Ciel sungguh tak percaya melihatnya.
"Alois? Sebastian?" serunya sembari mendapatkan lemparan tepung dari si sahabat. Siapa lagi kalau bukan Alois. Mendengar panggilan itu, Alois dan Sebastian lantas terhenti. Sementara Ciel merasa syok karena mendapatkan hadiah yang bagus. Sebuah lemparan sebungkus tepung—yang lantas mengotori bajunya yang berwarna biru. Plus mengenai wajahnya sedikit. Melihat itu, Alois langsung membeku. Begitu juga dengan Sebastian.
"Ci-Ciel..?" tanya Alois terbata. Takut Ciel marah, soalnya.
"Tuan Muda…?" Sebastian ikut-ikut. Seketika itu, entah kenapa, kabut tepung pun mulai sirna. Ciel nampak gemetaran melihat bajunya yang kotor. Jari-jari lentiknya gemetaran.
"Ci-cieel… maaf…!" Alois berusaha minta maaf. Yaah… bagaimana pun dia juga tidak sengaja melempar tepung ke arah Ciel. Toh, dia tidak sadar kalau Ciel datang.
Tapi, Ciel tak menjawab. Ia sudah terlanjur marah dan geram.
"Alois…! Sebastian…!" Alois merasa tidak enak dan khawatir. Mungkin, sebentar lagi bakal muncul gelegar petir yang mampu merubuhkan mansion ini, pikirnya. Sedangkan Sebastian hanya terdiam mematung dengan wajah tegang.
"APA YANG KALIAN LAKUKAAANNN!" teriak Ciel membahana hingga keseluruh mansion dan sekitarnya (?).
~~Skip nyooow~~
"Apa yang kalian lakukan, hah? Kalian mau menghancurkan dapurku?" protes Ciel.
"Anu… Cieel… aku hanya ingin belajar membuat roti bersama Sebastian karena aku bosan… Kau sibuk dengan pekerjaanmu. Sedangkan Elizabeth pergi bersama Bibi An. Aku, kan sendiriaaann…" Alois merajuk.
"Lalu? Kenapa dapur ini jadi terlihat seperti arena perang begini?" tanya Ciel.
"Aku hanya bercanda dengan Sebastian dengan menyolekkan adonan roti ke pipinya. Tapi… malah keterusan sampai lempar-lemparan tepung…" jelas Alois melas. Mendengar itu Ciel sudah kedut-kedut jidatnya.
"Lalu… kau juga ikut-ikutan?" kini Ciel menoleh ke arah Sebastian.
"Maafkan saya Tuan Muda. Saya ikut terpengaruh." Kata Sebastian sembari minta maaf dan membungkukkan tubuhnya. "biar saya bereskan." Sebastian lantas memunguti bungkus-bungkus tepung dan alat-alat untuk membuat roti yang sudah tidak digunakan lagi menuju tempat cuci piring. Ciel hanya mendesah pasrah.
"Oke-oke… aku maafkan! Tapi lain kali, jangan sampai seperti ini! Ini terlalu berlebihan. Kalian mau membunuhku?" kata Ciel mengingat banyak butiran tepung yang berhamburan tadi. Bisa-bisa, astma Ciel kambuh gegara menghirup tepung. "Sebastian! Buatkan aku camilan!" perintah Ciel sejadinya sambil membersihkan bajunya dari serbuk-serbuk tepung.
"Yes, My Lord." Jawab Sebastian.
"Eh, Ciel." sesaat Ciel akan keluar, Alois menahannya. "kau juga ikut membuat roti dan kue, yuk!" ajaknya. Ciel sungguh tak percaya dengan ajakan sahabatnya itu.
"Ha?" yup! Hanya kata-kata itulah yang meluncur dari mulut Ciel.
"Ayolaah… Ya? Ya? Ya?" Alois merajuk sambil mengerlingkan mata beberapa kali. Melihatnya, Ciel jadi merinding. Begini jadinya bila mempunyai sahabat yang jahil. "kau, kan juga sekalian bisa refreshing." Tambah Alois. Ciel mendesah.
"Oke, oke… baiklah." Tanggap Ciel. Alois lantas berseru girang dan memberi Ciel celemek putih. Walaupun sedikit cengo juga karena diajak Alois membuat roti dan kue, tapi Ciel tak keberatan. Ini malah menyenangkan. Ini baru kali pertamanya memasak di dapur super luas ini. Ini juga pertama kalinya ia merasakan bagaimana susahnya menghidangkan makanan. Ciel lama-kelamaan serasa sibuk sendiri bersama Alois. asyik mendiskusikan bagaimana nantinya mereka membentuk dan menghias roti-rotinya.
Dari arah tempat cuci piring, Sebastian menoleh dan memperhatikan dua remaja di meja tempat membuat roti dan kue. Mereka begitu serius dan sesekali tertawa dan bercanda bersama. Sebastian tersenyum melihat mereka begitu akrab. Tapi, senyum itu tiba-tiba menghilang ketika ia mengingat apa yang ia dengar dari Diana tadi pagi. Sebastian menolehkan kepalanya ke arah tempat cuci piring dan menunduk. Pekerjaannya terhenti, sementara kran air di hadapannya masih mengucur deras.
Flashback
"Alois dan Ciel adalah saudara seibu."
"Apa…?" Sebastian nampak tak bisa mempercayai ini semua. Bagaimana ini… tidak. Ini terlalu tiba-tiba. Bagaimana ia bisa tahu ada sebuah rahasia besar yang tersembunyi di dalam keluarga ini? dan… kenapa ia baru tahu sekarang?
"Nona… ini… tidak mungkin…" Sebastian terlihat seakan tak bisa berkata apa-apa secuali kata-kata itu.
"Kebiasaan mereka saat mengeringkan tubuh memakai handuk… sama persis seperti kebiasaan Nyonya Rachel." Kata Diana seakan bergumam. Tapi Sebastian masih bisa mendengarnya. "maka dari itu… aku ingin membagi sesuatu padamu. Sesuatu yang sudah lama kusimpan rapat-rapat. Dan tak satupun orang yang tahu…" mendengar itu, Sebastian terdiam sambil menutupi mulutnya dengan satu tangan. Dengan satu tanda, Diana menyuruhnya untuk duduk di bibir ranjang. Sebastian hanya menurut dan duduk.
"Aku dan Nyonya Rachel… adalah teman lama. Walaupun selisih umurku dengan dia berbeda jauh." Diana mulai membuka pembicaraan. "mungkin kau belum mengenalnya karena kau bekerja setelah beliau meninggal."
"Anda benar, Nona. Saya hanya tahu wajahnya saja." Kata Sebastian mengingat begitu banyak foto-foto Nyonya Rachel dan Tuan Phantomhive terdahulu. Diana terdiam sejenak.
"Aku sudah akrab dengannya sejak lama. Sejak ia belum menikah dan punya anak…" kata Diana. "ia menganggapku sudah seperti adiknya sendiri. Begitu juga denganku, aku juga menganggapnya seperti kakakku sendiri. Aku suka sekali memanggilnya 'kakak'. Begitu juga dengan Vincent Phantomhive, ayah Ciel setelah mereka menikah." Diana menerawang. Sedangkan Sebastian hanya diam mendengarkan.
"Sebelum menikah dengan Kak Vincent, Kak Rachel sudah mempunyai kekasih. Hanya saja… mereka tak direstui oleh sang ayah. Dan di sisi lain, Kak Rachel sudah dijodohkan dengan Kak Vincent." Diana memberi jeda. "suatu hari, terjadi 'kecelakaan' antara mereka berdua sehingga Kak Rachel hamil. Tapi, karena mereka memang sudah tak bisa melanjutkan hubungan mereka, sang kekasih meninggalkannya begitu saja dengan hasil keturunan mereka yang pertama. Yaitu Alois."
Sebastian kaget mendengarnya. "Jadi… Tuan Muda Alois… adalah hasil dari hubungan gelap Nyonya Rachel dan mantan kekasihnya?" tanya Sebastian. Diana mengangguk. Sebastian benar-benar tak mengira.
"Kak Rachel menyuruhku menyembunyikan Alois ke tempat yang aman. Kutitipkan dia di panti asuhan. Alois sendiri… ketika itu diberi nama 'Jim' oleh Kak Rachel… tanpa nama marga." Jelas Diana. Sebastian mulai bersimpati.
"Tak ada satupun yang tahu kalau Kak Rachel sudah mempunyai anak walaupun hasil dari hubungan gelap." Diana terdiam.
"Ini pasti berat untuk Nyonya Rachel…" Sebastian berkomentar. Diana hanya tersenyum tipis.
"Akhirnya, Kak Rachel menikah dengan Kak Vincent, ayah Ciel. Dan setahun kemudian, ia melahirkan Ciel. Kak Rachel dan Kak Vincent sangat bahagia saat itu. tapi… Kak Rachel juga tak bisa melupakan anak pertamanya… yaitu Alois. Sejak saat ia membuang Alois, ia tak bisa lagi menjenguknya. Dengan cara diam-diam… ia menyuruh dua orang untuk mengawasi Alois hingga akhirnya Alois diadopsi oleh seorang penggembala."
"Suatu hari, Kak Rachel diam-diam mengajakku untuk menemui penggembala itu. Kami hanya pergi berdua dengan aku yang menjadi kusir kereta kudanya. Sesaat sebelum bertemu dengan penggembala itu, ia melihat seorang anak berambut pirang sedang menggembala domba-domba kecil. Anak itu terlihat kurus dan kotor. Kak Rachel yakin itu adalah Jim." Diana menghirup napas, dan melanjutkan ceritanya lagi. "Alois memang masih kecil, tapi auranya sudah seperti orang dewasa. Tidak. Setidaknya… lebih dewasa dari umurnya yang sudah mencapai tujuh tahun itu."
"Lebih dewasa?" tanya Sebastian.
"Ya. Sejak ia diadopsi oleh sang penggembala, hidupnya sangat susah. Kudengar, ia sering sekali dicambuk dan disakiti oleh ayah angkatnya sendiri. Dan sang ayah memberitahukan dengan kasar bahwa ia bukan anak kandungnya, melainkan anak dari Nyonya Phantomhive yang sekarang sudah mempunyai keluarga baru dan meninggalkannya begitu saja." Jelas Diana. "jelas saja Alois marah ketika itu. Ketika ia bertemu dengan Kak Rachel, ia begitu marah dan kecewa. Kak Rachel merasa begitu bersalah. Ingin sekali ia memeluk anak kandungnya itu, tapi Alois tidak mau. Ia sudah terlanjur dendam pada ibunya sendiri."
Sebastian miris mendengar cerita itu.
"Saat-saat itu, Kak Rachel menyuruhku menunggu di kereta. Tapi aku bisa menyaksikan apa yang terjadi. Walaupun sedikit agak jauh. Kak Rachel bilang… ini hanya urusan mereka berdua. Ia juga berpesan padaku untuk merahasiakan semua apa yang kulihat hari itu. Alois begitu kecewa dan berurai air mata ketika bertemu dengan ibu kandungnya itu. Aku tahu dia sangat merindukannya. Tapi… rasa dendamnya sudah menumpuk dan mendominasi. Karena ibunya, ia jadi begini. Menderita di masa kanak-kanaknya. Ia juga tak hanya dendam dengan Kak Rachel… tapi seluruh keluarga Phantomhive. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menonton dari jauh." Kata Diana dengan penuh sesal. "Alois mengusir Kak Rachel sambil menghunuskan pisau padanya. Aku tercekat dan was-was melihatnya. Alois terus mengancamnya begitu hingga akhirnya Kak Rachel tertusuk. Aku tak begitu melihat dengan jelas apakah Alois benar-benar menusuknya atau bahkan Kak Rachel sendiri yang mengarahkan pisau itu ke dadanya." Diana mulai berbicara dengan gemetar.
Sebastian terbelalak. "Apa? Apakah… Nyonya Rachel meninggal… karena itu?" tanya Sebastian.
Diana mengangguk. Air matanya mulai menetes. "Kau tahu, kan…? Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika itu…" kata Diana. "Kak Rachel jatuh terduduk dan aku segera datang dan memapahnya di dalam pelukanku. Sementara Alois pergi menjauh karena takut. Kak Rachel yang sudah tak berdaya itu berpesan, jika ia mati sekarang… ia sudah siap. Ia berhak mendapatkan ini semua karena ia bukanlah ibu yang baik untuk anaknya sendiri. Ia juga sempat-sempatnya menghapus sidik jari Alois di pisau yang tergeletak di dekatnya menggunakan gaun. Ia berpesan… jangan laporkan anak pertamanya itu kepada polisi. Cukup simpan saja hal yang sudah terjadi ini rapat-rapat. Dan jika memang sudah tidak kuat… aku bisa menceritakannya kepada orang yang benar-benar aku percayai untuk menutupi rahasia ini. Aku tahu ini salah… tapi aku tak bisa mengingkari pesan-pesannya. Akupun sudah berjanji dan bersumpah…" Diana terisak-isak. Sebastian berusaha menenangkan nonanya itu dengan menepuk-nepuk lembut pundak Diana yang mulai gemetar.
"Hingga akhirnya… beberapa bulan kemudian… aku bertemu lagi dengan Alois bersama dengan Ayahku… aku sangat terkejut saat kuketahui ternyata dia amnesia." Diana berusaha mengontrol emosinya.
"Amnesia?" Sebastian bertanya tak percaya.
"Kudengar ia mengalami kecelakaan fatal dan kepalanya membentur aspal. Ia pun amnesia. Aku bertemu lagi dengannya di sebuah emperan toko saat hujan turun. Ayah yang mempunyai sikap sosialitas yang tinggi pun mengangkatnya menjadi anak dan akhirnya menjadi adik angkatku yang paling kusayangi. Ayah pun memberinya nama 'Alois Trancy'. Aku sangat ingat dengan apa yang Alois lakukan pada Kak Rachel. Tapi aku hanya bisa memendamnya rapat-rapat… dan mencoba menerimanya sebagai adikku…" jelas Diana.
"Dan setelah meninggalnya Nyonya Rachel… Tuan Vincent pun bunuh diri. Benar begitu, kan, Nona?" tanya Sebastian.
"Kau benar… dan dari situ pula… Ciel menyimpan dendam pada orang yang sudah membunuh ibunya… dan membuat keluarganya hancur. Yang tak lain adalah… sahabatnya sendiri… Alois Trancy…" Diana pun akhirnya menangis. "aku takut hal ini akan diketahui oleh Ciel… dan aku takut bila Alois mengingat semuanya. Ia pasti sangat marah. Aku takut… persahabatan mereka rusak dan berubah menjadi dendam dan saling membunuh nantinya..!"
"Itu tidak akan, Nona! Jangan berpikir seperti itu!" elak Sebastian.
"Maka dari itu…!" Diana mengeratkan tangannya pada kedua lengan Sebastian. "maka dari itu… kau harus merahasiakan semua ini dari mereka. Dari semuanya. Hanya aku dan kamu yang mengetahui ini…" perintah Diana dengan nada tertahan. "bisakah kau… merahasiakan hal ini?"
Sebastian menatap mata Diana yang terlihat tajam dan serius. Tak ada pilihan lain. Jalan terbaik hanyalah merahasiakan ini semua… agar tidak terjadi hal-hal yang tak dinginkan.
"Saya akan merahasiakan dan menutupinya dengan baik, Nona. Saya bersumpah." Jawab Sebastian penuh tekad sambil berlutu di hadapan Diana. Sementara Diana masih terisak-isak.
End of flashback
Sebastian tak habis pikir bakal begini jadinya. Dibalik persahabatan mereka yang begitu hangat… ternyata tersembunyi sebuah dendam yang sudah mendarah daging. Sebastian bertekad untuk merahasiakannya rapat-rapat dan menutupinya. Jangan sampai… persahabatan tuan mudanya bersama Alois… yang tak lain dan tak bukan adalah kakaknya sendiri rusak begitu saja karena masa lalu. Jangan sampai… sangkut-paut masa lalu… membuat mereka hancur berkeping-keping. Jangan sampai…
.
.
To be continued.
A/N: Akhirnya selesai juga cahpater ini…! fiuh! Maaf kalau lama banget apdetnya… saia lagi kehabisan ide dan hiatus. Dan akhirnya saia kesambet ide yang rupanya… agak ribet juga, sih. Tapi semoga kalian semua memahaminya…
Untuk yang kesekian kalinya…
Review? :D
