Desclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Author: Jeevas Misa LawlietRiver Keehl
Genre: Romance, Humor, Friendship, drama
Warning: OOT, Typo, Ooc, sangat dasar (masih junior), ajaib
Rated: T (mungkin)
Saia Jeevas, ini my first fict. Selamat membaca and happy read. Mohon reviewsnya ya semua. Terima kasih banyak..u_u
(Semi yang Memerah)
MY TEARS
Part IV
Aku tergeletak meringkuk di atas selimut hangat yang tenang. Satu, dua hingga beberapa tetes air mataku jatuh hingga membuat dinginnya kehangatan itu berubah seketika. Ini semua salahku, karena aku. Ringkukkanku seakan hanyalah mendiamkan sepi disini.
"Crraaannggg..!" Seutas suara piring yang menyayat telingaku terdengar.
"..Nii-san..." Tersambar ingatanku pada Sasori-san. Langkah laripun ku tempuh, sambil terbesit ketakutanku. Tengokkupun saat melihat Ibu dan Sasori-san, entah apa yang terjadi...
"Sasori, sudah Ibu bilang, jangan pernah mendekati adikmu seperti itu..!" Bentak Ibu dengan nada penuh emosi.
Apa? Kenapa Ibu berkata seperti itu?
"Hentikan..!"
"..Sakura..." Sehentaknya kata mereka sambil menatapku yang lemah ini.
"Apa yang kau lakukan disitu, Sakura-chan?" Kata ibu sambil menghampiriku yang menatap Ibu dengan tatapan takut.
"Sakura, cepat pergi ke kamarmu dan segera berberes..." Setelah Nii-san menyuruhku tuk berbenah, aku tetap tidak bisa melupakan kejadian itu.
-oOo-
Semarah apapun ibu pada kami, tak pernah sekalipun berkata sedemikian. Pikirku dalam heningku, apa yang membuat ibu sebegitu marah kepada Sasori-san? Apa yang dilakukan oleh Nii-san sehingga menyurut kemarahan ibu?
Entahlah... aku tak pernah tahu yang selama ini telah terjadi.
Kiriga First High School
"Ding..dong..ding..dong.."
Suara lonceng yang berbunyi tlah menandakan jam masuk sekolah. Aku tak tahu apa aku bisa menghilangkan beban pikiran itu untuk sejenak saja. Tiba-tiba suara hentakan kaki terdengar sehingga membuat kami terduduk dengan tenang.
.
.
.
Kakashi-sensei dengan serius menerangkan materi-materi dengan bahasa Spanyolnya yang begitu lancarnya. Namun, entah mengapa aku tak bisa memokuskan pikiranku. Dan malah tersirat bayangan saat Nii-san mengantarku ke tempat ini. Ku tengok luar kaca jendela kelasku, salju tiba-tiba turun dengan begitu tenangnya salju-salju ini menunjukkan dirinya. Hatiku ingin sekali mengeluarkan nada-nada lewat mulutku...
Staying near me...
Fiery gently gap...
Peace always...
Disappear before the tragedy...
A little piece of love...
The second is the broad and...
I have been one or two...
But only so much hope to meet...
MY LOVE from the tears...
Sigh floating in the sky spills...
Please Stay With Me...
Setelah kumainkan kata-kata indah dan kurakit menjadi sebuah lagu, tanpa kusadari aku pun terlelap dalam tidur dan ringkukan di atas meja kelas. Lalu ku memimpikan suatu hal...
Dream
"Sakura.."
Tengokku kearah seseorang yang berada jauh dibelakangku. Tidak... aku tak bisa melihatnya, terlalu samar-samar. Namun, kulihat dia perlahan mendekat ke arahku, mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Kamu.. siapa?" Tanyaku sambil beranjak berdiri dan menghadap matanya.
"sakura.. syukurlah kita telah bertemu kembali"
"Ah... kenapa...?" Tanyaku dari lubuk hatiku, sambil ku bertanya-tanya, mungkinkah aku mengenalnya? Tapi siapa dia?
"Brruukkk...!"
Suara hentakan tangan membangunkanku dari tidurku. Saat aku terbangun sudah berdiri Kakashi-sensei dihadapanku. Aku sungguh malu dan hanya bisa menekuk wajahku dengan pipi merah merona.
.
.
.
"Ding.. dong.. ding.. dong.."
Sungguh hari yang begitu melelahkan, akhirnya bel pulang memunculkan suaranya.
"Sakura, tunggu sebentar!" Serentak saat semuanya telah keluar, Kakashi-sensei menyegahku untuk tak keluar terlebih dahulu.
Entah apa yang ia pikirkan sehingga seraya aku tak bisa berkutit.
"A, ada apa Kakashi-sensei?
"Tentang Sasori-san dan Haku-chan, biarkan aku bercerita sedikit tentang mereka berdua!"
"Ah.."
Kenapa? Kenapa Kakashi-sensei bisa tahu tentang Nii-san? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan haruskah nanti aku akan mempercayainya?
Mungkin aku harus mendengar ini dahulu sebelum aku ragu yang telah terjadi...
Beberapa waktu kudengar tentang satu persatu kebenaran Nii-san. Air mata ini sungguh tak tertahankan lagi, seakan ingin mengluapkan semua emosi dan kemarahan yang ada di hati. Air mata mengalir bak air bah yang menhujat bebatuan keras. Apa yang harus kulakukan saat ini, aku tak ingin bertemu dengan Nii-san dan Ibu sekarang ini.
Apakah untuk sementara aku bisa tinggal bersama seseorang agar kubisa menyurut kepedihan ini? Akhirnya pun, diriku memutuskan untuk berdiam diri di kesunyian, sendirian, dan selalu merenung.
Pergi jauh tanpa kata pada seorang-pun. Aku tak tahu, apakah akan baik? Namun aku harus pergi, cepat atau lambat semua pasti akan mengerti, termasuk Nii-san .
Kiriga First High School
"Apa..? Sakura sudah pulang sejak tadi ?" Suara Sasori-san membentak dengan nada yang cukup tinggi
"Ya.. dia bilang, hari ini dia takkan pulang." Terang Kakashi-sensei
Entah alasan apa yang ingih Kakashi-sensei utarakan pada Sasori-san, namun tak sama sekali terbesit anganku tuk kembali.
Bayangku tentang kecemasan Ibu padaku seakan tak bisa ku ingkari kembali, aku terlalu takut sendiri, terlalu takut untuk melepaskan semuanya. Sambil merintih di tengah hujan yang amat deras yang juga membasahi pipiku, seakan menangis karenaku dan untukku.
Kakiku seperti sudah tak bisa lagi melangkah, lemas dan samar-samar yang kulihat seakan memandang para malaikat. Di tengah hujan yang deras, tubuhku yang lunglai terjatuh, mataku terpejam serentak, dan tubuhku tergeletak tak berdaya di tengah alur lalu lalang.
"Sakura, bangun..!" Samar-samar kudengar suara seseorang dengan inderaku, namun mataku yang tlah menjauh dari lontaran kesadaran tak bisa melihatnya.
-oOo-
"Huuuaaaaahhh..." Menegakkan badanku, kulihat hal tak biasa menyambut bangun pagiku. Suasana alam yang menyegarkan begitu terasa. Kicauan burung dan semerbak angin yang berhembus bagai menemaniku di pagi yang dingin.
"Tu, tunggu! Ini dimana?" Langkah kakiku dengan cepat memperdirikan tubuhku yang pulih. Kubuka pintu yang tertutup rapat. Dengan perasaan yang berdegup kencang, aku mencoba untuk tetap terjaga.
"Sakura, kau sudah bangun?" Sapanya begitu lembut, senyumnya yang dari matanya seakan mengingatkanku pada seseorang.
"..Sa, Sasuke.." Terbesit untukku mengucapkan itu, tanpa terpikirkan olehku namanyalah yang keluar dari mulutku.
"Akhirnya kau mengingatku setelah kau memukulku dengan tasmu berisi batu"
"Ahahaha.." Tawa dan canda seakan memecah kedihan dan kesedihan dalam hati. Memecah tiada batas rasa pedihku.
Sekian lama kulupakan masa indah kecilku, yang sekarang tlah beranjak dewasa semakin membuatku melupakannya. Dubar jantung ini selalu terasa saat kupandangi matanya.
Namun, sekali lagi, aku masih meneteskan air mata bila teringat kehangatan yang tlah kutinggalkan. Tiba-tiba, tanganya yang hangat dan lembut mengusap air mata yang menodai pipiku. Dia seperti sudah tahu apa yang telah terjadi dan melihatku dengan tatapan iba, namun aku hanya bisa memalingkan wajahku darinya.
Langkahku pergi dari hadapannya dan membiarkan diriku sendirian. Aku tak tahu apa yang sekarang harus kulakukan, tak ada lagi yang memperpedulikanku seperti Sasori-san, tak ada lagi yang mengisi hari-hariku dengan kelembutan seperti kasih Ibu, dan tak ada lagi yang melindungiku seperti ayah. Sekarang aku sudah benar-benar sendiri.
Langkah kaki sejak ufuk matahari hingga ufuk barat sama sekali tak kurasakan, aku pergi ke tempat yang tak kutahui. Kutengok kiri dan kananku, dan ku tahu sekarang adalah tempat yang sudah teramat jauh dari keluarga dan sanak teman-temanku, berada di Jerman yang penuh liku masa lalu.
"Ternyata kamu Sakura ya?"
"Ah, ka,kamu? Bagaimana bisa kamu...?"
"Singkat saja, nona..."
Terkejutnya aku saat melihatnya berada disini. Entah apa yang sedang terjadi, sungguh aku tak pernah memahami jalan pikirannya.
To Be Continued
-oOo-
Halo minna..^^
Terima kasih ya yang sudah mereviews atau paling tidak membaca fict. Ini.
Semoga kalian semua bisa menikmati fict. Saia ini dan apabila ada kesalahan mohon memberikan kritik maupun saran, karena itu akan sangat membantu.^^
Terima kasih banyak dan ikuti terus ya kelanjutannya...^^
