Desclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Author: Jeevas Misa LawlietRiver Keehl

Genre: Romance, Friendship, drama

Warning: OOT, Ooc, abal bin ajaib, sangat dasar

Rated: T

Saia Jeevas, ini adalah ending dari fict. SEMI YANG MEMERAH. Saia harap anda semua bisa puas dengan fict ini. Dibaca ya semua!, jangan lupa reviewsnya ya. Terima kasih banyak. u,u

(Semi yang Memerah)

Terima Kasih

Part V

Mataku tak berkedip saat ku melihatnya, Ia dihadapanku sambil tersenyum lembut, senyum yang menyayat hati.

"Kenapa kau bisa ada disini, Itachi-san?" Kulangkahkan kaki mendekat padanya.

"Ikut aku!" Tangannya menarik tanganku yang terbias lurus. Tangan hangatnya yang lembut seakan membasuh kesedihan dan kesepian yang terletak di ulu jiwaku.

.

.

.

Langkah demi langkah kakiku bersamanya mengiringi kami ke sebuah gereja dekat danau yang indah nan jernih. Kupandangi mata Itachi-san yang nampak punuh beban berat, ia pangku seorang diri tanpa keluh kesah. Sungguh dirinya yang kuat.

Suara langkah kaki seseorang perlahan mendekat ke arah kami, namun Itachi-san hanya terdiam dan tersenyum. Aku hanya bisa melihat siapakah dia sambil berpegang erat pada gandengan Itachi.

"Itachi..." kata orang itu dengan senyuman khas.

"Ah, ternyata anda masih mengingat saya?" Itachi membungkuk memberikan salam hormat. Kurasa, Itachi-san telah mengenal orang itu cukup lama sehingga dia mengajakku kemari. "Sakura-chan, ini yang ingin kupertemukan denganmu. Dia seorang pendeta terkenal di Jerman, namanya Minato." Senyum keduanya sungguh membuatku nyaman.

"Se-senang bertemu dengan anda pendeta Minato, saya Sakura." Kataku memperkenalkan diri padanya dengan gugup dan memerah.

.

.

.

Detik demi detik, menit demi menit dan waktu terus berjalan. Pendeta Minato memberikan khotbah yang amat menusuk jantungku. Terlintas dosaku pada Ibu dan Sasori-san karena meninggalkan mereka tanpa kata. Tetes air mata tersayat menyentuh tanganku yang mengepal. Ku usap air mataku perlahan.

"Sakura-chan, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu tentang Sasuke." Kata Itachi-san mengajakku pergi setelah khotbah pendeta Minato terikat dalam benakku.

Sembari tersenyum, pendeta Minato melambaikan tangan pada kami dari gerbang suci gereja. Setibaku di sebuah hutan, Itachi-san mengantarku ke sebuah tempat nan indah, penuh dengan bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicauan, bagai surga di dunia yang hitam kelam.

Namun, di dalam keindahan pasti ada kelabu hitam disana. Itu pun juga. Sebuah jurang menganga dan hitam terletak di tepi tempat itu.

"Inilah jurang tanpa batas yang sering disebut Jurang Kematian. Suatu saat nanti, tidak.. sebentar lagi anda dan Sasuke-kun akan..." tanpa meneruskan perkataannya, Itachi-san menjatuhkan dirinya ke dalam jurang nara. Penuh kelam dan tanpa dasar.

"Itachi-saaaannn!" Teriakanku tak sampai untuk menolongnya. Tanganku yang kuraihkan tak sanggup menyelamatkannya.

.

.

.

Teriakanku hanyalah angin yang pergi begitu saja. Aku benar-benar merasa bersalah. Tetes aira mata yang tiada habisnya menemaniku tanpa gerak.

"Sakura.." Kudengar suara lembut sayu-sayu memanggil namaku, pikirku terlintas pada Itachi-san, namun tenyata semua hanyalah halusinasiku. Yang ada di depanku adalah Sasori-san...

"..Nii-san.." Kataku sambil mengusap air mataku dan bangkit berdiri. "Kenapa Nii-san ada di sini?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Sudahlah itu tidak penting, ada kabar gambira di musim semi ini bagi keluarga kita..." Mata yang berpijar penuh kebahagiaan memancar dari tatapannya. Apa gerangan yang terjadi selama aku pergi.

-oOo-

Selama roda-roda mobil terus berputar, aku terus memikirkan yang telah terjadi dengan Itachi-san. Sebenarnya apa yang ingin ia sampaikan padaku?

"Nah, sudah sampai." Ditempat ini aku mengingat masa lalu itu. Saat aku bertemu Itachi dan Sasuke. Namun, mengapa di tempat ini Sasori-san mengajakku? Di rumah keluarga besar Siyunka, tempat almarhum kakek Sasuke-kun tinggal.

"Nii-san, kita akan menemui siapa di..." Belum sempat aku meneruskan kata-kataku, di ruang keluarga itu bercucuran darah merah yang menyayat hatiku sampai retak. "...Sa-Sasuke-kun..." Kulihat tubuh dan wajahnya penuh luka sampai darah mengalir tanpa henti.

"Sakura, kamu sudah datang?" Sambutan ayah yang ingin memelukku sambil tersenyum riang, ku hempaskan.

"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" Teriakan serta tangisan meluap bagai ombak bernyair tanpa henti dari kepedihanku.

"Apa yang kau katakan, Sakura? Bukankah kau sendiri tahu bahwa keluarga Siyunka sejak dulu adalah penghianat keluarga kita. Mereka membunuh kakekmu demi uang dan kemewahan ini?" Kata-kata kejam muncul dari paman Hashirama.

Aku berlari tanpa 1 katapun. Berusaha untuk menyendiri.

AT MIDNIGHT

Semilir angin menemani tangisku di bawah gugur sakura. Tiba-tiba, rangkaian gugur bunga sakura yang berterbangan membentuk sebuah nyawa yang kukenal muncul. Itachi-san.

"..I-Itachi-san.." Kataku terbata-bata tak percaya.

"Larilah, bawalah Sasuke bersamamu, pergilah! Jangan biarkan ia mati..." Sembari menghilang Itachi-san seperti menangis dalam hati.

.

.

Aku termangu tak berdaya sambil meneteskan 1 air mata. Hatiku hambar, tak tahu harus bagaimana. Apa aku harus menyelamatkan Sasuke-kun dan membawanya pergi dari sini? Tetapi, apabila itu dilakukan, aku pasti akan mati. Namun, apabila aku mati dengan cinta, bagiku hatiku telah hidup dalam sinar bintang.

Aku pun memutuskan untuk mengikuti kata hatiku. Menyelamatkan Sasuke-kun.

-oOo-

Langkah kakiku ku jaga agar tak sampai terdengar seorang pun. Sambil mataku mengamati setiap pergerakan, seperti tak ada hentinya jantung ini berdetak kencang.

Sampaiku di depan kamar tempat Sasuke di baringkan dan disiksa, tubuhku bergetar, tangis pun tak bisa ku hentikan menyeruak dari mataku. Langkah kaki pun secara perlahan memasuki ruangan itu. Melihat darah bercucuran dan tangan diikat, sungguh meremukkan hati.

"..Sa-ku-ra.." Masih sempat ia memanggil namaku dengan senyuman yang menyakitkan.

"Hentikan Sasuke! Jangan..jangan begini..." Aku tak sampai hati melihatnya begini. Ku peluk tubuhnya yang berlumuran darah sambil menangis di pangkuan dadanya.

"akkhh.." Jeritnya kesakitan. Lalu terlintas ingatanku, bahwa aku harus menyelamatkannya. Kulepaskan tali yang mengikat tangannya satu per satu.

.

.

.

Lalu, ku lilitkan tangannya di pundakku, agar ia bisa berdiri. Aku harus membawanya pergi dari tempat ini. Itu pikirku.

"Sakura, terima kasih..aku.." Katanya sembari tersenyum, dan tangannya megusap air mataku.

Sungguh tercabik batin ini. Fajar sudah mulai menampakkan dirinya, aku berjalan secepat yang aku bisa. Berusaha untuk mencari tempat yang aman. Namun itu sia-sia saja.

Tanpa kusadari, ayah dan semuanya mengejarku.

"Sakura, berhenti" Teriak ayah berusaha menghentikanku dengan menembakkan peluru ke arahku.

"Sakura.." Sasuke yang sedang terluka, tetap bertahan. Darahnya bercampur darah tembakkan dariku bercampur dalam setiap langkah kami. Bercucuran menodai bunga-bunga yang habis mekar di musim semi ini.

.

.

.

.

"Eh.."

Namun tanpa kusadari, langkah kaki ini mengarahkanku ke tempat itu. Jurang tanpa Dasar.

"Sakura, lepaskan aku..!" Kata Sasuke sambil kesakitan

"Sakura, diam disitu!" Bentak Ayah sambil menodongkan pistol yang dibawanya.

Aku menuruti kata-kata mereka. Melepaskan tangan Sasuke, namun tetap di samping Sasuke. Sesaat setelah itu, bunga sakura berguguran indah. Seperti ada sesuatu yang tersirat di dalam setiap kuncup yang berjatuhan.

"Sasuke, tamatlah riwayatmu! Hihihi.." Paman Hashirama yang sudah bersiap melepaskan bulu panahnya tepat ke arah Sasuke.

"Hentikaaaaannnnn..!" Aku berteriak.

"Cih! Semuanya pasang busur panah kalian!" Perintah paman Hashirama kepada semua pengawalnya. Teriakkanku sepertinya tak mematikan amarahnya.

"Hentikan, apa kau tidak lihat ada Sakura disitu!" Ayah dan Sasori-san berusaha menghentikkan paman Hashirama. Namun itu percuma, sudah tak ada harapan lagi.

"Kalau korbannya seorang saja, tak ada masalah. Iya kan Sasukeeee?" Busur panah pertama mengenai tepat jantungku.

"Akhh.." Aku terjatuh sambil memuntahkan darah.

"Sakura.." Sasuke menolongku untuk berdiri.

"Heh, ke-na-pa kau jadi cengeng begitu, Sa-su-ke..?"

Ia memelukku sambil melindungiku dari tombak panah yang terus berdatangan.

"..Sa-suke, aku menyukaimu. Dari lubuk hati yang paling dalam, tersenyumlah padaku.." Pintaku sambil menangis di pelukkannya.

"Akkhh..!" Panah yang dilumuri racun sudah mengenai tubuhnya. "Aku juga menyukaimu, Sakura.." Katanya sambil tersenyum padaku.

Pelukan terakhir penuh darah ini menjadi sebuah kenangan termanis dalam sebuah hidupku.

Akhirnya kami menjatuhkan diri ke dalam jurang.

"Sakuraaaa!" Teriakkan Ayah, Ibu dan Nii-san akan selalu ku kenang bila sesampaiku disana.

"Sialan kau Hahirama!"

Gelap dan tak terhingga. Itulah yang kurasakan saat ini. Darah yang menetes di kuncup bunga-bunga di musim semi akan menjadi mimpi indahku bersama Sasuke-kun di surga. Terima kasih, musim semi. Semi ini akan menjadi musim semi termanis dalam kenangan pelita. Yaitu SEMI YANG MEMERAH.

∞∞ΩΩΩ∞∞

THE END

Selamat malam/pagi/siang/sore minna..^^

Jeevas disini. Terima kasih ya bagi kalian semua yang sudah mereviews atau paling tidak membaca fict. Ini..^^

Terima kasih juga yang sudah megikuti perkembangan fict. Ini mulai dari part I-V.

Semoga ending ini bisa membuat kalian semua terhibur, sebenarnya saia ingin membuat para penbaca (anda) sekalian menagis atau paling tidak terharu membaca fict ini..^^

Tapi maaf karena ending ini terlambat beberapa bulan dari sebelumnya.

Saya sangat mengharapkan reviews dari anda semua, karena itu sangat penting bagi saia. Sekia terima kasih.. ,^