Rizuka: Update~!
Ame: Capek sumpah gue ngetik nih chapter -_-
Rizuka: Siapa suruh jadi anak OS- #disumpel
Ame: Nyah… Disclaimer time! (bletak!) #dijitak Sora
Author : Merodine V
Story : Romeo & Cinderella (Part.2)
Summary : Romeo yang tidak ingin mati sia-sia hanya karena cinta yang tidak direstui dan Cinderella yang tidak ingin keajaiban berakhir pada dentangan jam ke-12. Bagaimanakah kalau mereka berdua bertemu dan mengubah jalan cerita menjadi lebih bahagia? Dan apakah kali ini mereka berdua dapat menemukan arti cinta yang sebenarnya.
Characters : Kagamine Rin & Len, Akita Neru, Shion Kaito
Disclaimers : Vocaloid bukan milik kami, kami cuma yang nulis fic ini~ :)
Setelah mengganti pakaiannya menjadi gaun pesta yang sangat elok, Rin pun keluar dari kamar Len. Berjalan dengan anggun seperti layaknya seorang puteri, membuat Len bertambah suka kepada Rin.
"Kau sangat cantik…" gumam Len kagum. Ucapan itu rupanya membuat Rin menjadi tersipu malu.
"T-Terimakasih…" ucap Rin malu.
"Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Len. Len juga sudah mengenakan sebuah jas hitam dan menata rambutnya yang tadi acak-acakan.
"M-Mau kemana kita?" tanya Rin.
"Tentu saja ke pesta dansa. Kau mau kesana untuk bertemu pangeran, kan? Aku akan mewujudkan keinginanmu. Anggap saja kalau aku ini adalah utusan ibu perimu yang dikirim untuk mewujudkan keinginanmu." Ucap Len sambil tersenyum.
"Mana mungkin ada hal seperti itu?" ucap Rin.
"Ada." Jawab Len. Rin pun akhirnya mengangguk.
"B-Baiklah. Aku akan pergi bersamamu." Ucap Rin malu.
"Kalau begitu, ayo." Rin menggenggam tangan Rin dengan erat dan menuju ke kereta kuda milik Len. Sebenanrnya, hati Rin sudah sangat berdebar-debar sejak tadi, tapi dia berusaha menutupinya.
Selama perjalanan, Len terus menggenggam tangan Rin. Hal itu membuat hati Rin terus berdebar-debar. Rasanya, Rin baru saja mengalami hal yang bernama "Jatuh cinta". Begitulah yang Rin rasakan saat itu.
"Nah, Rin. Kita sudah sampai." Ucap Len. Rin dan Len pun segera turun dari kereta kuda tersebut.
"Tapi, Len. Apakah tidak apa-apa kalau aku masuk bersamamu kedalam? Bagaimana kalau puteri Neru melihat kita dan nantinya akan salah paham? Aku tidak mau melakukan hal yang macam-macam, Len." Ucap Rin takut.
"Aku akan menanggung semua kesalahan yang aku perbuat sendiri." Ucap Len.
"Tapi…" Rin masih ragu.
"Cinderella, aku akui ini terlalu cepat. Tapi, aku mencintaimu." Ucap Len dan membuat Rin menjadi tersipu. Rasanya, seperti baru saja hati Rin terasa sangat hangat dan bahagia. Tapi, rasa ragu juga ada didalam hatinya.
"Entahlah, Romeo. Aku sendiri masih bingung. Bagaimana kalau nanti jam duabelas malam, semua keajaiban ini akan terhenti?" tanya Rin.
"Aku akan mencarimu, Cinderella." Ucap Len sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan masuk." Ucap Rin dan kembali menggenggam tangan Len. "Aku juga mencintaimu, Romeo." Ucap Rin pelan dan membuat Len tersenyum.
"Aku juga, Cinderella." Ucap Len dan memasuki ruang pesta bersama Rin. Banyak orang-orang yang terkejut melihat pasangan ini. Pertama, mereka kagum dan terpana melihat gadis yang sangat cantik yang sedang menggenggam tangan Len. Kedua, mereka terkejut karena ternyata bukan Neru yang datang bersama Len.
"Tidak perlu menghirakuan mereka, Cinderella. Berdansalah saja denganku sampai malam ini berakhir." Ucap Len.
"Tapi, aku merasa aneh, Len." Ucap Rin.
"Tidak ada apa-apa. Akulah pangeran yang seharusnya ada didalam hidupmu, Rin." Ucap Len dan membuat Rin kembali tersenyum dan berdansa lebih indah bersama Len.
Saat musik terhenti, dan jam berdentang dua belaskali, Rin dan Len berhenti berdansa. Dalam cerita Cinderella, ini adalah waktunya Rin untuk pergi karena keajaiban telah berakhir. Tapi, ternyata semua itu terlambat dan mengubah alur cerita yang seharusnya terjadi.
"Jadi, pangeran Len kini sudah tidak lagi bersama puteri Neru, huh?" terdengar suara yang tidak asing bagi Len. Len menoleh dan melihat Kaito berdiri didepannya dengan pandangan licik.
"Kaito." Gumam Len.
"Len! Jadi ternyata apa yang dikatakan ayahku benar, huh?" suara itu juga kembali membuat Len merasa lebih tersudut. Itu adalah suara puteri Neru.
"Oh, oh… Permainan dan kedokmu sudah terbuka sekarang, Len." Ucap Kaito.
"Len, kau ternyata hanya seorang pangeran tidak tahu diri. Seperti yang aku duga, kau tidak pantas bersama Neru." Ucap ayahnya Neru. Semua yang hadir di pesta itu hanya dapat terdiam menyaksikan saat-saat ini.
Sementara itu, Rin merasa sangat takut. Dia menakutkan banyak hal. Dia sudah hampir menangis saat ini.
"Kau yang duluan mengirim anak buahmu untuk mengejarku malam ini. Apa maksudnya itu? Kalau kau memang tidak merestui hubunganku dengan Neru, ya aku bisa saja mencari gadis lain lagi. Dan Rin lebih baik." Ucap Len.
"Benar-benar anak yang lancang kau!" ayahnya Neru hampir saja memukul Len, tapi dihadang oleh ayahnya Len sendiri.
"Tidak baik memukul orang didalam pesta orang lain. Kau punya sopan santun, kan?" ucap ayahnya Len. Ayahnya Neru hanya dapat terdiam.
"Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi di pestamu, Kaito. Nah, Len. Ayo, kita pulang sekarang." Ucap ayahnya Len.
"Tapi, bagaimana dengan Rin?" ucap Len.
"Rin, apakah benar itu kau?" terdengar suara ibu tiri Rin datang. "Kau benar-benar lancang telah membuat keluarga kita malu didalam pesta ini." Ucapnya dengan nada marah.
"R-Rin…" Len terdiam karena melihat airmata Rin terjatuh.
"Maafkan aku, Bu. Tapi, apakah boleh aku menjadikan Rin sebagai permaisuriku? Aku rasa dia adalah gadis yang selama ini aku cari. Aku berjanji akan memberikan banyak harta kepada Ibu jika dipersilahkan." Ucap Kaito sambil tersenyum licik kepada Len.
"Aku tidak keberatan." Ucap ibunya Rin yang memang menginginkan harta kekayaan dari pangeran Kaito.
"Kau brengsek, Kaito!" ucap Len marah.
"Kau yang brengsek, Len!" ucap Neru marah. Len pun menjadi terdiam. Sementara, Rin hanya dapat menangis.
Setelah itu pun, Rin dan Len harus terpisah. Sama persis disaat jam berdentang duabelas kali, keajaiban akan segera berakhir. Len harus menyesali segalanya dan Rin akan dipersunting oleh Kaito keesokan harinya.
Malam hari itu, banyak kejadian yang telah Rin lewati. Dari perlakuan ibunya yang tidak adil, pertemuannya dengan Len, ciuman pertamanya, pertikaian didalam pesta, dan akhirnya besok dia harus siap dipersunting menjadi permaisuri Kaito.
"Kenapa ini semua cepat terjadi, dan cepat menghilang? Dimana keajaiban dengan akhir yang bahagia, seperti didalam dongeng? Mungkin, Len benar. Aku tidak seharusnya percaya kepada dongeng." Gumam Rin sedih. Dia masih mengenang perjumpaannya dengan Len sambil tiduran di ranjangnya. Perlahan, airmata mulai menetes kembali.
"Menangis lagi, huh?" terdengar suara yang tidak asing bagi Rin. Suara itu berasal dari balkon kamarnya.
"S-Siapa itu?" ucap Rin takut.
"Ini aku, Cinderella. Aku datang untuk menjemputmu." Ucap Len yang lalu masuk kedalam kamar Rin.
"Len?" ucap Rin tidak percaya.
"Selamat malam." Sapa Len sambil tersenyum dan langsung memeluk Rin di ranjangnya.
"Kau kenapa…" suara Rin seperti mau menangis.
"Aku mau mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Ucap Len. Perlahan tangannya membelai pipi Rin. Rin pun memejamkan matanya.
"Hei, kau lucu, Rin. Buka matamu." Ucap Len. Saat Rin membuka matanya, dia melihat Len sedang tersenyum. "Aku tidak berniat melakukan apa-apa kepadamu dulu." Ucap Len.
"Tapi…" Rin perlahan melingkarkan tangannya di pundak Len, "Aku sudah milikmu malam ini. Berikan aku… Cintamu… Len…"
Perlahan, bibir mereka kembali bersentuhan. Tidak hanya itu. Len juga mulai membuka baju Rin. Dan malam itu pun, Rin memberikan seutuhnya dirinya kepada Len. Berharap, mereka akan bahagia untuk selamanya.
Sampai akhirnya jam menunjukan pukul dua pagi, mereka pun berhenti dan membuka mata mereka kembali.
"Aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku." Ucap Len.
"Aku juga hanya ingin bahagia bersamamu, Len. Tidak mau siapapun, kecuali dirimu." Ucap Rin.
"Maka dari itu…" Len mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Terimalah, cintaku ini, Rin." Len memberikan sebuah cincin pernikahan kepada Rin. Rin pun menjadi terkejut dan menangis.
"Tapi… Ibuku dan keluargamu nanti…?" tanya Rin pelan.
"Kita buat hidup yang baru untuk kita berdua. Kita akan membuat keluarga yang bahagia. Bersama dirimu, aku akan bahagia." Ucap Len.
"Kalau begitu…" perlahan tangan Rin menuju ke cincin itu, "Aku terima." Ucap Rin, memakai cincin itu di jari manis tangan kanannya.
"Hehehe… Aku senang." Ucap Len senang.
"Lalu, apa selanjutnya yang harus kita perbuat?" tanya Rin.
"Aku tunggu dibawah, Rin. Kau mengerti, kan?" tanya Len. Rin mengangguk sambil tertawa kecil.
"Iya. Kali ini, aku akan cepat, Len." Ucap Rin.
"Aku tunggu." Ucap Len dan kembali melompat melalui jendela kamar Rin.
Setelah mengemas barang-barangnya, Rin melangkah menuju balkonnya. Hatinya sangat bahagia saat ini, karena dia dapat terus bersama Len setelah ini. Dia pun sudah meninggalkan pesan kepada ibu tirinya dan menuliskan permintaan maaf.
"Cukup lama," goda Len. Rin tertawa.
"Hihihi… Maaf, ya." Ucap Rin.
"Melompatlah. Aku akan menangkapmu." Ucap Len.
"Baik." Rin pun melompat kebawah, menuju ke pelukan kekasihnya, Len. Meskipun terjatuh, mereka berdua tetap tertawa dan berjalan. Berjalan menuju ke sebuah cerita yang baru.
"Romeo tidak perlu mati demi Juliette, dan Cinderella tidak perlu takut keajaibannya terhenti pada jam duabelas malam. Itulah cerita baru yang kita buat, Rin." Ucap Len sambil tersenyum.
"Asalkan bersamamu, aku yakin akan happy ending. Hihihi…" ucap Rin.
"Ya… Cerita ini happy ending." Ucap Len sambil terus berjalan dan menggenggam tangan Rin.
Sekian Fic ini~!
Thx buat yang sudah baca :)
Yamigawa: Fic incest lagi, huh? -_-
Rin + Len: Biarin aja! Wooo… :P
Rizuka: Hahaha… udah lah, itu sih masalah sepele.
Ame: Capek -_- Baru pulang dari seminar udah deadline disuruh ngerjain fic ginian. Parah nih ah…
Rizuka: Hehe… Sorry, Ame. Abisnya kamu sibuk mulu sih…
Ame: Yah sudahlah…
Rizuka: Ok, readers (mudah-mudahan ada yang mau baca) please review ya? Kasian tuh Ame kurang tidur gara-gara ngurusin beginian doang.
Yamigawa: Ga penting, ga review juga gak-#ditakol laptop
Rizuka: Akhir kata, Review ya!
