Ya ampun O.O saya bikin lanjutan fic ini! Maaf kalau idenya garing. Itu penyakit yang ga bisa ilang buat saya DX Jadi, selamat bergaring ria!


Yo Nakajima Yo!

Chapter 2: 'Sebuah Permainan'

Disclaimer: Rave bukan punya saya. Nakajima juga. Sumpah! Bahkan kalau dikasih pun, saya gamau punya Jim-jim! (ikutan Maka-chan panggil jima jadi jim-jim *ditelen)

Warning: Maybe OOC, AU, gaje, garing kriukkkk~


Masih di pulau Garrage, tempat dimana seorang bocah mendengus kesal pada bunga raksasa yang ada di depannya.

"A-ku-bo-saaaaaaan!" Levin berteriak di depan muka Nakajima, karena ia tahu, mencari telinga Nakajima untuk diteriaki adalah sesuatu yang fatal akibatnya.

"Tuan Levin bermain denganku saja!" usul Nakajima. Namun Levin tidak peduli.

"Aku mau pergi!" teriak Levin.

"Pergi kemana?" tanya Nakajima, lagi-lagi dengan nada tidak bersalah.

"Kemana pun! Yang penting jauh dari mu!"

"Tidak bisa…" kata Nakajima singkat.

"Memangnya kenapa?"

"Nanti kalau ada pencuri bagaimana?"

"Aku tidak peduli lagi!"

"Kalau ada yang menculikku bagaimana?" kali ini Nakajima berkata, setengah menangis. Sebenarnya pilihan kata Nakajima kurang tepat. Bukankah seharusnya 'mencuri' bukan 'menculik'?

"Aku justru makin tidak peduli!" Levin mendengus kesal. "Lagi pula siapa yang mau menculikmu, Nakajima?" Levin kini menampilkan wajah yang biasa kita sebut cengo.

"Kumohon tuan Levin! Huhuhu…" kini Nakajima menangis penuh linangan air mata. Dan jangan lupa, linangan ingus juga!

Levin tampaknya tidak bisa berbuat apa-apa. "Baik! Aku akan tinggal! Tapi lakukan sesuatu agar aku tidak bosan!" kata Levin, masih kesal.

"Uh-huh. Terimakasih tuan Levin. Supaya tidak bosan ya. Kita bermain saja!"

Levin ragu-ragu. Ia kurang yakin pada setiap kata-kata yang dilontarkan Nakajima.

"Tapi, jangan yang aneh-aneh ya?" akhirnya Levin berkata.

"Ya! Tentu!" Nakajima berkata, sambil tersenyum dengan ekspresi yang aneh.

"Kau tidak bisa dipercaya!" Levin berteriak pada muka aneh Nakajima.

"Tapi permainan ini seru lho…"

"Huh, yang penting aku tidak bosan. Ya sudah! Permainan apa itu?"

"GOL!"

"Gahh! TIDAK MAUUUUUUU!"

Levin pun lari meninggalkan Nakajima yang sedang ber-gol-ria.

"Levin?" Cattleya bingung melihat keponakannya berlari melewatinya.

Tapi ketika ia melihat ke depan, ia tahu alasan Levin menjadi seperti 'itu'. Kini muncul setetes keringat belakang di belakang kepala gadis itu "Nakajima…"

.

-End of chapter 'Sebuah Permainan'-

.

Hehe. Jadi chapter selanjutnya bukan Levin lagi yang terkena tingkah gila Nakajima. Tapi kakak Haruuuu! XDDDD Ayo siksa semua orang, Jima! *disambit-kelopak-jima. Jadi, jadi, Chapter ini gimana? Makin garing? Makin aneh? Makin gila? Tulis di review! XXDD Di luar sana, yang masih jadi silent reader, review yah :D Because I love feedback very much XD Thanks for reading! Saya tunggu reviewnya :D