Hai minna-san thanks yang udah review fict gaje saya.. maaf saya belum bisa balas reviwnya..
Langsung aja ini chapter 2
Semoga lebih baik..
Pair: Ichiruki
Genre: Adventure, Hurt/Comfort, Fantasy, Romance
Rated: T
Disclaimer: Tite Kubo selalu memiliki BLEACH walau saya menjadi gila akibatnya.. *PLAAK*
Warning: OOC, GAJE, GA NYAMBUNG.. DLL
.
.
.
.
.
.
5 tahun yang lalu…
Rukia's POV
Aku tahu, mungkin akan terdengar konyol bagi para peri lain disini.. tapi, ini keputusanku sudah bulat untuk menggembara ke dunia nyata. Mungkin makian dan cemoohan dari bangsa peri akan menerpaku..
Alasanku yang sangat aneh. Ya, aneh.. aku ingin bertemu dengan pria mungilku yang pernah ku selamatkan. Entah.. aku bingung.. mengapa aku bisa menyukai manusia, anak kecil pula.. benar-benar aneh diriku ini… apa kata kakakku bila mendengar alasan ini?
Aku harus mencari alasan yang masuk akal..
End Rukia's POV
Nampak seorang wanita mungil yang sedang berkutat dengan pikirannya.. ya, Rukia memang sangat bingung mencari alasan untuk mengembara ke dunia nyata.. takut sang kakak marah, dia membayangkan bagaimana seorang Byakuya Kuchiki mengamuk kepadanya.
Ia harus memutar otaknya agar mampu mendapat kepercayaan sang kakak..
"Ahh.. aku bingung.." Desah Rukia karena belum juga mendapat alasan yang cocok. Kita lihat..
Pakaian yang bertebaran di ruang kamar..
Buku-buku yang tak karuan penempatannya..
Ranjang yang masih berantakkan..
Itu adalah efek dari bingungnya seorang Rukia Kuchiki.
"Ahaa~~ Aku ada ide.. Hehehe.." Tawa pelan Rukia dengan senyum misteriusnya. "Semoga berhasil.." kemudin ia pun memunguti dan merapihkan barang-barang yang berserakan dikamarnya.. "Aduhh.. Berantakkan..!" Teriaknya, menyesali perbuataanya yang tak ia sadari saat memikirkan alasannya untuk pergi ke dunia nyata.
.
.
.
.
.
Makan Malam..
Suasana hening nampak terlihat saat makan malam keluarga Kuchiki. Yang terdiri dari 2 orang kakak beradik. Makan malam sekarang ini adalah yang paling menegankan bagi Rukia. Sedangkan Byakuya dengan santai memasukkan Sushi favoritnya ke dalam mulutnya..
"Ehem.." Rukia mencoba mencairkan suasana yang kaku ini, dengan sedikit berdehem..
"Ada apa? Kau tersedak?" Tanggap sang kakak dengan tenang.
"Tidak. Emm.. kakak.. aku..aku.." Rukia agak gugup untuk bicara. Ia takut sang kakak menyadari kebohongan yang ia buat.
"Ada apa? Kau mau bicara apa? Katakanlah dengan jelas" Byakuya meletakkan sumpitnya agar bisa bicara dengdn sang adik lebih mudah.
"Aku, ingin minta izin ke dunia nyata."Tatapan yakin ditunjukkan oleh Rukia.
"Baik. Apa alasanmu?" Tanggap Byakuya sambil meneguk cangkir tehnya.
"Aku ingin belajar menjadi manusia.. ke sekolah, untuk belajar. Bukankah ini waktuku untuk kembali menggembara kak?"
"Hmm.. Memang benar..tapi, bisa lain waktu, kan? Kau masih bisa belajar disini."
"Kak, aku mohon sekali kak. Aku akan bersungguh-sungguh belajar disana." Rukia menunjukkan wajah polos memohon kepada sang kakak.
"Baik, kau ku izinkan. Nanti kau akan kuliah di Amerika untuk belajar. Kau mengerti?"
"Ah! Baik kak. Terimakasih banyak. Aku janji belajar sungguh-sungguh."
Makan malam pun dilanjutkan, dengan wajah ceria dari Rukia.
.
.
.
.
.
Esok hari..
"Kak, aku pamit ya. Aku tak akan berbuat macam-macam dan konsentrasi belajar." Pamit Rukia sambil menampakkan senyum diwajahnya.
"Hn. Kakak percaya padamu. Jaga dirimu disana ya?" Byakuya mengelus lembut rambut sang adik.
"okee"
.
.
.
.
.
"Baiklah, saatnya pulang ke apartemen.. Lucia pasti kesepian"
gumam Rukia, Lucia adalah adik angkatnya yang ia ambil dipanti asuhan 1minggu yang lalu.. Ia mengangkat Lucia yang tak punya orangtua angkat sendiri. sedangkan teman-temannya sudah memiliki orangtua angkat.
.
.
.
Mengetuk pintu apartemen dengan pelan.
Tok! Tok! "Kakak pulang, Lucia.." Teriak pelan Rukia didepan apartemennya.
"Ah. iya. maaf aku lama kak!" muncul gadis manis kecil dengan senyum, menyambut pulangnnya dang kakak.
"Tak apa. Ini makan malam kita"
"Waahh.. Sepertinya lezat. Ayo langsung dimakan selagi hangat.."
Makan malam pun diwarnai canda tawa antar meraka berdua. walau baru tinggal bersama selama 1minggu, tapi mereka terlihat sangat akrab.
.
.
"Kau tahu rencana kakak ,kan?"
"Ehm, iya."
"Kakak berangkat 2hari lagi, hati-hati ya kau disini. Kakak pasti rindu padamu.." Ucap Rukia sambil memeluk Lucia.
"Aku juga pastinya kak." membalas pelukan sang kakak.
"Ayo kau tidur, ini sudah malam. Kakak berangkat jam 9 pagi" menyelimuti sang adik, sambil membelai wajah adik mungilnya.
"Iya,kak. Oyasumi.." Lucia pun langsaung terlelap dalam selimut hangatnya.
"Oyasumi mo.." mengecup pelan puncak kepala Lucia. "Aku juga harus tidur nih.." Menyelimuti tubuhnya sendiri, dan ia pun langsung terlelap..
.
.
.
.
"Kakak pergi yahh.." memeluk erat sang adik mungil seakan-akan tak mau lepas.
" saja kan ada bibik Hana.. ya, kan bi?"
"Tentu saja. Kau bisa tenang belajar disana dengan tenang" Ucap wanita berumur 36th dengan senyum keyakinan.
"Oke. Kakak percaya kok!" jawab Rukia dengan mengangkat jempolnya.
"Daahhh..."
"Hati-hati kak.." melambaikan tangan kepada sang kakak, memang ia amat sedih. Baru seminggu tinggal bersama, ia harus ditinggal.
.
'Aku akan jumpa denganmu.. nanti pria kecil..' gumam Rukia sebelum memasuki pesawat..
.
.
.
BACK TO NOW..
"Aku berangkat, ya kak.." Lambai tangan Lucia.
"Hati-hati ya, belajar yang baik disekolah." nasihat sang kakak a.k.a Rukia.
"Sipp.. hehe.."
.
'Pria kecil, kapan aku bertemu denganmu?' Angin seakan-akan menyalurkian isi hati Rukia kepada sang pria..
.
.
'ini..' Gumam pria berambut orange a.k.a Ichigo Kurosaki. Perasaan aneh tadi terbuyarkan akibat datangnya seorang gadis.
"Ichigooo...!" teriak sang gadis yang menurut orang-orang yang mendengarnya terganggu.
"Apa sih? Berisik tahu!" Tanggap Ichigo dengan malas.
"Maaf, habis kau bengong terus. Makanya aku teriak.. hehe"
"Aku tak bengong kok. Ayo jalan..!" Jawabnya sambil mengacak rambut orangenya pelan.
"Eh. Iya, nanti pulang sekolah ke rumahku yuk!" ajak Lucia agak mlu-malu.
"Untuk apa? mendengar suara bawelmu?"
"Kakakku, baru pulang dari Amerika kemarin. biar kau bisa mengenalnya, dia cantik lhoo"
"Baik, hanya sebentar. tapi, aku tak tertarik. Aku sudah punya peri pelindung" senyum Ichigo dengan misterius.
"Hah? Apa maksudmu?" penasaran dengan ucapan Ichigo.
"Ah? Sudahlah.. Lebih baik kita cepat-cepat jalan kalau tak ingin terlambat"
"Eh? Baiklah." mereka pun bergegas ke sekolah.
.
'Apa maksud Ichigo, ya?'
.
.
.
"Ayo, kita pulang. Kakak pasti senang bertemu denganmu"
"Hn." Jawab Ichigo agak malas.
.
.
"Aku pulang kak!" Teriak Lucia agak keras.
"Hei, kau ini jangan berisik" Ichigo protes sambil menutup telinga.
"Weeekkk!"
"Maaf, lama. Kakak sedang masak, eh?" Rukia membuka pintu, dan wajahnya agak kaget melihat 1 orang asing yang dibawa adiknya.
"Kenalkan kak, ini Ichigo Kurosaki. Ichigo, ini kakakku Rukia" mengenalkan 2orang terdekatnya.
"Ah, i-iya" Ichigo pun nampak kaget sama dengan reaksi Rukia tadi.
'Tak mungkin.. Dia mirip sekali dengan pria kecilku..' gumam Rukia
'Apa.. dia.. Periku.. Tapi, bagaimana bisa..? Tak masuk akal..'
.
.
.
TBC
Oke.. arigatou untuk readers yang bersedia membaca fict aneh ini..
jaaa.. di chapter depan..
