Oke, new chapter! Chapter satu! Atau maksudnya, One-shot nomor satu! Oke, kalau anda mau baca, silakan lanjut saja~
Kalau anda mau lihat jawaban review anda silahkan baca dulu cerita ini, jawaban review akan ada di bawah.
Characters: Julio Paz (Bolivia), Miguel Alejandro Prado (Peru), José Manuel González Rodríguez (Chile), Papa Tono dan Mama Lovi, a mention of Martín Hernández (Argentina).
Genre: Family.
Warnings: Nggak ada...? Yah, paling cuma munculnya dark!Spain. Oh ya, chapter ini juga agak pendek. maaf. tak suka tak usah baca.
Disclaimers: Semua OC Latin Hetalia hak cipta grup Latin Hetalia di LiveJournal. Hetalia, Spain, dan South Italy hak cipta Himaruya Hidekaz.
Jadi... minna... RnR? :)
Tuk Menjajah dan Dijajah—Just Everything Else
"Nah! Mulai sekarang, namamu adalah Julio Paz. Si?"
"Si, Papa."
Antonio baru saja selesai menamakan anaknya yang paling muda di ulang tahunnya yang ke-enam. Julio Paz. Anak ke-sembilan dari sembilan anak yang Lovina temukan dan adopsi. Antonio memeluk badan kecil Julio tersebut, sambil bergumam, 'hermoso, hermoso~'. Julio jelas-jelas tidak menyukai perlakuan tersebut sama sekali. Menurutnya, Papa Tono terlalu berlebihan. Atau bodoh, mungkin lebih tepatnya. Ia cemberut.
Lovina juga cemberut. Ia memutar bola matanya, mendesah atas kebodohan suaminya (sepertinya ia setuju dengan Julio). Orang macam apa yang baru menamakan anak-anaknya pada hari ulangtahunnya yang ke-enam? Orang macam Antonio, rupanya. Ia menggelengkan kepalanya, menghampiri Antonio dan Julio.
"Dio Mio, Tono! Sudahlah, lihat Julio, sudah jelas ia tidak suka dipeluk olehmu." Lovina mengambil Julio dari Antonio, berbicara dengan aksen Italia yang tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis. Antonio memasang tampang tersakiti. Palsu. Lovina hanya mendengus.
"Baik, Julio, sekarang kamu boleh bermain dengan kakak-kakakmu." Lovina membawanya ke ruangan lain. Di sana, ia bisa melihat dua anak lain. Salah satu dari mereka adalah kakaknya—kakak biologisnya, tentu saja. Mama Lovi telah memberitahunya sejak dulu tentang tes DNA yang telah diuji oleh dokter kerajaan bahwa Miguel Alejandro Prado adalah kakak biologisnya. Ya, anak yang berambut acak-acakan itu. Yang bodoh itu. Julio tidak bisa mengerti mengapa anak seperti itu bisa menjadi kakanya.
Anak yang satunya lagi adalah José Manuel González Rodríguez—huh, nama yang panjang sekali, keluh Julio—biasa dipanggil Manuel. Julio sudah menghafal nama mereka karena mereka berdua—seperti yang lain—lebih tua satu tahun daripadanya, sehingga mereka dinamakan lebih dulu daripadanya.
"Nah, sana main," kata Lovina. Ia meninggalkan ruangan tersebut, tetapi suaranya yang sangat keibuan berubah menjadi bentakan galak saat ia kembali kepada Antonio, yang memang sudah terbiasa terdengar oleh anak-anak mereka. Anak-anak mereka tidak peduli mengapa. Bukan urusan mereka ini kok.
Sementara itu, melihat kedatangan Julio, Miguel memeluknya dengan erat. "Hermano~! Jadi apa nama yang Papa Tono berikan padamu? Ayo, kasih tahu dong! Kita penasaran nih!" ucapnya sambil berjingkrak-jingkrak. Manuel menatap Miguel tajam dengan tatapan 'kita? yang benar saja' dan menyilangkan tangannya. Julio menatap mereka berdua.
"Papa bilang... Namaku Julio Paz." ujarnya, agak pelan. Miguel tersenyum cerah. "Julio Paz," ia mengecap nama tersebut di lidahnya, "Nama yang manis sekali untuk adikku yang manis~" ia berkata, sambil mencubit pipi Julio dengan gemas.
"A-ay, M-miguel! B-bisakah kamu tidak mencubitku seperti itu untuk sehari saja...?" Julio mengeluh, dan mengubur mukanya di dalam poncho-nya. Mungkin ia tersipu dengan perkataan Miguel. Terlihat jelas sih, dengan mukanya yang memerah.
"Jajaja, lihat Manu, ia tersipu lagi. Mungkin kita panggil dia Juli saja ya, Manu, biar lebih... imut." Miguel tertawa melihat penyangkalan adiknya. Manu hanya bisa mendesah di bawah napasnya, "Serius, Miguel, ada apa denganmu dan Martín sehingga setuju untuk memanggilku 'Manu'?"
Miguel nyengir dan mengangkat bahunya. "Tidak ada," ia berujar. "Kita keluar yuk! Bosan di sini..." Ia menarik tangan Manuel dan Julio. Manuel menarik kembali tangannya, memelototinya, tetapi tetap berjalan mengikuti Miguel. Miguel hanya bisa tersenyum ke arahnya.
Tetapi hanya sebelum mereka mencapai pintu keluar, Lovina kembali datang ke dalam ruangan tersebut. "Miguel, Manuel," panggilnya. "Kalian jangan main dulu ya. Kalian harus mengerjakan kewajibanmu dulu," ia berkata. Kewajiban? pikir Julio. Kewajiban apa?
Miguel mengeluh. "P-pero, Ma! Cool Llama kan kesepian! Dari tadi pagi kan kita di sini terus, seperti yang Papa Tono suruh, jadi kita belum bisa ketemu dia! Lagipula, Cool Llama kan juga ingin tahu nama baru hermano, iya kan?" ia membidik matanya pada Julio. Julio mengangguk.
"Miguel! Kamu tahu kan apa hukumannya kalau membantah perintah Papa Tono? Dan kamu tidak mau mendapatkan hukuman tersebut, kan? Makanya, sana, ayo kerjakan dulu kewajibanmu!" Suaranya sedikit meninggi. Miguel sedikit terlonjak. Lovina menghela napas.
"Ayo, Migu, Manu, Papa Tono tidak suka kalau kalian membantah. Yang lain sudah mulai tuh. Ayolah."
"Iya, Mama," Miguel bergumam. Ia berjalan menuju pintu keluar bersama Manuel yang juga sedikit takut dengan meningginya suara Mama Lovi. Julio terdiam di mana ia berdiri. Sampai sekarang, ia tidak pernah mendengar Mama Lovi meninggikan suaranya di depan anak-anaknya.
Atau mungkin, di depan dirinya?
"Dan Migu?"
"Si, Ma?"
"Bawa Julio bersamamu."
Miguel menatap Lovina, lalu menatap Julio, Lovina lagi, dan Julio lagi.
"Baik Ma."
Lovina meninggalkan ruangan tersebut. Julio menatap Miguel penuh dengan pertanyaan. Miguel tersenyum pahit. Ia mengetahui segala jenis senyum dari Miguel, tetapi senyum pahit terasa asing baginya. Seperti... bukan Miguel.
"Maaf, Juli, tapi kau harus ikut denganku. Papa Tono tidak suka kalau kita tidak melaksanakan perintahnya." ia menarik tangan Julio dengan lembut. Julio menaikkan salah satu alisnya.
"Perintah apa?"
Miguel tidak menjawab.
Julio tertegun dengan perubahan sifat kakaknya yang drastis. Ia terdiam sejenak.
"Miguel duluan deh. Aku... Aku mau mencari sesuatu dulu..." ia berkata. Mencari jawaban.
Miguel menatapnya dengan tatapan, 'mencari apa?', tetapi ia memutuskan untuk hanya mengangguk. Ia menunjuk pintu keluar, di mana Manuel bersender, sudah menunggu lama. "Aku akan menunggu di luar bersama Manuel, kalau sudah ya."
Julio mengangguk. Miguel dan Manuel pun meninggalkan ruangan tersebut pula.
Tinggallah ia sendirian di ruangan tersebut. Ruangan yang biasanya riuh dengan suara anak-anak bermain sekarang sunyi. Rasanya sedikit aneh. Tetapi itulah yang ia butuhkan. Kesunyian. Ia butuh suatu waktu untuk menyerap ini semua. Apa yang terjadi? Mengapa Mama Lovi tiba-tiba membentak Miguel, salah satu anak terbaik di antara anak-anak Papa Tono? Mengapa Miguel tiba-tiba berubah, dan mengapa ia tidak mau menjawab pertanyaannya?
"Antonio, kamu tidak bisa melakukan ini selamanya."
Julio bisa mendengar suara Mama Lovi. Ini dia! pikirnya, Mungkin saja aku bisa mencari tahu dengan mendengarkan percakapan Mama dan Papa...
"Haha, lucu sekali, Lovina. Tentu saja aku bisa. Cih, anak-anak bodoh, mereka tidak tahu nasib seperti apa yang akan menimpa mereka."
Bodoh! Julio menggeram, merasa tersakiti. Mengapa Papa Tono menyebut anak-anaknya bodoh-?
"Antonio, mereka masih anak-anak—"
"Tepat sekali. Memang itu intinya."
"Tonio!" suara Mama Lovi terdengar lebih tinggi lagi. "Ini sudah tidak bisa berlanjut lagi! Memang apa arti anak-anak itu padamu, hah? Kamu bahkan sering melupakan nama mereka sendiri! Perlakuan seperti apa itu?"
"Merea hanya anak-anak, Lovina! Bukan apa-apa lagi." suara Papa Tono menggelegar. Sejenak suasana sunyi senyap. Bukan apa-apa lagi. Julio mengulang kata-kata tersebut. Terasa pahit di lidahnya. Jadi untuk Papa Tono, kita bukan apa-apa lagi selain anak-anak kecil, Ia menggeram.
Beberapa saat kemudian Mama Lovi berbicara lagi.
"Aku akan memberitahu anak-anak tentang—"
"Beritahukan saja."
Suara Papa Tono terdengar semakin dekat. Julio bisa mendengar Papa Tono berjalan... berjalan di dekat pintu ruangan di mana ia berada. Apakah Papa Tono mengetahui bahwa aku sedang mendengarkan perbincangan mereka—?
Suara tapak kaki itu menjauh. Julio menghela napas. Miguel, Miguel, donde esta? Julio mengatakan di bawah napasnya, jantungnya berdebar-debar.
"Mereka tidak akan mengerti. Mereka akan kupekerjakan—" mendengarkan kata tersebut, napas Julio tercegat, "—dengan pekerjaan kecil dulu... lalu semakin mereka besar, pekerjaan mereka akan menjadi lebih berat lagi... dan pada saat itulah, pada saat mereka mulai mengerti..."
Suara Papa Tono berhenti sebentar. Julio mengambil kesempatan ini untuk merenung sejenak. Dipekerjakan? Apa maksudnya? Ia mencoba mengingat-ingat. Selama setahun yang lampau ini memang Miguel sudah jarang bermain dengannya. Selama setahun yang lampau... Miguel memang terlihat mudah... capek. Julio baru saja menyadari bahwa lingkaran hitam di sekitar mata Miguel sudah terbentuk selama setahun yang lampau... setelah mendengarkan ini semua. Mungkinkah Papa Tono akan melakukan hal yang sama padaku? Julio tidak bisa berhenti memikirkannya. Saat itu juga, ia bisa mendengar Papa Tono melanjutkan kalimatnya.
"...Mereka sudah terlambat."
"Dan kalau mereka sudah mengerti duluan...?"
Julio bisa mendengar Papa Tono tertawa kecil. "Yah... itu akan berakibat fatal."
Julio tersentak. Mungkin Papa Tono memang mengetahui bahwa ia sedang mendengarkan percakapan mereka.
Dan mungkin ia akan memaksanya merahasiakan apapun yang ia ketahui tentang ini.
Atau mungkin ia akan membungkam saja.
Oke, done! One-shot ini maksudnya untuk menunjukkan bahwa Spain menganggap koloni-koloni-nya 'just colonies, nothing else'. Begitu saja sih.
Dan oh ya! Jika kalian berminat untuk mengetahui lebih banyak tentang karakter-karakternya, silakan mencari tahu di grup Latin-Hetalia di LiveJournal maupun deviantART. Karakter-karakter di sana universal, tipe yang sudah dipakai oleh banyak orang. (termasuk saya.) /promosi
Jawaban review:
ShadowGreen, terimakasih banyak sudah mau membaca fic ini. Memang jarang sih ada orang Indo yang suka Latin Hetalia! Liat aja. Amerika Latin kan ada di dunia belahan lain sama kita! Kalau ke-9 bayi Kerajaan Spanyol nggak akan mencangkup Kosta Rika... maaf. Kan sudah saya tulis di prolog, kalau daratannya adalah 'South America'. Kosta Rika lebih mengarah kepada Amerika Tengah. (bukan berarti dia nggak akan muncul di fic ini lho, tapi.) Termakasih sekali lagi, ciao~
ga bs login krn koneksi, terimakasih banyak sudah mau mengkritik cara menulis saya! Saya senang sekali lho waktu membaca review anda. Mungkin ini karena saya nggak pernah bikin prolog sebelum sebuah cerita ya. Hm, saya memang jarang baca cerita sih, kecuali kalau teman saya meminta saya untuk membaca fanfic yang ia minta saya baca(?). Anyway, memang benar dong, Brazil adalah satu bayi itu. Satu, tetapi lebih hebat. Hehe. Dan sekali lagi, terimakasih :) semoga bisa login kembali~
Sekian, saya tunggu apa pendapat minna. Salam~
