Selesai juga~ saya mencoba untuk mengupdate secepat mungkin mumpung libur seminggu dan ide masih fresh di kepala. Jadi nggak apa-apa ya saya updet sekarang.

Characters: Luciano da Silva (Brazil), Martín Hernández (Argentina), Daniel de Irala (Paraguay), Sebastián Artigas (Urugay), a mention of Catalina Gómez (Colombia) and María Miranda de la Coromoto Paez (Venezuela).

Genre: Friendship

Warnings: Tak usah baca bagi yang tidak suka fic 'filler'. Fic ini hanya tentang bagaimana Brazil mengatasi kesepiannya menjadi satu-satunya anak Portugal, jadi please jangan baca kalau nggak suka.

Disclaimers: All characters in this one-shot belongs to Latin Hetalia group in LiveJournal.


Tuk Menjajah dan Dijajah—Silence and Loneliness

Sunyi.

Suasana di tempat itu tidak bisa menjadi lebih sunyi lagi. Luciano da Silva membenci kesunyian, karena hal itu tidak terlahir di dalam dirinya dan tidak mengalir di darahnya. Luciano da Silva membenci kesunyian, karena apa yang terlahir dalam dirinya sangat bertolak belakang dengan kesunyian. Ia terlahir sebagai anak yang ceria, anak yang bebas... tidak bisa dikurung di dalam tempat kesunyian seperti Istana Kerajaan Portugal. Darah yang mengalir di tubuhnya memberitahunya bahwa ia kehilangan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya merasa depresi.

Ia merasa... kesepian.

Tidak seperti Istana Kerajaan Spanyol...

Luciano memang sering mencari tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di istana kerajaan tetangga tersebut. Dari para penduduk-penduduk tua yang membicarakan pengalaman mereka dulu di Kerajaan Spanyol, dari para kurir-kurir pesan kerajaan yang membawa kabar berita dari adik Papa Gabi, dari para pedagang buah yang suka menggosipi kerajaan tersebut dengan penyetoknya yang datang dari Kerajaan Spanyol...

Banyak sekali cerita yang Luciano pernah dengar dari banyak orang, tetapi sejauh yang ia tahu, istana tersebut tidak pernah luput dari teriakan-teriakan dan canda tawa anak-anak. Seumpama keadaan di sana... memanggil-manggil Luciano untuk datang dan bermain bersama anak-anak tersebut.

Yah, Luciano pernah mencoba untuk singgah di tempat mereka... tetapi Papa Gabi dan Mama Ave. Mereka tidak akan pernah membiarkan Luciano bergaul dengan mereka.

'Mereka anak-anak bodoh. Jangan sampai tertular.' Perintah Papa Gabi. Luciano mengingat-ingat percakapan tersebut, percakapan di hari ia tertangkap basah mencoba untuk diam-diam melompati perbatasan kedua kerajaan tersebut untuk memperhatikan Istana Kerajaan Spanyol dari dekat.

'Memangnya Papa tahu dari mana?' Luciano merengut. Sok tahu.

'Karena Papa mereka bodoh.' jawaban Papa Gabi tidak memuaskan.

Luciano memutuskan untuk berjalan-jalan hutan perbatasan Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugal—tanpa izin Papa Gabi maupun Mama Ave, tentu saja—dan menerka-nerka seperti apa keadaan di istana mereka. Sesekali Luciano pernah melihat beberapa di antara mereka masuk ke dalam hutan tersebut. Yah, Luciano sering sekali melihat anak berambut hitam acak-acakan yang sangat berisik itu bermain di dalam hutan bersama adiknya, mungkin? Burung-burung sangat menyukainya. Luciano tidak tahu mengapa. Anak ini tipe anak yang mencintai alam, mungkin. Tak jarang mereka datang dengan seekor Llama yang... dipakaikan kacamata hitam. Aneh.

Beberapa kali ia melihat dua anak perempuan bermain bersama di sana. Yang satu dengan rambut coklat lebat yang diikat dengan kain yang ikatannya, menurut Luciano, terlalu longgar. Yang satunya lagi memiliki rambut hitam kelam yang selalu disisir rapih dengan sekuntum kembang menghiasi kepalanya. Luciano senang sekali memperhatikan mereka, menurutnya mereka berdua sangat cantik. Tetapi juga bukan anak-anak seperti mereka yang Luciano ingin ajak bermain.

Tak tahu mengapa, hanya tiga anak yang benar-benar menarik perhatiannya, dan mereka bertiga bukanlah anak-anak yang dijelaskan di atas. Jika Luciano ingat-ingat, nama mereka memanggil satu sama lain 'Sebas', 'Martin', dan 'Dani'. Mungkin. Yang pasti, dua diantara mereka berambut pirang, dan yang satunya lagi itu berambut coklat. Salah satu dari dua pirang tersebut memakai kacamata. Ya, mereka bertigalah yang menangkap perhatiannya paling banyak. Luciano sering sekali memperhatikan mereka. Yah, seandainya Papa Gabi tidak melarangnya bergaul dengan mereka, pasti Luciano sudah mengajak mereka bermain bersama. Persetan dia.

Luciano pun memanjat pohon di mana ia sering memperhatikan anak-anak Kerajaan Spanyol. Setelah menunggu berapa lama, ia mulai berayun-ayun di dedahanan pohon tersebut. Tempat itu adalah salah satu tempat faforitnya, di mana sinar matahari selalu menyinari sejak pagi hingga petang. Tak lagi tempat itu menyembunyikan badan kecilnya dari pengelihatan orang lain. Tempat yang paling cocok untuk menghabiskan waktunya memperhatikan anak-anak tersebut.

Salah satu tempat di mana ia menikmati tidak hadirnya kesunyian dan kesepian...

SREK!

Luciano terlonjak, dan secara refleks ia menoleh ke arah dari mana suara tersebut berasal. Fiuh. Tidak ada apa-apa. Luciano kembali menunggu kedatangan anak-anak keluarga Spanyol di hutan tersebut.

"Hoi. Hoi, Anon, di sini," panggil sebuah suara.

Anon?

"Ya, kau. Sini." Suara yang sama kembali berbicara. Luciano hanya bisa melihat dedaunan lebat dari mana suara tersebut berasal. Ia tidak benar-benar pasti bahwa panggilan tersebut ditujukan padanya.

"M-martín? Kau yakin dia adalah anak Kerajaan Portugal...? Bagaiman kalau kita panggil saja dengan bahasa Portugis...?"

"Dani. Dani. Meskipun kehebatanku tidak usah dipertanyakan, bahasa Portugis itu bagaikan bahasa alien bagiku. Susah banget. Masa' dalam bahasa Portugis mi adalah meu—"

"Oh, ¡Por el amor de dios, Martín!" suara terakhir mengakhiri pembicaraan mereka. Dan sebelum Luciano mengetahui apa-apa, sepasang tangan menembus dedaunan tersebut dan menariknya masuk.

"Huaa!" Luciano berteriak, melepehkan dedaunan yang sempat masuk ke dalam mulutnya. Ia mengerjapkan matanya yang terlilip dedaunan kecil. "K-kalian pikir kalian siapa, hah?"

Luciano terdiam sejenak. Dua anak berambut pirang dan satu anak berambut cokelat.

Anak-anak kerajaan Spanyol.

"Halo di sana! ¿Cómo estás?" Sambut si rambut cokelat dengan senyum terhangat yang pernah Luciano terima. Ia mengerutkan dahinya pada kata 'como estas'. Salah satu dari mereka yang berambut pirang mendorong si rambut cokelat.

"Cih, mana bisa ia mengerti cómo estás, Dani? Kau sendiri kan yang mengusulkan kita berbicara dengannya dalam bahasa Portugis?" Ia mencemooh. Luciano memperhatikannya pelan tapi pasti. Anak ini memiliki mata biru terindah yang pernah ia lihat. Warna birunya sejernih air terjun Iguazu yang tidak jauh dari sini, seperti air terjun yang bisa membuat seseorang kehilangan dirinya...

Deus Meu, Luciano, dia adalah seorang anak lelaki! Luciano menampar dirinya dalam hati.

Anak berambut pirang yang satunya lagi menatapnya. Ia memakai kacamata dan memiliki raut wajah setegas Papa Gabi, tetapi pada saat yang sama, ia bisa melihat sedikit sentuhan kelembutan di wajanya. Ia memberinya sebuah tempurung labu, dengan air panas yang mengepul di dalamnya. Sedotan minuman tersebut aneh. Terbuat dari logam.

"Kau baik-baik saja?"

"Sepertinya," Lu menerima tawaran si kacamata tersebut. Ia menyisip minuman aneh tersebut. "Pfff! O q-que é—"

"Tuh, kan, Sebas, kubilang juga apa! Pasti dia nggak suka. Mendingan yang tereré saja kan, kubilang—"

"Minuman apa ini?" Luciano mencoba sebisanya untuk membersihkan lidahnya dari minuman tersebut. "Dan apa perlu kalian denganku?"

Mereka bertiga menatap Luciano.

"Tentu saja untuk melihat seperti apa kamu dari dekat, da Silva!" si mata biru mengambil minuman tersebut dari pangkuan Luciano. Luciano membelalakkan matanya. Si mata biru baru saja memanggilnya dengan nama terakhirnya. Ia memperhatikan si mata biru menyisip minuman tersebut dengan sedotan yang sama. Eukh, Luciano menutup mulutnya. Menjijikkan.

"Kalian... kalian dari Kerajaan Spanyol, kan?" Luciano mengalihkan perhatiannya dari si mata biru. "Bagaimana bisa kalian tahu namaku?"

"Oh, anak-anak Kerajaan Spanyol senang sekali membicarakanmu! Terutama Catalina dan María (Luciano bisa mendengar si mata biru mencibir saat itu). Martín juga lho..." si rambut cokelat tertawa kecil, dipotong oleh si mata biru yang tersedak saat mendengar namanya disebut.

"Bohong! Dani, awas saja kau—" ia terhenti saat si kacamata memelototinya.

"Hey, hey, Sebas, aku cuma bercanda. Bagaimanapun juga, Hola," ia menatap Luciano, tersenyum untuk pertama kalinya sejak Luciano melihatnya, "Namaku Martín Hernández, senang bertemu denganmu, eh?"

"Soy Daniel de Irala! Salam kenal!" si rambut cokelat melambaikan tangannya, rendah tetapi cukup untuk Luciano anggap sebagai salam hangat. Mengejutkan bagi Luciano, ia melakukan hal yang sama dengan Martín. Mengambil minuman tadi darinya dan menyisipinya dengan sedotan perak yang sama.

"Aku Sebastían Artigas," si kacamata membetulkan posisi kacamatanya, dan mengambil minuman tadi dari tangan Daniel. Ia menyisip minuman tersebut dengan cara yang sama.

Luciano melihat sekitarnya, untuk pertama kalinya sejak ia ditarik masuk ke dalam sini. Tempat ini benar-benar tertutup, dan seberapa seringnya Luciano memasuki hutan ini, ia tidak pernah mengira tempat seperti ini hanya beberapa senti dari tempat persembunyiannya selama ini. Tempat ini ditutupi oleh dinding-dinding yang terbuat dari beberapa lapis dedaunan lebat, saking lebatnya sinar matahari hanya bisa menembus sedikit sebagai titik-titik penerang. Ia menoleh ke arah mereka bertiga lagi.

"Tempat apa ini?" ia bertanya kepada Sebastían.

"Oh, ini," Sebastían membiarkan matanya berkeliling tempat tersebut, seakan ia baru melihat tempat ini untuk pertama kalinya. "Yah, ini tempat di mana kita suka bermain. Yang lain juga. Kita tidak terlalu suka kalau Papa Tono tiba-tiba memberi banyak perintah. Jadi kita kabur ke sini sekali-sekali..."

"Papa Tono memang aneh," Daniel berkomentar. "Terlalu banyak suruh-suruh! Bahkan Julio saja ia pekerjakan..."

Yang benar saja, pikir Luciano.

Setelah beberapa obrolan dan pengoperan minuman tadi (yang terjadi berkali-kali, dan seberapa kali ia mencobanya, Luciano masih membencinya) berlalu, hari menjelang sore dan mereka sepakat untuk berpisah pada hari itu.

Luciano mulai berjalan menjauh dari pohon tersebut, sebelum Martín menghentikannya.

"Hey, Lu," panggilnya.

"Ya?"

"Waktu yang sama, tempat yang sama?"

"Tentu saja," Luciano tersenyum girang. "Martín?"

"Hng?"

"Apa nama minuman tadi?"

"Oh itu. Itu adalah Maté. Kau tahu. Minuman persahabatan."

Luciano membalikkan badan dan tersenyum kecil. Sepertinya ia akan menghabiskan banyak waktu dengan mereka.

Darah di tubuhnya memanggil untuk Luciano beberapa teman, dan sekarang ia mendapatkannya.


Nota:

Sesuai rikues Clarinetto789, ini kosakata kecil yang mungkin membantu.
~Anon=panggilan Argentina untuk Brazil.
~Mi (Spanyol)/Meu (Portugis)=punyaku.
~Por el amor de dios (Spanyol)=for the love of god/for god's sake
~Como estás (Spanyol)=how are you?
~Deus meu (Portugis)=my god/ohmygod
~O que é—(Portugis)=what is— (kepotong gitu, perkataannya)
~tereré=jenis Maté yang dingin. Populer di kawasan Paraguay.
~Soy(Spanyol)=Saya
~Maté=minuman herbal yang populer di kawasan Argentina, Paraguay, Uruguay (makanya ini bertiga kadang disebut Mafia del Maté), dan bagian selatan Brazil. Disajikan di dalam sebuah gourd dan sedotannya terbuat dari logam. Diminum bersama-sama dengan teman-teman atau keluarga menggunakan satu tempat dan satu sedotan.

Special thanks to:
Clarinetto789
, yang sudah membaca dan meripiu chapter sebelumnya~
SunnyGreen, yang sudah memberi banyak ide untuk saya~

Dan, oh ya, sudah saya bilang, di one-shot ini tidak ada apa-apanya. (Author fails) Maaf sekali.

Tapi kalau memang suka, dan sudah capek-capek membaca, saya harus bilang terimakasih banyak~

Salam!