Disclaimer: This fan-fiction is mine.

Cast : Changmin dari karakter Changmin Dating on earth.

Sungmin, Donghae, Hangeng dan Hyukjae dari karakter dari Sungmin, Donghae, Hangeng dan Hyukjae attack on the pin up boy.

Lee Hyukjae *Suami saya* #Titik gak pakai koma#

Pairing:Donghae x Eunhyuk and other.

Chapter : 2 End

Warning: TYPO karena TANPA EDIT ULANG. Alur maksa dan chara…

.

.

.

ONE ( Chance )

.

.

Let's Start

.

.

Ruangan gelap nan pengap itu berisikan erangan yang keluar dari bibir namja manis yang kini tengah membuka matanya dengan terpaksa.

rasa sakit mendera sekujur tubuhnya yang telah dipenuhi luka menganga. mata indah itu mencoba menyesuaikan diri dengan pencahayaan minim yang menerpa selaput beningnya.

sedikit menggeliat, membuat tubuhnya didera rasa sakit yang luar biasa. matanya mencoba menganalisa sekitarnya, semua nampak sama seperti sebelumnya. gelap dan pengap.

namun, baru saja ia akan memikirkan bagaimana cara kabur dari tempat tersebut, aroma benda terbakar segera menyapa indra penciumannya. ditambah teriakan panik dari orang-orang yang ada disekitarnya membuat rasa panik menjalar tubuhnya.

dengan susah payah ia mencoba melepaskan ikatan pada kedua tangannya yang entah sejak kapan terikat pada sebuah tiang yang ada diruang tersebut.

disekitarnya kini terasa panas, api yang membakar gedung tua itu telah menyebar hingga tempat ia berada.

kini ruangan itu dipenuhi oleh kobaran merah menyalah dan asap mengepul yang semakin menghimpit pernaafasannya. masih terus berjuang namja manis bernama Hyukjae tersebut berusaha keras melepaskan diri. rasa takut mengahntui dirinya kini. 'Tuhan, selamatkan aku... Ku mohon...' Pintanya dalam hati.

air mata kembali mengalir deras, saat mengetahui posisinya sedang terkepung saat ini, 'Sedikit lagi!' ucapnya menyemangati diri.

tak lama kedua tangannya telah bebas, dengan tergesa ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa hancur berkeping-keping itu untuk bergerak. memaksa meninggalkan tempat itu, walau sekali dua kali ia harus terjatuh. walau kini dadanya terasa sesak karena menipisnya pasokan oksigen sama sekali tidak membuat semangatnya untuk hengkang dari tempat itu sirna begitu saja. 'aku harus pergi dari sini...'

.

.

.

Hankyung bersama dengan Changmin dan Sungmin menatap nanar bangunan tua yang kini tinggal puing-puing yang tak berbentuk lagi. seolah takdir mempermainkan perasaan mereka. membuat harapan yang mereka tanam dalam hati lenyap tanpa bekas. tak tersisa sedikitpun kemungkinan yang sekiranya mampu membuat hati mereka menghela nafas lega.

Baru saja mereka mengetahui tempat keberadaan Hyukjae, namun kenyataan lain menyentak mereka. kenyataan tempat tersebut telah terbakar habis dan tak ada korban selamat yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan Hyukjae. sementara korban lain yang terjebak di dalam sudah dipastikan menjadi hangus.

"I-ini pasti hanya mimpi buruk, kan?" Suara Changmin memecahkan kesunyian yang tercipta disana.

tak ada satupun dari temannya yang lain menyahiti pertanyaan itu. mereka tahu benar ini nyata dan bukan mimpi. walau pada kenyataannya mereka sama-sama ingin hal tersebut hanyalah sebgian dari mimpi buruk mereka. dimana saat kedua mata mereka terbuka semua akan kembali seperti semula. dan nyatanya itu semua hanyalah sebuah ketidakmungkianan.

"Ini nyata. kenyataan terlalu pahit untuk kita hadapi. Hyuk-" Ucapan Hankyung terpotong oleh sentakan Sungmin, kedua bola mata indahnya telah mengalirkan air mata yang menganak sungai.

"Tidaaaaaaaak! Itu bohong... Hyukkie tak mungkin meninggalkan kita dalam keadaan seperti ini... itu musta...hil..." Ucapan Sungmin semakin lemah. detik berikutnya seluruh kesadaran Sungmin telah lenyap dari tubuhnya.

.

.

.

Ditengah malam yang sunyi sosok Hyukjae sedang mencoba melangkahkan kaki lelahnya mencari tempat untuk berlindung. ia tak tahu jalan mana yang akan membawanya kembali ke rumah, dan kerana itulah ia hanya ingin melangkah sejauh mungkin dari tempat itu. tanpa arah dan tanpa tujuan.

"Tak kusangka kau selamat oppa..." Sebuah suara yeoja beresonansi di gendang telinganya yang mulai berkedut karena dinginnya malam.

Hyukjae mencoba membalikkan badan, tepat dihadapannya sosok yang paling tak ingin ia temui di dunia ini berdiri dengan senyum manis yang ia tahu hanya tipuan semata.

"Oh, aku lupa. kau tak bisa bicara yah? Hm, padahal aku ingin berbincang-bincang denganmu tentang Aiden oppa."

Hyukjae hanya mentap tak mengerti pada nama yang baru saja terucap dari bibir tipis Yoona.

"Ah, maksudku Donghae oppa. Kau meningatnya kan Hyukjae-sshi?" Mendengar nama orang yang memiliki kenangan tersendiri dalam hatinya tersebut disebut setelah sekian lama lenyap tanpa berita membuat jantung Hyukjae berdetak keras. sangat keras bahkan seolah akan melompat dari tempatnya.

"Sepertinya kau mengingatnya yah... atau bahkan kau masih mengharapkan cintanya?" Yoona mulai berbicara lagi, ia bahkan tidak peduli harus berbicara sendiri tanpa mendapat balasan dari lawan bicaranya. hanya satu tujuannya saat ini, ia ingin Hyukjae menghilang dari kehidupannya, menghilang dari hati Donghae yang bahkan sampai saat ini masih mencintai Hyukjae.

.

.

.

Kini keduanya masih saling menatap dalam diam, Yoona berdiri menghadap Hyukjae yang tengah menatap balik dirinya dengan pandangan tak percaya. mereka masih berdiri di tempat yang sama. di sebuah ujung jalan yang sunyi, tepat di tepi pagar pembatas yang melindungi mereka dari tebing curam yang berada tepat di kiri jalan.

"Kami akan menikah dan memulai hidup baru. namun untuk itu... kau harus menghilang dari hati Donghae oppa selamanya." Ucap Yoona penuh penekanan.

Hyukjae membelalakkan mata tak percaya, kenapa dengan dirinya? bukannya Donghae sudah menyatakan semuanya.

menyatakan bahwa dirinya tak pernah sekalipun mencintai Hyukjae, mengatakan dengan jelas bahwa Hyukjae hanyalah bagian dari permainannya untuk megusir rasa bosan saat Yoona tak ada bersamanya?

mengingat hal itu membuat hati Hyukjae seperti diiris pisau yang tajam, perih dan sakit sekali rasanya. ia tak mengharapkan DOnghae untuk tulus mencintainya seperti ia yang tulus mencintai Donghae, tapi ia juga tak pernah mengharapkan Donghae berkata sedemikian menyakitkan seperti saat itu.

.

.

.

Larut dalam pemikirannya Hyukjae bahkan tak menyadari jika Yoona tengah memberikan senyuman selamat tinggal padanya, hanya dalam hitungan detik tubuhnya telah menyusur kerasnya batu-batu tebing nan curam. dan sebuah tatapan kosong menyembul dibalik kedua iris hitam Yoona saat menyaksikan musuh abadi-baginya-tengah menghilang dibalik terjalnya batu yang menumbuk dirinya. "Selamat tinggal Lee Hyukjae..."

.

.

.

tiga tahun kemudian

.

.

.

Sosok Donghae sedang menatap dari jauh sosok lain yang sedang tersenyum lemah pada anak-anak kecil yang sedang mengelilinginya, berebut mendapatkan satu cone ice cream yang di tangan pucatnya. walau hanya dapat melihatnya dari jauh dan walau waktu berjalan meninggalkan kenangan mereka, namun sama sekali tak melepaskan sosok malaikat yang kini telah kehilangan sayapnya karena dia, karena kesalahannya dan karena kebodohannya.

Ia telah mengetahui semuanya, meski terlambat namun ia berjanji akan menebus semua kesalahannya pada Hyukjaenya.

.

.

.

Dibalik pintu kaca yang tertutup rapat sesosok pemuda berkulit pucat berambut merah sedang sibuk dengan tumpukan sendok dan gelas kotor yang akan dibawanya menuju dapur. ini sudah menjadi kegiatan rutinnya setiap hari, meskipun harus bertumpu diatas kursi rodanya, ia sama sekali tak merasa putus asa bahkan merasa terbebani dengan kekurangannya.

Memang hingga detik ini ia belum sepenuhnya mengingat masa lalunya, namun ia tahu jika semua yang menimpanya merupakan sebuah kecelakaan. kecelakaan yang membawanya lumpuh untuk selamanya dan satu hal lagi, ia juga tak dapat mengingat sebagian besar kenangan di masa lalunya.

.

.

.

"Eunhyuk-ah, sekarang saatnya istirahat dan minum obat..." Sosok namja manis bernama Jungsoo dengan perlahan menghampiri Hyukjae, mendorong kursi rodanya untuk masuk ke kamar yang selama tiga tahun ini ia tempati.

"Tapi, aku tak mau meminumnya hyung... rasanya pahit..." Ujarnya memberi alasan. memang obat yang ia konsumsi berguna demi pemulihan kondisi tubuhnya yang tidak stabil dan cenderung menurun. tapi rasa jenuh menyecap rasa pahit membuatnya enggan.

"Ini demi kebaikanmu." Hanya itu yang bisa Jungsoo ucapkan. jauh dalam hatinya, ia berharap agar Hyukjae atau yang ia panggil Eunhyuk dapat sembuh, atau setidaknya kondisi tubuhnya kembali normal. dengan demikian ia bisa melakukan operasi untuk penggumpalan darah pada otaknya. jika tidak segera diangkat, maka nyawa Hyukjae lah yang menjadi taruhannya.

Menurut, Hyukjae meminum semua obat yang diberikan Jungsoo padanya. kemudian tak lama setelahnya ia terlelap dalam tidur yang sama seperti biasanya. hanya gelap dan cuplikan mimpi yang menakutkan sekaligus menyakitkan hatinya.

.

.

.

Donghae berjalan memasuki sebuah ice cream shop kecil yang selama beberapa waktu belakangan selalu ia amati. diberanikan dirinya dan hatinya untuk mengahdapi sang malaikat yang sekali lagi menyita perhatiaannya. mengalihkan dunianya.

"Selamat siang, mau pesan apa tuan?" sosok namja manis tersenyum ke arahnya. kebetulan tempat tersebut sedang lumayan sepi, sehingga ia memutuskan untuk menemui namja yang sampai kapanpun akan selalu di hatinya.

"Aku... aku... ingin bicara denga Hyukkie. bolehkah?" Tanya Donghae penuh harap. membuat Jungsoo menatapnya bingung.

"Hyukkie?"

"Ah... maksudku namja berambut merah itu..." Jawab Donghae lirih. namun masih tetap dapat di dengar Jungsoo.

"Apa tujuan anda menemui Eunhyuk? apa anda mengenal Eunhyuk?" Jungsoo kini menatap serius pada sosok tampan dihadapannya. mencari kebenaran dibalik tujuannya menemui Hyukjae.

"Tentu aku mengenalnya, karena aku adalah bagian dari masa lalunya." dengan kalimat itu, Donghae dapat merasakan satu air mata terlepas dari kelopak matanya.

.

.

.

Disinilah ia, di sebuah taman yang nyaman dengan berhiaskan langit mendung. dan sosok lain yang hanya diam di atas kursi rodanya tepat di hadapannya.

"Aku tak ingin mengingat masa laluku." Satu kalimat pemecah kesunyian terlontar dari bibir pucat Hyukjae. hal itu sukses membuat Donghae terbelalak dalam ketidakpercayaan.

"Mengapa?" Hanya itu yang bisa ia tanyakan.

"Karena, saat pertama melihatmu aku merasakan rasa sakit yang luar biasa disini." Ucapnya sambil meremas dada sebelah kirinya. dan dari suaranya Donghae tahu, namja rapuh dihadapannya sedang berjuang menahan air mata. "Rasanya sesak... sekali." satu isakan telah lolos dari pertahanannya.

"Tapi... itu tidak adil, kau harus mendengarkan penjelanku Hyukkie..." Pinta Donghae dengan nada memohon. terlihat jelas kesedihan disana.

"Tapi aku tak sanggup. semua terasa sakit. bahkan hanya untuk mengingat sosokmu di masa laluku membuat seluruh tubuhku terasa sakit. sakit luar dalam..."

"Tidak Hyukkie, aku mencintaimu dan kau pasti mengetahuinya." Donghae kini berlutut di hadapan Hyukjae yang hanya menunduk diam.

"Aku Lee Donghae, aku mencintaimu dan itu berlaku untuk selamanya. aku sama sekali tak mencintai Yoona." Mendengar hal itu sedikit demi sedikit bayangan buram berputar di dalam memori ingatan Hyukjae membuatnya mengerang kesakitan.

"Kau harus tahu alasanku meninggalkanmu dulu. itu karena aku mencintaimu Hyukkie. Aku tak mau Yoona melukaimu lebih dari itu, dan hal itulah yang ku katakan untuk membuat Yoona percaya. aku mengatakan diriku mencintai Yoona dan bukan kau. saat itulah aku menagis Hyukkie, hatiku hancur melihat sosokmu yang menangis karena kebodohanku Hyukkie..."

Seiring dengan cerita yang mengalun dari bibir Donghae, kembali memory itu berputar dalam otaknya. membuat kepalanya terasa berkedut ingin pecah. membawa tumpah ingatan menyakitkan yang dengan bebas menyembul keluar dari kotak memori yang terkubur lama.

"Hen...tikaaaaarggh!" Teriak Hyukjae sambil menekan kuat kepalanya yang seoalh hampir meledak tersebut. air mata menganak sungai, jantungnya berdetak kencang dan penglihatannya kabur oleh butiran embun yang menggantung di pelupuk mata.

disisi lain gambaran masa lalu masih terus berputar secara acak dalam ingatannya, membuat rasa sakit itu semakin menghimpitnya, ditambah kenyataan bahwa sosok di hadapannya dalah bagian terpenting dari masa lalu itu.

.

.

.

"Hyukkie... Hyukkie... Hyukkie..." Donghae semakin panik melihat Hyukjae yang sedari tadi mengerang kesakitan, bahkan ia tak sadar jika sedari tadi Donghae mendekap erat tubuhnya yang bergetar hebat.

"Biar...kan...aku melupakan masa... laluku Tuhan..." Rintih Hyukjae lemah.

"Rasanya sakit sekali Donghae... sakit... saat mengetahui bahwa aku masih mencin-" Perkataan Hyukjae terpotong oelh ciuman hangat dari Donghae, jujur ia tak sanggup melihat malaikatnya terluka dan kesakitan karenanya. hanya lewat ciuman inilah mereka berbagi segenap rasa yang tak dapat terucapkan lewat kata.

berbagi kehangatan dalam pagutan bibir yang hangat di tengah guyuran hujan yang mulai membasahi keduanya dan juga air mata yang mengalir bersama derasnya siraman air dari langit.

Donghae masih mempertahankan posisi itu saat menyadari erangan kesakitan terakhir Hyukjae. Dan Donghae pun sama menagis dalam ciuman panjang saat dirasakannya bibir Hyukjae yang mulai dingin dan tubuhnya yang mulai roboh kedalam dekapannya.

ia tak mau mengakui ini, tapi inilah kenyataannya. ciuman terakhir yang menyakitkan namun sarat akan cinta. cintanya dan cinta Hyukjae. mungkin inilah yang disebut Long Kiss Goodbye.

karena disinilah ia sekarang. tetap menempelkan bibirnya pada sosok yang telah tiada dalam pelukannya, membawa sosok yang ia cintai untuk selamanya dalam sebuah dekapan hangat, namun sayang takdir tak dapat menyatukan mereka. tapi mungkin di lain waktu cinta mereka bukan hanya berakhir setragis ini. cinta mereka akan indah di kehidupan mendatang, karena just ONE that they believe... it is LOVE.

Author's Note

Mianhae saya lama update karena kesibukan sebagai murid kelas 3SMA yang menyusahkan. Tapi tetap saya lanjutkan cerita ini meski maksa sekali alurnya.

Oke, cerita lain saya belum tahu akan saya lanjut atau tidak, karena untuk sementara saya akan SEMIHIATUS mendekati HIATUS dan cerita saya yang lain, selama belum ada waktu luang saya DISCONTINUED… sekali lagi mianhae… kalau mau cari saya sekedar neror minta lanjut epep atau mau kasih semangat bisa hubungi saya di Hae-hyukkieAkiraEverlastingfriend

Ucapan makasih buat para reviewer saya… mian gak bisa balas satu-satu… lain kali saya balas kalau lagi senggang… kekeke

Bagi yang gak mau baca di bawah ini skip saja yah

Ucapan Terima kasih untuk reviewer ONE chap 1

Yehyuk eunhae

mutyaHyukjae

Park Yeon Young

Dina IchiHitsu jewelsHyukkielf

HanaJJ

Ryu ha na

Sasha angel

hyuki

Jewel LeeAihara

Ucapan Terima kasih untuk yang udah Riview MARRY U KYUMIN

LittleLiappe

Hie

Lee Soo Hyun

Shywona489

MeFishy

Jirania

Ryu ha na

Parkyoonha Evil princess

Evil pumkin

Widiwmin

Lee hyeri

Pity mbumkyumin elf4ever

Ji yoo

Terakhir ucapan terimakasih untuk reviewer IT IS TOO

Inkyu

Hyukkie

Haehyuk pluss hanchul

Yehyuk eunhae

Ryu ha na

Sena

Lee Soo Hyun

widiwMin

Max Hyera

Kang min hyun

Lovehaehyuk

Mrs. Hyukjae

Cherry kim

Dina IchiHitsu jewelsHyukkielf